40 Ribu Pasien Corona Indonesia Masih Dirawat

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Pemerintah kembali melaporkan jumlah kasus positif covid-19 di Tanah Air. Tercatat hingga 16 Agustus 2020, jumlah pasien corona yang masih dalam perawatan saat ini sebanyak 40.076 orang.

Sementara saat ini, tercatat kasus positif covid-19 bertambah 2.081 kasus, sehingga akumulasinya sebanyak 139.549 orang.

Data penambahan kasus positif COVID-19 di Indonesia kini dipublikasikan oleh Satuan Tugas Penanganan COVID-19 di https://www.covid19.go.id dan laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui laman https://www.kemkes.go.id/.

Saat ini tercatat total pasien COVID-19 sembuh sebanyak 93.103 orang. Angka itu menunjukkan tingkat kesembuhan corona di Indonesia saat ini tercatat menjadi 66,7% dari seluruh jumlah kasus terkonfirmasi COVID-19.

Sementara itu, jumlah pasien COVID-19 yang meninggal kembali bertambah 79, sehingga jumlahnya menjadi 6.150 orang. Angka ini menunjukkan tingkat kematian akibat virus corona tercatat 4,4% dari total kasus COVID-19. Selain itu, sebanyak 77.090 orang menjadi suspek COVID-19.

Sumber: sindonews.com

Jejak Pejuang Kemerdekaan Laskar Hizbullah di eks Karesidenan Besuki

Oleh: Budi Eko Prasetiya, S.S

Salah satu kontribusi terbaik para santri bagi Indonesia adalah terbentuknya Laskar Hizbullah. Laskar Hizbullah adalah kelompok pejuang yang terdiri dari pemuda-pemuda Islam dan para santri pondok pesantren yang memiliki andil besar dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945-1949.

Organisasi paramiliter yang dibentuk pada zaman Jepang tersebut membantu para santri mengenal tata militer modern, seperti : penggunaan senjata ringan, pelatihan fisik dan mental, serta teori-teori militer dasar lainnya.
Militer Jepang dan para ulama yang terhimpun dalam Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) bertindak sebagai pelatih para laskar tersebut.

Dikutip dari konten “Komunitas Pegon” yang termuat di laduni.com disebutkan bahwa pelatihan pertama dilaksanakan di Cibarusa, Bogor pada 28 Februari 1945. Latihan yang berlangsung selama 3 bulan tersebut, diikuti oleh berbagai elemen santri-pejuang dari Jawa dan Madura.

Setelah lulus, laskar Hizbullah mendapat tugas untuk melatih para laskar lainnya di berbagai daerah yang mulai tumbuh gairahnya. Mereka berduyun-duyun bergabung menjadi laskar yang dalam bahasa Jepang diistilahkan dengan ‘Kaiko Seinen Teishintai’, bermakna ‘tentara Allah’.

Kelanjutan pelatihan tersebut adalah membuat program pelatihan baru, salah satunya di wilayah paling timur Provinsi Jawa Timur, tepatnya di Karesidenan Besuki. Wilayah ini meliputi Kabupaten Situbondo, Bondowoso, Jember dan Banyuwangi.

Berdasarkan keputusan bersama antara militer Jepang di Besuki, Masyumi dan pimpinan Hizbullah maka pelatihan bertempat di Awu-Awu, yakni sebuah dusun di lereng Gunung Raung yang saat ini masuk wilayah Desa Temuasri, Kecamatan Temuguruh, Banyuwangi.

Pelatihan yang diadakan
mulai 20 Juni 1945 dan berakhir pada 21 Juli 1945 itu, diikuti oleh para bintara PETA dan Hizbullah dari seluruh Karesidenan Besuki. Pelatihan tersebut dipimpin langsung oleh Komando Militer Jepang (Butai) dan mendapat arahan dari KH. Mursyid selaku pimpinan Masyumi di Besuki. Sebagai kepala instruktur (Taicho) langsung dipegang oleh Yogeki Shudancho Wahyudi dan dibantu oleh Komandan Korp Hizbullah Karesidenan Besuki Sulthan Fajar dan 23 orang perwira Hizbullah lulusan Cibarusa sebagai Komandan Latihan Peleton (Sidokan).

Hasil pelatihan tersebut menghasilkan para pejuang yang militan dan tangguh. Dengan semboyan “isy kariman aw mut syahidan” (Hidup mulia atau mati syahid), mereka berada di barisan terdepan dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan.

Laskar Hizbullah telah tampil gemilang dalam panggung perjuangan melawan kaum penjajah. Pertempuran di Surabaya 10 November 1945 menjadi bukti nyata, bahwa Laskar Hizbullah merupakan pejuang yang handal. Meski dengan persenjataan yang terbatas, para Laskar Hizbullah bertempur melawan musuh yang bersenjata lengkap dan modern. Semangat juang yang begitu tinggi itulah yang tidak diperhitungkan musuh. Tentunya ini atas peran dan dorongan para ulama yang turut melahirkan eksistensi mereka.

Pakar Mitigasi Bencana: Kegiatan Belajar Tatap Muka Perlu Kesiapan Matang

PURWOKERTO(Jurnalislam.com) — Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Dr. Ridlwan Kamaluddin mengingatkan bahwa kegiatan belajar mengajar tatap muka memerlukan kesiapan yang sangat matang guna mencegah Covid-19.

“Misalkan perlu persiapkan panduan atau protokol mulai dari pemberangkatan sekolah hingga kepulangan,” katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Ahad (16/8).

Koordinator bidang kesehatan Pusat Mitigasi Bencana Unsoed itu juga mengingatkan bahwa pelaksanaan protokol kesehatan perlu benar-benar berjalan dengan ketat. Ia melanjutkan, perlu juga surat izin dan persetujuan dari orang tua murid serta perlu ada tim khusus dari sekolah yang mengawasi dan mengontrol kondisi sekolah sesuai dengan protokol pencegahan Covid-19.

Dia mengatakan perlu kajian yang benar-benar matang agar kegiatan belajar mengajar tatap muka dapat berjalan dengan aman dan juga nyaman. “Kuncinya adalah penerapan protokol kesehatan yang ketat dan adanya pengawasan bahwa penerapan protokol tersebut telah berjalan dengan baik,” ujarnya.

Untuk itu, kata dia, perlu ada sinergitas antarpemangku kebijakan dalam mengawasi pelaksanaan protokol kesehatan tersebut. Sementara itu, seperti diwartakan sebelumnya, Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Evy Mulyani menjelaskan pemerintah mengizinkan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tatap muka di sekolah di daerah dalam zona hijau dan zona kuning dalam peta risiko penularan Covid-19 apabila ada persetujuan dari pemerintah daerah, kepala sekolah, komite sekolah, dan orang tua murid.

“Meski sekolah sudah melakukan pembelajaran tatap muka, persyaratan terakhir adalah adanya persetujuan dari orang tua peserta didik. Jika orang tua tidak setuju maka peserta didik tetap belajar dari rumah dan tidak dapat dipaksa,” katanya.

Pemerintah pusat mengizinkan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tatap muda di sekolah secara bertahap dengan beberapa pembatasan, termasuk di antaranya setiap kelas hanya diisi 30 sampai 50 persen dari kapasitas standar kelas.

Sumber: republika.co.id

 

Pemerintah Sebut Bantuan Covid untuk Pekerja Sedang Disiapkan

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah menyatakan, pemerintah telah mengantongi sekitar 12 juta rekening calon penerima bantuan subsidi gaji dari BPJS Ketenagakerjaan. Subsidi gaji tersebut akan diberikan kepada pekerja swasta dan Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan pendapatan di bawah Rp 5 juta.


“Sekarang alhamdulillah, teman-teman  pekerja kita yang menjadi peserta BPJS (Ketenagakerjaan) datanya sudah 12 juta nomor rekening sudah masuk. Rencananya, Bapak Presiden menyerahkan secara langsung dan me-launching. Insya Allah tanggal 25 Agustus ini,” ujar Menaker Ida usai menghadiri Dialog Kemerdekaan: Memerdekakan PMI Menuju Indonesia Maju yang diselenggarakan oleh BP2MI di Jakarta, Ahad (16/8).

Selain upah di bawah Rp 5 juta, ungkap Menaker, mereka juga harus tercatat sebagai peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan. “Jadi upah yang dilaporkan ke BPJS Ketenagakerjaan di bawah Rp 5 juta. Yang dilaporkan perusahaan kepada BPJS. Kita minta teman-teman BPJS untuk memvalidasi datanya dan kami di Kementerian Ketenagakerjaan menerima datanya dari BPJS Ketenagakerjaan. Jadi yang melakukan validasi adalah teman-teman dari BPJS Ketenagakerjaan,” paparnya.

Nantinya, subsidi upah yang diberikan sebesar Rp 600 ribu selama 4 bulan atau total senilai Rp 2,4 juta. Subsidi ini akan diberikan setiap 2 bulan (setiap pembayaran sebesar Rp 1,2 juta).

“Jadi untuk subsidi bulan September-Oktober akan kita berikan pada akhir Agustus ini. Dan 2 bulan berikutnya akan diberikan. Jadi diberikan dalam bentuk transfer langsung ke rekening penerima 2 bulan sekali, Rp 1,2 juta,” jelasnya.

Menaker menambahkan, bantuan subsidi upah ini diberikan salah satunya sebagai bentuk penghargaan kepada pekerja dan pemberi kerja (perusahaan) yang selama ini menjadi peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan.


Bagi pekerja yang tidak terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan, dan pekerja yang ter-PHK karena pandemi Covid-19, Menaker menyatakan bahwa mereka masih bisa mendapatkan bantuan sosial atau bantuan pemerintah lainnya.

Sebagai contoh adalah pekerja yang ter-PHK atau dirumahkan, Menaker menyatakan bahwa mereka diprioritaskan untuk masuk dalam program padat karya dan program Kartu Prakerja. Sebagai informasi, program Karu Prakerja saat ini telah masuk gelombang V.

“Dan alhamdulilkah batch 4 sudah memenuhi untuk 800 ribu peserta. Dan sebagaimana arahan Presiden dan pak Menko (Bidang Perekonomian), temen-temen yang di-PHK, dirumahkan, mendapatkan prioritas untuk batch berikutnya,” ujarnya.

Sumber: republika.co.id

Hamas Berbelasungkawa atas Wafatnya Waketum PPP Reni Marlinawati

PALESTINA(Jurnalislam.com)—Pimpinan Organisasi pembebas Palestina Hamas turut menyampaikan ucapan duka cita atas meninggalnya Waketum PPP ustazah Reni Marlinawati.

“Kami dari Hamas di Palestina dengan sangat sedih namun penuh kerelaaan menerima sesuatu yang telah di takdirkan Allah Subhanahu wata’ala . Dengan wafatnya Almaghfurlah Ustadzah Reni Marlinawati. Semoga beliau mendapat rahmat dan ampunan dari Allah Subhanahu Wata’ala,” dalam pernyataan resmi Hamas oleh Ismail Haniyah kepada dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com.

Hamas juga, kata Ismail Haniyah mengucapkan bela sungkawa untuk keluarga Almaghfurlah Ustadzah Reni Marlinawati yang mulia, dan seluruh anggota Partai Persatuan Pembangunanan di Indonesia.

“Kami Memohon kepada Allah agar mendiang di berikan naungan dengan keluasan rahmat dan ampunannya,” tambahnya.

Reni merupakan merupakan lulusan IAIN (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung jurusan Pendidikan Agama Islam (Tarbiyah) tahun 1997, kemudian melanjutkan pendidikannya dijenjang Pasca Sarjana dan meraih gelar Doktor bidang Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta tahun 2006.

Ia pernah aktif di berbagai organisasi seperti HMI, HKTI, Parmusi, KAHMI, dll.

MUI Dukung Pengembangan Obat Covid Karya Anak Bangsa

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Anwar Abbas mendukung kombinasi obat Covid-19 yang sedang dikembangkan anak bangsa dari Universitas Airlangga bekerja sama dengan TNI AD dan Badan Intelijen Negara (BIN) agar segera diberi izin produksi dan izin edar oleh Pemerintah.

“Obat Covid-19 temuan anak bangsa harus kita dukung penuh untuk mendapatkan izin produksi dan izin edar,” kata Abbas dalam rilis yang diterima di Jakarta, Senin (17/08/2020).

Menurut Abbas, kombinasi obat Covid-19 temuan tim gabungan Unair, BIN, dan TNI AD itu merupakan sebuah prestasi yang sangat-sangat menggembirakan dan membanggakan dirinya sebagai sesama bangsa Indonesia.

“Kita gembira karena dengan demikian bangsa kita, insyaallah, tentu akan dapat dengan cepat mengatasi krisis kesehatan Covid-19 yang benar-benar telah mengganggu ketenteraman hidup kita dalam 5 bulan terakhir,” kata Ketua PP Muhammadiyah itu.

Abbas menilai adanya dengan adanya pengembangan obat Covid-19 oleh anak bangsa dapat membuat masyarakat tenang untuk kembali bekerja dan beraktivitas seperti semula sehingga roda perekonomian nasional kembali berputar dan menggeliat seperti semula.

Di samping itu, kata dia, temuan ini tentu juga akan sangat membanggakan karena ternyata anak-anak bangsa ini juga hebat-hebat. Mereka sudah bisa menemukan obat Covid-19 yang sangat dinanti-nanti oleh dunia.

“Apalagi, penemuan ini merupakan penemuan yang pertama di dunia. Hal ini tentu jelas akan sangat menggembirakan dan membanggakan hati kita sebagai bangsa,” katanya pula.

Bahkan, lanjut dia, obat Covid-19 itu perlu juga didukung pemerintah agar dapat dipasarkan ke negara-negara lain yang membutuhkan.
Dengan demikian, selain dapat membantu menyehatkan dan menyelamatkan jiwa dari para penderitanya di Indonesia, obat itu juga dapat memberi manfaat kesehatan bagi negara-negara lain di dunia.

“Hal itu tentu jelas sangat-sangat kita harapkan,” kata Abbas.

Polemik Logo Salib dan Ketidakmampuan Pemerintah Atasi Krisis

Oleh : Jumi Yanti Sutisna*

Misalkan, dikeluarga Anda sedang tertimpa musibah, salah satu saudara kandung Anda terkena penyakit serius dan diharuskan mendapat perawatan khusus di rumah sakit, tentu butuh biaya yang tidak sedikit, bukan hanya itu, dibutuhkan juga waktu keluarga untuk bolak-balik rumah sakit mengurus dan memberi support bagi yang sakit.

Namun rupanya dalam situasi kesedihan keluarga yang sedang dialami, keluarga Anda mendapat kabar ayah Anda selingkuh, bermain perempuan ditengah musibah yang sedang melanda. Belum lagi selesai tuntas masalah perselingkuhan. Keluarga Anda mendapat kabar lagi, ayah Anda tertangkap polisi karena didapati bermain judi.

Tentu rasa geram Anda pada sang ayah bukan? Ya, saya pun tak jauh berbeda. Kita akan menilai sang ayah tidak berempati pada musibah keluarga yang terjadi, kita pun akan menilai sang ayah telah kehilangan akal sehat sehingga melakukan tindakan bodoh yang malah menambah masalah dan beban keluarga.

Tak jauh berbeda, ini pun yang sedang terjadi pada negara kita Indonesia. Setengah tahun sudah negara kita sedang dilanda pandemi, berbagai kesulitan akibat pandemi pun dirasakan oleh masyarakat Indonesia, dari dikuranginya waktu operasi perusahaan bahkan hingga berhenti beroperasi, beberapa usaha ditutup demi mematuhi Pembatasan Sosial Berskala Besar mengakibatkan pengangguran besar-besaran dan hilanglah penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bukan saja berdampak pada pekerja, pengusaha kecil dan pedagang keliling pun ikut terdampak pula. Di daerah tempat tinggal saya yang terbilang zona hijau, saat musim PSBB di beberapa kota besar penghasilan pedagang keliling merosot hingga 40-60 %, data ini saya dapati saat wawancara mereka sambil membagikan sembako dari berbagai donatur.

Usaha kecil pun yang saya jalani dan usaha-usaha kecil milik teman-teman di daerah saya selama 3 bulan pandemi bulan Maret – Mei merosot hingga 40-60 %, pasca iedul Fitri mulai membaik meski belum normal 20-30%. Saya membayangkan bagaimana kesulitannya masyarakat di kota-kota yang diberlakukan PSBB, tentu lebih sulit dari yang kami alami di daerah zona hijau.

Dari kondisi seperti ini, tak bisa ditepis lagi kebutuhan sehari-hari tak bisa dipenuhi. Dilingkungan tempat tinggal saya, Ibu-ibu komplek yang suaminya di PHK terdampak pandemi mereka bergerilya mencari kerja demi mendapatkan penghasilan untuk keluarga.

Ibu-ibu komplek itu rela menjadi pembantu rumah tangga ditetangganya sendiri yang perekonomiannya masih baik-baik saja.

Berita kelaparan akibat pandemi dinegeri ini pun tidak sedikit. Keluarga Ujang Soleh di Bandung yang makan nasi aking akibat sulit ekonomi kala pandemi.

Keluarga Nurhidayat di Sulawesi Barat, ditemukan warga lemas kelaparan di tengah kebun. Keluarga Yuli di Serang Banten, yang hanya minum air galon karena tak mampu membeli bahan makanan saat pandemi. Nenek Bidur di Serang Banten yang juga kelaparan dan tentu masih banyak lagi dari yang terekspose media hingga yang tidak terekspose.

Musibah ini memang terjadi global, hampir di seluruh negara terdampak pandemi mengalami kesulitan. Meski ada beberapa negara yang mampu mengatasi permasalahan ini dengan baik karena kematangan berpikir dari penanggung jawab negara.

Dalam kondisi sulit seperti ini, alangkah bijaknya jika penanggung jawab negara fokus pada bagaimana menyelesaikan masalah atau paling tidak berfikir fokus untuk meringankan masalah.

Sebuah tindakan bijak juga, jika penanggung jawab negara mau belajar dari negara-negara yang berhasil menanggulangi masalah yang sama. Jika alasannya adalah kultur dan masyarakat yang berbeda, tentu ada point yang bisa diambil meski kultur dan masyarakat yang berbeda.

Bukankah sebuah tindakan kekanak-kanakkan atau bisa disebut sebuah kebodohan melakukan tindakan yang tidak penting yang malahan memicu kericuhan ditengah musibah yang sedang melanda.

Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) adalah bukan sesuatu yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia, bahkan kandungannya sudah jelas terlarang secara tertulis pada dasar hukum sebelumnya yang berlaku di Indonesia.

Namun pemerintah seolah tidak berfikir panjang atau kehilangan akal sehat, memunculkan RUU HIP ditengah pandemi dimana masyarakat butuh tindakan pemerintah yang meringankan kesulitan mereka, bukan menambah masalah.

Belum selesai lagi RUU HIP, kini muncul kembali tindakan yang sangat tidak penting yang malahan memicu keresahan mayoritas masyarakat Indonesia.

Logo resmi HUT RI ke-75 yang terdapat simbol keagamaan minoritas yaitu salib. Apa tujuan dari semua ini? Tidak adakah tindakan yang lebih penting yang bermanfaat untuk menyelesaikan masalah besar yang tengah terjadi? Bukan tindakan kurang penting yang malah menambah masalah baru.

Memanglah betul apa yang dikabarkan Rasulullah :

“Jika sebuah urusan telah diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya” (HR. Bukhari)

*Penulis adalah jurnalis Jurnalislam.com

Kondisi Serius, IDI Minta Pemerintah Tambah RS Rujukan Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menilai pelayanan rumah sakit (RS), terutama di Jakarta, kondisinya serius lantaran terus bertambahnya pasien positif virus corona (Covid-19). IDI pun menyarankan pemerintah menambah jumlah RS Rujukan pasien covid-19.

“Saya masih merasakan bahwa kondisi seminggu ini berat sekali [untuk rumah sakit] karena kenaikan kasus Covid-19, antisipasinya RS rujukan ditambah, dari 59 jadi 100,” kata Ketua Satuan Tugas Kesiapsiagaan Covid-19 IDI Zubairi Djoerban melalui sambungan telepon, Jumat (14/8).

Ia menekankan rumah sakit rujukan saat ini hanya merawat pasien dengan gejala sedang-berat, atau dengan gejala berat. Dengan dua kriteria itu pun, menurut Zubairi, rumah sakit sudah kewalahan.

“Bagaimana kalau ke depannya orang tanpa gejala tapi positif Covid-19 juga harus mendapatkan perawatan? sekarang untuk gejala berat saja sudah penuh, makanya saya sebut ini kondisinya serius,” ucap dia.

Gubernur DKI Anies Baswedan sebelumnya telah mengakui terjadi peningkatan keterisian tempat tidur atau bed occupancy rumah sakit Jakarta. Dia bilang, saat ini bed occupancy RS di Jakarta sudah mencapai 65 persen.

“Selama 2 pekan terakhir terjadi tren peningkatan ruang isolasi dan ICU di Jakarta. Dari 4.456 tempat tidur isolasi, 65% sudah terisi saat ini,” kata Anies dalam keterangan tertulisnya, Kamis (13/8).

Selain itu, menurut Anies, kapasitas ruang ICU juga meningkat. Dari 483 tempat tidur di ICU, saat ini 67 persen sudah terisi dengan pasien Covid.

Salah satu rumah sakit yang kapasitasnya telah penuh akibat Covid adalah RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

Wakil Kepala RSPAD Gatot Subroto, Brigadir Jenderal TNI Budi Sulistya mengatakan ruang ICU untuk perawatan pasien Covid-19 di RSPAD sedang penuh. Diharapkan pasien dengan gejala ringan dapat isolasi mandiri, sementara untuk gejala berat dapat mencari RS rujukan lain.

Sumber: cnnindonesia.com

 

 

Indonesia Catat 76 Ribu Suspek Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat ada 76.327 orang yang masuk dalam kategori suspek virus corona hingga Sabtu (15/8/2020).

Data tersebut bersumber dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang diunggah oleh Satgas Penanganan Covid-19.

Jumlah kasus suspek Covid-19 sampai kemarin, Jumat 14 Agustus 2020 adalah sebanyak 75.527. Artinya, dalam satu hari telah terjadi penambahan kasus suspek sebanyak 800 orang.

Sementara itu, pemerintah mencatat ada penambahan kasus konfirmasi positif corona sebanyak 2.345 orang per hari ini. Dengan demikian akumulasi kasus positif mencapai 137.468.

Satgas Covid-19 juga melaporkan ada penambahan kesembuhan sebanyak 1.703 orang hari ini. Dengan demikian akumulasi kesembuhan mencapai 91.321. Adapun jumlah kematian bertambah 50 orang hari ini sehingga totalnya 6.071 orang.

Sumber: okezone.com

Ujian Kepemimpinan Hadapi Krisis dan Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com)-Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan jiwa kepemimpinan tiap kepala daerah diuji dalam menghadapi pandemi corona. Pasalnya, wabah ini telah menyebabkan krisis ekonomi di samping krisis kesehatan.

Hal tersebut dikatakan Tito saat membuka acara Launching Gerakan Sejuta Masker dan Pengarahan Kepada Satuan Tugas Covid-19 Kabupaten Kuningan, sebagaimana keterangan tertulis Pusat Penerangan (Puspen) Kemendagri.

“Tidak gampang, ini betul-betul leadership tiap-tiap kepala daerah diuji di masa krisis seperti ini, kapan harus mengegas ekonominya, keuangannya, kapan harus mengeremnya, harus betul,” ujarnya, Sabtu (15/8/2020).

“Maka nanti sangat wajar kalau ada istilah nge-gas ekonomi eh terjadi peningkatan ngerem dulu. Remnya sudah agak pakem landai ekonominya dikencangkan lagi, begitulah kira-kira nge-gas dan remnya. Tapi tidak semua pengemudi memiliki rumus yang sama,” tambah dia.

Tito menuturkan, kerja keras dalam menanggulangi virus corona harus tetap berjalan namun sektor perekonomian jangan sampai mati. Dalam bahasa Presiden Joko Widodo, kata dia, istilahnya ialah gas dan rem harus seimbang.

“Dalam bahasa Bapak Presiden Pak Jokowi itu istilahnya dengan gas dan rem. Gas itu maksudnya adalah ekonomi. Tapi sebaliknya juga hati-hati dengan rem. Keika ekonomi dipulihkan, digas, harus tetap pada protokol- protokol untuk pencegahan Covid agar terjadi rem tingkat kesehatan tidak memburuk. Itulah yang disebut dengan nge-gas ekonomi, ngerem penularan,” jelasnya.

Acara launching gerakan sejuta masker yang digelar di Pendopo Kabupaten Kuningan ini dihadiri langsung Bupati Kuningan, Ketua TP PKK Kabupaten Kuningan dan Forkopimda Kabupaten Kuningan. Ikut hadir juga Bupati Cirebon beserta Forkopimda Kabupaten Cirebon, Bupati Majalengka dan jajaran Forkopimdanya. Kepala daerah yang juga hadir di acara itu adalah Walikota Cirebon dan jajaran Forkopimda Kota Cirebon.

Hadir pula para tokoh agama, tokoh masyarakat, Camat se-Kabupaten Kuningan. Sementara dari Kementerian Dalam Negeri, pejabat yang hadir antara lain, Dirjen Otda Akmal Malik, Dirjen Politik dan PUM Bahtiar, Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan Syafrizal dan Dirjen Bina Keuangan Daerah Moch. Ardian Noervianto. Dalam kesempatan itu juga, nampak hadir ahli virus Moh. Indro Cahyono.

Sumber: okezone.com