Minta Afganistan Menyerah, Taliban Tak Ingin Perang Agar Rakyat Sipil Tak Jadi Korban

KABUL(Jurnalislam.com) — Taliban menyatakan tidak ingin memerangi pasukan pemerintah di dalam kota-kota Afghanistan dan lebih suka melihatnya menyerah. Hal ini disampaikan seorang pemimpin senior gerilyawan tersebut pada Selasa lalu.

Kehadiran pasukannya. Kelompok garis keras telah menyapu sebagian besar wilayah utara saat pasukan asing menyelesaikan penarikan mereka, seperti dilansir di The New Arab, Selasa (13/7).

“Sekarang pertempuran dari pegunungan dan gurun telah mencapai pintu kota, Mujahiddin (Taliban) tidak ingin pertempuran di dalam kota,” kata Amir Khan Muttaqi dalam pesan yang disampaikan melalui juru bicara Taliban.

Strategi tersebut, yakni berperang di kota-kota sudah usang bagi Taliban, terutama selama kenaikan pertama mereka ke tampuk kekuasaan pada 1990-an. Tanggapan Muttaqi muncul saat kementerian pertahanan mengatakan pasukan Afghanistan telah membersihkan kota Qala-i-Naw setelah berhari-hari pertempuran.

Ibu kota provinsi Badghis sendiri telah menyaksikan pertempuran jalanan yang berkelanjutan pekan lalu dalam serangan pertama oleh Taliban di sebuah pusat kota besar sejak pasukan asing memulai penarikan terakhir mereka pada Mei. Panggilan itu juga datang pada hari yang sama ketika sebuah video muncul dan menunjukkan sekelompok pasukan komando Afghanistan ditembak mati oleh Taliban pada Juni lalu setelah menyerah.

Dalam pernyataan terpisah Selasa, Taliban mengatakan keputusan Turki memberikan keamanan ke bandara Kabul ketika pasukan pimpinan AS pergi adalah tercela. “Kami menganggap tetapnya pasukan asing di tanah air kami oleh negara mana pun dengan dalih apa pun sebagai pendudukan,” kata kelompok itu, beberapa hari setelah Ankara setuju dengan Washington untuk menyediakan keamanan bagi bandara Kabul.

Sumber: ihram.co.id

Kasus Covid Melonjak, Imam Besar Istiqlal Ajak Umat Bermuhasabah

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Angka kematian akibat Covid-19 terus bertambah. Bahkan beberapa hari terakhir kabar duka orang-orang meninggal setelah terpapar virus Covid-19 semakin sering terdengar. Termasuk kabar duka sejumlah ulama di Tanah Air yang wafat setelah terinfeksi Covid-19.

Cendekiawan Muslim yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. KH. Nasaruddin Umar mengingatkan umat untuk bermuhasabah dan lebih mendekatkan diri pada Allah SWT. Menurutnya kondisi yang terjadi saat ini merupakan proses pembelajaran bagi setiap manusia khususnya bangsa Indonesia agar dapat menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat.

Melaksanakan perintah agama dan meninggalkan segala yang dilarang agama. Selain itu menurutnya pandemi Covid-19 telah mengajarkan setiap orang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan melepaskan ego diri atau kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompok. Sebab menurutnya Alquran juga telah menjelaskan bahwa setiap kerusakan di muka bumi tidak lepas dari ulah tangan manusia.

Prof Nasaruddin mengatakan Rasulullah telah menginformasikan tentang tanda-tanda kecil semakin dekatnya kiamat. Diantaranya adalah meninggalnya para ulama dan merebaknya penyakit menular. Meski demikian tidak satu pun orang mengetahui kapan terjadinya kiamat. Karena itu, Prof Nasaruddin mengajak umat untuk bermuhasabah dan memohon ampun kepada Allah.

“Ada hadits nabi, matinya seorang ulama itu lebih buruk daripada hilangnya sebuah etnik atau suku. Jadi ini juga salah satu tanda-tanda kecil hari kiamat sudah akan tiba itu merebaknya penyakit menular secara masif yaitu namanya epidemi, epidemi makin merajalela,” kata Prof Nasaruddin kepada Republika.co.id pada Selasa (13/7).

Prof Nasaruddin mengajak umat untuk membangun kesadaran kolektif memperbanyak zikir, istigoshah, membaca qunut nazilah, berdoa bersama keluarga, memperbanyak sholat sunat, menjalin silaturahmi, muhasabah dan muraqabah.  Prof Nasaruddin menyeru umat menggapai cinta Allah yang Maha Mengendalikan segala sesuatu. Sebab menurutnya tak ada satu makhluk pun tega untuk menyakiti orang-orang yang menjadi kekasih Allah.

“Kalau kita mencintai Allah secara maksimum, tawakal secara penuh kepada Allah sampai ke tingkat taslim maka seluruh makhluk itu akan cinta kepada kita juga kan,” katanya. Andrian Saputra

Sumber: ihram.co.id

Keterbatasan Kapasitas RS Jadi Penyebab Banyak Pasien Isoman Meninggal di Rumah

BOGOR(Jurnalislam.com) — Sepekan sejak diterapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, Tim Pemulasaraan Jenazah Covid-19 Kota Bogor menangani 40 pasien yang meninggal dunia saat isolasi mandiri (isoman).

 

Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim menyebutkan ada beberapa hal yang menyebabkan pasien isoman meninggal dunia.

Dedie menjelaskan, awalnya para pasien Covid-19 yang menjalani isoman merupakan pasien tanpa gejala dan atau pasien bergejala ringan. “Tetapi lambat laun penurunan saturasi ini menjadi sangat cepat. Tadinya yang standarnya kan90, bisa tiba tiba turun ke 60. Nah pada saat di bawah 90 ini kan sudah pada posisi kedaruratan,” kata Dedie di Kota Bogor, Selasa (13/7).

Permasalahan kedua ketersediaan tempat tidur di ruang ICU dan ICCU di rumah sakit hampir seluruhnya penuh. Apalagi, kata Didie melanjutkan, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor tidak bisa menambah hingga target 370 tempat tidur karena keterbatasan ketersediaan oksigen dan tenaga kesehatan (nakes).

“Itu yang menjadi masalah. Meskipun kemampuan teknis bisa mencapai 370 tempat tidur, akan tetapi kalau kita kombinasikan dengan keberadaan oksigen dan nakes hanya bisa berada di posisi 270,” ujar dia.

Saat ini di enam kecamatan se-Kota Bogor tercatat ada sekitar 6.000 pasien Covid-19 yang menjalani isoman. Dalam jumlah tersebut, para nakes di 25 puskesmas mengalami kesulitan untuk memantau titik-titik pasien isoman. Kondisi ini diperparah dengan dua puskesmas yang tutup sementara karena ada nakes yang terpapar Covid-19 dan meninggal dunia.

“Jadi kekuatan kita untuk menangani isoman itu juga berkurang. Ditambah di seluruh Kota Bogor ada lebih dari 440 tenaga kesehatan yang terpapar,” ujarnya.

Sumber: republika.co.id

Turki Jadi Negara Penyumbang Bantuan Terbesar di Dunia

STANBUL(Jurnalislam.com) — Turki terus menjadi salah satu negara penyumbang bantuan kemanusiaan terbesar di dunia. Menurut laporan baru-baru ini oleh Development Initiatives (DI) yang berbasis di Inggris, Turki menghabiskan miliaran dolar dalam bentuk bantuan.

Pada 2020, Turki menyumbang 26 persen dari bantuan kemanusiaan global yang totalnya sebesar 30,9 miliar dolar AS. Turki menghabiskan 8,04 miliar dolar AS. Ini naik 5,9 persen setiap tahun, menurut Laporan Bantuan Kemanusiaan Global 2021 yang dirilis akhir Juni.

Total bantuan yang diberikan Turki adalah kedua terbesar setelah Amerika Serikat (AS) yang yang menghabiskan 8,9 miliar dolar AS. Angka ini meningkat 6,9 persen dibandingkan dengan 2019. Jerman, Uni Eropa dan Inggris masing-masing diikuti dengan 3,7 miliar dolar AS, 2,6 miliar dolar AS dan 2,1 miliar dolar AS.

Turki menempati urutan pertama jika memperhitungkan pendapatan nasional. Pengeluaran bantuan kemanusiaannya adalah 0,98 persen dari PDB, diikuti oleh Luksemburg sebesar 0,19 persen, Swedia dan Norwegia masing-masing sebesar 0,16 persen dan Denmark dengan 0,15 persen.

Turki menempati peringkat ketiga pada laporan DI pada 2013, 2014 dan 2015, kedua pada 2016 dan pertama pada 2017, 2018 dan 2019. Turki menampung hampir empat juta pengungsi, paling banyak di negara mana pun di dunia. Jumlah warga Suriah di bawah undang-undang perlindungan sementara di Turki adalah 3,68 juta.

Laporan tersebut menyoroti Suriah adalah penerima bantuan terbesar pada 2020, yang menerima 2,6 miliar dolar AS. Yaman menerima 2,15 miliar dolar AS, Lebanon 1,56 miliar doalr AS, Sudan Selatan 1,38 miliar dolar AS, dan Republik Demokratik Kongo 1,05 miliar dolar AS. “Covid-19 telah meningkatkan dorongan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi respons kemanusiaan,” kata laporan itu.

Sumber: republika.co.id

Polri: Dokter Lois Sudah Mengakui Kesalahannya Soal Covid

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen Slamet Uliandi mengatakan, dokter Lois Owien mengakui kesalahannya atas sejumlah opini mengenai Covid-19. Hal itu yang membuat polisi tidak menahannya meskipun statusnya telah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks yang berpotensi menyebabkan kegaduhan terkait Covid-19.

“Yang bersangkutan menyanggupi tidak akan melarikan diri. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk tidak menahan yang bersangkutan, hal ini juga sesuai dengan konsep Polri menuju Presisi yang berkeadilan,” ujar Slamet, Selasa (13/7).

Menurut dia, Lois juga memberikan sejumlah klarifikasi atas pernyataannya selaku dokter atas fenomena pandemi Covid-19. Segala opini terduga yang terkait Covid, diakuinya merupakan opini pribadi yang tidak berlandaskan riset. Ada asumsi yang ia bangun, seperti kematian karena Covid-19 disebabkan interaksi obat yang digunakan dalam penanganan pasien.

“Pokok opini berikutnya, penggunaan alat tes PCR dan swab antigen sebagai alat pendeteksi Covid yang terduga katakan sebagai hal yang tidak relevan, juga merupakan asumsi yang tidak berlandaskan riset,” jelas Slamet.

Slamet mengeklaim, Lois juga mengakui opini yang dipublikasikan di medsos membutuhkan penjelasan medis. Namun, hal itu justru bias karena di medsos hanyalah debat kusir yang tidak ada ujungnya.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh penyidik, kata Slamet, didapatkan kesimpulan yang bersangkutan tidak akan mengulangi perbuatannya dan tidak akan menghilangkan barang bukti.

 

‘Jangan Sampai Ada Klaster Vaksinasi’

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Anggota Komisi IX DPR, Nabil Haroen, menilai penyelenggaraan vaksinasi di Indonesia perlu diperbaiki agar lebih optimal. Ia masih melihat pelaksanaan vaksinasi di sejumlah daerah justru menjadi tempat berkerumun karena tidak dikelola secara baik.  “Jangan sampai lokasi vaksinasi justru menjadi tempat penyebaran virus,” kata Nabil dalam keterangan tertulisnya, Selasa (13/7).

Sejumlah langkah yang bisa dilakukan dalam pelaksanaan vaksinasi antara lain dengan penggunaan penjadwalan yang bisa menggunakan teknologi digital. Seperti mendaftar melalui website resmi. Penjadwalan vaksin juga bisa menggunakan perangkat dari RT dan RW untuk mempermudah mengakses warga yang belum menggunakan teknologi. Selain itu pelaksanaan vaksinasi juga harus dilakukan dengan memperketat protokol kesehatan.”Vaksinasi jemput bola ke wilayah desa/kelurahan. Petugas yang menangani vaksinasi bisa datang ke desa/kelurahan dengan penjadwalan dari instansi terkait,” ucapnya.

Nabil menilai edukasi vaksin di level warga juga perlu terus menerus dilakukan. Kemudian ia juga berharap agar Kemenkes bisa menggandeng pesantren, pengelola rumah ibadah dan ormas keagamaan untuk edukasi vaksin dan proses vaksinasi. “Cara ini efektif untuk mengedukasi warga dan persebaran informasi,” ujarnya.

Dirinya mendukung agar pelaksaan vaksinasi dilakukan secara  massif. Dirinya juga mengapresiasi percepatan teknis penyelenggaraan vaksinasi oleh pemerintah.

“Vaksinasi merupakan langkah penting untuk penanganan pandemi, selain penerapan protokol kesehatan yang ketat serta menjaga kesehatan dan kekebalan tubuh. Proses vaksinasi, di beberapa negara lain, membantu secara signifikan penanganan pandemi,” tutur ketua umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa Nahdlatul Ulama tersebut.

Sumber: republika.co.id

 

Satgas: Angka Kesembuhan dan Kasus Baru Gapnya Semakin Kecil

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, mengatakan dalam beberapa hari terakhir gap antara penambahan kasus positif dengan penambahan kesembuhan tercatat semakin kecil. Menurutnya, tingginya kasus aktif justru bisa menjadi peluang untuk terus meningkatkan angka kesembuhan.

Dari data Satgas, total kesembuhan mingguan nasional pada minggu ini setengahnya dikontribusikan dari DKI Jakarta. Wiku pun mengapresiasi seluruh pemerintah daerah yang bergerak cepat menangani pasien sehingga meningkatkan angka kesembuhan.

“Dengan kondisi saat ini di mana rumah sakit dan bahkan puskesmas sudah sangat kewalahan menangani pasien Covid-19 yang sangat banyak, bukan tidak mungkin masyarakat yang terkena Covid-19 dapat terlambat ditangani karena harus menunggu antrian yang panjang,” katanya.

Untuk terus meningkatkan angka kesembuhan, Wiku meminta pemerintah daerah agar memantau kapasitas rumah sakit dan puskesmas di wilayahnya masing-masing. Jika seluruh fasilitas layanan kesehatan sudah penuh, maka perlu segera mengkonversi tempat tidur non-Covid-19 menjadi untuk Covid-19.

“Jika sudah tidak bisa lagi dikonversi, maka perlu untuk segera membangun atau membuka tempat isolasi terpusat atau fasilitas penanganan darurat dengan mempertimbangkan jumlah kasus di wilayah masing-masing,” ujar Wiku.

Wiku menekankan, kesiapsiagaan dan antisipasi dari pemerintah daerah menjadi kunci penanganan Covid-19 yang cepat dan tepat sehingga kasus kematian dapat dihindari sedini mungkin. Selain itu, ia mengingatkan masyarakat bahwa tak semua kasus Covid-19 membutuhkan perawatan di rumah sakit.

“Jika mengalami gejala Covid-19 segera meminta bantuan tetangga atau RT/ RW setempat untuk melaporkan ke puskesmas agar dapat segera dilakukan testing dan tracing. Sedia termometer atau oximeter agar suhu tubuh dan saturasi oksigen dapat terus dipantau,” katanya.

Peran RT dan RW sebagai lapisan pertama pertolongan pada kasus positif di wilayahnya ini menunjukan pentingnya pembentukan posko di setiap desa atau kelurahan. Sehingga tiap kasus yang muncul dapat tertolong sedini mungkin. Karena itu, Wiku mengingatkan agar tiap Ketua RT/RW tak menganggap enteng setiap kasus yang ada ataupun mengucilkan warga yang terkena Covid-19.

“Koordinasikan dengan seluruh warga lainnya untuk gotong royong membantu warganya yang sedang isolasi mandiri maupun sedang dalam keadaan darurat dan butuh segera ditangani,” ujarnya.

Sumber: republika.co.id

MUI: Ulama Bertanggung Jawab Edukasi Umat Bahaya Covid

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Ketua Umum MUI, KH Miftachul Akhyar, menyatakan Covid-19 merupakan salah satu bentuk permintaan pertanggungjawaban Allah SWT kepada para ulama.

Sebab, menurutnya, pertanggungjawaban ini sesuai dengan amanat besar yang diberikan Allah SWT kepada para ulama sebagai pewaris nabi.

“Satu sisi ini musibah bagi kita, namun juga bagaimana kita bisa melaporkan tanggung jawab kita kepada Allah SWT dalam melaksanakan tugas sebagai ulama, ” ujarnya di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Senin (12/7).

Kia Mif, begitu akrab disapa, mengatakan dengan berbagai musibah ini, mungkin kalau kita rinci akan ada berbagai macam nilai, tapi kami yakin ini adalah bentuk Allah SWT meminta laporan dari para ulama. Sampai mana kinerja kita selama ini mengemban amanat yang begitu besar.

Menurut dia, tugas ulama paling utama di masa Covid-19 ini adalah menjaga umat melalui penyadaran bahwa Covid-19 memang nyata. “Kami mengharapkan peran itu betul-betul dimaksimalkan karena Covid-19 ini bukan hoax, melainkan betul-betul nyata. Bukan hanya Indonesia yang mengalami musibah,” ujar sosok yang belum lama kehilangan putri dan menantu akibat Covid-19 ini.

Dia menyampaikan, musibah sebetulnya bukan hal baru bagi para ulama, melainkan selain sikap dan pertanggungjawaban yang harus diperhatikan adalah perjuangan bersama agar Covid-19 tidak terus memakan banyak korban. Perjuangan melawan Covid-19 sepatutnya melalui kerja-kerja nyata.

Dia mengatakan, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa manusia yang paling berat menerima ujian adalah para nabi, kemudian para pewarisnya dan termasuk ulama. Maka tanggung jawab seorang ulama di sini dibutuhkan untuk semakin menyadarkan umat demi keselamatan hidup umat.

“Kedudukan keulamaan bukan kedudukan yang seharusnya kita nikmati. Seharusnya bagaimana kita bisa memberikan penerangan, memberikan ketenangan kepada umat, kepada bangsa. Yang dihadapi ulama bukan hanya memberikan pencerahan, melainkan menyadarkan bahwa virus ini bukan ujian, melainkan menghadapi mereka yang menyebarkan virus fitnah tentang kebohongan Covid-19, ” ujarnya.

“Mudah-mudahan ini mendapatkan pencerahan dan Allah SWT segera mengangkat anak bangsa yang tercinta ini bisa mengalami kehidupan yang normal,” imbuhnya.

TKA Masih Masuk Indonesia Saat PPKM Dinilai Sangat Lukai Hati Rakyat

SURABAYA(Jurnalislam.com) – Pintu masuk bagi tenaga kerja asing (TKA) terbuka semakin lebar. Meski Indonesia dilanda pandemi Covid-19 pekerja asing terus berdatangan dan ditengarai mengambil pekerjaan yang seharusnya diisi tenaga kerja lokal. Kebijakan pemerintah tersebut menjadi sorotan bagi mahasiswa HMI MPO.

“Pembukaan lapangan pekerjaan sampai sekarang kita tidak melihat sampai sejauh mana yang sudah dibuat oleh negara, bahkan justru yang miris alih-alih membuka lapangan kerja untuk rakyatnya yang tengah kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari malah lapangan kerja itu dibuka untuk warga negara china,” terang Affandi Ismail, ketum PB HMI MPO dalam diskusi online, Senin sore (12/07/2021).

“Dalam situasi pandemi covid begini rakyat tengah dikejar-kejar dengan PPKM darurat tapi justru ada dalam pengamatan kita seolah-olah ada keistimewaan buat para tenaga kerja asing tetap masuk, inikan melukai hati masyarakat,” imbuhnya.

Menurut Affandi persoalan bangsa saat ini bukan soal kesehatan saja tapi juga krisis ekonomi,

“Padahal Joko Widodo pernah berjanji akan membawa perekonomian negara kita ini meroket sampai 7%, tapi kenyataannya yang meroket bukan ekonominya justru utang nya yang meroket, yang sampai sekarang ini sudah lebih dari 6000 triliun, belum lagi ditambah dengan utang BUMN yang juga jumlahnya tidak sedikit. BPK sudah ketemu presiden ada kekhawatiran negara kita ini sudah tidak sanggup lagi membayar utang,” katanya.

Lebih lanjut menurut Affandi menyelamatkan Indonesia dari penindasan bukan hanya dilakukan oleh mahasiswa saja melainkan harus melibatkan semua elemen masyarakat,

“Perubahan fundamental yang digerakan oleh semua elemen masyarakat itulah yang harus dilakukan, bukan hanya oleh mahasiswa saja tapi oleh semua lapisan masyarakat yang benar-benar hari ini mengalami ketertindasan,” tegasnya.

“Mestinya terlalu jauh kalau menunggu perubahan di 2024 dan itu juga tidak ada jaminan, karena 2024 adalah momentum politik tidak mungkin akan dilewati oleh para oligarki,” pungkas Affandi.

Sebagaimana diketahui dalam akun resmi instagram PB HMI MPO @pbhmi.info memuat poster yang menyerukan ajakan untuk melakukan revolusi. Dalam unggahannya mengajak rakyat turun bersama menjalankan revolusi 2021.

Kontributor: Bahri

MarPlus Gelar Webinar Bahas Potensi dan Inovasi Kurban di Tengah Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com)–MarkPlus Islamic yang merupakan bagian dari MarkPlus, Inc. menyelenggarakan Indonesia Islamic Marketing Festival 2021 Episode 2 mengangkat tema Branding Produk Qurban: Meningkatkan Nilai dan Kualitas Produk Qurban Untuk Kemakmuran Ummat yang diadakan secara Virtual melalui Zoom, Selasa (13/7/21). MarkPlus, Inc melalui webinar ini menghadirkan Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc selaku Direktur Jendral Peternakan dan Kesehatan, Nasyith Majidi selaku Ketua Yayasan Pengurus Dompet Dhuafa, H. Nur Efendi selaku CEO Rumah Zakat, dan Khirzan Noe’man, Direktur Eksekutif Wakaf Salman ITB.

Hari raya Idul Adha identik dengan penyembelihan hewan kurban yang berdampak pada meroketnya demand dari pasar bagi para peternak. Momen ini tentunya menjadi peluang besar, tak dipungkiri kompetisi antar penyedia jasa kurban di Indonesia juga kian getir di momen Idul Adha ini.

Webinar kali ini dibuka oleh H. Taufik, Deputy Chairman MarkPlus, Inc. Taufik berharap marketing festival ini mampu memberikan solusi pemasaran digital bagi para pelaku usaha pelayanan kurban di Indonesia.

“Kalau kita bicara hewan kurban sebenarnya salah satu dari industri makanan, kalau kita bisa kembangkan, siapa tahu bisa menjadi semacam upaya kreativitas sebagai salah satu sektor industri penting dari Global Islamic Economy”, ujar Taufik pada sesi talkshow Indonesia Islamic Marketing Festival 2021 Episode 2.

Cahyani Widiastuti, selaku perwakilan dari Dr.Ir. Nasrullah, M.Sc, Direktur Jendral Peternakan dan Kesehatan menyatakan bagaimana pemerintah sebagai regulator menghadapi tantangan kurban di masa pandemi. “Bagaimanapun pemerintah tetap harus commit untuk menjaga kesehatan hewan kurban agar tetap ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal) dengan menugaskan pemerintah daerah untuk melakukan pemeriksaan sebelum hari kurban dan pada saat kurban. Jadi dengan keterbatasan situasi seperti ini, kami selaku pemerintah pusat tetap menyarankan dan dapat menugaskan petugas kami untuk turun memeriksa keamanan dan kesehatan daging kurban.”

“Apabila memungkinkan menggunakan media online, saat pemotongan hewan hanya dilakukan oleh pihak-pihak yang terlibat langsung. Jadi pengkurban tidak perlu hadir di lokasi untuk mengurangi kerumunan.”, pungkas Cahyani.

Dari sektor bisnis, webinar siang ini turut dihadiri oleh Nasyith Majidi selaku Ketua Yayasan Pengurus Dompet Dhuafa, ia menyatakan pentingnya menyediakan layanan berbasis digital untuk memenuhi pola perilaku pasar yang berubah dari ranah offline ke online sejak pandemi.

“Di Dompet Dhuafa ini memang ada branding berupa layanan THK (Tebar Hewan Kurban) yang sudah kita lakukan sejak 1994. Kami tidak memiliki preferensi untuk melakukan bisnis di sana, objektif utama yang sebenarnya adalah memberdayakan peternak dan melayani pengkurban. Ini menjadi tujuan yang secara langsung ingin kami capai.”

“Dalam situasi pandemi yang belum selesai kapan ujungnya kami di Dompet Dhuafa dalam beberapa tahun terakhir memang fokus pada transaksi penjualan hewan kurban melalui digital. Hampir semua kanal e-commerce di Indonesia kami masuki selain platform Dompet Dhuafa sendiri. Sebelumnya kami hanya antisipasi tren kedepan bahwa semuanya akan melalui sosial media dan digital. Kami tidak menyangka ketika pandemi banyak masyarakat yang lebih memilih kesluruhan transaksi secara digital.”, ujar Nasyith.

Webinar ini turut dihadiri oleh H. Nur Efendi selaku CEO Rumah Zakat, pihaknya mengungkapkan salah satu produk yang menjadi strength point bagi Rumah Zakat yaitu Superqurban, kornet dan rendang kemasan olahan daging Kurban yang didistribusikan ke seluruh Indonesia.

“Daging Kurban hanya memiliki daya tahan 3 hari, ini menjadi potensi luar biasa. Maka kemudian kita merilis produk Superqurban, program optimalisasi kurban dengan mengelola dan mengemas daging kurban menjadi cadangan pangan dan protein hewani dalam bentuk kornet dan rendang. Distribusinya pun bisa sepanjang tahun, menjangkau pelosok, bisa masuk daerah rawan pangan bahkan bagi pengungsi di daerah bencana.”, ujar Nur Efendi.

Rumah Zakat menggunakan strategi digital network, people network, dan physical network untuk optimalisasi programnya, salah satu upayanya adalah dengan berkolaborasi dengan LSM, stakeholder, Majlis Ta’lim, dan komunitas lainnya untuk menjaga ketahanan pangan.

Sejalan dengan pernyataan Nur Efendi, Khirzan Noe’man selaku Direktur Eksekutif Wakaf Salman ITB menyatakan pihaknya menggunakan Omni Channel untuk memasarkan layanan Wakaf Salman.

“Kami juga gunakan omni channel website, kelihatannya memang besar sekali untuk yang kurban. Transaksi terus berjalan termasuk layanan yang menjadi fokus kami yaitu wakaf. Kami melihat pangsa pasar dan adanya segmentasi, oleh karenanya kami menyediakan layanan kurban sekaligus berwakaf.”, ungkap Khirzan.

Menutup gelaran webinar ini, MarkPlus, Inc. memperkenalkan 4 program pelatihan dan riset unggulan yang diselenggarakan oleh MarkPlus Islamic dengan mengangkat tema Muslim Market Study, Selling to Muslim Customers, Marketing to Muslim Millenials, dan Islamic Ci-El Development Program.