Pejuang Oposisi Sepakat akan Tinggalkan Kota Homs

HOMS (Jurnalislam.com) – Pejuang oposisi Suriah diizinkan untuk meninggalkan lingkungan terakhir yang sebelumnya mereka kuasai di kota Homs di bawah kesepakatan rezim Assad yang didukung Rusia dan ditandatangani pada hari Senin (13/3/2017), Aljazeera melaporkan.

Menurut Talal Barrazi – Gubernur Provinsi Homs dimana kota Homs adalah ibukotanya – kesepakatan itu harus dilakukan dalam waktu enam sampai delapan pekan.

Kesepakatan ini mengikuti perjanjian lain yang tidak pernah sepenuhnya dilaksanakan antara rezim Suriah dan kelompok oposisi di al-Waer, benteng terakhir mereka di Homs, yang telah ditargetkan oleh serangan udara secara intensif dalam beberapa pekan terakhir.

Homs, kota terbesar ketiga di negara itu, pernah menjadi pusat perlawanan terhadap Presiden Bashar al-Assad.

Sepanjang perang Suriah, sekarang di akhir tahun keenam, sebagian besar wilayah di kota dikuasai oleh oposisi, tetapi pasukan rezim didukung Rusia dan koalisi Milisi Syiah bentukan Iran akhirnya kembali menguasai semua wilayah kecuali al-Waer.

Al-Waer adalah rumah bagi sekitar 75.000 orang dan telah berada di bawah pengepungan pemerintah sejak 2013, memicu kekurangan obat-obatan dan kadang-kadang makanan.

PBB belum mampu memberikan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan ke al-Waer sejak September 2016.

Jubir Jaish al Islam: Pertempuran di Daraa Tewaskan dan Lukai Lebih dari 20 Pasukan Assad

SURIAH (Jurnalisalm.com) – Juru bicara Kepala Staf Jaish al-Islam, Hamzah Bayrakdar mengatakan bahwa pertempuran yang sedang berlangsung di kawasan Manshiya di Daraa (al-Mout Wala al-Mazallah) memberikan kontribusi signifikan untuk mengurangi tekanan pada Timur Ghouta di provinsi Rif Dimashq, lansir ElDorar AlShamia Senin (13/3/2017).

Unit Operasi “Al-Bonyan Almarsos” telah kembali pada hari Ahad (12/3/2017), pertempuran di kota Daraa, dan mampu membuat kemajuan dengan merebut kendali lokasi baru setelah bentrokan berlangsung berjam-jam, menewaskan dan melukai lebih dari 20 tentara rezim Suriah, juga menghancurkan sejumlah kendaraan, kemudian faksi revolusioner merebut “blok Abu al-Raha”, yang dianggap wilayah paling penting di mana milisi Assad bersembunyi di dalam kawasan Manshiya.

Timur Ghouta telah mengalami pengepungan terus menerus selama lima tahun, saat pasukan Assad dan milisi mengintensifkan serangan dengan adanya intervensi militer Rusia tahun lalu.

Perundingan Damai Suriah Putaran Ketiga akan Digelar Hari ini di Astana

ASTANA (Jurnalislam.com) – Peserta tiba di Astana, ibukota Kazakhstan pada hari Senin (13/03/2017) untuk menghadiri putaran ketiga pembicaraan Suriah di sana, kata menteri luar negeri Kazakhstan.

“Delegasi tiba hari ini untuk berpartisipasi dalam proses Astana putaran berikutnya untuk menyelesaikan situasi di Suriah,” kata Kairat Abdrakhmanov, lansir Anadolu Agency.

Astana pada hari Selasa (14/03/2017) akan menjadi tuan rumah pertemuan dua hari lagi yang dihadiri oleh perwakilan dari Rusia, Turki, dan Iran.

“Untuk saat ini, saya tidak bisa mengatakan siapa lagi yang akan menghadiri pembicaraan,” kata Abdrakhmanov. Dia menegaskan partisipasi tiga negara penjamin, seraya menambahkan: “Kami sedang menunggu konfirmasi dari peserta lain.”

Oposisi Suriah, pada hari Sabtu mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka diundang untuk pembicaraan tapi menuntut ditutupnya pembicaraan setelah 20 Maret, mengutip pelanggaran gencatan senjata.

Delegasi oposisi Osama Abu Zaid mengatakan di akun Twitter pribadinya bahwa oposisi tidak akan menghadiri pembicaraan.

Kementerian Luar Negeri Kazakhstan juga mengirimkan undangan untuk perwakilan PBB, Amerika Serikat, dan Yordania.

Abdrakhmanov mengatakan kehadiran Jordan akan memastikan partisipasi oposisi Suriah dalam rapat.

Tentang format pertemuan, menteri mengatakan: “Format dan agenda pembicaraan tergantung pada negara-negara penjamin, yaitu Rusia, Turki, dan Iran.”

Setelah gencatan senjata yang mulai berlaku pada 30 Desember, putaran pertama perundingan Suriah di Astana yang diadakan pada tanggal 23 Januari dan 24 ditengahi oleh Turki, yang mendukung oposisi, dan Rusia dan Iran, yang mendukung rezim Syiah Bashar al Assad.

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011, ketika rezim Nushairiyah Bashar al-Assad menumpas aksi unjuk rasa dengan keganasan militer tak terduga.

Sejak itu, lebih dari seperempat juta orang telah tewas dan lebih dari 10 juta lainnya menjadi pengungsi di seluruh negeri yang babak belur akibat perang- itu, menurut PBB.

Koalisi Arab Kembali Gempur Pemberontak Syiah Houthi di Perbatasaan, 28 Tewas

YAMAN (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 28 pasukan pemberontak Syiah Houthi tewas hari Senin (13/03/2017) dalam serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi dan serangan artileri oleh tentara Yaman di provinsi Hajjah di barat laut dekat perbatasan Saudi, menurut tentara Yaman, lansir World Bulletin.

“Pasukan militer kami hari ini mengupas posisi Houthi di distrik Midi provinsi Hajjah, menewaskan delapan militan Houthi,” kata pusat informasi militer dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan di halaman Facebook resmi mereka.

“Sementara itu, koalisi udara Arab [yang dipimpin Saudi] pada siang hari yang sama menargetkan sejumlah lokasi Houthi di Direktorat Hiran provinsi Hajjah, menewaskan sedikitnya 20,” tambah pernyataan itu tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Pemberontak Houthi juru bicara belum mengomentari pernyataan tentara.

Yaman tetap dalam keadaan perang sejak 2014, ketika pemberontak Syiah Houthi yang didukung Iran dan pasukan yang setia kepada mantan Presiden Ali Abdullah Saleh menyerbu ibukota Sanaa dan bagian lain negara.

Konflik meningkat pada tahun 2015 ketika Arab Saudi dan sekutu Arabnya meluncurkan serangan udara luas untuk membalikkan keuntungan militer Houthi dan menopang pemerintah Yaman yang didukung Saudi.

Jenderal Irak: 40 Persen Mosul Barat telah Dikuasai

MOSUL (Jurnalislam.com) – Pasukan pertahanan Irak mengatakan telah menguasai lebih dari sepertiga Mosul barat setelah memperoleh keuntungan stabil dalam pertempuran mereka untuk merebut kembali kota yang dikuasai IS yang memerangkap 600.000 warga sipil, lansir Aljazeera Ahad (12/03/2017).

Staf Mayor Jenderal Maan al-Saadi dari pasukan elit Irak mengatakan kepada kantor berita AFP, pada hari Ahad bahwa sekitar 17 dari 40 kabupaten barat dari kota terbesar kedua Irak tersebut telah direbut kembali dari Islamic State (IS).

Tidak mungkin untuk secara independen mengkonfirmasi klaim tersebut.

“Musuh telah kehilangan kekuatan melawan dan tekad mereka telah melemah. Mereka telah mulai kehilangan komando dan kontrol,” kata Saadi.

Dia mengatakan pasukannya bertempur melawan IS di daerah al-Jadida dan al-Aghawat di Mosul pada hari Ahad.

Komando operasi gabungan Irak mengatakan unit pasukan khusus dan polisi federal lain menyerang daerah Bab al-Toub di tepi Kota Tua Mosul.

“Pertempuran ini tidak mudah … Kami melawan musuh yang tidak teratur yang bersembunyi di antara warga dan menggunakan taktik perangkap booby-trap, bom, dan pelaku bom martir, dan operasi berlangsung dengan rencana menyelamatkan kehidupan warga,” kata Brigadir Jenderal Yahya Rasool.

Kemudian pada hari Ahad, Brett McGurk, utusan AS untuk koalisi anti-IS, mengatakan daerah tersisa di sekitar Mosul barat yang dipegang oleh IS benar-benar telah dikepung oleh pasukan Irak.

“IS terperangkap. Baru semalam, divisi militer Irak ke-9, di dekat Badush, di barat laut Mosul, memotong jalan terakhir keluar dari Mosul,” katanya

McGurk mengklaim bahwa IS telah kehilangan lebih dari 60 persen wilayah yang pernah mereka kuasai di Irak.

Menlu Turki Sebut Belanda sebagai Ibukota Fasisme

TURKI (Jurnalislam.com) – Para pemimpin Turki meneruskan serangan verbal mereka terhadap Belanda pada hari Ahad (12/03/2017) saat menteri luar negeri menuduh sekutu NATO-nya sebagai “ibukota fasisme”.

Aljazeera melaporkan, Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu membuat komentar di Perancis saat berbicara dalam menyiapkan dukungan di antara imigran Turki untuk reformasi konstitusi memperluas kekuasaan presiden Turki.

Pada hari Sabtu, Cavusoglu ditolak mendarat di Belanda, dimana ia berencana mengadakan unjuk rasa di Rotterdam. Mengadakan rapat umum politik untuk kebijakan dalam negeri negara lain dianggap ilegal di Belanda.

“Belanda – disebut ‘ibukota demokrasi’ – dan saya mengatakannya dalam tanda kutip karena mereka sebenarnya ibukota fasisme,” kata Cavusoglu pada hari Ahad di kota Metz di timur laut Perancis.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada hari Ahad dalam sebuah kampanye di Istanbul bahwa sangat tepat mengatakan pemerintah Belanda “Nazisme dan fasisme” karena “hanya jenis rezim seperti itu yang melarang seorang menteri luar negeri mengunjungi negara mereka”.

Erdogan juga mengatakan selama pidato secara langsung (live) di televisi bahwa Belanda akan “membayar harga”.

Krisis dengan Belanda ini merupakan yang paling serius sejak ketegangan meningkat antara Turki dan sekutu Uni Eropa-nya sejak para pejabat tinggi Turki berniat mengadakan aksi unjuk rasa di luar negeri menjelang referendum 16 April mengenai konstitusi baru yang akan memberikan Erdogan kekuatan yang lebih besar.

Belanda adalah rumah bagi sekitar 400.000 orang yang berasal dari Turki, dan Ankara tertarik untuk memanfaatkan suara mereka.

Pasukan Pemerintah Yaman Mendekati Ibukota Sanaa

YAMAN (Jurnalislam.com) – Juru bicara angkatan bersenjata pemerintah Yaman mengumumkan pada hari Ahad (12/03/2017) bahwa mereka sedang mendekati kota Arhab dan Sanaa.

Al Arabiya News Channel mengutip kantor berita Yaman yang dikelola pemerintah, Abdullah Bamajalli – yang juga seorang konsultan di Staf Umum Yaman – menegaskan bahwa pertempuran terus berlanjut untuk membebaskan Nahm, di timur Sanaa, diawali dengan membebaskan serangkaian pegunungan, termasuk Dorah, al-Ayani, al-Safeh, al-Dhabeeb, al-Tibab al-Hamaraa, barat gunung Al Garn, dan al-Safeenah.

Dia menambahkan bahwa sejumlah situs yang terletak antara Direktorat Nahm dan Bani Hashish telah dibebaskan dari pemberontak Syiah Houthi yang didukung Iran, sementara terobosan besar dan kemajuan dicapai oleh tentara nasional dan perlawanan rakyat di direktorat Al Masloub dan pantai barat serta garis depan lainnya di Taiz.

Sementara itu, pemerintah Yaman dan Program Pangan Dunia (the World Food Programme-WFP) membahas pengiriman bantuan pangan kepada mereka yang membutuhkan di seluruh negeri.

Perdana Menteri Yaman Dr. Ahmed Obaid bin Dhager mengatakan dalam pertemuannya dengan Ertharin Cousin, Direktur Eksekutif WFP, bahwa pemerintahnya siap memberikan semua bantuan yang diperlukan WFP dan lembaga makanan internasional lainnya sehingga makanan dan obat-obatan dapat menjangkau semua warga.

Setelah Diracun 8 Serdadu Afghanistan Tewas Ditembak Temannya di Pangkalan Militer

AFGHANISTAN (jurnalislam.com) – Delapan polisi tewas oleh rekan-rekan mereka sendiri setelah mereka diracuni di pangkalan militer mereka di Afghanistan selatan dalam serangan insider terbaru, Aljazeera melporkan Ahad (12/03/2017).

Taliban mengaku bertanggung jawab atas insiden yang terjadi di Kabupaten Nawshar di provinsi Zabul selatan Jumat malam, saat jihadis meningkatkan operasi musim dingin yang mematikan.

“Penyusup pertama meracuni rekan-rekan mereka dan kemudian menembak mati mereka,” kata juru bicara provinsi Gul Islam Seyal kepada kantor berita AFP, Sabtu, menambahkan penyerang pergi dan mengambil semua senjata dan amunisi dari markas.

Gubernur Zabul, Afghanmal, mengatakan mereka telah meluncurkan penyelidikan atas insiden tersebut.

Juru bicara Imarah Islam Afghanistan, Zabihullah Mujahid, mengatakan dalam sebuah pesan kepada media bahwa kelompok penyusup melakukan serangan itu.

Kantor berita Reuters, mengutip pejabat setempat, mengatakan para penyerang membelot ke Taliban.

Serangan semacam itu yang disebut serangan insider, yaitu saat tentara dan polisi Afghanistan mengarahkan senjata mereka pada rekan-rekan mereka sendiri atau pada pasukan internasional, telah menjadi masalah besar selama perang yang telah berlangsung lebih dari 15 tahun itu.

Serangan tersebut telah melemahkan semangat dan menimbulkan rasa ketidakpercayaan di dalam jajaran militer Afghanistan bentukan Amerika ini.

Dalam insiden serupa bulan lalu, seorang polisi Afghanistan terkait dengan Taliban menembak mati 11 rekannya di sebuah pos pemeriksaan di provinsi tetangga Helmand.

Dan September lalu, dua tentara Afghanistan dengan link Taliban menewaskan sedikitnya 12 rekan-rekan mereka saat mereka tidur di provinsi utara Kunduz.

Yordania Bebaskan Pembunuh 7 Siswi Israel dan Menyambutnya Sebagai Pahlawan

YORDANIA (Jurnalislam.com) – Seorang tentara Yordania yang menewaskan tujuh siswi Israel saat mereka berada dalam perjalanan school trip ke Yordania pada tahun 1997 dibebaskan pada hari Ahad (12/03/2017) dan disambut sebagai pahlawan setelah menjalani hukuman penjara 20 tahun, kata seorang kerabat, Middle East Eye melaporkan.

Ahmad Dakamseh dibebaskan dari penjara Bab al-Hawa di Irbid, 90 kilometer (60 mil) dari utara ibukota Amman.

Pada bulan Maret 1997, ia menembakkan senjata otomatis ke arah siswi Israel berusia 13 dan 14 tahun dalam perjalanan ke perbatasan Yordania-Israel, menewaskan tujuh dari mereka dan melukai lima orang lainnya dan seorang guru. Lokasi tempat ia melakukan penembakan sejak itu dikenal sebagai Pulau Pembantaian Perdamaian (the Island of Peace Massacre).

Dia kemudian dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Raja Hussein mengutuk serangan itu dan kemudian melakukan perjalanan ke Israel untuk menyatakan belasungkawa kepada keluarga para siswi yang dibunuh. Jordan juga membayar kompensasi.

Tidak pernah jelas apa yang memotivasi Dakamseh, seorang tentara yang berusia 30 pada waktu itu dan seorang ayah beranak tiga. Namun tentara Yordania menyatakan bahwa Daqamseh menderita gangguan kepribadian antisosial. Akibatnya, ia tidak menjalani hukuman mati tetapi dihukum 20 tahun penjara.

Inilah Alasan Hayat Tahrir al Sham Lakukan Serangan Bom Istisyhad di Ibukota Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com)Hayat Tahrir al Sham (HTS), sebuah kelompok jihad yang terdiri dari faksi-faksi jihad di Suriah termasuk Jabhat Fath al Sham (JFS) didalamnya, mengaku bertanggung jawab atas dua pemboman di Damaskus kemarin. Puluhan tewas dan banyak lainnyai terluka ketika pembom menyerang peziarah Syiah yang sedang mengunjungi tempat-tempat ritual Syiah di ibukota Suriah. Banyak korban berasal dari negara tetangga Irak. (baca juga:Puluhan Peziarah Syiah Tewas Dihantam Bom Kembar di Ibukota Suriah )

Sebagaimana yang dirilis The Long War Journal, Ahad (12/03/2017), HTS menyampaikan serangan itu sebagai serangan balasan terhadap milisi Syiah yang didukung Iran, yang telah membantai banyak warga sipil Sunni di Irak dan Suriah. Dalam pernyataannya, HTS melaporkan bahwa salah satu pembom menyerang “milisi Iran” dan pembom yang kedua menghantam pasukan Assad. Pernyataan itu bisa diartikan sebagai upaya untuk menarik perbedaan antara warga sipil dan sasaran militer.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (the Syrian Observatory for Human Rights-SOHR) melaporkan bahwa sedikitnya 20 anggota pasukan rezim Nushairiyah [Assad] dan milisi Syiah yang setia kepada mereka, termasuk 16 anggota polisi dan orang-orang bersenjata yang setia kepada rezim, serta sejumlah warga sipil Syiah yang berada diantara mereka juga tewas. Korban tewas terus meningkat sejak laporan awal. SOHR memperkirakan 74 orang tewas.

Sumber SOHR mengindikasikan bahwa ledakan itu terjadi secara berurutan. Satu perangkat bom diledakkan di dekat kuburan dan kemudian jihadis kedua meledakkan dirinya saat pengunjung dari 9 bus berkumpul.

Dalam pedoman umum pelaksanaan jihad Al Qaeda, Syeikh Ayman al Zawahiri menegaskan bahwa jihad Sunni hanya harus melawan Syiah dan aliran Islam sesat lainnya dalam keadaan tertentu. “Jika mereka memerangi Sunni, bahkan kemudian serangan balasan harus dibatasi untuk pihak-pihak di antara mereka yang secara langsung terlibat dalam perlawanan.” Al Zawahiri menulis. “Para jihadis Sunni harus memperjelas bahwa kita hanya membela diri (membalas serangan).” Selain itu, Syeikh al Zawahiri melanjutkan, “Mereka dan keluarga mereka yang tidak berpartisipasi dalam perang melawan kami, tidak boleh ditargetkan di rumah, tempat ibadah, festival keagamaan mereka dan pertemuan keagamaan mereka.”

Namun, bom di Damaskus kemarin sengaja menargetkan acara pertemuan keagamaan yang memang dihadiri para tentara rezim Assad, milisi Syiah Iran dan Irak.

Cabang Al Qaeda di Suriah yang awalnya dikenal sebagai Jabhah Nusrah juga pernah melakukan serangkaian bom syahid yang serupa, termasuk di Damaskus, selama tahun-tahun awal perang Suriah.

Pada Oktober 2015, Jabhah Nusrah, Ahrar al Sham dan kelompok ketiga, Ajnad al Sham, menciptakan ruang operasi bersama bernama Jund al Malahim (Tentara epos) untuk menggabungkan upaya militer mujahidin di pedesaan Damaskus.

Pada Februari tahun 2016, dua faksi jihad (Ansar al Syariah dan Al Muntasir Billah) bersumpah setia kepada amir Jabhah Nusrah, Syeikh Abu Muhammad al Jaulani. Para jihadis itu berjanji untuk melawan agresor Rusia, milisi Syiah dan loyalis rezim Nushairiyah Assad di dalam dan sekitar Damaskus.

Pada bulan Juli 2016, Jabhah Nusrah diluncurkan kembali sebagai Jabhat Fath al Sham (JFS). Kemudian, pada bulan Januari, JFS mengaku bertanggung jawab atas dua pemboman syahid di lingkungan Kafr Sousa di Damaskus. Menurut SOHR, puluhan anggota dan pasukan rezim serta milisi Syiah yang setia kepada Assad tewas dalam ledakan itu.

JFS dan empat organisasi lain bergabung untuk membentuk Hay’at Tahrir al Sham (Majelis untuk Pembebasan Suriah) pada bulan Januari 2017. Dan pemboman di Damaskus pada 11 Maret kemarin dilakukan dengan membawa nama Hayat Tahrir al Sham. (baca juga: Laporan JFS atas Operasi Martir pada Pasukan Rusia di Damaskus, 16 Penasihat Rusia Tewas dan Terluka )