Terbongkar, Pemuda Muslim Kashmir Sering Digunakan Sebagai Tameng Hidup Pasukan India

KASHMIR (Jurnalislam.com) – Sebuah video baru muncul dari Jammu dan Kashmir menunjukkan seorang pemuda Muslim Kashmir digunakan sebagai perisai manusia oleh angkatan bersenjata India.

Pria itu terlihat terikat di depan sebuah jip tentara India yang tampaknya merupakan upaya untuk menghentikan orang melempari batu saat konvoi tentara melewati sebuah lingkungan Kashmir.

Dalam video klip tersebut, seorang tentara India juga dapat terdengar mengatakan: “Mereka yang melempar batu akan menemui nasib yang sama.”

Menurut sumber polisi, yang berbicara dengan syarat anonim karena pembatasan berbicara dengan media, video tersebut direkam di distrik Budgam di Kashmir tengah pada hari Ahad lalu.

Ghulam Mohammad Lone, seorang penduduk Beerwah, mengatakan kepada Anadolu Agency, Sabtu (15/4/2017): “Faktanya memang kita telah digunakan sebagai perisai manusia selama 30 tahun terakhir; Hanya saja di masa lalu kami tidak memiliki ponsel untuk merekam video semacam itu.

“Anda tidak bisa mengabadikan peristiwa seperti itu setiap saat di video tapi hal-hal seperti itu selalu terjadi sepanjang waktu.”

Lone menambahkan bahwa ia juga pernah digunakan sebagai perisai manusia di masa lalu. “Saya pernah digunakan sebagai perisai manusia berkali-kali oleh tentara India ketika mereka mengira mujahidinKashmir berada di sebuah rumah dan dengan senjata api mereka memaksa saya untuk memasuki rumah terlebih dahulu,” kata pria berusia 58 tahun itu.

Aktivis mengatakan bahwa video yang viral tersebut merupakan bukti konkret lain bahwa Muslim Kashmir digunakan sebagai perisai manusia selama bertahun-tahun di wilayah yang disengketakan tersebut.

Aktivis hak asasi manusia Kashmir Khurram Parvez, yang bekerja untuk Koalisi Komunitas Sipil (Coalition of Civil Society) yang bermarkas di Srinagar, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa pasukan India bertindak seperti tentara Israel di Palestina yang menggunakan perisai manusia sejak tahun 1989 di Jammu dan Kashmir.

Afghanistan: Jumlah Korban Serangan MOAB AS Meningkat, 92 Tewas

KABUL (Jurnalislam.com) – Pihak berwenang Afghanistan telah merevisi jumlah korban tewas akibat serangan Mother of All Bombs (MOAB) hari Kamis (13/4/2017) oleh agresor A.S. di tempat persembunyian kelompok Islamic State (IS) menjadi 92 pada hari Sabtu (15/4/2017).

Pemerintah provinsi Nangarhar di sebelah timur negara tempat bom ini dijatuhkan, mengatakan pada hari Sabtu bahwa perkiraan terakhir menunjukkan kerusakan yang ditimbulkan di pihak IS jauh lebih banyak daripada yang diyakini semula. Sehari sebelumnya, Kementerian Pertahanan (the Ministry of Defense-MoD) mengatakan bahwa 36 pasukan IS telah terbunuh, dan jaringan gua dan terowongan di wilayah pegunungan di wilayah Achin hancur, lansir Anadolu Agency.

Attaullah Khogyani, juru bicara pemerintah Nangarhar, mengatakan operasi pembersihan intensif telah dimulai di Achin menyusul serangan ini. Dia membenarkan korban tewas terbaru.

Menurut Angkatan Udara A.S., bom tersebut dijatuhkan pada pukul 07:32 waktu setempat (02:58 GMT) Kamis di sebuah kompleks terowongan di distrik Achin, provinsi Nangarhar. MOAB secara resmi dikenal sebagai GBU-43B, atau senjata peledakan udara besar, dan mengeluarkan 11 ton bahan peledak.

Penggunaan kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya telah memicu berbagai reaksi di Afghanistan. Pemerintah Kabul segera memuji langkah tersebut dan mengatakan serangan itu berguna untuk memastikan keberhasilan pasukan Afghanistan dan A.S. dalam memerangi IS. Mereka yang mendukung serangan tersebut mengatakan MOAB adalah satu-satunya cara untuk membongkar kompleks gua, ranjau darat dan terowongan. Penduduk lokal di Nangarhar, terutama mereka yang memiliki pengetahuan langsung tentang kekejaman IS menyambut baik serangan tersebut.

Pihak lainnya, Imarah Islam Afghanistan (Taliban), termasuk mantan Presiden Hamid Karzai, dan Duta Besar Afghanistan untuk Pakistan Hazrat Ummer Zakhilwal, mengecam serangan besar ini. Karzai menilai bom itu adalah sebuah serangan terhadap kedaulatan, dan mendesak seluruh rakyat Afghanistan untuk melawannya.

Serangan Bom Hantam Konvoi Pengungsi Syiah di Rashidin, Barat Aleppo

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Sebuah ledakan besar telah menewaskan dan melukai ratusan orang dalam sebuah serangan di dekat bus yang membawa orang-orang yang dievakuasi dari dua desa Syiah pada hari Sabtu (15/4/2017).

Ledakan tersebut terjadi pada hari Sabtu di Rashidin, sebelah barat Aleppo, menargetkan penduduk yang sedang menunggu untuk menyeberang dari kota Syiah Fouaa dan Kefraya yang dikuasai oposisi ke kota yang dikuasai rezim Assad di bawah kesepakatan yang dicapai antara rezim Assad dan faksi-faksi jihad Suriah.

Sebuah laporan di televisi rezim Suriah mengatakan sedikitnya 39 orang tewas dalam ledakan tersebut. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (the Syrian Observatory for Human Rights-SOHR) yang berbasis di Inggris melaporkan korban tewas berjumlah 43 orang.

Meskipun tidak ada konfirmasi mengenai apa yang menyebabkan ledakan tersebut, SOHR mengatakan seorang “pembom martir” diduga menggunakan sebuah van yang digunakan untuk membawa persediaan bantuan memasuki wilayah tersebut.

Reporter Al Jazeera Adham Abul Hussam, melaporkan dari tempat kejadian, mengatakan puluhan mayat memadati tanah dan ambulans dipenuhi korban.

“Tim pertahanan sipil mengevakuasi mayat dan mencari korban selamat. Banyak bus hancur total,” katanya.

Gambar yang ditampilkan di media rezim menunjukkan akibat dari ledakan tersebut, dengan tubuh yang terbakar dan api menghasilkan asap hitam tebal.

Bus tampak menghitam akibat ledakan dan jendela mereka hancur.

“Tampaknya ledakan terjadi di depan konvoi, yang berjumlah sekitar 70 bus. Ternyata kejadian itu terjadi di daerah di mana orang yang sakit dan terluka dipindahkan atau ditukar,” kata Hoda Abdel-Hamid, Al Jazeera, melaporkan, dari Antakya di Turki.

“Kami menyaksikan bahwa korban berjumlah puluhan… di antaranya wanita dan anak-anak dan beberapa mujahidin yang ada di sana untuk mengawal konvoi tersebut.”

Serangan tersebut terjadi saat ribuan pengungsi dari kota terkepung Fouaa dan Kefraya yang dikuasai mujahidin menunggu untuk melanjutkan perjalanan mereka ke Aleppo yang dikendalikan rezim Syiah Assad.

Begini Kesepakatan Faksi Jihad Suriah dengan Garda Revolusi Iran dan Hizbullah di Idlib

Lebih dari 5.000 orang yang tinggal di bawah pengepungan selama lebih dari dua tahun meninggalkan kedua kota tersebut, dan 2.200 warga Sunni dievakuasi dari wilayah Madaya dan Zabadani, provinsi pesisir Latakia, atau ibukota Damaskus yang dikuasai rezim Syiah Nushairiyah menuju daerah yang dikendalikan oposisi, pada hari Jumat.

Ribuan pengungsi dari Fouaa dan Kefraya terjebak di jalan di Rashidin saat ledakan tersebut terjadi.

Evakuasi tersebut, yang ditengahi oleh sekutu rezim yaitu Iran dan oposisi yaitu Qatar, dijadwalkan untuk lebih dari 30.000 orang diungsikan dalam dua tahap.

Kesepakatan tersebut telah menetapkan bahwa pada tahap pertama 8.000 orang, termasuk 2.000 pasukan rezim, meninggalkan kedua kota tersebut. Namun hanya 5.000 yang pergi, termasuk 1.300 pasukan, SOHR mengatakan.

Para pengungsi dibiarkan terdampar saat muncul perbedaan mengenai jumlah pasukan pemerintah yang pergi, kata seorang sumber oposisi, menolak untuk menjelaskan karena “negosiasi sedang berlangsung”.

Ribuan pengungsi dari Madaya dan Zabadani juga terjebak di Ramousa yang dikendalikan pemerintah, sebelah selatan Aleppo.

Mohamed Darwish, seorang dokter dari Madaya, mengatakan kepada Al Jazeera melalui telepon bahwa ketakutan meningkat di kalangan warga sipil di dalam bus di Ramousa.

“Banyak yang ketakutan di bus kami, terutama karena pasukan rezim dan milisi Syiah ada di sekitar kita,” katanya.

“Kami berharap PBB, Turki, Qatar, Iran, semua pihak yang mendukung kesepakatan ini akan menjaga warga sipil dan memastikan mereka semua selamat.”

Kesepakatan untuk mengevakuasi kota-kota tersebut adalah yang terbaru dalam serangkaian kesepakatan semacam itu, yang disebut-sebut oleh rezim Assad sebagai cara terbaik untuk mengakhiri pertempuran. Oposisi mengatakan bahwa mereka dipaksa keluar oleh pengepungan dan pemboman.

Rezim Suriah dan milisi Syiah Internasional didukung serangan udara brutal Rusia telah merebut kembali kubu utama mujahidin di Aleppo timur sejak intervensi militer Moskow pada bulan September 2015.

51 Pasukan Assad Tewas dalam Pertempuran di Timur Ghouta dan Damaskus

SURIAH (Jurnalislam.com) – Mujahidin Al-Ghouta mengejutkan rezim Syiah Assad dengan sebuah serangan, pada Jumat subuh (14/04/2017), dan berhasil menguasai beberapa titik di daerah antara Ghouta Timur dan Damaskus timur, yang menimbulkan kerugian materi dan jiwa.

Menurut koresponden ElDorar AlShamia serangan ini terjadi di peternakan Harasta dan pinggiran distrik barat Qaboun, Damaskus untuk mendapatkan kembali daerah-daerah yang direbut pasukan Syiah Assad dalam pertempuran yang sedang berlangsung di wilayah tersebut selama beberapa pekan.

20 Pasukan Syiah Assad Tewas dalam Pertempuran di Timur Damaskus

Koresponden ElDorar mengkonfirmasi bahwa pertempuran tersebut berakibat terbunuhnya 51 pasukan rezim Nushairiyah, kebanyakan dari mereka baru direkrut oleh rezim setelah diculik dari wilayah Damaskus dan pedesaannya. Faksi-faksi revolusioner juga mampu menghancurkan dan mengendalikan 8 tank dan menahan beberapa prajurit.

Rezim Syiah Suriah meluncurkan operasi militer di wilayah Harasta, Barzeh dan Qaboun untuk mengisolasi kota-kota timur dan desa-desa Ghouta di timur Damaskus, yang merupakan jalan keluar bagi orang-orang yang terkepung di Ghouta.

Korea Utara Siap Perang Hadapi AS

PYONGYANG (Jurnalislam.com) – Seorang pejabat Korea Utara mengatakan negaranya siap berperang jika Amerika Serikat menyerang saat sebuah kelompok pengangkut pesawat tempur AS sedang bergerak menuju wilayah mereka. Ada spekulasi bahwa Pyongyang akan melakukan uji coba senjata nuklir keenam pada hari Sabtu (15/4/2017).

Wakil Menteri Luar Negeri Han Song-ryol mengatakan kepada Associated Press bahwa Korea Utara mengubah strategi militernya dua tahun lalu ketika ada laporan tentang “pemindahan” pelatihan serangan AS-Korea Selatan untuk menekankan tindakannya sendiri.

“Kami memiliki senjata nuklir yang kuat yang sudah ada di tangan kami, dan kami tentu tidak akan menahan tangan kami untuk menghadapi serangan awal AS,” katanya. “Apapun yang berasal dari AS, kita akan mengatasinya. Kami sepenuhnya siap untuk menanganinya.”

Dia bersumpah Korea Utara akan terus meningkatkan “kualitas dan kuantitas” persenjataan nuklirnya.

Ketegangan antara Pyongyang dan Washington kembali seperti saat Perang Korea 1950-1953, yang berakhir dengan gencatan senjata, bukan sebuah perjanjian damai.

Namun ketegangan telah meningkat dengan cepat sejak Presiden AS Donald Trump mulai menjabat pada bulan Januari.

Sejauh ini perang gabungan antara militer AS dan Korea Selatan tahun ini adalah yang terbesar.

Kapal induk USS Carl Vinson telah dialihkan kembali ke perairan di semenanjung Korea setelah menuju Australia, dan citra satelit AS menunjukkan bahwa Korea Utara dapat melakukan uji coba nuklir bawah tanah lagi kapan saja.

China mengatakan pada hari Jumat bahwa ketegangan atas Korea Utara harus dihentikan agar tidak mencapai tahap “ireversibel (tidak mungkin berbalik) dan tidak terkendali”, sementara media Jepang mengatakan bahwa pemerintah di Tokyo juga sedang membahas langkah untuk mengatasi kemungkinan banjir pengungsi Korea Utara.

Trump telah mengancam bahwa jika China tidak bersedia berbuat lebih banyak untuk menekan program nuklir dan misil Korea Utara, AS mungkin akan bertindak sendiri.

Militer Korea Utara menimpali pada hari Jumat dengan mengatakan bahwa pihaknya akan “menghancurkan Amerika Serikat dengan kejam” jika mereka memilih untuk menyerang.

“Tuntutan terberat kami terhadap AS dan pasukan vasalnya akan dilakukan tanpa ampun karena kami tidak membiarkan agresor bertahan,” kata kantor berita resmi Korea Utara KCNA mengutip militernya dalam sebuah pernyataan.

Korea Utara baru-baru ini menguji sebuah rudal balistik dan mengklaim bahwa mereka telah mendekati penyempurnaan rudal balistik antar benua dan hulu ledak nuklir yang dapat menyerang hingga ke daratan AS.

Koalisi Arab Serang Pelabuhan Yaman, 14 Pasukan Houthi Tewas

MAARIB (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 14 pemberontak Syiah Houthi tewas di kota pelabuhan Midi, Yaman barat, dalam serangan udara yang dilakukan oleh koalisi Arab yang dipimpin Saudi, menurut sebuah pernyataan pada hari Jumat (14/04/2017) yang dikeluarkan oleh militer Yaman, lansie Anadolu Agency.

“Milisi terbunuh Kamis malam ketika pesawat koalisi menargetkan konsentrasi Houthi di daerah tersebut,” pernyataan tersebut membacakan, menambahkan bahwa pasukan militer juga berhasil menggagalkan usaha Houthi untuk merebut kembali wilayah kota pelabuhan itu.

Juru bicara Houthi belum mengomentari pernyataan militer tersebut.

Beberapa pekan terakhir ini telah terjadi bentrokan sporadis di Midi antara Houthi dan pasukan yang setia kepada pemerintah Yaman yang didukung Saudi.

Pada tahun 2015, Houthi merebut Midi – yang terletak di provinsi Hajjah di Yaman barat – namun kemudian kehilangan sebagian besar kekuatan pro-pemerintah yang didukung oleh kekuatan koalisi pimpinan Saudi.

Pemerintah Yaman dan sekutu-sekutu Arabnya menuduh kelompok milisi Syiah menggunakan kota pelabuhan strategis untuk menyelundupkan senjata ke Sanaa, ibu kota Yaman yang dikuasai pemberontak Houthi.

Yaman tetap dalam keadaan perang sejak tahun 2014, ketika pasukan Syiah Houthi dukungan Iran dan sekutu yang setia kepada mantan Presiden Ali Abdullah Saleh menguasai Sanaa dan beberapa wilayah lain di negara tersebut.

Konflik tersebut meningkat satu tahun kemudian ketika Arab Saudi dan sekutu Arabnya meluncurkan serangan udara luas untuk membalikkan keuntungan militer Syiah Houthi dan menopang pemerintah pro-Saudi di negara tersebut.

Perancis: Pernyataan Assad 100 Persen Bohong!

PERANCIS (Jurnalislam.com) – Komentar Presiden Suriah Bashar al-Assad bahwa serangan senjata kimia pekan lalu adalah sebuah rekayasa untuk membenarkan serangan militer AS adalah “100 persen kebohongan”, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Marc Ayrault mengatakan pada hari Jumat (14/4/2017), lansir World Bulletin.

“Ini adalah 100 persen kekejaman dan kedustaan.”

Menteri Prancis mengikuti bahasa yang digunakan Assad, yang menolak laporan bahwa rezimnya melakukan serangan yang menewaskan 87 warga sipil, termasuk banyak anak-anak.

“Pasti, 100 persen menurut kita, itu fabrikasi (buatan),” kata Assad dalam wawancara tersebut.

Pemimpin rezim Syiah itu mempertanyakan apakah serangan tersebut benar-benar terjadi, dengan mengklaim bahwa “video palsu” dan “propaganda” digunakan untuk melawan pemerintahannya.

Menteri Prancis membuat pernyataan tersebut dalam sebuah konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi.

“Kenyataannya adalah bahwa lebih dari 300.000 orang telah meninggal, 11 juta orang telah mengungsi atau menjadi pengungsi, puluhan ribu telah ditempatkan di penjara Suriah dan sebuah negara telah hancur,” kata Ayrault.

“Itulah kenyataannya, ini bukan fantasi.”

Dia menekankan perlunya mengakhiri konflik dengan “gencatan senjata sesungguhnya, yang membatasi angkatan udara dan militer Suriah dan ditegakkan oleh masyarakat internasional.”

Heboh! Djan Faridz Ikhlas Mati Tak Disalati Demi Ahok-Djarot

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) hasil Muktamar Jakarta, Djan Faridz, menyatakan dukungan kepada pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) – Djarot Saiful Hidayat dalam Pilkada DKI. Dia siap menanggung konsekuensi dari pilihannya itu. Bahkan, dia rela jika meninggal nanti jenazahnya tidak disalati.

“Saya ikhlas kalau meninggal enggak disalati,” kata Djan Faridz saat menghadiri acara “Jakarta Berselawat” di Gedung Olahraga Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (14/4/2017) seperti dikutip Tempo.co.

“Nih Djan Faridz ikhlas mati enggak disalati,” tambahnya.

Sosok yang tengah menjadi sorotan akibat sikapnya ini menegaskan, ia rela jika yang mensalati atau mengurus jenazahnya dari kalangan ibu-ibu, asal memenangkan Paslon yang sedang menjadi terdakwa kasus penistaan agama itu.

“Yang salati nanti ibu-ibu saja ya. Mau enggak? Kalau mau, saya enggak takut,” ujar Djan Faridz, kepada peserta selawat yang kebanyakan kaum ibu.

Sebelumnya, sikap PPP melalui Djan Faridz untuk mendukung Ahok banyak menuai kritikan. Banyak pihak menilai, PPP telah mencederai tujuan dasar partai Ka’bah ini.

Dituding Perusak dan Anti Pancasila, Deklarasi FPI Semarang Dijegal

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Rencana pembentukan Front Pembela Islam (FPI) di kota Semarang, Kamis (14/4/2017) mendapat reaksi penolakan oleh beberapa ormas. Mereka menuding FPI anti Pancasila dan dapat merusak kota Semarang.

Menanggapi itu, Zainal Petir, ketua advokasi FPI Jawa Tengah mengatakan, penolakan tersebut tidak berdasar. Menurutnya FPI adalah organisasi kemasyarakatan yang sedang memperjuangkan moral Pancasila.

“Penolakan itu menurut saya tidak berdasar yang katanya anti pancasila, padahal FPI itu adalah organisasi kemasyarakatan yang pancasilais,” tegasnya saat ditemui jurniscom di rumahnya, Jl Pergiwati I no. 19 Bulu Lor Semarang Utara, Kamis (13/4/2017).

“Seringkali kita menghalau kegiatan-kegiatan yang berbau komunis,” tambahnya.

Ia mengatakan, sikap anarkis yang disematkan juga oleh berbagai ormas ini salah alamat. FPI, kata dia, sudah membangun organisasi yang lebih humanis dan menjauhi sikap anarkis.

“Kalau anarkis itukan oknum, makanya saya selalu minta teman-teman FPI jangan anarkis, kita sudah bangun FPI yang humanis,” terangnya.

Diketahui, pihak kepolisian datang untuk menjembatani penolakan ormas dan FPI sendiri. Kendati FPI sudah membantah dengan tegas alasan berbagai ormas, FPI lebih memilih untuk membubarkan diri untuk alasan keamanan dan kondusifitas.

Rusia Panik Negara Balkan Gabung ke NATO

MOSKOW (Jurnalislam.com) – Kementerian luar negeri Rusia pada hari Kamis (13/4/2017) memprotes Amerika Serikat bahwa aksesi Montenegro ke NATO adalah “kesalahan fatal” yang menciptakan perpecahan di Eropa.

Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menandatangani aksesi oleh negara Balkan ke Pakta Pertahanan Atlantik Utara pada hari Selasa “mencerminkan logika konfrontasi di benua Eropa dan menciptakan garis pemisah yang baru,” kata kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan, lansir World Bulletin.

“Kami menganggap bergabungnya Montenegro dengan NATO sangatlah keliru, secara fundamental melawan kepentingan masyarakat di negara ini dan membahayakan stabilitas di Balkan dan di Eropa secara keseluruhan,” katanya.

Populasi Montenegro, di Laut Adriatik, kebanyakan adalah Orthodox Slavia dan Moskow telah lama menganggapnya sebagai wilayah yang berada di bawah pengaruhnya.

Gedung Putih pada hari Rabu berbalik menuduh Moskow berada di balik percobaan kudeta selama pemilihan Montenegro bulan Oktober, yang mengakibatkan sekelompok warga Serbia dipenjara bulan lalu.