Hundreds of Thousands of Muslims Join Action 287 Reject Community Organs

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Hundreds of thousands of masses consisting of elements of Muslims doing a longmarch from Istiqlal Mosque to the Constitutional Court Building (MK) rejected Perppu no 2 of 2017 about the dissolution of mass organizations and asked the Constitutional Court to grant a lawsuit Perpunt Ormas, Friday (28/7 / 2017) in Jakarta.

The action known as Action 287 was attended by Komnas HAM Commissioner Natalius Pigai, Alumni 212 Presidium, GNPF MUI, representatives of Islamic mass organizations and the general public.

“Perppu no 2 year 2017 on social organization, is the latest evidence, how the regime through the umbrella of the Law, which can freely dissolve the organizations that are not favored by the regime, HTI is the first victim of the Perppu,” said Deputy Chairman of Alumni Presidium 212 Asri Harahap in his oration In front of the masses.

After that the presidium read out five statements of attitude, requesting that Perppu be revoked. The masses were dispersed in an orderly manner.

As is known, Jokowi has issued Perppu Ormas. This Perppu is rejected by the mass organizations because it is considered authoritarian.

Translator: Taznim

Tukar Tahanan Hizbullah dengan Warga Sipil, JFS Sepakati Gencatan Senjata

Beirut (Jurnalislam.com)Jabhat Fateh al-Sham (JFS) dengan milisi bersenjata Syiah Hizbullah telah mencapai kesepakatan gencatan senjata di wilayah perbatasan Lebanon-Suriah yang berbukit, menurut kantor berita resmi Lebanon, Kamis (27/7/2017), lansir Anadolu Agency.

“Gencatan senjata mulai berlaku pada pukul 6 pagi (0300 GMT) hari ini,” kata Kantor Berita Nasional (National News Agency-NNA), menambahkan kesepakatan tersebut telah ditengahi oleh Kepala Keamanan Umum Lebanon Mayjen Abbas Ibrahim.

Kesepakatan mengenai kota Juroud Arsal di Suriah termasuk jalan keluar bagi mujahidin Jabhat Fateh al-Sham – yang sebelumnya dikenal sebagai Jabhah Nusrah – sebagai pertukaran untuk membebaskan tiga pasukan Syiah Hizbullah yang ditangkap saat bertempur bersama pasukan rezim Syiah Suriah di wilayah Tel Ais Suriah pada 2016, menurut seorang pejabat Lebanon.

Menurut sumber yang sama, kesepakatan tersebut “juga mencakup Saraya Ahl al-Sham – afiliasai Tentara Pembebasan Suriah (FSA) – yang akan pergi ke kota Ruhaiba di pedesaan Damaskus.”

Pejabat tersebut mengatakan bahwa “batas akhir pelaksanaan perjanjian gencatan senjata tidak akan terbuka, mengharapkan akan berakhir pada awal Agustus mendatang.

Mujahidin Jabhat Fath al-Sham, keluarga mereka dan warga sipil di daerah tersebut yang ingin bergabung dengan mereka akan berangkat menuju provinsi Idlib, Suriah utara, kata Ibrahim.

Berbicara dalam sebuah konferensi pers setelah bertemu dengan Ketua Parlemen Nabih Berri, kepala keamanan umum menambahkan bahwa pergerakan warga ke Idlib akan dilakukan di bawah “pengawasan negara Lebanon sementara Palang Merah bertanggung jawab atas masalah logistik”.

Ibrahim menyatakan “optimisme” atas gencatan senjata di Arsal “meski mengalami beberapa kesulitan”.

Didukung oleh Angkatan Udara rezim Syiah Suriah, Syiah Hizbullah mulai bertempur di Juroud Arsal pada tanggal 19 Juli melawan berbagai kelompok oposisi bersenjata Suriah, termasuk faksi jihad Jabhat Fath al-Sham.

Sejak awal pertempuran, kelompok hak asasi manusia mengungkapkan keprihatinannya terhadap 100.000 pengungsi Suriah yang tinggal di wilayah tersebut.

Suriah telah dikepung dalam sebuah perang global yang kejam sejak awal tahun 2011 ketika rezim Bashar al-Assad membantai aksi unjuk rasa warganya dengan keganasan yang tak terduga.

Ratusan ribu warga sipil Suriah diyakini telah terbunuh sampai saat ini.

Pasukan Irak yang Dilatih Militer AS Lakukan Pembunuhan Massal di Mosul

IRAK (Jurnalislam.com) – Sebuah divisi militer Irak yang dilatih AS dilaporkan mengeksekusi puluhan pria secara massal pada tahap akhir pertempuran melawan IS di Kota Tua Mosul, menurut Human Rights Watch, lansir Aljazeera.

Kelompok hak asasi manusia pada hari Kamis (27/7/2017) mendesak pemerintah AS untuk menangguhkan semua dukungan untuk Divisi 16 tentara Irak sambil menunggu penyelidikan atas kejahatan perang berat tersebut, yang mana bukti tersebut dilihat oleh dua pengamat internasional yang tidak disebutkan namanya.

Klaim tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen karena pihak berwenang Irak telah membatasi akses media ke Kota Tua sejak 10 Juli, menyusul deklarasi kemenangan Perdana Menteri Haider al-Abadi atas Islamic State (IS).

Juru bicara pemerintah dan militer Irak tidak dapat dihubungi untuk memberikan komentar.

IS mempertahankan benteng terakhirnya di Kota Tua setelah sembilan bulan perang perkotaan dengan pasukan Irak, yang didukung oleh sebuah koalisi pimpinan agresor AS.

Pertempuran berlanjut di sana selama beberapa hari setelah kemenangan diumumkan pada pertengahan Juli, dan muncul video pasukan Irak memukuli orang-orang yang tidak bersenjata.

Rekaman menunjukkan satu orang dijatuhkan dari tebing hingga tewas.

“Mengingat penyiksaan meluas oleh pasukan Irak dan catatan tidak resmi pemerintah mengenai pertanggungjawaban, AS harus memperhatikan keterlibatannya dengan pasukan Irak,” kata Sarah Leah Whitson, direktur Human Rights Watch di Timur Tengah.

Irak telah berjanji untuk menyelidiki laporan pelanggaran kemanusian berat sebelumnya.

Para pengamat yang dikutip oleh HRW mengatakan bahwa mereka telah melihat sekelompok tentara Irak yang mengidentifikasi diri mereka sebagai anggota Divisi 16 memimpin empat pria telanjang menyusuri gang, setelah itu mereka mendengar beberapa suara tembakan.

Mereka diberitahu oleh tentara lain bahwa keempat pria tersebut adalah pasukan IS.

Ketika mereka meninggalkan daerah itu, salah seorang pengamat melihat mayat beberapa pria telanjang tergeletak di ambang pintu, yang salah satunya tampaknya telah diborgol dan diikat tali di sekitar kakinya.

Divisi ke-16 juga terlibat dalam eksekusi lainnya.

Dalam insiden terpisah, dua tentara dari unit yang sama menunjukkan pengamat sedikitnya 25 mayat yang terbaring di gundukan puing-puing di sepanjang Tigris, dan membual bahwa ini adalah pasukan IS yang dieksekusi mereka dan rekan-rekan tentara mereka.

“Militer AS harus mencari tahu mengapa sebuah kekuatan yang mereka latih dan mereka dukung melakukan kejahatan perang yang mengerikan,” kata Whitson. “Dolar pembayar pajak AS seharusnya membantu mengurangi pelanggaran, bukannya memungkinkan pelanggaran.”

Kecam PM Zionis, Al Jazeera: Kami akan Terus Meliput Peristiwa di Palestina

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Al Jazeera mengecam ancaman Perdana Menteri Israel yang menutup kantor Al Jazeera di Yerusalem, dengan mengatakan akan terus meliput peristiwa di wilayah Palestina secara profesional dan obyektif, Kamis (27/7/2017).

Beberapa jam setelah pemimpin zionis tersebut memposting komentar penghinaan tentang liputan Al Jazeera ke halaman Facebook-nya, dengan mengatakan bahwa jurnalis Al Jazeera “menghasut kekerasan”, jaringan media yang berbasis di Doha tersebut menanggapi pada hari Kamis,”mencela tuduhan sewenang-wenang dan pernyataan permusuhan tersebut”, adalah sebuah siaran pers Al Jazeera mengatakan.

Komentar Netanyahu menandai “episode lain dari serangan setan yang sedang berlangsung” terhadap Al Jazeera, pernyataan tersebut berbunyi, merujuk pada seruan oleh kelompok pimpinan Saudi yang memboikot Qatar untuk menutup jaringan tersebut.

Al Jazeera menekankan bahwa mereka akan mengambil semua tindakan hukum yang diperlukan jika mereka bertindak atas ancaman mereka,” pernyataan tersebut melanjutkan.

“Jaringan ini juga menegaskan kembali bahwa mereka akan terus meliput berita dan kejadian di wilayah Palestina yang dijajah Israel, dan di tempat lain, baik secara profesional maupun obyektif.”

Netanyahu telah lama gelisah atas liputan Al Jazeera.

Komentar terakhirnya muncul di tengah bentrokan besar antara pihak penjajah Israel dan warga Muslim Palestina di Masjid Al-Aqsha karena usaha Israel untuk mengusai Masjid.

“Jaringan Al Jazeera terus menghasut kekerasan di sekitar Temple Mount,” tulis PM zionis di media sosial pada Rabu malam, merujuk pada serangan militer Israel pada warga Muslim Palestina dalam aksi unjuk rasa damai di Masjid Suci bagi umat Islam di Yerusalem yang diklaim sebagai Temple Mount bagi orang Yahudi.

“Saya telah mengajukan banding beberapa kali ke petugas penegak hukum menuntut penutupan kantor Yerusalem Al Jazeera,” lanjut Netanyahu. “Jika ini tidak terjadi karena penafsiran hukum, saya akan mengesahkan undang-undang yang dipersyaratkan untuk menyingkirkan Al Jazeera dari Israel.”

Bentrokan di Masjid Al Aqsha Kembali Memanas 1 Gugur dan 126 Terluka

YERUSALEM (Jurnalislam.com) – Seorang warga Palestina pada hari Kamis (27/7/2017) menyerah pada luka-luka yang dideritanya dalam bentrokan dengan pasukan Israel di sekitar Masjid Al-Aqsha di Yerusalem, Kementerian Kesehatan Palestina mengumumkan.

Kematian tersebut menambah jatuhnya korban di sekitar lokasi suci, saat tiga warga Muslim Palestina terbunuh pada Jumat lalu memprotes tindakan di sekitar tempat suci tersebut. Tiga orang Israel juga tewas dalam serangan balasan di sebuah pemukiman illegal Yahudi di Tepi Barat yang dijajah.

Menurut petugas kesehatan, sekitar 126 warga Palestina juga terluka pada hari Kamis saat orang-orang Palestina kembali ke Masjid untuk beribadah, setelah Israel memindahkan detektor logam.

40 terluka oleh peluru karet, 86 menderita inhalasi gas air mata, dan sedikitnya 15 patah tulang, Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan kepada Anadolu Agency. Sebanyak 21 orang dipindahkan ke rumah sakit di Yerusalem, tambahnya.

Perayaan umat Islam kembali ke Masjid Al-Aqsha di Yerusalem berubah pada Kamis siang kemarin ketika bentrokan tiba-tiba pecah antara pasukan Israel dan pemuda Palestina.

Rakyat Palestina, yang sangat gembira untuk kembali setelah hampir dua pekan memprotes langkah-langkah keamanan Israel yang baru, masuk melalui gerbang Bab Hutta ke tempat suci, namun mereka yang sudah berada di dalam mulai melempar batu setelah mereka mendengar suara granat setrum dari jalur setapak sampai ke pintu gerbang.

Meskipun pengeras suara Masjid mendesak orang untuk mundur dan berdoa, banyak yang terus bentrok dengan pasukan Israel, yang selusin di antaranya maju ke kompleks untuk membubarkan orang banyak.

Pada satu titik pasukan Israel memaksa semua orang masuk ke Masjid, pasukan pejajah zionis melemparkan granat setrum saat orang mencoba menutup pintu, seorang reporter Agency Anadolu melihat di tempat kejadian.

Polisi zionis juga menutup gerbang Kota Tua Yerusalem dan mencegah orang-orang Palestina masuk, Firas al-Dibs, juru bicara Wakaf Islam Yerusalem, mengatakan kepada Anadolu Agency.

“Polisi mengerahkan puluhan pasukan Israel di gerbang, menutup kompleks suci tersebut, dan mencegah orang-orang Palestina untuk sholat di masjid,” tambahnya.

Sementara itu, ribuan orang bergabung dengan doa bersama yang dipimpin oleh imam Masjid Al Aqsha, yang telah diangkat ke pundak orang banyak yang sedang merayakan.

Kejadian tersebut menyusul tindakan penjajah Israel yang setuju untuk menghapus detektor logam kontroversial, yang dipasang setelah baku tembak 14 Juli yang mematikan di tempat suci tersebut. Warga Palestina menolak untuk menerima langkah-langkah keamanan baru, menyebut mereka bagian dari upaya Israel untuk menguasai Masjid Al-Aqsha.

Kota Yerusalem suci bagi ketiga anggota agama Ibrahim – Muslim, Yahudi dan Kristen – dan Masjid Al-Aqsha adalah wakaf umat Islam dan mewakili situs tersuci ketiga di dunia Islam.

Serangan Udara AS Bunuh 29 Warga Sipil Raqqa

SURIAH (Jurnalislam.com) – Sebuah rentetan serangan udara koalisi pimpinan agresor AS membunuh 29 warga sipil pada hari Rabu (27/7/2017) di Raqqa Suriah, yang setengahnya masih dikuasai IS, kata sebuah monitor. “Sedikitnya delapan anak termasuk di antara korban tewas,” kata Kepala Observatorium HAM Suriah Rami Abdel Rahman.

Didukung oleh koalisi pimpinan AS, Pasukan Demokrat Suriah telah melakukan serangan selama sebulan di Raqa dan telah berhasil merebut separuh kota tersebut, menurut Observatorium tersebut.

Sebelumnya dilaporkan bahwa aliansi yang didukung AS telah menggulingkan kelompok Islamic State (IS) dari separuh benteng Suriah mereka di Raqqa, sebuah monitor mengatakan Rabu, kurang dari dua bulan setelah pergerakannya memasuki kota tersebut.

“Pasukan Demokrat Suriah sekarang menguasai 50 persen kota Raqqa meskipun ada perlawanan sengit yang dilakukan oleh IS,” kata Rami Abdel Rahman dari Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia.

Pasukan Arab dan Kurdi SDF masuk ke Raqqa pada tanggal 6 Juni setelah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menyisir wilayah yang dikuasai IS di sekitar kota Suriah utara.

Article 59 Paragraph 3 Perppu 2/2017 Assessment of the Nature of a Dictatorial Regime

SEMARANG (Jurnalislam.com) – The Indonesian Muslim Student Action Union (KAMMI) came to the Central Java Parliament Office of Jalan Pahlawan, Semarang City, to reject the Perppu No. 2 of 2017 on Amendment of Law No. 17 of 2013 on Community Organizations, Wednesday (26 / 7/2017).

In his statement, the Chairman of KAMMI Semarang Sigit Tirto Utomo stated that his party firmly rejects the Perppu because it is no better than the Ordinance Act No. 17 of 2013.

“KAMMI firmly rejects Perppu No 2 of 2017 about organizations that are no better than existing mass organizations,” Sigit told reporters at the Central Java DPDR office on Wednesday (26/7/2017).

Sigit explained that article 59 paragraph 3 in the Perppu states that mass organizations that violate public order, disturbing the public, damaging the facility and the criticism of state officials can be disrupted until dissolved. The point is judged as one of the nature of dictatorial rule.

“So the dissolution is from the likes or dislikes of the president himself and added to rejecting the jurisdiction of the courts, because by eliminating the authority of the court has caused the nature of the authoritarian regime and dictatorship,” he said.

Furthermore, Sigit said, KAMMI invites the pros and cons of the Perppu to to scientifically mengiaog.

“We invite organizations of pros and cons with this issue to dialogue with us, our study is scientific, our study based on the Perppu is self-contained, we involve legal persons, not intimidation,” he concluded.

Translator: Taznim

Israel akan Tutup Kantor Berita Al Jazeera di Yerusalem

YERUSALEM (Jurnalislam.com) – Perdana Menteri zionis Benjamin Netanyahu akan menutup kantor berita Al-Jazeera di Yerusalem pada hari Kamis (27/7/2017), katanya.

“Saya telah menginstruksikan [aparat hukum] untuk menutup kantor Al-Jazeera Yerusalem karena memberitakan kekerasan di atas Temple Mount,” Netanyahu menulis di halaman Facebook-nya. “Jika itu tidak mungkin menurut undang-undang saat ini, saya akan berupaya meneruskan Perundang-undangan yang diperlukan di Knesset untuk memberhentikan Al-Jazeera,” lansir Anadolu Agency Rabu (26/7/2017).

Israel menutup Masjid Al-Aqsha yang dihormati oleh umat Islam di dunia dan melarang sholat Jum’at untuk pertama kalinya dalam hampir lima dasawarsa, menyusul baku tembak mematikan pada 14 Juli.

Masjid tersebut kemudian dibuka kembali setelah militer zionis Yahudi memasang detektor logam dan kamera di gerbangnya.

Jamaah Muslim memprotes tindakan Israel itu dalam unjuk rasa dan bentrok dengan polisi yang menyebabkan kematian 11 orang, termasuk delapan orang Palestina, namun Israel menolak untuk memindahkan detektor, mengklaim bahwa tindakan pengamanan dengan prosedur serupa juga digunakan di tempat-tempat suci lainnya di seluruh dunia.

Setelah tekanan internasional, kabinet keamanan Israel memutuskan untuk mencopot detektor logam namun mengatakan akan memberlakukan sebuah sistem pengawasan baru dengan menggunakan “pemeriksaan cerdas (smart checks)” berdasarkan teknologi maju.

Milisi Dukungan AS dan Rezim Assad Berbagi Keuntungan Penjualan Minyak, Ini Laporannya

ANKARA (Jurnalislam.com) – Milisi PYD yang didukung AS, cabang Suriah dari organisasi ekstremis PKK dan rezim Syiah Bashar al-Assad berbagi keuntungan yang dihasilkan ladang minyak di provinsi Al-Hasakah, Suriah timur laut, kata sumber setempat kepada Anadolu Agency pada hari Rabu (26/7/2017).

PKK / PYD menguasai Al-Hasakah di timur, Raqqah utara, Manbij, hingga sebelah timur distrik Aleppo, Afrin dan Tal Rifaat.

PKK / PYD dan rezim Nushairiyah Assad bersama-sama mengendalikan sembilan ladang minyak di provinsi Al-Hasakah, tiga di antaranya saat ini aktif dan 6 tidak aktif, menurut sumber setempat.

PKK, yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki dan Uni Eropa, telah melakukan operasi teror melawan Turki selama lebih dari 30 tahun, di mana lebih dari 40.000 orang telah terbunuh. Mereka juga terlibat dalam produksi obat terlarang, manufaktur, dan perdagangan manusia.

Kira-kira 30-35 ribu barel minyak per hari dihasilkan dari hampir 350 sumur minyak kecil yang terletak di kota As-Suwayda, barat daya yang dilanda perang, kota kaya minyak Rimelan dan Karacok di timur laut Suriah.

Baru-baru ini, PKK / PYD menyerahkan kontrol produksi minyak di wilayah Rimelan kepada rezim Assad dan kesepakatan pembagian pendapatan ditandatangani antara kedua belah pihak.

Menurut kesepakatan tersebut, rezim Syiah Assad akan memperoleh 65 persen pendapatan sementara PKK / PYD akan memperoleh 20 persen. PKK / PYD memberikan sisa pendapatan kepada pasukan Arab setempat yang bertanggung jawab atas perlindungan ladang. Rezim Assad memasok gaji para penjaga dan pekerja lainnya.

Meski ada kesepakatan, PKK / PYD masih menjabat di wilayah Rimelan dimana petugas mereka memberikan laporan produksi minyak ke organisasi tersebut.

Minyak yang dihasilkan dari ladang ini dikirim ke kilang di Homs yang dikelola rezim Suriah melalui truk. Entrepeneur Husam Katirci, rekan dekat keluarga Assad, mengawasi transfer minyak tersebut.

Minyak yang dihasilkan dari Al-Hasakah ditargetkan menuju distrik Sinjar di Irak.

Sebelum konflik saat ini, ketika Suriah menghasilkan 383.000 barel minyak per hari (b / d) dan gas alam 316 juta kaki kubik per hari, sektor minyak dan gas Suriah menyumbang sekitar seperempat dari pendapatan pemerintah, menurut analisis negara Administrasi Informasi Energi AS (Energy Information Administration-EIA).

Produksi minyak Suriah, yang rata-rata di atas 400.000 b / d antara tahun 2008 dan 2010, kurang dari 25.000 b / d pada bulan Mei 2015, kata AMDAL

Hayat Tahrir al Sham Tembak Jatuh Drone Syiah Hizbullah di Qalamoun

SURIAH (Jurnalislam.com)Hay’at Tahrir al Sham (HTS), sebuah koalisi faksi-faksi jihad di Suriah yang dipimpin Jabhat Fath al Sham, merilis sebuah video sebelumnya hari ini menunjukkan pasukannya di Suriah barat menembak jatuh sebuah drone bersenjata milik milisi Syiah Hizbullah.

Long War Journal, Rabu (26/7/2017) melaporkan video yang menggambarkan saat-saat terakhir sebuah pesawat bersenjata tak berawak milik Syiah Hizbullah terbang melintasi posisi HTS di suatu tempat di Qalamoun barat. Sedikitnya dua bom dijatuhkan dari drone tersebut sebelum drone tersebut jatuh ke tanah setelah ditembaki dengan senjata ringan.

Drone itu digunakan sebagai bagian dari serangan pimpinan Hizbullah saat ini di Qalamoun barat dan di daerah Jurud Arsal di Lebanon.

Ini bukan kali pertama Syiah Hizbullah menggunakan pesawat tak berawak untuk operasinya di Suriah. Tahun lalu, kelompok Syiah itu menggunakan drone bersenjata untuk mendukung serangan di Aleppo. Itu adalah konfirmasi visual pertama Hizbullah yang menunjukkan mereka membangun dan mengerahkan pesawat bersenjata tak berawak.

Sebelum itu, pada tahun 2014, Syiah Hizbullah mengklaim menggunakan drone bersenjata terhadap faksi jihad yang setia pada Jabhah Nusrah (cabang Al Qaeda di Suriah, sekarang merupakan bagian dari HTS) di Arsal.