Inggris dan Perancis Kecam Uji Coba Nuklir Korea Utara

INGGRIS (Jurnalislam.com) – Inggris Raya dan Prancis pada hari Ahad (3/9/2017) mengecam keras uji coba nuklir Korea Utara dan meminta masyarakat internasional untuk melakukan tindakan yang lebih keras dan cepat, World Bulletin melaporkan Senin (4/9/2017).

“Tidak ada solusi militer yang mudah” untuk mencegah agresi nuklir oleh Korea Utara, sekretaris luar negeri Inggris mengatakan pada hari Ahad.

Boris Johnson, menambahkan, bagaimanapun, “semua pilihan” pembalasan masih ada di meja.

“Pandangan kami tentu bahwa tidak ada pilihan militer yang baik,” kata Johnson kepada Sky News setelah Korea Utara mengumumkan telah menguji sebuah bom hidrogen yang dapat dimuat di rudal balistik antarbenua.

“Tentu saja seharusnya kami mengatakan bahwa semua pilihan ada di meja, tapi kami benar-benar tidak melihat solusi militer yang mudah,” kata Johnson.

Menekankan pendeknya jarak antara Korea Utara dan Seoul, dia memperingatkan bahwa dalam sebuah konflik, Korea Utara “pada dasarnya dapat melenyapkan” sebagian besar wilayah Selatan, bahkan dengan senjata konvensional.

Jadi pilihan militer “tidak benar-benar mudah untuk mengancam dan diucapkan,” tambahnya.

“Jauh lebih produktif, menurut kami, adalah melanjutkan usaha diplomatik internasional,” katanya, menekankan perlunya dorongan diplomatik lebih lanjut.

Milisi Syiah Houthi Bom Kediaman Pemimpin Sekutunya

YAMAN (Jurnalislam.com) – Milisi Syiah Houthi membom rumah seorang pemimpin partai politik Ali Abdullah Saleh, saat ketegangan di antara kedua sekutu tersebut meningkat.

Menurut sumber lokal, pemberontak Syiah Houthi pada hari Senin (4/9/2017mengebom rumah salah satu pemimpin Partai Kongres Populer, Sheikh Ali al-Houbani, sebelah timur provinsi Taiz di barat daya Yaman, Al Arabiya melaporkan.

Sumber tersebut mengatakan bahwa rumah Sheikh al-Hobani, pemimpin partai Saleh yang terkemuka, di wilayah al-Hoban timur Taiz tersebut, hancur total.

Dipercaya bahwa pemboman tersebut merupakan upaya untuk mengintimidasi pemimpin politik Saleh di dalam partainya.

Sementara itu, milisi Houthi menangkap seorang pemimpin militer senior yang setia pada Saleh di gubernur al-Hudaydah di Yaman barat.

Sumber media mengatakan bahwa pemberontak Houthi menangkap komandan brigade pertahanan pantai ke-82, Jenderal Ali Mahdi al-Ansi yang setia pada Saleh. Mereka memenjarakannya di kamp polisi kota dan tidak mengungkapkan alasan atau keadaan penangkapannya.

Republik Islam Afghanistan Kutuk Serangan Brutal Militer Budha Myanmar pada Muslim Rohingya

KABUL (Jurnalislam.com) – Afghanistan pada hari Senin (4/9/2017) bergabung dengan masyarakat internasional dalam menghujat pembunuhan massal Muslim Rohingya di Myanmar.

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri mengatakan bahwa Republik Islam Afghanistan mencela dengan cara yang paling berat atas pembantaian sadis Muslim Rohingya oleh militer di sana.

“Kementerian Luar Negeri, sangat mengecam keras serangan brutal dan tidak berperikemanusiaan oleh militer negara tersebut terhadap penduduk Muslimnya, menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa dan institusi hak asasi manusia di dunia untuk secara serius memperhatikan genosida dan pembantaian Muslim dan rakyat tertindas di Myanmar”, katanya, lansir Anadolu Agency.

Pernyataan ini muncul saat ribuan Muslim Rohingya telah melarikan diri dari pembantaian oleh militer di Myanmar dalam beberapa pekan terakhir. Sebanyak 87.000 pengungsi Rohingya tiba di Bangladesh sejak pasukan Budha Myanmar melancarkan operasi terhadap kaum Muslim di negara tetangganya pada 25 Agustus, kata Perserikatan Bangsa-Bangsa pada hari Senin.

Laporan media mengatakan pasukan Myanmar menggunakan kekuatan yang tidak proporsional, menggusur ribuan warga desa Rohingya dan menghancurkan rumah mereka dengan mortir dan senapan mesin.

Kawasan ini telah menyaksikan ajang pembantaian yang merebak antara populasi sekte Buddha yang berkuasa dan kaum Muslim yang ditindas, sejak kekerasan komunal meletus pada tahun 2012.

Sebuah tindakan keras yang diluncurkan Oktober lalu di Maungdaw, di mana Rohingya menjadi mayoritas, hingga PBB menyelidiki dan mengeluarkan sebuah laporan mengenai pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap kemanusiaan berat oleh aparat Myanmar.

PBB mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuhan, penyiksaan, penyembelihan – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal, dan penghilangan paksa. Perwakilan Rohingya mengatakan sekitar 400 orang dibunuh selama tindakan keras tersebut.

Erdogan: Saya Akan Ungkap Apa yang Terjadi Sebenarnya di Myanmar pada Majelis PBB Nanti

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada hari Senin (4/9/2017) bahwa dia akan mengangkat derita Muslim Rohingya Myanmar pada pertemuan Majelis Umum PBB berikutnya di New York akhir bulan ini, Anadolu Agency melaporkan.

Berbicara kepada penduduk setempat di distrik Catalca di Istanbul pada hari terakhir hari raya Idul Adha, Erdogan mengatakan, “Dunia tetap diam dalam menghadapi pembantaian kaum Muslim di Myanmar.”

“Saya akan mengungkapkan apa yang sedang terjadi di Myanmar di Majelis Umum PBB pada 19 September dengan cara yang paling luas,” katanya. “Kami akan membicarakan semua ini dengan para pemimpin di sana.”

Sebagai presiden yang aktif dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI), Erdogan mengatakan bahwa sejauh ini dia telah berbicara kepada para pemimpin sekitar 20 negara mengenai masalah ini.

Bulan Sabit Merah Turki (Kizilay) dan Otoritas Manajemen Bencana Darurat (AFAD) akan terus mengirim bantuan kemanusiaan kepada Muslim Rohingya yang menderita di Asia Tenggara, tambah presiden tersebut.

Kekerasan meletus di negara bagian Rakhine di Myanmar pada 25 Agustus ketika pasukan negara tersebut melancarkan operasi militer brutal terhadap komunitas Muslim Rohingya.

Kekerasan ini memicu masuknya pengungsi baru ke negara tetangga Bangladesh, meskipun negara tersebut menutup perbatasannya untuk para pengungsi.

Laporan media mengatakan pasukan Myanmar menggunakan kekuatan yang tidak proporsional, menggusur ribuan warga desa Rohingya dan menghancurkan rumah mereka dengan mortir dan senapan mesin.

Kawasan ini telah menyaksikan ajang pembantaian yang merebak antara populasi sekte Buddha yang berkuasa dan kaum Muslim yang ditindas, sejak kekerasan komunal meletus pada tahun 2012.

Sebuah tindakan keras yang diluncurkan Oktober lalu di Maungdaw, di mana Rohingya menjadi mayoritas, hingga PBB menyelidiki dan mengeluarkan sebuah laporan mengenai pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap kemanusiaan berat oleh aparat Myanmar.

PBB mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuhan, penyiksaan, penyembelihan – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal, dan penghilangan paksa. Perwakilan Rohingya mengatakan lebih dari 400 orang Muslim Rohingya dibunuh secara sadis selama tindakan keras tersebut.

Militer Myanmar dan Aung San Suu Kyii Dihantam Kecaman Dunia

MYANMAR (Jurnalislam.com) – Pasukan Myanmar dan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi menghadapi kecaman internasional atas penderitaan kaum minoritas Rohingya baru-baru ini, lansir Aljazeera, Senin (4/9/2017).

Hampir 90.000 orang Rohingya telah membanjiri Bangladesh dalam 10 hari terakhir menyusul meningkatnya pertempuran antara pejuang Muslim Rohingya dan militer Budha Myanmar di negara bagian Rakhine barat yang dilanda konflik.

Muslim Rohingya selama ini telah dipaksa untuk hidup di bawah penindasan, pembatasan apartheid untuk bergerak dan memiliki kewarganegaraan.

Gelombang kekerasan, yang pertama dimulai Oktober lalu ketika sebuah kelompok pejuang kecil Rohingya menyerang pos-pos perbatasan, merupakan yang terburuk yang pernah dialami etnis Rakhine selama bertahun-tahun, dimana PBB dalam tanggapannya mengatakan bahwa tentara Myanmar mungkin telah melakukan pembersihan kaum Muslim Rohingya.

Aung San Suu Kyi, mantan tahanan politik penguasa militer Myanmar, mendapat tekanan yang meningkat atas ketidakpeduliannya untuk berbicara melawan perlakuan terhadap Rohingya atau menghukum militer.

Dia tidak berkomentar sejak pertempuran terakhir terjadi pada 25 Agustus.

Malala Yousafzai, peraih Nobel perdamaian Pakistan, menyuarakan penghukumannya atas masalah ini dalam sebuah pernyataan di Twitter.

“Setiap kali saya melihat berita tersebut, hati saya hancur menyaksikan penderitaan Muslim Rohingya di Myanmar,” Yousafzai mengatakan.

“Selama beberapa tahun terakhir saya telah berulang kali mengutuk perlakuan tragis dan memalukan ini. Saya masih menunggui peraih Nobel Aung San Suu Kyi melakukan hal yang sama,” tambahnya.

Menteri Luar Negeri Malaysia Anifah Aman juga mempertanyakan kebungkaman Aung San Suu Kyi.

“Sejujurnya, saya tidak puas dengan Aung San Suu Kyi,” kata Anifah kepada kantor berita AFP.

“(Sebelumnya) dia membela prinsip-prinsip hak asasi manusia. Sekarang sepertinya dia tidak melakukan apa-apa.”

Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan pada hari Senin bahwa dia mendesak para pemimpin dunia untuk berbuat lebih banyak dalam membantu Muslim Rohingya, yang menghadapi apa yang dia gambarkannya sebagai “genosida”.

“Anda melihat situasi dimana Myanmar dan Muslim berada,” kata Erdogan di Istanbul, saat menghadiri pemakaman seorang tentara Turki. “Anda melihat bagaimana desa-desa dibakar … Kemanusiaan tetap diam terhadap pembantaian di Myanmar”.

Dia mengatakan Turki akan mengangkat isu tersebut di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York akhir bulan ini.

Krisis yang berkembang mengancam hubungan diplomatik Myanmar, terutama dengan negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Indonesia dimana ada kemarahan publik yang mendalam atas perlakuan terhadap Rohingya.

Maladewa mengumumkan pada hari Senin bahwa pihaknya memutuskan semua hubungan dagang dengan negara tersebut “sampai pemerintah Myanmar mengambil tindakan untuk mencegah kekejaman dilakukan terhadap Muslim Rohingya”, kata kementerian luar negeri dalam sebuah pernyataan.

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi bertemu dengan Aung San Suu Kyi, serta kepala militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing di Naypyidaw, pada hari Senin dalam upaya untuk menekan pemerintah berbuat lebih banyak demi meringankan krisis.

Ini Hasil Pertemuan Menlu Retno Marsudi Dengan Aung San Suu Kyi

Ratusan orang berdemonstrasi di depan kedutaan Myanmar pada hari Senin, di mana polisi bersenjata dikerahkan dan aksi tersebut dikepung kawat berduri di belakang.

Pakistan juga menyatakan “penderitaan mendalam” atas kekerasan yang terus berlanjut terhadap minoritas Rohingya di Myanmar.

Menteri Luar Negeri Khawaja Muhammad Asif pada hari Senin menyerukan “tindakan efektif untuk mencegah terulangnya kekerasan semacam itu” terhadap minoritas Muslim.

Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif menambahkan dalam sebuah tweet baru-baru ini: “Kebungkaman global atas terus berlanjutnya kekerasan terhadap Muslim #Rohingya. Tindakan Internasional penting untuk mencegah pembersihan etnis lebih lanjut – PBB harus bangkit.”

Sejak pertempuran terakhir pecah, cabang al-Qaeda di Yaman telah menyerukan serangan balasan terhadap Myanmar sementara Taliban Afghanistan mendesak umat Islam untuk “menggunakan kemampuan mereka dalam membantu umat Islam Myanmar yang tertindas”.

Ribuan orang juga berkumpul di wilayah Chechnya, Rusia, Senin, untuk sebuah demonstrasi yang dipentaskan secara resmi mengenai situasi orang Rohingya.

Kembangkan Sistem Rudal S-300 Rusia, Iran Gelar Uji Coba Rudal Bavar-373

TEHERAN (Jurnalislam.com) – Republik Syiah Iran telah menguji sistem pertahanan udara dalam negerinya, yang dirancang untuk mengembangkan S-300 Rusia, kata kepala pertahanan Garda Revolusi, lansir Middle East Eye, Ahad (3/8/2017).

“Sejalan dengan penyebaran S-300, pengerjaan sistem Bavar-373 sedang berlangsung,” Farzad Esmaili mengatakan kepada penyiar media IRIB Sabtu malam.

“Sistem ini dibuat sepenuhnya di Iran dan beberapa bagiannya berbeda dari S-300. Semua sub sistemnya telah selesai dan tes misilnya telah dilakukan.”

Iran Dibalik Pembantaian Aleppo

Bavar (yang berarti “kepercayaan”) adalah sistem pertahanan rudal jarak jauh Tehran yang pertama, dan akan mulai beroperasi pada bulan Maret 2018, tambahnya.

Pada tahun 2010, Iran mulai memproduksi Bavar-373 setelah pembelian S-300 dari Rusia dihentikan karena sanksi internasional.

Rusia melanjutkan penjualan tersebut setelah kesepakatan nuklir 2015 dengan kekuatan dunia yang mencabut sanksi, dan sistem pertahanan S-300 Iran mulai beroperasi pada bulan Maret.

Pada hari Ahad televisi Iran menayangkan rekaman pertama dari sebuah “pesawat tak berawak” rahasia di lokasi gurun yang tidak diketahui, dimana puluhan pesawat tak berawak berjejer.

“Jika perlu, sejumlah besar elang berkecepatan tinggi Iran akan mendarat di wilayah musuh,” kata Esmaili dalam rekaman tersebut.

Iran telah mengembangkan beberapa pesawat militer dalam beberapa tahun terakhir, memicu kritik dari Washington.

Bulan lalu, Amerika Serikat mengklaim pesawat tak berawak Iran terbang sangat dekat dengan kapal induk dan sebuah jet Angkatan Laut AS dalam dua insiden terpisah di perairan Teluk.

Iran: Setelah Aleppo, Kita akan Bantai Bahrain dan Yaman

Pada hari Sabtu, menteri pertahanan baru Amir Hatami mengatakan bahwa Iran memiliki “rencana khusus untuk meningkatkan kekuatan rudal”.

Dia mengatakan bahwa dia berharap “kemampuan tempur rudal balistik dan peluncur Iran” akan meningkat dalam empat tahun ke depan.

Komentar tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan dengan Washington, yang telah mengeluarkan sanksi baru terhadap program rudal balistik Iran.

Pembebasan Islam Moro: Krisis Marawi Meluas ke Provinsi Lain Filipina

FILIPINA (Jurnalislam.com) – Krisis Marawi meluap ke provinsi lain di selatan negara tersebut, kata beberapa pejabat militer dan kelompok Pembebasan Islam Moro, Anadolu Agency melaporkan Ahad (3/8/2017).

Krisis ini terjadi setelah Presiden Rodrigo Duterte mengatakan pada hari Jumat (1/8/2017) bahwa milisi Islam bersenjata lengkap telah terlihat di daerah pedalaman Buldon, Maguindanao, Mindanao tengah di Filipina selatan.

Kepala Komando Mindanao Barat Letnan Jenderal Carlito Galvez Jr. pada hari Sabtu (2/8/2017) mengkonfirmasi penilaian Duterte bahwa kelompok Maute telah memperluas pengaruhnya di luar Marawi, lokasi pengepungan yang diperpanjang sejak Mei ini.

“Itulah mengapa Front Pembebasan Islam Moro (the Moro Islamic Liberation Front-MILF) sekarang melakukan yang terbaik untuk mengatasi situasi di Maguindanao,” kata Galvez kepada wartawan pertahanan yang meliput konflik Marawi.

Inquirer online pada hari Jumat melaporkan bahwa juru bicara MILF Von Al Haq meminta anak buah mereka untuk segera memverifikasi klaim Duterte dan mengkonfirmasikannya.

“Mereka bisa menuju ke kota Butig karena letaknya dekat Buldon atau di Maguindanao,” kata Al Haq.

Kelompok IS Filipina akan Tinggalkan Kota Marawi Jika Pasukan Islam Moro Turut Campur

Dia mengatakan bahwa mereka tidak dapat memobilisasi pasukan mereka untuk memburu militan tersebut karena mereka juga melakukan operasi lainnya yang terus berlanjut di bagian lain Maguindanao terhadap kelompok ekstremis.

“Kami membutuhkan pasukan dan peluru,” tambahnya.

Di situs resminya, MILF mengatakan bahwa krisis Marawi yang meluap adalah konsekuensi alami dari sebuah penyakit yang tidak ditangani dengan benar, sebuah “situasi yang tidak menguntungkan.”

Al Shabaab Serang Pangkalan Militer Somalia, 26 Pasukan Tewas

SOMALIA (Jurnalislam.com) – Kelompok Al-Shabab menyerang sebuah pangkalan militer di dekat kota pelabuhan Kismayu di selatan Somalia pada hari Ahad, (3/8/2017) kata seorang perwira tentara Somalia, menambahkan bahwa dia tidak segera mengetahui rincian korban.

Faksi jihad itu mengaku bertanggung jawab atas serangan dan mengatakan 26 tentara Somalia tewas dalam insiden tersebut, namun klaim mereka belum dapat dikonfirmasi oleh sumber lain.

“Kami mengetahui al-Shabab menyerang pangkalan dan pertempuran sengit serta ledakan terjadi, tapi tetap saja kami tidak memiliki rincian,” kata Mohamed Isa, seorang perwira militer, kepada kantor berita Reuters dari Kismayu, lansir Aljazeera.

Serangan itu terjadi di sebuah pangkalan di desa Bula Gudud, dekat Kismayu.

Radio negara juga melaporkan pangkalan tersebut telah diserang namun mengatakan korban belum diketahui.

Pangkalan tersebut dioperasikan bersama oleh tentara nasional Somalia dan pasukan dari wilayah semi-otonom Jubbaland Somalia selatan, lapornya.

Warga di Bula Gudud mengatakan ledakan terdengar dan baku tembak terjadi sesaat setelah shalat subuh hari ini.

Abdiasis Abu Musab, juru bicara militer al-Shabab, mengatakan kepada Reuters: “Pagi ini, kami menyerang pangkalan Jubbal di dekat Bula Gudud, kami membunuh 26 tentara dan membakar dua mobil.”

Al Shabab meninggalkan markas setelah merebut sejumlah senjata, amunisi dan beberapa kendaraan, tambahnya.

Al-Shabab merupakan al-Qaeda di Afrika yang memerangi pemerintah boneka Somalia bentukan Barat (AS) dan ingin menerapkan hukum (syariah) Islam di Somalia.

Pakistan Ajak OKI Wujudkan Solidaritas untuk Muslim Rohingya

KARACHI (Jurnalislam.com) – Pakistan pada hari Ahad (3/8/2017) mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam atas meningkatnya jumlah kematian dan pemindahan paksa Muslim Rohingya, dan menyebut ini sebagai sumber keprihatinan dan petaka serius di tengah Idul Adha saat ini – salah satu dari dua hari hari raya utama kaum Muslim di seluruh dunia.

“Pakistan mendesak pihak berwenang di Myanmar untuk menyelidiki laporan pembantaian, meminta pertanggungjawaban mereka, dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi hak-hak Muslim Rohingya,” kata Menteri Luar Negeri Pakistan dalam sebuah pernyataan, lansir Anadolu Agency.

Sejalan dengan posisi konsisten melindungi hak-hak minoritas Muslim di seluruh dunia, pernyataan tersebut mengatakan, Pakistan akan bekerja sama dengan masyarakat internasional – khususnya, Organisasi Kerjasama Islam – OKI (the Organization of Islamic Cooperation – OIC) – untuk mewujudkan solidaritas dengan Muslim Rohingya dan bekerja untuk menjaga hak-hak mereka.

Erdogan Kecam Pembantaian di Myanmar dan akan Tuntut di Pengadilan PBB

Kekerasan meletus di negara bagian Rakhine di Myanmar pada 25 Agustus ketika pasukan Myanmar melancarkan operasi pembantaian terhadap komunitas Muslim Rohingya. Kekerasan ini memicu masuknya pengungsi baru ke negara tetangga Bangladesh, meskipun negara tersebut menutup perbatasannya untuk para pengungsi.

Laporan media mengatakan pasukan Myanmar menggunakan kekuatan yang tidak proporsional, mengusir ribuan warga desa Rohingya dan menghancurkan rumah mereka dengan mortir dan senapan mesin.

Daerah ini telah mengalami ketegangan antara populasi sekte Buddhis dan kaum Muslim sejak kekerasan komunal terjadi pada tahun 2012.

Sebuah tindakan keras yang diluncurkan Oktober lalu di Maungdaw, di mana Rohingya menjadi mayoritas, menyebabkan sebuah laporan PBB mengenai pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap kemanusiaan oleh aparat keamanan.

PBB mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuhan, penyiksaan – termasuk bayi dan anak kecil – penyembelihan, pemukulan brutal, dan penghilangan paksa. Perwakilan Rohingya mengatakan lebih dari 400 orang telah terbunuh dalam tindakan keras tersebut.

UNHCR: 73.000 Muslim Rohingya Telah Melintasi Perbatasan

MYANMAR (Jurnalislam.com) – Hampir 75.000 Muslim Rohingya telah melarikan diri dari pembantaian etnis di Myanmar ke negara tetangga Bangladesh, dengan petugas bantuan memperingatkan bahwa kapasitas kamp bantuan penuh karena ribuan orang terus masuk setiap hari.

Vivian Tan, jurubicara regional UNHCR, mengatakan kepada Al Jazeera pada hari Ahad (3/9/2017) bahwa sedikitnya 73.000 warga Rohingya melintasi perbatasan sejak kekerasan meletus pada 25 Agustus, ribuan lainnya diperkirakan menyusul.

“Sebagian besar yang datang benar-benar kelelahan, beberapa mengatakan bahwa mereka belum makan dalam beberapa hari dan beberapa mengalami trauma akibat pengalaman mereka,” katanya.

“Seorang wanita tiba sendirian setelah mengikuti sekelompok pengungsi di seberang perbatasan. Ketika bertemu dengan PBB, dia mengatakan bahwa suaminya telah ditembak dan bayinya yang berusia 18 bulan dia tinggalkan bersama mertuanya.

“Dia telah kehilangan kontak dengan keluarganya dan sedang berjuang untuk memproses apa yang sedang terjadi,” Tan menambahkan.

Dalam beberapa hari terakhir, puluhan ribu Rohingya telah menyeberang ke Bangladesh untuk menghindari pembunuhan massal yang mereka katakan sedang dilakukan oleh pasukan Myanmar.

PBB mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuhan, penyiksaan, penyembelihan – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal, dan penghilangan paksa. Perwakilan Rohingya mengatakan sekitar 400 orang telah terbunuh dalam tindakan keras tersebut.