RAMALLAH (Jurnalislam.com) – Di Ramallah, Abdel-Hamid, Al Jazeera mengatakan “putaran konfrontasi akan meningkat” antara Palestina dan tentara penjajah zionis diperkirakan terjadi pada hari Jumat (8/12/2017).
“Kami memperkirakan akan muncul lebih banyak bentrokan dan kerusuhan di seluruh Tepi Barat yang diduduki,” katanya.
Pada hari Kamis, Mustafa Barghouti, sekretaris jenderal Inisiatif Nasional Palestina, mengatakan kepada Al Jazeera dari Ramallah bahwa Trump “bergabung dengan Israel dalam kejahatan perang dan mengkonfirmasikan aneksasi Wilayah Palestina yang diduduki”.
“Saya berharap Otoritas Palestina tidak mau bertemu dengan tim Amerika ini lagi,” katanya.
“Israel memutuskan menginginkan segalanya, mereka menginginkan segalanya, kita juga akan berjuang untuk semuanya,” katanya.
“Kita mungkin berbicara tentang pemberontakan yang populer mirip dengan Intifadah pertama, itu yang kita butuhkan. Israel harus melihat perlawanan Palestina di seluruh negeri.”
GAZA (Jurnalislam.com) – Sedikitnya empat warga Palestina terluka di Gaza setelah tentara Israel menembakkan amunisi langsung ke puluhan demonstran yang berkumpul di timur Khan Younes, di bagian selatan wilayah pesisir, menurut kantor berita Palestina, Wafa, Kamis (7/12/2017), Aljazeera melaporkan.
Trump, yang mengabaikan peringatan dari masyarakat internasional, mengumumkan pada hari Rabu bahwa AS secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan akan memulai proses perpindahan kedutaannya ke kota tersebut, yang melanggar kebijakan AS selama puluhan tahun.
Keputusan tersebut dikutuk oleh para pemimpin dunia yang menggambarkannya sebagai “eskalasi berbahaya” dan sebuah paku terakhir di peti mati perundingan perdamaian antara Israel dan Palestina.
Warga Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara masa depan mereka, sementara Israel mengatakan bahwa kota tersebut, yang berada di bawah pendudukan Israel, tidak dapat dibagi.
“Pengumuman Trump” berpotensi untuk mengirim kita mundur ke masa yang lebih gelap daripada yang telah kita jalani,” kata Federica Mogherini, perwakilan tinggi Uni Eropa untuk urusan luar negeri.
Dalam sebuah pidato di Kota Gaza pada hari Kamis, pemimpin Hamas Ismail Haniya mengatakan bahwa keputusan AS adalah sebuah “deklarasi perang melawan warga Palestina”, dan meminta sebuah Intifadah baru, atau pemberontakan.
Haniya mengatakan pengakuan Presiden AS Donald Trump “membunuh” proses perdamaian Israel-Palestina.
“Keputusan ini membunuh proses perdamaian, membunuh Oslo, dan membunuh proses penyelesaian,” katanya.
“Keputusan AS adalah sebuah agresi, sebuah deklarasi perang terhadap kita, di tempat-tempat terbaik bagi Muslim dan Kristen di jantung Palestina, Yerusalem. Kita harus berupaya meluncurkan sebuah Intifadah di hadapan musuh Zionis,” kata Haniya.
Warga Palestina telah meminta hari kemarahan selama tiga hari untuk menanggapi pengumuman Trump pada hari Rabu, dan untuk menutup sekolah dan toko lokal.
Harry Fawcett dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Yerusalem Timur pada hari Kamis, mengatakan sebuah demonstrasi berskala kecil telah berlangsung hampir sepanjang hari di luar Gerbang Damaskus, pintu masuk utama Kota Tua.
“Ada banyak kemarahan dan ketidakpercayaan atas apa yang telah keluar semalam dari Gedung Putih,” katanya.
Polisi pendudukan Israel, sementara itu, berusaha untuk memecah demonstrasi tersebut dan menyita bendera Palestina, dia melaporkan.
GAZA (Jurnalislam.com) – Ribuan warga Palestina turun ke jalan-jalan di Yerusalem, Tepi Barat dan Jalur Gaza memprotes keputusan AS yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, sebuah langkah kontroversial yang membangkitkan ketegangan di Palestina dan di seluruh negeri tersebut.
Di Tepi Barat yang dijajah Israel, warga Palestina bentrok dengan pasukan Israel di beberapa kota sepanjang hari Kamis (7/12/2017).
Sedikitnya 49 warga Palestina terluka dalam demonstrasi tersebut, dan 16 lainnya dikirim ke rumah sakit, menurut otoritas kesehatan setempat di Tepi Barat.
Hoda Abdel-Hamid dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Ramallah, mengatakan bahwa bentrokan tersebut mereda setelah ” konfrontasi yang cukup kuat selama beberapa jam antara pemuda dan tentara Israel”.
Pengunjuk rasa Palestina berkumpul di alun-alun Al Manara tengah di Ramallah dan bergerak menuju El Bireh, di mana mereka disambut oleh tentara Israel yang menembakkan gas air mata dan peluru karet.
Protes juga digelar di Hebron, Nablus, Jenin, Tulkarem dan Jericho di Tepi Barat, menurut kantor berita Anadolu, serta di Yerusalem Timur dan Jalur Gaza.
JOHANNESBURG (Jurnalislam.com) – Uni Afrika mengutuk keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota resmi Israel, dengan mengatakan bahwa ini dapat menggagalkan proses perdamaian Timur Tengah.
Ketua Komisi Uni Afrika Moussa Faki mengatakan pada hari Kamis (7/12/2017) dalam sebuah pernyataan bahwa dia “menyesalkan keputusan yang hanya akan meningkatkan ketegangan di wilayah Timur Tengah dan sekitarnya”, Anadolu Agency.
Dia mengulangi solidaritas Uni Afrika dengan rakyat Palestina dan dukungannya terhadap pencarian sah mereka untuk sebuah negara merdeka, dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya.
Sementara itu, kelompok Muslim dan organisasi hak-hak sipil lainnya juga mengecam keputusan presiden AS.
Dewan Yudisial Muslim Afrika (Muslim Judicial Council-MJC) mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis bahwa pengumuman Trump dapat memicu konflik dan konfrontasi keagamaan di Timur Tengah karena kota Yerusalem suci bagi tiga agama monoteistik terbesar dunia tersebut.
“Bukan hak AS atau pemerintah atau orang lain untuk memutuskan kota mana yang harus menjadi ibu kota negara manapun,” kata Presiden MJC Syaikh Irafaan Abrahams.
Abrahams mengatakan dengan memindahkan kedutaannya, AS akan terlibat dalam aneksasi ilegal Yerusalem di Yerusalem dan akan menghancurkan setiap peluang negara Palestina yang damai dan layak dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya.
“Kami mendesak agar PBB melindungi hak-hak rakyat Palestina sebagaimana dinyatakan dalam resolusi internasional,” katanya.
MOZAMBIK (Jurnalislam.com) – Pemimpin Muslim Mozambik Sheikh Ameen Uddin pada hari kamis (7/12/2017) juga mengecam keras keputusan Trump dengan mengatakan: “Kami khawatir hal ini dapat menyebabkan lebih banyak konflik dan menciptakan lebih banyak ekstremis di wilayah ini.”
Dia mengatakan bahwa Trump telah membuat keputusan yang salah dan harus mempertimbangkan untuk memperbaikinya, karena Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa dan negara-negara Muslim semua tidak setuju dengan pengumumannya atas Yerusalem.
Sheikh Dinala Chabulika dari Asosiasi Muslim Malawi menggambarkan keputusan Trump sebagai sesuatu yang menyedihkan dan tidak dapat diterima.
“Sebagai Muslim kita tidak dapat menerima keputusan seperti itu, kecuali jika Trump mencabutnya,” katanya, menambahkan bahwa mereka sangat kecewa dengan pengumuman tersebut, lansir Anadolu Agency.
Bram Hanekom, anggota Kongres Nasional Afrika (African National Congress-ANC) yang berkuasa di Afrika Selatan dan seorang aktivis pro-Palestina mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa mereka ingin ANC mempercepat kebijakannya untuk menurunkan hubungan diplomatik dengan Israel.
Selama konferensi kebijakan ANC pada bulan Juli, partai tersebut mengadopsi sebuah rekomendasi untuk menurunkan posisi Kedubes Afrika Selatan di Israel ke kantor penghubung untuk mengurangi hubungan diplomatik.
Partai tersebut mengatakan bahwa saat itu Israel terus memperlakukan Palestina dengan kekerasan bukannya mencoba mencapai kesepakatan.
ANKARA (Juralislam.com) – Presiden Recep Tayyip Erdogan dan presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Kamis (7/12/2017) mengadakan percakapan telepon untuk membahas pengakuan AS terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel, menurut sumber presiden Turki, lansir Anadolu Agency.
Percakapan telepon tersebut terjadi sehari setelah Donald Trump mengumumkan bahwa AS mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel “yang tak terbagi” dan akan memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem meskipun mendapat tentangan internasional yang meluas.
Memperhatikan bahwa keputusan Israel untuk mencaplok Yerusalem pada tahun 1980 ditolak oleh masyarakat internasional dan PBB, Erdogan menekankan bahwa langkah yang diambil oleh pemerintah AS baru-baru ini akan berdampak negatif terhadap perdamaian dan stabilitas di kawasan ini, kata sumber tersebut.
Sumber tersebut menambahkan bahwa Putin berbagi pandangan yang sama dan menyatakan bahwa mereka akan membawa isu-isu ini di Dewan Keamanan PBB.
Yerusalem tetap menjadi inti konflik Israel-Palestina, dengan orang-orang Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur – yang sekarang diduduki oleh Israel – dapat menjadi ibu kota negara Palestina masa depan.
Menjelang pemilihannya tahun lalu, Trump berulang kali berjanji untuk merelokasi Kedutaan Besar AS ke Yerusalem.
Laporan terakhir dari wilayah ini muncul setelah keputusan Presiden AS Donald Trump terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel yang dikecam masyarakat Internasional.
Pada hari Rabu, Trump mengumumkan pemindahan kedutaan AS di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem – sebuah langkah yang menarik banyak reaksi negatif dari kaum Muslim di seluruh dunia.
GAZA (Jurnalislam.com) – Pemimpin Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) Ismail Haniya mengatakan bahwa keputusan AS untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel adalah sebuah “deklarasi perang melawan orang-orang Palestina”, dan menyerukan “Intifadah” baru, atau perlawanan rakyat.
Haniya mengatakan dalam sebuah pidato di Kota Gaza pada hari Kamis (7/12/2017) bahwa pengakuan Presiden AS Donald Trump “membunuh” proses perdamaian Israel-Palestina.
“Keputusan ini membunuh proses perdamaian, membunuh Oslo, dan membunuh proses penyelesaian,” katanya.
“Keputusan AS adalah sebuah agresi, sebuah deklarasi perang terhadap kita, di tempat-tempat terbaik bagi kaum Muslim dan orang Kristen di jantung Palestina, Yerusalem.”
“Kita harus berupaya meluncurkan intifada di hadapan musuh Zionis,” kata Haniya.
Ismail Haniya
Beberapa jam setelah pidatonya, para pemrotes Palestina turun ke jalan-jalan kota-kota Tepi Barat yang diduduki, termasuk Ramallah, Hebron dan Nablus, serta di Jalur Gaza, untuk melampiaskan kekecewaan mereka atas keputusan AS tersebut.
Haniya menekankan fakta bahwa Palestina melihat Yerusalem sebagai kota bersatu dan ibukota negara mereka di masa depan.
“Yerusalem, seluruh Yerusalem, adalah milik kita,” tegasnya.
“Kami berada di sini hari ini pada titik kritis dalam sejarah isu Palestina dan inti dari masalah ini adalah Yerusalem, sebuah titik kritis dalam sejarah negara-negara Arab dan Muslim setelah keputusan provokatif dan tidak adil yang diadopsi oleh pemerintah AS.”
Dia meminta semua faksi Palestina untuk bersatu dengan cepat “agar memiliki strategi untuk menghadapi pendudukan dan kebijakan pemerintah AS di dalam wilayah Palestina”.
“Kami mendesak, kami meminta dan kami menekankan perlunya menata ulang situasi Palestina untuk menghadapi plot berbahaya ini dan untuk menempatkan prioritas kami dengan jelas menghadapi keputusan provokatif dan yang tidak adil tersebut,” katanya.
Trump, yang mengabaikan peringatan dari masyarakat internasional, mengumumkan pada hari Rabu (6/12/2017) bahwa AS secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan akan memulai proses perpindahan kedutaannya ke kota tersebut, yang melanggar kebijakan AS selama puluhan tahun.
Pada hari Kamis, Mustafa Barghouti, sekretaris jenderal Inisiatif Nasional Palestina, yang berbicara dengan Al Jazeera dari Ramallah, mengatakan bahwa Trump “bergabung dengan Israel dalam kejahatan perang dan mengkonfirmasikan aneksasi Wilayah Palestina yang diduduki”.
“Saya berharap Otoritas Palestina tidak mau bertemu dengan tim Amerika ini lagi,” katanya.
“Israel memutuskan menginginkan segalanya, mereka menginginkan segalanya, kita juga akan berjuang untuk semuanya,” katanya.
“Kita mungkin berbicara tentang pemberontakan yang populer tapi tanpa kekerasan, mirip dengan intifada pertama, itu yang kita butuhkan. Israel harus melihat perlawanan Palestina di seluruh negeri.”
MOSKOW (Jurnalislam.com) – Rusia menanggapi situasi ini mengatakan “kemungkinan mengandung komplikasi” jika AS putuskan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan pada hari Rabu (6/12/2017).
“Situasinya akan semakin rumit,” kata Peskov kepada wartawan, Anadolu Agency melaporkan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan untuk secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada hari Rabu dan memulai persiapan untuk memindahkan kedutaan dari Tel Aviv, tiga pejabat senior AS mengkonfirmasi pada hari Selasa.
Peskov mengatakan terlalu dini untuk mengomentari keputusan yang belum diambil.
Dia mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin bicara pada pemimpin Palestina Mahmoud Abbas membahas situasi tersebut dalam sebuah pembicaraan telepon pada hari Selasa.
Yerusalem tetap menjadi inti konflik Israel-Palestina, dengan orang-orang Palestina berharap bahwa bagian timur kota – yang diduduki oleh Israel pada tahun 1967 – dapat menjadi ibu kota negara Palestina masa depan.
Selama kampanye pemilihannya tahun lalu, Trump berulang kali berjanji untuk memindahkan kedutaan dari Tel Aviv ke Yerusalem, sebuah kota suci ketiga bagi umat Islam setelah Mekah dan Madinah.
Israel telah mempertahankan bahwa seluruh Yerusalem adalah ibu kota bagi negara Israel “yang tidak terbagi” dan telah meningkatkan perluasan permukiman Yahudi illegal di daerah tersebut sejak pelantikan Trump pada bulan Januari.
PARIS (Jurnalislam.com) – Prancis “tidak menyetujui” langkah AS “mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan pada hari Rabu (6/12/2017).
Presiden AS Donald Trump pada hari Rabu secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Trump juga menginstruksikan Departemen Luar Negeri AS untuk “memulai persiapan” memindahkan kedutaan Amerika di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Berbicara di sebuah konferensi pers di Algiers, Macron mengatakan: “Ini adalah keputusan yang disesalkan, yang tidak disetujui Prancis dan yang bertentangan dengan hukum internasional dan resolusi Dewan Keamanan PBB.”
“Status Yerusalem adalah masalah keamanan internasional yang menyangkut seluruh masyarakat internasional. Status Yerusalem harus ditentukan oleh orang Israel dan Palestina dalam perundingan di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa,” Macron menambahkan, lansir Anadolu Agency.
Pemimpin Prancis itu mengingat “komitmen Prancis dan Eropa terhadap solusi dua negara, Israel dan Palestina, Perancis menginginkan mereka hidup berdampingan dalam kedamaian dan keamanan di perbatasan yang diakui secara internasional dengan Yerusalem sebagai ibu kota kedua negara bagian tersebut.”
Macron menyerukan “ketenangan, menahan diri, dan tanggung jawab dari semua pihak” dan mengatakan negaranya “siap untuk mengambil semua inisiatif yang bermanfaat”.