Jum'at, 11 Ramadhan 1447 / 27 Februari 2026
Search for:
  • Beranda
  • Berita
    NasionalInternasionalFeature
  • Artikel
    AnalisaKolomOpini
  • Khazanah
    IslamasterIslamophobiaKomunitasMuallafPesantrenHikmah
  • Syariah
    AqidahEkonomiFiqhAkhlaqSiyasah
  • Jejak Islam
    Jejak Islam BangsaJejak Islam Dunia
  • Muslimah
  • Keluarga
  • Jurnalislam TV
  • InfoGrafik

Penulis: Deddy Purwanto

Mahmoud Abbas Desak EU Pimpin Upaya Perdamaian, Bukan AS lagi

23 Des 2017 09:32:21
Mahmoud Abbas Desak EU Pimpin Upaya Perdamaian, Bukan AS lagi

PARIS (Jurnalislam.com) – Presiden Palestina Mahmoud Abbas telah meminta Uni Eropa untuk mengambil inisiatif dalam proses perdamaian Israel-Palestina.

Abbas juga mengatakan bahwa dia “tidak akan lagi menerima” rencana perdamaian yang diajukan oleh AS setelah pengakuan Presiden Donald Trump atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada 6 Desember.

“Amerika Serikat telah terbukti menjadi mediator yang tidak jujur ​​dalam proses perdamaian,” kata Abbas dalam sebuah konferensi pers bersama dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris pada hari Jumat (22/12/2017), Anadolu Agency melaporkan.

128 Negara Tolak Veto AS dan Tantang Ancaman Donald Trump

Ketegangan antara AS dan masyarakat dunia muncul di depan Majelis Umum PBB Kamis malam.

Sebuah rancangan resolusi yang tidak mengikat untuk menyatakan pengakuan Trump terhadap Yerusalem karena ibukota Israel “batal demi hukum” disetujui oleh Majelis Umum, dimana 128 negara memberikan suara untuk mendukung resolusi dan sembilan orang melawan, dengan 35 abstain.

Administrasi Trump mengancam negara-negara yang memilih resolusi tersebut dengan memotong bantuan AS untuk PBB dan negara-negara anggota.

Nikki Haley, duta besar AS untuk PBB, mengatakan bahwa sebagai donor terbesar bagi badan internasional tersebut, AS memiliki “harapan yang sah” bahwa niat baik mereka akan “diterima dan dihormati.”

Ancaman tersebut mendapat kecaman dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang mengatakan bahwa “Trump tidak dapat membeli kehendak demokratis Turki.”

Abbas menggemakan sentimen Erdogan, dengan mengatakan bahwa dia berharap AS akan “mendapat pelajaran dan mengerti bahwa Anda tidak dapat memaksakan solusi dengan menggunakan uang dan mencoba untuk membeli di luar negeri.”

Otoritas Palestina berharap Uni Eropa akan mengambil peran utama dalam perundingan damai antara Palestina dan Israel, Abbas melanjutkan.

“Kami percaya pada Anda. Kami menghargai usaha yang Anda lakukan dan kami sangat mengandalkan usaha Anda,” kata Abbas kepada Presiden Perancis Macron.

Adakah Pengaruhnya 128 Negara Tolak Veto AS? Ini Kata Para Aktivis Palestina

Macron menegaskan kembali posisi Prancis bahwa solusi dua negara adalah jawaban untuk mengakhiri pendudukan Israel selama 70 tahun di Palestina.

Macron terus mengkritik langkah Trump: “Amerika telah meminggirkan diri mereka dan saya mencoba untuk tidak melakukan hal yang sama … saya tidak menyetujui keputusan Trump mengenai Yerusalem.”

Meskipun dia melontarkan nada kritis, Macron, 40, sebelumnya mengatakan bahwa dia tidak akan segera mencari prakarsa perdamaian Prancis.

Sebaliknya, dia akan menunggu hasil usaha AS menyusul pengakuan Trump terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Macron terus mengadakan pertemuan dengan para pemimpin Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir.

Benjamin Netanyahu, perdana menteri zionis, berada di Paris juga untuk melakukan pembicaraan kurang dari dua pekan yang lalu.

“Saya telah berkomitmen dengan sangat jelas untuk melakukan segalanya” untuk perdamaian lebih jauh, kata Macron.

Kategori : Internasional

Tags : al aqsha al quds palestina yerusalem

Adakah Pengaruhnya 128 Negara Tolak Veto AS? Ini Kata Para Aktivis Palestina

22 Des 2017 10:40:26 Redaktur: Deddy Purwanto
Adakah Pengaruhnya 128 Negara Tolak Veto AS? Ini Kata Para Aktivis Palestina

PALESTINA (Jurnalislamcom) – Para pemimpin Palestina memuji hasil pemungutan suara di PBB yang menolak pengakuan sepihak AS atas Yerusalem sebagai ibukota Israel, Palestina menyebutnya sebagai bukti dukungan internasional untuk “keadilan”.

“Masyarakat internasional telah secara tegas membuktikan bahwa mereka tidak bisa diintimidasi atau diperas, dan anggotanya akan mempertahankan peraturan hukum global,” kata Hanan Ashrawi, seorang anggota senior Organisasi Pembebasan Palestina, dalam sebuah pernyataan setelah pemungutan suara pada hari Kamis (21/12/2017).

Tapi bagi banyak orang di lapangan, resolusi yang disetujui oleh Majelis Umum PBB tersebut tidak lain hanyalah tindakan simbolis.

“Ini adalah tindakan yang sia-sia,” Amany Khalifa, seorang aktivis politik di Yerusalem, mengatakan kepada Al Jazeera.

“Otoritas Palestina (PA) harus mengevaluasi seluruh proses diplomatiknya mengenai merujuk ke PBB. Pengalaman yang kami alami adalah bahwa selama beberapa dekade resolusi ini tidak mengubah apapun.”

Baca juga: 128 Negara Tolak Veto AS dan Tantang Ancaman Donald Trump

Melanggar kebijakan Amerika selama berpuluh-puluh tahun yang berpihak pada solusi dua negara, Presiden Donald Trump pada 6 Desember mengatakan secara sepihak bahwa Washington secara resmi akan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan akan memulai proses pemindahan kedutaannya ke kota tersebut.

Deklarasi itu merupakan pukulan bagi kepemimpinan Palestina, yang selama lebih dari dua dasawarsa telah berusaha untuk mendirikan sebuah negara Palestina dengan Yerusalem sebagai ibukotanya.

Ketika veto AS di Dewan Keamanan PBB awal pekan ini memblokir resolusi rancangan yang sama, PA memutuskan untuk membawa masalah ini ke Majelis Umum, di mana resolusi tersebut tidak mengikat secara hukum.

“Kami akan mengambil tindakan politik, diplomatik dan hukum terhadap deklarasi Trump mengenai Yerusalem,” kata Mahmoud Abbas, presiden PA.

Tapi Khalifa percaya bahwa “satu-satunya yang masih berbicara tentang solusi dua negara adalah PA.”

Ini adalah “kepentingan mereka untuk mempertahankan wacana ini”, katanya.

“Jika mereka tidak melakukannya, mereka tidak akan ada lagi.”

PA, yang mengelola wilayah kantong Tepi Barat yang dijajah, mengatakan bahwa satu-satunya jawaban atas konflik berusia 70 tahun tersebut adalah pembentukan sebuah negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya, di samping wilayah Israel yang ada.

Baca juga: Sidang Darurat PBB: AS Kalah Jumlah 14 Banding 1

Namun sejak penandatanganan Persetujuan Oslo pada tahun 1993, dimaksudkan untuk mengarah pada pembentukan negara Palestina di Tepi Barat, Jalur Gaza dan Yerusalem Timur, penjajahan Israel atas wilayah-wilayah ini malah semakin meningkat, sehingga menyulitkan orang-orang Palestina untuk membayangkan hal tersebut sebagai sebuah solusi.

Saat ini, antara 600.000 sampai 750.000 warga yahudi Israel – atau 11 persen penduduk Israel – tinggal di wilayah pendudukan.

Dijaga oleh tentara zionis bersenjata berat, mereka telah menguasai sebagian besar tanah dan wilayah milik pribadi warga Palestina. Sedikitnya 12 pemukiman semacam itu dibangun di sekitar dan di jantung lingkungan Palestina di Yerusalem.

Di tengah kenyataan ini, serta berkurangnya harapan Israel untuk menarik pemukimnya, ada yang bilang inilah saatnya untuk pendekatan yang berbeda.

“Orang-orang sudah hidup dalam realitas permukiman dan mereka melihat bahwa solusi semacam itu tidak mungkin dicapai di lapangan,” kata Khalifa.

“Kita perlu menerima bahwa ada satu negara zionis – dan kemudian kita dapat berbicara tentang menemukan cara lain untuk bertahan – tidak berpegang hanya pada solusi dua negara,” tambahnya.

‘Oslo menghancurkan kita’

Pentingnya nilai religius kota Yerusalem bagi umat Islam, Kristen dan Yahudi membuat masalah Yerusalem bukan hanya sekedar masalah lokal, tapi dunia.

Bagi banyak orang di luar, terutama di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, deklarasi Trump atas Yerusalem sangat memalukan. Sejak keputusannya, telah terjadi protes keras di kota-kota besar internasional, dengan puluhan ribu hingga jutaan orang bergerak untuk melakukan aksi bela Yerusalem dan meminta Trump untuk membatalkan keputusannya.

Demonstrasi juga terjadi di wilayah Palestina, menyusul seruan para pemimpin politik, dengan sedikitnya 10 orang tewas oleh tentara penjajah Israel.

Namun, orang-orang di lapangan mengatakan bahwa aksi protes di dunia tidak sekuat demonstrasi yang terjadi di Yerusalem seperti pada bulan Juli terhadap pemasangan detektor logam Israel di pintu masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsha.

“Jika Anda meminta salah satu dari mereka untuk memprotes, mereka akan memberi tahu Anda: ‘Trump bukanlah berita baru untuk kami’,” Mariam Barghouti, seorang penulis dan aktivis politik Tepi Barat mengatakan kepada Al Jazeera setelah menghadiri sebuah aksi protes keras pada hari Rabu (20/12/2017), menambahkan bahwa para demonstran sebagian besar berafiliasi dengan PA.

Alasan untuk ini, kata Nora Sub Laban, penduduk Kota Tua – yang menjadi tuan rumah bagi situs utama keagamaan Yerusalem – adalah bahwa keputusan Trump mencerminkan kenyataan yang sudah ada namun menyakitkan.

“Ketika pimpinan kami mengatakan akan menerima solusi dua negara, apa yang tersisa untuk kita katakan? Oslo menghancurkan kita. Kita dikelilingi oleh permukiman Yahudi dari semua sisi dan tidak ada yang tersisa untuk kita di Yerusalem ini,” Sub Laban, yang berjuanng dengan Pertarungan hukum yang panjang dengan pemukim illegal Israel yang ingin mengambil alih rumahnya, ia mengatakan kepada Al Jazeera.

Baca juga: Erdogan Kembali Ajak Dunia untuk Dukung Palestina Lawan Veto AS

Dia menjelaskan bahwa dia tidak percaya Yerusalem bisa dibelah bagi sebuah negara Israel dan Palestina. Banyak juga yang telah kehilangan harapan dan akan menerima apapun yang bisa mereka dapatkan.

“Tuntutan kami terus menurun seiring berjalannya waktu. Dan masyarakat internasional hanya membiarkan Israel tumbuh lebih kuat – dari tahun 1948 sampai hari ini,” tambahnya, mengacu pada tahun pendirian Israel, yang dikenal orang Palestina sebagai Nakba – ketika lebih dari 750.000 orang Palestina dipaksa keluar dari tanah air mereka untuk memberi jalan bagi negara zionis Yahudi tersebut.

Isu Yerusalem telah menjadi inti konflik sejak awal.

Ketika PBB mengusulkan untuk membagi Palestina yang bersejarah menjadi negara “Yahudi” dan “Islam” pada tahun 1947, Yerusalem dimaksudkan untuk tetap berada di bawah kendali PBB karena kepentingan agamanya.

Tapi setahun kemudian, negara Israel yang baru didirikan merebut bagian barat kota tersebut dan menyatakan kepemilikan mereka atas wilayah itu.

Pada tahun 1967, Israel mencaplok bagian timur kota tersebut dan mengklaimnya sebagai bagian dari Israel – tidak seperti Tepi Barat, yang secara fisik mereka tempati tapi tidak mereka klaim.

Mayoritas masyarakat internasional tidak mengakui kepemilikan Israel atas Yerusalem. Akibatnya, semua kedutaan di Israel berada di Tel Aviv.

Baca juga: Inilah Negara-negara yang Tolak Veto AS, Indonesia Termasukah?

Terlepas dari posisi internasional, Israel hanya mengkonsolidasikan penguasaannya atas kota tersebut.

Pada tahun 2002, mulai dibangun dinding pemisah yang memotong 3,1 juta orang Palestina di Tepi Barat yang diduduki dari Yerusalem. Banyak yang belum bisa memasuki kota lebih dari satu dekade dan telah berhenti berusaha, karena pembatasan yang diberlakukan oleh tentara Israel.

Selain itu, PA tidak mengizinkan kehadiran atau otoritas apapun atas bagian timur kota tersebut, di mana sekitar 420.000 orang Palestina tinggal dalam keadaan limbo – bukan warga negara Israel, juga bukan warga Palestina.

“Masyarakat internasional hanya mempercayai hak-hak warga Palestina di atas kertas – tidak pada kenyataannya,” Mohammad Abu al-Hummos, seorang aktivis yang berafiliasi dengan Fatah di Yerusalem, mengatakan kepada Al Jazeera.

“Tidak ada satu keputusan pun yang diambil terhadap Israel yang benar-benar telah diterapkan di lapangan,” tambahnya.

“Beberapa dari kita percaya pada solusi dua negara – dan para pemimpin meyakinkan kita akan hal itu – tapi sayangnya, jika Anda melihat situasi hari ini disini, tidak ada gunanya mempercayai hal itu.”

Kategori : Analisa

Tags : al aqsha al quds AS Gaza palestina pbb tepi barat yerusalem

Inilah Negara-negara yang Tolak Veto AS, Indonesia Termasukah?

22 Des 2017 09:14:31
Inilah Negara-negara yang Tolak Veto AS, Indonesia Termasukah?

JENEWA (Jurnalislam.com) – Negara Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagian besar telah menyatakan pengakuan sepihak AS atas Yerusalem sebagai ibukota Israel adalah “batal di mata hukum”.

Pada sidang darurat Majelis Umum pada hari Kamis (21/12/2017), 128 negara memilih resolusi yang menolak keputusan nyeleneh Presiden AS Donald Trump pada 6 Desember, lansir Aljazeera.

Hanya sembilan negara menentang resolusi PBB, sementara 35 abstain.

Trump sebelumnya mengancam untuk memotong bantuan kepada anggota PBB yang akan memilih untuk menolak keputusan AS tersebut.

128 Negara Tolak Veto AS dan Tantang Ancaman Donald Trump

Berikut adalah rincian negara yang berpartisipasi dalam pemungutan suara Majelis Umum:

 

Negara anggota yang memilih mendukung resolusi tersebut:

A: Afghanistan, Albania, Aljazair, Andorra, Angola, Armenia, Austria, Azerbaijan

B: Bahrain, Bangladesh, Barbados, Belarus, Belgia, Belize, Bolivia, Botswana, Brasil, Brunei, Bulgaria, Burkina Faso, Burundi

C: Cabo Verde, Kamboja, Chad, Cile, Cina, Komoro, Kongo, Kosta Rika, Pantai Gading, Kuba, Siprus, Republik Rakyat Demokratik Korea (Korea Utara), Denmark, Djibouti, Dominika

E: Ekuador, Mesir, Eritrea, Estonia, Ethiopia

F: Finlandia, Perancis

G: Gabon, Gambia, Jerman, Ghana, Yunani, Grenada, Guinea, Guyana

I: Islandia, India, Indonesia, Iran, Irak, Irlandia, Italia

J: Jepang, Yordania

K: Kazakhstan, Kuwait, Kyrgyzstan

L: Laos, Lebanon, Liberia, Libya, Liechtenstein, Lituania, Luksemburg

M: Madagaskar, Malaysia, Maladewa, Mali, Malta, Mauritania, Mauritius, Monako, Montenegro, Maroko, Mozambik

N: Namibia, Nepal, Belanda, Selandia Baru, Nikaragua, Niger, Nigeria, Norwegia

O: Oman

P: Pakistan, Papua Nugini, Peru, Portugal

T: Qatar

R: Republik Korea (Korea Selatan), Rusia

S: Saint Vincent dan Grenadines, Arab Saudi, Senegal, Serbia, Seychelles, Singapura, Slowakia, Slovenia, Somalia, Afrika Selatan, Spanyol, Sri Lanka, Sudan, Suriname, Swedia, Swiss, Suriah

T: Tajikistan, Thailand, Mantan Yugoslavia Republik Makedonia, Tunisia, Turki

U: Uni Emirat Arab, Inggris, Republik Tanzania, Uruguay, Uzbekistan

V: Venezuela, Vietnam

Y: Yaman

Z: Zimbabwe

 

Negara anggota yang memilih menentang resolusi PBB

G: Guatemala

H: Honduras

I: Israel

M: Kepulauan Marshall, Mikronesia

N: Nauru

P: Palau

T: Togo

U: Amerika Serikat

 

Negara anggota yang abstain resolusi PBB:

J: Antigua-Barbuda, Argentina, Australia

B: Bahama, Benin, Bhutan, Bosnia-Herzegovina

C: Kamerun, Kanada, Kolombia, Kroasia, Republik Ceko

D: Republik Dominika

E: Guinea Khatulistiwa

F: Fiji

H: Haiti, Hungaria

J: Jamaika

K: Kiribati

L: Latvia, Lesotho

M: Malawi, Meksiko

P: Panama, Paraguay, Filipina, Polandia

R: Rumania, Rwanda

S: Kepulauan Solomon, Sudan Selatan

T: Trinidad-Tobago, Tuvalu

U: Uganda

V: Vanuatu

Kategori : Internasional

Tags : al aqsha al quds palestina pbb yerusalem

Sidang Darurat PBB: AS Kalah Jumlah 14 Banding 1

22 Des 2017 09:01:17
Sidang Darurat PBB: AS Kalah Jumlah 14 Banding 1

JENEWA (Jurnalislam.com) – Sesi pemungutan suara resolusi PBB pada hari Kamis (21/12/2017) di badan yang beranggotakan 193 orang tersebut adalah permintaan dari negara-negara di dunia dan kaum Muslim setelah AS memveto Dewan Keamanan PBB untuk tetap akui Yerusalem sebagai ibukota Israel pada hari Senin.

AS kalah jumlah 14 banding 1 dalam pemungutan suara tersebut, Aljazeera melaporkan.

Walaupun lima anggota tetap Dewan Keamanan – AS, Inggris, Prancis, China dan Rusia – memiliki hak veto pada pemilihan hari Senin, tidak ada hak veto di Majelis Umum PBB.

Serupa dengan teks rancangan Mesir yang diblokir oleh Washington pada hari Senin, rancangan resolusi yang disetujui pada hari Kamis tidak menyebutkan nama AS namun menyatakan “penyesalan mendalam atas keputusan baru-baru ini” mengenai status Yerusalem.

Marwan Bishara, analis politik senior Al Jazeera, menyebut hasil pemilihan Majelis Umum sebagai bentuk “penghinaan besar bagi AS.”

Bishara mengatakan bahwa sebagian besar negara anggota PBB yang memilih rancangan resolusi tersebut tidak harus melakukannya untuk mendukung Palestina, namun untuk mendukung “legalitas internasional.”

“Mereka memilih atas apa yang mereka lihat sebagai pelanggaran hukum internasional,” katanya.

“Resolusi tersebut dimulai dengan menyebut beberapa resolusi Dewan Keamanan PBB, di mana AS mendukung atau menyatakan abstain, dengan mengatakan bahwa Israel tidak dapat mencaplok Yerusalem Timur; bahwa Israel tidak dapat mengekspor penduduknya ke Yerusalem Timur; bahwa Israel tidak dapat melanjutkan pembangunan pemukiman di Timur Yerusalem dan seterusnya,” tambah Bishara.

128 Negara Tolak Veto AS dan Tantang Ancaman Donald Trump

“Secara keseluruhan, 128 negara memilih mendukung hukum internasional, resolusi PBB.”

Selain mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, Trump mengumumkan pada 6 Desember bahwa AS akan memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Tidak ada negara yang saat ini menempatkan kedutaan besarnya di kota tersebut, yang merupakan rumah bagi situs-situs keagamaan suci dan memiliki arti penting bagi umat Islam, Kristen dan Yahudi.

Keputusan AS memicu serangkaian demonstrasi di wilayah Palestina yang diduduki, serta kota-kota besar di seluruh dunia – dari Jakarta, melalui Istanbul, ke Rabat, Eropa bahkan di AS sendiri.

Status Yerusalem telah lama menjadi topik sensitif dan salah satu isu utama dalam konflik Israel-Palestina.

Setelah menduduki bagian timur kota dalam Perang 1967, Israel mencaplok wilayah tersebut. Pada tahun 1980, Israel memproklamirkannya sebagai “ibukota abadi dan tak terbagi”.

Pemungutan suara hari Kamis mengingatkan pada sebuah sesi pada tahun 2012, ketika sebuah keputusan didukung oleh mayoritas Negara anggota atas peningkatan status Palestina di PBB menjadi negara non-anggota.

Dalam pemilihan tersebut, sekitar 138 negara mendukung peningkatan status Palestina, sementara sembilan negara – termasuk Amerika Serikat, Israel, Kanada dan beberapa negara Pasifik Selatan – menolak pemilihan tersebut.

Kategori : Internasional

Tags : al aqsha al quds palestina pbb yerusalem

128 Negara Tolak Veto AS dan Tantang Ancaman Donald Trump

22 Des 2017 08:49:58
128 Negara Tolak Veto AS dan Tantang Ancaman Donald Trump

JENEWA (Jurnalislam.com) – Sebagian besar negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa menentang ancaman Presiden AS Donald Trump yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menyatakan pengakuan atas Yerusalem sebagai ibukota Israel dan menyatakannya “batal di mata hukum.”

Resolusi yang tidak mengikat itu disetujui pada pertemuan darurat Majelis Umum PBB pada hari Kamis (21/12/2017) dengan 128 suara setuju Resolusi dan sembilan menentang, sementara 35 negara abstain.

Pemungutan suara tetap berlanjut meski Trump melancarkan intimidasi, dengan mengancam pada hari Rabu akan menghapus bantuan keuangan kepada negara-negara anggota yang akan memilih mendukung keputusan Resolusi PBB, sementara Nikki Haley, duta besar AS untuk PBB, juga memperingatkan bahwa dia akan “mengingat” negara-negara tersebut, lansir Aljazeera.

Begini Ancaman Trump bagi Negara yang Menolak Yerusalem sebagai Ibukota Israel

Tak lama setelah pemungutan suara, para pemimpin Palestina menyebutnya sebagai kemenangan bagi Palestina dan berterima kasih kepada negara-negara anggota PBB yang menolak langkah sepihak Trump “terlepas dari semua tekanan yang diberikan pada mereka.”

“Keputusan ini menegaskan kembali sekali lagi bahwa Palestina mendapat dukungan dari masyarakat internasional, dan tidak ada keputusan yang dibuat oleh pihak manapun yang dapat mengubah kenyataan, bahwa Yerusalem adalah wilayah yang diduduki berdasarkan hukum internasional,” Nabil Abu Rudeina, juru bicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Saeb Erekat, kepala juru runding Palestina, mengutuk keputusan AS dan mengatakan bahwa pemungutan suara PBB menunjukkan penghormatan terhadap peraturan undang-undang.

“Ini adalah hari memalukan bagi mereka yang berdiri bahu membahu dengan kekuatan penjajah dan permukiman ilegal yahudi yang melawan hukum internasional,” katanya.

“Tapi kami sangat menghargai bahwa mayoritas masyarakat internasional memutuskan, terlepas dari ancaman dan intimidasi AS, untuk berdiri tegak dengan kebijaksanaan, pandangan kedepan, hukum internasional dan peraturan hukum – dan bukan peraturan hukum rimba.”

Mevlut Cavusoglu, menteri luar negeri Turki, co-sponsor resolusi tersebut, mengatakan di Twitter bahwa “martabat dan kedaulatan tidak dijual.”

Kategori : Internasional

Tags : al aqsha al quds palestina pbb yerusalem

Perlawanan di Tepi Barat Tetap Berkobar Meski Hadapi Peluru Tajam Zionis

21 Des 2017 10:13:09
Perlawanan di Tepi Barat Tetap Berkobar Meski Hadapi Peluru Tajam Zionis

YERUSALEM (Jurnalislam.com) – Lebih dari 80 warga Palestina terluka dalam aksi protes keras terus berlangsung di Tepi Barat, dua pekan setelah pengakuan nyeleneh Presiden AS Donald Trump mengenai Yerusalem sebagai ibukota Israel, menurut Bulan Sabit Merah.

Sedikitnya tiga orang terluka terkena peluru tajam, lebih dari 20 terkena peluru baja berlapis karet dan 40 sesak nafas akibat gas air mata dalam demonstrasi hari Rabu (20/12/2017), Aljazeera melaporkan.

Konfrontasi dengan tentara penjajah Israel diliput setelah demonstrasi Hari Kemarahan, yang diserukan oleh Otoritas Palestina, beberapa partai politik dan serikat pekerja tersebut dipentaskan di berbagai wilayah Tepi Barat yang diduduki termasuk Hebron, Nablus, Bethlehem dan Yerikho.

Demonstrasi terbesar dimulai di pos pemeriksaan militer zionis di Qalandia, titik utama yang membelah Tepi Barat yang diduduki dari Yerusalem yang juga merupakan titik bentrokan konstan dalam konflik.

Jihad Barakat, seorang wartawan lokal yang melapor dari Qalandia, memperkirakan bahwa sekitar 5.000 warga Palestina menghadiri aksi protes keras tersebut. Mereka berangkat sekitar pukul 12 malam waktu setempat (10:00 GMT).

Para Syuhada Terus Bertambah dalam Aksi Perlawanan di Gaza dan Tepi Barat

“Sedikitnya satu warga terluka di Qalandia akibat amunisi hidup. Gas air mata juga banyak digunakan. Di jip tentara Israel, tampak sejenis senjata yang mengeluarkan sekitar 30 tabung gas air mata terus menerus, sehingga seluruh area menjadi penuh dengan asap,” dia berkata.

Sejumlah politisi juga ikut dalam demonstrasi tersebut, termasuk Menteri Kesehatan Jawad Awwad, pemimpin Hamas Jamal al-Taweel, dan juru bicara Fatah Osama Qawasmeh.

Aktivis lokal Mariam Barghouti mengatakan kepada Al Jazeera bahwa demonstrasi di Qalandia berubah menjadi kekerasan “ketika pasukan Israel mulai menembakkan gas air mata.”

“… kerumunan semakin kecil sehingga hanya menyisakan pemuda Palestina yang mulai menghadapi tentara dengan batu,” lanjut Barghouti, menjelaskan bahwa tentara kemudian membalas dengan peluru karet dan amunisi hidup.

Demonstrasi tersebut terjadi tepat dua pekan setelah Trump memutuskan untuk menyatakan bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel.

Dia juga mengatakan AS akan memindahkan kedutaan besarnya, yang saat ini berada di ibukota komersial Israel Tel Aviv, ke Yerusalem.

Meskipun setiap hari ada protes menentang keputusan Trump, sebagian besar reaksi di lapangan dilihat sebagai top-down in nature – yaitu diserukan dan diorganisir oleh para pemimpin politik dan bukan aktivis akar rumput.

Barghouti mengatakan bahwa demonstrasi di Qalandia dimulai dengan “kerumunan besar yang sebagian besar berafiliasi dengan Fatah.” Fatah adalah partai politik yang berkuasa di Tepi Barat yang diduduki Israel.

“Jika Anda bertanya pada salah satu dari orang-orang melakukan demonstrasi tersebut, mereka akan memberi tahu Anda: ‘Trump bukanlah berita baru bagi kita’. Tidak ada momentum,” kata Barghouti.

Yang lain di lapangan juga mengungkapkan ketidakpedulian mereka terhadap deklarasi Trump.

Warga Palestina di Tepi Barat, yang jumlahnya lebih dari tiga juta, sudah terputus dari Yerusalem oleh tembok pemisah Israel terus melakukan perlawanan menghadapi pasukan penjajah zionis Yahudi tanpa henti.

Kategori : Internasional

Tags : al aqsha al quds Gaza palestina tepi barat yerusalem

Kirim Bantuan Langsung, PM Turki Ajak Negeri-negeri Muslim Peduli Pengungsi Rohingya

21 Des 2017 08:01:05
Kirim Bantuan Langsung, PM Turki Ajak Negeri-negeri Muslim Peduli Pengungsi Rohingya

COX’S BAZAR (Jurnalislam.com) – Perdana Menteri Turki Binali Yildirim pada hari Rabu (20/12/2017) menyerukan kepada masyarakat dunia Islam untuk meluncurkan seruan global bagi pengungsi Rohingya di Banladesh, lanasir Anadolu Agency.

Yildirim berbicara kepada wartawan di kamp pengungsi Mainnaghota, sekitar 40 kilometer dari Cox’s Bazar, di tenggara Bangladesh, yang menampung ratusan ribu Muslim Rohingya yang melarikan diri dari pasukan Budha Myanmar.

Dia mengatakan Turki telah melakukan yang terbaik untuk membantu warga Rohingya yang berlindung di Bangladesh meskipun terhalang jarak geografis antara negara-negara tersebut.

“Sudah saatnya mengubah isu Rohingya ini menjadi sebuah kampanye internasional,” kata Yildirim.

Yildirim, didampingi oleh Wakil Perdana Menteri Turki, Bekir Bozdag, dan Menteri Keluarga dan Kebijakan Sosial, Fatma Betul Sayan Kaya, membagikan makanan dan mainan kepada warga dan anak-anak Rohingya.

“Seruan saya bagi kaum Muslim di dunia dan yang lainnya adalah bahwa ini adalah akhir dari kemanusiaan. Jika Anda tidak berjuang sekarang, kapan Anda akan berjuang untuk kemanusiaan?

“Saya harap mereka [negeri-negeri kaum Muslim] akan lebih memperhatikan [situasi] di sini. Jika mereka ingin berkah ini adalah tempat terbaik, jika mereka ingin melayani agama Islam mereka, ini adalah tempat terbaik,” perdana menteri mengatakan.

“Kami ingin semua negara, terutama negeri-negeri kaum Muslim untuk mengirim bantuan, memperluas bantuan mereka untuk bekerja sama dengan pihak berwenang Bangladesh sesegera mungkin.”

Yildirim mengatakan bahwa kunjungannya ke kamp-kamp tersebut merupakan bagian dari upaya untuk menarik perhatian masyarakat internasional terhadap isu Rohingya dan juga untuk memperhatikan nasib Rohingya. Dia juga mengatakan bahwa organisasi bantuan Turki telah melakukan “pekerjaan teladan di sini”.

Dia juga berterima kasih kepada pemerintah Bangladesh atas usaha, dukungan, dan kerja sama mereka dalam isu Rohingya.

Ada Sesuatu Sangat Mengerikan di Myanmar, Penyelidik PBB: Semua Akses ke Rakhine Ditutup

Dia menegaskan bahwa Ankara sedang dalam pembicaraan dengan Dhaka untuk memperbaiki kondisi pengungsi Rohingya dan telah meminta pemerintah Bangladesh menyediakan area untuk membangun tempat penampungan permanen bagi para pengungsi tersebut. “Tapi solusi terakhir adalah memastikan mereka kembali ke tanah air mereka.”

Yildirim juga mengomentari sebuah kesepakatan ulang Rohingya yang ditandatangani 23 November antara Bangladesh dan Myanmar.

“Kami berharap kesepakatan antara Bangladesh dan Myanmar akan dilaksanakan dengan baik,” tambahnya.

“Sebagai warga Turki, kami ingin masyarakat internasional juga memberi perhatiannya pada isu Rohingya,” kata Yildirim dan berjanji bahwa Turki akan terus mendukung Rohingya.

“Kami akan terus menyoroti krisis Rohingya di kancah internasional,” katanya.

Dia mengatakan wilayah Rakhine di Myanmar adalah “tanah warga Muslim Rohingya” dan “adalah hak mereka untuk kembali ke negara mereka tanpa menghadapi hambatan apapun.”

Berjanji Sumbangkan $ 50 Juta ke Rohingya, PBB: Turki Negara Donor yang Dermawan di Dunia

Perdana menteri Turki juga mengunjungi sebuah rumah sakit yang sedang dibangun di kamp Balukhali di daerah tersebut.

Dia menyerahkan dua ambulans ke otoritas Bangladesh untuk digunakan bagi pengobatan Rohingya. Sebagai bagian dari kunjungannya, Yildirim berbicara dengan pengungsi Rohingya dan mendengarkan penderitaan dan harapan mereka.

Sejak 25 Agustus, lebih dari 656.000 warga Muslim Rohingya telah menyeberang dari negara bagian Myanmar di Rakhine ke Bangladesh, menurut PBB. Para pengungsi tersebut melarikan diri dari operasi militer dimana pasukan Budha Myanmar dan massa Budhis membantai pria, wanita dan anak-anak, menyiksa, memperkosa, memutilasi, menjarah rumah dan membakar desa Muslim Rohingya.

Kategori : Internasional

Tags : Muslim myanmar muslim rohingya myanmar turki

Penyelidik PBB: Ada Sesuatu Sangat Mengerikan di Myanmar

21 Des 2017 07:42:30
Penyelidik PBB: Ada Sesuatu Sangat Mengerikan di Myanmar

JENEWA (Jurnalislam.com) – Seorang penyelidik PBB, yang telah mengunjungi Myanmar pada bulan Januari lalu, mengatakan pada hari Rabu (20/12/2017) bahwa “semua akses ke negara tersebut” telah ditutup.

“Sayang sekali Myanmar telah memutuskan untuk mengambil langkah ini,” kata Yanghee Lee, pelapor khusus PBB, dalam sebuah pernyataan, lansir Anadolu Agency.

“Myanmar telah berulang kali menolak bahwa pelanggaran hak asasi manusia telah terjadi di seluruh Myanmar, khususnya di negara bagian Rakhine. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak menyembunyikan apapun, namun kurangnya kerjasama dengan perwakilan saya dan misi pencari fakta menunjukkan hal yang sebaliknya,” kata Lee.

Inilah Hasil Penyidikan Kekerasan Seksual atas Muslimah Rohingya oleh Pasukan Myanmar

Pemerintah Myanmar juga belum bekerja sama dengan Misi Pencarian Fakta Independen Dewan HAM Internasional mengenai Myanmar, yang dibentuk pada bulan Maret 2017, demikian pernyataan tersebut berbunyi.

“Saya bingung dan kecewa dengan keputusan Pemerintah Myanmar ini.

“Deklarasi non-kooperasi dengan perwakilan saya hanya dapat dipandang sebagai indikasi kuat bahwa pasti ada sesuatu yang sangat mengerikan terjadi di Rakhine, dan juga di negara bagian lain,” kata Lee.

Sejak 25 Agustus, lebih dari 656.000 orang Rohingya telah menyeberang dari negara bagian Myanmar di Rakhine ke Bangladesh, menurut PBB. Para pengungsi tersebut melarikan diri dari operasi militer dimana pasukan Budha Myanmar dan massa Budhis membunuhi pria, wanita dan anak-anak, menjarah rumah dan membakar desa Rohingya.

Parlemen Inggris: Intervensi Militer Myanmar atas Muslim Rohingya Semakin Meningkat

Muslim Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok etnis yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat atas serangan brutal militer Myanmar sejak ratusan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

Sedikitnya 9.000 Muslim Rohingya tewas di negara bagian Rakhine, Myanmar barat, dari 25 Agustus sampai 24 September, menurut organisasi kemanusian Doctors Without Borders.

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada 12 Desember, organisasi kemanusiaan global mengatakan bahwa 71,7 persen atau 6.700 kematian warga Muslim Rohingya disebabkan oleh kebrutalan militer Myanmar. Mereka termasuk 730 anak di bawah usia 5 tahun.

Digunakan untuk Meneror Muslim Rohingya, Israel Masih Kirim Senjata ke Angkatan Laut Myanmar

PBB telah mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuhan, penyiksaan – termasuk bayi dan anak kecil – mutilasi pemukulan brutal, pembakaran dan penghilangan yang dilakukan oleh pasukan Budha Myanmar.

Dalam sebuah laporan, penyidik ​​PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut dianggap sebagai kejahatan berat terhadap kemanusiaan.

Kategori : Internasional

Tags : Muslim myanmar muslim rohingya myanmar pbb

83 Rudal Balistik Syiah Houthi Yaman Targetkan Arab Saudi

21 Des 2017 07:22:59
83 Rudal Balistik Syiah Houthi Yaman Targetkan Arab Saudi

ARAB SAUDI (Jurnalislam.com) – Koalisi Arab pimpinan Saudi di Yaman mengungkapkan bahwa 83 rudal balistik telah diluncurkan oleh pasukan pemberontak Syiah Houthi menargetkan Kerajaan Arab Saudi.

Juru bicara pasukan koalisi, Kolonel Turki bin Saleh al-Maliki, pada hari Rabu (20/12/2017) mengatakan bahwa pasukan koalisi dapat menghancurkan rudal balistik termasuk yang terbaru yang diluncurkan ke ibukota Saudi Riyadh pada hari Selasa (19/12/2017), lansir Al Arabiya.

Kolonel al-Maliki mengatakan kepada wartawan di pangkalan udara Raja Salman, bahwa pemerintah yang sah di Yaman saat ini menguasai 85 persen wilayah negara tersebut.

Rudal Syiah Houthi Yaman Targetkan Kantor Raja Arab di Riyadh

Dia menambahkan bahwa Direktorat Behan telah benar-benar dibebaskan dari pemberontak Syiah Houthi. Menyatakan bahwa lebih dari 11.000 pasukan pemberontak Syiah Houthi telah terbunuh dalam operasi dan serangan udara baru-baru ini.

Gambar pemboman yang menargetkan infrastruktur produksi rudal di kota Saada juga dipresentasikan pada konferensi pers, termasuk gambar pemboman markas militer Houthi di kota tersebut.

Kolonel al-Maliki mengungkapkan bahwa koalisi telah mulai menerapkan rencana untuk membebaskan Sana’a dari pemberontak Syiah Houthi.

Dia menyerukan warga Yaman untuk menuntaskan demonstrasi revolusi melawan milisi Houthi yang melaksanakan agenda Iran.

Dalam hal bantuan kemanusiaan, Kolonel al-Maliki mengatakan bahwa koalisi terus melanjutkan upayanya untuk memberikan bantuan kepada warga Yaman, kendati pemberontak Houthi yang didukung oleh Iran itu terus melanjutkan peluncuran rudal.

Juru bicara tersebut mengungkapkan bahwa kapal yang sarat dengan bahan bakar akan diizinkan memasuki pelabuhan Yaman selama 30 hari.

Berbicara dalam konferensi pers tersebut, Duta Besar Saudi untuk Yaman, Mohamed Al Jaber, mengatakan bahwa pekerjaan untuk menyelesaikan rencana operasi kemanusiaan komprehensif di Yaman sedang dilakukan.

Dia mengatakan bahwa rencana tersebut mencakup peningkatan kapasitas pelabuhan Yaman dan penggunaan penyeberangan perbatasan dengan Arab Saudi untuk memastikan bahwa bantuan kemanusiaan benar-benar menjangkau penerimanya. Dia menambahkan bahwa koridor yang aman harus disediakan dalam koordinasi dengan pimpinan koalisi untuk memberikan bantuan.

Dalam beberapa hari mendatang, koordinasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi kemanusiaan regional akan disusun untuk menyusun rincian akhir dari rencana tersebut.

Kategori : Internasional

Tags : koalisi arab perang yaman syiah houthi

Begini Ancaman Trump bagi Negara yang Menolak Yerusalem sebagai Ibukota Israel

21 Des 2017 06:21:35
Begini Ancaman Trump bagi Negara yang Menolak Yerusalem sebagai Ibukota Israel

JENEWA (Jurnalislam.com) – Presiden AS Donald Trump mengancam akan memotong bantuan ke negara-negara yang memberikan suara untuk mendukung rancangan resolusi PBB yang mengecam keputusan AS untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Trump mengatakan di Gedung Putih pada hari Rabu (20/12/2017) bahwa AS akan “memperhatikan suara mereka” di Majelis Umum, lansir Aljazeera.

“Mereka mengambil ratusan juta dolar dan bahkan miliaran dolar, dan kemudian mereka memberikan suara menentang kita. Baiklah, kita melihat suara itu. Biarkan mereka memberikan suara melawan kita. Kita akan menghemat banyak. Kami tidak peduli, kantor berita Reuters mengutip Trump.

Majelis Umum PBB akan mengadakan sidang darurat pada hari ini, Kamis (21/12/2017), untuk memberikan suara mengenai keputusan AS yang kontroversial tersebut.

AS Memveto Resolusi DK PBB, Tetap Akui Yerusalem Ibukota Israel

Pemilihan suara ini diharapkan bisa berjalan dengan mudah di badan PBB yang beranggotakan 193 orang tersebut, namun tidak mengikat.

Komentar Trump muncul setelah Nikki Haley, duta besar AS untuk PBB, mengirim surat ancaman ke negara-negara anggota PBB, mendesak mereka untuk memberikan suara menentang mosi tersebut.

Haley juga mengatakan di Twitter “AS akan mencatat” negara yang memilih untuk mendukung resolusi tersebut.

Riyad al-Malki, menteri luar negeri Palestina, pada hari Rabu menuduh AS “mengancam” negara anggota Majelis Umum PBB sebelum pemilihan tersebut.

Erdogan Kembali Ajak Dunia untuk Dukung Palestina Lawan Veto AS

Malki mengatakan bahwa pejabat Amerika “melakukan kesalahan lain saat mereka membagikan surat yang mencoba mengancam negara-negara, [dan] mengancam keputusan berdaulat mereka untuk menentukan pilihan.”

“Ini benar-benar definisi baru tatanan dunia dalam politik dan tampaknya pemerintah Amerika … memberi cap pada realitas politik baru yang akan ditolak banyak negara,” kata Malki.

Sesi PBB akan menunjukkan “berapa banyak negara yang memilih dengan hati nurani mereka.”

Pada 6 Desember Trump menyatakan bahwa Yerusalem akan menjadi ibu kota Israel dan mengumumkan niat untuk memindahkan kedutaannya ke kota Yerusalem.

Langkah kontroversial tersebut mendorong demonstrasi dan penolakan berskala besar dari para pemimpin dan masyarakat di seluruh dunia.

Kategori : Internasional

Tags : al aqsha al quds AS palestina pbb yerusalem

Navigasi pos

Pos-pos lama
Pos-pos baru
Dukung Kami

Opini

Betulkah Gabung Board of Peace Merupakan Tindakan Realistis?

Betulkah Gabung Board of Peace Merupakan Tindakan Realistis?

5 Feb 2026 12:27:54
Bencana Tak Kunjung Usai Akibat Keserakahan Negara

Bencana Tak Kunjung Usai Akibat Keserakahan Negara

5 Feb 2026 12:20:43
Paradigma Bernegara dan Bencana Aceh

Paradigma Bernegara dan Bencana Aceh

5 Feb 2026 12:19:07
Begitu Indonesia Atasi Kekerasan dan Child Grooming yang Kian Marak

Begitu Indonesia Atasi Kekerasan dan Child Grooming yang Kian Marak

31 Jan 2026 17:06:51

Internasional

Netanyahu Tegas Tolak Palestina Urus Gaza, Israel Ingin Kuasai Pascaperang

Netanyahu Tegas Tolak Palestina Urus Gaza, Israel Ingin Kuasai Pascaperang

5 Feb 2026 12:38:35
Israel Ungkap AS Berpotensi Serang Iran dalam 2 Bulan Mendatang

Israel Ungkap AS Berpotensi Serang Iran dalam 2 Bulan Mendatang

5 Feb 2026 12:37:07
Israel Terus Bujuk AS agar Serang Iran, Turki Peringatkan Bahaya Perang Regional

Israel Terus Bujuk AS agar Serang Iran, Turki Peringatkan Bahaya Perang Regional

5 Feb 2026 12:35:37
Tekanan AS Meningkat, Iran Melunak soal Nuklir dan Buka Negosiasi

Tekanan AS Meningkat, Iran Melunak soal Nuklir dan Buka Negosiasi

5 Feb 2026 12:33:24

jurnalislam.com

  • Iklan
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Dukung Kami

INFOGRAFIK

 
 
 
 

Alamat Redaksi

Boulevard Raya No 16 Blok A 1 No 16 Taman Cilegon Indah (TCI), Cilegon, Banten
+62 813-1029-0583

Info Iklan :
+62 821-2000-0527
marketing@jurnalislam.com

Kirim tulisan :
redaksi.jurnalislam@gmail.com
newsroom@jurnalislam.com

COPYRIGHT © 2026 JURNALISLAM.COM, ALL RIGHT RESERVED