Setelah Rezim Assad Jatuh, AS Tarik Ratusan Tentara dari Suriah dan Tutup Sejumlah Pangkalan Militer

DAMASKUS (jurnalislam.com)– Amerika Serikat telah menarik ratusan tentaranya dari Suriah dalam beberapa minggu terakhir, seiring dengan pendekatan baru pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap kawasan tersebut dan sebagai dampak langsung dari jatuhnya rezim Bashar al-Assad.

“Konsolidasi pasukan AS di Suriah berlangsung aman, tenang, dan terkendali,” ujar seorang pejabat pertahanan AS kepada Al Arabiya English, Senin (2/6/2025).

Laporan Fox News menyebutkan bahwa sekitar 500 tentara telah ditarik dari wilayah Suriah dan beberapa pangkalan militer AS telah ditutup atau diserahkan kepada Pasukan Demokratik Suriah (SDF). Di antaranya adalah penutupan Situs Dukungan Misi Green Village dan penyerahan MSS Euphrates kepada SDF. Satu pangkalan lainnya juga dikosongkan, menurut laporan tersebut.

Pejabat AS mengonfirmasi bahwa proses pemindahan pasukan ini terjadi dalam sebulan terakhir. Komando Pusat AS (CENTCOM) sebelumnya juga merujuk pada pernyataan Kepala Juru Bicara Pentagon, Sean Parnell, pada April lalu yang menjelaskan rencana konsolidasi pasukan AS di Suriah di bawah komando Combined Joint Task Force Operation Inherent Resolve.

“Dengan konsolidasi ini, yang sejalan dengan komitmen Presiden Trump untuk menciptakan perdamaian melalui kekuatan, militer AS tetap siap untuk melanjutkan operasi terhadap sisa-sisa ISIS di Suriah,” kata Parnell dalam pernyataannya.

Jumlah tentara AS di Suriah kini dilaporkan berkurang menjadi kurang dari 1.000 personel. Meski demikian, kerja sama dengan SDF merupakan mitra penting dalam perang melawan ISIS akan tetap dipertahankan.

Pemerintahan Trump sebelumnya menunjukkan keraguan untuk terlibat langsung dengan pemerintahan transisi Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa. Namun setelah pengumuman pencabutan sanksi ekonomi terhadap Suriah, jalan bagi keterlibatan kembali pihak regional dan internasional di negara itu pun terbuka lebar.

Washington sebelumnya telah memberikan daftar persyaratan kepada Damaskus, termasuk pengusiran pejuang asing dari wilayah Suriah dan penghentian pengaruh Iran di jajaran militer serta pemerintahan. Namun, laporan Reuters pada Senin (2/6) menyebutkan bahwa AS telah menyetujui rencana Damaskus untuk mengintegrasikan sebagian pejuang asing ke dalam tubuh militer nasional Suriah.

Sementara itu, di luar Suriah, AS masih mempertahankan sekitar 2.500 tentara di Irak, 3.500 di Yordania, dan hampir 2.000 personel di Turki. Dalam kesepakatan terbaru antara Baghdad dan pemerintahan Presiden Joe Biden, AS juga direncanakan akan mengurangi kehadiran militernya di Irak.

Namun, setelah kejatuhan Assad, pemerintah Irak dilaporkan meminta penundaan proses transisi militer AS di wilayahnya. Hingga kini, belum ada keputusan final yang diambil terkait hal tersebut, menurut sumber resmi di Washington. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

Tantang Pengepungan Israel, Kapal Aktivis Pembawa Bantuan Menuju Gaza

SICILIA (jurnalislam.com)– Kapal bantuan kemanusiaan yang dioperasikan oleh Freedom Flotilla Coalition (FFC) telah berangkat dari pelabuhan Catania, Sisilia, pada Ahad (1/6), menuju Jalur Gaza dengan misi mematahkan pengepungan Israel terhadap wilayah Palestina tersebut. Kapal bernama Madleen ini membawa bantuan simbolis dan awak yang terdiri dari 12 orang, termasuk aktivis iklim terkenal asal Swedia, Greta Thunberg, serta Anggota Parlemen Uni Eropa keturunan Prancis-Palestina, Rima Hassan.

Perjalanan yang diperkirakan memakan waktu tujuh hari ini membawa sejumlah pasokan penting bagi warga Gaza, di antaranya susu formula bayi, tepung, beras, popok, produk sanitasi wanita, peralatan desalinasi air, perlengkapan medis, kruk, dan prostetik untuk anak-anak. Bantuan tersebut digambarkan sebagai simbolik, namun sangat dibutuhkan, menurut pernyataan resmi FFC.

“Kami melakukan ini karena tidak peduli seberapa besar rintangan yang kami hadapi, kami harus terus mencoba. Saat kita berhenti mencoba, itulah saat kita kehilangan kemanusiaan kita,” ujar Thunberg dalam konferensi pers sebelum keberangkatan di pelabuhan Catania.

Sebelumnya, kapal lain dari Freedom Flotilla, Conscience, gagal melanjutkan misinya setelah diserang dua drone di luar perairan Malta pada awal Mei lalu. Insiden tersebut menunjukkan risiko tinggi dalam misi kemanusiaan ke wilayah konflik seperti Gaza.

“Betapapun berbahayanya misi ini, itu tidak lebih berbahaya daripada diamnya dunia terhadap pembantaian kehidupan manusia,” tambah Thunberg.

Freedom Flotilla Coalition menegaskan bahwa misi ini adalah aksi perlawanan sipil yang damai. Semua awak kapal Madleen telah menjalani pelatihan anti-kekerasan dan tidak membawa senjata. Mereka bersatu oleh keyakinan bahwa rakyat Palestina berhak atas hak, kebebasan, dan martabat yang sama seperti semua orang di dunia.

Namun, keikutsertaan Thunberg menuai kritik keras dari beberapa tokoh Amerika dan Israel. Senator AS Lindsey Graham, dalam unggahan di platform X (sebelumnya Twitter), menanggapi keberangkatan armada tersebut dengan sinis, “Semoga Greta dan teman-temannya bisa berenang!”

Sementara itu, pengacara hak asasi manusia asal Israel, Arsen Ostrovsky, sempat menyebut Thunberg sebagai “jihadis kecil” dan menyiratkan ancaman terhadap keselamatan armada. Ia kemudian menghapus pernyataan tersebut setelah menuai kecaman. (Bahry)

Sumber: MEE

Prof Sudarnoto Tegaskan Penolakan Normalisasi RI-Israel, Klarifikasi Pernyataan yang Dipelintir

JAKARTA (jurnalislam.com)— Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, menyampaikan klarifikasi terhadap pernyataannya yang sempat menimbulkan salah tafsir publik terkait peluang pembukaan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Israel.

Pernyataan tersebut sebelumnya disampaikan sebagai respons atas ucapan Presiden RI Prabowo Subianto dalam pertemuan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang membuka kemungkinan Indonesia mengakui Israel jika Palestina telah merdeka.

Menurut Prof. Sudarnoto, pandangannya waktu itu diminta oleh wartawan dan kemudian diberitakan oleh sejumlah media dengan penekanan yang berbeda-beda.

“Saya menyampaikan pandangan karena diminta oleh wartawan. Statement saya kemudian muncul di sejumlah media dengan judul yang berbeda dan penekanan konten yang juga berbeda,” ujar Prof. Sudarnoto dalam keterangan tertulis yang diterima MUIDigital, Ahad (1/6/2025).

Ia menyebut bahwa kutipan yang tidak utuh di beberapa pemberitaan memicu salah paham, bahkan menimbulkan kesan bahwa dirinya mendukung normalisasi hubungan RI-Israel.

“Mempertimbangkan soliditas dan pentingnya penguatan kebersamaan di semua elemen pembela Palestina, saya sampaikan penjelasan terhadap statement saya beberapa hari yang lalu. Saya merasakan potongan statement dan tidak utuh di beberapa media telah membuat kesalahpahaman terhadap inti statement saya yang sesungguhnya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prof. Sudarnoto menyampaikan penegasan sebagai berikut:

1. Normalisasi hubungan diplomatik Indonesia-Israel sudah lama saya tolak hingga sekarang. Saya tak pernah berubah. Bisa dicek di media soal statemen saya tentang normalisasi ini.

2. Hemat saya, sebaiknya Presiden tak bicara soal normalisasi hubungan diplomatik Indonesia-Israel. Ini isu yang sangat sensitif. Yang seharusnya diangkat atau dijadikan perhatian saat ini ialah tarik mundur semua tentara IDF dari seluruh wilayah Palestina, hentikan genosida dan penghancuran yg dilakukan Israel, kembalikan tanah Palestina yang sudah direbut dan diduduki Israel, hukum Israel berdasar kepada ICJ, tangkap Netanyahu sesuai amar ICC, merdekakan Palestina secara penuh. Pembicaraan tentang normalisasi hubungan diplomatik Indonesia-Israel ini sangat sensitif dan meninggalkan kesimpangsiuran.

3. Indonesia bersama negara-negara lain perlu mainkan peran lebih strategis untuk poin 2.

4. MUI tetap mendukung pemerintah untuk perjuangkan kemerdekaan Palestina dan enyahkan penjajahan Israel. Ini amanat pembukaan UUD dan sesuai dengan hasil ijtima’ ulama fatwa MUI.

5. Namun demikian, saya sampaikan permintaan maaf jika statement saya yang tidak utuh menimbulkan salah pengertian atau kesimpangsiuran.

6. Terima kasih atas semua perhatiannya, mari kita terus perjuangkan Gaza, Palestina. Ini adalah tugas mulia.

Klarifikasi ini diharapkan menjadi penegasan bahwa MUI, termasuk dirinya secara pribadi, tetap berkomitmen menolak segala bentuk penjajahan dan mendukung penuh perjuangan rakyat Palestina menuju kemerdekaan penuh.

Hamas Kecam Larangan Adzan oleh Menteri Israel, Sebut sebagai Provokasi terhadap Umat Islam Dunia

GAZA (jurnalislam.com)– Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) mengecam keras perintah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, yang melarang adzan di masjid-masjid wilayah Palestina yang diduduki sejak 1948. Hamas menyebut langkah ini sebagai bentuk provokasi terang-terangan terhadap perasaan umat Islam di seluruh dunia dan memperingatkan akan dampak buruk dari eskalasi tersebut.

Dalam pernyataan resminya, Hamas menilai larangan ini merupakan bagian dari rangkaian pelanggaran sistematis terhadap kebebasan beribadah dan kesucian tempat-tempat suci umat Islam, yang dilakukan oleh otoritas pendudukan Israel dengan dukungan penuh dari pemerintahan sayap kanan ekstrem.

“Kami menolak kebijakan pendudukan ini dan perang agama yang brutal yang menargetkan ibadah, ritual, dan tempat-tempat suci, dengan mengabaikan semua hukum dan konvensi internasional,” tegas Hamas dalam siaran pers yang dirilis Ahad, 1 Juni 2025.

Hamas juga menyerukan kepada rakyat Palestina di wilayah pendudukan untuk meningkatkan semua bentuk aksi rakyat dan perlawanan nasional demi membela masjid dan situs suci mereka. Gerakan ini memperingatkan bahwa upaya pelarangan adzan dan penodaan tempat ibadah akan memicu gelombang kemarahan yang luas.

“Larangan adzan ini bukan hanya soal suara dari menara masjid, tetapi menyangkut identitas, sejarah, dan hak beragama rakyat Palestina yang telah lama ditindas,” demikian isi pernyataan tersebut.

Itamar Ben-Gvir, yang dikenal dengan retorika ekstrem dan kebijakan kontroversial terhadap warga Palestina, kembali menuai kecaman internasional dengan kebijakan terbarunya ini. Sejumlah pengamat menilai keputusan itu akan semakin memperkeruh situasi di wilayah pendudukan dan berpotensi memicu ketegangan keagamaan di kawasan maupun global.

Sebelumnya, Israel juga telah dituding melakukan berbagai pembatasan terhadap umat Muslim di Masjid Al-Aqsha dan membatasi akses ibadah di bulan-bulan suci. Kebijakan-kebijakan tersebut kerap dikritik sebagai bentuk apartheid dan penistaan terhadap kebebasan beragama.

Di akhir pernyataannya, Hamas mengajak dunia Islam dan komunitas internasional untuk mengambil sikap tegas dan tidak tinggal diam menghadapi pelanggaran terang-terangan terhadap hak-hak keagamaan ini.

“Kami menyerukan kepada seluruh bangsa dan umat Islam untuk menunjukkan solidaritas, baik melalui aksi massa, tekanan diplomatik, maupun kampanye media untuk melindungi masjid dan situs suci kami dari agresi zionis,” tutup Hamas.

Tragedi Distribusi Bantuan, 32 Warga Palestina Tewas Ditembak Tank Israel saat Antre Makanan di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Sedikitnya 32 warga Palestina tewas dan lebih dari 200 lainnya terluka setelah pasukan Israel menembaki dua lokasi distribusi bantuan makanan di Jalur Gaza pada Ahad pagi (1/6/2025). Serangan itu terjadi saat ribuan warga sipil berkumpul untuk mendapatkan bantuan pangan, di tengah krisis kemanusiaan yang terus memburuk.

Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, tank-tank Israel melepaskan tembakan ke arah kerumunan warga di kota Rafah, Gaza selatan, yang menewaskan sedikitnya 31 orang. Beberapa saat kemudian, satu orang lagi dilaporkan tewas dalam serangan serupa di selatan Koridor Netzarim, Kota Gaza.

Bantuan yang dibagikan di dua titik tersebut disalurkan oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF), sebuah organisasi bantuan kontroversial yang didukung oleh Israel dan Amerika Serikat. Proyek distribusi bantuan ini baru memasuki minggu pertamanya, namun telah diwarnai kekacauan dan kekerasan.

PBB dan berbagai organisasi kemanusiaan internasional telah menolak bekerja sama dengan GHF, menilai lembaga ini tidak netral dan hanya menjadi alat untuk mencapai kepentingan militer Israel.

“Distribusi bantuan telah menjadi perangkap maut,” kata Philippe Lazzarini, Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), dalam sebuah pernyataan.

𝗦𝗮𝗸𝘀𝗶 𝗠𝗮𝘁𝗮: “𝗞𝗮𝗺𝗶 𝗛𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗜𝗻𝗴𝗶𝗻 𝗠𝗮𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗔𝗻𝗮𝗸 𝗞𝗮𝗺𝗶”

Seorang saksi mata, Ibrahim Abu Saoud (40), menyampaikan kepada Associated Press bahwa tentara Israel menembaki kerumunan warga yang sedang bergerak ke titik distribusi di Rafah. Ia menyebut tembakan terjadi dari jarak sekitar 300 meter.

“Kami tidak bisa menolong para korban. Banyak yang tertembak, termasuk seorang pemuda yang langsung tewas di tempat,” ujarnya.

Jurnalis Al Jazeera, Hind Khoudary, yang melaporkan dari Deir el-Balah, Gaza tengah, mengatakan bahwa para korban adalah warga sipil yang hanya ingin mendapatkan satu paket makanan demi anak-anak mereka.

“Warga tahu titik distribusi ini kontroversial, tapi mereka tidak punya pilihan lain,” ungkapnya.

Menurut Khoudary, isi bantuan yang dibagikan pun sangat minim dan tidak bergizi.

“Satu kilo tepung, beberapa kantong pasta, dan kaleng kacang itu tidak cukup untuk satu keluarga di Gaza,” tegasnya.

Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut titik distribusi bantuan dari GHF sebagai “jebakan kematian massal” dan menuduh Israel serta Amerika Serikat menggunakan bantuan kemanusiaan sebagai alat perang.

“Ini adalah pemerasan sistematis terhadap warga sipil yang kelaparan dan mengumpulkan mereka di titik pembunuhan terbuka yang dikelola dan diawasi oleh tentara pendudukan,” bunyi pernyataan resmi mereka.

Hamas, otoritas penguasa di Gaza, menyebut serangan ini sebagai bukti niat jahat yang direncanakan sebelumnya dan menyalahkan Israel dan AS atas tragedi tersebut. Sementara itu, Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP) menyatakan bahwa tindakan tersebut adalah “kejahatan perang penuh” dan menyerukan intervensi internasional segera.

𝗕𝗮𝗻𝘁𝘂𝗮𝗻 𝗠𝗶𝗻𝗶𝗺, 𝗕𝗹𝗼𝗸𝗮𝗱𝗲 𝗕𝗲𝗹𝘂𝗺 𝗦𝗲𝗽𝗲𝗻𝘂𝗵𝗻𝘆𝗮 𝗗𝗶𝗰𝗮𝗯𝘂𝘁

Operasi distribusi bantuan oleh GHF menggantikan sekitar 400 titik distribusi sebelumnya dengan hanya empat lokasi utama, memicu kerumunan besar dan memperparah risiko keamanan. Lembaga Bantuan Medis Palestina menyatakan mekanisme ini tidak ramah bagi kelompok rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas.

Peristiwa tragis hari Ahad ini menambah daftar serangan mematikan selama seminggu terakhir, menyusul dua penembakan sebelumnya di titik distribusi yang berbeda di selatan Gaza, yang menewaskan sembilan warga Palestina.

Saat ini, bantuan kemanusiaan baru mulai masuk ke Gaza setelah Israel mencabut sebagian blokade yang diberlakukan selama lebih dari dua bulan. Namun, dengan lebih dari dua juta penduduk berada di ambang kelaparan, krisis kemanusiaan masih jauh dari usai. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

1.300 Akademisi Israel Serukan Penghentian Perang Gaza

TEL AVIV (jurnalislam.com)— Ratusan akademisi dari berbagai universitas dan perguruan tinggi di Israel mengeluarkan seruan terbuka untuk menghentikan perang di Jalur Gaza. Dalam surat yang ditandatangani oleh 1.300 akademisi, mereka memperingatkan adanya “keruntuhan moral” yang melanda seluruh negeri akibat perang yang terus berlanjut.

Surat tersebut dikirimkan kepada para pemimpin lembaga pendidikan tinggi di Israel pada Selasa (27/5/2025) dan menyerukan agar dunia akademik memobilisasi seluruh kekuatannya untuk menghentikan agresi militer Israel terhadap Gaza.

“Ini adalah serangkaian kejahatan perang yang mengerikan, bahkan kejahatan terhadap kemanusiaan, dan semuanya adalah perbuatan kita sendiri,” tulis para akademisi dalam surat itu. Mereka tergabung dalam sebuah gerakan bernama Black Flag Action Group.

Nama “Black Flag” mengacu pada prinsip hukum di Israel, yang menyatakan bahwa perintah yang sangat tidak bermoral hingga melanggar hukum akan ditandai dengan “bendera hitam” — sebuah simbol penolakan terhadap perintah tersebut.

“Kami tidak bisa mengklaim bahwa kami tidak tahu. Kami telah berdiam diri terlalu lama,” lanjut surat tersebut.

“Sebagai akademisi, kami menyadari peran kami sendiri dalam kejahatan ini. Masyarakatlah, bukan hanya pemerintah, yang bertanggung jawab atas kejahatan terhadap kemanusiaan.”

Surat itu juga menyinggung tentang diamnya institusi pendidikan terhadap agresi militer yang sedang berlangsung.

“Beberapa melakukan kekerasan secara langsung. Yang lain menyetujui, membenarkan, atau memilih diam. Ikatan keheningan inilah yang memungkinkan kejahatan terus berlangsung tanpa pengakuan publik,” bunyi pernyataan mereka.

Gelombang kritik terhadap operasi militer Israel di Gaza juga datang dari kalangan politik. Mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert, pekan lalu mengecam tindakan pemerintah yang disebutnya telah membunuh warga Palestina yang tidak bersalah.

Dalam wawancaranya dengan BBC pada Selasa (27/5), Olmert menyebut bahwa apa yang dilakukan Israel di Gaza “sangat dekat dengan kejahatan perang”.

Seruan moral dari dunia akademik dan tokoh publik ini mencerminkan meningkatnya keresahan internal di Israel atas perang yang telah menewaskan ribuan warga sipil dan memperburuk krisis kemanusiaan di Jalur Gaza. (Bahry)

Sumber: MEE

Suporter PSG Bentangkan Spanduk “Hentikan Genosida di Gaza” di Final Liga Champions

MUNICH (jurnalislam.com)— Final Liga Champions UEFA 2024/2025 antara Paris Saint-Germain (PSG) dan Inter Milan pada Ahad (1/6/2025) tidak hanya menyuguhkan kemenangan bersejarah bagi PSG, tetapi juga menjadi panggung solidaritas bagi rakyat Palestina.

Di tengah gegap gempita Allianz Arena, para suporter PSG membentangkan spanduk besar bertuliskan “Hentikan Genosida di Gaza”. Aksi ini dilakukan tak lama setelah Achraf Hakimi membawa PSG unggul 1-0 atas mantan klubnya, Inter Milan, pada menit ke-12.

Spanduk tersebut menjadi sorotan, menegaskan sikap tegas suporter PSG yang selama ini dikenal konsisten menentang agresi Israel di Jalur Gaza. Sebelumnya, pada November 2024, mereka juga membentangkan spanduk raksasa bertuliskan “Bebaskan Palestina” dalam laga Liga Champions melawan Atletico Madrid.

Aksi simbolik ini dilakukan di tengah krisis kemanusiaan yang memburuk di Gaza, di mana blokade Israel selama hampir tiga bulan telah membuat 2,3 juta warga berada di ambang kelaparan.

Di atas lapangan, PSG tampil dominan dan mencatat kemenangan telak 5-0 atas Inter Milan. Kemenangan ini mengukuhkan PSG sebagai juara Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah klub. Para pemain seperti Desire Doue, Achraf Hakimi, Khvicha Kvaratskhelia, dan Senny Mayulu menjadi bintang dalam laga tersebut.

Final Liga Champions musim ini tidak hanya tercatat sebagai kemenangan sepak bola, tetapi juga sebagai momen perlawanan kemanusiaan yang digaungkan dari tribun penonton ke seluruh dunia. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Hamas Siap Bebaskan Sandera, Ajukan Syarat Gencatan Senjata Permanen dan Penarikan Penuh Israel dari Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Hamas pada Sabtu (31/5/2025) mengonfirmasi bahwa mereka telah merespons proposal gencatan senjata yang diajukan oleh utusan Amerika Serikat, Steve Witkoff. Dalam usulan tersebut, Hamas menyetujui pembebasan sepuluh sandera Israel yang masih hidup dan penyerahan delapan belas jenazah tahanan Israel, sebagai bagian dari kesepakatan awal.

Sebagai imbalannya, Israel akan membebaskan sejumlah tahanan Palestina yang telah disepakati, termasuk 125 warga Palestina yang divonis penjara seumur hidup. Selain itu, jenazah 180 syuhada Palestina juga akan diserahkan kembali kepada pihak Palestina.

Rencana gencatan senjata yang lebih luas juga mencakup pembebasan 30 tahanan Israel yang tersisa setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata permanen.

Dalam pernyataan resminya melalui kanal Telegram, Hamas menyatakan bahwa keputusan ini diambil setelah melalui “serangkaian konsultasi nasional”, dengan landasan utama berupa “tanggung jawab mendalam terhadap rakyat Palestina dan penderitaan mereka”.

“Sebagai bagian dari perjanjian ini, sepuluh tahanan Israel yang masih hidup yang ditahan oleh kelompok perlawanan akan dibebaskan, bersama dengan penyerahan delapan belas jenazah, sebagai ganti sejumlah tahanan Palestina yang disepakati,” bunyi pernyataan tersebut.

Proposal gencatan senjata dari Witkoff, yang sebelumnya diajukan kepada kedua belah pihak, mencakup jeda selama 60 hari dalam pertempuran dan pembebasan 28 sandera Israel, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, pada minggu pertama pelaksanaan kesepakatan.

Perjanjian tersebut juga menyerukan dimulainya distribusi bantuan kemanusiaan secara cepat ke Jalur Gaza, segera setelah Hamas menandatangani kesepakatan. Pelaksanaan kesepakatan ini akan dijamin oleh Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar, serta mendapat dukungan dari Presiden AS Donald Trump.

Hamas sebelumnya telah menyatakan bahwa mereka “mempelajari proposal revisi tersebut secara bertanggung jawab, dengan mempertimbangkan kepentingan rakyat Palestina dan tujuan tercapainya gencatan senjata permanen di Gaza”.

Pada Kamis malam, Gedung Putih mengumumkan bahwa Israel telah menyetujui proposal Witkoff. Namun, sejumlah hambatan besar masih mengganjal jalan menuju gencatan senjata.

Pemerintah Israel tetap bersikeras agar Hamas dilucuti dari seluruh persenjataannya, semua infrastruktur militer kelompok tersebut dibongkar, dan pemerintahan Hamas di Gaza dihentikan sepenuhnya. Israel juga menuntut pembebasan seluruh sandera yang tersisa, yang diperkirakan berjumlah 58 orang, sebagai syarat mutlak untuk menghentikan agresinya.

Di sisi lain, Hamas dengan tegas menolak persyaratan tersebut. Mereka menyatakan tidak akan menyerahkan senjata hingga Israel menyetujui penarikan penuh dari Jalur Gaza, serta menyepakati perjanjian yang mengikat untuk benar-benar mengakhiri perang.

Situasi ini membuat masa depan gencatan senjata masih penuh ketidakpastian, meski peluang diplomatik mulai terbuka. (Bahry)

Sumber: TNA

Sniper Al-Qassam Beraksi di Gaza, Israel Kembali Jadi Target

GAZA (jurnalislam.com) – Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, mengumumkan keberhasilan mereka dalam menargetkan dan melukai sejumlah pasukan Israel dalam dua operasi militer terpisah di Jalur Gaza.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis melalui situs web mereka pada Jumat (30/5), Brigade Al-Qassam menyebutkan telah melakukan serangan bersama dengan Brigade Al-Quds sayap militer kelompok Jihad Islam Palestina terhadap pasukan Israel di kawasan Perumahan Eropa, timur Khan Yunis.

“Bekerja sama dengan Brigade Al-Quds, kami membunuh dan melukai pasukan Israel saat mereka berlindung di dalam sebuah rumah di area Perumahan Eropa di sebelah timur Khan Yunis. Pasukan tersebut menjadi sasaran rudal antibenteng TBG dan rudal antipersonel,” demikian bunyi pernyataan Brigade Al-Qassam yang dikutip dari situs resminya.

Sehari setelahnya, Sabtu (31/5), Brigade Al-Qassam merilis sebuah video yang menampilkan aksi sniper mereka di lingkungan Shuja’iyya, sebelah timur Kota Gaza.

Video tersebut merupakan bagian dari rangkaian operasi bertajuk “Batu Daud”, yang menurut Brigade Al-Qassam bertujuan untuk menghambat pergerakan militer Israel di poros penyerbuan.

“Saksikan sebagai bagian dari rangkaian operasi Batu Daud Pemandangan tembakan penembak jitu dan penargetan tentara musuh di sepanjang poros penyerbuan di lingkungan Shuja’iyya di sebelah timur Kota Gaza,” tulis mereka dalam pengumuman video tersebut.

Klaim keberhasilan Al-Qassam ini muncul di tengah meningkatnya tekanan diplomatik terhadap Israel, termasuk rencana konferensi internasional di PBB yang disponsori Prancis dan Arab Saudi, yang mendorong solusi dua negara dan potensi pengakuan terhadap kemerdekaan Palestina.

Kontributor: Bahry

Brigade Al-Quds dan Al-Qassam Lancarkan Serangan Gabungan ke Posisi Militer Israel di Khan Yunis

GAZA (jurnalislam.com)– Kelompok perlawanan Palestina, Brigade Al-Quds, mengklaim telah melancarkan sejumlah serangan terhadap posisi militer Israel di Jalur Gaza. Serangan itu menyasar wilayah timur Jabalia serta tenggara Khan Yunis.

Dalam keterangan resminya, Brigade Al-Quds menyatakan, “Kami membombardir perkumpulan pasukan musuh Zionis di sebelah timur Jabalia dengan roket 107 mm dan berhasil mengenai sasaran secara langsung.”

Kelompok itu juga melaporkan serangan lain yang terjadi pada Kamis sore, 29 Mei 2025, di kawasan perumahan Eropa, Khan Yunis.

“Setelah kembali dari pertempuran di tenggara Khan Yunis, para pejuang Saraya al-Quds mengonfirmasi bahwa mereka berhasil menargetkan pasukan khusus Zionis yang terdiri dari 10 tentara yang berlindung di dalam gedung perumahan Eropa dengan rudal TBG, menewaskan dan melukai mereka,” tulis pernyataan tersebut. Dikatakan pula bahwa beberapa helikopter militer Israel dikerahkan ke lokasi untuk mengevakuasi korban.

Dalam operasi gabungan dengan Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, Brigade Al-Quds mengklaim berhasil “melumpuhkan pasukan Zionis yang telah menembus kawasan perumahan Eropa” dengan tembakan rudal anti-personel dan serangan jarak dekat.

Selain itu, Brigade Al-Quds juga melaporkan bahwa pihaknya menggempur konsentrasi pasukan dan kendaraan militer Israel di sekitar persimpangan Abu Daqqa, wilayah al-Fakhari, tenggara Khan Yunis, dengan rentetan tembakan mortir.