Tenda-Tenda Gaza Menjadi Kubangan Air, 850 Ribu Warga Palestina Tak Punya Tempat Berlindung

GAZA (jurnalislam.com)โ€” Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa banjir parah di ratusan kamp pengungsian Gaza telah menempatkan hampir setengah populasi di wilayah terblokade itu dalam risiko tinggi. Hujan lebat sejak Rabu membuat ribuan tenda terendam, memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah sangat mengerikan.

โ€œHujan lebat membanjiri tenda, membasahi barang-barang, dan meningkatkan ancaman kesehatan termasuk hipotermia pada bayi serta penyakit akibat luapan air limbah,โ€ kata juru bicara PBB, Farhan Haq, dalam konferensi pers pada Kamis (11/12/2025), mengutip laporan Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).

Menurut Haq, tim kemanusiaan di lapangan telah membentuk sistem respons cepat untuk menanggapi peringatan banjir. Sejak Kamis pagi, sistem tersebut telah memproses lebih dari 160 peringatan, sementara badan-badan PBB dan lembaga kemanusiaan menyalurkan tenda darurat, selimut, pakaian hangat, terpal, dan kebutuhan pokok lain bagi warga yang kehilangan tempat berlindung.

๐Ÿฐ๐Ÿฌ% ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐˜‚๐—ฑ๐˜‚๐—ธ ๐—š๐—ฎ๐˜‡๐—ฎ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐——๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—”๐—ป๐—ฐ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—•๐—ฎ๐—ป๐—ท๐—ถ๐—ฟ

PBB menyebutkan bahwa lebih dari 760 lokasi pengungsianโ€”yang menampung sekitar 850 ribu orangโ€”berada dalam risiko banjir tertinggi.
โ€œItu sekitar 40 persen populasi Gaza,โ€ tegas Haq.

Untuk membantu pengungsi bertahan, lembaga-lembaga kemanusiaan mendistribusikan karung tepung kosong sebagai karung pasir darurat, serta pasir dan peralatan untuk membendung air di area yang memungkinkan.

Haq menegaskan bahwa kebutuhan di Gaza sangat besar dan mendesak, namun pembatasan terhadap operasi kemanusiaan Israel masih menghambat bantuan.

โ€œLarangan terhadap sebagian besar LSM internasional dan UNRWA harus diakhiri. Penyeberangan dan rute bantuan harus dibuka untuk memungkinkan berbagai jenis bantuan masuk ke Gaza,โ€ katanya.

๐—ง๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด๐˜€๐—ถ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—š๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—”๐—ถ๐—ฟ

Sejak Rabu, hujan deras membuat ribuan tenda pengungsian berubah menjadi kubangan air, merendam kasur, pakaian, dan makanan keluarga Palestina yang selamat dari pembantaian Israel. Banyak keluarga kini bertahan dalam kondisi basah kuyup tanpa kehangatan, tanpa penghangat udara, dan tanpa tempat berlindung yang layak.

Banjir datang ketika musim dingin baru dimulai, menambah penderitaan warga Gaza yang telah hidup dua tahun di bawah gempuran bom dan blokade Israel. (Bahry)

Sumber: TRT

Israel Terus Rampas Tanah Palestina, Setujui 764 Rumah Pemukim Baru di Tepi Barat

TEPI BARAT (jurnalislam.com)โ€” Rezim penjajah Israel kembali mengesahkan pembangunan 764 unit perumahan baru di tiga permukiman ilegal di Tepi Barat yang diduduki. Keputusan tersebut diumumkan Menteri Keuangan ultra-nasionalis Bezalel Smotrich pada Rabu (10/12/2025), langkah yang langsung dikecam Palestina sebagai upaya memperluas penjajahan dan melemahkan stabilitas kawasan.

Smotrich mengatakan bahwa sejak ia menjabat pada akhir 2022, pemerintah Israel telah menyetujui lebih dari 51.370 unit pemukiman baru di Tepi Barat, wilayah yang secara sah diinginkan Palestina sebagai negara masa depan mereka.

Menurut laporan kantor berita Palestina WAFA, Otoritas Palestina menyerukan kepada pemerintahan Presiden AS Donald Trump agar menekan Israel untuk menghentikan kebijakan ekspansionis tersebut.

Juru bicara kepresidenan Palestina, Nabil Abu Rudeineh, menegaskan bahwa Washington harus memaksa Israel menghentikan โ€œupaya aneksasi, perluasan permukiman, dan pencurian tanah Palestinaโ€ serta mematuhi hukum internasional.

๐—จ๐—ป๐—ถ๐˜ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—บ๐˜‚๐—ธ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐——๐—ถ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ง๐—ถ๐—ด๐—ฎ ๐—Ÿ๐—ผ๐—ธ๐—ฎ๐˜€๐—ถ

Proyek baru seluas 764 unit itu akan dibangun di:
– Hashmonaim, tepat di seberang Garis Hijau di Israel tengah,

– Givat Zeev, dekat Yerusalem,

– Beitar Illit, salah satu permukiman ultra-Ortodoks terbesar.

Sebagian besar negara di dunia menilai permukiman Israel di wilayah yang direbut pada perang 1967 ilegal. Berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB juga menuntut Israel menghentikan seluruh aktivitas permukiman.

โ€œBagi kami, semua permukiman itu ilegal dan bertentangan dengan seluruh legitimasi internasional,โ€ kata Wasel Abu Yousef, anggota Komite Eksekutif PLO, kepada Reuters.

๐™€๐™ ๐™จ๐™ฅ๐™–๐™ฃ๐™จ๐™ž ๐™‹๐™š๐™ข๐™ช๐™ ๐™ž๐™ข๐™–๐™ฃ ๐˜ฟ๐™ž๐™ฅ๐™–๐™˜๐™ช ๐™‹๐™š๐™ข๐™š๐™ง๐™ž๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™๐™–๐™ฃ ๐™‰๐™š๐™ฉ๐™–๐™ฃ๐™ฎ๐™–๐™๐™ช

Sejak Benjamin Netanyahu kembali berkuasa pada 2022, pembangunan permukiman ilegal melonjak tajam di seluruh wilayah pendudukan. Pemerintah Israel mengklaim proyek-proyek itu penting bagi keamanan nasional dan terkait โ€œhubungan historis dan alkitabiahโ€ dengan Tepi Barat.

Data organisasi Israel anti-permukiman, Peace Now, menunjukkan lebih dari 700.000 pemukim ilegal kini tinggal di Tepi Barat, termasuk sekitar 250.000 di Yerusalem Timur.

PBB mencatat bahwa serangan pemukim Israel terhadap warga Palestina semakin brutal. Pada Oktober saja, terjadi 264 serangan di Tepi Barat angka bulanan tertinggi sejak PBB mulai mencatat insiden tersebut pada 2006. (Bahry)

Sumber: TRT

Hamas Tolak Pelucutan Senjata: โ€œItu Bunuh Diri bagi Bangsa Palestinaโ€

GAZA (jurnalislam.com)โ€” Pemimpin senior Hamas, Khaled Meshaal, menegaskan bahwa gerakan perlawanan Palestina tidak akan menyerahkan senjatanya dalam kerangka kesepakatan gencatan senjata jangka panjang. Ia menolak keras tuntutan pelucutan senjata yang disebutnya sebagai โ€œtidak dapat diterimaโ€ bagi rakyat Palestina.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera pada Selasa (9/12/2025), Meshaal mengatakan bahwa tahap kedua kesepakatan gencatan senjata telah mendorong tekanan agar Hamas menyerahkan senjata tuntutan yang ia kaitkan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan pihak asing.

โ€œKami menginginkan jaminan bahwa perang pendudukan Israel di Gaza tidak akan kembali,โ€ tegasnya.

โ€œMelucuti senjata Palestina berarti menghilangkan jiwa mereka.โ€

Ia menambahkan, pengalaman sejarah menunjukkan bahwa ketika rakyat Palestina tidak bersenjata, pembantaian justru terjadi.

โ€œKetika senjata Palestina diambil, pembantaian dimulai dari Sabra dan Shatila hingga rangkaian pembantaian sepanjang sejarah Palestina,โ€ ujarnya.

๐—ฆ๐—ถ๐—ฎ๐—ฝ ๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—บ๐—ฎ ๐—š๐—ฒ๐—ป๐—ฐ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐˜๐—ฎ ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—œ๐—ป๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ป๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ผ๐—ป๐—ฎ๐—น

Meshaal menyampaikan bahwa Hamas bersedia menerima mekanisme yang menjamin stabilitas, termasuk gencatan senjata jangka panjang dan penempatan pasukan stabilisasi internasional di sepanjang perbatasan Gaza, serupa dengan misi UNIFIL di Lebanon selatan.

โ€œKami tidak memiliki masalah dengan pasukan stabilitas internasional di perbatasan,โ€ katanya.

Pada 18 November lalu, Dewan Keamanan PBB menyetujui resolusi rancangan AS yang mengizinkan pembentukan misi internasional sementara di Gaza hingga 2027. Misi ini bertugas membantu menegakkan gencatan senjata dan mendukung stabilisasi pascaperang.

Meshaal juga menyebut negara-negara kawasan seperti Qatar, Mesir, dan Turki dapat berperan sebagai penjamin ketenangan di Gaza, sambil menegaskan bahwa sumber ketidakstabilan adalah agresi Israel.

โ€œMasalahnya terletak pada eskalasi, pembunuhan, dan kekerasan Israel terhadap rakyat Gaza,โ€ katanya.

๐—™๐—ฎ๐˜€๐—ฒ ๐—ž๐—ฒ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ ๐—ž๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—š๐—ฒ๐—ป๐—ฐ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐˜๐—ฎ

Komentar Meshaal muncul menjelang kunjungan Netanyahu ke Gedung Putih untuk membahas fase kedua dari kesepakatan gencatan senjata 10 Oktober lalu.
Fase pertama mencakup pertukaran sandera Israel dengan tahanan Palestina.

Pada fase kedua, Israel diwajibkan menarik pasukannya lebih jauh dari Gaza, membentuk otoritas transisi, dan mendukung penempatan pasukan stabilisasi internasional.

Israel mengaitkan dimulainya negosiasi lanjutan dengan penerimaan seluruh jenazah sandera. Mereka mengklaim satu jenazah masih berada di Gaza. Hamas menegaskan bahwa pihaknya telah menyerahkan semua 20 sandera yang masih hidup dan 28 sandera yang tewas.

Meshaal menutup dengan menegaskan bahwa Gaza harus diberi kesempatan memasuki fase rekonstruksi setelah โ€œdua tahun puing-puing dan penderitaan berat akibat agresi Israel.โ€ (Bahry)

Sumber: TRT

Musim Dingin Mematikan di Gaza, Bayi Palestina Meninggal dalam Tenda Basah

GAZA (jurnalislam.com)โ€” Seorang bayi perempuan Palestina berusia delapan bulan, Rahaf Abu Jazar, meninggal dunia pada Kamis (11/12/2025) akibat flu berat dan hipotermia di Khan Younis, saat badai musim dingin menerjang kamp-kamp pengungsian di Jalur Gaza.

Badai disertai suhu rendah dan hujan deras itu memperparah kondisi ratusan ribu warga yang tinggal di tenda-tenda tipis setelah dua tahun pemboman Israel yang menghancurkan sebagian besar infrastruktur perumahan.

๐—ง๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ ๐—•๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ต, ๐—ฆ๐˜‚๐—ต๐˜‚ ๐—”๐—ป๐—ท๐—น๐—ผ๐—ธ, ๐—”๐—ป๐—ฎ๐—ธ-๐—”๐—ป๐—ฎ๐—ธ ๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ฐ๐—ฎ๐—บ

Kepala Kementerian Kesehatan Gaza, Munir al-Bursh, mengonfirmasi kematian bayi tersebut dan memperingatkan bahwa situasi berpotensi semakin buruk bagi anak-anak, lansia, dan pasien yang memiliki penyakit bawaan.

โ€œSuhu rendah menghancurkan anak-anak, lansia, dan orang sakit,โ€ ujarnya kepada Anadolu.

Ia menambahkan bahwa tim medis menemukan banyak kasus menggigil hebat, kesulitan bernapas, hingga risiko kematian, sementara akses obat-obatan dan layanan kesehatan sangat terbatas.

๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ฝ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด๐˜€๐—ถ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐——๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐˜‚ ๐—Ÿ๐˜‚๐—บ๐—ฝ๐˜‚๐—ฟ

Pertahanan Sipil Gaza menggambarkan kondisi kamp yang berubah menjadi danau lumpur bercampur limbah setelah hujan deras mengguyur sepanjang malam. Lokasi-lokasi seperti al-Mawasi di Khan Younis, al-Bassa dan al-Baraka di Deir al-Balah, serta sebagian wilayah Nuseirat dan Kota Gaza dilaporkan terendam banjir, menyapu tenda dan barang-barang warga.

โ€œPara pengungsi, termasuk anak-anak dan perempuan, kini tenggelam dalam banjir,โ€ kata lembaga tersebut.
Mereka menyebut menerima lebih dari 2.500 panggilan darurat dalam 24 jam terakhir dari keluarga yang terjebak di tempat penampungan yang tergenang air.

Di Rafah, tenda-tenda juga dievakuasi setelah terendam penuh untuk hari kedua berturut-turut.

Juru bicara Pertahanan Sipil, Mahmoud Basal, memperingatkan bahwa lebih dari 250.000 keluarga rentan mengalami hipotermia dan banjir karena tenda-tenda yang sudah rusak tidak lagi mampu melindungi dari cuaca ekstrem.

๐—ฅ๐—ฎ๐˜๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—ป ๐—ฅ๐—ถ๐—ฏ๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด๐˜€๐—ถ ๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ฐ๐—ฎ๐—บ

Otoritas media Gaza menyatakan bahwa sistem tekanan rendah kutub diperkirakan masih akan memengaruhi wilayah tersebut hingga Jumat. Ratusan ribu pengungsi disebut berada dalam bahaya karena tenda mereka terisi air dan membasahi kasur, pakaian, serta persediaan makanan.

Para pejabat Gaza menegaskan bahwa wilayah itu membutuhkan sekitar 300.000 tenda dan tempat penampungan prefabrikasi untuk memenuhi kebutuhan hunian dasar.
Sementara itu, PBB memperkirakan biaya rekonstruksi Gaza mencapai 70 miliar dolar setelah dua tahun agresi Israel. (Bahry)

Sumber: TRT

MUI DKI Jakarta Dirikan Pusat Layanan Kesehatan dan Pemberdayaan Keluarga

JAKARTA (jurnalislam.com)- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta melalui Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRKโ€“MUI) meluncurkan program strategis berupa pendirian Pusat Layanan Kesehatan dan Pemberdayaan Keluarga MUI DKI Jakarta bekerja sama dengan Klinik Utama Asshomadiyah Health Care.

Peluncuran ditandai dengan penandatanganan MoU pada Selasa 9 Desember 2025, berbarengan dengan Rapat Paripurna MUI DKI Jakarta. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kompleksitas persoalan sosial, ekonomi, kesehatan, dan perlindungan keluarga yang terus meningkat di wilayah DKI Jakarta.

Ketua Bidang PRK MUI DKI Jakarta, Hj. Nuraini Syaifullah, mengatakan bahwa sebagai organisasi kemasyarakatan keagamaan yang menaungi para ulama, zuโ€™ama, dan cendekiawan dari berbagai ormas Islam, MUI DKI Jakarta terus berkomitmen memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat.

โ€œMelalui PRKโ€“MUI, isu perempuan, remaja, dan keluarga menjadi salah satu fokus utama, mengingat meningkatnya problem seperti kekerasan dalam rumah tangga, kriminalitas remaja, penyalahgunaan narkoba, trafficking, hingga masalah kesehatan mental dan fisik,โ€ ujarnya.

Ia menambahkan, berbagai data terbaru menunjukkan urgensi penanganan terpadu. Tingkat kriminalitas di Jakarta meningkat hingga 32 persen pada 2023, sementara kasus narkoba serta kekerasan terhadap perempuan dan anak juga menunjukkan tren naik. Pada aspek kesehatan, prevalensi penyakit kronis seperti stroke, hipertensi, dan tingginya kasus obesitas menjadikan intervensi kesehatan masyarakat semakin mendesak.

โ€œMenjawab tantangan ini, PRKโ€“MUI DKI Jakarta menetapkan pendirian pusat layanan baru yang diharapkan menjadi mitra strategis Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam memperkuat kesejahteraan masyarakat,โ€ ujarnya.

Sebagai langkah awal, PRKโ€“MUI akan menggelar soft launching pendirian pusat layanan tersebut yang dirangkaikan dengan kegiatan Tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat). Tes ini ditujukan bagi perempuan usia di atas 35 tahun sebagai upaya deteksi dini kanker leher rahim, salah satu penyakit yang masih menjadi ancaman serius bagi perempuan di Indonesia.

โ€œKegiatan ini memiliki dua tujuan utama, yaitu memperkenalkan pusat layanan secara resmi serta memberikan fasilitas pemeriksaan kesehatan gratis kepada masyarakat, khususnya kaum perempuan,โ€ paparnya.

Acara soft launching ditargetkan dihadiri para pemangku kebijakan seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan dan Mental Spiritual, serta perwakilan MUI tingkat kota/kabupaten. Sementara kegiatan Tes IVA menargetkan 100 peserta dari lima wilayah kota serta Kabupaten Kepulauan Seribu.

Sejumlah lembaga menjadi mitra pelaksana, antara lain Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Wali Kota Jakarta Utara, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara, Baznas Bazis Jakarta Utara, Asshomadiyah Health Care, serta BPJS Kesehatan DKI Jakarta.

Rencananya, acara akan dilaksanakan pada Senin (22/12/2025) bertempat di Ruang Bahari Lantai 14, Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Balai Yos Sudarso, Jakarta Utara.

Dengan pendirian pusat layanan ini, PRKโ€“MUI berharap dapat memperkuat ketahanan keluarga, meningkatkan kesehatan masyarakat, serta berkolaborasi dengan pemerintah dalam mewujudkan Jakarta yang lebih maju dan sejahtera.

Pondok Pesantren Salman Al Farisi Gelar Wisuda Angkatan VII, Hadirkan Pakar Pendidikan DR. Adian Husaini

KARANGANYAR (jurnalislam.com)โ€“ Pondok Pesantren Salman Al Farisi (PPSAF) siap menyelenggarakan acara puncak wisuda bagi santri dan santriwati angkatan ketujuh yang akan digelar pada Ahad, (8/2/2026). Acara ini akan menandai kelulusan 35 peserta didik, terdiri dari 16 santri putra dan 19 santriwati, yang telah menyelesaikan kurikulum pendidikan pesantren yang komprehensif.

Wisuda yang akan diselenggarakan di kompleks PPSAF ini rencananya akan dihadiri oleh seluruh wali santri, tokoh masyarakat, serta tamu undangan kehormatan.

Orasi Ilmiah Spesial: Menekankan Urgensi Peran Guru

Untuk memberikan motivasi dan wawasan mendalam, PPSAF mengundang narasumber istimewa, yakni Ustadz DR. Adian Husaini, SKH, M.Si., Ph.D. seorang pakar pendidikan Islam terkemuka, cendekiawan, dan menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia.

Ustadz Adian Husaini akan menyampaikan orasi ilmiah dengan tema sentral: โ€œUrgensi Peran Guru di dalam Membangun Peradaban Bangsa.โ€

Tema ini dipilih secara khusus untuk mempertegas peran fundamental pendidik di pesantren sebagai garda terdepan dan pilar utama dalam mencetak generasi berkualitas. Lulusan pesantren diharapkan menjadi motor penggerak kemajuan bangsa yang teguh berlandaskan nilai-nilai Islam.

โ€œKami berharap orasi dari Ustadz Dr. Adian Husaini dapat menanamkan kesadaran yang kuat, baik pada wisudawan maupun pada masyarakat luas, bahwa guru dan institusi pendidikan Islam seperti pesantren adalah garda terdepan dalam menjaga dan membangun peradaban bangsa yang bermartabat,โ€ ujar Ketua Yayasan Pondok Pesantren Salman Al Farisi.

Profil Lulusan dan Komitmen Pesantren

Para wisudawan telah menyelesaikan studi yang mencakup ilmu agama, tahfizh Al-Qur’an, dan pendidikan umum. PPSAF memiliki komitmen kuat untuk mencetak ulama dan cendekiawan yang tidak hanya memiliki integritas keislaman tinggi, tetapi juga kompetensi global.

PPSAF menegaskan kembali visinya untuk menjadi solusi atas tantangan-tantangan bangsa dengan menghasilkan lulusan yang siap berkontribusi aktif dalam dakwah dan pembangunan masyarakat.

Sinergi Ayah-Ibu di Ujung Tanding: Mampukah Menahan Laju Kekerasan Keluarga?

Oleh: Nida Fitri Azizah
Aktivis Mahasiswa

Jika ayah dan ibu berjalan seirama

Badai sebesar apa pun takkan merobohkan rumah, tetapi jika mereka saling membelakangi, angin kecil pun mampu menghancurkannya.

Saat ayah dan ibu tercerabut dari fitrahnya
karena sistem yang menyesatkan,rumah tak lagi menjadi surga, melainkan ladang ujian bagi anak-anak.

Pepatah diatas terasa seperti cermin bagi realitas banyak keluarga Indonesia hari ini. Di tengah tekanan ekonomi, gaya hidup materialistis, arus digital tanpa batas, serta sistem yang menjauhkan peran pengasuhan dari nilai fitrah dan akhlak, tidak sedikit orang tua yang lelah secara mental, bingung secara peran, dan lemah secara perlindungan.

Akibatnya, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru berubah menjadi ruang yang rawan konflik, bahkan Lonjakan kekerasan keluarga di Kalimantan Timur kian terlihat bila membaca data DP3A per Oktober 2025 yang mencatat 1.110 kasus setara 3 hingga 4 korban setiap hari .(Diskominfo Kaltim) Angka ini menjadi ironi di tengah keberadaan UU No. 52 Tahun 2009 dan Perda Kaltim No. 2 Tahun 2022 tentang ketahanan keluarga yang digadang gadang sebagai solusi nasional.

Fakta di lapangan justru menunjukkan bahwa regulasi tersebut gagal menyentuh akar persoalan, karena dibangun di atas kerangka pikir sekuler-kapitalistik yang memandang keluarga sebatas unit sosial-ekonomi, bukan benteng nilai dan perlindungan. Dalam situasi yang kompleks dan sistemik ini, kolaborasi ayah-ibu maupun peran Puspaga, meski penting, nyatanya belum cukup kuat untuk menahan laju kekerasan yang lahir dari rusaknya sistem kehidupan itu sendiri.

Kondisi ini menegaskan bahwa persoalan kekerasan keluarga bukan semata kegagalan individu, tetapi juga buah dari sistem kehidupan yang gagal menjaga peran ayah dan ibu sebagai pendidik, pelindung, dan teladan utama bagi anak. Dari sinilah urgensi menguatkan kembali sinergi orang tua bukan hanya secara emosional, tetapi juga secara nilai, visi, dan tanggung jawab menjadi sangat mendesak.

Peran Ayah dan Ibu di Tengah Tekanan Ekonomi dan Rusaknya Nilai Keluarga

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkap sedikitnya terdapat tujuh penyebab utama maraknya kekerasan pada anak, mulai dari budaya patriarki, penelantaran, pola asuh yang keliru, rendahnya kontrol terhadap anak, anggapan bahwa anak adalah aset orang tua, rendahnya kesadaran melapor, pengaruh media dan pornografi, hingga merosotnya moral.

Daftar ini memang menggambarkan betapa rumit dan berlapisnya persoalan kekerasan terhadap anak. Namun, jika ditelisik lebih dalam, seluruh faktor tersebut sejatinya berakar pada satu sebab besar yang jarang disentuh secara serius: sistem kehidupan sekuler yang saat ini diterapkan.Mulai dari maraknya kekerasan terhadap perempuan dan anak baik karena himpitan ekonomi, emosi yang tak terkendali, kerusakan moral, maupun lemahnya iman dan pemahaman peran orang tua hingga gagalnya orang tua memahami fungsi dan perannya sejalan dengan apa yang dituangkan dalam pemikiran Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani termaktub pada Nidzฤm al-Ijtimฤโ€˜ฤซ bahwa kerusakan sistem pergaulan lahir dari penerapan sistem sekuler-kapitalistik.

Dalam kehidupan kapitalis, aturan Islam tentang hubungan laki-laki dan perempuan, batas pergaulan, penjagaan kehormatan, serta tanggung jawab keluarga diliputi oleh kebebasan dan berorientasikan materi Akibatnya, fitrah orang tua sebagai pelindung dan pendidik anak tercabut, rumah kehilangan fungsinya sebagai benteng keamanan, sementara tekanan ekonomi kapitalisme dan arus media yang sarat kerusakan moral justru menjadi pemicu kekerasan, termasuk kekerasan seksual. Ini menegaskan bahwa kekerasan bukan sekadar kegagalan individu, melainkan buah dari rusaknya sistem pergaulan yang dibangun di atas ideologi yang bertentangan dengan Islam.

Iman Terjaga, Jiwa Tentram, Keluarga Kuat: Buah dari Islam yang Kaffah

Ketika kapitalisme melingkupi kehidupan generasi,ukhuwah melemah, kepedulian mengering, hingga kekerasan terhadap perempuan dan anak dianggap biasa dalam masyarakat yang sibuk mengejar dunia.Keluarga sejatinya adalah benteng pertama perlindungan manusia, tempat rasa aman, kasih sayang, dan pembentukan karakter bermula. Dalam pandangan Islam, fungsi keluarga tidak sekedar sebagai ruang biologis dan sosial, namun lebih vital dari itu yakni menjadi madrasah peradaban yang menanamkan kepribadian Islam kepada seluruh anggotanya.

Maka dalam point inilah peran negara tidak bisa disingkirkan. Negara berkewajiban melakukan edukasi yang terarah untuk membentuk kepribadian Islam, sekaligus menguatkan pemahaman tentang peran, hak, dan hukum-hukum keluarga berdasarkan syariat. Ketika setiap individu memahami kewajiban dan batasan perannya secara sahih, maka komitmen dalam membangun keluarga yang benar akan tumbuh dengan sendirinya.

Lebih dari itu, edukasi yang terintegrasi dan komprehensif melalui sistem pendidikan serta media informasi resmi negara dalam naungan penerapan Islam secara kaffah sebab hanya hal inilah yang akan menjamin lahirnya ketahanan keluarga yang kokoh. Bukan hanya menguatkan fungsi perlindungan, tetapi juga menjadi tembok yang efektif dalam mencegah kekerasan dalam rumah tangga yang hari ini kian mengkhawatirkan.

Perlindungan dalam Islam meliputi fisik, psikis, intelektual, moral, ekonomi, dan lainnya. Hal ini dijabarkan dalam bentuk memenuhi semua hak-haknya, menjamin kebutuhan sandang dan pangannya, menjaga nama baik dan martabatnya, menjaga kesehatannya, memilihkan teman bergaul yang baik, menghindarkan dari kekerasan, dan lain-lain.Dalam Islam, terdapat tiga pilar yang berkewajiban menjaga dan menjamin kebutuhan anak-anak.

Pertama, keluarga sebagai madrasah utama dan pertama. Ayah dan ibu harus bersinergi mendidik, mengasuh, mencukupi gizi anak, dan menjaga mereka dengan basis keimanan dan ketakwaan kepada Allah Taala.

Kedua, lingkungan. Dalam hal ini masyarakat berperan dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang anak. Masyarakat adalah kontrol sosial perilaku anak dari kejahatan dan kemaksiatan. Dengan penerapan sistem sosial Islam, masyarakat akan terbiasa melakukan amar makruf nahi mungkar kepada siapa pun. Budaya amar makruf inilah yang dihilangkan dalam sistem sekuler kapitalisme.

Ketiga, negara sebagai peran kunci mewujudkan sistem pendidikan, sosial, dan keamanan dalam melindungi generasi.

Sebagaimana Firman Allah dalam Q.S. At-Tahrim [66]: 6 bahwa setiap mukmin aga menjaga diri dan keluarganya dari siksa api neraka juga mengisyaratkan kewajiban yang melekat pada negara sebagai pelindung rakyat untuk menghadirkan sistem yang menopang ketahanan dan keselamatan keluarga. Hal ini dipertegas oleh hadis Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam

โ€œSetiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnyaโ€ (HR. Bukhari dan Muslim), yang menyiratkan bahwa tanggung jawab perlindungan dan pendidikan dalam keluarga merupakan amanah yang tidak hanya bersifat individual, tetapi juga struktural. Seluruh prinsip ini selaras dengan maqashid syariah, khususnya dalam menjaga keturunan (hifz al-nasl) dan mewujudkan kemaslahatan serta kesejahteraan umat.

Selain itu fungsi negara juga memberikan pemenuhan kebutuhan berupa sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan setiap anak. Negara juga menerapkan sistem sanksi Islam. Sepanjang hukum Islam ditegakkan, kriminalitas jarang terjadi. Ini terjadi karena sanksi Islam memberi efek jera bagi pelaku sehingga tidak akan ada cerita kasus kejahatan atau kekerasan berulang terjadi. Wallahu โ€˜alam Bishawab

Mengapa Arus Banjir Tidak Boleh ‘Menghentikanmu’?

Oleh: Hadi Irfandi
Mahasiswa Pendidikan Agama Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Dibalik cerita banyaknya Daerah Aliran Sungai (DAS) yang rusak serta area hutan yang semakin menggundul ketika peristiwa Banjir Sumatera di penghujung 2025 ini, banyak pula orang yang kemudian harus memulai langkah baru menghadapi konsekuensi dari sesuatu yang tidak pernah mereka minta. Tantangannya bukan hanya ekonomi, tetapi juga mental. Butuh dorongan kuat untuk kembali berdiri setelah semuanya tersapu bersih tak bersisa.

Ketika hidup menjadi anjlok ke titik minus, perasaan takut dan putus asa kerap muncul. Tidak mudah menenangkan diri ketika masa depan seperti kabur. Saat genangan air mulai surut, kebingungan baru justru datang: bagaimana menafkahi keluarga dalam kondisi serba terbatas? Harus diakui, tidak ada yang benar benar siap berhadapan dengan kondisi sengsara seperti ini. Namun balik lagi, manusia selalu punya pilihan, memilih berhenti atau bangkit.

Lalu, bagaimana Islam mengajarkan manusia untuk menemukan cahaya harapan ketika semua tampak gelap?

Sebelum kita sampai pada jawabannya, penting juga untuk diketahui dulu bahwa kesedihan adalah bagian dari desain Allah Subhanahu wa Ta’ala. ke dalam diri kita manusia, sama wajarnya dengan rasa senang, atau takut terhadap sesuatu yang berbahaya. Wajar jika kita bersedih karena tertimpa musibah, atau orang terdekat kita yang tertimpa. Namun perlu diingat juga bahwa upaya pemenuhannya pun harus sesuai buku panduan dari-Nya.

Sabda Nabi Shalallahu alaihi wa Sallam

โ€œBarang siapa yang merasa bergembira karena amal kebaikannya dan sedih karena amal keburukannya, maka ia adalah seorang yang beriman.โ€(HR Tirmidzi).

Maksudnya, Islam mengajarkan pada kita bahwa memberi batas pada sesuatu, tidak selalu buruk. Terutama saat kita mengekspresikan rasa sedih. Hendaklah ia juga dijadikan sarana untuk menghitung kembali amal ibadah yang sudah kita perbuat selama ini.

Coba bayangkan bila kesedihan hanyalah sekedar diisi dengan berlarut larut menyalahkan diri sendiri apalagi sampai merasa diri tidak berguna sama sekali? Tentunya akan membawa kita kepada lingkaran setan yang tak berujung dan juga melakukan hal hal yang merusak diri seperti terlalu lama kehilangan semangat hidup, terus menerus mengutuk sang Pencipta dengan sumpah serapah, atau bahkan melakukan bunuh diri. Naudzubillahi min dzaalik.

Syaikh Taqiyuddin an Nabhani dalam kitabnya Nizhamul Islam telah menegaskan bahwa Islam tidak membiarkan perasaan hati menjadi satu satunya kompas moral. Supaya seseorang tidak menganggap bahwa keimanan dapat dicapai lewat imajinasi keliru yang senantiasa ditolak oleh iman yang lurus.

Sesungguhnya kata-kata sedih, dalam Al-Qur’an tidaklah datang kecuali dalam konteks larangan atau kalimat negatif yang berarti peniadaan. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.โ€ (TQS. Yusuf ayat 87).

atau ayat:

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (TQS. Ali ‘Imran ayat 139).

Saat duka menahan langkah dan meredupkan semangat, sebenarnya kita sedang memberi ruang terlalu besar bagi duka untuk berakar. Kelamaan terjebak di dalamnya justru tidak membawa kita kemana mana. Padahal manusia tidaklah dapat kembali ke masa lalu kemudian membuat coretan menjadi kembali utuh bak kertas putih. Waktu yang sedang dilaluinya lah yang seharusnya dijadikan momentum “ambil alih kemudi” agar tetap di jalurnya.

Darimana kita memulai langkah baru?

Bagaimana cara menggunakan waktu, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah jauh jauh hari mewanti-wanti kita semua :

โ€œDemi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.โ€ (TQS Al-โ€™Ashr: 1โ€”3).

Selain untuk menunjukkan keagungan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga hendak menekankan betapa pentingnya sesuatu yang Dia gunakan dalam Al-Qur’an, untuk bersumpah. Salah satunya adalah waktu.

Jika kita bingung kemana arah melangkah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan dalam banyak ayat bahwa hanya Dia lah satu-satunya sumber datangnya rezeki. Sedangkan kita hanya diperintahkan untuk meletakkan diri pada keadaan yang membuka peluang rezeki seperti menjadi pedagang barang atau menawarkan jasa dan wajib melalui cara yang halal.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.” (TQS. Surat An-Nisa ayat 129).

Artinya, tidak boleh seseorang memiliki suatu rezeki kecuali dengan sebab-sebab yang dibenarkan oleh syara’, karena itulah rezeki yang halal.

Penutup

Dalam pandangan Islam, bangkit bukan sekadar melanjutkan hidup, tetapi kembali ke arah yang benar dengan langkah yang jelas. Proses ini menuntut kemantapan iman, kesabaran, dan kesadaran diri agar tidak terjebak putus asa, bersamaan dengan tetap menata prioritas hidup, memperbaiki hubungan sosial yang menumbuhkan tanggung jawab sambil memastikan semuanya sejalan dengan koridor syari’at.

Sistem Mitigasi Lemah, Bukti Pemerintah Lengah

Oleh: Najma Syarifah

Bencana longsor terjadi di Jawa Tengah, seperti Cilacap, di Desa Cibeunying Kecamatan Majenang pada Kamis (Mongabay.co.id 13/11/ 2025) hingga Selasa (18/11/2025) data menyebutkan, 16 korban tewas berhasil dievakuasi dan 7 korban lainnya masih dalam tahap proses pencarian. Sementara di Banjarnegara, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum mengalami kasus serupa yakni terjadinya longsor pada minggu (16/11/2025) sore hari.

Terjadinya bencana ini menyebabkan dua korban tewas dan 800 warga mengungsi. Pakar geologi Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Indra Permanajati mengungkap bahwa longsor yang terjadi di Pandanarum hampir sama dengan di Cibeunying. Selisihnya di Pandanarum yang terjal menjadi faktor dominan. Di cibeunying air tanah dan curah hujan di kawasan hutan menjadi faktor pemicu utama terjadinya longsor tersebut.

Terjadinya bencana longsor, tepatnya di Jawa Tengah merupakan masalah serius yang harus ditindaklanjuti oleh pemerintah, terlebih lagi dalam masalah pembangunan itu sendiri. Pasalnya, dalam pembangunan suatu wilayah, tata ruang hidup merupakan hal yang harus diperhatikan. Artinya, untuk mewujudkan pembangunan yang berjangka panjang dibutuhkan pengaturan pemanfaatan ruang dengan baik. Namun, hal ini hanya dapat diwujudkan dengan melakukan perencanaan dan strategi penataan tata ruang secara maksimal sehingga tujuan pembangunan tersebut akan terwujud.

Selain itu, dalam pelaksanaan strategi penataan ruang, diperlukan untuk memperhatikan beberapa pertimbangan, salah satunya memperhatikan kondisi wilayah yang rawan bencana. Penataan ruang pada kawasan rawan bencana diperlukan penataan ruang yang berbasis mitigasi bencana tanah, dengan tujuan untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan kehidupan sehari-hari. Banyak bencana seperti longsor di Cilacap dan Banjarnegara menunjukkan akibat kesalahan dalam mengolah tata ruang hidup dan lingkungan.

Dari sekian banyaknya bencana, selayaknya bagi pemerintah untuk melakukan penanganan bencana secara cepat tanggap sehingga dampak yang ditimbulkan oleh bencana tersebut tidak menelan banyak korban. Akan tetapi justru sebaliknya, pemerintah yang seharusnya menjadi penanggung jawab penanganan bencana tidak serius menyiapkan kebijakan yang kuratif dalam permasalahan mitigasi bencana tanah liat bahkan penanganan bencana yang diberikan oleh pemerintah sangat lamban, yang menunjukkan akan lemahnya sistem mitigasi baik pada tatanan individu, masyarakat, dan negara.

Hal ini berbeda dalam Islam. Islam memandang permasalahan bencana ini dengan dua dimensi, yakni ruhiyah dan siyasiyah. Adapun dimensi ruhiyah, merupakan dimensi yang berhubungan mengenai pemaknaan bencana sebagai kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan dimensi yang merupakan dimensi terkait kebijakan tata kelola ruang dan mitigasi bencana. Mengenal dimensi ya, Islam telah memberikan edukasi kepada umat dengan cara memahamkan ayat-ayat Allah dan hadis rasul terkait bencana akibat ulah tangan manusia, merusak alam itu dosa dan membahayakan lingkungan hidup.

Selain itu, negara dalam Islam akan serius dalam menyiapkan kebijakan yang preventif dan kuratif dalam mitigasi bencana dengan cepat tanggap dalam rangka menjaga keselamatan jiwa rakyatnya. Tidak hanya itu, dalam Islam pemerintah akan bertanggung jawab memberikan bantuan yang layak dan pendampingan dan penelitian hingga masyarakat yang tertinggal bencana mampu menjalani kehidupan dan normal seperti sediakala. Waallahu a’lam

Fenomena โ€œConfessโ€ dalam Perspektif Islam: Antara Menjaga Hati, Adab, dan Privasi Perasaan

Oleh: Rika Arlianti DM

Tren sosial media hari ini sering mendorong orang untuk confess, yakni mengakui perasaan kepada seseorang secara langsung atau publik. Bagi sebagian anak muda, hal ini dianggap sebagai bentuk keberanian. Namun, dalam perspektif Islam, pengungkapan perasaan kepada lawan jenis tidak hanya soal โ€œberani atau tidakโ€, tetapi menyentuh wilayah adab, menjaga diri, dan menghindari pintu kemudaratan.

Islam menawarkan sudut pandang yang lebih dalam, bahwa perasaan adalah amanah, dan cara kita mengekspresikannya pun diatur agar tetap menjaga kehormatan diri dan orang lain.

Dari sinilah muncul kelompok yang memilih untuk tidak confess. Bukan karena minder atau gengsi, tetapi karena mempertimbangkan etika dalam Islam. Dan pilihan ini sangat mungkin, bahkan lebih sesuai dengan nilai moral yang dianjurkan agama.

Menjaga Hati adalah Bagian dari Menjaga Diri

Dalam Islam, menjaga hati adalah bagian dari menjaga kehormatan. Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda:

โ€œKetahuilah, di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati.โ€ (HR. Bukhari & Muslim).

Hadis di atas menjelaskan bahwa hati adalah pusat dari segala perilaku manusia. Jika hati baik, maka seluruh tindakan tubuh akan baik; sebaliknya, jika hati rusak, seluruh tindakan tubuh juga akan rusak. Ini berarti kebaikan atau keburukan moral seseorang berasal dari hatinya, dan perlu dijaga dengan baik,

Mengungkapkan perasaan secara terbuka, apalagi di ruang publik atau tanpa tujuan yang jelas, berpotensi mengganggu ketenangan hati, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Bagi sebagian orang, memilih untuk tidak confess adalah cara untuk menjaga hati dari kegelisahan, fitnah, dan dinamika yang tidak perlu.

Islam Mengajarkan Adab Pergaulan yang Tidak Menimbulkan Fitnah

Allah Suubhanahu wa Taโ€™ala berfirman:

โ€œDan janganlah kalian mendekati zinaโ€ฆโ€ (QS. Al-Isra: 32).

Ulama menjelaskan bahwa โ€œmendekatiโ€ itu mencakup segala interaksi yang dapat membuka pintu fitnah. Entah dengan goda-godaan, isyarat perasaan, atau kedekatan emosional tanpa komitmen yang jelas.

Fenomena confess sering kali menempatkan dua orang dalam situasi canggung. Hubungan jadi ambigu, muncul rasa berdua yang tidak jelas, bahkan timbul kedekatan emosional yang rentan fitnah.

Banyak ulama menyebut keadaan seperti ini sebagai khathar al-qalb kondisi di mana hati menjadi rawan, bukan karena maksiat yang nyata, tetapi karena situasi yang membuka peluang ke sana.

Orang yang memilih anti-confess justru sedang menghindari pintu fitnah, bukan menahan sesuatu yang seharusnya diumbar.

Menjaga โ€œMaluโ€ (Hayฤโ€™) dan Kehormatan Diri

Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œMalu adalah bagian dari iman.โ€ (HR. Muslim)

Dalam Islam, malu bukan kelemahan, melainkan kualitas spiritual yang menjaga seseorang dari tindakan yang tidak semestinya. Bagi sebagian orang, confess kepada lawan jenis terasa tidak sesuai adab. Bisa memunculkan rasa canggung, membuka aib di masa depan, juga melanggar prinsip menjaga kehormatan.

Di sinilah แธฅayฤโ€™ berperan. Seseorang memilih diam bukan karena takut ditolak, tetapi karena ingin menjaga kehormatan diri dan hubungan sosialnya.

Bahkan Imam Nawawi menyebut hayฤโ€™ sebagai โ€œpenghalang dari segala keburukanโ€, termasuk tindakan spontan yang dapat menimbulkan malu atau penyesalan.

Privasi Perasaan adalah Bagian dari Menjaga Aib

Sabda Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, โ€œBarang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.โ€ (HR. Muslim).

Ulama memperluas makna โ€œaibโ€ tidak hanya pada dosa, tetapi juga segala perkara pribadi yang jika diumbar dapat memicu masalah di kemudian hari.

Mengungkapkan rasa suka kepada seseorang bisa menimbulkan cerita yang menyebar. Bisa diungkit teman sejawat, menjadi bagian โ€œaib sosialโ€, kemudian mempengaruhi reputasi dua belah pihak.

Banyak anak muda yang sekarang menyesal karena confess yang dulu dianggap lucu, menjadi bahan lelucon bertahun-tahun kemudian.

Memilih untuk tidak confess justru sering menjadi bentuk kedewasaan spiritual. Menahan diri dari hal yang tidak membawa maslahat.

Lebih Baik Diam daripada Confess

Diam bukan berarti tidak ada perasaan. Justru dalam Islam, diam sering dianggap lebih terhormat ketika belum waktunya. Para ulama dalam Adab al-Khitbah (etika menuju pernikahan) menekankan bahwa perasaan boleh tumbuh, tetapi tidak dianjurkan untuk diungkapkan tanpa tujuan serius. Interaksi sebaiknya dijaga hingga ada niat yang matang.

Jika suatu hari ingin melangkah lebih jauh, Islam sudah menyiapkan jalur yang jelas, yakni taโ€™aruf, khitbah, lalu pernikahan. Bukan confess tanpa arah yang hanya menambah rumit pergaulan.

Tidak Confess Adalah Pilihan yang Sah

Fenomena confess yang sedang FYP boleh saja menjadi hiburan. Tetapi tidak semua orang merasa cocok, dan dalam Islam, tidak semua hal yang viral patut diikuti.

Memilih untuk menjaga perasaan, menghindari fitnah, mempertahankan hayฤโ€™, menghormati pergaulan, dan menjaga privasi, bukan tanda ketakutan atau kurang percaya diri.

Sering kali, itu adalah bentuk ketaatan, kedewasaan, dan pemahaman terhadap adab dalam Islam. Sudah sepatutnya muslim dan muslimah merasa bangga karena tidak pernah confess, sebab itu wajar. Bahkan ia berhasil menjaga sesuatu yang sangat dihargai dalam agama; kehormatan diri dan ketenangan hati.