Refleksi tentang Fenomena “Confess Culture” dan Kenyamanan dalam Merawat Perasaan

Oleh: Rika Arlianti DM

Di tengah arus cepat media sosial hari ini, kita hidup dalam budaya yang mendorong manusia untuk menjadi semakin terbuka, semakin berani, semakin spontan. Kita didorong untuk mengungkapkan apa pun yang kita rasakan. Entah dari keresahan, pendapat, hingga perasaan paling personal.

Salah satu fenomena yang makin sering muncul adalah ajakan confess, ungkapkan perasaanmu, beritahu orang yang kamu suka, jangan biarkan kesempatan berlalu begitu saja.

Tren ini muncul dalam banyak bentuk. Seperti video yang mengajak untuk “coba chat orang yang kamu suka”, template Instagram yang memicu orang untuk jujur, sampai konten motivasi yang mengatakan bahwa menyimpan perasaan sama saja dengan menyiksa diri sendiri. Narasinya sederhana, “Kalau kamu benar-benar suka, katakan saja”.

Namun, tidak semua orang melihat dunia dengan kacamata yang sama. Ada orang yang tidak merasa harus dan tidak ingin ikut dalam gelombang itu. Ada yang justru menemukan ketenangan dengan menahan diri, menjaga perasaan tetap pribadi, dan membiarkan hubungan berjalan tanpa pengakuan dramatis. Saya adalah salah satu dari mereka.

Esai ini adalah refleksi dari posisi itu. Bukan untuk membantah, bukan untuk menasihati, tetapi untuk menata ulang ruang bagi mereka yang memilih diam sebagai bentuk kendali, bukan ketakutan.

Ketika Tidak Semua Perasaan Harus Dipertontonkan

Saya tidak pernah confess. Bukan karena gengsi atau takut ditolak. Bukan juga karena saya melambungkan ekspektasi terlalu tinggi. Alasannya sederhana karena menurut saya, confess bukan sesuatu yang penting.

Saya bukan orang yang mudah tertarik pada siapapun. Penampilan, kesan pertama, atau interaksi singkat jarang sekali cukup untuk membuat saya tertarik. Saya lebih peka terhadap energi seseorang, kenyamanan ketika berbicara, atau konsistensi yang mereka tunjukkan dari waktu ke waktu. Dan karena ketertarikan saya tumbuh perlahan, saya tidak merasa perlu terburu-buru mengakuinya.

Ada orang yang meyakini bahwa perasaan harus segera disampaikan agar tidak menyesal. Saya mengerti itu, tapi saya tidak merasa cara itu cocok untuk saya. Justru karena perasaan itu berharga, saya memilih berhati-hati menempatkannya. Bukan untuk dipamerkan, bukan untuk diumbar, bukan untuk mengejar kepastian instan.

Hubungan yang Natural adalah Ruang Aman Saya

Ada satu hal yang selalu saya hindari, yakni ke-canggung-an. Bagi saya, dinamika yang nyaman antara dua orang bisa retak hanya karena satu kalimat, “Aku suka kamu”. Sederhana, tetapi efeknya panjang.

Saya tidak ingin percakapan yang tadinya santai berubah menjadi serba salah. Tidak ingin pandangan seseorang ke saya berubah setelah tahu saya punya rasa. Tidak ingin gesture kecil tiba-tiba punya makna baru. Dan terutama, saya tidak ingin kehilangan kebebasan menjadi diri sendiri hanya karena sebuah pengakuan yang seharusnya bisa saya simpan.

Bagi saya, hubungan yang natural jauh lebih berharga daripada kejelasan yang dipaksakan. Saya tidak terganggu dengan kedekatan tanpa definisi. Selama interaksinya bermanfaat, jujur, dan saling menghargai, itu sudah cukup.

Anti-Confess Bukan Penghindaran tapi Konsistensi

Dari penjelasan saya sebelumnya, sepertinya sudah sangat jelas bahwa saya termasuk tipe anti-confess. Saya tidak menganggap confess sebagai langkah wajib. Saya tidak melihatnya sebagai keberanian yang heroik. Bahkan, dalam banyak kasus, saya merasa confess bisa menjadi pintu menuju situasi yang tidak saya inginkan. Salah satunya, aib.

Sudah bukan rahasia lagi, kalau di dunia ini ada beberapa orang yang suka membicarakan hal-hal yang seharusnya tidak perlu dibicarakan. Pengakuan perasaan, ketika tidak dijaga, bisa berubah menjadi bahan cerita yang tidak menyenangkan. Dan saya ingin menjaga diri dari itu.

Ada kebanggaan tersendiri ketika menyadari bahwa tidak seorang pun tahu siapa yang pernah saya sukai. Tidak ada rekam jejak. Tidak ada chat masa lalu yang bisa diungkit. Tidak ada cerita yang bisa disalahartikan.

Perasaan saya bersih dari publikasi yang tidak perlu. Bagi saya, itu sebuah kemenangan kecil.

Budaya Confess yang Kadang Memaksa

Fenomena confess culture yang viral sekarang, terasa seolah semua orang harus berani. Seolah diam adalah pengecut. Seolah mengaku adalah satu-satunya cara valid untuk memulai hubungan. Padahal hidup tidak sesederhana itu.

Orang punya dinamika masing-masing. Ada yang nyaman dalam kepastian cepat, ada yang nyaman dalam proses yang lambat. Ada yang bahagia setelah confess, ada juga yang kehilangan hubungan berharga karenanya. Ada yang butuh validasi, ada yang cukup dengan perasaan yang disimpan rapat-rapat.

Ketika Diam Bukan Kelemahan, Tetapi Cara Merawat Diri

Saya belajar bahwa diam bukan tanda tidak peduli. Diam bukan bukti tidak berani. Tapi diam adalah cara saya mencintai diri sendiri dengan memberikan ruang untuk merasa, tanpa harus mempertanggungjawabkannya pada orang lain.

Diam berarti memilih kenyamanan daripada drama, memilih hubungan daripada risiko canggung, memilih privasi daripada pengakuan, memilih stabilitas emosional daripada ketergesaan. Diam adalah cara saya menghormati perasaan saya sendiri.

Semua Orang Punya Ritme Emosinya Masing-Masing

Tidak ada salahnya confess. Tidak ada salahnya diam. Yang salah adalah menganggap salah satu harus berlaku untuk semua orang.

Di era yang memaksa kita untuk cepat dan terbuka, memilih untuk menjaga perasaan tetap pribadi adalah tindakan yang berani. Bukan berani seperti yang dipahami media sosial, tapi berani mempertahankan kenyamanan dan integritas diri sendiri. Sebab tidak semua perasaan harus diumbar agar dianggap nyata. Ada yang justru tumbuh lebih sehat ketika dijaga dan didekap dalam diam.

Komandan Milisi Pro-Israel di Gaza Tewas, Hamas Sebut “Akhir yang Tak Terelakkan bagi Para Penghianat”

GAZA (jurnalislam.com)– Milisi Pasukan Populer yang dikenal pro-Israel di Jalur Gaza mengonfirmasi kematian komandan mereka, Yasser Abu Shabab, pada Kamis (4/11/2025). Kelompok itu menyatakan Abu Shabab meninggal akibat luka tembak yang dideritanya saat “menjalankan tugas di lapangan” ketika berusaha mendamaikan perselisihan internal antara anggota keluarga Abu Suneimah.

Kelompok tersebut menepis laporan yang menyebutkan bahwa Abu Shabab dibunuh oleh Hamas. Mereka menegaskan klaim itu tidak benar dan menyindir bahwa Hamas “terlalu lemah untuk menargetkan komandan umum dan para rekannya”.

Abu Shabab dikenal sebagai salah satu tokoh yang paling menonjol terkait kolaborasi dengan Israel selama invasi darat ke Rafah pada 2024. Milisinya beroperasi di wilayah Rafah timur yang berada di bawah kontrol penuh pasukan Israel. Banyak warga Palestina menuduh kelompok itu bekerja sama dengan Israel dalam berbagai operasi keamanan, termasuk penjarahan bantuan kemanusiaan serta misi yang memfasilitasi serangan militer Israel.

Dalam pernyataan duka cita, Pasukan Populer menyebut Abu Shabab sebagai “komandan umum” mereka di Gaza, dan bersikeras bahwa kematiannya murni akibat luka dalam bentrokan lokal, bukan karena operasi Hamas.

𝗛𝗮𝗺𝗮𝘀 𝗦𝗮𝗺𝗯𝘂𝘁 𝗞𝗲𝗺𝗮𝘁𝗶𝗮𝗻 𝗔𝗯𝘂 𝗦𝗵𝗮𝗯𝗮𝗯

Sementara itu, Hamas mengeluarkan pernyataan terpisah yang menyambut kematian Abu Shabab. Gerakan itu menyebutnya sebagai “kolaborator pendudukan” dan menegaskan bahwa akhir semacam itu adalah “nasib tak terelakkan bagi siapa pun yang mengkhianati rakyat dan tanah airnya”.

Hamas menuduh Abu Shabab dan kelompoknya melakukan “tindakan kriminal” yang menyimpang dari tatanan nasional dan sosial. Gerakan tersebut juga memuji klan dan keluarga lokal yang sebelumnya telah berlepas diri dari Abu Shabab dan para pengikutnya.

Menurut Hamas, bergantungnya Israel pada “geng-geng yang secara sosial dan moral telah jatuh” menunjukkan “impotensi” Israel dalam menghadapi perlawanan Palestina. Mereka menambahkan bahwa Israel “tidak mampu melindungi para kolaboratornya, apalagi agen-agen lainnya”.

𝗟𝗮𝗽𝗼𝗿𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗹𝗶𝗻𝗴 𝗕𝗲𝗿𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗦𝗼𝗮𝗹 𝗣𝗲𝗻𝘆𝗲𝗯𝗮𝗯 𝗞𝗲𝗺𝗮𝘁𝗶𝗮𝗻

Berbagai laporan muncul terkait kondisi yang mengakibatkan tewasnya Abu Shabab. Media Israel melaporkan bahwa ia meninggal dalam keadaan yang tidak jelas di utara Rafah, sebagian mengaitkannya dengan perselisihan internal antar keluarga setempat.

Radio Angkatan Darat Israel menyebut kejadian itu sebagai pembunuhan oleh orang-orang bersenjata. Sementara Channel 14 menyatakan bahwa salah satu anggota kelompok Abu Shabab, yang baru bergabung beberapa hari sebelumnya, melepaskan tembakan dalam sebuah konfrontasi.

Ia dilaporkan dibawa ke Rumah Sakit Soroka di Beersheba, yang kemudian mengonfirmasi bahwa Abu Shabab tiba dalam keadaan tidak bernyawa.

𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗞𝗿𝗶𝗺𝗶𝗻𝗮𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗨𝗽𝗮𝘆𝗮 𝗥𝗲𝗸𝗿𝘂𝘁𝗺𝗲𝗻

Laporan lokal menyebut Abu Shabab memiliki riwayat kriminal, termasuk kasus narkoba dan pencurian. Ia sempat dipenjara oleh otoritas Gaza sebelum melarikan diri ketika Israel menyerang fasilitas penahanan.

Setelah itu, ia membangun kembali jaringannya di Rafah dan berusaha merekrut warga Palestina sebagai alternatif Hamas. Faksi-faksi perlawanan berkali-kali menuduhnya memberikan dukungan intelijen dan operasional kepada Israel, termasuk dalam operasi yang berujung pada penangkapan maupun pembunuhan terarah terhadap para pejuang. (Bahry)

Sumber: TNA

Sumantri Bantah Audit Internal PBNU Singgung Fraud dan TPPU, Sebut Hasil Audit Dipelintir

JAKARTA (jurnalislam.com)– Bendahara Umum PBNU, Sumantri Suwarno, kembali memberikan penjelasan terkait polemik dokumen audit internal PBNU yang beredar luas dan memicu tuduhan adanya penyimpangan tata kelola keuangan organisasi, termasuk isu dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Sumantri menegaskan bahwa auditor yang melakukan pemeriksaan terhadap keuangan PBNU tidak pernah menyimpulkan adanya pelanggaran hukum apa pun.

“Audit umum itu tidak memberikan opini, misalnya terjadinya salah tata kelola, terjadinya fraud, apalagi indikasi TPPU. Itu bukan ranah auditor,” jelasnya pada Selasa (2/12/2025).

Ia juga mengungkapkan bahwa auditor dari kantor akuntan publik yang menangani pemeriksaan tersebut kini memilih mundur karena hasil kerja mereka dianggap telah dipelintir oleh pihak tertentu.

“Auditor mengatakan mengundurkan diri karena mereka merasa apa yang mereka hasilkan sudah dikutip dan dimanipulasi sedemikian jauh untuk menimbulkan framing yang salah,” ujarnya.

Menurut Sumantri, kondisi ini berpotensi memberikan dampak buruk terhadap tata kelola PBNU di masa depan.
“Ini menjadi berita buruk karena nanti ke depan auditor-auditor lain jadi takut melakukan audit terhadap PBNU,” tuturnya.

Sebelumnya beredar dokumen audit internal PBNU tahun 2022 yang disebut mengungkap adanya dugaan penyimpangan serius dalam pengelolaan keuangan organisasi. Dokumen tersebut menyoroti aliran dana Rp100 miliar yang masuk ke salah satu rekening Bank Mandiri atas nama PBNU, serta menyebut adanya indikasi TPPU yang dikaitkan dengan transaksi tersebut.

Sumantri menegaskan bahwa informasi yang beredar telah melenceng jauh dari fakta hasil audit resmi dan meminta semua pihak untuk lebih cermat dalam menilai isu yang berkembang.

Sumber: NU online

PBNU Akui Dana Rp100 Miliar Masuk dari Terpidana Korupsi Mardani Maming

JAKARTA (jurnalislam.com)– Bendahara Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Sumantri Suwarno, memberikan klarifikasi terkait polemik aliran dana organisasi, khususnya transaksi sebesar Rp100 miliar yang tercatat masuk ke rekening PBNU pada tahun 2022.

Sumantri menegaskan bahwa transaksi tersebut benar adanya dan sejak awal telah dicatat secara resmi oleh staf keuangan PBNU.

“Dana Rp100 miliar itu memang masuk. Tidak pernah ditutupi. Staf keuangan sejak awal mengetahui dan telah saya minta untuk mendokumentasikannya,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip dari NU Online, Selasa (2/12/2025).

Ia menyampaikan bahwa dirinya telah mengantisipasi potensi polemik karena situasi hukum yang melibatkan Bendahara Umum PBNU saat itu, Mardani H. Maming.

“Saya sebenarnya sudah memperkirakan hal seperti ini. Kita tahu kasus hukum yang sedang menjerat Bang Maming,” katanya.

Menurut Sumantri, PBNU harus berhati-hati sejak dana tersebut masuk agar tidak menimbulkan tafsir negatif yang dapat merugikan lembaga.

“Kita analisis agar tidak muncul opini publik yang dapat berpengaruh buruk terhadap NU,” jelasnya.

Ia juga menepis dugaan bahwa PBNU terlibat dalam perkara korupsi yang menyeret Maming.
“PBNU secara institusi tidak terlibat. Bahkan dalam konteks penggalangan dananya pun tidak,” tegasnya.

Sumantri mengungkapkan bahwa sebagian besar dana itu kemudian diminta untuk ditarik kembali oleh pihak Maming dan hal tersebut telah diakui secara langsung.

“Kami meminta Bang Maming menarik sebagian dana itu karena akhirnya tidak disumbangkan. Ada proses pengembalian dan pihak mereka mengakuinya,” ujarnya.

Ia juga mempertanyakan motif pihak-pihak yang mendadak mengangkat isu tersebut sampai mengaitkannya dengan dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU).
“Beberapa orang tiba-tiba membesar-besarkan isu TPPU. Pertanyaannya, apakah mereka benar ingin menjaga NU atau justru memakai isu ini untuk kepentingan pertarungan saat ini?” tuturnya.

Selain dana Rp100 miliar, sejumlah dokumen yang beredar turut menyeret PBNU dalam kegiatan AKN NU, R20, dan Harlah Satu Abad PBNU. Sumantri menegaskan bahwa Harlah justru menjadi salah satu kegiatan dengan laporan keuangan paling rapi.

“Harlah itu acara terbesar PBNU. Sukses, laporannya lengkap, dan saldonya jelas. Tidak ada masalah tata kelola,” ucapnya.

Sumantri menutup dengan imbauan agar berbagai pihak berhati-hati dalam menyebarkan isu yang berpotensi mencoreng nama besar NU.

“Saya berharap semua lebih cermat demi menjaga kehormatan Nahdlatul Ulama,” pungkasnya.

Sumber: NU Online

Kemenkes Gaza: 6.000 Warga Alami Amputasi Akibat Serangan Israel, Anak-Anak 25 Persen dari Korban

GAZA (jurnalislam.com)– Kementerian Kesehatan Gaza mengumumkan bahwa sedikitnya 6.000 warga telah mengalami amputasi anggota tubuh akibat agresi militer Israel, dan seluruhnya membutuhkan rehabilitasi jangka panjang. Peringatan ini disampaikan dalam rangka Hari Internasional Penyandang Disabilitas pada Rabu (3/12/2025).

Dalam pernyataannya, Kementerian Kesehatan menyebut situasi amputasi di Gaza sebagai kondisi yang “mengejutkan”, terutama karena 25 persen korban amputasi adalah anak-anak. Mereka kini menghadapi disabilitas permanen di usia dini, tanpa adanya layanan rehabilitasi yang memadai akibat hancurnya fasilitas kesehatan.

Ribuan warga sipil yang terluka dan keluarga para korban disebut mengalami “penderitaan kemanusiaan yang mendalam”, yang menegaskan perlunya rehabilitasi fisik jangka panjang serta layanan dukungan psikologis dan sosial.

Kementerian Kesehatan Gaza mendesak organisasi internasional, lembaga kemanusiaan, dan badan-badan kesehatan global untuk memprioritaskan penanganan korban amputasi di Gaza. Mereka juga meminta adanya penguatan akses terhadap program perawatan, prostetik, fisioterapi, dan layanan rehabilitasi khusus.

Menurut Kemenkes Gaza, dampak amputasi massal ini akan menjadi krisis kemanusiaan jangka panjang bagi ribuan keluarga, selama blokade dan serangan Israel terus menghalangi layanan kesehatan yang diperlukan. (Bahry)

Sumber: TRT

Hamas dan Jihad Islam Serahkan Jenazah Sandera Israel Sesuai Perjanjian Gencatan Senjata

GAZA (jurnalislam.com)– Kelompok perlawanan Palestina, Hamas dan Jihad Islam Palestina (PIJ), mengembalikan satu jenazah sandera Israel di Gaza utara pada Rabu (3/12/2025) sebagai bagian dari implementasi perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 10 Oktober lalu.

Militer Israel mengonfirmasi bahwa tim Palang Merah telah menerima peti jenazah tersebut dan sedang dalam perjalanan untuk menyerahkannya kepada pasukan Israel di Gaza. Penyerahan jenazah ini merupakan bagian dari mekanisme pertukaran yang telah disepakati dalam perjanjian gencatan senjata.

Namun Israel tetap bersikeras bahwa dua jenazah sandera lainnya masih berada di Gaza. Militer Israel mengklaim bahwa salah satu jenazah yang diserahkan Hamas sebelumnya bukan milik salah satu tawanannya, sementara jenazah lain yang diserahkan bukanlah jenazah baru melainkan milik tawanan yang sudah ditemukan terlebih dahulu.

Menanggapi perkembangan terbaru itu, faksi-faksi perlawanan Palestina menyerukan agar para mediator dan penjamin perjanjian gencatan senjata meningkatkan tekanan kepada Israel untuk memenuhi seluruh kewajibannya. Mereka menuntut pembukaan perlintasan perbatasan Rafah dari kedua arah, sebagaimana tercantum dalam perjanjian gencatan senjata dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803.

Pada hari yang sama, badan militer Israel COGAT yang mengawasi urusan kemanusia mengklaim bahwa perlintasan Rafah akan dibuka dalam beberapa hari ke depan untuk memungkinkan keluarnya warga Palestina, dengan koordinasi pihak Mesir.

Namun Mesir membantah klaim tersebut. Otoritas Kairo menegaskan bahwa pembukaan perbatasan hanya dapat dilakukan jika berlaku dua arah, sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam perjanjian gencatan senjata. (Bahry)

Sumber: TRT

Empat Tentara Israel Terluka dalam Bentrokan dengan Pejuang Hamas di Rafah

GAZA (jurnalislam.com)– Militer Israel menyatakan empat tentaranya terluka pada Rabu (3/12/2025) dalam bentrokan dengan pejuang Hamas di Jalur Gaza selatan, di tengah agresi yang terus berlangsung meski gencatan senjata masih diberlakukan.

Gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat dan mulai berlaku sejak 10 Oktober disebut masih sangat rapuh. Kantor media pemerintah Gaza menegaskan Israel melanggar gencatan senjata hampir setiap hari melalui serangan artileri dan serangan udara.

Dalam pernyataannya, militer Israel menyebut bahwa selama operasi di wilayah timur Rafah pada Rabu, pasukan mereka berhadapan dengan sejumlah pejuang Hamas “yang muncul dari infrastruktur bawah tanah”. Insiden tersebut terjadi di tengah intensitas serangan Israel dalam beberapa hari terakhir yang menewaskan sejumlah warga sipil, termasuk anak-anak.

“Dalam bentrokan itu, seorang prajurit tempur terluka parah, dua prajurit tempur lainnya dan seorang bintara mengalami luka sedang,” kata militer Israel. Para tentara tersebut telah dievakuasi ke rumah sakit dan keluarga mereka diberi pemberitahuan.

Sementara itu, sebuah sumber keamanan di Gaza mengatakan kepada AFP bahwa sekitar pukul 16.00 waktu setempat, terjadi “penembakan artileri yang sangat hebat dari kendaraan pendudukan di sebelah timur Rafah”, disertai tembakan intensif dari pesawat tempur. Sumber tersebut menambahkan, sebuah helikopter Israel juga terlihat mendarat di area tersebut.

Pada Ahad sebelumnya, militer Israel mengklaim telah menewaskan lebih dari 40 pejuang Hamas dalam operasi selama sepekan yang menargetkan jaringan terowongan di dekat Rafah. Puluhan pejuang Hamas diyakini masih berada di bawah kawasan yang kini dikuasai pasukan Israel.

Beberapa sumber menyebut kepada AFP bahwa negosiasi mengenai nasib para pejuang yang masih berada di jaringan terowongan Gaza selatan masih berlangsung. Seorang anggota terkemuka Hamas memperkirakan jumlah mereka antara 60 hingga 80 orang.

Agresi Israel yang berlanjut di Gaza telah menewaskan sedikitnya 70.117 warga Palestina, menurut data terbaru Kementerian Kesehatan Gaza. Sejak gencatan senjata berlaku, kementerian itu mencatat 360 warga Palestina tewas akibat tembakan Israel. Militer Israel, pada sisi lain, melaporkan tiga tentaranya tewas dalam periode yang sama. (Bahry)

Sumber: TNA

Trump Peringatkan Israel Agar Tidak Ganggu Stabilitas Suriah

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Israel agar tidak mengganggu stabilitas Suriah dan kepemimpinan barunya. Peringatan itu disampaikan melalui platform Truth Social pada Senin (1/12/2025), sesaat sebelum Trump melakukan pembicaraan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

“Sangat penting bagi Israel untuk mempertahankan dialog yang kuat dan jujur dengan Suriah, dan tidak ada yang terjadi yang akan mengganggu evolusi Suriah menjadi negara yang makmur,” tulis Trump, beberapa hari setelah operasi mematikan Israel di wilayah selatan Suriah.

Trump mengaku “sangat puas” dengan kinerja Suriah di bawah pemimpin barunya, presiden Islamis Ahmed al-Sharaa, yang melakukan kunjungan bersejarah ke Gedung Putih pada November lalu.

Menurut Trump, Sharaa “bekerja dengan tekun untuk memastikan perubahan positif terjadi, dan bahwa Suriah maupun Israel dapat membangun hubungan yang panjang dan sejahtera.” Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat “melakukan segala daya kami untuk memastikan Pemerintah Suriah terus berada di jalur yang dimaksudkan” dalam proses rekonstruksi negara tersebut.

Trump juga menilai hubungan baik antara Suriah dan Israel dapat mendukung upaya perdamaian kawasan yang lebih luas, terutama setelah gencatan senjata Gaza yang rapuh pada Oktober.

Presiden AS itu telah lama mendorong terciptanya pakta keamanan Israel–Suriah sejak koalisi Islamis pimpinan Sharaa menggulingkan Bashar al-Assad satu tahun lalu.

Namun ketegangan meningkat kembali setelah gelombang serangan Israel di Suriah. Dalam operasi paling mematikan sejauh ini, pasukan Israel dilaporkan menewaskan 13 orang pada Jumat lalu dalam serangan di Suriah selatan, dengan klaim menargetkan kelompok Islamis.

Enam tentara Israel turut dilaporkan terluka dalam baku tembak tersebut. Israel menyatakan bahwa mereka berupaya menangkap dua anggota organisasi al-Jama’a al-Islamiyya, dengan mengklaim memiliki intelijen bahwa kedua orang itu tengah merencanakan serangan terhadap Israel. (Bahry)

Sumber: TOI

Hamas Sampaikan Belasungkawa untuk Indonesia atas Bencana Banjir Sumatra

GAZA (jurnalislam.com)– Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) menyampaikan belasungkawa dan solidaritas mendalam kepada Republik Indonesia dan Kerajaan Malaysia atas bencana banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di kedua negara.

Dalam pernyataan resminya pada Rabu (3/12/2025), Hamas menyatakan duka cita yang tulus kepada masyarakat di Indonesia dan Malaysia yang kini menghadapi musibah banjir dengan dampak korban jiwa dan kerusakan luas.

“Kami menyampaikan belasungkawa dan simpati yang mendalam kepada negara-negara saudara kami, Republik Indonesia dan Kerajaan Malaysia, atas bencana banjir dahsyat yang melanda beberapa wilayah di kedua negara,” tulis Hamas dalam pernyataannya.

Hamas juga menegaskan solidaritas penuh kepada dua negara sahabat tersebut serta memanjatkan doa agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kekuatan dan ketabahan bagi para penyintas.

“Kami berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengampuni para korban, memberikan kesembuhan bagi mereka yang terluka, dan melindungi kedua negara dari segala bahaya dan musibah,” lanjut pernyataan itu.

Indonesia dan Malaysia dikenal sebagai negara yang secara konsisten menunjukkan dukungan moral dan kemanusiaan bagi rakyat Palestina, termasuk selama agresi Israel di Jalur Gaza.

Pernyataan belasungkawa ini disampaikan melalui situs resmi Gerakan Hamas sebagai bentuk perhatian terhadap bencana yang sedang menimpa masyarakat di Asia Tenggara.

Sebagai informasi tambahan, menurut data terkini dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), akibat banjir dan longsor di wilayah Sumatra terutama di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat korban meninggal tewas tercatat mencapai 753 jiwa, sementara warga terdampak tercatat sampai sekitar 3,3 juta orang.

Hamas Klaim Tewaskan Empat Mata-Mata Israel di Gaza Utara

GAZA (jurnalislam.com)– Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, pada Senin (1/12) mengumumkan bahwa pihaknya telah menewaskan empat orang yang diduga bekerja sebagai mata-mata bagi Israel di Gaza utara.

Dalam pernyataan resmi di kanal Telegram, Al-Qassam menyebut empat individu tersebut “beroperasi untuk musuh Israel” dan dituduh berusaha menculik seorang anggota Hamas sebelum akhirnya ditemukan dan “dieliminasi”.

“Empat mata-mata yang beroperasi untuk musuh Israel dan berusaha menculik seorang anggota Hamas telah dieliminasi di Gaza,” tulis pernyataan tersebut. Al-Qassam menambahkan bahwa senjata mereka berhasil disita, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai identitas para tersangka.

Hingga laporan ini diterbitkan, militer Israel belum memberikan komentar atas klaim Hamas tersebut.

Insiden ini menambah panjang daftar operasi kontra-intelijen di tengah perang yang telah berlangsung lebih dari dua tahun.

Sejak pecahnya agresi Israel pada Oktober 2023, Gaza mengalami kerusakan besar, dengan ribuan korban jiwa serta runtuhnya infrastruktur vital. Di tengah kekacauan itu, operasi intelijen dan kontra-intelijen disebut semakin intens, terutama di wilayah Gaza utara yang menjadi salah satu pusat pertempuran. (Bahry)

Sumber: TRT