Doa, Dzikir dan Sholawat Menggema di Aksi Midnight For Palestine

SOLO (jurnalislam.com)- Dewan Syariah Kota Surakarta kembali mengadakan acara solidaritas Palestina, kali ini acara tersebut dikemas dalam bentuk Midnight For Palestine. Acara tersebut diselenggarakan di Masjid Kotabarat, Laweyan, Ahad (29/10) dini hari.

Sebelumnya acara tersebut bakal digelar di pintu masuk Stadion Manahan, namun karena terkedala ijin maka dipindah di Masjid Kotabarat.

“Acara hari ini kita adakan malam, karena perangnya orang zionis Israel juga tidak hanya siang tapi juga malam hari. Maka hari ini kita juga berjuang untuk membela saudara di Palestina dengan doa, jangan remehkan dengan doa,”ujar Koordinator DRT DSKS, Ustadz Syhabuddin Abdul Muiz.

Dalam tausiahnya pimpinan Ponpes Isykarima tersebut meminta agar seluruh umat Islam memberikan doanya kepada saudara di Palestina.

“Saat ini kita mendoakan bangsa Indonesia dan Palestina. Kita akan terus berdoa setiap malam agar Palestina bisa memenangkan dan merdeka,”ungkapnya.

Dengan doa Sholawat Asyghil semoga saudara di Palestina tetap teguh kuat dan orang-orang yang memusuhi biar saling membunuh stres dan kaget.

Lanjut Ustadz Shyhab, maka wasilah membaca Al quran dan sholawat dulu juga dibaca para ulama dan santri di Indonesia saat melawan penjajahan. Para Ulama terus berdoa membaca shlawat asyghil dan para penjajah Belanda, Amereika dan Jepang saling serang dan hancur.

Bahkan doa itu menempati yang pertama dalam ibadah jihad fi sabilillah, karena inti semua amal adalah dzikir. Kegiatan Midnight For Palestine selain mendengarkan tausiah juga diisi dengan pembacaan al quran, dzikir, munajat dan tahajud.

Meski diselenggarakan dini hari antusias masyarakat dalam mengikuti cukup besar, hal ini juga dibuktikan dengan melubernya peserta hingga ke trotoar depan Masjid Kotabarat.

DSKS terus berkomitmen untuk memberikan dukungan kepada bangsa Palestina lewat aksi-aksi simpatik. Kedepan akan diadakaan acara dalam bentuk lain seperti konser Nasyid, acara di CFD ataupun membuat lukisan mural.

Ustadz Zaitun Rasmin Berharap Indonesia Pimpin Negara-Negara di Dunia dalam Memperjuangkan Palestina

JAKARTA (jurnalislam.com)– Ustaz Dr. KH. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., MA selaku Steering Commitee Aksi Damai Sumpah Pemuda Indonesia lawan Pembantaian di Palestina menegaskan bahwa yang kita lakukan hari ini adalah bentuk perlawanan terhadap kebiadaban Israel kepada Palestina.

“Kita berterima kasih kepada Allah, dan seluruh kita yang terlibat hari ini, sejenak eleman bangsa dari masyarakat hingga pihak keamanan. Kebiadaban dan kebrutalan Israel dan sekutu-sekutunya bisa kita lawan dari sini dengan perang narasi,” kata Ustaz Zaitun di hadapan satu juta lebih peserta aksi di depan Kedubes AS, Jakarta Pusat, Sabtu (28/10/2023).

Ustaz Zaitun Rasmin menyampaikan terima kasih kepada Gaza, kepada Palestina, dan para pejuang yang telah menjaga izzah Islam. Tidak takut kepada apapun yang dimiliki Zionis tak beradab.

“Jumlah yang hadir sekarang belum bisa kita hitung. Dari perhitungan kasar, insya Allah hadir 1 juta! Kita juga sampaikan hormat kepada Presiden dan Menlu RI yang dengan tegas tetap membela Palestina. Kita berharap Indonesia menjadi pemimpin negara Islam dan bangsa-bangsa di dunia untuk terus memperjuangkan Palestina,” pungkasnya.

Dalam Aksi Bela Palestina tersebut, turut hadir Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Ia mengatakan bahwa perjuangan para pejuang Palestina untuk mengabarkan kepada dunia bahwa Palestina masih ada. Bahwa Palestina harus dibebaskan. Seperti yang terjadi di Indonesia pada 1949, yakni perlawanan rakyat Indonesia kepada Belanda untuk mengabarkan pada dunia bahwa Indonesia masih ada.

“Penjajahan Israel terhadap Palestina mengabarkan kepada dunia bahwa mereka selalu melanggar hukum internasional. Sesungguhnya yang kita lakukan hari ini adalah melanjutkan yang telah dilakukan bapak-bapak bangsa kita. Mereka melakukan diplomasi dan penggalangan internasional. Ini juga yang harus kita lakukan sampai Palestina merdeka,” ujar Hidayat.

Ketua Koalisi Indonesia Bela Baitulmaqdis (KIBBM), Ustaz Bachtiar Nasir mengatakan, fokus aksi massa hari ini adalah untuk mendesak penghentian genosida di Palestina.

“Tuntutan yang paling utama adalah penghentian genosida kemanusiaan yang terjadi di Palestina. Begitu juga tuntutan khusus bahwa dunia internasional segera bergerak,” kata Ustaz Bachtiar Nasir.

Organisasi Kepemudaan diantaranya KAMMI, HMI, LIDMI, Prima DMI, Pemuda Al Irsyad, Pemuda Persis, Pemuda Wahdah dan Pemuda Hidayatullah, menyatakan tiga ikar Pemuda Indonesia atas Palestina yang dibacakan oleh Ahmad Afandi selaku ketua umum HMI.

“Ikrar Pemuda Indonesia, satu, Kami pemuda Indonesia menjunjung kemerdekaan Palestina, dua, Kami pemuda Indonesia memperjuangkan kedaulatan Palestina, tiga, Kami pemuda Indonesia menuntut keadilan bagi Palestina, empat, Kami pemuda Indonesia memuliakan kemanusiaan bangsa Palestina, takbir, takbir, merdeka,” tuturnya dengan suara lantang.

Lawan Pembantaian di Palestina, 1 Juta Massa Bela Palestina Padati Gedung Kedubes AS Jakarta

JAKARTA (jurnalislam.com)- Sekitar 1 juta lebih umat Islam Indonesia mengepung kedutaan besar Amerika Serikat di jalan Merdeka Jakarta Pusat sebagai bentuk protes terhadap Amerika atas bantuanya terhadap Israel dalam membantai rakyat Palestina, Sabtu (28/10/2023)

Aksi Damai Sumpah Pemuda Indonesia ini dilakukan oleh KIBBM bersama para tokoh dan masyarakat, sebagai bentuk dukungan kepada Palestina dan pelawanan terhadap Israel atas pembantaian yang dilakukan kepada penduduk di Gaza.

Hingga hari ini tercatat sekitar 7000 ribu lebih korban jiwa di Gaza yang mayoritas adalah anak-anak dan perempuan.

Sekjen MUI Pusat Buya Amirsyah dalam orasinya di hadapan seluruh peserta aksi menyampaikan bahwa Palestina adalah sama seperti tubuh kita.

“Ditubuh kita ini mengalir darah saudara-saudara kita di Palestina, karena itu kita tidak rela melihat saudara-saudara kita dizhalimi, dibantai dan ditindas oleh Israel,” ujarnya.

Ketua Koalisi Indonesia Bela Baitulmaqdis (KIBBM) KH. Bachtiar Natsir mengungkapkan data peserta aksi kita hari ini sekitar 1 juta orang lebih. UBN sapaan akrabnya menyerukan kepada para pemuda dan peserta aksi untuk terus menyuarakan pembelaan terhadap Palestina lewat media.

“Betapa banyak orang yang mati hari ini, jangan sampai kita juga menjadi pembunuh. Ketika melihat anak-anak Gaza sedang kelaparan, karena tidak membantu mereka disaat orang tua mereka telah mati. Wahai anak muda, jangan sampai kita berhenti berjuang. Walau mereka terus membungkam dan membatasi suara kita di media. Jadikan terus media kita sebagai senjata bagi kita semua,” terang UBN.

Selaku Stering Commite Aksi Bela Palestina, Kyai Zaitun Rasmin menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak baik dari keamanan TNI/PORLI serta seluruh peserta aksi yang telah tergerak untuk datang menyuarakan kemerdekaan dan lawan pembantaian di Palestina.

“Kita berterima kasih kepada Allah, dan seluruh kita yang terlibat hari ini, sejenak eleman bangsa dari masyarakat hingga pihak keamanan. Bahwa kebiadaban, penistaan Israel dan sekutu-sekutunya di Palestina, sesungguhnya bisa kita lawan disini, dengan perang opini dan dukungan kita. Tentu saja kita berterima kasih kepada pemerintah Indonesia yang terus konsisten mendukung kemerdekaan Palestina,” tegas Ustaz Zaitun.

Aksi Bela Palestina ini sengaja dilakukan di depan Kedubes AS, untuk menunjukkan kepada Amerika, bahwa rakyat Indonesia terus mendukung kemerdekaan Palestina, dan mendukung para pejuang Palestina dalam memperjaungkan kemerdekaan.

JSIT Jawa Tengah Adakan Olimpiade Sains dan Workshop Guru Pelatih OSN

SUKOHARJO (jurnalislam.com)- Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia Wilayah Jawa Tengah menyelenggarakan Olimpiade Sains 2023 dan Workshop Guru Pelatih OSN di Graha Yunita Kartasura, Sabtu (29/10/2023).

Kegiatan diikuti oleh 713 peserta, yang terdiri dari 524 peserta olimpiade dan 182 peserta Workshop Guru Pelatih OSN.

Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Siswa JSIT Jawa Tengah, Hendro Gunawan, S.Pd. dalam laporan panitia menyampaikan selamat datang kepada para peserta olimpiade dan workshop.

“Selamat datang ahlan wa sahlan kepada peserta lomba Olimpiade Sains dan Workshop Guru Pelatih OSN. Kami mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih atas antusiasme peserta,” sambut Hendro.

“Selamat berlomba penuh kegembiraan dan ukhuwah. Semoga kegiatan ini bermanfaat. Semakin memantik budaya berliterasi, berkompetisi, dan berprestasi untuk Sekolah-sekolah Islam Terpadu (SIT) di Jawa Tengah,” sambung Hendro.

Dalam sambutannya, Ketua JSIT Indonesia Wilayah Jawa Tengah, Zaenal Abidin, S.Pd. menyampaikan bahwa diperlukan sarana untuk berkompetisi secara sehat untuk mengukur kemampuan murid-murid dalam bidang pengetahuan masing-masing.

“Olimpiade Sains yang digelar oleh JSIT Jawa Tengah menjadi ajang silaturahmi sekaligus mengasah kemampuan murid-murid dalam bidang pelajaran/pengetahuan masing-masing. Khususnya dari Sekolah Islam Terpadu (SIT) yang ada di Jawa Tengah,” ucap Zaenal.

Ada dua mata olimpiade untuk jenjang SD yakni Matematika dan IPA. Adapun untuk jenjang ada tiga mata olimpiade, yakni Matematika, IPA, dan IPS.

Sementara untuk jenjang SMA ada sembilan mata olimpiade, yakni Astronomi, Biologi, Ekononi, Fisika, Geografi, Informatika, Kebumian, Kimia, dan Matematika.

Selain itu, para guru dari masing-masing SIT akan mengikuti Workshop Guru Pelatih Olimpiade bertajuk “Pembentukan Tim Olimpiade yang Solid, Produktif, dan Penuh Prestasi”.

“Kita berharap melalui Workshop ini akan menjadi pemantik di masing-masing Sekolah Islam Terpadu (SIT) memiliki Tim Olimpiade yang solid. Sehingga murid-murid SIT akan dapat perpartisipasi dan berprestasi dalam olimpiade maupun yang diselenggarakan oleh JSIT, dinas, maupun lainnya,” harap Zaenal.

Workshop Guru Pelatih OSN menghadirkan narasumber Faizul Munif, S.Si. Kepala SMAIT Al Irsyad Al Islamiyah Purwokerto. Sekolah yang sukses melahirkan murid-murid pemenang olimpiade. Nara sumber lainnya, Faisal Imam Prasetyo, S.Pd., Gr. salah satu Guru SMAIT Nur Hidayah Sukoharjo.

Aksi ASWAJA Surabaya, Ribuan Umat Muslim Mengecam Penjajahan Israel di Palestina

SURABAYA (jurnalislam.com)- Ribuan umat muslim dari berbagai elemen masyarakat dan organisasi yang tergabung dalam ASWAJA (Arek Surabaya Wani Jaga Al Aqsa) menggelar aksi bela Palestina, di Tugu Pahlawan Surabaya tepatnya didepan gedung Gubernur Jawa Timur jl. Pahlawan no. 110 kota Surabaya, pada Sabtu pagi (28/10/2023).

Aksi dimulai pukul 08.00 pagi diawali dengan long march ditengah kota Surabaya. Tampak peserta membawa bendera Palestina, poster, hingga spanduk berisi pembelaan dan dukungan bagi warga Palestina.

“Hari ini kita adalah pembela ummat Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam, membela saudara-saudara kita yang hari ini tertindas, mereka yang dijajah oleh teroris Israel, saudara-saudari kita yang hari ini diperlakukan dengan hina oleh Israel,” kata ustadz Hamzah Baya, M.Pd didalam orasinya.

Lebih lanjut ustadz Hamzah Baya mengatakan bahwa ASWAJA bersama-sama menyuarakan kepedulian mereka terhadap kesucian Al Aqsa dan menegaskan bahwa mereka tidak akan diam terhadap penindasan yang sedang terjadi di Palestina.

“Kami menunjukkan kepada dunia bahwa umat Islam adalah umat terkuat, umat Islam mempunyai kejayaan, dan hari ini kami melawan kekejaman Israel di Palestina. Yang bisa kami lakukan hanyalah mendoakan saudara-saudara kami,” tegasnya.

Mereka berharap bahwa upaya ini dapat menjadi pembelaan mereka di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam aksi ini tampak panitia juga menggalang donasi yang akan disumbangkan sebagai bukti komitmen mereka untuk melawan kekejaman Israel di Palestina.

“Hari ini kita membela saudara kita di Palestina meskipun dengan keringat, air mata, dan donasi yang sedikit, mungkin inilah yang akan bisa menjadi pembela kita dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah yang bisa menjawab bahwa hari ini kita tidak diam, tidak membisu, kita menjadi pembela saudara-saudara kita di Palestina,” pungkasnya.

Reporter: Bahri

Aksi Bela Palestina, Ketua Umum PP Lidmi Sebut Demokrasi dan HAM Telah Musnah di Tangan Amerika

JAKARTA (jurnalislam.com)– Ketua Umum Pimpinan Pusat Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (Lidmi), Asrullah, S.H., M.H. menyatakan bahwa dukungan Amerika dan negara-negara Eropa terhadap kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel adalah bukti telah musnahnya demokrasi dan HAM yang selalu digaungkan negara barat.

“Amerika dan negara-negara barat yang dikompori oleh Eropa yang selalu mengkampanyekan raja demokrasi dan Hak Asasi Manusia hari ini telah mati dan dusta karena perbuatan mereka”, kata Asrullah dihadapan satu juta lebih peserta aksi di depan Kedubes AS Jakarta, Sabtu (28/10/2023).

Asrullah menekankan bahwa memperjuangkan Palestina merupakan bagian dari jihad fii sabilillah umat Islam di Indonesia, sehingga ia menyeru umat islam Indonesia agar bersatu untuk tetap memperjuangkan Palestina.

“Palestina adalah tanah kita, Palestina adalah aqidah kita, dan Palestina adalah kebersamaan kita. Maka memperjuangkannya adalah bagian dari jihad fii sabilillah,” ucap Asrullah.

Menurut Asrullah, kehadiran dan berkumpulnya kaum muslimin hari ini adalah bentuk memenuhi panggilan moral, panggilan keagamaan dan panggilan dunia dan menegaskan kecaman kaum muslimin atas kejahatan kemanusian yang dilakukan Zionis Israel.

Kalau Bukan Jihad Apalagi? Bakti Santri Untuk Negeri

Budi Eko Prasetiya, SS
Manajer Griya Qur’an Al Hafizh Jember

Peringatan hari santri 2023 membawa tema “Jihad Santri untuk kejayaan negeri“. Tema Jihad Santri Jayakan Negeri diusung Kementerian agama untuk mengajak para santri berjuang membangun kejayaan negeri dengan semangat jihad.

Momentum ini perlu disyukuri sebagai bentuk pengakuan dan  apresiasi negara kepada jasa perjuangan dan pengorbanan para ulama dalam memobilisir rakyat Indonesia dan kaum santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Namun demikian, ini bukan alasan untuk berpuas diri dengan sekedar membanggakan sejarah lalu berdiam diri tanpa berusaha meneruskan perjuangan para pendahulu kita.

Al-Quran mengingatkan, _”Mereka itu adalah umat yang telah berlalu, bagi mereka pahala perbuatan mereka dan bagi kalian hasil jerih payah kalian. Kalian tidak akan ditanya tentang apa yang mereka kerjakan.”_  QS. Al-Baqarah: 134.

Sebagai generasi pewaris para ulama, kita wajib meneladani spirit jihad dan pengorbanan yang telah dicontohkan untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan dan menjaga kemuliaan agama. Yang selanjutnya ditransformasikan menjadi kiprah nyata yang bermanfaat luas sesuai potensi kebaikan yang telah Allah berikan.

Santri identik dengan jihad. Kita semua tahu bagaimana dahulu ulama dan santri berjuang melawan penjajah. Penuh dengan pengorbanan, tangisan dan darah. Hidup Mulia atau Mati Syahid !

Resolusi Jihad bukanlah slogan kosong. Ia berhasil menyalakan bara semangat di hati para santri yang khusyu’ dalam khidmat keilmuan di pesantren, lalu bertransformasi menjadi pejuang. Dengan azzam yang kuat, mereka meninggalkan halaman pesantren, menggantikan buku-buku dengan senjata, dan mengubah doa-doa menjadi gemuruh pekik perjuangan.

Semangat jihad santri tetap menjadi obor yang menerangi perjalanan bangsa. Di tengah derasnya arus globalisasi, santri tetap berdiri kokoh, menjadikan jihad sebagai landasan untuk mengisi kemerdekaan. Merefleksi tema Hari Santri tahun ini, kita diajak untuk mengambil inspirasi dari kiprah santri. Mereka telah memberikan contoh konkret bagaimana semangat jihad diwujudkan dalam bentuk kontribusi nyata bagi kemajuan negeri.

Sebagai generasi saat ini dan yang akan datang, kita memiliki tanggung jawab moral untuk melanjutkan estafet perjuangan santri. “Kalau Bukan Jihad Apalagi?!”

Kemarau Panjang, Warga Kota Cilegon Gelar Shalat Istisqa Minta Hujan

CILEGON (jurnalislam.com)- Musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia membuat kesulitan dan kekhwatiran warga, termasuk di Kota Cilegon Banten. Di beberapa wilayah di sekitar Kota Cilegon bahkan sangat sulit untuk mendapatkan air bersih.

Atas dasar itulah sejumlah warga di lapangan Arga Baja Pura, Masjid Ar Rohmah, Perumahan Arga Baja Pura, Gerogol, Cilegon, Banten melakukan shalat istisqa berdoa agar Alloh Subhanahu wa Ta’ala segera menurunkan hujan pada Ahad, (22/10/2023).

Ketua DKM Masjid Ar Rohmah Zamhari mengatakan bahwa di wilayahnya saat ini sudah sangat kesulitan untuk mendapatkan air, terutama kebutuhan air bersih.

“Kegiatan ini sebagai doa dan ikhtiar kita agar Alloh Subhanahu wa Ta’ala segera menurunkan hujan di Kota Cilegon khususnya, Indonesia umumnya. Di beberapa Kota Cilegon bahkan warga sangat kesulitan air bersih untuk kegiatan sehari hari,” katanya.

“Untuk warga yang berada di sekitar area Masjid Ar Rohmah juga stock air semakin menipis, tidak menutup kemungkinan kalau kemarau terus berkepanjangan maka air akan habis. Kami pun menghimbau kepada seluruh warga agar lebih hemat dan bijak lagi dalam penggunaan air untuk kebutuhan sehari-hari,” tambah Zamhari.

Sementara imam dan khatib shalat Istisqa Ustaz Ahmad Slamet Ibnu Syam dalam khutbahnya mengajak masyarakat untuk bertaubat atas dosa dan kemaksiatan yang pernah dilakukan.

”Sebelum melaksanakan Shalat Istisqa ini, marilah kita bertaubat kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala atas segala dosa dan kemaksiatan yang telah diperbuat karena satu dari sekian ciri orang beriman Ketika ditimpa kesusahan dia beristighfar, bertobat memohon ampunan kepada-Nya,” ungkapnya.

“Shalat Istisqa adalah merupakan Sunnah Rasulullah dan pada jaman sahabat pun menurut beberapa riwayat Ketika kemarau melanda melakukan shalat istisqa. Kalau bukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada siapa lagi kita meminta? Dan Allah lah sebaik baik tempat meminta,” pungkasnya.

Kegiatan Shalat Istisqa ini diikuti oleh puluhan warga sekitar Komplek Masjid Ar Rohmah dan dari luar komplek Masjid.

“Semoga dengan dilaksanakan shalat Istisqa ini Allah Subhanahu wa Ta’ala segera menurunkan hujan dan membawa keberkahan buat kita semua,” terang salah satu warga Edi Pur.

Shalat Istisqa ini mulai pada jam 07.00 dan selesai jam 08.00 WIB.

Reporter: Jajat Sudrajat

9 Warga Terluka Akibat Serangan Tank Israel yang Menyasar Perbatasan Mesir

GAZA (jurnalislam.com)- Militer Israel mengatakan pada Ahad (22/10/2023) bahwa salah satu tanknya “secara tidak sengaja menembak dan mengenai sebuah pos Mesir” di dekat perbatasan dengan Gaza saat tentara Israel membombardir wilayah perbatasan tersebut.

Dilaporkan Midle East Eye, 9 warga Mesir terluka akibat serangan Israel di wilayah Mesir dekat perbatasan Gaza, yang juga menghancurkan menara pengawas Mesir. Tentara Israel kemudian mengonfirmasi bahwa mereka menembak ke udara dan insiden itu adalah sebuah kecelakaan.

“Militer Israel menyatakan kesedihan atas insiden tersebut” di dekat daerah Kerem Shalom, terang Israel dalam sebuah pernyataannya.

“Insiden tersebut sedang diselidiki dan rinciannya sedang ditinjau,” tambah pernyataan itu.

Sementara itu, tentara Mesir membenarkan bahwa Israel “segera menyatakan penyesalannya atas insiden yang tidak disengaja tersebut dan penyelidikan sedang dilakukan”.

Media Mesir menegaskan serangan Israel tidak akan mengganggu aliran bantuan ke Gaza, terang para saksi.

Sejak Sabtu, 37 truk yang membawa pasokan penting telah menyeberang ke Gaza melalui pos perbatasan Rafah dengan Mesir.

PBB memperkirakan sekitar 100 truk per hari dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan Gaza.

Sumber: ndtv, MEE

Reporter: Bahri

Air Mata Palestina, Air Mata Kita

Serangan Israel terakhir ini terhadap rumah sakit Baptis di kota Gaza, seketika menewaskan sekitar 500 orang lebih dan menghampiri 1000 orang yang terluka. Bahkan data dari kementerian kesehatan Palestina hingga hari ini korban yang berada di Jalur Gaza sekitar 3.785 orang dan korban luka 12.500 orang.

Menjadi sebuah peristiwa yang mengenaskan, merengguk nyawa anak-anak yang tak bersalah, meruntuhkan gedung-gedung yang kokoh, mensirnakan tawa dan riang gembira anak-anak gaza dengan kesedihan, tangisan, ketakutan dan kepedihan.

Tangisan keras yang merengguk nyawa orang tua dan keluarganya, simpah darah yang tak ada langkah kaki lepas darinya, bahkan tubuh manusia menjadi hancur berkeping akibat bom dahsyat dari zionis laknatullah.

Dalam sebuah peristiwa, terlihat seorang gadis kecil berdiri tegap di depan ribuan warga Palestina dengan mendendangkan syair Abdullah al-Tamimi. Suara gadis mungil itu tegas dan lantang, tapi tidak berteriak. Dia seperti merintih tapi tidak menangis. Suaranya keras tapi tidak marah. Dia bertanya tapi tak perlu jawaban. Tampaknya misi syair itu disampaikan untuk seluruh umat Islam. Inilah penggalan syairnya.

“Pinjamkan kepada kami…pinjamkan kepada kami senjata untuk kekebasan al-Aqsa. Wahai pemuda Islam…Bukankah kita saudara seagama? Apakah menyakitkanmu ketika kami di embargo? Apakah menggembirakanmu jika kami binasa? Apakah menggembirakanmu jika kami lapar? Apakah kalian harus menunggu sampai keberadaan masjid al-Aqsa dihilangkan, dan kita semua hilang?

Wahai saudaraku seagama, beritahu kami kapan kalian marah? Apakah ketika kehormatan kita dirobek-robek? Apakah ketika masjid kita dihancurkan? Apakah ketika harga diri kita dibunuh? Apakah ketika kehormatan kita direndahkan?

Di saat al-Quds marah, kamu juga belum marah. Kapan kamu marah? Jika karena Allah, harga diri, karena Islam kamu tidak marah. Maka beritahu kami kapan kamu marah?”

Ketika menyimak dan menelah syair itu, dengan penuh kesadaran mestinya kita terhentak. Mengapa orang Palestina minta dipinjamkan senjata. Tidakkah kita mengetahui bahwa mereka memiliki rudal-rudal canggih yang dikebambangkan oleh ilmuwan-ilmuwan mereka sendiri? Nampaknya bukan demikian maksudnya. Mereka merasa sendiri dan tidak banyak manusia yang membela mereka.

Namun kini suasana itu berbeda, banyak Negara yang telah mengecam israel. Kaum terpelajar, non muslim dan para pemimpin negara, hati nurani kemanusiaan mereka mendukung kemerdekaan Palestina dan mengutuk keras kekejaman israel kepada rakyat Palestina. Nampaknya, jika rasa kemanusiaan itulah motif utamanya untuk mendukung Palestina, maka rasa iman dalam diri seorang muslim harus lebih membara untuk mendukung Palestina.

Nampaknya, permintaan syair itu untuk meminjam senjata bukanlah rudal dan tank untuk mempertahankan Al-Aqsa, tapi pembelaan mereka secara diplomasi dan negosiator internasional. Bahkan perkembangan dunia digital hari ini memungkinkan kita untuk bersuara lebih lantang lagi dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Ketika syair itu memilih diksi ‘saudara seagama’ untuk menuangkan rasa kebersamaan, kita menjadi seperti bersalah. Sebab ciri seorang mukmin menurut syariah adalah berukhuwwah dan saling marasakan, menguatkan, mendukung bagaikan satu anggota tubuh.

Tapi mengapa, ketika saudara kita di Palestina diembargo, sehingga kelaparan dan dibunuh dengan senjata semena-mena, bahkan satu ledakan bom menewaskan 500 orang, dan kita tidak ikut merasakan? Penyair itu menuduh kita ‘persaudaraan seagama macam apa yang kalian miliki ini?’ Jangan-jangan kita baru sekadar berislam dan hati kita belum beriman.

Kata-kata “…beritahu kami kapan kalian marah? sungguh merupakan kata-kata yang tajam menusuk lubuk hati kita. Seakan penyair ini berkata ‘kami sudah alami seperti ini kalian belum juga marah? Kapan? Mungkin jika dilanjutkan akan berbunyi seperti ini: ‘jika selama ini kalian merasa telah berjuang lillah, lil Islam, telah menjaga Islam dan memperjuangkan agama, tapi tidak marah melihat saudaramu ini ditindas dan dihabisi seperti ini, berarti kalian tidak benar-benar lillah dan tidak sungguh-sungguh lil Islam. Syair ini begitu indah namun menyakitkan hati kita, karena penderitaan mereka lebih sakit dan pedih dari sekedar ungkapan dalam bait-bait syair.

Jika kita masih belum tersentuh, mari kita bayangkan. Seakan telunjuk sang penyair atau gadis cilik yang melantunkan syair itu mengarah ke muka kita dan suaranya memekik di telinga kita. Kata-katanya sekan menjadi seperti ini, ‘Wahai saudaraku seagama, apakah anda baru akan marah ketika kehormatan anda atau keluarga anda dilecehkan? Setelah masjid anda dirobohkan? Setelah kemanusiaan anda diinjak-injak?’ Mari kita bayangkan, sadari, rasakan dan hayatai dalam hati sanubari kita.

Jika bayangan di atas masih belum menyentuh hati dan menggetarkan jiwa kita dan kita juga belum marah, maka kita penting merenungi sabda Nabi, “Barangsiapa tidak peduli dengan urusan umat Islam, maka ida bukan golongan Islam,” (al-Hadits). Atau sindiran Buya Hamka, “Jika agamamu dihina dan kamu tidak marah, maka ganti bajumu dengan kain kafan,”. Artinya, jika anda Muslim dan Mukmin tapi tidak mempunyai ghirah diniyyah, maka kematian adalah lebih baik bagi anda.

Sejarah telah mencatat, bahwa Bumi Syam selalu menjadi penerang antara haq dan kebatilan, setiap zaman para pengusung kebatilan senantisa melakukan berbagai bentuk kedzalimannya, baik dengan penjajahan, pembunuhan dan penindasan. Setiap zaman itu pula, tetap Allah pilih golongan orang-orang yang tampil dengan penuh keberanian melawan setiap kebatilan dan kedzaliman bagi bangsa Palestina.

Imam Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah menceritakan, “Serangan-serangan pasukan Salib semakin agresif sehingga berhasil menguasai wilayah yang sangat luas. Pada tahun 491 H/1097 M, mereka menguasai Anthakiyah dan terus melakukan serbuan sehingga berhasil merebut Baitul Maqdis (Palestina) pada tahun 492 H/1098 M. Di setiap kota dan desa yang dilalui, pasukan Salib melakukan pembantaian terhadap penduduk dengan cara sangat keji. Kaki kuda-kuda mereka berlumuran darah korban-korban pembantaian yang terdiri dari laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Semua peristiwa ini terjadi di saat mayoritas masyarakat Muslim terlena dengan pertikaian dan perselisihan antara mereka sendiri. Para sultan dan penguasa tidak melakukan tindakan apapun untuk menghentikan invasi pasukan Salib yang terus meluas,” (al-Bidayah wa an-Nihayah, vol.12, hlm, 157).

Beberapa buku sejarah Islam pada periode tersebut mencatat gambaran-gambaran ironis tentang sikap para penguasa dan masyarakat Muslim yang lebih mementingkan urusan pribadi daripada berusaha menghadapi bahaya yang sedang mengancam. Beberapa gambaran peristiwa dicatat oleh Ibnu al-Jauzi dalam buku sejarahnya, al-Muntazham, juga oleh Ibnu al-Atsir dan sejarawan lainnya, yaitu ketika pasukan Salib menguasai Ramallah, Quds, dan ‘Asqalan. Mereka membunuh penduduk kota-kota tersebut dan membantai sekitar 70.000 (tujuh puluh ribu) kaum Muslimin di kawasan al-Aqsha yang meliputi masyarakat biasa, ulama, pelajar, ahli ibadah, dan ahli zuhud.” (Ibnu Khaldun, Diwan al-Mubtada ‘wa al-Khabar, vol. 5, hlm. 2).

Kenyataan pahit ini mendorong Abu al-Muzhaffar al-Abiwardi untuk melantungkan syair, sebagaimana gadis mungil di atas mendendamkan syair atas kondisi tragis yang dialaminya, syair itu berbunyi:
“Darah kami bercampur air mata yang tercucur Tidak ada lagi bagian tubuh yang tak berbalut luka. Senjata yang paling rapuh adalah air mata yang berderai Ketika perang semakin memanas dengan pedang yang saling beradu.

Alangkah malangnya putra-putra Islam.. Di saat sekian bahaya besar mengancam anak keturunanmu.. Bagaimana mungkin mata ini bisa tidur lelap Ketika didera berbagai penderitaan yang membangunkan setiap orang yang tidur.

Saudara-saudaramu di Syam. Tidur di atas bantalan pembantaian atau di dalam perut binatang-binatang buas. Tentara Eropa telah membuat mereka terhina, sementara engkau terus bergelimang nikmat dan hanya bisa bersikap pasrah.

Jika ada orang yang menghindari perang-perang itu, justru akan menggigit jari di kemudian hari. Jasad suci yang terkubur di Thaibah Nyaris memanggil dengan suara lantang, “Wahai keluarga Hasyim!” Aku melihat umatku enggan menyerbu musuh, sedangkan sendi-sendi agama begitu rapuh.

Mereka menghindari api karena takut mati, tanpa menganggap kehinaan sebagai akibat yang pasti. Apakah pembesar-pembesar Arab rela dengan kehinaan, sehingga membuat seluruh masyarakat menjadi terhina pula.

Jika memang mereka enggan bangkit atas dasar menolong agama. Tidakkah mereka bangkit karena kecemburuan terhadap istri dan keluarga!. Jika memang mereka tidak peduli dengan pahala, ketika terjun di medan laga. Tidakkah mereka mau peduli karena harta rampasan di depan mata.

****

Sebagai bangsa yang telah merdeka selama 78 tahun dan dengan jumlah penduduk yang mayoritas muslim, bangsa Indonesia memiliki catatan history yang erat dan kuat dengan Palestina, utamanya dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Syaikh Muhammad Amin Husaini, Mufti Besar Palestina, bersama KH Agus Salim. Setahun sebelum Indonesia merdeka, pada 6 September 1944, Syekh Amin memberikan dukungan secara terbuka bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia di radio. Bukan sekedar itu, Palestina juga dilaporkan ikut melobi sejumlah negara-negara di Timur Tengah untuk mengakui kemerdekaan Indonesia. Yang mana pada 22 Maret 1946 Mesir menyusul memberikan pengakuan kemerdekaan Indonesia, sebagaimana dikutip dari buku Indonesia, Islam, and Democracy yang ditulis oleh Azyumardi Azra.

Dukungan yang diberikan oleh Palestina tidak hanya bersifat diplomatis, tetapi juga materi. Hal ini dilakukan oleh seorang pengusaha Palestina yang kaya raya dan sangat simpati terhadap perjuangan Indonesia, Muhammad Ali Taher. Dengan tulus, ia menyerahkan seluruh uangnya yang berada di Bank Arabia kepada Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, M. Zein Hassan. Ia berkata, “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia!” Dukungan tersebut disampaikan tanpa mengharapkan imbalan atau tanda bukti penerimaan.

Sehingga tak heran, dalam UUD 1945 ditegaskan, “Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Begitulah pembukaan UUD 45, pernyataan awal cita-cita luhur Republik Indonesia, yang paham betul. Maka siapapun yang mendukung penjajah, dia tak layak menjadi Indonesia, bahkan bertentangan dengan fitrah manusia dan martabatnya sebagai seorang muslim.

Faktanya, Israel itu penjajah, pendatang haram yang mengambil paksa tanah Palestina, membunuhi penduduk aslinya sejak Inggris memberinya ruang di tahun 1920. Entah sudah berapa ribu nyawa merenggang dibantai dengan sadis, baik dipertunjukkan terbuka, juga tertutup media dan berita hingga saat ini.

Maka, air mata palestina adalah air mata kita. Hanya binatang dan manusia dengan level terendah yang diam dengan semua penjajahan, pembantaian dan kebiadaban Israel pada rakyat Palestina dan dunia, tapi menggonggong dan menyalak nyaring seolah Israel yang menjadi korban ketika rakyat Palestina melawan penjajahan dan pendudukan tanah dan hidup mereka.

Maka perlawanan Hamas dan rakyat Palestina pada saat ini adalah sebuah keberanian dan kebenaran, didasarkan cita-cita luhur ingin merdeka, mempertahankan tanah, harga diri dan agamanya. Sebagaimana Indonesia dulu, dengan penuh upaya, kerja keras dan pertolongan Allah kita dapat meraih kemerdekaan bagi bangsa kita.

Semoga tulisan ini menjadi renungan bagi kita, bahwa peperangan yang terjadi di Palestina adalah penegasan bagi dua golongan, antara haq dan batil. Maka sepatutnya kita memasukkan diri kita dalam golongan yang memperjuangkan kebenaran, sebab kita memiliki banyak dimensi yang menghubungkan diri kita dengan Palestina, kita bersaudara secara agama, amanat bangsa kita, dan rasa kemanusiaan atar sesama manusia.

Semoga Allah kuatkan saudara-saudara kita di Palestina, dan bagi kita, semampu mungkin membantu saudara-saudara kita di sana, meski lewat doa semata dan berbagai upaya yang lainnya. Mohon bacakan doa ini bagi para pejuang Palestina. اللّهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ

Penulis: Muhammad Akbar, S.Pd., M.Pd., C.ET
(Aktivis Media Islam, Peneliti Madani Institute dan Kandidat Doktor UIN Alauddin Makassar)