Gagal Cegat Roket Hamas, Rudal Iron Dome Berbalik Arah Serang Israel

YERUSALEM (jurnalislam.com)- Tentara Israel mengatakan pada hari Sabtu (9/12/2023) bahwa mereka akan membuka penyelidikan terkait kegagalan rudal iron dome yang berbalik arah jatuh di Israel tengah.

Dilansir dari situs berita Times of Israel, yang mengutip pernyataan militer Israel, mereka mengatakan sedang memeriksa kemungkinan adanya “kerusakan teknis” sebagai penyebab jatuhnya rudal tersebut.

Insiden itu terjadi ketika sistem pertahanan pencegat rudal Iron Dome berusaha mencegat rentetan roket dari Jalur Gaza menuju Tel Aviv dan sekitarnya pada Sabtu malam.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan rudal tersebut jatuh di Israel tengah. Namun, Israel tidak melaporkan korban dan dampak dari insiden tersebut.

Sebagaimana diketahui sejak Jum’at pagi, tentara Israel melanjutkan serangannya terhadap Gaza setelah mereka menolak memperbarui jeda kemanusiaan yang sudah berlangsung selama tujuh hari. Sementara itu, Brigade Al Qassam, sayap militer Hamas, membombardir Tel Aviv dengan rentetan rudal.

Dilaporkan Kementerian Kesehatan Gaza, setidaknya 193 warga sipil Palestina telah terbunuh dan 652 terluka akibat serangan udara Israel sejak Jum’at. Lebih dari 15.000 warga Palestina, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah terbunuh dalam serangan Israel sejak 7 Oktober lalu.

Sumber: Anadolu Ajansi

Reporter: Bahri

Serangan Brigade Al-Qassam di Juhr Al-Dik, Tewaskan 60 Tentara Israel

GAZA (jurnalislam.com) – Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, mengumumkan bahwa puluhan tentara Israel dilaporkan tewas akibat ledakan bom anti-personil di sebelah timur Juhr al-Dik pada Ahad (3/12/2023).

“Saat fajar hari ini, pejuang Al-Qassam dapat memantau posisi puluhan tentara pendudukan (60 tentara) di dalam tenda di titik posisi mereka di sebelah timur Juhr Al-Dik.” kata Al Qassam dalam pernyataanya.

“Mujahidin memasang 3 bom anti-personil dengan pola melingkar di sekitar posisi tenda, dan tepat pada pukul 4:30 bom diledakkan di antara tentara pendudukan. Kemudian salah satu mujahidin maju untuk menghabisi anggota pasukan yang tersisa,” sambung Al Qassam.

Brigade Al Qassam juga mengatakan, mujahidin mundur kembali ke posisi mereka dengan selamat setelah berhasil menghabisi sejumlah besar tentara penjajah.

Sumber: albawaba

Reporter: Bahri

Anak-anak Gaza Bertanya-tanya, “Apakah Ini Perang Lagi, Ayah?”

DEIR EL-BALAH, JALUR GAZA (jurnalislam.com)- Setelah sepekan senyap dalam gencatan senjata, sayangnya serangan udara Israel kembali menggema. Masa tujuh hari yang sementara menghamparkan ketenangan telah usai.

Dan kini, dentuman-dentuman familiar merajai lagi, bukan hanya sebagai suara, melainkan simfoni kehancuran: gemuruh pemboman, ledakan yang memilukan, sayap pesawat yang menari di angkasa, dentuman artileri sebagai langkah-langkah perang, ombak laut yang menjadi saksi bisu di depan kapal perang, dan peluru tajam yang kembali berbisik di antara keheningan kota yang minggu lalu sempat terhenti.

Ini adalah pengalaman kami sehari-hari selama tujuh minggu sebelum gencatan senjata, dan kami sudah mahir membedakannya, seperti dentuman khas roket dari Gaza dan deru pemboman Israel.

Pagi ini Jum’at (01/12/2023), ketika jarum jam menunjukkan pukul 07.00, seruan kekerasan dari darat, langit, dan ombak laut kembali mengisi udara, membangkitkan kenangan kesedihan baru di wajah keluarga saya.

Dengan gemetar, kakak saya membuka jendela, mata yang mencari tahu memandang ke luar. “Pengeboman merajalela di segala penjuru,” ucapnya, suaranya menyiratkan kegelisahan yang mendalam.

Dalam usianya yang delapan tahun, Banias memandang ayahnya dengan mata yang penuh tanya, “Apakah ini perang lagi, Ayah?”. Kemudian Ayahnya, dengan bijaksana, menjelaskan bahwa hari-hari tenang yang baru saja mereka nikmati hanyalah sebatas gencatan senjata sementara, dan perang belum berakhir. Pikiran anak-anak Banias berusaha merangkai makna di balik siklus aneh ini: perang, jeda, dan kembali perang.

Lima puluh enam hari pertempuran telah berlalu, namun, tampaknya tidak cukup untuk menjamin gencatan senjata.

Kemarin, di antara tenda-tenda yang melambai di bawah bayangan Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Jalur Gaza, suara-suara dari para pengungsi menggema. Kesusahan, ketakutan, dan keputusasaan melintas di wajah-wajah yang haus akan perdamaian. Mereka tidak menginginkan gencatan senjata sementara; mereka merindukan gencatan senjata abadi agar bisa kembali ke rumah mereka, meski rumah-rumah mereka telah dilanda kerusakan.

Ketakutan mereka bahwa dimulainya kembali perang akan berarti Israel akan melakukan pengeboman di wilayah selatan. Pagi ini, kekhawatiran mereka menjadi kenyataan ketika pasukan Israel menyebarkan selebaran, memaksa masyarakat dari Khan Younis timur untuk meninggalkan tanah itu dan bergegas ke Rafah, di tepi selatan Gaza.

Dalam bayang-bayang serangan udara yang terus berkecamuk dari Gaza utara ke selatan, refleksi mendalam menyelinap ke dalam pikiran saya. Masyarakat Gaza menghadapi deretan peperangan: pengungsian yang menyedihkan, pemandangan kehancuran yang menyayat hati, penghinaan yang tak terhitung, kehidupan di tenda-tenda yang rapuh, kehausan, kelaparan, dan rasa cemas yang menyergap saat jeda sementara, yang diikuti dengan pemboman yang kembali terjadi.

Apa yang harus dilakukan masyarakat Gaza agar dunia merasakan simpati mereka?, Bagaimana dunia bisa membiarkan genosida terus berlanjut?, Bagaimana kita bisa kembali ke pertumpahan darah dan khawatir kehilangan orang yang kita cintai? Bagaimana, bagaimana dan bagaimana?

Pertanyaan-pertanyaan ini, saya sadari, tidak akan menemukan jawaban. 56 hari terakhir telah mengajarkan saya, seperti yang telah mereka tunjukkan kepada seluruh masyarakat Gaza, menjadi pengingat bahwa ketakutan, kehidupan, rasa sakit, harapan, dan impian kita, tidak termasuk dalam perhitungan dunia ini.

Sumber: Al Jazeera

Reporter: Bahri

Hamas Sebut Zionis Menolak Tawaran Pembebasan Tahanan Untuk Perpanjang Gencatan

GAZA (jurnalislam.com)- Dalam pernyataan terbarunya pada Jum’at (01/12/2023), gerakan perlawanan Islam Hamas mengatakan bahwa pendudukan Zionis memilih untuk terus melakukan perang genosida di Jalur Gaza. Israel tegas menolak semua tawaran pembebasan tahanan.

Negosiasi dilakukan setiap malam untuk memperpanjang gencatan senjata, dengan Hamas mengusulkan pertukaran melibatkan tahanan, orang lanjut usia, dan penyerahan jenazah tahanan Israel yang meninggal akibat serangan Zionis. Namun, penjajah, yang didorong oleh keputusan sebelumnya untuk melanjutkan agresi kriminal, tetap tidak merespon.

“Pemerintahan Biden dan Presiden Biden bertanggung jawab langsung atas kejahatan perang Zionis yang berlanjut di Gaza,” tegas Hamas.

Dalam pernyataannya, Hamas juga menyalahkan Amerika Serikat atas serangan yang terjadi di Gaza,

“Dengan dukungan mereka dan lampu hijau yang diberikan selama kunjungan Menteri Luar Negeri Blinken ke Israel. Persetujuan AS terhadap rencana baru penjajah untuk meningkatkan agresi telah menyebabkan kematian ratusan warga sipil dan anak-anak yang tak bersalah,” terangnya.

Hamas menegaskan bahwa rakyat Palestina yang teguh, yang berakar kuat di tanah air mereka dan didukung oleh Brigade Al-Qassam yang gagah berani, secara aktif akan melawan agresi zionis di semua lini sambil melanjutkan operasi heroik, dengan keyakinan bahwa mereka akan menggagalkan agresi kriminal ini.

“Menghadapi pasukan teror Zionis yang didukung AS, rakyat kami yang teguh akan menang,” pungkas Hamas dalam pernyataannya.

Sumber: Hamas Online

Reporter: Bahri

Gencatan Senjata Berakhir, Israel Kembali Memborbardir Gaza

GAZA (jurnalislam.com)- Israel kembali membombardir Gaza sesaat setelah berakhirnya kesepakatan gencatan senjata, serta juga menolak memperpanjang jeda perang. Kata militer Israel, perang berlanjut dengan mengerahkan kekuatan penuh.

Jet tempur Israel mulai menyerang sasaran di Gaza pada Jum’at (01/12/2023), dilaporkan kementerian dalam negeri Gaza serangan udara menghantam bagian selatan daerah yang terkepung tersebut, termasuk komunitas Abasan di timur kota Khan Younis. Serangan udara lainnya menghantam sebuah rumah di barat laut Kota Gaza.

Ledakan keras dan bertubi tubi terdengar dari seluruh Jalur Gaza hingga asap hitam mengepul dari wilayah tersebut.

Di Israel, sirene berbunyi di tiga peternakan dekat Gaza, memperingatkan akan adanya tembakan roket dan menandakan bahwa Hamas juga melanjutkan serangannya.

Militer Israel mengumumkan serangan dimulai hanya berselang 30 menit setelah jeda perang berakhir, gencatan senjata yang dimulai pada 24 November lalu telah berakhir pada Jum’at (01/12) pukul 12.00 wib.

“Setidaknya 21 warga Palestina tewas di Gaza dalam dua jam pertama setelah tentara Israel melanjutkan serangannya”, kata kementerian kesehatan Gaza.

Ini termasuk dua orang yang tewas di Beit Lahia di Gaza utara; tujuh di Maghazi di Gaza tengah; satu di Khan Younis; dua di kota Hamad; dan sembilan di Rafah, semuanya di Jalur Gaza selatan.

Sebagian besar penduduk Gaza yang berjumlah 2,3 juta jiwa kini berdesakan di wilayah selatan tanpa jalan keluar setelah Israel menginstruksikan ratusan ribu orang untuk mengungsi dari wilayah utara pada perang sebelumnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengapa Israel menyerang Gaza selatan padahal terdapat banyak korban sipil.

Sejak perang Israel di Gaza dimulai pada 7 Oktober, setidaknya 15.000 warga Palestina syahid, termasuk lebih dari 6.000 anak-anak, telah terbunuh.

Sumber: Al Jazeera

Reporter: Samsul

Israel Nyatakan Jenin sebagai Zona Militer Terlarang

TEPI BARAT (jurnalislam.com)- Pasukan Israel secara brutal menetapkan Jenin, di Tepi Barat, sebagai zona militer terarang, pada 29 November, dimana terjadi serangkaian serangan brutal semalaman dan bentrokan sengit berlanjut hingga pagi hari.

“[Israel] menyatakan kota Jenin dan kamp pengungsi sebagai zona militer tertutup dan mengerahkan pasukan beserta bala bantuan besar di beberapa lingkungan,” demikian dilaporkan oleh kantor berita Palestina, WAFA.

Sumber-sumber lokal mengatakan pasukan Israel menyerbu kamp pengungsi Jenin pada Selasa malam (29/11/2023), meluncurkan “serangan besar-besaran” penangkapan di lingkungan timur, yang mengakibatkan “pecahnya konfrontasi sengit” antara tentara Israel dan pejuang perlawanan. Bentrokan terus berlanjut keesokan harinya, dan beberapa warga Palestina terluka.

Kantor berita WAFA menambahkan bahwa buldoser tentara dengan sengaja terus merusak infrastruktur di seluruh kamp, seiring penerbangan pesawat tak berawak yang besar di atasnya. Kehancuran terutama terjadi di lingkungan Al-Damj dan Al-Samran, dengan kerusakan lebih lanjut terjadi pada jalan-jalan kamp, serta sistem air dan limbah.

Pasukan Israel meluncurkan serangan pesawat tak berawak ke kamp Jenin dan meningkatkan pengepungan terhadap Rumah Sakit Ibnu Sina. Rumah sakit ini bersama dengan dua fasilitas kesehatan lainnya sebelumnya telah dikepung oleh pasukan Israel selama beberapa hari selama penggerebekan di kota tersebut. Awak ambulans juga ditahan di Rumah Sakit Pemerintah Jenin, yang juga berada di bawah pengepungan pasukan Israel.

“Penembak jitu dilaporkan ditempatkan di atap beberapa bangunan di kota dan sekitar kamp pengungsi Jenin selama penggerebekan yang masih berlangsung hingga saat ini. Hal ini meningkatkan tingkat ketakutan di kalangan warga.” tulis WAFA.

Sementara itu juru bicara Hamas, Ghazi Hamad, mengatakan kepada majalah News Week pada tanggal 29 November, “Perjanjian gencatan senjata hanya terbatas di Jalur Gaza. Kami mengikuti apa yang terjadi di Tepi Barat dalam kaitannya dengan pelanggaran serius oleh Israel, dan kami menegaskan komitmen kami untuk melawan penjajah dimanapun itu berada.”

Kelompok perlawanan yang terafiliasi dengan Hamas dan Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ) aktif di Tepi Barat yang diduduki dan terlibat dalam bentrokan dengan pasukan Israel hampir setiap hari.

Sebagaimana diketahui, tentara Israel melakukan penggerebekan sebelumnya di Jenin pada 25 dan 26 November, yang mengakibatkan kematian lima warga Palestina, serta kerusakan infrastruktur kamp yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sumber: The Cradle

Reporter: Bahri

Gencatan Senjata Hamas dan Israel Kembali Diperpanjang

GAZA (jurnalislam.com)- Israel dan Hamas mencapai kesepakatan pada menit-menit terakhir pada Kamis (30/11/2023) untuk memperpanjang gencatan senjata mereka hingga hari ketujuh.

Diperpanjangnya Gencatan senjata tersebut memungkinkan lebih banyak lagi bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan masuk ke Gaza, sebuah wilayah pesisir berpenduduk 2,3 juta orang yang menjadi luluh lantak akibat di bombardir oleh Israel sejak 7 Oktober silam.

Israel meminta Hamas membebaskan 10 sandera per hari sebagai syarat gencatan senjata, pihaknya telah menerima daftar orang-orang yang akan dibebaskan pada menit-menit terakhir pada hari Kamis, yang membuat Israel mengurungkan rencana melanjutkan pertempuran saat fajar.

“Para mediator berupaya untuk melanjutkan proses pembebasan sandera dan tunduk pada aturan yang sudah ditentukan, jeda perang akan terus berlanjut,” kata militer Israel dalam sebuah pernyataan, yang dirilis beberapa menit sebelum gencatan senjata berakhir pada pukul 12.00 wib.

Hamas, yang membebaskan 16 sandera pada Rabu sementara Israel membebaskan 30 tahanan Palestina, juga mengatakan gencatan senjata akan berlanjut hingga hari ketujuh.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, yang mengunjungi Israel, mengatakan upaya terus dilakukan untuk memperpanjang gencatan senjata.

“Kami telah melihat selama seminggu terakhir perkembangan yang sangat positif dari para sandera yang pulang ke rumah, berkumpul kembali dengan keluarga mereka. Dan hal itu harus dilanjutkan hari ini,” katanya dalam pertemuan dengan Presiden Israel Isaac Herzog.

“Hal ini juga memungkinkan peningkatan bantuan kemanusiaan untuk diberikan kepada warga sipil tak berdosa di Gaza yang sangat membutuhkannya. Jadi proses ini membuahkan hasil. Ini penting, dan kami berharap hal ini dapat terus berlanjut.” imbuhnya.

Hingga saat ini, Hamas telah membebaskan 97 sandera selama gencatan senjata, termasuk 70 perempuan dan anak-anak Israel. Setiap pembebasan melibatkan imbalan berupa pembebasan tiga tahanan perempuan dan remaja Palestina. Selain itu, 27 sandera asing juga dibebaskan sesuai dengan perjanjian dengan pemerintah mereka.

Dengan semakin sedikitnya jumlah perempuan dan anak-anak Israel yang ditahan, perpanjangan gencatan senjata selanjutnya perlu mempertimbangkan pembebasan tahanan pria dan tentara Israel.

Sumber: Reuters

Reporter: Samsul

Jumlah Tentara Israel yang Terluka dalam Operasi Darat di Gaza Terungkap

PALESTINA (jurnalislam.com)- Surat kabar Israel, Haaretz, melaporkan bahwa sekitar 1.000 tentara Israel mengalami luka sejak dimulainya perang dan operasi darat di Jalur Gaza. Dari jumlah tersebut, 202 tentara dalam kondisi kritis, 320 mengalami luka sedang, dan sekitar 470 orang mengalami luka ringan.

Menurut Haaretz, awalnya, tentara Israel menolak mengungkapkan data mengenai jumlah dan kondisi tentara yang terluka. Namun, baru-baru ini, mereka setuju untuk memberikan informasi ini.

Israel secara resmi mengumumkan jumlah korban personelnya yang tewas sejak 7 Oktober adalah 392 orang, namun tanpa menyebutkan secara spesifik bagaimana atau di mana mereka tewas.

Perlu dicatat bahwa hingga Rabu lalu (22/11), jumlah korban tewas tentara pendudukan Israel bertambah menjadi 71 perwira dan tentara sejak dimulainya operasi darat di Gaza pada tanggal 27 Oktober.

Informasi ini didasarkan pada pengumuman harian dari tentara Israel, sementara Brigade Al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Islam Hamas, mengklaim bahwa jumlah sebenarnya lebih tinggi daripada yang dilaporkan secara resmi.

Sebagaimana diketahui, saat ini pertempuran di wilayah tersebut berhenti sejak Jum’at lalu (24/11), menyusul gencatan senjata sementara demi kemanusiaan antara zionis Israel dan faksi-faksi perlawanan di Palestina, yang dilaksanakan selama jangka waktu 4 hari yang kemudian diperpanjang selama dua hari tambahan pada Senin malam.

Sumber: watan

Reporter: Bahri

Perlakukan Putri Kecilnya Bak Ratu, Seorang Ibu asal Israel Ini Menulis Surat Cinta Pada Hamas

PALESTINA (jurnalislam.com)- Danielle Aloni menulis surat emosional yang mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada pejuang Hamas atas perhatian yang mereka berikan kepada putrinya Emilia selama 49 hari ditawan di Gaza yang terkepung.

Danielle Aloni dan putrinya Emilia, 5, disandera oleh Hamas selama 49 hari di Gaza yang terkepung.

Pada tanggal 24 November, ibu dan anak perempuan Israel tersebut dibebaskan sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata antara Hamas dan Israel untuk dipertemukan kembali dengan kerabat mereka.

Sebelum meninggalkan Gaza, Danielle Aloni menulis surat “ucapan terima kasih” kepada Hamas yang berbunyi, “Saya berterima kasih dari lubuk hati saya yang terdalam atas kemanusiaan luar biasa yang Anda tunjukkan terhadap putri saya, Emilia.”

Brigade Qassam, yang merupakan sayap bersenjata Hamas, membagikan surat tersebut di akun Telegram resminya pada tanggal 27 November.

Surat itu awalnya ditulis dalam bahasa Ibrani dan disertai terjemahan bahasa Arab, dan disampingnya terdapat foto ibu dan putrinya itu.

Pada surat itu, Danielle berkata: “Dia (Emilia) merasa bahwa kalian semua adalah temannya, bukan hanya teman, tapi benar-benar mencintainya dan berlaku baik padanya”.

Aloni mengakui ia diperlakukan sangat baik selama menjadi tawanan di Gaza dan menulis: “Terima kasih atas waktu yang kalian luangkan menjadi pengasuh bagi Emilie.”

Ia menyatakan putrinya tidak hanya terikat dengan Hamas tetapi juga merasa seperti seorang ratu.

“Anak-anak seharusnya tidak disandera, namun terima kasih kepada kalian dan orang-orang baik lainnya yang kami temui selama ini, putri saya merasa menjadi seorang ratu di Gaza,” katanya

Aloni mengakhiri suratnya dengan cinta kasihnya kepada Hamas, dengan menyatakan: “Aku akan mengenang perlakuan baik kalian meskipun kalian dalam situasi sulit dan kerugian besar yang Anda derita di sini di Gaza.”

“Saya berharap di dunia ini kita benar-benar bisa menjadi teman baik,” tulisnya dan mendoakan warga Gaza. “Saya berharap kakian semua sehat dan sejahtera… semoga selalu diberi kesehatan dan cinta untuk kalian dan keluarga kalian.”

Danielle dan Emilia Aloni termasuk di antara 24 sandera Israel yang dibebaskan oleh Hamas pada 24 November. Mereka sedang, mengunjungi saudara perempuan Danielle dan keluarganya di Kibbutz Nir Oz di Israel selatan sebelum disandera.

Reporter: Samsul

Krisis Kesehatan di Gaza Utara, Hanya 3 Rumah Sakit yang Masih Beroperasi

GAZA (jurnalislam.com)- Sistem kesehatan di Gaza terjerumus ke kondisi tragis akibat serangan militer besar-besaran zionis Israel. Selama gencatan senjata sementara demi kemanusiaan yang berlangsung empat hari, bantuan yang diizinkan Israel masuk ke wilayah tersebut sangat terbatas.

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan di Gaza mengatakan bantuan yang telah dikirim ke wilayah Palestina selama “jeda kemanusiaan” “sangat terbatas dan tidak mencukupi”.

Kini, Gaza Utara hanya memiliki tiga rumah sakit yang beroperasi, melayani sekitar 900.000 orang, dan rumah sakit tersebut hampir runtuh.

“Jumlah bantuan medis dan bahan bakar yang tiba di Gaza, terutama wilayah utara Jalur Gaza, sangat terbatas dan tidak mencukupi, mengingat kondisi kesehatan rumah sakit yang sangat buruk,” kata Munir Al Bursh, direktur jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, pada Ahad (26/11/2023)

“Obat-obatan dan pasokan medis harus dibawa ke Gaza dalam jumlah besar, sejalan dengan situasi kesehatan yang buruk di jalur tersebut,” tambahnya.

Dia menekankan perlunya memperkuat sistem kesehatan di Gaza dan wilayah utara serta menyediakan layanan kesehatan yang memadai.

“Hanya tiga rumah sakit yang beroperasi di Jalur Gaza utara, yaitu Al Maamadani, Al Awda, dan Kamal Adwan,” kata Bursh, seraya memperingatkan “keruntuhan rumah sakit tersebut.”

Dia menggambarkan situasi kesehatan di Gaza secara umum sebagai “bencana yang luar biasa dan kurangnya komponen kesehatan yang diperlukan,” pungkasnya.

Kamis lalu (23/11), kantor media pemerintah di Gaza menyatakan bahwa 26 rumah sakit dan 55 pusat kesehatan di wilayah tersebut tidak dapat beroperasi. Pasukan zionis Israel juga menargetkan 55 ambulans, sementara puluhan lainnya tidak dapat digunakan karena kekurangan bahan bakar.

Sumber: trtworld

Reporter: Bahri