Hari ke-70 Operasi Badai Al Aqsa, Abu Ubaidah: Mujahidin Kami Memburu Pasukan Israel Seperti Bebek

GAZA (jurnalislam.com)- Juru Bicara Brigade Al Qassam, Abu Ubaidah, menyampaikan pidato penuh semangat yang mencerminkan perjuangan rakyat Palestina selama 70 hari Perang Badai Al-Aqsa. Dalam rekaman pidato yang disiarkan langsung oleh Al Jazeera Mubasher pada Sabtu (16/12/2023), Abu Ubaidah menyatakan bahwa rakyat Palestina terus mempertahankan diri dalam pertempuran intensif melawan entitas zionis Israel yang didukung oleh operasi udara Amerika.

“70 hari telah berlalu sejak dimulainya Perang Badai Al-Aqsa, dan rakyat kita masih berjuang dalam pertempuran yang belum pernah terjadi sebelumnya.” kata Abu Ubaidah.

Ia juga mengatakan bahwa “Pemerintah Amerika mengerahkan angkatan udara untuk mendukung entitas ini seolah-olah sedang melawan negara adidaya.” imbuhnya.

Pada pidato tersebut, Abu Ubaidah menyoroti serangan musuh terhadap wanita dan petugas pemadam kebakaran, yang disebutnya sebagai kejahatan perang yang nyata.

“Dalam 5 hari terakhir, mujahidin kami mampu menargetkan lebih dari 100 kendaraan Israel di banyak wilayah pertempuran,” terangnya.

Perlawanan pemberani mujahidin juga mengungkap kelemahan dan ketakutan tentara musuh. Abu Ubaidah mencatat perpecahan di antara kelompok kriminal Israel, serta penggunaan tentara bayaran selama invasi yang mereka klaim sebagai ‘perang eksistensial’,

“Bentrokan mujahidin kita dengan pasukan musuh menunjukkan betapa lemah dan pengecutnya pasukan mereka,” ungkap Abu Ubaidah.

“Ketika momen konfrontasi tiba, Anda menemukan mereka melarikan diri dan berteriak, dan Mujahidin kami memburu mereka seperti bebek, dan mereka tidak menunjukkan perlawanan apa pun saat menyerbu,” katanya.

Lebih lanjut, Abu Ubaidah mengajak rakyatnya melakukan revolusi dan melawan musuh di seluruh Tepi Barat.

Pidatonya ditutup dengan doa, “Kesabaran kalian, akan dicatat dalam kitab-kitab sejarah, dan kemenangan Allah akan datang dengan Perkasa-Nya, dan kami berdoa: Rabbana, berikan pada kami kesabaran, dan kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami atas orang-orang kafir.” pungkasnya.

Sumber: Al Jezeera Mubasher

Israel Mulai Memompa Air Laut ke Terowongan Gaza

GAZA (jurnalislam.com)- Media Amerika Serikat, The Wall Street Journal (WSJ), melaporkan bahwa pada hari Selasa (12/12/2023), Tentara Israel mulai memompa air laut ke dalam terowongan Gaza. Tindakan ini dapat berpotensi menyebabkan kerusakan lingkungan jangka panjang di wilayah tersebut.

The Wall Street Journal (WSJ) melaporkan bahwa proses tersebut kemungkinan akan memakan waktu berminggu-minggu, sementara pihak Palestina dan Israel mengatakan bahwa hal tersebut berisiko terhadap nyawa para sandera yang ditahan oleh Hamas dan dapat dianggap sebagai kejahatan perang.

ABC News melaporkan bahwa strategi memompa air laut tersebut tampaknya akan terbatas seiring pihak Israel mengevaluasi efektivitas strategi tersebut. Tidak ada informasi lebih lanjut yang diberikan dan juga tidak ada keterangan dari tentara Israel.

Awal bulan ini, WSJ, mengutip dari para pejabat AS, melaporkan bahwa Israel merakit sistem pompa besar yang mungkin digunakan untuk membanjiri terowongan yang digunakan oleh kelompok perlawanan Hamas Palestina di Jalur Gaza dalam upaya untuk mengusir zionis Israel.

Sekitar pertengahan November, tentara Israel menyelesaikan pembangunan setidaknya lima pompa sekitar satu mil sebelah utara kamp pengungsi Al-Shati yang dapat mengalirkan ribuan meter kubik air per jam, sehingga dapat membanjiri terowongan dalam waktu beberapa minggu, kata laporan itu.

Beberapa pemerintah di Washington telah menyatakan dukungannya terhadap langkah tersebut. Namun hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa banjir berpotensi membunuh sandera Israel yang ditangkap oleh Hamas selama serangannya pada tanggal 7 Oktober di Israel selatan.

Namun Presiden AS Joe Biden mengatakan pada hari Selasa bahwa ia tidak dapat memastikan apakah ada di antara para tawanan tersebut, termasuk warga Amerika, yang masih berada dalam sistem terowongan.

“Sehubungan dengan banjirnya terowongan, ada pernyataan yang dibuat bahwa mereka [Israel] yakin tidak ada sandera di terowongan mana pun. Tapi saya tidak mengetahui faktanya,” kata Biden.

Dijuluki ‘Metro Gaza’, sebagian besar terowongan ini dibangun pada tahun 1980-an ketika digunakan untuk memasukkan barang-barang di bawah kota Rafah yang baru terpecah.

Jaringan ini menjadi lebih penting dan maju setelah pengetatan blokade Israel pada tahun 2007, yang memutus akses Gaza dari dunia luar.

Ada kekhawatiran bahwa air laut, jika dialirkan ke dalam terowongan, akan membahayakan sisa pasokan air di Gaza yang sudah sangat asin, dan mengakibatkan kerusakan lingkungan yang tidak dapat diperbaiki, yang mungkin bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang.

Sudah ada seruan internasional untuk mengadili pejabat Israel atas dugaan ‘genosida’ di wilayah Gaza.

Pemboman Israel yang belum pernah terjadi sebelumnya telah membunuh lebih dari 18.400 orang, kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak-anak, kata kementerian kesehatan Gaza.

Menurut diplomat utama Uni Eropa, Josep Borrell, serangan Israel tersebut telah menghancurkan sebagian besar infrastruktur Gaza, dengan kerusakan yang lebih parah dibandingkan yang terjadi di Jerman pada Perang Dunia Kedua.

Sumber: newarab

Reporter: Bahri

Survei Palestina, Dukungan Rakyat Terhadap Hamas Meningkat Serta Mayoritas Menuntut Presiden Abbas Mundur

RAMALLAH (jurnalislam.com)- Hasil jajak pendapat di kalangan warga Palestina selama masa perang diterbitkan pada Rabu (13/12) menunjukkan peningkatan dukungan terhadap Hamas. Dukungan ini tampaknya semakin meningkat bahkan di Jalur Gaza yang hancur. Dan terjadi penolakan besar-besaran terhadap Presiden Mahmoud Abbas yang didukung Barat, dengan hampir 90% responden mengatakan bahwa ia harus mengundurkan diri.

Temuan-temuan yang dikeluarkan oleh lembaga jajak pendapat Palestina ini menandakan kesulitan yang lebih besar ke depan bagi visi pemerintahan Biden pascaperang mengenai Gaza dan menimbulkan pertanyaan tentang tujuan Israel yang ingin mengakhiri kemampuan militer dan pemerintahan Hamas.

Washington telah menyerukan kepada Otoritas Palestina (PA) yang berbasis di Tepi Barat, yang saat ini dipimpin oleh Abbas, untuk mengambil kendali atas Gaza dan memerintah kedua wilayah tersebut sebagai cikal bakal negara. Para pejabat AS mengatakan Otoritas Palestina harus direvitalisasi, tanpa mengungkapkan apakah hal ini akan berarti merubah kepemimpinan.

PA mengelola wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel dan telah memerintah Gaza hingga diambil alih oleh Hamas pada tahun 2007. Palestina belum mengadakan pemilu sejak tahun 2006 ketika Hamas memenangkan mayoritas parlemen.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang memimpin pemerintahan sayap kanan dalam sejarah Israel, dengan tegas menolak peran PA di Gaza dan menegaskan Israel harus mempertahankan kendali keamanan terbuka di sana. Sekutu Arab di AS mengatakan mereka hanya akan terlibat dalam rekonstruksi pasca perang jika ada dorongan menuju solusi dua negara, yang tidak mungkin terjadi di bawah pemerintahan Netanyahu, yang didominasi oleh penentang negara Palestina.

Hasil survei ini menunjukkan semakin terkikisnya legitimasi Otoritas Palestina (PA), pada saat tidak ada jalan yang jelas untuk memulai kembali perundingan mengenai Palestina, maka kegagalan bagi Gaza pascaperang adalah pendudukan Israel tanpa batas, kata lembaga jajak pendapat Khalil Shikaki.

Survei ini dilakukan terhadap 1.231 orang di Tepi Barat dan Gaza dari 22 November hingga 2 Desember, dengan margin kesalahan 4 persen. Di Gaza, petugas polling melakukan wawancara saat gencatan senjata selama seminggu yang berakhir pada 1 Desember.

Survei tersebut memberikan wawasan tentang pandangan warga Palestina mengenai serangan Hamas dan militan Gaza lainnya di Israel selatan pada 7 Oktober. Selama serangan Israel terhadap Hamas, lebih dari 18.400 warga Palestina terbunuh, dengan sekitar dua pertiga dari mereka adalah perempuan dan anak-anak. Serangan tersebut melibatkan pemboman berkelanjutan dan serangan darat di Gaza, yang saat ini memasuki bulan ketiga.

Meskipun terjadi kehancuran, 57% responden di Gaza dan 82% di Tepi Barat percaya bahwa Hamas benar dalam melancarkan serangan tersebut, menurut jajak pendapat tersebut. Mayoritas orang percaya pada penjelasan Hamas bahwa mereka bertindak untuk mempertahankan tempat suci Islam di Yerusalem dari ekstremis Yahudi dan memenangkan pembebasan tahanan Palestina. Hanya 10% yang mengatakan mereka yakin Hamas telah melakukan kejahatan perang, dan sebagian besar mengatakan mereka tidak melihat video yang menunjukkan militan tersebut melakukan kekejaman.

Secara keseluruhan, 88% menginginkan Abbas mengundurkan diri, naik 10 persen dibandingkan tiga bulan lalu. Di Tepi Barat, tokoh yang dianggap memimpin pemerintahan korup, otokratis, dan tidak efektif itu mendapatkan 92% responden menyerukan supaya dia mengundurkan diri.

Pada saat yang sama, 44% warga Tepi Barat mengatakan mereka mendukung Hamas, naik dari hanya 12% pada bulan September. Di Gaza, Hamas mendapat 42% dukungan, naik dari 38% pada tiga bulan lalu.

Shikaki mengatakan dukungan terhadap PA semakin menurun, dan hampir 60% kini mengatakan bahwa PA harus dibubarkan. Di Tepi Barat, koordinasi keamanan antara Abbas dengan militer Israel untuk melawan Hamas, saingan politiknya, sangat tidak populer.

“Tingkat anti-Amerika dan anti-Barat sangat besar di kalangan warga Palestina karena persepsi mereka tentang hukum kemanusiaan internasional dan kenyataan yang terjadi di Gaza,” kata Shikaki.

Sumber : apnews

Reporter: Samsul

Mayoritas Negara di Majelis Umum PBB Dukung Gencatan Senjata di Gaza

NEW YORK (jurnalislam.com)- Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) yang beranggotakan 193 negara telah memberikan suara mayoritas mendukung resolusi yang menyerukan gencatan senjata demi kemanusiaan di Gaza yang sedang dilanda perang.

Resolusi disahkan pada hari Selasa (12/12) dengan dukungan suara dari 153 negara, 23 negara abstain, dan 10 negara, termasuk Israel dan Amerika Serikat, memberikan suara menentang. Meskipun resolusi ini bersifat tidak mengikat, namun resolusi ini berperan sebagai indikator opini global.

“Kami berterima kasih kepada semua pihak yang mendukung rancangan resolusi yang baru saja didukung oleh mayoritas orang,” kata Duta Besar Arab Saudi untuk PBB Abdulaziz Alwasil dalam sambutannya setelah pemungutan suara. “Ini mencerminkan posisi internasional yang menyerukan penegakan resolusi ini.” sambungnya.

Pemungutan suara tersebut dilakukan ketika tekanan internasional meningkat terhadap Israel untuk mengakhiri serangan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan di Gaza, di mana lebih dari 18.000 warga Palestina telah terbunuh, sebagian besar dari mereka adalah wanita dan anak-anak. Lebih dari 80 persen dari 2,3 juta penduduk Gaza juga telah mengungsi.

Serangan udara yang tiada henti dan pengepungan Israel telah menciptakan kondisi kemanusiaan di wilayah Palestina yang oleh para pejabat PBB menyebutnya sebagai “neraka di bumi”. Serangan militer Israel telah membatasi akses terhadap pasokan makanan , bahan bakar, air dan listrik ke Jalur Gaza.

Pemungutan suara pada hari Selasa ini terjadi setelah gagalnya resolusi Dewan Keamanan PBB (DK PBB) pada hari Jum’at, yang juga menyerukan gencatan senjata kemanusiaan.

AS memveto proposal tersebut, satu-satunya suara yang berbeda pendapat dan dengan demikian membatalkan pengesahan proposal tersebut. Sementara itu, Inggris abstain. Berbeda dengan pemungutan suara di Majelis Umum PBB, resolusi DK PBB mempunyai kekuatan mengikat.

Setelah resolusi Dewan Keamanan PBB yang dibatalkan pada hari Jum’at, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengambil langkah luar biasa dengan menerapkan Pasal 99 Piagam PBB. Pasal ini memberikan kewenangan padanya untuk mengeluarkan peringatan tentang ancaman serius terhadap perdamaian internasional, suatu tindakan yang terakhir kali dilakukan pada tahun 1971.

Namun pengesahan resolusi PBB yang tidak mengikat pada hari Selasa ini juga menhadapi tentangan dari Amerika Serikat.

Baik AS maupun Austria memperkenalkan amandemen resolusi untuk mengutuk serangan yang mematikan oleh Hamas pada 7 Oktober, yang menandai dimulainya konflik saat ini.

Dikutip dari laman Al Jazeera Koresponden Kristen Saloomey mengatakan negara-negara Arab melihat amandemen ini sebagai upaya mempolitisasi voting. Keduanya gagal lolos.

“Apa yang kami dengar dari banyak negara adalah kredibilitas PBB dipertaruhkan di sini, bentuk penghormatan terhadap hukum internasional sama halnya dengan menghormati upaya kemanusiaan,” menurut Saloomey.

Duta Besar Mesir untuk PBB Osama Abdelkhalek menyebut rancangan resolusi tersebut “seimbang dan netral”, dan menyerukan perlindungan warga sipil di kedua pihak dan pembebasan semua tawanan .

Utusan Israel Gilad Erdan menentang seruan gencatan senjata, dan menuduh PBB telah “menodai moral kemanusiaan”.

“Mengapa Anda tidak meminta pertanggungjawaban kepada para pemerkosa dan pembunuh anak?” pernyataan dalam pidatonya sebelum pemungutan suara. “Waktunya telah tiba untuk menyalahkan pihak yang bersalah: di pundak monster Hamas.” kata Gilad.

Pemerintahan Presiden AS Joe Biden dengan tegas mendukung serangan militer Israel, dengan alasan bahwa Israel harus diizinkan untuk membubarkan Hamas.

Namun ketika pasukan Israel menyerang sekolah dan rumah sakit, membuat posisi Amerika semakin bertentangan dengan opini internasional.

Dalam pernyataannya pada hari Selasa, Biden melemparkan kritik tajam terhadap sekutu AS tersebut, dengan mengatakan bahwa Israel kehilangan dukungan internasional karena “pemboman tanpa pandang bulu” di Gaza.

AS, yang mengkritik keras Rusia atas tindakan serupa di Ukraina, dituduh menerapkan standar ganda mengenai hak asasi manusia.

“Dalam setiap langkah yang diambil, AS terlihat semakin terisolasi dari opini arus utama PBB,” kata Richard Gowan, direktur PBB di International Crisis Group, sebuah LSM, kepada Reuters.

Sumber: aljazeera

Reporter: Samsul

Tidak Akan Menyerah, Saraya Al-Quds Siap Hadapi Pertempuran Berkepanjangan dengan Israel

GAZA (jurnalislam.com)- Abu Hamzah, juru bicara Saraya Al Quds, sayap militer dari Palestinian Islamic Jihad (PIJ), mengeluarkan pernyataan pada Rabu (13/12/2023), menegaskan tekad kuat kelompok perlawanan dalam menghadapi pertempuran berkepanjangan dengan zionis Israel di Gaza.

“Kami tidak akan menyerah, dan bendera putih tidak akan berkibar, tidak peduli berapa lama pertempuran ini berlangsung. Kami adalah rakyat daerah ini, dengan pertolongan dan kehendak Allah,” ungkap Abu Hamzah.

Abu Hamzah mengatakan tindakan Israel menyerang warga sipil dianggap sebagai tindakan pengecut,

“Mengebom warga sipil adalah perbuatan pengecut yang tidak berdaya ketika mereka menderita kekalahan di tangan orang-orang yang tetap teguh di negerinya,” katanya.

“Dalam pertempuran ini, kami hanya memiliki satu tekad, yaitu untuk menang,” tambah Abu Hamzah, menggambarkan keteguhan hati Brigade Saraya Al-Quds dalam menghadapi situasi tragis dan pengepungan.

Lebih lanjut, Abu Hamzah menyuarakan perlawanan terhadap pendudukan Zionis-Amerika dan pembelaan terhadap Masjid Al-Aqsa atas nama negara-negara berpenduduk satu miliar orang. Dengan tegas, Abu Hamzah mengajak negara-negara berpenduduk besar tersebut untuk bergandengan tangan dalam membayar rasa malu dan ketidakadilan yang dialami.

Pernyataan Abu Hamzah juga mencakup salam kepada kawan-kawan dan saudara-saudara di Mujahidin Perlawanan Islam di Lebanon dan Irak, menunjukkan solidaritas dalam perjuangan mereka melawan pendudukan.

Sumber: I’lam Saraya Al Quds

Reporter: Bahri

Respon Kekejaman Zionis, Roket Hamas Hantam Tel Aviv

TEL AVIV (jurnalislam.com)- Sayap militer Gerakan Perlawanan Islam Hamas, Brigade Al-Qassam, telah mengarahkan serangan rudal yang kuat ke Tel Aviv.

Dalam sebuah pernyataan, Brigade Al-Qassam mengatakan bahwa mereka menargetkan Tel Aviv dengan serangan rudal sebagai tanggapan atas pembantaian Zionis terhadap warga sipil Palestina.

Israel membenarkan adanya serangan itu, tentara pendudukan Israel melaporkan terjadi peluncuran jumlah besar roket ke arah Tel Aviv dan daerah dataran pantai. Sirene meraung-raung di seluruh Tel Aviv dan seluruh wilayah selatan, termasuk dataran pantai.

Belakangan, militer Israel menyatakan bahwa setidaknya satu rudal telah mendarat di sebuah jalan di kota Holon, selatan Tel Aviv. Mereka mengklaim tidak ada korban luka atau kerusakan akibat insiden tersebut.

Menurut media Ibrani diperkirakan setidaknya sepuluh roket diluncurkan dari Jalur Gaza menuju Tel Aviv.

Dalam sebuah rekaman video yang beredar menunjukkan tingkat kerusakan di lokasi jatuhnya roket di sebuah jalan di kota Holon.

Sebagaimana diketahui, juru bicara Brigade Al Qassam, Abu Ubaidah sebelumnya pernah mengeluarkan pernyataan terpisah bahwa mengebom Tel Aviv, Dimona, Yerussalem, dan daerah sekitarnya itu lebih mudah dari minum air.

Sumber: watan

Reporter : Bahri

Bantuan Kemanusiaan ke Gaza Harus Melalui Pemeriksaan Israel di Perbatasan Rafah

GAZA (jurnalislam.com)- Diplomat utama Uni Eropa, Josep Borrell, menilai warga sipil di Gaza menghadapi situasi bencana pada hari Senin (11/12/2023). Ia membuat perbandingan antara kehancuran wilayah tersebut dengan kehancuran Jerman selama Perang Dunia II.

Menurut badan kemanusiaan PBB OCHA, layanan kesehatan di Gaza telah hancur, hanya 14 dari 36 rumah sakit berfungsi sesuai kapasitasnya.

Pada hari Senin, rumah sakit Al-Aqsa di Gaza Tengah dibanjiri korban, dengan puluhan anak-anak yang berteriak kesakitan, menyusul serangan Israel di kamp pengungsi Al-Maghazi.

Persediaan bahan pokok telah habis dan kondisi sanitasi memburuk, wanita dan anak-anak perempuan di Rafah terpaksa menggunakan sisa-sisa kain untuk periode menstruasi mereka,

“Saya memotong pakaian anak saya atau kain apa pun yang saya temukan,” kata Hala Ataya, 25 tahun.

Di lingkungan Al-Rimal Kota Gaza, ribuan warga Palestina mendirikan kamp di markas besar badan PBB setelah rumah dan toko di dekatnya dihancurkan oleh serangan Israel.

Seorang koresponden AFP melaporkan baik universitas Islam maupun universitas Al-Azhar yang berdekatan telah hancur menjadi puing-puing, begitu pula kantor polisi.

“Tidak ada air. Tidak ada listrik, tidak ada roti, tidak ada susu untuk bayi, dan tidak ada popok,” kata Rami al-Dahduh, 23, seorang penjahit.

Organisasi-organisasi bantuan internasional telah berjuang untuk mendapatkan pasokan bagi warga Gaza yang putus asa akibat pemboman Israel dan hanya penyeberangan Rafah di Mesir yang dibuka.

Mereka menghadapi tekanan yang semakin besar dan terus berusaha membantu lebih banyak bagi warga sipil. Israel pada Senin mengumumkan bahwa mereka akan menyaring bantuan ke Gaza di dua pos pemeriksaan tambahan, yang akan memungkinkan lebih banyak bantuan memasuki wilayah yang dilanda bencana tersebut.

Tidak ada jalur penyeberangan baru yang akan dibuka, kata Israel, namun penyeberangan Nitzana dan Kerem Shalom akan digunakan untuk melakukan pemeriksaan sebelum mengirim truk bantuan melalui Rafah.

Sumber: alarabiya

Reporter: Samsul

Serangan Udara Israel, 1,9 Juta Pengungsi di Gaza Terjebak Tanpa Tempat Aman

GAZA (jurnalislam.com)- Pada Selasa (12/12/2023), Israel masih terus melakukan pengeboman di Gaza, yang membuat para relawan kemanusiaan khawatir wilayah yang terkepung itu akan dilanda penyakit dan kelaparan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan tekanan diplomatik terhadap Israel untuk mendorong perlindungan terhadap warga sipil.

Pertempuran sengit pun terjadi pada hari Selasa, Hamas mengatakan bentrokan terjadi di Gaza tengah dan para saksi melaporkan serangan mematikan Israel terjadi di selatan wilayah tersebut.

Serangan pada hari Senin menargetkan kota utama di selatan Gaza, yaitu Khan Younis, yang kini menjadi pusat pertempuran. Pertempuran juga terjadi di Rafah, sebuah kota di perbatasan dengan Mesir, tempat puluhan ribu orang mengungsi mencari perlindungan.

“Hamas berada di ambang kehancuran, IDF telah mengambil alih benteng terakhirnya,” klaim Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant pada Senin malam.

Perang yang dimulai sejak 7 Oktober itu telah menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza dan menewaskan sedikitnya 18.200 orang warga sipil, sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak, sebagaimana laporan Kementerian Kesehatan Palestina.

Panglima militer Israel, Herzi Halevi, mengunjungi pusat Khan Younis pada hari Senin, di mana ia menyatakan bahwa pasukannya telah mengambil alih wilayah utara Jalur Gaza, pintu masuk di bagian selatan Jalur Gaza, dan juga jalur bawah tanah.

PBB memperkirakan 1,9 juta dari 2,4 juta penduduk wilayah tersebut telah menjadi pengungsi akibat serangan Israel, setengah dari mereka adalah anak-anak.

Pemboman besar-besaran di wilayah selatan Gaza oleh Israel menyebabkan pengungsi terdesak dan tidak dapat pergi ke mana pun. Padahal sebelumnya, pihak Israel yang menginstruksikan penduduk untuk mengungsi mencari keselamatan di wilayah tersebut.

Warga Kota Gaza, Umm Mohammed al-Jabri, telah kehilangan tujuh anaknya dalam serangan udara di Rafah setelah mereka melarikan diri dari Kota Gaza untuk mengungsi,

“Saya punya empat anak lagi,” kata Jabri, 56 tahun. “Tadi malam mereka mengebom rumah tempat kami berada dan menghancurkannya. Mereka mengatakan Rafah adalah tempat yang aman.” Namun menurutnya, “Tidak ada satupun tempat yang aman”.

Sumber: alarabiya

Reporter: Samsul

Tujuan Perang di Gaza Tidak Jelas, Tentara Israel Mulai Frustasi

PALESTINA (jurnalislam.com)- Ada rasa frustrasi yang semakin berkembang di kalangan komandan angkatan bersenjata Israel terhadap Benjamin Netanyahu. Hal ini disebabkan oleh kegagalan perdana menteri Israel tersebut dalam menentukan tujuan perang yang sedang berlangsung di Jalur Gaza, seperti yang diungkapkan dalam analisis di media Haaretz pada Jum’at (08/12/2023).

Artikel yang dimuat oleh Haaretz menyebutkan bahwa Herzi Halevi, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, menuntut agar kabinet darurat Netanyahu menetapkan dengan jelas tujuan perang di Gaza sebelum melakukan invasi darat. Namun, pada saat itu, Halevi tidak mendapatkan tanggapan.

Meski pasukan Israel sudah lebih dari sebulan melakukan invasi darat, Halevi masih menunggu agar tujuan perang tersebut ditetapkan dengan jelas. Artikel yang ditulis oleh analis militer dan pertahanan surat kabar Amos Harel ini menyiratkan bahwa kurangnya tujuan perang disebabkan oleh fokus Netanyahu yang hanya pada upaya mengamankan masa depan politiknya dan persiapan untuk pemilihan yang akan datang.

Netanyahu, sebagai pemimpin pemerintahan sayap kanan Israel, kini menghadapi oposisi yang kuat dan dukungan publik yang merosot. Netanyahu juga menjadi tersangka dalam sidang kasus suap yang sedang berlangsung.

Harel mengklaim bahwa yang mencolok sepanjang perang Israel di Gaza, bahkan sebelum dimulai, adalah ketakutan Netanyahu dan para pemimpin lainnya untuk mengambil keputusan.

“Seringkali terlihat bahwa perdana menteri lebih suka membiarkan militer memutuskan untuknya, sehingga dia bisa menyalahkan Staf Jenderal atas kegagalan yang terjadi,” tulis Harel.

Harel juga menuduh Netanyahu melakukan pencitraan “kelemahan dan populisme di mana Netanyahu lebih memilih pendekatan menunggu dan lihat. Lebih banyak waktu dihabiskan untuk kampanye politik dengan memperhatikan pemilu berikutnya, termasuk pemotretan bersama perwira dan prajurit.”

Menanggapi laporan Haaretz tentang kegagalan pemerintah dalam menentukan tujuan yang jelas untuk perang di Gaza, penulis Israel, Dan Adin, menulis di sosial media X bahwa “militer terus maju dan membayar mahal tanpa pemerintah menentukan tujuan militer atau politik yang jelas.”

Berita ini datang seiring dengan laporan lain yang menyatakan bahwa tentara Israel telah mengalami lebih dari 5.000 cedera, dengan rata-rata 60 cedera per hari, dan 2.000 di antaranya divonis cacat.

Meskipun tanpa tujuan yang konkret, perang Israel di Gaza telah menyebabkan kematian dan kehancuran massal, dengan 1,9 juta warga Palestina diungsikan dan lebih dari 17.000 warga sipil termasuk wanita dan anak-anak terbunuh.

Sumber: The New Arab

Reporter: Bahri

Murid-Murid Kelas 1 SD Islam Terpadu Nur Hidayah Solo Ekspresikan Kreativitasnya Melalui Hasta Karya

SURAKARTA (jurnalislam.com)- Murid-murid kelas 1 SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta mengekspresikan kreativitasnya dengan membuat hasta karya pada Senin, (11/12/2023).

Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Penguatan Karakter dan Class Meeting pasca Penilaian Sumatif Akhir Semester I (PSAS I).

Murid-murid membuat hasta karya dari bahan alami secara berkelompok. Setiap kelompok, yang terdiri dari 3 sampai 4 murid. Dengan semangat bekerja sama dalam kelompok, mereka menciptakan karya seni yang memikat.

Koordinator Guru Kelas 1 Paralel, Eni Hestuti, S.S, S.Pd menyampaikan bahwa
Kegiatan berkelompok ini bukan hanya sekadar eksplorasi seni, tetapi juga sejalan dengan Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar.

“Melatih murid-murid berpikir dan bertindak kreatif. Memupuk jiwa gotong royong dengan bekerja secara berkelompok. Memberikan keleluasaan kepada murid-murid untuk memilih sesuai minat belajar mereka,” terang Eni.

“Pembelajaran berkelompok menjadi sarana efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial dan kemampuan berkolaborasi murid-murid. Mereka belajar untuk bekerja bersama, berbagi ide, dan menghargai kontribusi setiap anggota kelompok,” sambung Eni.

Murid-murid dengan antusias mengerjakan hasta karya mereka. Menciptakan beragam bentuk dan pola dari bahan alami seperti daun, batang tanaman, dan stik es krim. Kreativitas ini tidak hanya mencerminkan kepiawaian mereka dalam seni, tetapi juga kemampuan beradaptasi dan problem-solving yang diperoleh melalui pembelajaran berbasis proyek.

Ridho Kifah Baladi (7th), salah satu siswa kelas 1 mengungkapkan rasa senangnya dengan kegiatan belajar kelompok membuat hasta karya.

“Aku senang, belajarnya bareng dengan teman-teman dan ternyata daun pun bisa dibuat hiasan dan menjadi bagus,” ujar Ridho.

Kepala Sekolah SDIT Nur Hidayah Surakarta, Rahmat Hariyadi, S. Pd, menekankan pentingnya penerapan Kurikulum Merdeka sebagai meningkatkan kualitas pembelajaran.

“Melalui Kurikulum Merdeka, kita menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, mendukung, dan sesuai dengan kebutuhan murid. Pembelajaran berbasis proyek, seperti kegiatan hasta karya ini, merupakan langkah nyata menuju pendidikan yang lebih adaptif dan relevan,” terang Rahmat.