Ini Nasihat MUI Sambut Tahun Baru Hijriyah 1440

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Umat Islam di seluruh dunia menyambut Tahun Baru 1440 Hijriyah. Plt Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa’adi menyerukan kepada kaum Muslimin agar memasuki Tahun Baru 1440 Hijriah dengan penuh keimanan, ketakwaan dan keikhlasan serta senantiasa mengharap ridha Allah SWT dalam suasana hati yang sejuk, tenang dan damai.

“Semoga di tahun 1440 Hijriah ini umat Islam dapat meningkatkan amal kebajikan agar dapat memberikan kemanfaatan sebesar-besarnya bagi umat manusia, bangsa dan negara,” katanya melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com pada Selasa (11/9/2018).

Dia pun meminta kepada kaum Muslimin untuk mengembangkan sikap toleransi (tasamuh), keseimbangan (tawazun), dan bersikap adil (i’tidal) dalam menjalankan ajaran agama.

“Agar tidak terjebak pada pertentangan dan perselisihan sempit (furuiyyat) dalam menjalankan ajaran agama, demi mewujudkan persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyyah) dan persatuan umat (wihdatul ummah),” ujarnya.

Selain itu, MUI mengajak kepada seluruh komponen bangsa untuk mengembangkan wawasan kebhinnekaan sejati, menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang rukun, harmonis, saling menghormati, mencintai dan menolong dalam semangat persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyyah).

MUI pun memberikan nasihat dalam menyambut tahun politik dengan bersikap menahan diri dalam mengekspresikan politiknya termasuk dalam menyampaikan pernyataan pendapat agar tidak membuat suasana semakin panas, tegang dan penuh dengan kecurigaan.

“Perbedaan pilihan tidak harus diwarnai dengan saling menjelekkan dan memfitnah, menyebarkan hoax dan ujaran kebencian. Karena hal tersebut selain tidak memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat juga dapat menimbulkan gesekan dan retaknya bangunan kebangsaan kita,” tuturnya.

Buta Karena Glukoma, Abdul Manan Bangkit Menjadi Penghafal Al-Qur’an di Usia 48 Tahun

“Saya hanya mengandalkan Mp4, saya dengarkan sebanyak-banyaknya, sambil mencoba menirukan. Ini saya lakukan pada tengah malam setiap hari, seusai bangun dari tidur. Bacaan itu terus-menerus saya ulang,” tuturnya.

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Perasaan Abdul Manan hancur ketika penyakit Glukoma merenggut penglihatannya beberapa tahun lalu. Rumah tangga pria 48 tahun inipun nyaris hancur karena Abdul Manan merasa tak pantas lagi memimpin keluarganya.

“Bahkan rumah tangga saya di ujung tanduk. Bukan karena istri saya yang tidak menerima, namun saya merasa tidak pantas jadi suami. Saya tidak bisa bekerja lagi,” katanya saat didaulat menjadi inspirator dalam acara Majelis Pecinta Al-Qur’an yang digelar Griya Al-Qur’an di Gedung DBL Arena Surabaya, Selasa (11/9/2018).

Abdul Manan terpilih menjadi inspirator dalam acara itu atas perjuangannya menghafal kalam-kalam ilahi di usianya yang mendekati setengah abad. Bukan usia produktif bagi seseorang untuk mampu menghafal Al-Qur’an. Tapi dengan tekad yang bulat, tidak ada yang mustahi, dan Abdul Manan telah berhasil melakukannya.

Di awal-awal setelah Allah Subhanahu wa ta’ala menakdirkannya menjadi tuna netra, seorang teman menyarankan Abdul Manan untuk mencoba menghafalkan Al-Qur’an. Namun Manan pesimis. Di usaianya yang tak lagi muda, mana mungkin ribuan ayat-ayat suci itu mampu dihafalkannya. Ia hanya mengiyakan anjuran sahabatnya itu.

“Wong saya melihat aja tidak bisa hafal, apalagi saat saya buta,” ujarnya saat itu.

Namun setelah dua tahun berjalan, Manan mulai mempertimbangkan kembali anjuran sahabatnya, ia merasa harus harus bangkit dan membuktikan bahwa ia bukan tuna netra biasa. Abdul Mananpun mencoba menghafalkan Al- Qur’an secara diam-diam, tanpa diketahui istri dan anaknya.

“Mereka baru tahu saat saya sudah hafal 30 juz Al Qur’an. Mereka kaget bukan main,” kata dia mengisahkan.

Abdul Manan, tuna netra penghafal Al-Qur’an di usia 48 tahun

Kebulatan tekad dan doa Abdul Manan untuk menghafal Al-Qur’an didengar. Tak butuh waktu lama, pria asal Probolinggo Jawa Timur ini hanya membutuhkan waktu 8 bulan untuk menghafal 30 Juz Al-Qur’an. Masya Allah…

Abdul Manan mulai menghafal di usia 39. Sudah 9 tahun ini, pria 48 tahun ini menekuni Al-Qur’an. Setiap satu minggu, ia mengaku selalu menambah hafalan 1 Juz, begitu seterusnya, hingga 30 Juz itu mampu ia hafalkan dalam waktu 8 bulan saja dengan hanya mengandalkan pendengarannya.

“Saya menghafal Al-Qur’an setelah dua tahun tidak bisa melihat, tepatnya pada tahun 2009 dan saya tidak bisa melihat mulai 2007, saat itu saya mulai menghafal dengan menggunakan Mp4 yang dibantu oleh istri saya,” tutur Manan.

Di hadapan ribuan peserta Majelis Pecinta Al-Qur’an, Abdul Manan menceritakan metode menghafalnya. Setiap hari Abdul Manan mendengarkan lantunan Al-Qur’an melalui audio mp4 dan mencoba menirukannya waktu tengah malam.

“Saya hanya mengandalkan Mp4, saya dengarkan sebanyak-banyaknya, sambil mencoba menirukan. Ini saya lakukan pada tengah malam setiap hari, seusai bangun dari tidur. Bacaan itu terus-menerus saya ulang,” tuturnya.

Menurut Ketua Panitia Majelis Pecinta Al-Qur’an, Wirawan Dwi, kisah Abdul Manan akan menginspirasi umat Islam yang ingin menghafal Al-Qur’an.

“Insya Allah mereka akan menjadi inspirator peserta yang hadir untuk menjalani tahun selanjutnya dengan lebih mantap dengan naungan Al Qur’an,” tegas Wirawan.*

Siaran Pers Griya Al-Qur’an Surabaya

 

Rayakan Tahun Baru Islam, Griya Al-Qur’an Surabaya Wisuda 206 Hafidz

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Banyak cara yang dilakukan untuk merayakan tahun baru Islam. Griya Al Qur’an Surabaya, mengumpulkan para ratusan penghafal Al-Qur’an untuk merayakan datangnya tahun 1440 Hijriyah itu.
Dalam acara yang dibungkus dengan nama Majelis Pecinta Al Qur’an ini, panitia memilih tuna netra yang hafal 30 juz sebagai inspiratornya.
Selasa (11/9/2018), di gedung DBL Arena Surabaya, 206 penghafal Al-Quran dikumpulkan dalam acara Majelis Pecinta Al Qur’an. Tidak hanya itu ratusan penghafal Al-Qur’an itu juga diwisuda secara bersama-sama yang disaksikan sekitar 2000 masyarakat yang hadir.

“Para wisudawan itu sudah melalui seleksi yang ketat,” ujar Wirawan Dwi, Ketua Panitia kegiatan itu.

Semua calon wisudawan, ujarnya, selalu melalui 5 tahap, pendaftaran, tes, pembinaan, tasmi’ dan wisuda.  Semua peserta yang mendaftar akan dites.

“Jika tidak lulus, kami memberi kesempatan berikutnya di tahun depan,” ujar Wirawan. Yang tidak lulus, tambahnya, biasanya belum memenuhi kaidah bacaan yang benar.

Majelis Pecinta Al-Qur’an

Para Penghafal Al Qur’an Dites Ketat

Setelah tahap tes, para calon wisudawan akan mendapatkan pembinaan dan tasmi’. “Tasmi’ itu proses memperdengarkan semua hafalannya kepada para ustadz Griya Al Qur’an, semuanya bahkan yang 30 juz sekalipun, harus diperdengarkan. Lalu para ustadz kami akan membacakan ayat secara acak, lalu mereka meneruskannya,” tambah pria yang juga menjadi Public Relations Griya Al Qur’an ini.

Wirawan kemudian melanjutkan bahwa setelah proses itu, baru mereka bisa mengikuti wisuda.

Para penghafal Al Qur’an itu terbagi dari beberapa tingkatan hafalan, ada yang 2 juz, 5 juz dan kelipatannya hingga tuntas 30 juz. “Sebagian besar para wisudawan, di atas 40 tahun, bahkan ada yang 70 tahun lebih,” kata Wirawan.

Dalam wisuda ke 7 Griya Al Qur’an ini, juga mendatangkan para inspirator Al Qur’an, yaitu Sri Lestari, wanita 67 tahun yang berhasil menghafalkan  17 juz Al Qur’an setelah pension. “Beliau ini 8 tahun lalu mendaftar di Griya Al Qur’an, dan saat dites, masuk di kelas dasar 2, masih tahap mengenal huruf. Sekarang beliau sudah hafal 17 juz,” ujarnya.

Inspirator Al Qur’an lain yang tepilih adalah Arifin Sholeh, pengusaha yang punya hafalan sebanyak 15 juz. Dalam pertemuan itu Arifin mengatakan, “Saya awal-awal dulu menghafal satu surat selama 2 bulan, kemudian setelah menguatkan niat, dalam setahun dapat 10 juz,” ujar Arifin.

“Dulu, saya merasa tidak punya waktu untuk menghafal Al Qur’an, dan benar, Allah mengabulkan, waktu saya sempit sekali, benar-benar tidak  sempat. Padahal saat saya berniat, justru Allah memudahkan. Semua tergantung niat kita,” pesannya.

Perkuat Ukhuwah, Ulama Soloraya Gelar Silaturahmi Akbar Sambut Tahun Baru Hijriyah

SOLO (Jurnalislam.com) – Menyambut tahun baru Hijriyah 1440 H, ulama, ormas Islam dan pondok pesantren Se-Soloraya menggelar silaturahmi akbar bertajuk “Dengan Semanggat Hijriyah Kita Bangun Ukhuwah Islamiyah di Masjid Agung Kauman, Solo, Senin (10/9/2018).

Dalam sambutannya, pimpinan Pondok Pesantren Takmirul Islam, KH Muhammad Halim mengajak segenap elemen umat Islam untuk berlapang dada dalam menyikapi perbedaan khilafiyah dan pandangan politik.

Menurut dia, kondisi antar umat Islam di Soloraya saat ini sedang kurang harmoni. Perbedaan dalam dua khilafiyah dan pandangan politik kerap menjadi penyebabnya.

“Berangkat dari keadaan yang kurang harmonis diantara ormas Islam khususnya soloraya, dalam masalah khilafiyah serta perbedaan aspirasi politik yang sering menjadi bibit perpecahan, maka di sini kami berkumpul dan sepakat mari bersama dalam kesepakatan dan lapang dada dalam perbedaan,” tuturnya.

Di hadapan lebih dari dua puluh ribu jama’ah yang hadir, Kiai Halim juga menekankan umat Isam untuk mengedepankan tabayun.

“Jangan sampai ummat Islam ini saling mengecek satu sama lain baik tulisan maupun lisan kedepankan tabayyun jika ada berita yang menjadikan kita renggang sehingga akan terwujud sikap ta’wun saling tolong menolong,” katanya.

Mewakili Pondok Pesantren Takmirul Islam, selaku panitia, KH Muhammad Halim Harapan berharap dengan silaturahim akbar ini ada program ta’aruf (pengenalan) para tokoh, organisasi dan jama’ahnya.

“Semoga ukhuwah ini sebagai sarana persatuan ummat Islam Soloraya khususnya dan Indonesia pada umumya. Dan usaha ini mudah-mudahan diridhoi Allah SWT dalam rangka izzul Islam wal muslimin,” tutupnya.

Pembacaan Resolusi Silaturahmi Akbar Ulama se-Soloraya

Acaranya diawali dengan Tasmi’, kemudian masing-masing tokoh memberikan tausiah tentang keutamaan menjalin ukhuwah serta diakhiri dengan pembacaan resolusi Silaturahmi Akbar umat Islam Soloraya. Adapun salah satu isi resolusinya yaitu saling menjaga ukhuwah Islamiyah dan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah diatas pemahaman ahlu sunnah wal jamaah.

Hadir dalam acara tersebut, diantaranya ketua MUI, Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Solo KH Subari, Ketua Syuriah NU KH Sofwan Fauzi, Ketua DSKS Dr.Muinidillah Basri, Ketua MTA Ustadz Ahmad Sukino, Ustadz Buya Soni dari Majlis Alhidayah, Habib Sholeh Aljufri, KH Wahyudin dari Ponpes Al-Mukmin, Ustadz Syihabuddin dari Ponpes Isykarima, KH Muhammad Halim dari ponpes Takmirul Islam, dll.

Mustofa Nahra: Umat Islam Bersatu Karena Iman Bukan Uang

SOLO (Jurnalislam.com) – Tokoh Muda Muhammadiyah Mustofa Nahrawardaya menyebut, berkumpulnya lebih dari 100 ribu umat Islam dalam acara Jalan Sehat 9 September 2018 di Bundaran Gladak Solo adalah momen bersatunya umat di Kota Solo.

“Hari ini meskipun Haornas, Haornas itu sebenarnya memperingati pertama kalinya pekan olahraga nasional tahun 1981 tanggal 9 September, tetapi hari ini umat Islam berhasil mengubah imej itu, menjadi momen persatuan umat Islam di Kota Solo,” kata Mustofa dalam orasinya, Ahad (9/9/2018)

Mustofa mengaku kagum dengan semangat umat Islam di Solo. Meski sebelumnya aksi ini sempat mengalami banyak kendala, namun hal itu tidak menyurutkan langkah umat Islam Solo untuk bersatu.

“Umat Islam Solo itu, kalau tidak diganggu mereka bisa berkumpul karena iman, dibayar malah tidak mau, jadi kalau digerakan dengan bismillah, maka umat Islam di Solo insya Allah akan bergerak untuk membela agama Islam,” ungkap Mustofa.

“Salut saya dengan orang Solo, sudah digoda-goda, diganggu dan sempat dilarang, sempat tidak terjadi acaranya hari ini, ternyata yang hadir melebihi, prediksi, saya yakin yang disana pasti cemburu, meskipun ndak boleh kaos tagar, ternyata nggak mengurangi semangat,” imbuhnya dengan penuh semangat.

Ia juga berterima kasih kepada Kapolresta Surakarta Kombes Pol Ribut Hari Wibowo yang akhirnya memberi ijin kegiatan tersebut. Ia memastikan, peserta yang mengikuti aksi jalan sehat merupakan aset bangsa yang akan memberikan kontribusi positif untuk bangsa.

“Mohon maaf kalau hari ini teman saya mengganggu jalan di sekitar Gladak, ini bukan menggagu, insya Allah berkumpulnya umat Islam, terbentuknya persatuan umat hari ini, dalam rangka meluruskan kiblat bangsa,” tandas Mustofa.

Sebagaimana diketahui, acara Jalan Sehat Umat Islam Solo sempat dilarang oleh pihak aparat kepolisian. Acara yang semestinya berada di Kota Barat tersebut dipindah ke Bundaran Gladak. Sejak pukul 06.00 WIB massa mulai menyemut sejauh hingga beberapa kilo meter.

Mudrick Sangidoe: Mega Bintang Akan Terus Melawan Ketidakadilan

SOLO (Jurnalislam.com) – Tokoh Mega Bintang, Mudrick M Sangidoe ikut memberikan orasi dalam aksi jalan sehat umat Islam di Bundaran Gladak Solo, Ahad (9/9/2018). Dalam orasinya, Mudrick menegaskan akan membuat perhitungan terhadap pihak-pihak yang selama ini tidak adil terhadap umat Islam.

“Kalau mau dipersekusi silahkan, tapi kalau nanti ganti presiden, kita akan bikin perhitungan dengan mereka, catat mereka, oknum, pejabat yang tidak adil, catat, besok kita adili bersama-sama saudara,” katanya di hadapan ribuan peserta.

Mudrick menilai, pemerintahan Jokowi sudah berlaku tidak adil terhadap umat Islam dan rakyat, dan Mega Bintang, akan terus melawan ketidakadilan tersebut.

“Mega Bintang itu lahir karena melawan ketidakdilan, jadi kalau ada ketidakdilan tapi Mega Bintang diam, berarti Mega Bintang sudah bubar, nggeh nopo mboten (iya apa ndak-red),” ungkapnya.

“Umat islam kuk dihinakan, mayoritas kuk dihinakan, ini adalah penghinaan yang luar biasa kepada umat islam,” sambung Mudrick.

Mudrick juga menghimbau kepada masyarakat untuk terus kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat.

“Kepada masyarakat yang kritis kepada pemerintah untuk tidak percaya kepada pemerintah, anggap omongannya dusta, dusta, tapi dengan catatan, jangan melanggat hukum,” katanya.

Di akhir orasinya, Mudrick berdoa kepada Allah untuk menjadikan para peserta jalan sehat umat Islam itu menjadi Musa-Musa baru yang dapat mengalahkan kezaliman Firaun.

“Saya berharap kepada Allah Subhanahu Wata’ala, Mudah mudahan yang hadir disini menjadi Musa Musa baru yang menghancurkan segala bentuk kedzoliman Firaun Firaun baru yang ada di Indonesia saudara,” pungkasnya.

DSKS: Jalan Sehat Umat Islam Solo Bukti Persatuan Indonesia

SOLO (Jurnalislam.com) – Besarnya animo masyarakat Soloraya dalam acara Jalan Sehat Umat Islam disebut Ketua Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Dr Muinudinillah Basri sebagai bukti dari persatuan Indonesia. Hal itu disampaikan Dr Muin saat berorasi di hadapan lebih dari 100 ribu peserta Jalan Sehat, Ahad (9/9/2018).

“Mabes Polri, Mabes TNI, utusan Kapolda, Wakapolda, Danrem Dandim Soloraya, Kapolres, menghawatirkan acara kita menjadi sumber perpecahan, tapi alhamdulillah disini kita buktikan persatuan Indonesia,” katanya disambut pekik takbir para peserta.

“Sekali lagi kita berterimakasih sebesar besarnya, dan ternyata acara ini didukung warga dan elemen umat Islam Surakarta, disini ada Pagas Nusa, Banser, Kokam, MMI, ada Muhammadiyah, ada NU, ada Jamaah Tabligh, dan seluruh elemen surakarta, dan alhamdulillah kita bersatu dan berkasih sayang,” sambung Dr Muin.

Ia menambahkan, acara itu juga semakin membuktikan bahwa umat Islam penuh toleransi yang sekaligus membatah tuduhan buruk yang selalu dialamatkan kepada umat Islam.

“Karena kita kumpul disini ada yang mengatakan kita musuh NKRI, bahkan kita katakan, kita pembela NKRI, nenek moyang kita pendiri NKRI, ada yang mengatakan bahwa kita musuh Bhineka Tunggal Ika, dan kita buktikan yang kumpul disini adalah pembela Bhineka Tunggal Ika, yang berkumpul disini dikatakan musuh Pancasila, siapakah yang lebih Berketuhanan Yang Maha Esa kecuali kaum muslimin,” tegas Dr Muin.

Untuk itu, kedepan Dr Muin berpesan kepada umat Islam agar dapat lebih teliti dan selektif lagi dalam memilih pemimpin.

“Maka tidak benar kalau kita intoleran, dan tidak mungkin kita berdaulat kecuali kita bebas memilih ideologi kita, kita bebas memilih pemimpin yang sesuai dengan ideologi kita,” tandas Dr Muin.

100 Ribu Orang Ikuti Jalan Sehat Umat Islam, Mustofa Nahra: Kebangkitan Islam Dimulai dari Solo

SOLO (Jurnalislam.com) – Aktifis muda Muhammadiyah, Mustofa Nahrawardaya mengaku terkejut saat melihat antusiasme umat Islam dalam acara Jalan Sehat Umat Islam Soloraya di Bundaran Gladak Solo, Ahad (9/9/2018).

Jalan sehat untuk memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas) itu yang sempat tak dizinkan oleh Polresta Surakarta itu dihadiri lebih dari 100 ribu peserta.

Menurut Mustofa, dengan membludaknya jumlah peserta itu semakin membuktikan bahwa kota Surakarta kotanya umat Islam. Ia juga meyakini Kota Solo akan menjadi awal kebangkitan kaum muslimin di Indonesia.

“Mereka tetap semangat, ghirahnya ini sehingga ini menjadi nilai tersendiri, dan Solo tetap dikenal sebagai kota umat Islam, basisnya laskar, basisnya ormas ormas Islam yang ada di Indonesia memang ada di Solo, sehingga kebangkitan umat Islam nanti awalnya dari kota ini,” katanya saat ditemui Jurnalislam.com di sela-sela aksi.

“Jadi meskipun Solo dipimpin oleh Walikota non muslim, tetapi dengan itu tetap bisa jadi pemersatu umat Islam di Solo, terbukti hari ini berkumpul semua elemen, sesepuh solo termasuk abah Kasum bisa menjadi leader atau pemimpin gerakan umat Islam di Solo,” sambung Mustofa.

Mustofa Nahra berorasi di hadapan ratusan ribu peserta Jalan Sehat Umat Islam Soloraya di Bundaran Gladak. FOTO: Arie/Jurniscom

Mustofa yang mengaku baru pertama kali ikut aksi bersama umat Islam di Solo ini, merasa takjub. Sebab, kata dia, meskipun kegiatan sempat akan dibatalkan hingga harus berpindah lokasi, umat Islam tetap patuh pada perintah dan komando para ulama.

“Saya tidak menyangka dan baru pertama kali ikut kegiatan di Solo, nanti ini akan saya laporkan demgan teman teman di Jakarta, beginilah umat Islam di solo adanya, sehingga tanpa dibayar tanpa dikasih transport, mereka dikasih iming iming, mereka datang hanya untuk sedekar silaturahim menunjukan kepada publik bahwa kita tetap bersatu,” ungkapnya.

Untuk itu, menjelang tahun politik kedepan, ia berpesan kepada umat Islam di Soloraya untuk tetap menjaga semangat ukhuwah dan menjauhi segala perpecahan antar elemen akibat adanya perbedaan pandangan.

“Tetap menyatukan langkah dan persepsi khususnya dalam rangka untuk menhadapi pemilu yang akan datang,” tandasnya.

Sebagaimana diketahui, acara Jalan Sehat Umat memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas) ini semula akan digelar di Lapangan Kota Barat. Akan tetapi karena lapangan akan dipakai Pemkot Surakarta, akhirnya atas rekomendasi aparat kepolisian, acara Jalan Sehat itu dipindah ke Bundaran Gladak.

Dalam pantauan Jurnalislam.com di lapangan, tak ada satupun peserta yang mengenakan atribut #2019GantiPresiden, sebagaiman imbauan dari panitia. Acara berlangsung tertib dan damai hingga usai. Atas besarnya antusiasme masyarakat, banyak pihak yang menyebut acara ini sebagai Aksi Damai 9 September.

Membludak, Jalan Sehat Umat Islam Soloraya Berjalan Damai dan Tertib

SOLO (Jurnalislam.com) – Ribuan warga Solo mengikuti jalan sehat memperingati Hari Olahraga Nasional (HAORNAS) di Bundaran Gladak, Solo, Ahad (9/9/2018). Acara bertajuk Semanggat HAORNAS Membangkitkan Semangat Perjuangan Masyarakat Solo, untuk Indonesia Berdaulat’ itu semula dijadwalkan digelar di Lapangan Kota Barat.

Ketua Panitia Jalan Sehat, Dadyo Hasto mengaku bersyukur atas besarnya antusiasme masyarakat. Ia menyebut, lebih dari 100.000 orang mengikuti acara tersebut.

“Alhamdulillah nikmat luar biasa telah dikaruniakan oleh Allah ‘azza wa jalla di hari ini sertus ribuan masyarakat berkumpul menjadi sebuah silaturahim akbar,” katanya kepada Jurnalislam.com, Ahad (9/9/ 2018) di Bundaran Gladak Solo.

Ia menjelaskan, tujuan utama acara ini adalah untuk menumbuhkan dan menguatkan ukhuwah demi terciptanya Kota Solo yang berakhlak dan santun.

“Selalu memotivasi masyarakat untuk nenumbuhkan silaturahim dan ukhuwah dan mengeyampingkan sekat perbedaan serta terciptanya masyarakat Solo yang santun,berakhlak dan beradab dan sentiasa mengedepankan dialog,” paparnya.

Hasto selaku panitia mengucapkan berterimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalama menyukseskan acara tersebut. “Jazzakumullahu khairan kepada muhsinin yang telah membantu terlaksananya acara ini, seluruh elemen Islam yang terlibat dan panitia serta aparat terkait baik TNI/POLRI maupun pemkot,” tutupnya.

Acara diawali jalan santai dengan rute Gladak-BI-Mangkunegaran-Keprabon-Gladak, kemudian dilanjutkan orasi dan tausiah dari tokoh yang hadir seperti aktivis muda Muhammadiah, Musthofa Nahra, Ketua Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Ustadz Muinuddinillah Basri, dll.

Panitia juga menyedikan ratusan hadiah menarik, dengan hadiah utamanya 3 paket Umrah.

Ketergantungan pada Asing Penyebab Krisis

Oleh: Dr H. Mohammad Ghozali, MA[1] 

Dr. H. Mohammad Ghozali, MA
Terhenyak kembali seluruh rakyat  di Indonesia, nilai tukar rupiah (kurs) terhadap dolar sudah menembus Rp 15.029 per dollar, atau level terendah sejak krisis 1998 sekitar pukul 19.40 WIB. Yang sebelumnya di dahulu  dengan Turki dan Argentina yang merembet ke negara berkembang menimbulkan kekhawatiran para pelaku pasar global.
Pertanyaan yang segera di carikan solusinya.Pertanyaan yang muncul adalah kenapa hal ini bias terjadi.  Sedang setiap negara terbangun imej, mereka semua telah berdaulat?

Hal ini diberitakan beberapa media di Indonesia akhir akhir ini, penyebab Nilai tukar rupiah (kurs) terhadap dolar sudah menembus Rp 15.029 per dollar, atau level  terendah , “Akibat  investor menghindari risiko dengan membeli aset berdenominasi dolar. Indikatornya US Dollar index naik 0,13 persen ke level 95,2. Dolar index merupakan perbandingan kurs dolar AS dengan 6 mata uang lainnya,” Tribunnews.com, Selasa (4/9/2018).

Nampak sekali dominasi adikuasa negara kapitalisme, dimana sistem ekonomi yang melingkupi  perdagangan, industri dan alat-alat produksi, dikendalikan oleh pemilik swasta (Asing) dengan tujuan membuat keuntungan dalam ekonomi pasar. Pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Pihak  pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan rakyat bersama,.

Pada konsep  Imperialisme (al isti’mar) merupakan  pemaksaan dominasi (fardhu saytharah) di bidang politik, ekonomi, militer, dan budaya kepada negara-negara yang didominasi, untuk kemudian dieksploitasi (istighlal). Ringkasnya, imperialisme senantiasa menunjukkan 2 (dua) ciri tetap, pertama, adanya pemaksaan dominasi (fardhu saytharah), dan kedua, adanya eksploitasi (istighlal). Imperialisme mempunyai berbagai macam bentuk yang senantiasa disesuaikan dengan perkembangan konstelasi politik internasional dan opini umum dunia. Pada era puncak imperialisme militer pada abad XIX dan paruh pertama abad XX, cara yang lebih banyak dipakai adalah pendudukan militer secara langsung kepada negara-negara jajahannya

Jadi masalah mereka (sistem kapitalisme) terletak pada kebutuhan manusia bukan kepada manusianya itu sendiri yaitu tersedianya sumber (alat pemuas) untuk memuaskan kebutuhan, dan bukan pada pemuasan kebutuhan tiap-tiap individu.

Dengan demikian maka barang dan jasa akan berkaitan dengan tingkat produktifitas dalam penciptaan barang dan jasa dan ini pula akan mempengaruhi masalah pendistribusian  dari keduanya. Kajian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi  besarnya produksi nasional, menurut system kapitalisme menduduki posisi penting diantara kajian semua topik ekonomi mereka.

Oleh karena itu, selama sebuah negara  masih terpaku, ketergantungan kepada negara pada asing, maka sebagai negara berdaulat tidak akan bisa  berbuat apa-apa kecuali mengikut kebijaksanaan asing. Dengan demikian kemandirian sebagai negara berdaulat sangat diperlukan untuk menanggulangi  krisis ekonomi.

 

[1]  Dosen Senior Program Sudy  Hukum Ekonomi Syariah  Pasca  Sarjana Universitas Darussalam Gontor