Indonesia dan Australia Gelar Pertemuan Sub-Regional Bahas Terorisme

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Wiranto dan Menteri Dalam Negeri Australia, Petter Dutton memimpin pertemuan Sub Regional Meeting on Counter Terrorism (SRM on CT).

Pertemuan yang digagas pemerintah Indonesia dan Australia ini merupakan upaya dari negara-negara di sub-kawasan guna mengantisipasi dan menanggulangi masalah terorisme. Khususnya dengan melihat perkembangan dan perubahan strategi serta taktik pelaku teror.

Wiranto mengatakan bahwa pola penyebaran paham radikal yang merupakan cikal bakal dari aksi terorisme telah berkembang.

“Para terorism telah memodifikasi strategi serta pola serangan mereka,” katanya di Fairmont Hotel, Jalan Asia Afrika, Senayan, Jakpus, Selasa (6/11/2018).

Wiranto meyakini, dulu pelaku teror beraksi sebagai satu organisasi dalam melakukan serangan. Namun kini serangannya muncul dalam unit yang lebih kecil atau bahkan atas inisiasi sendiri atau lone wolf serta juga melibatkan kaum perempuan dan anak-anak.

Wiranto menegaskan pertemuan bertujuan untuk membangun sinergi antara pemerintah dengan LSM. Khususnya yang bergerak di bidang perlindungan perempuan dan keluarga guna mencegah nilai-nilai ideologis yang bersifat radikal serta dapat memicu terjadinya ekstremisme.

Pertemuan Sub Regional Meeting on Counter Terrorism (SRM on CT) diikuti oleh sembilan negara. Di antaranya Indonesia, Australia, Brunei Darussalam, Filipina, Malaysia, Myanmar, Selandia Baru, Singapura dan Thailand.

Anggota DPR Desak Lion Air Diaudit

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Anggota Komisi V DPR RI, Hamka Baco Kady, mendorong Kementerian Perhubungan melakukan audit investigasi secara menyeluruh terhadap maskapai penerbangan yang ada di Indonesia. Kemenhub sebagai regulator mempunyai kewenangan untuk meng-grounded pesawat yang tidak layak beroperasi.

“Jangan seperti pemadam kebakaran, ketika ada kecelakaan seperti yang terjadi pada maskapai penerbangan Lion Air, terus saling tuduh, dan saling berebut pekerjaan,” kata Hamka melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com, Senin (5/11/2018).

Oleh karena itu, menurut legislator Partai Golkar itu, semua maskapai penerbangan harus diaudit investigasi, terutama kepada Lion Air. Audit investigasi ini harus secara menyeluruh dari semua aspek manajemen.

“Karena kita tahu persis, khususnya Lion Air adalah suatu maskapai yang berbiaya murah. Oleh karena itu perlu diaudit benar-benar, apa dengan biaya murah ini aspek keamanannya terabaikan atau tidak, faktanya kan terlihat,” imbuh Hamka.

Legislator dapil Sulawesi Selatan itu menambahkan, seluruh pihak untuk tidak menuduh kesalahan insiden pesawat Lion Air itu, sebelum adanya hasil investigasi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Namun ia menganjurkan kepada Kemenhub untuk melakukan audit secara menyeluruh.

“Audit investigasi, audit manajemen, hingga laporan keuangannya harus diaudit dengan baik, termasuk seluruh komponen biaya. Apakah komponen biaya pemeliharaannya itu nampak baik, apakah memang maintainance ini dilakukan secara berkala, karena itu sangat menentukan,” tandas Hamka.

Pembakar Bendera Tauhid Dihukum 10 Hari Penjara Denda Rp.2000

GARUT (Jurnalislam.com) – Dua terdakwa pembakaran bendera berlafadz tauhid pada peringatan Hari Santri Nasional (HSN), Faisal dan Mahfudin dinyatakan bersalah telah melakukan tindak pidana ringan (Tipiring). Keduanya dijatuhi hukuman 10 hari dan denda Rp.2000 karena telah membuat kegaduhan dalam peringatan HSN.

Dalam sidang digelar di PN Garut, Jalan Merdeka, Tarogong Kidul, Senin (5/11/2018) itu, Hakim Pengadilan Negeri Garut, Dr Hasanuddin, SH.MH, menyatakan Faisal dan Mahfudin dinyatakan bersalah telah melakukan gangguan ketertiban umum dalam perayaan HSN di Alun-alun Limbangan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

“Keduanya telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah dan dijatuhi kurungan 10 hari dan denda Rp 2 ribu,” ujar Hasanudin dalam jalannya sidang sebagaimana dilansir detik.com

Atas putusan itu, keduanya mengaku menerima. Selain itu, penuntut umum pun mengaku menerima atas putusan hakim tersebut.

“Menerima,” ungkap keduanya kepada majelis hakim.

Putusan tersebut tertuang dalam surat keputusan PN Garut nomer 55. Keduanya terbukti melanggar pasal 174 tentang ketertiban umum.

Dalam putusan itu, terdakwa diringankan karena selama ini tak pernah berurusan dengan hukum. Selain itu, terdakwa kooperatif dalam menjawab semua pertanyaan.

Humas PN Garut, Hendratno Rajamai, mengatakan, kedua terdakwa meyakinkan terbukti bersalah melakukan tindak pidana mengganggu ketertiban umum.

“Putusannya sudah jelas, keduanya terbukti dan meyakinkan telah melanggar pasal 174. Keduanya pun menerima atas putusan hakim,” kata Hendratno di PN Garut, dilansir Garut-ekspress, Senin (5/10/18)

Menurutnya, jalannya persidangan berlangsung tertib berkat pengamanan pihak keamanan. Sekarang keduanya tinggal menjalani hukuman sesuai putusan hakim.

Tanzania Umumkan Penangkapan Besar-besaran Pelaku LGBT

TANZANIA (Jurnalislam.com) – Belum lama ini, seorang pejabat senior Tanzania menyerukan kepada publik untuk melaporakan orang-orang yang dicurigai sebagai bagian dari kelompok Komunitas Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT). Aparat keamanan setempat akan mulai melakukan penangkapan pada awal pekan depan.

Paul Makonda, komisaris regional (gubernur) Ibu Kota Dar es Salaam, mengumumkan tindakan keras itu pada Senin 29 Oktober 2018.

“Sebuah tim akan dibentuk untuk mengidentifikasi dan menangkap para homoseksual,” demikian seperti dikutip dari media Irlandia RTE.ie, Sabtu (3/11/2018).

Paul Makonda mengatakan pada konferensi pers pada Selasa (30/10/2018) lalu bahwa dia telah menerima lebih dari 5.700 laporan dari publik yang menyebut lebih dari 100 nama yang diduga gay.

Makonda juga membentuk ‘Komite 17’, tim yang akan ditugaskan untuk mengidentifikasi orang gay di situs media sosial –seperti Facebook dan Twitter– untuk kemudian menangkap mereka.

Di Tanzania, homoseksual bisa menghadapi ancaman maksimal 30 tahun penjara.

Pengumuman Makonda telah memicu kepanikan dan ketakutan di antara ribuan orang LGBT di negara Afrika timur itu. Beberapa mengatakan bahwa mereka terlalu takut untuk pergi keluar pada siang hari, sementara yang lain memilih nomaden karena khawatir akan ditangkap.

“Sejak hari Senin, saya telah meninggalkan rumah saya dan berpindah ke sana kemari. Saya selalu melihat ke belakang jika sedang berjalan,” kata Nathan (24) kepada Reuters melalui telepon dari Dar es Salaam.

“Ada begitu banyak ketegangan dalam komunitas gay saat ini. Tidak hanya di Dar, tetapi di seluruh negeri. Kami benar-benar takut. Kami tidak tahu apa yang harus dilakukan dan ke mana harus pergi.”

Meskipun tindakan keras itu akan dimulai pada hari Senin 5 November 2018, Nathan mengklaim bahwa rumah-rumah sudah digerebek di kota pelabuhan dan orang-orang gay ditangkap.

Kelompok kampanye Equality Now mengatakan bahwa mereka terkejut dan khawatir dengan tindakan keras itu –yang juga menargetkan pekerja seks. Ia meminta pemerintah federal untuk mengutuk pernyataan Makonda dan memberlakukan hukum dan kebijakan untuk melindungi hak semua orang.

ECR Akan Dirikan Masjid Darurat untuk Muslim Minoritas di Sigi

SIGI (Jurnalislam.com) – Emergency and Crisis Response (ECR) akan mendirikan masjid darurat bagi warga terdampak gempa dan tsunami di minoritas muslim Desa Omu Soluki, Gumbasa, Kabupaten Sigi. Satu-satunya masjid di desa itu rusak diguncang gempa pada 28 September lalu.

“Kita akan membangun masjid darurat berukuran 7×7 meter mengunakan bahan baja ringan, kebutuhan akan dakwah di sini sangat tinggi, Masjid Al-Haq adalah satu-satu masjid yang ada di sini, dan setidaknya ada 4 gereja aktif yang berada di desa Soluki,” kata koordinator ECR untuk Palu, Abu Faris, Ahad (3/11/2018).

Sementara itu, salah satu pengurus masjid Al-Haq, Ustadz Ismail mengungkapkan, pengajian anak-anak terhenti total akibat belum adanya tempat. Ustadz Ismail juga mengeluhkan kurangnya tenaga pengajar atau da’i di daerah tersebut.

“Anak-anak disini masih takut kalau mengaji di masjid karena memang masih rawan roboh, ada 35 kk dari 210 kk yang beragama Islam di sini, namun kita juga masih terkendala akan jumlah da’i,” katanya.

“Kita mewakili warga mengucapkan terima kasih kepada ECR yang akan membangun masjid darurat itu, mudah-mudahan apa yang diberikan donatur kepada kami dibalas oleh Allah Subhanahu Wata’ala,” imbuhnya.

Desa Soluki merupakan salah satu daerah terdampak gempa yang cukup parah. Hampir 70 persen pemukiman warga Desa Soluki rusak. Mayoritas penduduk setempat masih tinggal di pengungsian, sebagian lainnya mendirikan tenda di depan rumah mereka. Desa Soluki berjarak 50 km dari pusat kota Palu.

Di desa ini ECR juga membuka posko kesehatan. Abu Faris mengatakan, warga rata-rata mengeluhkan pusing kepala akibat tekanan darah tinggi. Selama 24 jam ECR akan melayani warga

“Tim ECR kali ini kembali melakukan aksi kesehatan gratis kepada masyarakat, warga Soluki rata-rata mengeluhkan pusing disebakan tekanan darah yang tinggi akibat masih trauma terhadap gempa,” kata Abu Faris.

11 Peristiwa Bersejarah yang Terjadi di Bulan Shafar

JURNALISLAM.COM – Bulan Shafar adalah bulan kedua dari dua belas bulan dalam tahun hijriah. Shafar secara bahasa artinya kosong atau nol. Dinamakan Shafar karena kota Mekkah (seolah) kosong dari penghuninya jika orang-orang bersafar mendatanginya. Dikatakan pula dalam Lisanul Arab Ibnu Mundzir dinamakan Shafar karena dahulu suatu kabilah diperangi dan ditinggalkan tanpa memiliki barang apapun (dijarah).

Dalam sejarah Islam, bulan shafar menempatkan peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan perkembangan Islam dari zaman Rasulullah hingga kejayaan dan keruntuhunnya.

  1. Pernikahan Rasulullah ﷺ dengan Khadijah binti Khuwailid

Menurut beberapa sumber Rasulullah ﷺ menikahi Khadijah RHA pada bulan Shafar. Menurut Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Syeikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri Rasulullah muda menikahi Khadijah atas prakarsa Nafisah binti Munabbih. Mahar yang diberikan Rasulullah ﷺ berupa unta 20 ekor dengan jarak usia lebih tua khadijah 15 tahun. Dari pernikahnnya dengan Khodijah Rasulullah ﷺ memiliki sejumlah anak laki-laki dan perempuan. Akan tetapi semua anak laki-laki meninggal. Sedangkan yang anak-anak perempuannya adalah Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Rasulullah ﷺ tidak menikah dengan wanita lain selama Khodijah masih hidup.

Terdapat perbedaan pendapat mengenai bulan pernikahan Rasulullah ﷺ dengan Khadijah, sebagian ada yang menyebut bulan Rabiul Awwal.

  1. Peristiwa Perang Al Abwa
Illustrasi Perang Al Abwa

Dalam Zaadul Maad Peristiwa ini terjadi pada bulan Shafar tahun ke 12 Hijrah. Perang Al Abwa disebut pula dengan Perang Waddaan. Pembawa panji perang saat itu Hamzah bin Abdul Muthalib. Ketika itu panji yang dibawa berwarna putih. Kepemimpinan kota Madinah sementara waktu diserahkan kepada Saad bin Ubadah. Perang ini Dilakukan khusus untuk menyergap kafilah Quraisy namun tidak membuahkan hasil.

Pada peristiwa ini Nabi ﷺ berpesan kepada Makhsyi bin Amr adh-Dhamari, yang merupakan pemimpin Bani Dhamrah kala itu, untuk tidak saling berperang dan tidak membantu lawan. Perjanjian dibuat tertulis. Itu berlangsung selama lima belas malam.

  1. Tragedi Ar Raji’

Pada bulan Shafar di tahun ke 4 Hijriyah, beberapa orang dari Adhal dan Qarah datang kepada Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa di tengah kaumnya ada beberapa orang Muslim. Mereka meminta gara dikirim beberapa orang yang sanggup mengajarkan Islam kepada mereka. Rasulullah ﷺ pun mengutus sepuluh orang dengan Ashim bin Tsabit sebagai pemimpin rombongan.

Setibanya di ar-Raji’, pangkalan air milik Bani Hudzail, para utusan yang memang sejak awal berniat menipu kaum Muslim itu bekerja sama dengan perkampungan Bani Lahyan. Seratus pemanah dari Bani Lahyan mengejar sepuluh utusan Rasulullahﷺ tersebut. Menyadari bahwa bahaya mengintai para utusan Rasulullah ﷺ tersebut, mereka berusaha menyelamatkan diri dengan mendaki tempat yang lebih tinggi.

Para pemanah yang mengepung mereka berkata, “Kami berjanji dan bersumpah tak akan membunuh seorang pun di antara kalian asal kalian turun.”

Rombongan itu menolak tawaran yang mereka anggap hanya jebakan tersebut. Mereka bertempur dengan gagah berani hingga gugur dan menyisakan Khubaib bin Ady dan Zaid bin Datsinnah. Akhirnya Khubaib dan Zaid di bawa ke Makkah dan di jual kepada penduduk Makkah, padahal keduanya banyak menghabisi para pembesar Quraisy di perang Badar.

Illustrasi: Tragedi ar-raji pangkalan air

Khubaib dimasukkan ke dalam penjara setelah di beli oleh Hujair bin Abu Ilhab, namun kemudian orang-orang Quraisy sepakat untuk membunuh Khubaib. Untuk membunuh Khubaib, orang Quraisy sepakat untuk menyalibnya di luar tanah suci Makkah. Sebelum di salib, Khubaib meminta kesempatan untuk mendirikan salat dua rakaat saja, dan dikabulkan. Selesai salat, Khubaib berkata dengan nyaring, “Ya Allah, hitunglah bilangan mereka, binasakanlah mereka semua dan jangan Engkau biarkan seorang pun di antara mereka tetap hidup.”

Setelah orang-orang Quraisy membunuh dan menyalib jasad Khubaib, mereka menunjuk beberapa orang untuk menjaga jasad Khubaib supaya tidak diambil oleh kaum Muslim. Tetapi atas ijin Allah, Amr bin Umayyah mampu mengakali para penjaga dan mengambil jasad Khubaib untuk dikuburkan. Sedangkan Zaid bin Datsinnah dibeli oleh Shafwan bin Umayyah untuk dibunuh, karena Zaid telah membunuh ayahnya di perang Badar.

Sementara itu, orang-orang Quraisy mengutus beberapa orang untuk memotong sebagian tubuh Ashim bin Tsabit untuk memastikan kematiannya, karena Ashim membunuh banyak pembesar Quraisy di perang Badar. Karena sebelumnya Ashim pernah bersumpah kepada Allah untuk tidak bersentuhan dengan orang-orang Musyrik dan tidak membiarkan dirinya disentuh oleh orang-orang Musyrik, Allah ﷻ mengutus sekumpulan lebah yang melindungi jasad Ashim sehingga utusan orang Quraisy tersebut sama sekali tak bias mnyentuh jasad Ashim. Ketika Umar bin Khattab mendengar hal ini, dia berkata, “Allah menjaga hamba yang Mukmin setelah meninggal dunia, sebagaimana Dia menjaganya sewaktu masih hidup.”

Din Syamsuddin : Menuding UAS Anti-Pancasila adalah Kekeliruan Nalar

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin menjamu Ustadz Abdul Somad (UAS) di kediamannya Jalan Margasatwa Raya, Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (3/11/2018).

Din mengaku prihatin atas beberapa kejadian yang dialami dai kondang itu. Ia memaparkan, UAS kerap difitnah dengan sebutan anti-Pancasila hanya karena para pengawalnya menggunakan atribut lafadz tauhid yang diidentikkan dengan kelompok Hizbut Tahrir yang mendukung khilafah. Atas tuduhan itu, UAS juga kerap menjadi korban persekusi, agenda ceramahnya di beberapa kota pun terpaksa dibatalkan.

“Terkait dengan apa yang dialami Ustadz Abdul Somad yang mengalami penghadangan, persekusi, atau penghalangan dakwah, saya selaku pemangku amanat di Ormas Islam, khususnya sebagai Ketua Dewan Pertimbangan MUI, sangat prihatin sekali. Secara khusus kami meminta hal semacam itu tidak terjadi lagi. Ada satu fitnah yang sangat mudah sekali terjadi kepada seseorang,” papar Din saat menjamu UAS, Sabtu (3/11/2018).

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini mengungkapkan, pada masa order baru, tudingan anti-Pancasila kepada umat Islam juga pernah terjadi dan saat ini tudingan tersebut terulang namun dalam bentuk lain.

“Dituduh anti-Pancasila karena mengembangkan khilafah dan lain sebagainya. Sementara, khilafah itu kan ajaran Islam. Tidak bisa kita menafikkannya. Itu ada pemahaman sendiri,” katanya.

Din memastikan, penjelasan khilafah yang disampaikan oleh UAS itu sudah benar, karena dilandaskan pada Al-Qur’an dan Hadits. Oleh sebab itu, sambung Din, menuduh UAS anti-Pancasila hanya karena ia berbicara soal khilafah adalah sebuah nalar yang keliru.

“Ini kekeliruan nalar. Dan saya sudah mengikuti apa yang disampaikan Ustadz Abdul Somad, beliau menjelaskan khilafah dari Al-Qur’an, beliau ahli hadits, beliau menjelaskan dari pandangan Islam,” tandasnya.

Din memandang, umat Islam seharusnya bersyukur atas kehadiran da’i berkualitas seperti UAS yang mencerdaskan masyarakat dengan pemahaman Islam yang lurus dan tulus.

“Maka, tolong jangan selalu dilihat secara politis,” tuturnya.

11 Anggota Keluarga Hilang Akibat Likuifaksi, Mulyono Ikhlas

SIGI (Jurnalislam.com) – Gempa yang menimpa Sigi sebulan lalu masih menyisakan luka bagi keluarga Mulyono (55). Warga Kelurahan Petobo, Kecamatan Biromaru ini merupakan salah satu korban yang berhasil menyelamatkan diri dari gulungan lumpur akibat likuifaksi.

Ditemui di pengungsian, Mulyono menceritakan kisah pilu mengenai anggota keluarganya yang hilang tertimbun lumpur.

“Kita semua ada lima belas orang, tapi yang selamat hanya empat. Sebelas lagi tertimbun dan sudah sulit untuk dievakuasi,” jelas Mulyono kepada INA News Agency, Sabtu (3/11/2018) di kelurahan Petobo, Biromaru, Sigi, Sulawesi Tengah.

Mulyono bersama keluarganya yang selamat. FOTO: Hilman/INA

Sulit untuk membayangkan apa yang dialami Mulyono. Namun, takdir memaksanya tegar menghadapi kenyataan bahwa saudara ipar, menantu, dan cucunya yang masih berusia tiga tahun menjadi korban dari peristiwa alam yang begitu mencengangkan itu. Meski demikian, ia mengaku telah ikhlas.

Selain luka hati akibat kehilangan orang-orang yang dikasihi, efek gempa yang dahsyat membuat membuat Mulyono kehilangan mata pencahariannya sementara waktu karena patah kaki.

Begitu juga dengan anaknya, Estin (28). Dia harus terbaring lemas karena mengalami patah di bagian tubuh yang sama. Bukan hanya itu, Estin mesti mengukuhkan kesabarannya karena kehilangan suami dan anak bungsunya, Zahira Az-Zahra (3).

Saat ini Mulyono dan keluarga hanya berharap kepada pemerintah agar memberi perhatian lebih kepada korban. Terlebih, dalam beberapa hari terakhir bantuan mulai berkurang.

“Bantuan mulai berkurang. Sehingga kami kadang harus menunggu datangnya air dalam tiga atau empat hari,” ungkapnya.

Reporter : Hilman | INA News Agency

Di Hari Berkah, Dua Remaja Nias Mantap Ikrarkan Syahadat

NAGAN RAYA (Jurnalislam.com) – Di hari yang berkah, Jumat (2/11/2018) dua remaja asal Nias, Sumatera Utara (Sumut) mantap mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya, Nangroe Aceh Darussalam. Dua warga tersebut masing-masing bernama Marcel (18), yang saat ini berubah namanya menjadi Muhammad Usman, dan John (16), yang kini bernama Muhammad Ali.

Proses pensyahadatan dua remaja itu dibimbing langsung Pimpinan Dayah Istiqamatul Khairat, Tgk M Alwi Alwaliya, dan ikut disaksikan Danpos Kuala Pesisir, Amrizal serta anggota MPU Nagan Raya, plus tokoh masyarakat setempat.

Dilansir dari Serambinews, Ketua Pemuda Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Bahagia, mengatakan, kedua remaja tersebut selama ini berprofesi sebagai pemburu babi. Mereka merupakan kakak beradik yang sudah 5 bulan berdomisili di desa tersebut, sehingga dalam pergaulan dengan para pemuda di daerah itu, akhirnya keduanya memutuskan untuk memeluk Agama Islam.

“Saya siap menjadi orang tua Muhammad Usman dan Muhammad Ali untuk membimbingnya dalam mempelajari ilmu agama dan tata cara beribadah sesuai dengan ajaran Islam,” kata Tgk M Alwi Alwaliya, Pimpinan Dayah Istiqamatul Khairat.

Sementara Muhammad Usman mengatakan, sebelumnya mereka memeluk Agama Kristen bersama adiknya Muhammad Ali, termasuk keluarga mereka di Nias. Sebelum masuk Islam ia dan adiknya mengaku telah meminta izin kepada ayah mereka di Nias dan keinginannya untuk masuk Islam diizinkan oleh ayahnya.

Sumber: Serambinews

Hadiri Aksi Bela Tauhid 211, Bupati Garut : “Setelah Ini Kita Akan Saling Menjaga”

GARUT (Jurnalislam.com) – Aksi Bela Tauhid 211 di Alun-alun Garut siang ini, Jumat (2/11/2018) telah selesai dilangsungkan. Aksi yang dihadiri oleh Bupati dan Kapolres Garut itu berlangsung aman dan damai. Ribuan peserta aksi membubarkan diri dengan tertib.

Bupati Garut, Rudy Gunawan mengatakan, acara tersebut adalah doa bersama untuk mewujudkan Garut yang aman dan damai serta memperkuat komitmen bersama untuk menjaga ukhuwah islamiyah.

“Hari ini adalah adanya satu komitmen bersama bahwa doanya masyarakat garut ingin menjadi daerah yang damai aman dan ukhuwah islamiyah tetap terjaga, dan tadi itu adalah bentuk komitmen kita terhadap ukhuwah islamiyah, karena kan semua unsur tadi kan ada di situ,” katanya kepada awak media.

Bupati dan Kapolres Garut bersama elemen umat Islam di atas panggung Aks Bela Tauhid 211 Garut. FOTO : Dadang Muthofa/Jurnis

Baca juga: 

Terkait kasus pembakaran bendera tauhid yang menjadi pemicu adanya aksi tersebut, menurut Rudy, semua pihak telah sepakat untuk menyerahkan sepenuhnya kasus tersebut kepada aparat penegak hukum.

Setelah kasus ini, kata dia, semua pihak akan saling menjaga dan saling mengingatkan.

“Itu sudah selesai dan tentu kita ke depan akan saling mengingatkan dalam rangka watawa shoabilhaq watawa shoubisshobr, dan ini yang ingin kita kedepankan,” tuturnya.