49 Warga Iran Tewas Akibat Covid-19 dalam Sehari, Total Menjadi 194

TEHERAN (Jurnalislam.com) – Departemen Kesehatan Iran pada Ahad (8/3/2020) mengumumkan, korban meninggal akibat wabah virus Corona di Iran naik menjadi 194 orang.

Juru bicara Departermen Kesehatan Iran Kianoush Jahanpour mengatakan, 49 orang tewas dalam 24 jam terakhir, sementara 743 kasus baru ditemukan, menjadikan jumlah kasus yang dikonfirmasi menjadi 6.566.

“Setidaknya 22.177 orang saat ini dalam perawatan medis, sementara jumlah pasien yang pulang mencapai 55.404,” katanya dalam konferensi pers di ibukota Teheran, Ahad (8/3/2020).

Sementara itu, pemerintah Turki bulan lalu telah menutup perbatasan darat dan menunda perjalanan udara ke Iran.

Selain Cina, Italia, dan Korea Selatan, Iran adalah negara yang terkena dampak terburuk sejak wabah penyakit Desember lalu.

Sebagai bagian dari upayanya menahan virus, Teheran telah mengambil beberapa langkah, termasuk penutupan semua sekolah dan institusi pendidikan tinggi, membatalkan acara olahraga, dan melarang pejabat pemerintah meninggalkan negara itu.

Pertama kali terdeteksi di Wuhan, Cina pada bulan Desember, virus, yang secara resmi dikenal sebagai COVID-19, telah menyebar ke lebih dari 80 negara.

Korban kematian global hampir 3.500, dan lebih dari 100.000 kasus dikonfirmasi, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sebagai bagian dari upaya penanggulangan wabah, pemerintah telah menutup perbatasan dan menunda perjalanan darat dan udara dengan negara-negara yang paling parah dilanda.

Setelah menyatakan wabah darurat kesehatan internasional pada bulan Januari, bulan lalu WHO memperbarui tingkat risiko global menjadi “sangat tinggi.”

Rakornas IKADI Lahirkan Risalah Jakarta

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ikatan Dai Indonesia (IKADI) telah menyelesaikan rapat koordinasi nasional (Rakornas) yang digelar di Jakarta sejak 7 hingga 9 Maret 2020.

Rakornas yang dihadiri oleh seluruh pengurus wilayah dan daerah se-Indonesia itu membahas soal beragam isu global-aktual, strategi keumatan, kebangsaan dan kemanusiaan.

Rakornas tersebut menghasilkan Risalah Jakarta yang berisi 9 poin rekomendasi menyoroti sejumlah persoalan yang dihadapi umat Islam.

SALAH JAKARTA

Atas bRIerkat rahmat Allah _Ta’ala,_ Rapat Koordinasi Nasional (RAKORNAS) Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) di Jakarta pada tanggal 12 – 14 Rajab 1441 H bertepatan dengan 7 – 9 Maret 2020 yang dihadiri oleh seluruh Pengurus Wilayah (PW)dan Pengurus Daerah (PD) se-Indonesia membahas beragam isu global-aktual, strategis keummatan, kebangsaan dan kemanusiaan, menghasilkan rekomendasi (Risalah Jakarta) sebagai berikut:

1. Memperkokoh IKADI sebagai penebar Islam _rahmatan lil ‘alamin_ dengan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh sarana, media dan data, serta meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam berdakwah.
2. Memperkuat soliditas dan loyalitas organisasi melalui peningkatan hubungan koordinatif yang berkelanjutan.
3. Memberikan perhatian secara khusus terhadap dakwah generasi milenial.
4. Menyerukan kepada para dai agar memanfaatkan jaringan keummatan untuk kemandirian ekonomi.
5. Memperkokoh relasi dan komunikasi serta kerja sama dengan berbagai elemen umat, baik lokal, nasional maupun internasional.
6. Mengajak segenap elemen bangsa untuk mengokohkan _Al Mitsaq Al Wathani_ (Kesepakatan Berbangsa dan Bernegara) dan tidak membenturkan Islam dengan Pancasila.
7. Menghimbau umat Islam untuk menjalankan pola hidup sehat dan islami, serta membentengi diri dengan banyak ibadah, dzikir, doa dan tawakkal sebagai langkah preventif terhadap virus corona dan penyakit berbahaya lainnya.
8. Mengecam segala bentuk tindak kekerasan yang melanggar HAM terhadap umat Islam di India, Palestina dan negara lain, dan mendorong pemerintah Indonesia untuk mengambil peran aktif sesuai dengan amanat konstitusi.
9. Menghimbau para dai IKADI agar bersama kaum muslimin untuk _muhasabah, dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala_ dengan memperbanyak amal shalih, ibadah dan do’a demi terwujudnya _Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur_.

_Jakarta, 14 Rajab 1441 H / 09 Maret 2020 M_

Sekjen IKADI
Ahmad Kusyairi Suhail, MA

7 Hal yang Perlu Anda Ketahui Soal Virus Corona

Jurnalislam.com – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan darurat kesehatan global atas virus corona baru yang telah menewaskan lebih dari 3.630 orang di seluruh dunia menyusul wabah di kota Wuhan di Cina tengah.

Lebih dari 106.000 kasus infeksi telah dilaporkan secara global, sebagian besar di Cina daratan.

Inilah tujuh hal yang perlu Anda ketahui tentang virus ini:

1. Apa itu coronavirus?
Menurut WHO, coronavirus adalah keluarga virus yang menyebabkan penyakit mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti sindrom pernapasan akut (SARS) dan sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS).

Virus ini pada awalnya ditularkan antara hewan dan manusia. SARS, misalnya, ditransmisikan dari kucing luwak ke manusia sementara MERS pindah ke manusia dari jenis unta.

Beberapa coronavirus yang dikenal beredar pada hewan yang belum menginfeksi manusia.

Nama coronavirus berasal dari kata Latin corona, yang berarti mahkota atau halo. Di bawah mikroskop elektron, gambar virus tampak seperti korona matahari.

Virus corona baru, diidentifikasi oleh otoritas Cina pada 7 Januari dan sejak bernama COVID-19, adalah jenis baru yang sebelumnya tidak diidentifikasi pada manusia. Sedikit yang diketahui tentang itu, meskipun penularan dari manusia ke manusia telah dikonfirmasi.

2. Apa gejalanya?
Menurut WHO, tanda-tanda infeksinya termasuk demam, batuk, sesak napas dan kesulitan bernafas.

Dalam kasus yang lebih parah, itu dapat menyebabkan pneumonia, kegagalan banyak organ dan bahkan kematian.

Perkiraan saat ini dari masa inkubasi – jumlah waktu antara infeksi dan timbulnya gejala – berkisar dari satu hingga 14 hari. Kebanyakan orang yang terinfeksi menunjukkan gejala dalam lima hingga enam hari.

Namun, pasien yang terinfeksi juga tidak menunjukkan gejala, artinya mereka tidak menunjukkan gejala apa pun walaupun memiliki virus di sistem mereka.

3. Seberapa mematikannya?
Dengan lebih dari 3.630 kematian yang tercatat, jumlah kematian akibat virus corona baru ini telah melampaui korban wabah SARS 2002-2003, yang juga berasal dari Cina.

SARS membunuh sekitar 9 persen dari mereka yang terinfeksi – hampir 800 orang di seluruh dunia dan lebih dari 300 di China saja. MERS, yang tidak menyebar luas, lebih mematikan, membunuh sepertiga dari mereka yang terinfeksi.

Sementara coronavirus baru lebih tersebar luas di Cina daripada SARS dalam hal jumlah kasus, tingkat kematian masih jauh lebih rendah sekitar 2 persen, menurut WHO.

4. Di mana kasus telah dilaporkan?
Sebagian besar kasus dan kematian telah dilaporkan di Tiongkok – sebagian besar di provinsi Hubei.

Kematian juga telah dikonfirmasi di Hong Kong, Filipina, Jepang, Prancis, Taiwan, Korea Selatan, Italia, dan Iran.

Virus ini telah menyebar ke banyak negara di kawasan Asia-Pasifik serta di Eropa, Amerika Utara, Timur Tengah dan Afrika.

Sebagian besar kasus di luar China adalah di antara orang-orang yang baru kembali dari China. Namun, kasus penularan dari manusia ke manusia telah dicatat di beberapa negara dan pertanyaan telah diajukan tentang kasus-kasus tanpa kaitan yang jelas dengan Cina.

5. Apa yang dilakukan untuk menghentikan penyebarannya?
Para ilmuwan di seluruh dunia berlomba untuk mengembangkan vaksin tetapi mereka telah memperingatkan bahwa kemungkinan tidak akan tersedia untuk distribusi massal sebelum 2021.

Sementara itu, otoritas Cina secara efektif menutup Wuhan dan membatasi perjalanan ke dan dari beberapa kota lain, yang memengaruhi sekitar 60 juta orang.

Banyak maskapai penerbangan internasional telah membatalkan penerbangan ke China. Beberapa negara telah melarang warga negara Cina memasuki wilayah mereka dan beberapa lagi telah mengevakuasi warganya dari Wuhan.

6. Dari mana asalnya virus?
Otoritas kesehatan China masih berusaha untuk menentukan asal virus, yang mereka katakan kemungkinan berasal dari pasar makanan laut di Wuhan di mana satwa liar juga diperdagangkan secara ilegal.

Pada 7 Februari, para peneliti Cina mengatakan virus itu bisa menyebar dari spesies hewan yang terinfeksi ke manusia melalui trenggiling yang diperdagangkan secara ilegal, yang dihargai di Asia untuk makanan dan obat-obatan.

Para ilmuwan telah menunjuk kelelawar atau ular sebagai sumber virus.

7. Apakah ini darurat global?
Pada 30 Januari lalu, WHO mengatakan Wabah ini sekarang merupakan darurat kesehatan global.

Keputusan untuk membunyikan alarm tingkat lanjut dibuat setelah kasus pertama penularan dari manusia ke manusia di luar China dikonfirmasi.

Peringatan kesehatan internasional adalah peringatan kepada negara-negara di seluruh dunia untuk mengoordinasikan respons mereka di bawah bimbingan badan kesehatan PBB.

Ada lima keadaan darurat kesehatan global sejak 2005 ketika deklarasi itu diresmikan: flu babi pada 2009, polio pada 2014, Ebola pada 2014, Zika pada 2016, dan Ebola lagi pada 2019.

 

Sumber: Al Jazeera

Renungkanlah Hal Ini Ketika Pasangan Mulai Tak Saling Menghargai

Oleh : Adi Hadiyanto
Qoid Sariyah Muslimah Jamaah Ansharu Syariah

JIKA ada sesuatu yang sangat mendasar dan sangat dibutuhkan oleh pasangan maka itu adalah keinginan untuk dihargai. Seseorang akan merasa bahagia jika dirinya dihargai terutama oleh pasangannya. Jika hal ini tidak ada, maka pasangan tidak akan merasakan kebahagiaan.

Pasangan yang baru menikah mungkin mereka akan saling menghargai satu sama lain bahkan kekurang pasangan pun seolah tak terlihat, tetapi setelah berjalannya waktu perasaan itu mulai berkurang atau bahkan hilang. Mereka tidak lagi saling menghargai apa yang telah diperbuat oleh pasangannya bahkan justru kekuranganlah yang selalu dilihat dan terus diingat.

Jika hal itu terjadi, maka ingatlah beberapa hal berikut ini :

  1. Suamilah yang  telah memberikan rumah untuk tempat bernaung namun istri pun telah membuat rumah menjadi rapi sehingga nyaman untuk ditempati.
  2. Suamilah yang telah membelikan pakaian namun istri pun telah membersihkan dan merapikan pakaian sehingga nyaman dipakai.
  3. Suamilah yang  telah membelikan makanan namun istri pun telah memasakkan makanan sehingga enak untuk dimakan.
  4. Suamilah yang telah mengantar kemanapun istri pergi, dan istri pun telah merawat dan menjaga rumah ketika suami pergi.
  5. Suamilah yang setiap malam pulang untuk menemui istri, dan istri juga menyambut suami dengan ramah ketika suami pulang.

Pasangan kita adalah anugerah dari Allah yang membuat hidup kita menjadi nyaman. Berikan penghargan pada pasangan kita, maka kebahagiaanpun akan datang walaupun ia bukan lagi pengantin baru lagi.

Bersyukurlah karena kita mempunyai pasangan dan bersabarlah dengan kekurangan pasangan kita agar Allah menambah kenikmatan itu, namun sebaliknya jika kita tidak bersyukur, maka nikmat itu akan berubah menjadi azab. Allah SWT berfirman,

لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” [QS. Ibrahim : 7]

Polisi Israel Menembak Anak Palestina Saat Sedang Sekolah

YERUSALEM (Jurnalislam.com) – Tentara penjajah Israel menembakkan peluru berujung spons ke dua anak Palestina di Yerusalem Timur dalam dua insiden terpisah minggu ini.

Kedua insiden terjadi di Issawiya, yang telah mengalami hampir setahun pelecehan dengan kekerasan oleh pasukan pendudukan Israel.

Laporan media Israel, Haaretz news mengungkapkan, Mohamed Atia yang berusia 16 tahun itu ditembak pada Senin (2/3/2020) ketika berdiri di halaman sekolahnya dan lengannya patah.

“Sementara itu, Fawzi Abid yang berusia sepuluh tahun ditembak pada hari Selasa ketika berdiri di balkon rumahnya dan mengalami cedera pada tangannya yang membutuhkan perhatian medis,” ungkap laporan itu.

Dalam kasus Atia, sebuah rekaman video kejadian itu menunjukkan petugas polisi keluar dari kendaraan dan mendorong seorang pria yang penjual makanan kepada siswa di pintu masuk sekolah.

“Seorang petugas Polisi Perbatasan kemudian terlihat memasukkan senjatanya di antara jeruji gerbang di pintu masuk sekolah dan menembakkan lima tembakan ke anak-anak di halaman sekolah,” kata ayah bocah itu, Awani Atia.

Polisi berkilah, insiden itu dimulai setelah seorang siswa melemparkan batu ke kendaraan polisi yang lewat.

Seperti yang dijelaskan oleh Haaretz, kegiatan polisi di Issawiya termasuk penggerebekan setiap hari di lingkungan, “patroli, menangkap dan mendirikan pos pemeriksaan dan melakukan penyergapan”.

Dalam beberapa tahun terakhir, “belasan anak-anak telah terluka oleh peluru berujung spons, dengan banyak dari mereka kehilangan mata”, surat kabar itu menambahkan, termasuk seorang remaja yang terbunuh “setelah ditembak di kepala”.

“Sejauh ini, tidak ada petugas polisi yang diadili karena menggunakan peluru berujung spons secara ilegal.”

Di Jakarta, Massa Umat Islam Geruduk Kedubes India

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Massa gabungan sejumlah ormas Islam berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar India di Jakarta pada Jumat (6/3/2020). Mereka mengecam tindakan kekerasan terhadap Muslim India yang telah menewaskan puluhan jiwa.

Dalam aksi itu, Front Pembela Islam (FPI) dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-Ulama) mendesak pemerintah India segera menghentikan kekejaman dan pelanggaran HAM berat yang dilakukan kelompok ekstrimis Hindu.

“Kami mengutuk keras berbagai tindakan kekerasan dan pembantaian umat Islam yang dilakukan oleh kelompok Hindu ekstremis, dan radikalis India yang disponsori oleh rezim Narendra Modi,” kata Ketua Umum FPI Sobri Lubis dalam orasinya.

Dia juga mendesak pemerintah India segera menghentikan berbagai tindakan persekusi terhadap umat Islam India dan menangkap para pelaku persekusi, termasuk di dalamnya pimpinan kelompok ekstremis yang mensponsori berbagai tindak kekerasan.

Sementara itu, Ketua GNPF-Ulama Yusuf Muhammad Martak menyampaikan berbagai tindak kekerasan dan kekejaman terhadap muslim di India semakin masif setelah pemerintah setempat mengesahkan UU Kewarganegaraan yang diskriminatif terhadap umat Islam.

Untuk itu, dia mendesak Pemerintah India segera mencabut UU tersebut karena telah memicu berbagai tindakan persekusi terhadap umat Islam India.

“Kami juga mendesak Pemerintah Indonesia secara resmi menyatakan kecaman dan protes keras kepada Pemerintah India atas pelanggaran HAM berat yang terjadi di India,” ujar dia.

Selama dua bulan terakhir, ribuan orang India memprotes undang-undang yang memudahkan orang-orang non-Muslim dari negara-negara regional untuk mendapatkan kewarganegaraan India, tetapi mengecualikan Muslim dari manfaat-manfaat itu.

Kerusuhan kekerasan komunal atas hukum terjadi di Delhi pekan lalu yang menewaskan 47 orang dan melukai lebih dari 250 lainnya. Belum lagi ratusan pertokoan milik umat Islam rusak berat termasuk 1 masjid.

DSKS Imbau Umat Islam Boikot Produk India

SOLO (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Dr Muinudinillah Basri mengimbau umat Islam untuk memboikot produk-produk India. Hal itu sebagai bentuk protes kepada pemerintah India yang telah bertindak represif dan diskriminatif terhadap muslim India.

“Apa yang bisa kita lakukan, kita lakukan, minimal doa, memboikot produk-produk mereka, menuntut pemerintah untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan India,” katanya kepada Jurnalislam di sela-sela Aksi Doa dan Solidaritas untuk muslim India di Bundaran Gladak, Solo, Jum’at (6/3/2020).

Ustaz Muin, sapaannya, mengutip hadits Rasulullah SAW bahwa seorang muslim dengan muslim lainnya bagaikan satu tubuh yang jika satu merasakan sakit, maka bagian tubuh yang lainnya juga merasakan sakit.

“Dan selalu memberikan apa yang bisa kita bantu untuk saudara-saudara kita, kalau perlu jihad kita jihad, tidak boleh kita diam,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ustaz Muin berharap ada kerjasama di antara kaum muslimin untuk bersikap tegas dalam menyikapi penindasan terhadap minoritas muslim India itu.

“Ada kesambungan hati antara kita dan saudara kita disana agar mereka tidak merasa sendirian, dan perjuangan dari berbagai dimensi yang bisa kita lakukan untuk melakukan tekanan agar kezaliman ini tidak berlangsung,” tandasnya.

11 Organisasi Pemuda Lintas Agama Meminta Pemerintah India Tak Diskriminatif

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sebanyak 11 organisasi kepemudaan Indonesia lintas agama prihatin atas konflik di India yang telah menelan korban puluhan jiwa umat Islam.

Kelompok pemuda ini terdiri dari GP Ansor, Pemuda Muhammadiyah, Pemuda Katolik, Peradah, Gemabudhi, Gema Mathla’ul Anwar, Gemaku, IPTI, Gemapakti, Pemuda Nahdlatul Wathan, dan GAMKI.

Mereka meminta pemerintah India untuk tidak membuat kebijakan diskriminatif yang dapat menyebabkan perpecahan di tengah masyarakat.

Mereka juga mengajak pemimpin negara untuk berkomitmen menjaga bumi sebagai rumah bersama bagi setiap agama, etnis, suku, dan golongan.

“Kita harus bekerja sama membangun budaya toleransi dan inklusif, menghentikan peperangan dan konflik yang menyebabkan pertumpahan darah,” demikian pernyataan resmi 11 organisasi lintas agama itu, Jumat (6/3/2020).

Kelompok pemuda ini menghimbau masyarakat Indonesia untuk tidak terprovokasi dengan persoalan konflik antar agama yang terjadi di India.

“Pemerintah Indonesia harus selalu bersikap adil dan berdiri di atas semua golongan untuk menjaga kerukunan dan kedamaian bangsa,” katanya.

Selama dua bulan terakhir, ribuan orang India memprotes undang-undang yang memudahkan orang-orang non-Muslim dari negara-negara regional untuk mendapatkan kewarganegaraan India, tetapi mengecualikan Muslim dari manfaat-manfaat itu.

Kerusuhan kekerasan komunal atas hukum terjadi di Delhi pekan lalu yang menewaskan 47 orang dan melukai lebih dari 250 lainnya.

Presiden Jokowi Diminta Putuskan Hubungan Diplomatik dengan India

SOLO (Jurnalislam.com) – Ribuan massa Masyarakat Pecinta Bendera Tauhid (Martabat) menggelar aksi Doa dan Solidaritas untuk Muslim India di Bundaran Gladak Solo, Jawa Tengah, Jumat (6/3/2020).

Dalam orasinya, Humas Martabat Endro Sudarsono mendesak Presiden Joko Widodo bertindak tegas terhadap pemerintah India dengan memutuskan hubungan diplomatik dan mengusir Dubes India di Indonesia.

“Meminta Presiden Jokowi untuk mendeportasi Dubes India di Indonesia dan memutuskan hubungan diplomatik dengan negara India,” tegasnya.

Menurut Endro, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Presiden Jokowi harus mampu menunjukkan kepeduliannya terhadap umat Islam yang dizalimi di negara lain. Endro menuntut pemerintah Indonesia untuk berperan aktif dalam dinamika internasional terkait intoleransi dan radikalisme.

Selain itu, Endro berharap para pemimpin negara di dunia untuk merespon kekerasan yang telah menewaskan puluhan muslim India itu dengan memutuskan hubungan diplomatik dengan India sebagai bentuk dukungan terhadap muslim India.

“Meminta kepada negara dan Pemimpin Muslim serta lembaga kemanusiaan untuk memberikan dukungan terhadap Muslim India,” tandasnya.

Aksi Solidaritas untuk Muslim India Juga Digelar di Solo

SOLO (Jurnalislam.com) – Merespon kasus pembantaian terhadap muslim India, ribuan umat Islam Soloraya yang tergabung dalam Masyarakat Pecinta Bendera Tauhid (Martabat) melakukan aksi solidaritas dan doa untuk muslim India di Bundaran Gladak, Solo, pada Jum’at (6/3/2020).

Sebelumnya, massa berkumpul di barat Stadion Sriwedari, Solo kemudian melakukan aksi pawai menuju Bundaran Gladak dengan menggunakan mobil komando dan motor sambil membawa bendera tauhid.

Humas Martabat, Endro Sudarsono mengatakan bahwa kekerasan terhadap kemanusiaan oleh siapapun, terhadap siapapun di dunia ini adalah perbuatan yang tidak bisa dibenarkan oleh agama apapun ataupun hukum internasional.

“Bahwa fakta kekerasan di India terhadap muslimin menunjukan kegagalan dari pemerintah India dalam menjaga ketertiban umum dan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM),” katanya kepada Jurnalislam.

Endro melanjutkan, pemerintah India semestinya melakukan langkah-langkah preventif, penegakan hukum dan tidak diskriminatif.

Ia juga mendesak pemerintah India untuk tidak melakukan tindakan diskriminatif terhadap muslim India dengan membatalkan Undang-undang Kewarganegaraan yang sangat menyudutkan minoritas muslim India.

“Menuntut pembatalan UU Kewarganegaraan di India yang diskriminatif Anti Islam,” tegasnya.

Selain itu, ia berharap pemerintah Indonesia bisa mengambil peran dalam konteks hubungan bilateral dengan India ataupun hubungan internasional dengan PBB.

“Indonesia bisa mengambil langkah langkah persuasif, diplomatik atas nama menjaga perdamaian dunia dan HAM Internasional,” pungkasnya.

Close X