PBNU: Pernyataan Sukmawati Keliru Besar

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini menyesalkan pernyataan Sukmawati Soekarno Putri yang membandingkan antara Nabi Muhammad SAW dengan Soekarno. Menurutnya, pernyataan adalah kekeliruan yang besar karena tidak kontekstual, dan tidak ada manfaatnya sama sekali.

“Justru hal itu hanya akan menimbulkan kesalahpahaman dan ketersinggungan di kalangan umat,” kata Helmy melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com Senin (18/11/2019).

Terlebih, lanjut dia, Bung Karno adalah sosok yang sangat mengagumi kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW justeru menjadi inspirasi besar lahirnya kemerdekaan Indonesia.

“Karena Nabi mengajarkan Islam sebagai agama pembebasan, dari belenggu kelaparan dan kemiskinan,” katanya.

Nabi Muhammad SAW, lanjutnya, adalah sosok sebaik-baiknya contoh, manusia pilihan, sehingga tidak tepat untuk disepadankan atau dibanding-bandingkan dengan manusia lainnya.

“Atas hal ini kita perlu tabayyun untuk mendapatkan secara utuh apa yang dimaksud Ibu Sukmawati,” katanya.

“Sebaiknya sebagai tokoh nasional, Sukmawati dapat berhati-hati untuk mengeluarkan pernyataan agar tidak menimbulkan kegaduhan di masyarakat,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Sukmawati membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Proklamator RI Bung Karno. Pernyataan itu dia sampaikan ketika dirinya jadi pembicara diskusi bertajuk ‘Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme’, Senin (11/11/2019).

“Sekarang saya mau tanya semua, yang berjuang di abad 20 itu Yang Mulia Nabi Muhammad apa Ir Soekarno, untuk kemerdekaan? Saya minta jawaban, silakan siapa yang mau jawab berdiri, jawab pertanyaan Ibu ini,” tanya Sukmawati kepada peserta diskusi.

10 Dampak Buruk Layar Gawai Bagi Anak

JURNALISLAM.COM – Hidup tanpa gawai hari ini mungkin akan terasa aneh. Akan tetapi di beberapa negara, regulasi ini sudah masuk di meja pembahasan terutama bagi anak-anak khususnya di bawah umur 2 tahun.

American Academy of Pediatrics telah merekomendasikan para orang tua agar membatasi anak dalam mengkonsumsi media hiburan dan melarang anak di bawah umur 2 tahun untuk menggunakan dan menikmati layar gawai . Meskipun sebuah studi oleh Henry J. Kaiser Foundation memberikan rekomendasi bahwa anak-anak usia 8 – 18 tahun itu rata-rata hanya boleh menikmati media hiburan maksimal 7,5 jam sehari.

Lalu apa saja dampak buruk gawai bagi anak? Berikut diantaranya:

  1. Rentang perhatian yang dipersingkat

Layar pada gawai menyediakan gambar berkedip cepat atau flashing, yang berkorelasi dengan rentang perhatian yang lebih pendek. Paparan terus menerus terhadap gambar-gambar yang berkedip seperti itu akan mengikis rentang perhatian anak-anak, dan kemudian kita melihat meningkatnya tingkat diagnosis ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

ADHD adalah gangguan mental yang menyebabkan seorang anak sulit memusatkan perhatian, serta memiliki perilaku impulsive dan hiperaktif, sehingga dapat berdapak pada prestasi anak.

  1. Mengurangi minat baca

Gawai menjadi sumber utama hiburan, sehingga bentuk yang lebih tenang seperti membaca, menggambar, menulis, dll menjadi membosankan. TV menghadirkan pertunjukan cahaya dan suara yang luar biasa.

Buku mengharuskan anak untuk membayangkan dan mengumpulkan energi untuk menghadirkan gambar-gambar mental dari cerita yang sedang dibaca. Akan tetapi dengan layar, anak hanya bisa duduk dan menonton gambar yang dibuat untuknya. Membaca sekarang menjadi sulit, melelahkan. TV lebih mudah. Lebih mudah bersikap pasif daripada aktif.

  1. Terbuangnya waktu

Gawai menghabiskan banyak waktu. Ada begitu banyak cara yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi seorang anak untuk menghabiskan masa-masa emasnya daripada hanya duduk di depan layar, meskipun satu atau dua jam sehari. Waktu itu lebih baik dihabiskan untuk mengeksplorasi, mengumpulkan hal-hal bersama, berpetualang, berbicara dengan orang tua atau saudaranya, melihat gambar-gambar dalam buku, atau bermain di alam.

  1. Mengurangi waktu untuk bermain di luar

Gawai sebagian besar telah menggantikan waktu untuk bermain di luar. Pelan tapi pasti, selama beberapa dekade terakhir, kita telah menjadi negara yang lebih malas, orang yang lebih banyak duduk menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan daripada di luar ruangan.

Dulu, anak-anak biasa menghabiskan banyak waktu di luar ruangan dan di alam, dan itu terbukti meningkatkan mood dan kesehatan fisik serta mental secara keseluruhan (kadar vitamin D yang lebih tinggi, tingkat depresi yang lebih rendah, dll). Namun, sekarang, kita lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan, duduk di sofa, memandangi layar gawai.

Pergeseran dari luar ke dalam ruangan ini berdampak pada kesehatan kita bersama; kita sekarang lebih sering sakit, karena sistem kekebalan yang lebih lemah dan tubuh yang lebih rentan, daripada orang-orang sebelum kita. Untuk anak-anak khususnya, berada di luar sangat penting untuk perkembangan yang sehat.

  1. Obesitas

Data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Bangkok menunjukkan bahwa tingkat obesitas anak Indonesia termasuk tertinggi di kawasan Asia Pasifik bersama dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Di kawasan Asia Pasifik, sepanjang kurun waktu tahun 2000 hingga 2016, jumlah anak-anak berumur kurang dari lima tahun dengan kelebihan berat naik setinggi 38%.

Tentu saja, jenis makanan yang kita makan banyak hubungannya dengan fenomena ini, tetapi begitu juga dengan jumlah waktu yang kita habiskan untuk duduk. Semakin aktif seseorang, semakin baik. Gawai memaksa kita untuk duduk dan tidak bergerak, yang kemudian secara perlahan membentuk kebiasaan, dan preferensi untuk, duduk untuk waktu yang lama alih-alih bergerak.

  1. Kecanduan

Anak-anak (dan orang dewasa) sebenarnya bisa kecanduan perangkat elektronik, seperti iPad, smartphone, TV, dll. Mereka menjadi ketergantungan pada perangkat dan menggunakannya sebagai bentuk hiburan eksklusif mereka. Tanpanya, beberapa anak mengalami kehancuran dan satu-satunya cara untuk menenangkan mereka adalah dengan memberikan iPhone itu kepada mereka. Ini terjadi pada anak-anak semuda 2 tahun, dan itu sangat tragis.

  1. Kegagalan komunikasi

Di era digital, banyak orang mengganti komunikasi tatap muka dengan pesan teks dan media sosial. Alih-alih memiliki hubungan nyata secara langsung, dengan kontak mata dan sentuhan fisik (yang dibutuhkan manusia untuk perkembangan), anak-anak terbiasa berkomunikasi pada tingkat yang lebih dangkal hanya melalui teks dan pesan tertulis. Ini menghambat pertumbuhan emosional dan keterampilan interpersonal.

  1. Konten yang Tidak Tepat

Yang ini no-brainer. Semakin banyak paparan seorang anak untuk disaring, semakin ia mengkonsumsi pemrograman budaya masyarakat barat modern, yang hypersexualized dan penuh dengan konten seksual, kekerasan, dan bahasa kotor. Sebagai Muslim, ini adalah kebalikan dari apa yang ingin kita yakini, baik orang dewasa maupun anak-anak.

  1. Kurang taat kepada orang tua

Ada dua alasan untuk kerusakan ini. Salah satunya adalah bahwa dalam hiburan untuk anak-anak, termasuk kartun. Orang tua dibuat mati kutu yang kikuk dan terus-menerus dikalahkan dan diperdaya oleh anak-anak mereka sendiri. Dalam banyak film kartun dan pertunjukan anak-anak, mereka bersikap acuh tak acuh dan tidak sopan terhadap orang tua mereka.

Kedua, ketika seorang anak sedang menonton TV dan Anda mencoba memanggilnya, misalnya hanya untuk makan malam, atau untuk membantu Anda dengan sesuatu, atau untuk mengerjakan pekerjaan rumah, anak itu lebih lambat untuk menanggapi panggilan Anda. Mereka terlalu asyik dengan apa yang ada di layar dan lebih mengacuhkan panggilan Anda. Anda, sebagai orang tua, dipaksa untuk bersaing dengan TV untuk perhatian anak Anda.

  1. Konsumerisme

TV, dan bahkan YouTube sekarang, sangat bergantung pada iklan. Setiap beberapa menit, pertunjukan dijeda untuk jeda iklan, dan anak-anak Anda akan menonton iklan seperti mereka menonton pertunjukan yang sebenarnya. Perusahaan mengandalkan audiensi yang tertahan ini untuk menciptakan keinginan buatan untuk produk mereka dan menciptakan pendapatan untuk bisnis mereka. Menghindari gawai memungkinkan Anda menjauhkan anak-anak dari parade produk iklan dan menyelamatkan mereka sebelum terlalu jauh ke dalam mentalitas konsumeris.

Menutup Mata Kiri, Puluhan Jurnalis Palestina Menggelar Aksi Solidaritas untuk Moath Amarnah

GAZA (Jurnalislam.com) – Forum Media Palestina pada hari Ahad (17/11/2019) menggelar aksi solidaritas untuk jurnalis Moath Amarnah yang ditembak oleh tentara zionis beberapa hari lalu.

Fotografer harus kehilangan mata kirinya setelah ditembak saat sedang meliput unjuk rasa warga Palestina di Kota Surif, Hebron, Jumat (15/11/2019).

Aksi itu dihadiri oleh wartawan dari berbagi media. Mereka mengutuk kekerasan terhadap wartawan yang dilakukan oleh tentara Zionis Israel.

Mereka juga membawa poster-poster bertuliskan dukungan kepada Moath dan kecaman terhadap Israel sembari melakukan aksi menutup mata kiri sebagai simbol solidaritas untuk Moath Amarnah.

“Penjajah berusaha dengan menargetkan Moath Amarnah untuk menyampaikan pesan bahwa mereka akan menargetkan mata kami, kamera dan gambar anda agar kita tidak meliput kejahatan mereka,” kata Sekjen Forum Media Palestina, Mohammed Abu Qamar dalam orasinya.

Abu Omar juga mengungkapkan, sudah 55 wartawan gugur sejak tahun 2000 oleh tentara Zionis.

Oleh karenanya, dia menekan lembaga-lembaga HAM untuk bergerak cepat menghentikan kejahatan tentara Zionis Israel dan menuntutnya ke pengadilan HAM.

“Kita sebagai jurnalis akan tetap menjaga solidaritas, kita akan tetap pada perjanjian, dan kita akan mengangkat kepala kita tinggi-tinggi,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Komite untuk Mendukugn Jurnalis, Saleh Al-Mashri mengatakan bahwa intensitas serangan Israel terhadap jurnalis sejak awal tahun ini meningkat secara signifikan. Tentara penjajah, kata dia, ingin melenyapkan kebenaran untuk disampaikan kepada dunia.

“Penjajah percaya bahwa dengan menargetkan jurnalis, menembak, menangkap, menyita peralatan, dan menghalangi peliputan, itu semua akan merusak tekad para jurnalis untuk meliput secara profesional, tetapi mereka sama sekali salah,” tegas Masri.

Sejak awal tahun ini, Komite itu telah mendokumentasikan lebih dari 550 serangan terhadap jurnalis di Palestina, 144 jurnalis meninggal dunia ditembak dan ratusan lainnya terluka. Masri menunjukkan, ada 84 wartawan di Gaza terluka dan 60 di Tepi Barat.

Masri meminta lembaga internasional untuk bergerak menekan Israel agar menghentikan kejahatannya terhadap profesi pers.

Sumber: Safa

Bambang Widjojanto: KPK Sedang Dihabisi

SOLO (Jurnalislam.com) – Mantan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menilai saat ini KPK sedang dihabisi. Menuruntya, janji-janji untuk memperkuat KPK justru dilumpuhkan melalui beberapa hal seperti pemilihan ketua KPK yang integritasnya diragukan.

“Saya merasa saat ini KPK sedang dihabisi. Karena janji-janji untuk memperkuat KPK dilumpuhkan melalui tiga hal,” katanya kepada Jurnalislam.com di Solo, Jumat (15/11/2019).

Pertama, kata Bambang, Revisi Undang-undang KPK tidak menempatkan KPK menjadi semakin kuat.

“Salah satu indikatornya sederhana sekali. Pimpinan KPK sekarang bukan penegak hukum. Pimpinan KPK sekarang tidak jelas siapa pucuknya, komisioner atau Dewan Pengawas. Pimpinan KPK sekarang otoritasnya dikebiri,” paparnya.

Kedua, orang-orang yang dipilih sebagiannya diduga mempunyai integritas yang buruk.

“Menempatkan pimpinan KPK yang tuna integritas itu sebenarnya upaya sadar dan sistematik untuk membuat KPK lumpuh secara permanen,” tegasnya.

Ketiga, kehormatan KPK dihabisi oleh berita-berita hoaks yang terus menerus dipublikasikan. “Dan ini menyebabkan KPK dideligitimasi,” ujar Bambang.

“Itu mengapa saya sebut KPK sedang dihabisi,” katanya.

Kendati demikian, ia merasa harus tetap membangun optimisme dalam membangun KPK kedepan. Sebab menurut dia, kekuatan KPK tidak hanya pada komisioner dan Dewan Pengawasnya.

“Maka kekuatannya sekarang terletak pada temen-temen yang sekarang jadi bagian langsung dari KPK serta civil society yang selama ini dibutuhkan KPK,” paparnya.

“Jadi semangat itu bisa tetap dihidupkan kalau kita mempunyai insan-insan KPK yang integritasnya terus diasah dan keberaniannya terus dikonsolidasi dan mereka benar-benar mandat dan amanatnya secara bertanggungjawab,” pungkas BW.

Bantai Keluarga Al-Sawarka, Israel: Kami Mengira Rumah Itu Kosong

GAZA (Jurnalislam.com) – Juru bicara militer Israel mengakui kesalahan mereka telah menyerang sebuah rumah milik keluarga Al-Sawarka pada hari Rabu (13/11/2019). Rumah itu hancur dan 8 anggota keluarga yang berada di dalamnya meninggal seketika.

Juru bicara itu mengatakan, pihaknya mengira rumah di kamp pengungsian Deir Al-Balah tidak berpenghuni. Dia menyampaikan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sedang menyelidiki serangan itu beberapa jam sebelum genjatan senjata diberlakukan.

“Kami menyadari adanya klaim bahwa non-kombatan terluka di Jalur Gaza tengah, dan kami sedang menyelidikinya,” kata IDF dalam sebuah pernyataan, Jumat (15/11/2019).

“Kami melakukan intelijen hebat dan upaya operasional untuk tidak menyakiti non-kombatan. Selama menggagalkan kegiatan teror,” klaimnya.

IDF beralasan, sasaran serangan itu adalah “infrastruktur,” dan sama sekali tidak menyadari bahwa orang-orang Palestina ada di dalamnya.

Setelah serangan itu, juru bicara militer Israel mengumumkan bahwa sasarannya adalah Rasmi Al-Saraka atau yang dikenal dengan Rasmi Abu Malhous, yang disebutnya sebagai komandan Jihad Islam dari sebuah skuadron roket di pusat Jalur Gaza. Mereka juga mengklaim telah menerbitkan gambar Abu Malhous, tetapi penduduk Deir al-Balah mengatakan orang dalam gambar itu bukanlah orang yang terbunuh pada Rabu malam.

Tetangga dan keluarga korban juga mengungkapkan bahwa Al-Sawarka tidak memiliki hubungan dengan komandan Jihad Islam.

“Mereka adalah keluarga miskin yang sangat sederhana, yang hidup dari tangan ke mulut di gubuk timah, tanpa air atau listrik,” kata seorang tetangga yang mengenal keluarga itu.

“Mereka hidup dari menggembalakan domba dan dikenal sebagai orang yang sederhana dan miskin. Apakah ini cara hidup seorang kepala unit roket atau seorang Jihadis Islam senior?” sambungnya.

“Setiap orang di Gaza tahu bahwa anggota unit dan aktivis senior hidup dalam kondisi yang berbeda, mereka memiliki rumah, dan bahkan ketika mereka pergi ke bawah tanah anak-anak dan keluarga mereka tidak hidup dalam kemelaratan seperti itu,” katanya.

Kementerian Kesehatan Palestina mengidentifikasi korban meninggal sebagai Rasmi Abu Malhous dari suku Asouarka, 45; putranya Mohand, 12; Miriam Asoarka, 45; Moad Mohamed Asoarka, 7; Sim Mohamed Asoarka, 13; Yoseri Asoarka, 39; dan dua balita yang tubuhnya digali dari puing-puing pada Kamis (14/11/2019) pagi dan yang namanya belum dirilis.

Kesaksian Diyaa Rasmi Al-Sawarka, Bocah 11 Tahun yang Selamat Dari Serangan Udara Israel

GAZA (Jurnalislam.com) – Salah seorang anggota keluarga Al-Sawarka yang selamat dalam serangan udara Israel pada hari Rabu (13/11/2019) menceritakan kisah menyeramkan yang menimpa keluarganya hari itu. Dia adalah Diyaa Rasmi Al-Sawarka, anak laki-laki berumur 11 tahun. Diyaa dan adiknya selamat dari serang brutal itu.

“Saya sedang tidur ketika rumah itu dibombardir. Saya bangun ketakutan dan semua yang ada di sekitar saya berwarna merah. Saya tidak bisa melihat apa-apa,” ungkap Diyaa kepada Middle East Eye, Sabtu (16/11/2019).

Diyaa yang mengalami luka-luka di beberapa bagian tubuhnya mengaku sempat berteriak minta tolong tetapi tidak ada yang mendengar.

“Saya mencoba melarikan diri tetapi kaki saya terjebak di bawah puing-puing. Saya mulai berteriak tetapi tidak ada yang mendengar saya; semua anggota keluarga saya berada di bawah puing-puing,” katanya.

“Saya sedang berusaha menarik kaki saya ketika saya menemukan adik lelaki saya berjuang untuk keluar dari bawah reruntuhan. Saya membantunya, kemudian menarik kaki saya dan bergegas di belakangnya,” sambung Diyaa.

Serangan udara brutal Israel dimulai pada hari Selasa (12/11/2019) ketika tentara Israel membunuh seorang komandan Jihad Islam terkemuka, Baha Abu al-Ata, istrinya, dan sejumlah warga sipil.

Setelah pembunuhan itu, para pejuang Jihad Islam melancarkan serangan balasan ke Israel dengan roket. Meskipun tidak meninggalkan korban meninggal di pihak Israel karena sebagian besar roket pejuang Palestina ditepis Iron Dome, namun sebagian roket lain berhasil menembus Iron Dome dan melukai beberapa warga Israel serta menyebabkan kerusakan properti mereka.

Israel kemudian melancarkan serangkaian serangan udara di Jalur Gaza yang menewaskan 34 warga Palestina dan melukai lebih dari 100.

Hari Ketiga Agresi Militer Israel di Gaza, 34 Orang Tewas

Israel Akan Menyelidiki Serangan Udara yang Menewaskan 8 Keluarga Al-Sawarka

GAZA (Jurnalislam.com) – Agresi militer Israel di wilayah Jalur Gaza selama tiga hari berturut-turut telah menewaskan puluhan warga sipil, termasuk delapan anggota keluarga Al-Sawarka yang tewas dalam serangan hari Rabu (13/11/2019). Setelah melakukan serangan keji itu, pihak militer Israel mengaku akan menyelidiki serangan tersebut.

Serangan udara Israel yang menghancurkan rumah keluarga Al-Sawarka di kamp pengungsian Deir Al-Balah adalah satu-satunya serangan paling mematkan dalam dua hari pemboman.

Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan, serangan Israel pada hari itu menewaskan Rasmi Al-Sawarka yang juga dikena sebagai Rasmi Abu Malhous, dua istrinya, dan lima anak-anaknya.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat (15/11/2019), juru bicara militer Israel, Jonathan Concricus mengatakan bahwa intelijen militer mereka telah mengindikasi tidak ada warga sipil yang akan menjadi korban dalam serangan tersebut.

“Tidak ada warga sipil yang diperkirakan akan dirugikan pada saat serangan. Kami sedang menyelidik kerusakan pada warga sipil yang disebabkan oleh serangan,” kata pernyataan itu.

Sebelum pernyataan itu dirilis, juru bicara media Israel berbahasa Arab, Avichay Adraee, membenarkan serangan udara itu dalam twitternya dan menuding bahwa Al-Sawarka adalah seorang komandan Jihad Islam.

Jihad Islam kemudian membenarkan bahwa Sawarka dikenal sebagai orang yang berafiliasi dengan mereka, tetapi dia bukan seorang komandan.

Pada Jumat (15/11/2019), koordinator khusus PBB untuk proses perdamaian Timur Tengah, Nickolay Mladenov, mengatakan, “Tidak ada pembenaran untuk menyerang warga sipil di Gaza.”

“Belasungkawa yang tulus saya kepada keluarga Al-Sawarkah dan saya berharap pemulihan yang cepat untuk mereka yang terluka. Saya meminta Israel untuk bergerak cepat dengan penyelidikannya,” katanya Nickolay dalam twitternya.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia telah mengkritik penyelidikan militer Israel sebelumnya terhadap potensi kejahatan perang yang dilakukan di Jalur Gaza.

ADALAH, sebuah kelompok yang membela hak-hak warga negara Palestina Israel, mengajukan laporan 25 halaman pada tahun 2018 yang menyimpulkan bahwa Israel tidak mau melakukan penyelidikan atau memulai penuntutan yang berkaitan dengan perang Gaza 2014.

Hal ini membuktikan bahwa diperlukan adanya sebuah badan internasional untuk terlibat dalam penyelidikan semacam itu.

Selain keluarga Al-Sawarka, serangan Israel juga menewaskan 3 anggota keluarga Ayad, 3 orang anggota keluarga Abad Elal, dan 2 anggota keluarga Abu Al-Afa.

 

 

Tentara Israel Menembak Seorang Fotografer Palestina

HEBRON (Jurnalislam.com) – Seorang fotografer lepas Palestina, Mo’ath Amarnah menjadi sasaran tembak pasukan penjajah Israel. Mata kiri Moath ditembak tentara Israel saat sedang melakukan tugas peliputan di Kota Surif, Hebron, Jumat (15/11/2019).

Rumah Sakit Palestina mengatakan, Mo’ath dipastikan akan kehilangan mata kirinya akibat tembakan peluru tajam yang dilapisi karet tersebut.

Moath adalah satu-satunya awak media yang mendokumentasikan pembunuhan keji tentara Israel terhadap warga Palestina bernama Omar Haitham Al-Badawi (22) di kamp pengungsian Al-Arroub, Tepi Barat pada Senin (11/11/2019).

Saat kejadian itu, Moath tepat berada di depan Omar. Omar dibunuh tentara Israel dengan ditembak di bagian perut di pintu masuk Al-Arroub usai menghadiri peringatan 15 tahun kematian presiden Palestina Yasser Arafat.

Kejadian ini menambah daftar panjang kasus penyerangan terhadap jurnalis oleh tentara Zionis Israel.

Sumber: Alarabiya

Mahasiwa Harvard Walk Out Saat Kuliah Umum Konsul Jenderal Israel

NEYWORK (Jurnalislam.com) – Seratus mahasiwa Fakultas Hukum Harvard University pada Rabu (14/11/2019) melakukan aksi walkout saat Konsul Jenderal Israel di New York, Dani Dayan menyampaikan kuliah umum di kelas mereka.

Dayan terkejut ketika dia akan memulai ceramahnya tentang “Strategi Hukum Permukiman Israel di Palestina yang Diduduki”, tiba-tiba para mahasiswa yang telah mengisi ruang kuliah berdiri dan mengangkat poster bertuliskan “Permukiman adalah kejahatan perang”, lalu mereka berjalan keluar kelas.

Dayan yang kecewa lalu bergumam dan menyindir aksi mahasiswa tersebut. “Aku ingat melakukan ini di TK,”  katanya.

Salah seorang mahasiwa yang mengikuti aksi walkout, Samer Hjour, mengatakan, aksi dadakan itu dilakukan setelah para mahasiwa mendengar kabar adanya utusan Israel yang akan mengisi kelad mereka.

“Aksi 1oo orang walkout sekaligus ini sangat meninggalkan dampak serius. Kami merencanakan ini dan butuh banyak waktu, tapi kami memiliki tim di sekolah ini dan mencari orang untuk membantu kami mewujudkannya,” kata Samer kepada media, Rabu (14/11/2019).

Dayan adalah penasehat utama pendirian dan pemeliharaan permukiman ilegal Israel di Tepi Barat. Dia menjabat sebagai Ketua Dewan Yesha, sebuah aliansi permukiman ilegal Israel dari 20017 hingga 2013. Dia kemudian ditunjuk sebagai Kepala Utusan Asing, satu-satunya perwakilan resmi dari gerakan penyelesaian ilegal ke komunitas internasional.

Ini bukan pertama kalinya pejabat Israel atau tokoh pro-Israel dipermalukan mahasiswa dan aktivis di acara-acara di universitas. Beberapa dari tokoh itu justru menuduh para mahasiswa telah menindas kebebasan berbicara.

Pada bulan Mei tahun lalu, mantan Duta Besar AS untuk Israel yang sangat pro-Israel Nikki Haley berpidato di Universitas Houston, diinterupsi oleh para pemrotes yang berteriak, “Nikki Haley, darah ada di tangan Anda!”

Meskipun Israel membangun permukiman Yahudi di wilayah Palestina yang melanggar hukum internasional dan juga dianggap sebagai kejahatan perang, namun permukiman tersebut terus dibangun dan diperluas, dengan sekitar 650.000 warga Israel saat ini tinggal di Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur.

Permukiman itu dibangun dengan mengorbankan rumah-rumah, desa-desa dan seluruh lingkungan Palestina baik dievakuasi dan ditempati atau dihancurkan dan diganti, meninggalkan pemilik sah mereka miskin.

 

Akibat Serangan Isarel, Gaza Mengalami Kerugian Senilai $3 Juta

GAZA (Jurnalislam.com) –  Media Palestina melaporkan, jumlah kerugian akibat pemboman Israel di Jalur Gaza tahun ini sekitar $ 3 juta.

Sekitar 500 unit rumah rusak dan hancur, termasuk delapan rumah dan 12 unit perumahan, dengan perkiraan nilai total $ 2 juta. Selain itu, lahan dan fasilitas pertanian juga mengalami kerusakan seperti kerusakan lahan, pertanian, irigasi sistem dan kapal penangkap ikan, bernilai lebih dari satu juta shekel ($ 0,29 juta).

Total kerugian dalam infrastruktur, termasuk air, air limbah, listrik, dan jalan, berjumlah lebih dari 1 juta shekel.

Kantor tersebut menunjukkan bahwa 12 perusahaan komersial rusak dengan biaya 300.000 shekel ($ 26.311). Sementara kerugian di sektor transportasi dan komunikasi berjumlah lebih dari 200.000 ($ 57.540) akibat kerusakan pada mobil dan kendaraan transportasi.

Agresi mengakibatkan kerusakan parsial pada bangunan dan institusi pemerintah, termasuk 15 sekolah, dua direktorat pendidikan dan markas keamanan, dengan nilai total 100.000 ($ 34.750).

Kantor media itu menganggap Israel bertanggung jawab atas semua kejahatan yang dilakukan terhadap rakyat Palestina selama agresi ini.

Sumber: Middle East Monitor