Lima Kesepakatan KL Summit 2019, Malaysia-Turki Kerjasama Bidang Komunikasi Lawan Islamofobia

KUALA LUMPUR (Jurnalislam.com) – Kuala Lumpur Summit 2019 melahirkan Lima nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani oleh pimpinan negara-negara Muslim yang hadir, Kamis (19/12/2019). Lima Kesepakatan itu diantaranya mencakup aspek pertukaran pemuda, keamanan pangan, kolaborasi media, pertahanan, dan keamanan.

Di antara dokumen-dokumen yang dipertukarkan adalah untuk program “Work4Malaysia”, sebuah inisiatif oleh perusahaan konsultan Turki, Mental HR Consultancy, yang memberikan peluang kepada generasi muda yang bertalenta di Malaysia untuk menjalani pelatihan dan bekerja di berbagai sektor di Turki, dan kemitraan antara perusahaan berbasis pertanian Baladna dari Qatar dan Felcra Bhd dalam usaha susu skala besar.

Tiga pihak menandatangani kesepakatan untuk mendirikan pusat keunggulan yang didedikasikan untuk penelitian dalam eksplorasi ilmiah dan teknologi tinggi, yaitu Kelompok Industri-Pemerintah Malaysia untuk Teknologi Tinggi (MUNGKIN), LIPI Indonesia, Pusat Internasional untuk Ilmu Kimia dan Biologi Pakistan dan Dewan Penelitian Ilmiah Turki.

Dalam pertahanan dan keamanan, Riset Teknologi Komposit Malaysia Sdn Bhd (CTRM) dan Turkish Aerospace Industries (TAI) juga bertukar dokumen untuk membuka jalan bagi pengembangan di masa depan di bidang penelitian dan teknologi baru serta sumber daya manusia.

Organisasi media pemerintah Malaysia dan Turki juga sepakat untuk mendirikan pusat komunikasi untuk mengatasi masalah Islamofobia di seluruh dunia.

Pertukaran dokumen disaksikan oleh Perdana Menteri Tun Dr Mahathir Mohamad, Presiden Iran Hassan Rouhani dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. la

Mahathir Mohamad: KL Summit 2019 Untuk Mencarikan Solusi Bagi Permasalahan Dunia Islam

KUALA LUMPUR (Jurnalislam.com) – Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad mengatakan, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kuala Lumpur 2019 tidak dimaksudkan untuk mendiskriminasi atau mengisolasi negara mana pun, tetapi hanya upaya untuk mengajukan proposal dan solusi yang dapat diterima dan dapat diterapkan untuk dunia Muslim.

“Kami tidak membeda-bedakan atau mengisolasi siapa pun. Kami berusaha memulai dari yang kecil dan jika gagasan, proposal, dan solusi ini dapat diterima dan terbukti dapat diterapkan. “Maka kami berharap untuk membawanya ke platform yang lebih besar untuk dipertimbangkan,” kata Mahathir dalam sambutannya di KTT, Kamis (19/12/2019).

Dr Mahathir, yang juga ketua KTT, mengatakan bahwa tujuan KTT itu bukan untuk membahas agama, tetapi lebih kepada keadaan hubungan di dunia Muslim yang dinilainya sedang dalam “keadaan krisis”.

“Di mana-mana kita melihat negara-negara Muslim dihancurkan, warga negara mereka dipaksa untuk melarikan diri dari negara mereka, dipaksa untuk mencari perlindungan di negara-negara non-Muslim. Ribuan orang, tewas dalam perkelahian mereka dan banyak lagi yang ditolak suaka,” ungkapnya.

“Di sisi lain, kita melihat Muslim melakukan tindakan kekerasan, membunuh korban yang tidak bersalah, pria, wanita, anak-anak, orang sakit dan yang tidak mampu,” tambahnya.

Mahathir menjelaskan bahwa KTT perlu untuk membahas bagaimana Islamofobia dihasilkan.

“Karena alasan inilah pertemuan puncak diselenggarakan. Paling tidak, melalui diskusi kita, kita mungkin menemukan apa yang salah.

“Kami bahkan dapat menemukan solusi, jika tidak mengakhiri bencana ini setidaknya untuk membangunkan dunia Islam, umat perlu mengenali masalah dan penyebabnya,” katanya.

Dia mengatakan bahwa dunia Muslim juga harus berurusan dengan perang saudara, perang saudara, pemerintah gagal dan banyak bencana lain yang telah mengganggu umat Islam dan Islam tanpa ada upaya serius yang dilakukan untuk mengakhiri atau mengurangi mereka dan merehabilitasi agama.

“Kami telah melihat negara-negara lain yang hancur oleh Perang Dunia Kedua tidak hanya pulih dengan cepat tetapi tumbuh kuat untuk menjadi maju. Tetapi beberapa negara Muslim tampaknya tidak mampu bahkan diperintah dengan baik, apalagi untuk dikembangkan dan makmur.

“Apakah agama kita yang menghalangi? Apakah Islam menentang kesuksesan duniawi dan menjadi negara maju? Atau apakah umat Islam sendirilah yang mencegah negara mereka diatur dengan baik, agar tidak dikembangkan,” tanyanya.

“Memahami masalah dan penyebabnya dapat mencerahkan kita dalam cara mengatasi atau mengurangi bencana yang menimpa umat,” jelas Dr Mahathir.

Hadir pada acara tersebut adalah Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah dan istrinya Raja Permaisuri Agong Tunku Hajah Azizah Aminah Maimunah Iskandariah.

Acara ini juga dihadiri oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Iran Hassan Rouhani dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani.

Sumber: The Star

Soal Uighur, MUI Desak Negara Islam di KL Summit Keras Kepada Cina

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas mendesak pertemuan negara-negara Islam di Kuala Lumpur, Malaysia untuk bersikap tegas atas penindasan yang dilakukan Pemerintah Cina terhadap Muslim Uighur di Xinjiang.

Menurutnya, apa yang dilakukan Pemerintah Cina tak dapat diterima umat Islam dunia.

“KL Summit untuk bersikap tegas dan keras kepada pemerintah Cina menghentikan segala bentuk kekerasan yang dilakukannya terhadap Muslim Uighur. (untuk) Memberikan kesempatan Muslim Uighur kembali mendapatkan hak-haknya untuk beragama dan melaksanakan ajaran agamanya dengan baik,” katanya dalam pernyataan tertulis kepada Jurnalislam, Jumat (20/12/2019).

Cina sebagai sebuah negara, kata Anwar, memang berhak untuk mengatur negaranya sendiri. Namun demikian, Anwar mengingatkan agar kewenangan negara tersebut jangan sampai menginjak-injak hak asasi rakyatnya terutama hak-hak dasar dari umat Islam di sana.

Anwar mengatakan jika perlakuan terhadap muslim Uighur dibiarkan, bukan mustahil akan memunculkan ketegangan baru. Tidak hanya dalam skala global, kata dia, tapi juga di masing-masing negara mayoritas beragama Islam.

Sejumlah pimpinan negara peserta Kuala Lumpur Summit 2019. Foto: Anadolu Agency

“Karena rakyat di setiap negara terutama umat Islam tentu akan meminta dan menuntut pemerintahnya untuk bersikap tegas terhadap pemerintah Cina,” ujar Anwar.

Anwar berharap KL Summit membawa energi baru dalam sikap perlawanan terhadap penindasan yang dialami Muslim Uighur. Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), kata Anwar, tampaknya kurang responsif dan lebih banyak menunggu sehingga mendorong Mahathir Mohamad menyelenggarakan KL Summit.

“Jadi KL Summit ini jelas merupakan sebuah pertemuan yang sangat penting dan strategis karena tidak hanya berarti bagi umat Islam tapi juga bagi umat agama lain. Perhelatan itu agar tercipta saling pengertian sehingga dunia yang aman, tenteram dan damai,” kata dia.

Selain persoalan Uighur, Anwar mengatakan, sejauh ini upaya mengatasi Islamofobia hasilnya juga belum menggembirakan. Situasi ini berdampak sehingga umat Islam selalu terpojok bahkan menjadi korban tindak orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Hal itu, lanjut dia, seperti yang dialami Muslim di Christchurch, Selandia Baru di mana muslim seorang bersenjata melakukan penembakan secara brutal di masjid saat gelaran salat Jumat sehingga menewaskan 60 orang.

Qatar Pastikan Tahun Depan Bantuan Untuk Gaza Berlanjut

DOHA (Jurnalislam.com) – Pemerintah Qatar menegaskan, akan terus memberikan bantuan kemanusiaan untuk Jalur Gaza ke tahun depan, sebagaimana dilansir Reuters, Rabu (18/12/2019).

Sejak perang Gaza terakhir, pada tahun 2014, melalui persetujuan Israel,  Qatar telah memberikan lebih dari $ 1 miliar dana rekonstruksi dan tunjangan untuk rakyat Palestina. Bantuan tersebut telah membantu Doha memenangkan bantuan di Washington meskipun ada ketegangan diplomatik Qatar-Saudi.

Utusan Qatar Mohammed Al-Emadi mengunjungi Gaza minggu ini untuk mengawasi sumbangan 22 truk pemadam kebakaran dan kendaraan darurat lainnya dan mendiskusikan proyek energi dan kesehatan baru yang diusulkan.

“Untuk kuartal pertama tahun ini kami melanjutkan, ini sudah pasti. Untuk sisa tahun ini, saya pikir kami akan melanjutkan, kami melihat dengan seksama dan positif tentang masalah ini,” kata Emadi kepada Reuters ketika ditanya tentang bantuan Qatar untuk Rakyat Palestina di masa depan.

Dalam upaya untuk meringankan kesulitan ekonomi dan membantu meredakan ketegangan di sepanjang perbatasan dengan Israel, Qatar menyediakan lebih dari $ 150 juta pada tahun 2019 untuk membeli bahan bakar untuk pembangkit listrik tunggal Gaza dan memberikan bantuan tunai bulanan kepada hampir 70.000 orang yang membutuhkan.

Emadi mengatakan, pimpinan Hamas, Ismail Haniyeh mengunjungi Qatar minggu ini dan telah meminta perpanjangan bantuan keuangan hingga 2020.

“Setelah Maret ada peluang besar kami akan melanjutkan dukungan bulanan ini untuk listrik dan orang miskin,” kata Emadi.

Qatar tidak memiliki hubungan formal dengan Israel, yang tidak menyetujui hubungan negara Teluk dengan Iran dan Hamas. Tetapi para pejabat Israel secara pribadi menyambut pemberian Qatar di Gaza, melihat cara untuk mencegah krisis kemanusiaan bahkan jika uang itu membantu Hamas mempertahankan kekuasaannya atas jalur yang diblokade.

Hindari Pemboman Rezim dan Rusia, 12.000 Warga Suriah Pindah ke Perbatasan Turki

IDLIB (Jurnalislam.com) – Dalam 24 jam terakhir, sekitar 12.000 warga sipil telah dipindahkan secara paksa dari “zona de-eskalasi” di Suriah utara, ke daerah-daerah dekat perbatasan Turki, untuk menghindari pemboman rezim dan Rusia.

Dengan statistik baru-baru ini, jumlah pengungsi dari wilayah tersebut pada hari Rabu (11/12/2019) telah mencapai total 110.000 warga sipil selama sebulan terakhir, dan setengahnya menyatakan sumber-sumber lokal kepada Anadolu Agency.

Mohammed Al-Hallaj, koordinator Koordinator Respon Sipil di Suriah Utara (lokal), mengatakan kepada bahwa 110.000 warga sipil, yang terdiri dari 20.000 keluarga, telah melarikan diri dari zona de-eskalasi dalam satu setengah bulan.

Al-Hallaj juga menyatakan bahwa para pengungsi pindah ke daerah perbatasan untuk menghindari pemboman Rusia, pasukan rezim Suriah, dan kelompok-kelompok teroris Iran.

Dia menjelaskan bahwa jumlah pengungsi telah meningkat dengan meningkatnya pemboman selama periode yang disebutkan, mencatat bahwa serangan intens yang diluncurkan oleh rezim dan sekutunya pada hari Selasa (10/12/2019) menyebabkan perpindahan sekitar 12.000 warga sipil selama 24 jam terakhir.

Al-Hallaj menambahkan, pedesaan selatan Idlib adalah daerah yang paling ditargetkan, yang menunjukkan bahwa keluarga pengungsi telah tersebar di antara pohon-pohon zaitun dan bahwa mereka sangat membutuhkan tenda, selimut dan makanan.

Al-Hallaj menunjukkan bahwa pasukan rezim secara sengaja menargetkan rumah sakit, pusat pertahanan sipil dan fasilitas vital lainnya untuk mencegah orang kembali ke kota mereka.

Patut dicatat bahwa para pengungsi yang melarikan diri dari pemboman rezim dan sekutunya mengungsi di kamp-kamp yang terletak di desa-desa dan kota-kota di dekat perbatasan Suriah-Turki, di samping daerah Euphrates Shield dan Olive Branch yang dimiliki oleh Tentara Nasional Turki dan Suriah. terbebas dari terorisme.

Sebagian pengungsi juga dipaksa untuk berlindung di ladang zaitun, di tengah kondisi cuaca buruk.

Lebih dari 1.300 warga sipil telah tewas oleh rezim dan serangan Rusia di zona de-eskalasi, sejak 17 September 2018.

Serangan-serangan itu juga mengakibatkan perpindahan lebih dari satu juta warga sipil ke daerah-daerah yang relatif aman atau dekat dengan perbatasan Turki.

Xinjiang Terkini: Sebagian Kamp Penahanan Telah Ditutup, Namun Penindasan Tetap Berlanjut

Dr Darren Byler, seorang pakar  Uighur dan masalah-masalah minoritas lainnya di Xinjiang, mengatakan ia merasa laporan media baru-baru ini telah menekan pemerintah untuk memaksa mereka mengatakan telah membongkar kamp.

“Semua Siswa telah lulus… pekerjaan kami disini telah selesai,” kata Kepala Kamp Re-edukasi Uighur.

Dalam beberapa minggu terakhir ini The Irish Times mengkonfirmasi, setidaknya ada dua Kamp Re-edukasi terbesar di Kashgar, provinsi Xinjiang, akan tetapi para pengamat mengatakan walaupun strategi pemerintah telah berubah, namun dalam keadaan tertentu hak dan kebebasan dari ratusan ribu warga etnis minoritas tetap saja diawasi.

Dalam menghadapi meningkatnya kecaman dunia internasional, minggu lalu pemerintah Xinjiang mengumumkan bahwa kamp-kamp tersebut akan ditutup karena “semua siswa telah lulus”.

Bulan lalu, the China Cables –membocorkan dokumen Partai Komunis China yang diberikan kepada International Consortium of Investigative Journalists dan dibagikan kepada The Irish Times – telah membantu menjelaskan bagaimana kondisi sebenarnya fasilitas extra-yudisial “seperti-penjara” ini, yang merupakan bagian dari kampanye masif penindasan terhadap minoritas etnis-agama.

Akhir pekan ini, The Irish Times telah mengunjungi dua kamp di Kashgar yang telah ditutup yang mana baru saja menahan ratusan, atau setidaknya ribuan tahanan.

Di dalam bangunan “Pusat Keterampilan Kejuruan” atau “Kamp Reedukasi” kota Kashgar tersebut, pagar tinggi dan menara pengawas tetap ada, namun pintu gerbang besi yang besar terbuka lebar, petugas keamanan dan polisi bersenjata sudah tidak tampak lagi, dan kampus yang luas tersebut terlihat sangat sunyi.

“Semuanya telah dibongkar, hampir tidak meninggalkan apapun kecuali ruangan beton yang kosong”

“Semua siswa telah lulus. Mereka sudah selesai sekarang. Tugas kami disini telah selesai,” kata Kepala sekolah Mijiti Maihemoti, yang telah menjalankan kamp ini dalam dua tahun terakhir.

Setelah awalnya menyangkal adanya kamp-kamp re-edukasi, di hadapan sejumlah bukti yang ada, akhirnya Beijing mengakui bahwa tahun lalu telah mendirikan “pusat-pusat pelatihan kejuruan” di penjuru provinsi untuk membantu deradikalisasi minoritas dan melawan ekstremisme, termasuk mengajarkan para “tahanan” bahasa Mandarin, hukum nasional dan keterampilan kejuruan.

“Mereka semua telah dideradikalisasi dan telah menyelesaikan pelajaran. Tidak ada seorang pun di wilayah ini yang membutuhkan pelatihan lebih lanjut,” Kata Tn. Maihemoti sembari berjalan melewati gedung-gedung yang semuanya sudah kosong.

Semua papan rambu, kursi, meja, papan tulis, tempat tidur susun, peralatan kantor dan dapur, kamera pengintai – semuanya telah dibongkar, hampir tidak meninggalkan apa pun kecuali ruangan beton yang kosong.

Penjara Alternatif

Kepala sekolah mengatakan lebih dari 1,000 siswa telah memasuki fasilitas ini selama dua tahun terakhir. Sebanyak 70 guru dan siswa yang tersisa sudah pergi semuanya pada akhir November ini, kata dia.

Pemerintah tetap akan menawarkan “pelatihan kejuruan” lagi ke beberapa pusat pelatihan, “akan tetapi apabila atas dasar kemauan mereka sendiri. Mereka tidak akan dipaksa untuk ikut,” kata dia.

Disaat kebijakan resmi yang dinyatakan bahwa orang-orang yang menghadiri kamp tersebut adalah para sukrelawan, namun pada tingkat lokal pejabat yang bersangkutan lebih sering menggambarkan hal tersebut sebagai pusat penahanan untuk orang – orang yang dianggap melakukan pelanggaran ringan atau orang yang mungkin menghadapi kejamnya kekerasan sistem penjara.

Kelompok hak asasi manusia dan akademisi mengatakan ada indikasi dalam beberapa bulan terakhir bahwa pemerintah mulai meredakan sistem kamp, sementara pada saat yang sama meningkatkan bentuk penindasan lainnya.

Dr Darren Byler, seorang pakar Uighur dan masalah-masalah minoritas lainnya di Xinjiang, mengatakan ia merasa laporan media baru-baru ini telah menekan pemerintah untuk memaksa mereka mengatakan telah membongkar kamp.

“Perasaan saya adalah bahwa kebocoran dokumen ini telah mendorong pernyataan-pernyataan semacam ini dari pemerintah serta intensifikasi bentuk-bentuk lain dari penolakan dan misinformasi,” katanya.

Jika ada kelulusan massal di seluruh provinsi, itu tidak akan menghasilkan perubahan substansial bagi sebagian besar orang yang berada di kamp tersebut, kata Dr Byler, seorang dosen di University of Washington.

“Hak dan kebebasan mereka masih direnggut, seperti sebelumnya,” katanya. “Mereka yang dipindahkan ke pabrik juga masih dalam keterpaksaan yang kuat berdasarkan semua bukti yang terverifikasi yang telah saya lihat. Banyak yang lainnya juga telah dipindahkan ke penjara.”

Laporan pemerintah menunjukkan bahwa, selain mereka yang ditahan di kamp, ratusan ribu orang telah dikirim ke penjara di Xinjiang dalam tiga tahun terakhir ini, dengan tingkat hukuman di beberapa bagian provinsi hingga 20 kali lipat dari rata-rata nasional.

Pengawasan dan Indoktrinasi

Dokumen-dokumen tersebut menunjukkan bahwa strategi jangka panjang pemerintah provinsi adalah untuk menempatkan sebagian besar populasi minoritas Muslim dalam pekerjaan tertentu di pabrik, di mana pengawasan dan indoktrinasi dapat tetap dilanjutkan. Menolak pekerjaan yang ditugaskan pemerintah tanpa alasan yang memadai adalah salah satu dari 75 tanda-tanda ekstremisme yang tertulis dalam daftar resmi pemerintah, dan “harus tidak boleh ada perlawanan”.
Seorang warga Uighur yang sekarang tinggal di luar Tiongkok mengatakan dia tidak begitu yakin dengan laporan-laporan mengenai ditutupnya kamp tersebut karena banyak orang masih hilang dari desanya.

“Jika mereka sudah lulus dan sekarang sudah berakhir, lalu di mana semua orang yang hilang? Kita perlu mengetahui kabar dari mereka. Begitu banyak orang yang saya kenal masih merindukan keluarga dan teman mereka, ”katanya. “Kami tidak tahu apakah mereka ada di kamp atau di pabrik atau di mana.”

Di luar Kashgar, Pusat Pelatihan Kejuruan di wilayah Shule juga kosong ketika The Irish Times berkunjung pada hari Sabtu. Pada kunjungan sebelumnya pada bulan Juli, ada ratusan orang di fasilitas tersebut dan direktur Mamat Eli mengatakan dia mengharapkan beberapa dari mereka untuk tinggal setidaknya dua atau tiga tahun lagi.
Banyak yang “terinfeksi pemikiran radikal”, katanya kemudian, dan mungkin butuh bertahun-tahun untuk merawat dan melatihnya agar terbebas dari pemikiran tersebut.

“Ada sekitar 1,8 juta warga Uighur dan etnis minoritas lainnya yang telah dikirim ke kamp dalam tiga tahun terakhir.”

Dan sekarang semuanya berdiri terdiam. Bendera Tiongkok di halaman telah diturunkan bersamaan dengan nama fasilitas dan papan-papan propaganda. Bangunan-bangunan, beberapa di antaranya baru selesai dalam setahun terakhir – semuanya terkunci. Dalam dinginnya udara, seorang wanita tua menyapu daun-daun di hamparan lantai semen, tempat bagi ratusan orang yang baru-baru ini melakukan latihan olah raga dan koreografi setiap hari.

Seorang pejabat daerah membantah bahwa keputusan untuk menutup fasilitas ini adalah perubahan kebijakan yang mendadak.

1,000 fasilitas.

“Saya pikir mereka semua telah lulus. Tidak ada lagi kebutuhan bagi mereka,” kata Tn. Li, seorang pejabat di wilayah Shule. “akan tetapi suatu saat Pemerintah mungkin akan membuka kembali dan orang-orang akan datang secara sukarela jika memang ada warga yang ingin belajar keterampilan untuk masa depan mereka.”

Pemerintah tidak pernah mengatakan berapa fasilitas yang telah dibuka, atau berapa orang yang telah dikirim kedalamnya, yang dikatakan hanya situasi nya itu “dinamis dan cair”.

Beberapa perkiraan menyatakan bahwa kemungkinan ada 1.000 atau lebih fasilitas yang tersebar di penjuru provinsi yang luasnya 1,2 juta sq / km, yang berbatasan dengan delapan negara.

Peneliti Jerman Adrian Zenz memperkirakan ada sekitar 1,8 juta Uighur dan etnis minoritas lainnya yang telah dikirim ke kamp dalam tiga tahun terakhir. Seorang juru bicara pemerintah daerah Kashgar mengatakan: “Saya tidak tahu berapa banyak ‘pusat pelatihan kejuruan’ di wilayah Kashgar, tetapi yang saya tahu itu baru saja ditutup. Itu semua ditutup sekarang. Saya yakinkan Anda bahwa. . . Itu berlaku sama untuk seluruh provinsi [Xinjiang], saya pikir. ”

Saat ini tidak ada verifikasi independen atas klaim pemerintah tersebut.

Selama kunjungan ke wilayah tersebut, otoritas pemerintah setempat telah mengeluarkan beberapa mantan tahanan dari kamp-kamp lokal yang, tetap dalam pengawasan ketat, semuanya menceritakan kepada The Irish Times kisah yang terlalu mirip.

Mereka telah terinfeksi dengan pemikiran ekstrimis radikal, kata mereka semua; mereka direhabilitasi di kamp-kamp; mereka sekarang keluar dan memiliki pekerjaan berkat pemerintah; dan kehidupan mereka semua jauh lebih baik sehingga mereka seharusnya berterima kasih kepada partai (red.PKC).

“Saya perlahan dididik. Begitu juga semua orang. Tidak ada masalah sekarang, “kata seorang pelayan berusia 32 tahun. “Kita semua sudah lulus. Kita bebas.”

 

Penerjemah: Danu Rifa’i
Sumber : TheIrishTimes

Cuitan Ozil dan Pentingnya Dakwah di Media Sosial

Oleh: Willy Azwendra M.Ag
Dosen Prodi Komunikasi & Penyiaran Islam STAI PTDII Jakarta

Beberapa hari yang lalu umat Islam di seluruh dunia dikejutkan dengan Postingan dari akun media sosial pesebakbola terkenal Mesut Ozil (Pemain Arsenal dan Timnas Jerman). Ozil mendapat kritik dan kecaman dari masyarakat China. Kritikan tersebut dikarenakan Mesut Ozil yang secara tegas dan berani dalam menanggapi penindasan yang dilakukan pemerintah Komunis Cina terhadap kaum minoritas Uighur.

Mantan pemain andalan Timnas Jerman ini menyatakan dukungannya secara tegas untuk Uighur. Dilansir dari Wikipedia, Uighur merupakan salah satu suku minoritas resmi di Republik Rakyat Tiongkok. Suku ini merupakan keturunan dari suku kuno Huihe yang tersebar di Asia Tengah, menuturkan bahasa Uighur dan memeluk agama Islam.

Selain Republik Rakyat Tiongkok, populasi suku ini juga tersebar di Kazakhstan, Kyrgystan dan Uzbekistan. Suku Uighur bersama suku Hui menjadi suku utama pemeluk Islam di Tiongkok, tetapi ada perbedaan budaya dan gaya hidup yang kentara di antaranya. Suku Uighur lebih bernafaskan Sufi sedangkan suku Hui lebih pada mazhab Hanafi. Suku Uighur terutama berdomisili dan terpusat di Daerah Otonomi Xinjiang (Sumber : Wikipedia)

Salah satu kalimat cuitannya adalah “(Di China) Quran dibakar, masjid ditutup, sekolah teologi Islam-madrasah dilarang, cendikiawan dibunuh satu per satu. Terlepas dari itu semua, Muslim tetap diam,” tulis mantan pemain Real Madrid ini di akun media sosialnya akhir pekan lalu.

Berikut Postingan lengkap Mesut Ozil terkait penindasan terhadap Muslim Uighur :
“Turkistan Timur. Luka berdarah umat. Mereka melawan kekuatan yang coba memisahkan mereka dari agama mereka. Para laki-laki ditahan di kamp, sementara keluarga mereka dipaksa hidup dengan orang-orang China. Para wanita juga dipaksa menikah dengan orang China,”
“Tak tahukah mereka bahwa menutup mata terhadap penindasan adalah sesuatu yang keji? Tak tahukah mereka bahwa bukan derita saudara-saudara kita yang akan dikenang, melainkan sikap diam kita? Oh, Tuhan, tolong saudara-saudara kami di Turkistan Timur,” ucap Ozil.

Melihat sikap Ozil tersebut, betapa salutnya kita atas kepedulian Mesut Ozil terhadap agama yang dianutnya yaitu Islam. Ozil yang sudah terbiasa hidup di lingkungan minoritas Islam tentu lebih merasakan bagaimana rasanya hidup sebagai muslim yang minoritas. Cuitan Mesut Ozil ini merupakan tamparan keras bagi umat Islam di seluruh dunia termasuk Negara-negara yang mayoritas Islam yang terkesan Diam dan kurang vokal dalam menyampaikan kebenaran. Inilah dakwah yang sesungguhnya, karena sejatinya dakwah adalah menyeru umat untuk berbuat baik, menyampaikan kebenaran dan mencegah berbuat kemungkaran.

Pentingnya Dakwah di Media Sosial

Perkembangan teknologi komunikasi yang semakin canggih di era globalisasi saat ini memiliki dampak langsung terhadap semua orang di dunia. Di masa lalu orang tidak mengenal apa itu internet, tetapi sekarang zaman telah berbeda, di mana hampir semua orang, termasuk kelas menengah ke bawah, akrab dengan teknologi komunikasi media sosial, terutama WhatsApp, Facebook, Twitter dan Instagram.

Saat teknologi internet dan mobile phone makin maju, maka media sosial pun ikut tumbuh dengan pesat. Dengan kemajuan media sosial saat ini, para Ustadz dan para Da’i juga semakin gencar melakukan dakwahnya di media sosial, istilahnya Fastabikul Khoirot atau berlomba-lomba dalam kebaikan.

Internet memang memberikan banyak kemudahan bagi penggunanya. Dengan internet kita dapat mengakses informasi secara mudah, cepat, dan terkini. Berbagai situs dalam internet seolah menjadi candu masyarakat dimana mereka menjadi mengandalkan internet untuk kepentingan hidup mereka. Baik itu kepentingan yang bersifat positif dan bermanfaat, tetapi ada juga yang memanfaatkan internet untuk kepentingan yang sifatnya negatif bahkan berdampak buruk bagi orang dan masyarakat.

Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.

Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai “sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi”. Artinya media sosial bisa mempengaruhi cara berpikir dan cara pandang para penggunanya yang pada akhirnya juga bisa mengubah kehidupan umat manusia ke jalan yang lebih baik jika mampu menyikapi dan memanfaatkan media sosial dengan baik dan bijak.

Dakwah sangat diperlukan sebagai penyeimbang atau pembatas dalam melakukan hal apapun di dalam media sosial. Penyebaran nilai-nilai Islam tidak terlepas dari peran seorang pemuka agama atau Da’i dalam menyampaikan dakwah. Dakwah merupakan suatu kegiatan mengajak, mendorong, dan memotivasi orang lain untuk mengikuti jalan Allah dan istiqomah dijalannya serta berjuang bersama meninggikan agama Allah SWT.

Hal lain yang mendukung munculnya dakwah melalui media sosial adalah karena banyaknya masyarakat yang masih awam tentang pengetahuan agama, sehingga menjadikan para ulama berinisiatif untuk melakukan dakwah melalui media sosial dengan tujuan mengajak masyarakat untuk lebih memanfaatkan internet sebagai suatu wadah untuk menambah ilmu pengetahuan dan menyampaikan kebaikan.

Firman Allah SWT tentang Dakwah:
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Maha Tahu tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS an-Nahl (16): 125).

Dalam perspektif dakwah Islam, semua sarana seharusnya dapat digunakan untuk penyebaran dakwah Islam termasuk lewat media sosial. Melihat kondisi sekarang, baik itu anak-anak sampai orang dewasa memiliki ketergantungan dengan internet dan tidak sedikit yang terjerumus dalam hal-hal yang negatif. Untuk itu bagi siapapun dan para pendakwah khususnya, hendaknya menyampaikan nilai-nilai positif dan mengajak pada kebaikan lewat media sosial agar mendatangkan manfaat untuk banyak orang.

Dapat disimpulkan bahwa media sosial diibaratkan sebagai pisau, Jika digunakan untuk memotong buah-buahan, daging, dan sayuran tentu sangat berguna dan bermanfaat bagi manusia dalam mengolah bahan makanan, tetapi jika digunakan untuk mengancam, meneror, bahkan membunuh orang maka hal ini akan berdampak buruk, bahaya dan merugikan orang lain.

Jika media sosial digunakan untuk menyebarkan foto-foto, tulisan-tulisan seperti yang dilakukan oleh Mesut Ozil, tentu sangat baik dan berdampak baik juga untuk banyak orang. Tetapi jika digunakan untuk menyebarkan kebohongan, fitnah, adu domba dan lain sebagainya, maka ini bisa merugikan dan berdampak buruk bagi semua.

Dulu selain Ozil, mantan rekan satu timnya di Club Real Madrid yaitu Cristiano Ronaldo juga pernah beberapa kali melihatkan sikap penentangannya terhadap pembantaian yang dilakukan oleh Pemerintah Zionis Israel kepada rakyat Palestina.

Betapa pentingnya dakwah dilakukan di media sosial. Hanya dengan menggerakkan jari, kita bisa mengajak, menasehati, dan memotivasi banyak orang untuk berbuat kebaikan. Mungkin kita tidak sadar dengan apa yang kita sebarkan di media social sangat berpengaruh dan berdampak besar bagi orang-orang yang cinta akan kebaikan dan kedamaian. Kebaikan-kebaikan yang disampaikan dalam media sosial merupakan penyeimbang dari hal-hal negatif yang disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab di media sosial. Kalimat penutup yang pas adalah kebenaran harus disampaikan dan penindasan harus dihentikan.

45 Jurnalis Bitter Winter Ditangkap, 17 Diantaranya Hilang

XINJIANG (Jurnalislam.com) – Sejak Agustus hingga Desember 2018, sedikitnya 45 kontributor Bitter Winter telah ditangkap di Cina karena melaporkan kebenaran tentang penindasaan terhadap umat beragama dan pelecehan keras terhadap etnis minoritas. Media arus utama di seluruh dunia telah meliput pelanggaran terang-terangan hak asasi manusia dan kebebasan pers ini.

Bitter Winter memperbarui pembacanya tentang nasib 45 orang itu di bulan Februari dan Juni tahun ini. Setengah dari mereka telah dibebaskan, tetapi diawasi. Yang lain tetap di penjara. Satu tahun setelah penangkapan, sekarang saatnya untuk pembaruan baru.

20 dari 45 masih ditahan di Cina. 18 dipenjara di Xinjiang, sebuah wilayah luas yang diubah oleh PKC menjadi negara kepulauan dengan fasilitas penahanan. Bahkan warga negara yang masih belum ditahan secara sistematis dikendalikan melalui alat teknologi tinggi.

Kami memiliki beberapa informasi baru tentang satu dari 18 orang itu. Dia dipindahkan ke sebuah kamp transformasi melalui kamp pendidikan di kota Hami setelah satu tahun ditahan. Namun tidak ada yang tahu tentang 17 orang lainnya.

Xinjiang sebenarnya adalah wilayah terlarang, seperti yang diketahui pembaca Bitter Winter dengan sangat baik, dan mendapatkan informasi tentang mereka yang ditahan di sana hampir mustahil.

Kami memiliki berita tentang salah satu wartawan yang dibebaskan. Dia adalah satu dari empat orang yang ditangkap tahun lalu di provinsi Shanxi, Cina Utara. Dia telah dijatuhi hukuman lebih dari enam bulan “dengan dugaan

memberikan rahasia negara di luar negeri,” yang dalam bahasa Orwellian dari PKC berarti meneruskan informasi independen ke media Barat. Dia dibebaskan dengan jaminan karena bukti terhadapnya langka. Sekarang dia di rumah, tetapi dia berkewajiban untuk tetap di kotanya dan harus siap untuk melapor ke polisi lewat telepon 7/24.

Reporter yang memungkinkan Bitter Winter untuk mempublikasikan video pertama dan sejauh ini hanya dari dalam salah satu transformasi mengerikan melalui kamp pendidikan di Xinjiang adalah di antara 45 yang ditangkap, dan masih di antara mereka yang hilang dalam aksi, yang menghilang tanpa meninggalkan jejak.

Harapan selalu mati yang terakhir, tetapi seiring berjalannya waktu, peluang untuk mendapatkan lebih banyak informasi tentang mereka yang hilang, atau melihat mereka kembali ke rumah, berkurang. Ini harus menjadi perhatian dan alarm semua teman kebebasan pers di komunitas internasional.

Untuk diketahui, Bitter Winter adalah sebuah majalah daring tentang kebebasan beragama dan hak asasi manusia di Cina yang berbasis di Turin, Italia.

Bitter Winter diluncurkan pada Mei 2018 sebagai majalah online tentang kebebasan beragama dan hak asasi manusia di Cina yang diterbitkan setiap hari dalam delapan bahasa oleh CESNUR, Pusat Studi Agama-Agama Baru, yang berkantor pusat di Torino, Italia. Para sarjana, jurnalis, dan aktivis hak asasi manusia dari berbagai negara bekerja bersama untuk memberikan suara bagi mereka yang tidak bersuara dengan menerbitkan berita, dokumen, dan kesaksian tentang penganiayaan terhadap semua agama di Cina.

Bukan Warga Setempat, Pemerintah Cina Usir Para Imam Masjid di Henan

Pemerintah Komunis Cina telah meluncurkan kampanye untuk memaksa para imam kembali ke tempat asal mereka, sebagai bagian dari kebijakan yang lebih luas untuk melemahkan komunitas Islam di Cina.

HENAN (Jurnalislam.com) – Pemerintah Provinsi Henan di Cina telah mengeluarkan perintah pada tahun ini untuk menyelidiki para imam yang bertugas di masjid dan memerintahkan mereka yang berasal dari provinsi lain untuk meninggalkan Henan.

Seorang pejabat dari Biro Urusan Agama di salah satu kota Henan mengatakan kepada Bitter Winter bahwa hanya para imam yang telah mengajukan kepada pemerintah dan secara proaktif mempromosikan kebijakan “sinicization” yang dapat tinggal di daerah yang mereka layani untuk saat ini.

Akan tetapi, mereka yang telah mengantongi izin tinggal pun tetap tidak aman. Informasi pribadi para imam harus dicatat pada arsip pemerintah, dan informasi tersebut harus ditempatkan di bawah pengawasan intensif dan menjadi sasaran inspeksi tahunan. Para imam yang terbukti melanggar aturan dan peraturan, terutama jika mereka goyah dalam menerapkan kebijakan “sinicization” agama, akan diperintahkan untuk meninggalkan provinsi.

“Sebelum perintah itu dikeluarkan, tujuh imam luar provinsi bekerja di daerah itu. Sekarang, enam telah diusir, dan yang tersisa berada di bawah pengawasan ketat pemerintah,” kata seorang takmir masjid di kota Sanmenxia di Henan barat.

Di beberapa daerah, kebijakan baru telah mengakibatkan tidak adanya imam untuk menangani urusan agama di masjid dan kehidupan sehari-hari umat Islam, seperti meresmikan pernikahan dan pemakaman. Hal itu menyebabkan banyak ketidaknyamanan bagi penduduk lokal Hui.

Seorang imam dari provinsi barat laut Shaanxi, yang telah bekerja di Henan selama lebih dari 20 tahun, diberitahu pada bulan April oleh Asosiasi Islam China untuk meninggalkan masjidnya.

“Ketika para imam yang lebih tua pensiun, pemerintah tidak mengizinkan masjid untuk mengangkat imam baru,” kata imam itu kepada Bitter Winter.

“Di berbagai daerah, hanya beberapa imam yang dikendalikan secara resmi oleh PKC yang tersisa. Mereka tidak cukup untuk melayani tuntutan sidang. Sekarang bahkan para imam dari provinsi lain disuruh pergi, beberapa masjid akan dibiarkan tanpa ada yang memimpin mereka,” sambungnya.

Untuk tetap tinggal di provinsi ini, beberapa imam telah mencoba memindahkan pendaftaran rumah tangga mereka dari tempat asal mereka ke Henan. Imam mengatakan bahwa teman-temannya telah menyarankannya untuk melakukan hal yang sama. Tapi dia tahu itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan.

“Jika para imam dari luar provinsi diusir atas perintah pemerintah, mereka tidak akan menyetujui aplikasi kami untuk transfer pendaftaran rumah tangga,” tambah imam itu.

Untuk menerima kredensial imam di provinsi lain, seseorang harus melalui prosedur yang panjang. Ini termasuk, harus mendapatkan sertifikat identitas dan penilaian pribadi dari Biro Urusan Agama setempat, serta bukti dari polisi bahwa orang tersebut tidak memiliki catatan kriminal. Bahkan setelah melalui prosedur birokrasi ini, hasil yang menguntungkan tidak dijamin.

“Seorang imam yang saya kenal mengajukan permohonan sertifikat di provinsi lain setengah tahun yang lalu. Dia masih menunggu,” kata imam itu.

Orang yang bertanggung jawab atas sebuah masjid di Puyang, sebuah kota tingkat prefektur di timur laut Henan, mengatakan kepada Bitter Winter bahwa dia telah mengajukan petisi kepada United Front Work Department (UFWD) setempat pada beberapa kesempatan untuk mengizinkan para imam dari provinsi lain untuk tinggal dengan mentransfer pendaftaran rumah tangga mereka. ke Henan. Tetapi tidak berhasil: para pejabat mengambil sikap tegas, mengklaim bahwa mereka mengikuti kebijakan nasional, sehingga para imam harus pergi.

“Tahun lalu, pemerintah meluncurkan kampanye ‘empat persyaratan’ secara nasional di masjid-masjid, banyak yang telah diubah, kehilangan simbol Islam mereka. Tahun ini, para imam diusir. PKC tidak akan menghentikan penganiayaannya terhadap Muslim,” kata seorang pria Hui dari kota Zhumadian di selatan Henan.

“Tidak ada yang berbicara kepada kita tentang Al-Quran lagi. Jika ini terus berlanjut, kepercayaan kita secara bertahap akan melemah dan bahkan menghilang. Generasi berikutnya tidak akan tahu apa-apa tentang agama kita; kita hanya akan disebut ‘orang Hui yang tidak makan daging babi.’ “