Viral Video Seronok Pelajar, Kemenag Blitar Tekankan Pendidikan Berakhlakul Karimah

BLITAR (Jurnalislam.com) – Merespon tersebarnya video joged senonok empat pasangan pelajar Blitar, Kementrian Agama (Kemenag) mengintrusikan penguatan pendidikan karakter akhlakul karimah di semua jenjang pendidikan.

“Kami sudah berkoordinasi pasca maraknya pemberitaan tersebut. Hasilnya kami merekomendasikan untuk melakukan penguatan pendidikan karakter di semua jenjang pendidikan,” terang Jamil kepada wartawan, Sabtu (9/2/2018).

Rekomendasi tersebut, kata Jamil akan segera disosialisasikan dan diaplikasikan. Kejadian tersebut yang telah mencoreng dunia pendidikan di Blitar ini harus dijadikan muhasabah dan diambil hikmahnya.

“Kejadian beredarnya video porno tersebut harus menjadikan masyarakat sadar pentingnya pendidikan agama di era kecanggihan teknologi ini. Zaman ini berbeda dengan 10 tahun lalu. Semua pihak harus berusaha memfilter agar tidak terpengaruh dampak negatif kemajuan zaman” paparnya.

Jamil menegaskan, solusi untuk mencegah kejadian serupa terulang adalah dengan memberikan pembekalan dan pembinaan akhlaqul karimah.

“Agama adalah satu-satunya jalan untuk membentengi akhlak generasi muda. Pembelajaran agama harus benar-benar ditanamkan dan diintegrasikan dalam setiap mata pelajaran. Sehingga muncullah karakter pelajar berakhlaqul karimah,” tandas pria yang juga menjabat sekretaris MUI Blitar.

Jamil pun menghimbau agar semua pihak baik sekolah, tokoh agama, masyarakat dan keluarga secara bersama sama dan sungguh-sungguh harus memperhatikan pendidikan agama anak-anak kita.

“Agar tidak terulang, Semuanya harus introspeksi dengan kejadian ini . Mari bersama-mewujudkan generasi muda yang tidak hanya pandai ilmu umum tapi juga mempunyai akhlaqul karimah,” pungkasnya.

Seperti diketahui, delapan pelajar sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) di Blitar merekam video joget seronok dengan berpasang-pasangan. Parahnya, empat siswi di video tersebut mengenakan busana muslim. Video tersebut kemudian menjadi viral di media sosial.

Polres Blitar telah memeriksa 10 pelajar tersebut dan memanggil orang tua mereka. Pihak polisi juga memanggil guru tempat siswa tersebut sekolah untuk memintai keterangan karena video joget seronok diambil di dalam kelas.

Kontributor : Ruri

KH Athian Ali Kukuhkan Pengurusan ANNAS Kepri

BATAM (Jurnalislam.com) – Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) mengukuhkan kepengurusannya di Kepulauan Riau, Sabtu (10/2/2018). Ribuan umat Islam yang memadati Masjid Al Kaffah Legenda Malaka, Batam Kota, Kota Batam Kepri antusias menyimak paparan Ketum ANNAS Pusat, K.H. Athian Ali M. Da’i.

Usai dikukuhkan, Ketua ANNAS Wilayah Kepri terpilih Erwin Abu Ghaza membacakan lima poin pernyataan sikap.

Pertama, ANNAS Wilayah Kepri siap berupaya amar ma’ruf nahi munkar khususnya dalam menghadapi penyebaran aliran-aliran sesat tak terkecuali Syiah yang ada di Wilayah Kepri.

Kedua, ANNAS Wilayah Kepri akan senantiasa berupaya mengingatkan masyarakat tentang bahayanya ajaran Syiah bagi akidah ummat dan stabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ketiga, ANNAS Wilayah Kepri mengajak ummat Islam Kepri baik Ormas Islam, organisasi dakwah maupun warga untuk bekerjasama mengantisipasi perkembangan ajaran sesat Syiah yang mengancam keluarga dan generasi muda serta melecehkan kaum perempuan dengan modus kawin kontrak.

Keempat, ANNAS Wilayah Kepri mendesak Pemerintah Kepri agar peduli dan melindungi ummat Islam dari perusakkan nilai-nilai kedamaian oleh gerakan keagamaan dan politik Syiah dengan mengawasi, membatasi, dan melarang pengembangan ajaran Syiah di Kepri.

Kelima, ANNAS Wilayah Kepri akan senantiasa bersama-sama dengan aparat penegak hukum baik Kepolisian maupun Kejaksaan dalam mengawasi perkembangan Syiah di Wilayah Kepri yang secara ideologis dan politis tak lepas dari kendali negara Syiah Iran serta habitatnya sebagai penyebar kebencian dengan menghina shahabat dan istri Rasulullah SAW.

 

Siaran Pers

MIUMI Gelar Temu Ulama dan Tokoh Islam Lampung

LAMPUNG (Jurnalislam.com) – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menggelar pertemuan dengan para ulama dan tokoh Islam Lampung bertema “Mengikis Perbedaan Merajut Ukhuwah” di Hotel Nusantara Syariah, Jl. Soekarno Hatta No. 50, By Pass Bandar Lampung, Sabtu (10/2/2018).

Sekjen MIUMI Pusat, Bachtiar Nasir mengatakan, pertemuan tersebut dalam rangka silaturahim sekaligus mendorong persatuan dan perjuangan umat Islam baik aspek politik, ekonomi, sosial, dan sebagainya.

“Saya mengimbau semua kembali kepada shafnya, berpositif thinking kepada saudara sesama muslim, kita berbicara kedepan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua MIUMI Lampung Bukhori Abdul Shomad mengungkapkan, selama ini sinergi umat Islam di Lampung berjalan dengan baik dan tidak ada gesekan yang berarti.

“Kita berupaya maksimal untuk menyatukan umat. Tidak melulu memperdebatkan persoalan khilafiyah maupun furuiyah,” imbuhnya.

Ketua MIUMI DKI Jakarta Fahmi Salim, yang turut hadir pada kesempatan itu menjelaskan, bahwa organisasi yang dideklarasikan pada 28 Februari 2012 itu memiliki cita-cita kebangsaan dan berpegang pada Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. Menjadi perekat tokoh dan ulama muda dari lintas ormas.

“Kehadiran MIUMI ingin menghidupkan tradisi ulama terdahulu, walaupun berbeda-beda pemikiran tapi bisa menyatukan umat,” paparnya.

Ia menyampaikan, MIUMI juga berupaya membangun dakwah Islam berbasis riset, tidak sekedar ceramah di mimbar tetapi komprehensif menyangkut kajian ilmiah.

“Karenanya kami menghimpun aktivis dan intelektual dai. Ciri khas MIUMI adalah ulama yang menggerakkan, tidak hanya mengajar,” pungkasnya.

Pertemuan itu sendiri dihadiri ratusan tokoh, ulama kampung, aktivis, dan para intelektual dari berbagai ormas yang tergabung dalam Forum Umat Islam Bersatu Lampung.

Reporter: Yahya G. Nasrullah | Islamic News Agency

Pesantren Nahdjussalam Panyawungan Ringkus Pria Berpisau Mencurigakan

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Setelah santri pesantren Persis menangkap pria berpisau di Astana Anyar Bandung, kini kejadian serupa terjadi lagi masih di Bandung. Sekelompok santri di Panyawungan Cileunyi menangkap seorang pria mencurigakan yang dan menyerahkannya kepada pihak kepolisian Senin (5/1/2018) lalu.

Sempat viral Broad Cast di grup chat Whatssapp dan media sosial ihwal hal ini. Alhikmah.co berusaha menelusuri kebenaran dari BC tersebut dan berusaha menemukan saksi langsung saat kejadian.

Setelah ditelusuri, ternyata peristiwa itu terjadi di Pesantren Nahdjussalam Panyawungan Cileunyi Bandung. Kepada Alhikmah.co, salah seorang santri yang juga saksi mata saat kejadian mengatakan bahwa karena saat itu sedang gencar penyerangan terhadap ulama, maka para santri berinisiatif melakukan patrol malam tanpa sepengetahuan guru-guru mereka.

Tidak ada yang berbeda dalam pembagian tugas ronda ini, hanya saja, imbuh Andi, kewaspadaan ditingkatkan untuk orang-orang yang bertamu di luar waktu yang lazim. “Kawasan pondok pesantren ini sebagian besar dihuni oleh keluarga, jadi santri juga sudah hapal jika ada yang masuk ke sini,” kata Andi saat ditemui Alhikmah.co di Pesantren Nahdjussalam, Jl. Panyawungan No.9, Cileunyi, Bandung, Kamis (8/2/2018).

Dari pihak santri sendiri, kata ANdi, tidak ada kecurigaan untuk orang-orang umum yang datang berkunjung ke kawasan pesantren. “Kami sama sekali tidak men-judge orang yang mau bertamu ke pesantren di waktu umum orang bertamu, tapi ada kesepakatan diantara santri yang melaksanakan ronda keliling, bahwa siapapun yang bertamu ke kawasan pondok pada jam yang kurang lazim untuk bertamu sekitar pukul 12 malam ke atas, kami datangi dan tanyakan keperluannya,”tambahnya.

Pada hari ketiga ronda keliling, sekitar jam 2 pagi, Senin (5/2/2018), ketika para santri yang berjaga kebetulan berkumpul di sekitar gang masuk, bersamaan dengan mobil lewat, dari kejauhan terlihat ada orang masuk ke kawasan tempat tinggal guru-guru pondok.

“Di sana itu bisa dikatakan daerah sensitif karena langsung masuk ke tempat tinggal para guru, padahal dari pihak santri sendiri tidak berani sembarangan ke sana.”

Kemudian dari 6 orang, dsepakati untuk dibagi menjadi 2 kelompok dan mendekat dari arah yang berbeda dengan maksud membatasi pergerakan orang tersebut. Satu kelompok masuk dari gang, satu lagi dari dalam. Tapi orang tersebut sudah melihat terlebih dulu kelompok kedua yang masuk dari dalam, akhirnya orang tersebut lari ke seberang. Kelompok yang akan masuk dari mulut gang secara reflek mengejar.

“Padahal tidak digertak atau diteriaki, tapi orang itu langsung lari. Awalnya kami sama sekali tidak ada niatan untuk mengejar hanya ingin bertanya keperluannya apa, identitasnya, atau ada urusan ke siapa pada jam 2 dini hari,” terang Andi.

Sempat kehilangan jejak, tapi kembali bertemu di gang dekat penjual masakan Padang. Pergerakan orang tersebut terkunci karena dari arah yang lain muncul santri. “Di sana tidak ada perlakuan apa-apa, hanya bertanya nama dan asal. Saya dan beberapa santri juga berinisiatif untuk melihat kartu identitas sebab dari penampilannya dan wajah tidak kami kenal.”

Andi menjelaskan, orang mencurigakan tersebut sama sekali tidak terlihat gila. Sebabnya, ketika diajak mengobrol, orang tersebut menjawab dan memberi respon dengan baik. Berikut petikan obrolan ketika santri melontarkan beberapa pertanyaan:

Santri: “Darimana?”

Orang mencurigakan: “Dari depan”

Santri: “Mau kemana?”

Orang mencurigakan: “Nggak. Mau ke depan, mau ke sana.”

Santri: “Tunggu dulu di sini, tunggu dulu di sini.”

Orang mencurigakan: “Nggak, nggak kok, nggak ada apa-apa kok. Nggak mau, nggak mau”

Setelah sesi obrolan singkat tersebut, orang mencurigakan tersebut lari. Akhirnya kembali dikejar oleh santri. “Larinya lumayan cepat hingga tak terkejar oleh kami, tapi karena dia kelelahan, larinya kian melambat, akhirnya bisa ditangkap disitu.”

Santri: “Kenapa lari?”

Orang mencurigakan: “Nggak, nggak, ampun, ampun”

Ketika didudukkan, dari celananya terlihat membawa sesuatu. Ketika dikeluarkan ada gunting dan paku. Sedangkan dari saku sebelah kanan terlihat pisau. “Ketika kami bertanya ada apa di saku sisi kanan, pertamanya orang itu menolak untuk mengeluarkan. Namun setelah didesak, dia mencabut pisau dari saku celana dan kelihatannya akan menodongkan pisau. Tapi dari santri sudah ada yang siaga karena melihat gelagatnya, akhirnya pergerakannya bisa dihentikan.”

“Lho, kenapa kayak begini? Maksudnya, mau apa masuk ke situ? Karena itu daerah rawan,” tanya para santri.

Orang mencurigakan itu berkata, “Nggak, saya kesitu cuma mau ngaji, mau ngaji”

Dari jawaban tersebut, tambah Andi, secara psikologis dia sadar dan tahu bahwa di sekitar lingkungan itu ada kegiatan mengaji. Bahkan ketika dibawa ke kantor polisi, masih bisa mengobrol dengan normal. Kepada Alhikmah, salah seorang keluarga Pondok Pesantren Nahdjussalam, Tubagus menjelaskan, bahwa persoalan ini sudah selesai dan sepenuhnya diserahkan kepada pihak berwenang.

Alhamdulillah, permasalahan ini sudah clear dan situasi juga sudah kondusif, kembali tenang serta tidak mengganggu kegiatan belajar dan mengajar di pondok. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi ke depannya baik di sini, maupun di tempat lain agar kondisi kembali aman dan tenteram,” harapnya.

Sumber: Alhikmah.co

Mimbar Syariah Sosialisasikan Bahaya VD di SMPN 1 Tawangmangu

KARANGANYAR (Jurnalislam.com) – Mimbar Syariah mengadakan sosialisai dan kajian Bahaya Memperingati Hari Valentin di SMPN 1 Tawangmangu Jl. Lawu No. 1 Tawangmangu Karanganyar, Jum’at (9/2/2018) pagi ini. Acara diikuti oleh ratusan siswa dan para guru SMPN 1 Tawangmangu.

“Sosialisasi Bahaya Valentine Day ini merupakan acara road show yang akan kami laksanakan di beberapa sekolah terutama SMP yang kami gelar pekan-pekan ini sebelum tanggal 14 guna membentengi generasi muda dari kerusakan moral akibat budaya Valentine Day,” kata Ketua Mimbar Syariah Jawa Tengah Kelik Subagyo kepada Jurnalislam.com, Jumat (9/2/2018).

Sementara itu, guru pembina OSIS Teguh Setyadi mengapresiasinya kegiatan tersebut serta berharap untuk diadakan secara berkelanjutan.

“Dan saya berharap kepada para anak-anak untuk tidak mengikuti valentinan, karena itu bukan dari Islam,” ucap Teguh.

Senada itu, Ketua OSIS SMPN 1 Tawangmangu Ahmad Akbar mengatakan, acara itu sebagai upaya untuk membentengi para siswa dari Hari Valentine yang identik dengan pacaran.

Mimbar Syariah adalah forum koordinasi dan konsolidasi para da’i penegak syariah di Indonesia yang dideklarasikan pada 15 April 2016 di Jakarta.

Jubir Ansharusyariah: Umat Harus Memahami Konsep Kepemimpinan Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Jamaah Ansharusy Syariah sukses menggelar Seminar Kepemimpinan Islam di Jakarta, Selasa (6/2/2018) lalu. Juru bicara Jamaah Ansharusy Syariah Ustadz Abdul Rochim Ba’asyir mengucapkan terimakasih kepada para tokoh yang hadir dan telah memberikan gagasannya dalam acara tersebut.

Ustadz Iim berharap seminar tersebut dapat menyatukan pandangan para ulama dan tokoh Islam terkait konsep kepemimpinan Islam di Indonesia sebagai pencerahan untuk umat.

“Agar umat tidak buta dengan persoalan ini dan para tokoh tidak lagi berbeda-beda pendapat,” kata Ustadz Iim kepada Jurnalislam.com melalui sambungan telepon, Jumat (9/2/2018).

Ia memandang, kepemimpinan Islam nyaris hilang dari benak umat Islam pada umumnya. Bahkan, kata dia, para tokoh Islam justru malah terpengaruhi oleh konsep kepemimpinan yang datang dari luar Islam.

“Karena kepemimpinan itu tidak muncul begitu saja, umat Islam harus berusaha untuk memunculkan pemimpinnya sendiri,” paparnya.

Ustadz Iim menjelaskan, saat ini Islam dan umat Islam terus ditimpa musibah karena tidak adanya seorang pemimpin Islam yang benar-benar menyayangi umatnya.

“Pemimpin-pemimpin yang ada saat ini tidak menyayangi mereka (umat Islam) bahkan cenderung semakin memojokkan mereka, dan tidak sedikit para pemimpin yang justru memusuhi mereka orang-orang yang cinta dengan Islam,” ujarnya.

Oleh sebab itu, lanjutnya, umat Islam harus berjuang mengembalikan kedaulatannya di negeri ini.

Ustadz Iim menuturkan, seminar tersebut merupakan ikhtiar Jamaah Ansharusy Syariah untuk menyatukan persepsi umat akan pentingnya kepemimpinan di dalam Islam.

“Seminar ini hanya salah satu upaya yang bisa kita lakukan, kita berharap dengan upaya kecil ini Allah subhanahu wataala memberikan keberkahannya dalam langkah-langkah umat Islam selanjutnya,” tuturnya.

“Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa’tala segera mewujudkan kepemimpinan Islam di negeri ini sehingga negeri ini menjadi negeri yang baldah toyyibah waraabun ghafur,” tutupnya.

Seminar Kepemimpinan Islam dengan tema ‘Kepemimpinan Islam dalam Dinamika Politik Indonesia” itu dihadiri oleh sejumlah ulama, perwakilan ormas Islam, dan para akademisi. Ustadz Iim sendiri berhalangan hadir karena sedang beribadah umroh.

Kronologi Tanda X dan Tamu Misterius di Ponpes Sulalatul Huda Tasikmalaya

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Setelah didatangi tiga tamu aneh dan ditemukannya tanda X warna merah di lingkungan Pondok Pesantren Sulalatul Huda Paseh, Kota Tasikmalaya, warga dan santri kian waspada.

Pasca kejadian itu, kini santri bersama warga bergantian berjaga-jaga di lingkungan pesantren untuk mencegah hal yang tak diinginkan.

Selama tiga hari berturut-turut, ponpes Sulalatul Huda kedatangan tiga orang asing dengan gelagat mencurigakan. Ketika ditanya beberapa pengurus pesantren, tamu tersebut menjawab dengan jawaban melantur.

Jurnalislam.com mencoba menggali lebih dalam kronologis kejadian tersebut dari salah seorang pengurus pondok Sulalatul Huda, Khoirul Azmi (25).

Baca juga: Masih di Bandung, Remaja Masjid Persis Ditodong Pisau

Azmi menuturkan, pada hari Sabtu (3/2/2018) malam pesantren kedatangan orang asing yang mengaku dari Cilacap dan bertanya-tanya seputar Pesantren Sulalatul Huda.

“Yang pertama itu pada hari Sabtu (3/2/2018) malam ada orang asing datang ke pondok nanya-nanya seputar pesantren, ngakunya dari Cilacap mau ke pesantren Suryalaya, tapi kok malah kesini,” kata Azmi kepada Jurnalislam.com, Kamis (8/2/2018).

Pada hari Selasa (6/2/2018) dini hari, tamu lain dengan perilaku aneh kembali mendatangi pesantren Sulalatul Huda. Tamu tersebut mendatangi rumah H. Lutfi yang merupakan salah satu putra almarhum pendiri ponpes Sulalatul Huda KH Didi Abdul Majid. Namun orang ini tidak mau menjawab ketika ditanya nama dan asalnya.

“Seperti orang stress tapi kalau ngobrol mah nyambung, tapi ketika ditanya nama dan asal dari mana dia gak mau jawab,” terang Azmi.

Orang tersebut diantar oleh salah seorang jamaah pengajian H Lutfi, sehingga pihak pesantren pada awalnya tidak menaruh curiga. Akan tetapi saat diajak ngobrol, orang ini menjawab dengan nada ancaman dan disampaikan dengan bahas-bahas istilah.

“Dan dia kalau ngomong itu seperti pake istilah-istilah intel seperti ‘hayam jago’, ‘hayam kampung’, untungnya A Haji Lutfi paham dengan istilah-istilah itu, hayam kampung itu berarti massa. Dia bilang takutnya cuma sama hayam kampung,” papar Azmi.

Keesokan harinya, Rabu (8/2/2018) ponpes Sulalatul Huda kembali didatangi orang asing yang lebih mencurigakan. Azmi mengatakan, orang tersebut tiba-tiba masuk ke halaman rumah pimpinan pesantren Sulalatul Huda KH Aminudin Bustomi sambil berteriak-teriak memanggil nama Kyai Amin.

Baca juga: Al Mumtaz Kutuk Aksi Teror dan Penganiayaan Terhadap Ulama

Namun aksinya dilihat oleh salah seorang santri kemudian dilaporkan kepada pengurus pondok. Orang tersebut akhirnya diamankan di kantor pesantren. Setelah ditelusuri, akhirnya diketahui bahwa orang tersebut mengalami gangguan jiwa.

“Beberapa santri kemudian mencari informasi terkait orang itu lalu diketahui bahwa ini masih orang tasik juga gak jauh dari Paseh. Setelah itu anak dari orang ini datang dan mengaku bahwa memang ayahnya mengalami gangguan jiwa,” ungkap Azmi.

Ditemukan tanda X warna merah di lingkungan pesantren

Tanda X warna merah ini pertama kali ditemukan santri pada Rabu (7/2/2018) malam. Tanda ini ditemukan di empat titik berbeda diantaranya di tembok dekat gerbang masuk pesantren, dua tanda di bangunan pesantren, dan di tembok bawah jendela rumah salah satu pengasuh pondok.

Sayangnya, tidak ada satu pun santri maupun warga yang melihat pelaku pencoretan tanda X merah ini.

“Sekarang sudah dihapus semua, ditimpa dengan cat lagi,” kata Azmi.

Fenomena orang dengan gangguan jiwa yang menyerang para ulama di beberapa daerah di Jawa Barat telah menjadi buah bibir masyarakat. Seperti diketahui, beberapa ulama dan tokoh aktivis Islam telah menjadi korban penyerangan oleh orang yang disebut mengalami gangguan jiwa ini.

Ponpes Sulalatul Huda Tasikmalaya Ditandai X dan Didatangi Tamu Misterius

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Pondok Pesantren Sulalatul Huda Paseh, Kota Tasikmalaya dalam sepekan ini kedatangan tiga orang asing dengan gelagat mencurigakan dan diduga orang gila. Ketika ditanya beberapa pengurus pesantren, tamu tersebut menjawab dengan jawaban melantur.

Pimpinan Ponpes Sulalatul Huda KH Aminudin Bustomi membenarkan kejadian tersebut dan pihaknya telah melaporkan ke pihak kepolisian.

“Semenjak malam ahad, kemudian Senin malam ada yang datang juga, mereka datang diluar jam tamu. Tapi dari beberapa narasi dan pembicaraan memang banyak kejanggalan. Ketika ditanya darimana jawabannya tidak karuan dan tidak jelas,” kata KH Aminudin Bustomi yang ditemui wartawan pada Rabu (8/2/2018) malam ketika sedang berpatroli bersama para santri.

Bahkan, kata pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris MUI Kota Tasikmalaya ini mengatakan, pihaknya menemukan tanda X berwarna merah di empat titik berbeda di sekitar pesantren termasuk di jendela rumah salah satu pengasuh pondok.

“Entah apa maksudnya, tapi masyaratkat saat itu juga langsung menghapusnya,” tuturnya.

Kapolsek Cihideung Kompol Setiyana membenarkan adanya laporan dari masyarkat terkait adanya orang yang mencurigkan di areal Ponpes Sulalatul Huda.

“Dan sampai saat ini hasil pengumpulan bahan keterangan memang belum mengarah kepada pelaku karena memang saksi yang minim pada saat pelaporan,” kata Kompol Setiyana sebagaimana dilansir radartasikmalaya.com

Hingga saat ini kondisi areal pesantren masih kondusif. Puluhan santri pun berjaga-jaga secara bergantian hingga subuh.

Ustadz Farid Okbah: Umat Islam Harus Punya Lembaga Riset

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Yayasan Pesantren Al Islam Bekasi, Ustadz Farid Ahmad Okbah mendorong umat Islam untuk mempunyai lembaga riset sendiri. Hal ini dinilai penting untuk memetakan kekuatan umat menyongsong kepemimpinan nasional pada tahun-tahun mendatang.

“Karena dalam demokrasi itu ada lima unsur kalau ingin menang. Yang pertama adalah lembaga riset untuk memetakan semua keadaan harus ada lembaga riset. Kedua adanya LSM, ketiga media, keempat partai, dan yang kelima logistik,” papar Ustadz Farid dalam Seminar Kepemimpinan Islam di Hotel Sofyan Betawi, Cikini Jakarta Pusat, Selasa (6/2/2018).

Ustadz Farid memaparkan, dalam sebuah negara demokrasi kekuatan itu ada empat, yaitu: kekuatan umat, kekuatan ulama, kekuatan organisasi, dan kekuatan kekuasan. Akan tetapi, lanjutnya, kekuasaan tidak akan terwujud tanpa adanya partai.

“Nah, partai butuh semua kekuatan ini. Karena kita tidak kuat di tiga hal ini maka dimainkan oleh partai-partai non-islam,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, kekuatan itu tidak akan terwujud tanpa adanya lembaga riset. Oleh sebab itu, umat Islam harus memiliki lembaga riset sendiri untuk memetakan keadaan

“Peluang terdekat ini adalah tahun 2018-2019 kita kelola dengan baik, kita uji coba lah disini, tapi di 2024 kita harus menang. Jangan sampai meleset,” tegasnya.

Ustadz Farid Okbah Apresiasi Seminar Kepemimpinan Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Direktur Islamic Centre Al Islam Bekasi, Ustadz Farid Ahmad Okbah mengapresiasi acara Seminar Kepemimpinan Islam yang diinisiasi oleh Jamaah Ansharusy Syariah pada Selasa (6/2/2018) di Hotel Sofyan Betawi, Jakarta Pusat.

“Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah bahwa panitia telah berhasil menghadirkan banyak tokoh-tokoh nasional, akademisi dan merancang bersama bagaimana umat Islam ke depan terutama dari sisi kepemimpinan politik,” katanya kepada wartawan di Hotel Sofyan Betawi, Cikini Jakarta Pusat, Selasa (6/2/2018).

Ustadz Farid mengatakan, kegiatan itu penting dilaksanakan untuk menentukan langkah dan membimbing umat Islam dalam menjalani tahun-tahun politik pada 2018 dan 2019.

“Alhamdulillah dari pemaparan para pemateri sekaligus tanggapan dari peserta, luar biasa. Mereka membuat kesepakatan-kesepakatan ke depan agar umat Islam berperan secara maksimal di dalam memenangkan kepemimpinan umat Islam di 2019,” paparnya.

Ia menilai, perpolitikan umat Islam saat ini masih bergantung pada dominasi asing dan aseng. Oleh sebab itu umat Islam harus berani keluar dari dominasi tersebut dan membuat langkah-langkah mandiri dengan cara memaksimalkan segala potensi yang dimiliki.

“Karena itu peserta seminar bersepakat untuk membuat semacam panduan buat umat Islam dalam membuat langkah-langkah ataupun keputusan-keputusan yang terbaik bagi kepemimpinan umat Islam bersama,” paparnya.