Kebatilan Tidak Akan Hilang Selama Kebenaran Tidak Dilontarkan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kepemimpinan adalah pertarungan abadi antara kebenaran dan kebatilan. Demikian dikatakan Ketua Majelis Syariah Jamaah Ansharusy Syariah Ustadz Fuad Al Hazimi dalam Seminar Kepemimpinan Islam di Hotel Sofyan Betawi Jakarta, Selasa (6/2/2018).

Ia mengutip perkataan Imam Ghazali dalam kitab Al Iqtishod fil I’tiqod yang mengatakan, agama dan kekuasaan ibarat dua saudara kembar. Agama adalah landasannya sedangkan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak punya dasar pondasi pasti akan rusak dan sesuatu yang tidak dijaga pasti akan hilang.

“Oleh karena itu masalah kepemimpinan ini sangat penting untuk diberikan landasan dan juga dijaga. Sejarah mencatat bagaimana kepemimpinan selalu menjadi satu hal yang diperebutkan oleh yang haq dan yang bathil,” papar Ustadz Fuad.

Ustadz Fuad melanjutkan, Al Qur’an dalam surat Al Israa ayat 81 menyebutkan, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”.

Ia mengutip penjelasan Syeikh Abu Qatadah Al Filistini mengenai ayat diatas, bahwa kebatilan tidak mempunyai eksistensi seperti halnya kegelapan.

“Ketika haq muncul maka bathil akan sirna. Gelap itu tidak punya eksistensi, maka ketika cahaya muncul gelap akan hilang,” terangnya.

Akan tetapi, untuk melenyapkan kebatilan membutuhkan kekuatan. Ia mengutip surat Al Anbiya ayat 18, “Bahkan Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap.“

“Inilah sifat dasar al haq, yaitu selalu harus dilontarkan. Maka kekuatan itu adalah landasan dari al Ahaq. Oleh karena itu alhaq tidak akan muncul kalau tidak yang melontarkannya. Ketika alhaq dilontarkan albathil akan hancur,” paparnya.

Oleh karena itu, kata dia, Jamaah Ansharusyariah berharap seminar ini bisa melahirkan sebuah konsep tentang teknis “melontarkan alhaq kepada kebatilan’ dengan berbagai konsep baik dengan gerakan Islam yang di dalam parlemen maupun yang diluar.

“Kemudian menghasilkan sebuah sinergi yang kuat sehingga potensi umat Islam tidak habis hanya untuk berbantah-bantahan,” tutupnya.

FUI Desak Bupati Bima Hentikan Pembangunan Pura Ilegal di Kecamatan Tambora

BIMA (Jurnalislam.com) – Forum Umat Islam (FUI) Bima pada Senin (5/2/2018) sowan ke Pemkab Bima untuk menyampaikan keresahan masyarakat tentang pembangunan beberapa Pura di Kecamatan Tamora. Pertemuan berlangsung di kantor Bupati Bima, Asakota, Kota Bima.

Ketua FUI Bima, Ustadz Asikin menjelaskan, persoalan Pura ini adalah persoalan yang paling besar bagi umat Islam di Kabupaten Bima karena di bangun di wilayah yang mayoritas penduduknya muslim.

“Pembangunannya juga adalah ilegal karena tanpa ijin yang jelas. Oleh karena itu kami menganggap persoalan ini harus di tanggapi dengan serius dan tuntas,” kata Ustadz Asikin di Kantor Bupati Bima, Senin (5/2/2018).

Ustadz Asikin mendesak pemerintah Kabupaten Bima agar menjalankan aturan terkait peraturan perundang-undangan tentang izin mendirikan tempat ibadah tanpa memandang bulu dan unsur lain. Karena Pura-pura yang ada di Kecamatan Tambora dinilai cacat hukum terutama pada izin pembangunannya.

“Kalau keputusan dan aturan yang berlaku itu dijalankan maka tidak akan ada aksi protes kami seperti ini. Kami juga akan tetap akan melakukan protes dan aksi seperti ini kalau persoalan ini dibiarkan atau tidak di selesaikan dengan peraturan yang ditetapkan,” tegasnya.

Sementara itu Bupati Bima Hj Indah Damayanti Putri mengatakan dalam waktu dekat akan mengadakan rapat bersama antara pemerintah daerah dengan Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKUB).

“Kami juga akan melibatkan FUI Bima untuk menyelesaikan permasalahan Pura ini, baik yang sudah ada maupun Pura baru yang ingin dibangun,” kata Indah.

Selain itu, Indah juga akan menginstruksikan kepada Camat Kecamatan Tambora agar berkoordinasi dengan Kapolsek dan Danramil setempat untuk memastikan Pura-pura tersebut tidak beroperasi sebelum adanya ijin.

“Terutama berkaitan dengan rumah ibadah,” pungkasnya.

Reporter: Rusdin

Bamsoet Terima Masukan MUI Terkait LGBT, KDRT dan Penistaan Agama

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengapresiasi prakarsa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendapatkan informasi mengenai pembahasan RUU KUHP sekaligus penyampaian aspirasi dari MUI dan ormas-ormas islam.

“RUU KUHP sangat penting bagi penyelenggaraan negara hukum berdasarkan Pancasila. Karena UU KUHP yang berlaku selama ini adalah peninggalan hukum kolonial Belanda, sebagian besar materinya tidak sesuai dengan kehidupan kita,” ujar Bamsoet dalam pertemuan dengan Pengurus MUI di Gedung Pusat MUI (06/02/18).

Seperti diketahui, UU KUHP yang baru sudah bertahun-tahun dinantikan oleh masyarakat, tetapi baru DPR periode ini yang sungguh-sungguh merealisasikan keinginan tersebut.

Bamsoet menjelaskan, ada beberapa isu yang menjadi perhatian, khususnya dari kalangan umat Islam, antara lain LGBT, Perzinahan, Penistaan Agama, dan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT).

“Terkait LGBT tertuang dalam tindak pidana perbuatan cabul sesama jenis yang diatur dalam Pasal 495 RUU KUHP. Ancaman hukumannya lebih berat dari pengaturan dalam KUHP, dari paling lama 5 tahun menjadi 9 tahun. Semua Fraksi di DPR RI menyetujuinya,” kata Bamsoet.

“Jadi, tidak benar sama sekali kalau ada tuduhan DPR mendukung LGBT. Saya akan mundur sebagai Ketua DPR jika hal itu terjadi. Karena bertentangan dengan ajaran Agama dan moral bangsa.” kata Bamsoet lebih lanjut.

Begitupun dengan Penistaan Agama, Perzinahan dan KDRT, menurut Bamsoet hukumannya sudah terangkum dengan jelas dalam RUU KUHP.

“Saya pastikan RUU KUHP mencerminkan rasa keadilan bagi masyarakat. Kita tidak memberikan ruang bagi LGBT, Perzinahan, Penistaan Agama, maupun KDRT. Bangsa kita adalah bangsa yang berbudaya dan bermoral. Kita punya nilai-nilai luhur dari ajaran budaya dan agama. Kita bukan bangsa barbar yang tak beradab,” jelas Bamsoet.

Bamsoet juga berjanji kepada jajaran pengurus MUI, akan mendorong kepada Menteri Agama, Menteri Keuangan dan pihak terkait agar MUI bisa menjadi Satuan Kerja (Satker) tersendiri. “Saya akan meminta kepada Komisi VIII DPR untuk memperjuangkan MUI bisa menjadi Satker sendiri. Karena kita ketahui MUI sangat banyak mengurusi permasalahan umat, sementara anggaran yang didapat jauh dari mencukupi,” tambah Bamsoet.

Hadir dalam acara ini, antara lain Ketua Umum MUI K.H. Ma’ruf Amin, Wakil Ketua Umum MUI Prof. Dr. Yunhar Ilyas, Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi, Sekjen MUI Dr. Anwar Abbas. Sedangkan Bamsoet datang didampingi Anggota Komisi III DPR RI Arsul Sani dan Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Noor Achmad. (*)

Jamaah Ansharusy Syariah Dorong Adanya Sinergitas Gerakan Islam Intra dan Ekstra-Parlemen

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Majelis Syariah Jamaah Ansharusy Syariah, Ustadz Fuad Al Hazimi mengatakan, dinamika perpolitikan Indonesia saat ini memaksa umat Islam untuk terlibat secara aktif. Umat Islam harus memilih seorang pemimpin.

Namun, kata dia, untuk melahirkan sebuah konsep kepemimpinan Islam di Indonesia perlu adanya sinergitas antara gerakan Islam yang berada di dalam (intra) dan di luar (ekstra) parlemen.

“Dua gerakan yang secara pemikiran ideologi maupun langkah seakan-akan dua kutub yang tidak bisa disatukan ini harus bisa menyatu dengan berbagai perbedaan yang ada. Saya yakin ini akan menjadi sebuah kekuatan yang besar,” papar Ustadz Fuad dalam Seminar Kepemimpinan Islam di Hotel Sofyan Betawi Jakarta, Selasa (6/2/2018).

Ustadz Fuad menjelaskan, umat Islam harus mengakui peran serta gerakan Islam di dalam maupun di luar parlemen karena keduanya telah sama-sama berjuang untuk kemaslahatan kaum muslimin di Indonesia.

Ia mencontohkan, RUU Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) merupakan salah satu hasil perjuangan gerakan-gerakan Islam intra-parlemen yang hasilnya dapat dimanfaatkan oleh gerakan Islam di luar parlemen.

“Bahkan gerakan 212 yang merupakan gerakan di luar parlemen pun juga karena dukungan dari dalam parlemen baik moral maupun material itu menjadi gerakan yang massif,” paparnya.

Ustad Fuad berharap Seminar Kepemimpinan Islam ini dapat menghasilkan sebuah formula untuk mensinergikan gerakan-gerakan Islam intra parlemen dan ekstra parlemen.

“Karena Jamaah Ansharusy Syariah sendiri adalah sebuah gerakan harakah Islam yang memilih untuk tidak berada di dalam parlemen yang mengusung prinsip dakwah wal jihad itu bisa juga bersinergi dengan ormas maupun gerakan yang berada di dalam parlemen,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ustadz Fuad menjelaskan, kepemimpinan adalah sebuah pertarungan abadi antara haq dan bathil. Oleh sebab itu, masalah kepemimpinan ini sangat penting untuk diberikan landasan dan juga diberikan penjagaan.

Jamaah Ansharusy Syariah Sukses Menggelar Seminar Kepemimpinan Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Jamaah Ansharusy Syariah sukses menggelar Seminar Kepemimipinan Islam bertajuk “Kepemimpinan Islam dalam Dinamika Politik Indonesia” di Hotel Sofyan Betawi, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (6/2/2018).

Seminar menghadirkan tiga pembicara diantaranya, DR. Muinudinillah Basri, MA, Prof. Dr. Asep Warlan Yusuf, dan Dr. Abdurrahman Anton Minardi.

Ketua Panitia Pelaksana, Nawan Yulianto mengatakan, kegiatan tersebut didasari oleh kesadaran akan urgensi pengkajian konsep kepemimpinan Islam secara ilmiah yang dituangkan dalam realita kehiupan berbangsa di Indonesia.

“Juga untuk mensinergikan antara konsep-konsep kepemimpinan Islam yang begitu ideal itu dengan realita masyarakat Indonesia,” katanya kepada wartawan, Selasa (6/2/2018).

Nawan berharap, seminar ini dapat menjadi wadah para tokoh Islam untuk bertukar pikiran dalam mencari solusi yang tepat bagi kepemimpinan Islam di Indonesia.

“Harapannya, terjadi kesepahaman dan kesepakatan diantara para tokoh mengenai konsep-konsep kepemimpinan Islam yang bisa diterapkan di Indonesia, “ ujar Nawan.

Sementara itu, Amir Jamaah Ansharusy Syariah Ustadz Muhammad Achwan mengatakan, kegiatan ini adalah salah satu khidmat Jamaah Ansharusy Syariah untuk umat dengan menyampaikan konsep kepemimpinan yang dikehendaki oleh umat Islam Indonesia.

“Mudah-mudahan dengan acara ini kaum muslimin akan mendapat arahan dan panduan, dan mudah-mudahan pemimpin kaum muslimin di Indonesia ini bisa dimunculkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memimpin dan mengarahkan umat dalam menjalankan syariath Allah ta’ala,” papar Ustadz Muhammad Achwan.

“Semoga ini bisa menjadi amal shaleh kami dan sebagai kontribusi kami untuk bangsa ini, karena kita adalah bagian dari umat yang besar ini,” tuturnya.

Seminar dihadiri oleh sejumlah perwakilan ormas Islam, ulama, serta negarawan, dll. Dalam seminar ini disepakati, perlunya umat Islam mempunyai panduan praktis terkait pemilihan pemimpin yang sesuai syariat Islam.

Panduan tersebut akan disusun oleh para ulama dan tokoh yang nantinya akan disebarluaskan sebagai panduan umat sebagai dasar untuk menentukan kepemimpinan nasional.

Ustadz Felix Siauw: Di Negeri Ini Banyak Orang Waras Lebih Gila dari Orang Gila

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Dai Ustadz Felix Siauw mengomentari fenomena ‘orang gila’ yang menyerang para ulama akhir-akhir ini. Ia mengaku heran, kenapa orang-orang gila ini hanya menyerang para ulama.

“Yang gila betulan, dulu dilempari batu, sekarang orang gila bisa bunuh orang. Entah benar-benar gila atau menggila, tapi yang dipilih kok ya ulama, yang saat ini dikriminalisasi,” tulisnya dalam akun facebook pribadinya, Ahad (4/2/2018).

Ia juga meragukan, para pelaku penganiayan itu benar-benar gila atau hanya pura-pura gila untuk melepakan diri dari jerat hukum.

“Kalau sudah gila, ya sudah, tak bisa lagi dihukum, tak bisa lagi diadili, walau sudah separah apapun. Namanya orang gila, ya tak bisa lagi dinasihati dan diingatkan,” katanya.

Namun, lanjutnya, yang lebih berbahaya dari orang-orang gila itu ialah banyaknya orang-orang waras di negeri ini akan tetapi kelakuannya lebih gila dari orang gila.

“Mereka nggilani, sebab gila harta dan kekuasaan, dan siap melakukan apa saja demi itu semua,” tuturnya.

“Bila yang brnar-benar gila itu orang biasa, masihlah bisa ditindak. Bila penindak dan penguasa yang sudah gila dan nggilani? Inilah masa yang harus banyan kesabaran,” tandasnya.

Ustadz Felix juga mendoakan para ulama agar senantiasa dijaga oleh Allah Subahanhu Wataala dari orang-orang gila dan orang waras yang kelakuannya seperti orang gila.

“Doakan para ulama dan habaib, semoga mereka dijaga dari orang-orang gila dan nggilani, dari orang-orang yang gila kekuasaan dan harta, dari tipudaya mereka semua,” pungkasnya.

Parmusi Khitan Anak Pendeta di Pulau Rote NTT

ROTE NDAO (Jurnalislam.com) – Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) menggelar khitanan massal di Masjid Al Ikhwan Kota Ba’a Kelurahan Namodale, Kecamatan Lobalain, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Ahad (4/2/2018).

Ada hal menarik dari kegiatan sosial ini. Dari 100 peserta anak-anak yang dikhitan, 15 orang dari kalangan non-muslim. Dua diantaranya anak dari seorang pendeta.

Adalah Pendeta Johan Ballo, pimpinan Gereja GIMT Bethania Ba’a yang ikutsertakan dua anak laki-laki di khitanan Parmusi. Pendeta Johan mengaku ia ikutsertakan anaknya karena alasan kesehatan.

“Saya ikutsertakan anak karena ingin anak saya sehat. Biar tidak sakit-sakitan,” ujar Pendeta Johan di sela-sela acara.

Menurut Pendeta Johan, dalam ajaran Kristen tidak ada perintah untuk dikhitan bagi laki-laki. “Kalau dalam Islam kan wajib dikhitan. Kalau dalam ajaran Protestan tidak ada soal khitan,” ungkap Pendeta Johan.

Ketua Umum Parmusi, H. Usamah Hisyam mengatakan keikutsertaan anak-anak dari kalangan non-muslim menandakan jika Parmusi tidak memiliki persoalan terkait toleransi dengan umat beragama.

“Parmusi berupaya menjalin hubungan dengan umat beragama. Khitanan massal ini satu bukti program Parmusi diterima umat beragama,” jelas Usamah dalam sambutannya.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Rote Ndao, Ustadz Ahmad Khosso menyambut baik khitanan massal yang diselenggarakan Parmusi. Menurut dia, selama ini amat jarang kegiatan sosial menyasar kalangan umat Islam di Pulau Rote.

“Daerah kami sangat jarang menjadi sasaran kegiatan sosial. Khitanan massal ini sangat bermanfaat bagi Muslim di Rote. Apalagi mengingat biaya khitan itu lumayan mahal bagi ukuran masyarakat Rote,” kata Ustadz Ahmad Khosso.

Pada kesempatan ini, panitia memberikan kain sarung, buku Iqra, al-Quran, baju Koko, uang santunan untuk peserta khitan dan dai-dai Parmusi di Pulau Rote. Selain khitanan massal, Parmusi ditempat yang sama juga menggelar pembinaan da’i. Acara ini berlangsung 4-5 Februari 2018 dan diikuti 50 da’i Pulau Rote.**

Siaran Pers

Masih di Bandung, Remaja Masjid Persis Ditodong Pisau

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Seorang pemuda tak dikenal tiba-tiba menodongkan pisau ke arah para remaja masjid, di Masjid Jamaah Persis No 13 At Tawakal 1 Jalan karasak lama No 66A Astananyar Kota Bandung.

Peristiwa tersebut terjadi Ahad malam (4/02/2018) pukul 21.40 WIB menimpa 4 orang remaja putra putri Masjid (2 laki laki 2 perempuan). Mereka remaja terakhir yang belum pulang usai melakukan rapat dilantai 2 masjid.

Tiba tiba seseorang tidak dikenal turun dari tangga masjid lantai 3 sambil menodongkan pisau.

“Kamu ustadz bukan, Kamu ustadz bukan? Saya benci sama kamu,” bentak pelaku.

Kondisi masjid lantai 3 masjid memang sedang dibangun sehingga kondisinya gelap. Sontak saja para remaja berlarian menyelamatkan diri dan melaporkan ke warga. Warga pun berdatangan dengan membawa polisi untuk mengepung masjid. Pintu masjid sendiri dikunci dari dalam oleh pelaku.

barang bukti pisau dapur

Akhirnya warga dan polisi memutar ke belakang dan berhasil masuk ke mesjid, kemudian mencari pelaku hingga ke lantai 3 yang keadaan gelap.

Pelaku akhirnya bisa ditangkap tanpa perlawanan dan saat digeledah ditemukan pisau dapur yang disembunyikan di pungung.

Saat ditanya domisili rumah, pelaku masih ngawur kadang menjawab Baleendah, Cimahi, Cijerah hingga Pacet. Saat diperiksa Pelaku tidak memiliki KTP dan ditemukan kaleng lem. Motif sementara, pelaku merasa terganggu karena ada kegiatan remaja masjid.

Menurut Ustadz Suwanto ketua Jamaah Masjid Attawakkal sekaligus Bidgar Dakwah PC Persis Astananyar, pelaku sempat terlihat di salah satu ruangan lantai 3 oleh remaja masjid setelah ashar. Namun saat dicek lagi oleh ustadz pelaku menghilang. Hingga akhirnya muncul lagi saat malam.

Saat ini pelaku sudah dimintai keterangan lebih lanjut di Polsek Astananyar Bandung. Warga dihimbau untuk lebih waspada terhadap isu isu yang sedang digelontorkan, serta lebih berhati-hati terhadap orang dengan senjata tajam (sajam).

Sumber: Persis.or.id

ACT Berangkatkan Kapal Kemanusiaan ke Asmat dari Merauke

MERAUKE (Jurnalislam.com) – Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) memberangkatkan Kapal Kemanusiaan untuk Kejadian Luar Biasa (KLB) Gizi Buruk dan Campak di Kabupaten Asmat, Papua. Kapal yang mengangkut 100 ton beras itu dilepas dari Pelabuhan Pintu Air Merauke.

“Ini keprihatinan luar biasa, sebesar apapun bantuan kita tentu sebatas meringankan. Beban penderitaan saudara kita jauh lebih luar biasa,” ujar Presiden ACT Ahyudin, kepada wartawan Islamic News Agency (INA), kantor berita Islam yang dinisiasi Jurnalis Islam Bersatu (JITU), pada Sabtu (3/2/2018).

Pantauan wartawan Islamic News Agency di lokasi, per hari ini aktivitas pelabuhan sibuk dengan pengangkutan beras ke kapal. Beras didatangkan dari gudang Badan Urusan Logistik (Bulog) Regional Merauke. Bahan pokok itu merupakan hasil olahan tangan yang ditanam langsung para petani Merauke.

Selain beras, ACT juga mengirim paket bantuan berupa biskuit bayi, susu cair, vitamin (asam folat A, kalsium, zat besi), puluhan tol air mineral dan pakaian bayi serta dewasa. Ahyudin mengatakan, paket itu rekomendasi Satgas Kesehatan di Asmat.

“Jadikan peristiwa KLB Asmat ini jadi momentum kebersamaan sesama anak bangsa untuk saling menolong,” imbuh Ahyudin.

Sementara itu, Bulog menegaskan tak ada kendala selama proses distribusi ke Asmat. Hanya satu rintangannya, cuaca. “Cuaca kurang bersahabat,” kata Kepala Bulog Sub Divre Mereuke, Yudi Wijaya.

Ia memaparkan, kondisi lautan sekarang ini sedang rawan. Ombak sedang tinggi-tingginya. Pemaparan Tim ACT, ombak bisa mencapai 6 meter. ” Cuaca beberapa hari ke depan kita belum tahu,” imbuhnya.

Pelepasan kapal dilakukan secara simbolik dengan prosesi gunting pita oleh Presiden ACT Ahyudin didampingi Kepala Bulog Sub Divre Mereuke, Yudi Wijaya, Kapolsek Kawasan Pelabuhan Laut Merauke AKP Horas Nababan, dan Anggota DPRD Papua Kusmanto.

Reporter: Suandri Ansah | Islamic News Agency

Pasca Wafatnya Ustadz Prawoto, PP Persis Rilis Imbauan Kewaspadaan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wafatnya Komandan Brigade Persis, Ustadz Rahmat Prawoto yang disebabkan oleh penganiayaan seorang yang disebut mengalami gangguan kepribadian masih menyisakan keraguan bagi Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis).
Ketua Umum Persis KH Aceng Zakaria mengatakan, keraguan tersebut membuka peluang munculnya berbagai spekulasi dan analisis bahkan rumor dan provokasi yang bisa membahayakan terhadap kerukunan, kedamaian, dan ketentraman kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara.
Oleh karena itu, PP Persis mengeluarkan imbauan kewaspadaan kepada seluruh seluruh pimpinan dan anggota Brigade Persatuan Islam agar terus memperkuat soliditas, kedisiplinan, kewaspadaan, dan meningkatkan kemampuan pertahanan diri serta kecakapan pengawalan terhadap para ulama, asatidz, dan aset Jamiyah dimanapun berada sehingga peristiwa serupa tidak lagi terjadi;
“Seluruh Jajaran Jamiyah hendaknya merapatkan barisan dengan melakukan konsolidasi internal serta menjalin komunikasi, koordinasi, dan bekerja sama dengan berbagai elemen umat dan ormas Islam, begitu juga dengan aparat penegak hukum dan institusi terkait dari level yang paling bawah hingga yang paling atas sebagai antisipasi terhadap berbagai hal yang tidak diinginkan,” kata KH Aceng Zakarya dalam pernyataan tertulis, Ahad (4/2/2018).
PP Persis juga mengimbau seluruh jajaran jamiyah untuk menahan diri dari menyebar berita yang bersifat
dugaan, spekulasi, hoax dan sebagainya yang bisa menimbulkan fitnah dan kecurigaan kepada pribadi maupun kelompok tertentu tanpa dasar fakta dan kebenaran.
Siaran Pers