Kemenag Tetapkan Biaya Referensi Umrah Rp 20 Juta

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kementerian Agama telah menetapkan besaran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Umrah Referensi (BPIU Referensi) sebesar Rp 20 juta. Penetapan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Agama No 221 tahun 2018 tentang BPIU Referensi.

“KMA BPIU Referensi sudah terbit per 13 April 2018. Kini sudah ada BPIU Referensi sebesar Rp20juta,” terang Direktur Umrah dan Haji Khusus, Arfi Hatim melalui rilis yang diterima Jurnalislam.com Rabu (18/4/2018).

Menurut Arfi, BPIU Referensi akan menjadi pedoman Kementerian Agama dalam melakukan pengawasan dan pengendalian kepada Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU). Pengawasan yang dilakukan utamanya terkait layanan yang diberikan kepada jemaah umrah yang harus memenuhi standar pelayanan minimal.

“BPIU Refenresi menjadi pedoman pengawasan, klarifikasi, sekaligus investigasi terkait harga paket umrah yang ditawarkan PPIU,” ujarnya.

Bagi PPIU, BPIU Referensi juga bisa digunakan sebagai acuan dalam menetapkan harga paket sesuai standar pelayanan minimal. Sebab, PPIU dalam menetapkan biaya umrah memang harus sesuai standar pelayanan minimal.

“Bagi masyarakat, BPIU Referensi berguna sebagai acuan dalam menimbang harga paket yang ditawarkan PPIU,” tandasnya.

Biaya referensi ini, lanjut Arfi, dihitung berdasarkan standar pelayanan minimal jemaah umrah di Tanah Air, dalam perjalanan, selama di Arab Saudi. Untuk transportasi, dihitung dari Bandara Soekarno Hatta ke Arab Saudi dan dari Arab Saudi ke Bandara Soekarno Hatta.

“BPIU Referensi bukan biaya minimal. Jika ada PPIU yang menetapkan BPIU di bawah besaran BPIU Referensi, maka dia wajib melaporkan secara tertulis kepada Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah,” jelasnya.

“Laporan dilakukan sebelum penjualan tiket umrah kepada jemaah dengan memberikan penjelasan rinci terkait transportasi, akomodari, bimbingan, kesehatan, perlindungan, dan administrasi,” lanjutnya.

Arfi menegaskan, terbitnya KMA BPIU Referensi ini akan menjadi pedoman dasar Kemenag dalam melakukan pengawasan kepada PPIU. BPIU Referensi ini juga akan diintegrasikan dengan Sistem Informasi Pengawasan Terpadu Umrah dan Haji Khusus (Sipatuh) yang sedang dikembangkan Kemenag.

“Kami minta kepada seluruh Kanwil Kemenag Provinsi dan Kankemenag Kabupaten/Kota untuk melakukan pengawasan yang ketat terhadap harga dan paket yang ditawarkan PPIU dengan mempedomani KMA ini,” tandasnya.

Reporter: Gio

Terindikasi Syiah, Dandim 0824 Jember Kembalikan Buku ’57 Khutbah Jumat’

JEMBER (Jurnalislam.com) – Komandan Kodim 0824 Jember, Letkol Inf Arif Munawar menyerahkan 2.961 eksemplar buku berjudul “57 Khutbah Jumat” kepada penyusunnya, Senin (16/4/2018). Sebelumnya, buku itu diamankan di Markas Kodim 0824 kemudian diambil langsung oleh penyusunnya Ali Assegaf.

Tindakan itu diambil berdasarkan hasil kajian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jember yang menyatakan buku tersebut terindikasi paham Syiah.

“Mulai saat ini juga, secara pribadi ataupun kedinasan Kodim 0824 Jember tidak bertanggung jawab apapun yang berkaitan dengan buku tersebut,” kata Arif kepada wartawan, Senin (16/4/2018).

Arif juga mengimbau penyusun untuk tidak lagi menyebarkanluaskan buku tersebut. “Sudah jelas saya sampaikan tadi kepada pemiliknya hendaknya buku-buku ini jangan disebarluaskan karena ada beberapa pihak yang mensinyalir adanya ketidak sesuai isi buku tersebut terhadap umat Islam di Kabupaten Jember,” tuturnya.

Sebelumnya, Kodim 0824 turut serta mendistribusikan ribuan buku 57 Khutbah Jumat kepada masyarakat dan jajaran dibawahnya. Namun setelah melalui kajian MUI Jember, selain isi buku yang bermuatan paham Syiah, buku itu juga belum mempunyai izin edar sebagaimana mestinya akhirnya Kodim mengembalikan buku tersebut.

Kontributor: Elly

Disowani Sukmawati, PWNU Jatim Cabut Laporan

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Sukmawati Soekarnoputri mendatangi kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur pada Rabu (18/4/2018). Kedatangannya untuk silaturahim dengan para kiai sepuh di Jatim sekaligus menyampaikan permintaan maaf secara langsung atas puisi Ibu Indonesia kepada PWNU yang merupakan salah satu pelapor Sukmawati.

Ketua PWNU Jatim, Mutawakkil Alallah mengaku, para kiai sepuh di Jatim menerima dengan baik silaturahim Sukma, dan memaafkan perbuatannya. Para kiai sepuh di Jatim juga mengingatkan Sukmawati untuk selalu memperbaiki kehidupannya.

Para kiai sepuh di Jatim juga meminta Sukma untuk tidak mengulangi hal-hal yang memancing kegaduhan.

“Beliau sudah berkomitmen, oleh karenanya kami sesuai perintah kiai memaafkan kesalahan dan kehilafan yang dilakukan Ibu Sukmawati dan menimbulkan kontroversi itu,” kata Mutawakkil saat menggelar konferensi pers di Kantor PWNU Jatim, Jalan Masjid Al Akbar Timur No. 9, Gayungan, Surabaya, Rabu (18/4/2018).

Setelah silaturahim itu, PWNU menegaskan akan segera mencabut laporan mereka dari Polda.

“Tentunya nanti laporan ke Polda Jatim akan dicabut. Hari ini juga akan dicabut,” ujarnya.

Mutawakkil menyatakan, para kiai sepuh di Jatim juga mengimbau kepara warga Nahdliyin untuk mengikuyi langkah-lakah tersebut. Artinya, Mutawakkil neserta kiyai sepuh mengimbau warga Nahdliyin untuk bisa memaafkan Sukmawati. Apalagi, menurutnya keputusan tersebut referensinya adalah ajaran Rasulullah SAW.

Sementara itu, Sukmawati yang hadir dalam kesempatan tersebut tidak memberikan banyak komentar. Sukmawati hanya menyatakan akan menuruti perintah para kiai sepuh, yang diucapkan dalam bahasa jawa. “Sendiko dawuh (iya bersedia menuruti kiyai sepuh),” kata Sukma.

Sebelumnya, PWNU Jawa Timur memerintahkan badan otonom yaitu Anshor untuk membuat laporan ke Polda Jatim terkait puisi yang dibacakan Sukmawati Soekarnoputri dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018. PWNU mengadukan Sukmawati lantaran puisi yang dibacakannya tersebut dianggap tidak menghormati agama Islam.

Sindir Pelapor Amien Rais, Waketum PAN: ‘Ada yang Salah Dengan Orang Itu’

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Hanafi Rais menanggapi pelaporan Amien Rais yang mendikotomikan partai Allah dan partai setan. Menurut Hanafi, pernyataan Ketua Dewan Kehormatan PAN itu disampaikan dalam konteks kegiatan keagamaan. Amien juga tidak menyebut partai-partai politik Indonesia sebagai golongan tersebut.

“Itu jadi salah pahamnya orang saja yang kemudian merasa tersinggung lantas marah-marah. Sama sekali kami tidak menyebut partai-partai politik yang ada di Indonesia dan maksudnya hizbullah (partai Allah) maupun hisbusyaiton (partai setan) itu bukan partai politik,” ujar Hanafi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (17/4/2018) sebagaimana dilansir Republika.

Hanafi meminta agar polemik atas pernyataan Amien tersebut tidak lagi diperpanjang. Ia mengingatkan Amien pun telah memberikan penjelasan mengenai makna partai Allah dan partai setan.

Kan juga sudah dijelaskan oleh Pak Amien waktu acara selesai. Jadi sebaiknya jangan dipelintir. Bagi siapapun yang merasa tersinggung ya alhamdulillah itu berarti masih ada iman. Daripada tersinggung dan marah, lebih baik berubah,” kata Hanafi.

Hanafi menyayangkan pernyataan Amien diprotes, bahkan diproses secara hukum. Menurut dia, pernyataan Amien tersebut disampaikan sebagai bagian dari ceramah keagamaan setelah mengikuti Gerakan Indonesia Shalat Subuh berjamaah di Masjid Baiturrahim, Mampang Prapatan, pada Jumat (13/4/2018).

“Salah yang nanggep dong. Itu nggak bikik gaduh kok. Orang itu ceramah agama masak orang nggak mau sih terima ceramah agama. Berarti ada yang salah dengan orang itu,” ujar Hanafi.

Amien resmi dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada Ahad (15/4/2018). Mantan ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) ini dilaporkan dengan tuduhan ujaran kebencian bermuatan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) serta penodaan agama atas ucapannya yang menyebut partai Allah dan partai setan.

Laporan itu dibuat oleh Ketua Cyber Indonesia Aulia Fahmi, yang tidak terima dengan istilah partai Islam dan partai setan yang digunakan Amien Rais. Pelapor menilai pernyataan Amien itu melawan hukum karena bernada provokasi dan berpotensi akan memecah belah bangsa Indonesia yang selama ini hidup rukun.

Menurut Aulia, istilah partai setan yang digunakan Amien Rais itu mengarah kepada partai-partai selain PAN, PKS, dan Gerindra. Dia menilai ucapan tersebut berpotensi memecah belah persatuan.

“Itu kami lihat ada indikasi ada dugaan bahwa dia berupaya memecah-belah persatuan bangsa,” kata dia.

MUI Akan Lakukan Standarisasi Dai

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan melakukan standarisasi terhadap para juru dakwah (dai). Dalam pelaksanaannya, MUI akan bekerjasama dengan beberapa pihak termasuk Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Kementerian Agama.

“Kita akan bikin standarisasi dai-dai yang direkomendasikan oleh MUI. Dan dai yang di media-media juga akan ada standarisasi. Maka kita kerjasama dengan KPI dengan Kementerian Agama,” kata Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Cholil Nafis di Jakarta, Selasa (17/04/2018) dilansir Kiblat.net

Menurutnya, standarisasi ini bertingkat pada dai internasional, nasional, provinsi, sampai pada kabupaten/kota. Cholil menjelaskan standar dai internasional bukan hanya dai yang mampu pergi ke luar negeri.

“Dai tersebut harus tahu gerakan-gerakan Islam internasional, bagaimana isu-isu keagamaan internasional, isu perjuangan internasional, harus paham. Kalau gak paham, mereka gak bisa direkomendasikan menjadi dai internasional,” paparnya.

Cholil menjelaskan, MUI akan melatih para trainer sebelum melaksanakan pelatihan dan uji kompetensi dai.

“Tentu akan dilakukan oleh MUI secara benjenjang. Karena MUI adalah lembaga besar tempat bernaungnya seluruh organisasi Islam,” tambah Cholil dalam pesan singkat kepada Jurnalislam.com, Rabu (18/4/2018).

Ia juga membantah jika standarisasi ini untuk melarang orang-orang yang ingin berdakwah. Menurutnya, meskipun ada standarisasi, pilihan dai yang diundang untuk ceramah tetap di tangan umat Islam.

“Kami gak melarang. Misalnya acara nasional tapi ngundangnya dari yang kelas kampung, kami gak masalah. Kami hanya memberikan rekomendasi pilihannya kepada umat,” terangnya.

Selain itu, Cholil juga mengatakan bahwa standarisasi ini berbeda dengan sertifikasi dai. Jika sertifikasi, kata dia, lebih condong kepada apakah dai ini boleh berdakwah atau tidak.

Peduli HAM, Pemuda Swedia Ini Berjalan Kaki ke Palestina

DUZCE (Jurnalislam.com) – Seorang aktivis HAM asal Swedia, Benjamin Ladra (25) yang melakukan aksi jalan kaki dari Swedia ke Palestina tiba di barat laut provinsi Duzce, Turki, pada Ahad (14/4/2018. Perjalanan yang akan menempuh jarak sejauh 5.000 km itu ia lakukan untuk meningkatkan kesadaran tentang pelanggaran hak asasi manusia di Palestina.

Ladraa telah melintasi Jerman, Austria, Slovenia, Kroasia, Serbia, dan Bulgaria, hingga mencapai Istanbul pekan lalu. Ladraa bertekad untuk melewati Suriah dan Lebanon demi sampai ke Palestina.

“Jika saya tidak bisa masuk ke Palestina, saya akan mencoba memberi tahu media,” kata dia dilansir dari Anadolu Agency.

Ladraa mengatakan bahwa dia sangat tersentuh saat berkunjung ke Palestina selama tiga minggu pada April tahun lalu, sehingga dia memutuskan untuk “memberi tahu dunia mengenai situasi di Palestina”.

“Saya terkejut dengan apa yang saya lihat di sana. Di sepanjang jalan, tentara membawa senapan mesin M-60. Saya ingin melakukan sesuatu untuk meningkatkan kesadaran tentang pelanggaran hak asasi manusia di Palestina,” ungkap Ladraa.

“Masalah Palestina bukanlah masalah agama. Masalah utamanya adalah hak asasi manusia. Bukan hanya warga Gaza, tetapi semua orang Palestina berada di bawah tekanan dan mereka semua menderita. Itulah mengapa saya berusaha menarik perhatian dunia terhadap penderitaan warga Palestina,” tambah dia.

Selama melakukan perjalanan hampir delapan bulan, Ladraa berusaha memberitahukan pada orang-orang soal pendudukan Palestina dan mengilhami lebih banyak orang untuk berkampanye demi perubahan. Ladraa memulai perjalanan 5.000 km dari Gothenburg, Swedia, pada 8 Agustus tahun lalu.

Dia menerbitkan foto-foto perjalanannya di akun Facebook dan Instagram pribadinya dengan tanda pagar #WalkToPalestine.

Ladraa diperkirakan akan tiba di Ankara pekan depan, dan akan menyelesaikan perjalanannya pada Juni atau Juli.

Konvoi Ke-22 dari Ghouta Timur Tiba di Al-Bab

SURIAH (Jurnalislam.com) – Konvoi ke 22 yang membawa penduduk dan pejuang oposisi dari Douma di Ghouta Timur telah tiba di Distrik Al Bab, Alepo pada Ahad (15/4/2018). Demikian dilaporkan koresponden World Bulletin di area tersebut.

Konvoi sebanyak delapan bus itu mengangkut 145 orang termasuk 55 anak-anak dan 42 wanita yang akan dibawa dari Al-Bab ke kamp pengungsian sementara di distrik Azaz.

Dengan konvoi tersebut, jumlah orang yang meninggalkan Ghouta Timur sejak awal evakuasi pada 22 Maret lalu menjadi 60 ribu jiwa.

“Evakuasi dari Douma akan terus berlanjut,” kata laporan tersebut.

Operasi Euprat yang dilancarkan militer Turki pada 2016 lalu telah membebaskan Al-Bab dari penguasaan ISIS.

Operasi yang berakhir pada Maret tahun lalu ini telah sukses membersihkan sebagian besar perbatasan Turki-Suriah dari ISIS.

Evakuasi ini dilakukan sebagai bagian dari perjanjian yang diperantarai Rusia antara rezim Assad Suriah dan kelompok oposisi bersenjata.

Pada 24 Februari lalu, Dewan Kemananan PBB dengan bulat mengadopsi Resolusi 2401 yang menyerukan gencatan senjata di Suriah untuk memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan.

Terlepas dari resolusi, bagaimanapun, rezim dan sekutunya di awal Maret meluncurkan serangan darat utama yang bertujuan merebut kembali bagian yang dipegang oposisi distrik tersebut.

Sejak 19 Februari lalu, lebih dari 1.400 jiwa terbunuh oleh serangan rezim Syiah Bashar Assad dan sekutunya di Ghouta Timur.

Selama lima tahun 400 ribu penduduk di Ghouta Timur berada dibawah kepungan rezim yang menyulitkan pengiriman bantuan kemanusiaan.

Israel Klaim Hancurkan Lagi Terowongan HAMAS di Gaza

GAZA (Jurnalislam.com) – Tentara penjajah Israel mengklaim telah menghancurkan terowongan HAMAS yang digali dari Gaza hingga ke daerah Israel.

Juru bicara militer Israel Jonathan Conricus mengatakan, terowongan tersebut melintasi teritorial Israel tapi tidak mempunyai jalan keluar. Terowongan tersebut diduga digunakan untuk menyerang Israel.

Israel menghancurkan terowongan tersebut dengan memasukkan bahan-bahan yang akan membuat terowongan tidak berfungsi.

Baca juga: Sudah 28 Warga Palestina Gugur Diterjang Peluru Israel dalam Aksi Protes 2 Pekan

“Kita mengisi terowongan tersebut dengan material yang membuatnya tidak akan berfungsi untuk waktu yang sangat lama,” kata Conricus kepada wartawan, Ahad (15/4/2018).

“Menurut pantauan kami, terowongan ini mencapai kilometer dimana beberapa kilometer ke Jalur Gaza,” lanjutnya.

Conricus menyebut, terowongan tersebut bermula dari Jabaliya di Utara Gaza menuju Nazal Oz Israel.

Dia juga mengklaim, Terowongan Jabaliya adalah terowongan kelima yang dihancurkan Israel dalam beberapa bulan terakhir. Terowongan Jabaliya diklaim telah dihancurkan pada akhir pekan lalu.

Operasi ini dilakukan selama aksi protes di perbatasan Gaza pada 30 Maret yang telah menewaskan 34 warga Palestina dan melukai ratusan lainnya.

Israel menuduh Hamas sedang berusaha menggunakan protes sebagai penutup untuk menggali terowongan. Sebab, terowongan itu dekat dari tempat para demonstran berkumpul.

Ini 7 Poin Hasil Konferensi Internasional Al Quds di Istanbul

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Sejumlah tokoh dan Aktivis Muda Pembela Al-Quds dari berbagai negara, termasuk Indonesia, menghadiri acara Konferensi Internasional Al-Quds Amanati ke-2 (Multaqa Al-Quds)di Istanbul, Turki. Acara dengan tema “Al-Quds adalah Garis Merah” itu digelar selama 2 hari, yaitu 13-14 April 2018.

Beberapa tokoh dari Indonesia yang hadir dalam acara tersebut antara lain, Ustadz Bachtiar Nasir (MIUMI-AQL), Ustadz Zaitun Rasmin (Wahdah Islamiyah), Ustadz Nonop Hanapi (Komandan Santri Ciamis), KH. Ahmad Shobri Lubis (FPI), Ustaz Usamah Hisyam, Ustaz Jeje (Persis), Ustaz Ahmad Musyafa.

Multaqa ini diikuti oleh perwakilan dari berbagai negara dunia Islam dengan beragam profesi yang aktif melakukan pembelaan terhadap Al-Aqsha dan Baitul Maqdis, diantaranya; organisasi keulamaan, kemasyarakatan, lembaga kemanusiaan, kepemudaan, riset dan kajian, serta media dan seni.

Multaqa yang ditutup pada Sabtu (14/4/2018) menghasilkan wasiat kepada umat Islam dunia yang disampaikan oleh Ahmad Musyafa’, Lc, Direktur International Aqsa Institute (IAI), Anggota Komite Pembentukan Ikatan Ulama Pembela Al-Quds (IUIPA).

7 Wasiat tersebut antara lain:

1. Menolak dengan tegas rencana deklarasi Deal of the Century yang menjadikan Al-Quds (Yerussalem) sebagai ibukota Israel.

2. Deal of the Century tidak hanya berdampak pada bangsa Palestina, tetapi akan mengancam ledakan disintegrasi global, menciderai perdamaian dunia.

3. Menyerukan kepada seluruh pemimpin dunia untuk mengecam rencana Israel dan AS yang memaksakan untuk merealisasikan Deal of the Century ini.

4. Mengajak seluruh masyarakat dunia untuk menyuarakan penolakannya dengan berbagai media yang dimiliki.

5. Menyerukan kepada para khatib dan dai untuk menyampaikan kepada umat akan bahaya Deal of the Century ini.

6. Mengajak seluruh masyarakat dunia untuk serentak melakukan akai damai mengecam rencana AS merealisasikan rencananya tanggal 14 Mei 2018 nanti.

7. Aksi damai penolakan serentak dimulai sejak hari ini dan puncaknya pada tanggal 11 Mei 2018.

Tabligh Akbar ACT, dari Ibu-ibu Hingga Pengayuh Becak di Aceh Antusias Bantu Rakyat Suriah

ACEH (Jurnalislam.com) – Ribuan masyarakat Aceh berbondong-bondong menghadiri acara tabligh akbar di Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, Ahad, (15/4/2018).

Mereka tidak hanya datang untuk mendengar untaian nasihat dari para ulama, tetapi juga akan melepas keberangkatan 1000 ton beras dari tanah Aceh menuju Suriah.

Bantuan dari masyarakat Indonesia itu akan disalurkan melalui lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Kepala Cabang ACT Aceh Husaini Ismail menjelaskan, tim pengiriman bantuan akan menempuh jalur darat menuju kota Medan sebelum diberangkatkan ke tujuan, yakni transit di Turki lalu menuju Suriah.

“1000 ton yang terdiri dari 40 kontainer itu akan dibawa konvoi ke Medan. Setelah kita lepas di Masjid Raya Baiturrahman, (tim) akan menempuh jalan darat ke pelabuhan Belawan, kemudian menuju Turki,” jelasnya.

Husaini menyaksikan, meskipun terbentang jarak ribuan kilometer antara Aceh dengan Suriah, namun, masyarakat di kota yang dijuluki Serambi Mekkah itu seperti memiliki keterikatan dengan penduduk Syam (nama lain Suriah).

Ikatan emosional itu yang menurutnya membuat masyarakat hingga pengayuh becak antusias membantu penduduk Suriah dengan apa yang mereka miliki.

“Tadi pagi ada ibu-ibu bawa enam karung (beras). Lalu ada tukang becak datang, ‘boleh ga saya menyumbang ala kadarnya?’, saya katakan boleh berapa saja kita terima,” tutur Husaini.

Cerita kemanusiaan itu juga dituturkan oleh Senior Staff Marketing ACT cabang Aceh Lisdayanti.

Selama beberapa hari, Lisda berupaya menggalang bantuan dari para orang tua murid ke sekolah-sekolah.

Dari penggalangan itu Lisda berhasil memperoleh bantuan berupa uang sebesar 17 juta rupiah yang dia sebutkan akan digunakan untuk operasional dapur rakyat di Suriah.

Namun, pagi ini, dia kembali menyaksikan bagaimana rasa kepedulian begitu mudah ditemui pada rakyat Aceh.

“Alhamdulillah, direncanakan hari ini menyerahkan 27 juta. Tapi setelah saya sosialisasikan lagi, jadi bertambah 19 juta. Penggalangan tadi jadi total 46 juta,” tutur Lisda.

“Mereka itu teringat terhadap anak-anak mereka sendiri (ketika melihat anak-anak Suriah). Jadi mereka bersedekah sebagai tanda syukur bisa menikmati berbagai macam nikmat pada hari ini,” tutup Lisda.

Tabligh akbar ini akan dihadiri oleh Syaikh Ali Jaber dan Ustadz Herwibowo. Hadir pula para tokoh agama dari Aceh dan Papua, di antaranya Ustadz Fadlan Garamatan, Tengku H.M. Yusuf AW, Tengku H. Zamhuri Ramli, dan Tengku H. Nuruzzahri.

Laporan: Syahrain/JITU | Islamic News Agency (INA)