JAKARTA (jurnalislam.com)– Pendakwah Ustaz Felix Siauw melontarkan kritik keras terhadap tindakan aparat kepolisian dalam penggerebekan Pondok Pesantren Putri Hamalatul Qur’an, Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.
Dalam unggahan di akun Instagram @felix.siauw pada Sabtu (31/10/2026), Ustaz Felix menilai tindakan aparat dalam penggerebekan yang berkaitan dengan kasus pembakaran Warung Mi Babi Tepi Sawah tersebut tidak dapat dibenarkan. Ia juga menyoroti proses penggerebekan yang menyasar lingkungan pendidikan putri.
“Memang tidak semua, tapi harus aku katakan bahwa polisi yang melakukan ini memang benar-benar biadab,” ujar Ustaz Felix dalam pernyataannya.
Ustaz Felix mempertanyakan langkah aparat yang membentuk tim gabungan untuk melakukan penggerebekan di pesantren yang dihuni para santriwati remaja. Menurutnya, tindakan tersebut dilakukan pada malam hari dengan membawa senjata lengkap.
Ia juga menyinggung dugaan perlakuan terhadap santriwati saat penggerebekan, termasuk pemeriksaan yang disebut tidak memperhatikan hak pendampingan.
“Yang kedua bad execution, datang ke sana bawa tim gabungan cuma untuk menggerebek pesantren yang isinya orang-orang yang belajar tahfidz perempuan remaja,” ungkapnya.
Ustaz Felix kemudian menguraikan sejumlah hal yang menurutnya menjadi catatan buruk bagi kepolisian, mulai dari intelijen, pelaksanaan operasi, sistem, komunikasi, hingga pemberitaan.
Ia menyebut aspek intelijen kepolisian sebagai bad intel karena mempertanyakan apakah aparat telah mengetahui secara tepat pihak yang menjadi sasaran operasi.
“Polisikan punya Intel, apa intelnya gak kerja, bad Intel. Intelnya gak ada kerjaan dan gak ada gunanya, mereka datang ke situ gak tahu siapa yang disergap,” katanya.
Selain itu, Ustaz Felix mengkritik pelaksanaan operasi yang dinilainya tidak proporsional. Ia juga menyoroti komunikasi kepolisian setelah peristiwa tersebut, yang menurutnya justru memperburuk persepsi masyarakat.
“Yang ketiga bad sistem, karena anda tidak bisa mengukur menggunakan apa untuk aksi apa,” lanjutnya.
Ia turut menyinggung respons kepolisian yang dinilainya berlebihan dalam membela tindakan aparat. Menurutnya, berbagai penjelasan yang disampaikan tidak serta-merta menghilangkan penilaian negatif masyarakat.
“Dan yang terakhir adalah keadilan yang buruk, satu warung mi babi dibakar aku gak setuju, tapi bagaimana hutan yang kebakaran tersebut, siapa yang kalian gerebek? Siapa yang kalian cari dan tangkap?” tegasnya.
Ia menilai penanganan kasus tersebut perlu dilakukan secara tepat agar tidak menimbulkan persoalan baru di tengah masyarakat. Ustaz Felix juga mempertanyakan pihak yang seharusnya menjadi sasaran penyelidikan dalam kasus pembakaran warung tersebut.
Dalam unggahan yang sama, Ustaz Felix meminta agar Kapolri baru menyikapi persoalan tersebut secara serius.
“Kalau aku, aku pecat gak terhormat semua yang terlibat, dan 2 tingkat di atasnya. Beban negara semuanya itu,” pungkasnya dalam keterangan unggahannya.