ANKARA (jurnalislam.com)- Turki menuduh Israel sebagai pihak yang memicu meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, di tengah upaya diplomatik untuk mencegah pecahnya konflik berskala besar antara Amerika Serikat dan Iran.
Pekan lalu, Ankara menjadi tuan rumah pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Iran guna mencari jalan keluar dari krisis yang terus memburuk. Dalam kesempatan tersebut, Turki secara terbuka menyalahkan Israel atas upaya provokatif yang berpotensi menyeret kawasan ke dalam perang.
Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menegaskan bahwa Israel terus menekan Washington agar mengambil langkah militer terhadap Teheran.
“Kami melihat bahwa Israel mencoba membujuk Amerika Serikat untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran. Kami berharap pemerintahan AS bertindak dengan akal sehat dan tidak membiarkan hal ini terjadi,” ujar Fidan dalam konferensi pers.
Sementara itu, Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, mengatakan pada Ahad (1/2/2026) bahwa Washington akan bekerja sama erat dengan Tel Aviv jika Israel memutuskan untuk menyerang Iran.
Namun, ia juga menyebut bahwa Presiden AS Donald Trump masih berupaya menyelesaikan krisis melalui jalur diplomasi.
“Amerika Serikat tetap berkomitmen pada keamanan Israel, tetapi Presiden Trump juga menginginkan solusi damai,” kata Huckabee.
Di sisi lain, Iran membantah laporan bahwa mereka akan menggelar latihan militer dengan tembakan langsung di Selat Hormuz, yang dinilai bisa memprovokasi armada AS di kawasan tersebut.
Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa laporan tersebut tidak benar.
“Tidak ada rencana bagi Garda Revolusi untuk mengadakan latihan militer di sana, dan tidak ada pengumuman resmi. Itu hanya laporan media yang salah,” ujarnya.
Ketegangan terkait program nuklir Iran telah berlangsung selama bertahun-tahun. Iran menegaskan bahwa seluruh aktivitas nuklirnya bersifat damai untuk kepentingan energi dan riset. Namun, Israel dan Amerika Serikat menuduh program tersebut sebagai kedok untuk mengembangkan senjata nuklir.
Israel sendiri diketahui tidak pernah mengakui secara resmi kepemilikan senjata nuklir, meskipun berbagai laporan internasional menyebut Tel Aviv memiliki puluhan hulu ledak nuklir.
Pada 2018, Amerika Serikat menarik diri secara sepihak dari perjanjian nuklir Iran (JCPOA) pada masa jabatan pertama Trump. Sejak saat itu, sanksi ekonomi terhadap Teheran kembali diperketat, sementara serangan siber, sabotase, dan pembunuhan ilmuwan nuklir Iran terus terjadi.
Sejumlah fasilitas nuklir Iran dalam beberapa tahun terakhir juga dilaporkan menjadi target serangan Israel, baik secara langsung maupun melalui operasi rahasia.
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, telah memperingatkan bahwa serangan Amerika Serikat atau Israel terhadap Iran akan dibalas dengan kekuatan besar.
“Setiap agresi terhadap Iran akan memicu respons yang jauh lebih besar dan dapat menyebabkan perang regional,” tegas Khamenei dalam pernyataan terbarunya.
Para pengamat menilai bahwa dorongan Israel kepada AS untuk menyerang Iran merupakan bagian dari strategi jangka panjang Tel Aviv guna melemahkan pengaruh Teheran di Timur Tengah, khususnya di Lebanon, Suriah, Irak, dan Palestina.
Di sisi lain, meningkatnya tekanan militer dan ekonomi terhadap Iran juga dikhawatirkan justru akan memperbesar risiko konflik terbuka, yang dampaknya bisa meluas ke seluruh kawasan, termasuk jalur perdagangan minyak dunia di Selat Hormuz. (Bahry)
Sumber: TNA