10 Hal Tentang Idlib yang Mungkin Belum Kamu Ketahui

10 Hal Tentang Idlib yang Mungkin Belum Kamu Ketahui

9- Kelompok mana yang dominan di Idlib?

Idlib saat ini dibagi antara oposisi bersenjata dan Hayat Tahrir al-Sham (HTS), kelompok anti-rezim bersenjata. Pada bulan Mei, 14 kelompok oposisi yang berperang melawan rezim Assad bersatu di bawah bendera “Front Pembebasan Nasional”. Faylaq al-Sham, Nasr Army, Free Idlib Army, 1st Beach Division, 2nd Beach Division, 1st Firqah, Distinguished Army, Shuda al-Islam Dareyya, Al-Hurriyah Brigade, 23rd Firqah, Syrian Liberation Front, Jaish al-Ahrar and Shukuru Sham telah membentuk organisasi militer terbesar melawan rezim, yang berisi lebih dari 70 ribu pejuang.

Hayat Tahrir al-Sham adalah kekuatan dominan di Idlib.

Setelah Jabhah Nusrah, yang berada di daftar terorisme PBB, dibubarkan pada awal 2017, lalu membentuk Jabhat Fath al Sham (JFS), sekitar 25.000 pejuang bergabung dengan faksi-faksi jihad lainnya kemudian membentuk Hayat Tahrir al-Sham. Mereka mengontrol Bab Al-Hawa Border Crossing.

Beberapa anggota  Jabhah Nusrah lain membentuk kelompok lain yang disebut Hurra Seddin. Menurut Rusia, kelompok-kelompok jihadis dominan di wilayah itu.

Baca juga: HTS Kini Mengendalikan Penuh Fasilitas Umum Provinsi Idlib

Pejuang HTS
Pejuang HTS

Idlib sangat penting karena merupakan satu-satunya kota di bawah kendali oposisi di Suriah. Adapun keuntungan strategisnya adalah karena Idlib bertetangga dengan Turki di barat laut dan terletak di sebelah Aleppo di selatan, distrik Afrin Aleppo di timur laut, Hama di selatan dan Latakia di barat laut.

Untuk oposisi Suriah, itu seperti “benteng terakhir”. Juga, kelompok bersenjata terbesar yang berperang melawan rezim Syiah Assad terletak di Idlib.

10 – Apa posisi aktor internasional di Idlib?

Beberapa negara barat, yang dikepalai oleh AS, Prancis, dan Inggris selama beberapa pekan terakhir, saling bertukar kata dengan Rusia tentang masalah Idlib.

Ketiga negara ini, dalam pernyataan bersama pada 21 Agustus, mengatakan bahwa mereka “sangat prihatin atas laporan serangan militer oleh rezim Suriah terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil di Idlib.” Mereka semua mengulangi kutukan terhadap penggunaan senjata kimia oleh rezim Assad.

John Bolton, Asisten Presiden AS Donald Trump untuk Urusan Keamanan Nasional, juga memperingatkan bahwa mereka akan “sangat” menanggapi jika rezim menggunakan senjata kimia atau biologi di Idlib.

Di atas itu, media Rusia mengklaim oposisi militer dan White Helmet (Pertahanan Sipil) akan berkolaborasi dengan negara-negara Barat untuk melakukan serangan kimia.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan AS merencanakan provokasi di Idlib untuk “melindungi HTS dan menjamin keabadian situasi yang bergejolak di kawasan itu.”

Pemerintah Rusia, membuat pernyataan berturut-turut tentang Idlib, meningkatkan kehadiran militernya di Mediterania. Setelah mengirim kapal perang ke Latakia dan Tartus, Rusia akan meluncurkan latihan di Mediterania yang diharapkan menjadi yang terbesar dalam sejarah modern, yang dipandang sebagai intimidasi terhadap blok AS.

Ketika krisis meningkat, kekhawatiran meningkat pada keamanan warga sipil di wilayah tersebut.

Rezim Suriah baru-baru ini mengumumkan rencana untuk meluncurkan serangan militer besar-besaran ke daerah tersebut, yang dikendalikan oleh berbagai kelompok oposisi bersenjata.

Pada hari Selasa, kepala kemanusiaan PBB Mark Lowcock memperingatkan bahwa serangan semacam itu akan mengarah pada “bencana kemanusiaan terburuk di abad ke-21”.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Presiden Iran Hassan Rouhani dijadwalkan bertemu di Teheran pada Jumat untuk pertemuan puncak trilateral di Suriah.

Baca juga: 

Bagikan

5 thoughts on “10 Hal Tentang Idlib yang Mungkin Belum Kamu Ketahui

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.