Ustaz Adi Hidayat: Bahagia dengan al Qur’an

Ustaz Adi Hidayat: Bahagia dengan al Qur’an

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ramadhan merupakan bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Begitu firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 185.

Ustaz Adi Hidayat dalam bukunya “Bahagia dalam Naungan Alquran dan Sunnah” mengatkan, ayat tersebut menegaskan bahwa fungsi utama Alquran ialah hudan lin nas petunjuk hidup manusia. Sebagai pedoman, Alquran menyajikan solusi bagi seluruh liku hidup generasi Adam dan Hawa, dari yang mengharapkan kemudahan, memperbaiki kekurangan, hingga meraih kebahagiaan.

“Semuanya ada dalam Alquran. Ya, di dalam Alquran,” katanya.

Penceramah yang akrab disapa UAH ini menyarankan, siapapun orangnya ingin bahagia di rumah, di kantor, di kehidupan sosial atau bahkan segala hal, bacalah Alquran. Dengan Alquran, maka orang yang ingin bahagia akan paham tentang cara meraih kebahagiaan.

“Bahagia itu sederhana jadikanlah Alquran sebagai pedoman,” ujarnya.

UAH mengatakan, Rasulullah SAW, langsung mempraktikkan pedoman Alquran di lingkungan masyarakat. Sehingga kehidupan umat begitu membahagiakan, hingga lahirnya al-Madinah al-Munawaroh, kota penuh cahaya.

“Pedoman inilah yang menanggalkan sifat jahiliyyah, mengangkat martabat umat, bahkan jauh mengungguli Imperium Romawi dan Persia,” katanya.

UAH, menambahkan praktik Rasulullah dalam mengamalkan pedoman Alquran disebut dengan Sunnah. Hal terakhir inilah yang menjadi penjelasan detil Alquran, bahkan sumber keteladanan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah al-ahjab ayat 21 yang artinya.

“Sungguh pada diri Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik bagi mu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat, serta banyak menyebut Allah.”

Demikianlah, kata UAH, peran Alquran dan Sunnah. Keduanya menjadi referensi abadi untuk meraih kebahagiaan di setiap zaman yang didambangan setiap manusia.

“Dari sini kita pahami tentang pentingnya bahagia di bawah naungan Alquran dan Sunnah,” katanya.

Menurutnya, rasa bahagia adalah hal yang begitu didamba oleh setiap manusia. Demi kebahagiaan bahagian segala upaya pun ditempuh, dari yang paling sederhana hingga teramat payah bahkan dengan usaha yang Kadang sulit dilukiskan.

Namun, kata UAH, kebahagiaan yang dimaksud terkadang tidak berlaku umum. Sifatnya tidak holistik dan jangkauannya pun tidak komprehensif. Maka dari itulah bahagia bagi seseorang belum tentu berlaku bagi orang lainnya.

Banyak pemplet dan ilustrasi kreatif dibuat disertai tagar bahagia yang penuh harap. #Bahagia itu sederhana cukup secangkir kopi, Anda hadir dengan kebahagiaan.” Demikian di antara tagar kata UAH yang populer,” katanya.

Kata UAH, bagi penikmat kopi kalimat itu bisa diterima, tetapi tidak bagi slainnya. Ada pula yang menulis bahwa #Bahagia itu sederhana ketika kamu hadir di sampingku. Masya Allah… Bahagia untukmu tidak bagi yang lain. Bahkan mungkin merasa sangat kecewa karena sosok yang dinanti ternyata telah diambil orang.

“Muncul kemudian tagar patah hati dari level lokal hingga menggapai ranah internasional,” katanya.

Menurutnya, begitu pentingnya nilai bahagia, ada pula yang berusaha membuat indeks kebahagiaan hingga di level kota untuk mengukur tingkat keberhasilan membangun manusia. Hasilnya tidak ada satu pun yang meraih nilai sempurna.

“Karena kebahagian si A belum tentu kebahagiaan untuk si B kebahagiaan si B belum tentu berlaku bagi si C. Demikian seterusnya,” katanya.

Lantas bagaimana kita bisa mencapai kebahagiaan yang hakiki? yang bisa diraih setiap orang?. Maka jawabannya sederhana jadikanlah Alquran sebagai pedoman.

Sumber: republika.co.id

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X