Unjuk rasa pro-Palestina di Sydney Desak Pemerintah Australia Hentikan Dukungan Terhadap Israel

Unjuk rasa pro-Palestina di Sydney Desak Pemerintah Australia Hentikan Dukungan Terhadap Israel

SYDNEY (jurnalislam.com)- Ratusan warga Australia melakukan demonstrasi solidaritas dengan warga Palestina setelah pemerintah Israel secara resmi menyatakan perang terhadap Hamas sebagai tanggapan atas serangan mendadak mereka.

Unjuk rasa di Sydney ini diselenggarakan oleh Palestine Action Group Sydney, menuntut Australia memutuskan hubungan dengan Israel.

Para peserta aksi berbaris dari Balai Kota ke Gedung Opera Sydney pada hari Senin (9/10/2023), tiba sekitar jam 7 malam, di mana lokasi tersebut akan diterangi dengan warna biru dan putih sebagai bentuk dukungan pemerintah Australia untuk Israel.

Anggota parlemen Partai Hijau NSW Jenny Leong mengunggah aksi tersebut di Twitter, dan menggambarkan keputusan untuk menyalakan cahaya biru dan putih di Opera House sebagai hal yang “menjijikan”.

“Bagaimana dengan seluruh nyawa warga Palestina yang hilang sejak pendudukan?,” tanyanya.

Berbicara dari Balai Kota, aktivis dan akademisi Fahad Ali menyerukan kepada massa untuk menentang pendudukan Israel di Palestina.

“Kami telah mengalami perampasan selama 75 tahun, tidak diberikannya hak kami untuk hidup dan kebebasan, di bawah pendudukan yang semakin parah oleh rezim kolonial yang telah melakukan segala jenis kekejaman terhadap kami,” ujarnya.

Ratusan peserta bersorak saat puluhan orang mengibarkan bendera Palestina dan Aborigin.

“Perlawanan dibenarkan ketika Palestina diduduki,” teriak para pendukung saat massa berbaris di Pitt Street.

“Bebaskan, bebaskan Palestina,” teriak yang lain.

Sementara itu sebelumnya, Perdana Menteri Anthony Albanese mengatakan kepada radio Sydney 2GB bahwa unjuk rasa pro-Palestina seharusnya dibatalkan karena menghormati hilangnya nyawa.

“Saya mendukung hak masyarakat untuk menunjukkan pandangan mereka, kita adalah negara demokratis. Tapi apa yang bisa dilakukan selain menciptakan iklim yang tidak kondusif bagi perdamaian?” katanya.

Menyatakan dirinya sebagai pendukung solusi dua negara, dia mengatakan serangan Hamas bukanlah kepentingan Israel atau Palestina.

“Tidak ada keraguan bahwa penderitaan warga Palestina telah dan akan terus terjadi, namun tindakan Hamas dalam hal ini benar-benar tidak dapat dipertahankan,” katanya.

“Setiap upaya harus selalu dilakukan untuk melindungi dan tidak merugikan warga sipil. Tetapi Israel, tentu saja, mempunyai hak untuk membela diri.”

Massa dalam jumlah besar juga berkumpul pada Ahad malam di barat daya Sydney, menyatakan dukungan serangan Hamas terhadap Israel dirayakan sebagai tindakan “keberanian” dan “perlawanan”.

Syekh Ibrahim Dadoun mengatakan kepada orang banyak bahwa serangan terhadap Israel adalah tindakan perlawanan.

“Saya gembira, ini adalah hari keberanian, ini adalah hari kebanggaan, ini adalah hari kemenangan, ini adalah hari yang kita tunggu-tunggu,” katanya.

“Tujuh puluh lima tahun pendudukan, 15 tahun blokade.

“Apa yang terjadi kemarin adalah pertama kalinya saudara-saudari kita menerobos penjara terbesar di dunia.”

Namun, Albanese mengecam komentar tersebut: “Tidak ada yang perlu dirayakan dengan pembunuhan warga sipil tak berdosa yang terjadi pada hari mereka.”

Pemimpin oposisi, Peter Dutton, mengatakan pernyataan tersebut “tidak mendapat tempat di masyarakat Australia” dan “bagi masyarakat yang memberikan dukungan moral terhadap tindakan tersebut adalah tindakan yang benar-benar mengerikan”.

Juru bicara Dewan Eksekutif Yahudi Australia Alex Ryvchin menggambarkan unjuk rasa tersebut sebagai “pertunjukan memuakkan dari orang-orang yang tidak memiliki jiwa dan kemanusiaan”.

“Pemuja pembunuhan, pemerkosaan, dan kesengsaraan tidak memiliki tempat dalam masyarakat beradab,” katanya.

Namun Asosiasi Muslim Lebanon menuduh pemerintah munafik dalam mendukung Israel, dan menggambarkan perlakuan terhadap penduduk asli Australia serupa dengan “penganiayaan yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina”.

“Rakyat dan bangsa utama kita, warga Palestina yang baik, dan masyarakat tertindas lainnya di seluruh dunia harus dianggap sama,” kata asosiasi tersebut.

Dewan Imam Nasional Australia mengatakan pemerintah harus menghindari “pernyataan dukungan sepihak yang mengabaikan rakyat Palestina”.

Sumber: The Guardian

Reporter: Bahri

Bagikan