Responsive image

Terkait Pembantaian Muslim Rohingya oleh Militer Myanmar, Ini Kata LSM Budha di Jepang

Terkait Pembantaian Muslim Rohingya oleh Militer Myanmar, Ini Kata LSM Budha di Jepang

JEPANG (Jurnalislam.com) – Sebuah LSM Buddhis yang berbasis di Jepang bereaksi terhadap kekerasan di negara bagian Rakhine di Myanmar, dengan mengatakan bahwa serangan yang sedang berlangsung “tidak dapat diterima untuk agama apapun”.

“Sebagai seorang Buddhis, saya tidak dapat menerima kekerasan terhadap Muslim Rohingya. Itu tidak dapat diterima untuk agama apapun,” kata Suhadi Sendjaja, ketua Nichiren Shoshu Indonesia (NSI) kepada Anadolu Agency, Rabu (30/8/2017).

Sendjaja mendesak pemerintah Myanmar untuk memecahkan masalah di wilayah Rakhine yang bergolak sambil menambahkan:

“Tidak ada keraguan bahwa perlakuan terhadap Muslim Rohingya bertentangan dengan hak asasi manusia, jadi, motif sosial dan politik di balik insiden ini harus benar-benar ditemukan solusinya.

“Perbedaan etnis dan agama harus ditolerir … Peristiwa di Rakhine harus dipecahkan secara profesional dalam kerangka hak asasi manusia.”

“Agama mana yang memerintah untuk membunuh?” Dia bertanya dan menambahkan bahwa “semua agama mewakili perdamaian”.

“Terorisme telah menjadi masalah besar di dunia. Kami tidak bisa menggambarkan agama kelompok yang melakukan kegiatan teroris ‘buruk’, apa yang ‘buruk’ bukan agamanya, tapi orang-orang ini. Jadi, Anda tidak bisa memanggil semua penganut agama itu sebagai ‘teroris’,” kata Sendjaja.

“Sama saja di Rakhine, jika beberapa kelompok menyerang pasukan Myanmar, tidak pantas menuduh semua Muslim Rohingya adalah sama kemudian menyiksa mereka.”

Serangan mematikan terhadap pos perbatasan di negara bagian Rakhine, Myanmar barat, pecah pada hari Jumat. Kemudian, muncul laporan media yang mengatakan bahwa pasukan keamanan Myanmar menggunakan kekuatan yang tidak proporsional dan mengusir ribuan warga desa Rohingya, menghancurkan rumah dengan mortir dan senapan mesin.

Daerah ini telah mengalami ketegangan antara populasi sekte Budhis dan kaum Muslim sejak kekerasan komunal terjadi pada tahun 2012.

Sebuah penyerangan mendadak yang diluncurkan pada bulan Oktober tahun lalu di Maungdaw, di mana Rohingya menjadi mayoritas, menyebabkan pelanggaran hak asasi manusia oleh pasukan keamanan yang mengindikasikan kejahatan berat terhadap kemanusiaan menurut sebuah laporan PBB.

PBB mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuhan, penyiksaan – termasuk bayi dan anak kecil – penyembelihan, pemukulan dan penghilangan brutal. Perwakilan Rohingya mengatakan sekitar 400 orang tewas dalam operasi tersebut.

Bagikan
Close X