Jelaskan Kronologi Bentrokan, Takmir Masjid Jogokariyan: “Mereka Bawa Pedang dan Celurit”

Jelaskan Kronologi Bentrokan, Takmir Masjid Jogokariyan: “Mereka Bawa Pedang dan Celurit”

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Takmir Masjid Jogokariyan, Ustaz Muhammad Fanny Rahman memaparkan kronologis peristiwa bentrokan antara warga Masjid Jogokaryan dengan ratusan massa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada Ahad, (27/1/2019).

Ustaz Fanny membantah pihaknya yang memulai bentrokan tersebut. Ia menegaskan, jamaah masjid yang terlibat bentrok hanya untuk membela diri dari serangan tiba-tiba massa PDIP.

Berikut ini petikan wawancara wartawan Jurnalislam (jurnis), Arie Ristyan dengan Ustaz Fanny di pelataran Masjid Jogokariyan, Senin (28/1/2019).

Bagaimana kejadiannya?

Hari ahad kemarin itu lagi punya gawe acara pemilu takmir masjid yang 4 tahunan, pemilihan pengurus baru, dari pagi. Sampai jam 8 malam, pagi ada jalan sehat yang ribuan yang hadir pada waktu itu Kapolres Jogja, Wakil Walikota dan semua warga hadir dari semua background, dari semua partai, entah yang ijo, abang, putih, semua bisa hadir. Nah, ada juga pemeriksaan kesehatan gratis, sore ada pengajian dan pembagian paket sembako bagi warga yang kurang mampu.

Ustaz Muhammad Fanny Rahman, Takmir Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Foto: Arie/Jurnis

Kita membagikan sekitar 25 paket di pengajian, mulai dengan shalat Asar berjamaah. Kemudian setelah selesai dibagi, pas sekitar jam 4 acara selesai bubar, waktu itu saya pas posisi di depan rumah ini (nunjuk depan masjid-red) tempat orang tua baru kurang sehat, tahu-tahu ada simbah-simbah sepuh nangis. Terus saya tanya, kenapa mbah? Ternyata dia nggak berani pulang, ada kejadian ramai di sana. Terus saya lari, waktu itu dari warga dan jamaah belum banyak orang. Itu lemparan batu udah ada dari arah barat itu, perempatan, untungnya alhamdulillah pada waktu itu karena acara pagi itu ramai kemudian dipasang tenda dijalan itu sehingga lemparan batu itu terkena tenda.

Warga kena beberapa tapi alhamdulillah tidak terlalu parah, tapi beberapa orang yang bertahan itu jangan sampai berhasil merangsek (ke arah masjid-red), tapi kita gak pakai senjata waktu itu, secara mereka mengunakan senjata tajam, pedang, macam-macam lah, ada bamboo, besi, sehingga mereka tetap melempar dan sambil mendekat ke kita. Warga dan jamaah kemudian berkumpul jadi satu. Akhirnya mengusir balik mereka, mengusir mereka dari kampung, sampai mereka kocar-kacir keluar barisan mereka. Kemudian saya baru telpon ke pak Kapolres, dan mediasi oleh Kapolsek. Saya bertiga mewakili masjid dan dari mereka ada sesepuh-sesepuh mereka. Kemudian dimediasi di kecamatan, dari jam 5 (sore) dan selesai itu sekitar Isya. Kemudian break karena ada beberapa poin itu.

Masjid Jogokariyan. Foto: Arie/Jurnis

Sebenarnya dari masjid simpel, pada permintaan maaf mereka kemudian menghadirkan langsung pelaku atau penggerak dari mereka itu, karena warga sini sudah hafal, orangnya itu-itu aja. Minta maaf secara langsung kepada masjid, bisa di masjid atau di mana, di tempat netral juga bisa, di polsek atau kecamatan, sama saya sendiri juga bisa atau perwakilan, silahkan datang jam berapa, kemudian minta maaf tanda clear. Karena kami melihat ini isunya sensitif, selesaikan biar gak melebar kemana-mana, karena memang jujur dari setelah itu kejadian sampai malam itu yang ngontak kami itu segera merapat itu bukan hanya Jogja, tapi juga Solo, Magelang, Klaten, Bandung, Pacitan, Jakarta siap berbondong-bondong datang. Tadi malam aja sudah banyak sekali ya kita koordinasikan untuk siaga di tempat masing-masing, jangan sampai ini semakin melebar, kita ingin mengkondisikan segera beres.

Maka kedepan salah satu komitmen mereka mau menghadirkan pelaku itu untuk meminta maaf secara langsung, entah itu di kecamatan atau dimana kita nggak masalah. Tinggal bola sekarang di kepolisian. Kalau ini semakin membesar, kita sebentar lagi akan proses, kalau proses ini malah semakin berkembang. Karena kalau saya mewakili masjid bukan partai, kalau ada ini dikembangkan dengan hal yang lain maka kita akan menuntut, kalau ndak kita akan menggelar apel siaga umat Islam untuk membela kemuliaan masjid. Masjid dan massa akan besar karena kemarin waktu kita rilis juga bisa puluhan ribu massa yang siap hadir disini, melebihi kajian ustadz Somad malahan, karena ini masalah masjid, makanya sebenarnya bola ini ada di tangan kepolisian.

Ya saya bilang, lah konyol kita ngusir tangan kosong secara mereka bawa pedang, bawa celurit, sama saja dengan bunuh diri.

Apakah kepolisian akan memproses hukum para pelaku?

Kalau kami sendiri gak masalah sampai hukum, cuma ada itikad baik dari mereka, sebenarnya kalau kerusakan tidak parah karena kena tenda-tenda itu, kemudian kena pagar, kemudian ada beberapa yang kena tapi ndak parah, yang masjid ini yang harus dijaga.

Pada waktu kejadian, saya itu datang setelah kejadian beberapa menit, kemudian saya di depan untuk mengusir mereka, tapi itu sulit karena mereka bawa senjata tajam. Bandemi (melempar batu-red) waktu itu baru hanya beberapa orang, habis itu karena waktu itu sore, karena sejak hari Sabtu kan sudah ada kajian akbar disini, kalau kemarin minggu acara sebelumnya ngebyar (begadang-red) sampai malam. Nah, sore-sore itu (Ahad-red) hanya panitia pembagian sembako aja yang ada, divisi sosial itu aja yang memukul balik mereka, dan mereka pun masih tetap bertahan menyerang. Warga dan jamaah langsung kumpul semua, semakin banyak itu, dan memukul balik mereka. Itupun kejadian di lapangan (sebrang masjid-red) sampai crash.

Ketika mereka misalnya ada tadi petugas kok ngomong dari masjid atau warga ada yang bawa sajam? Ya saya bilang, lah konyol kita ngusir tangan kosong secara mereka bawa pedang, bawa celurit, sama saja dengan bunuh diri saya bilang. Apapun yang bisa digunakan agar mereka keluar dari kampung, itu yang bisa dipakai, wong yang mulai mereka. Saya sendiri mau kebacok dan kepedang ketika melerai, wong saya di depan, kan saya gak bawa apa-apa waktu itu. Dan terus warga ngumpul-ngumpul dan ngusir mereka, karena jumlah mereka ratusan, sementara awal kita nggak nyampai 10 orang, paling 7-10 orang.

Dari barat mereka tiba-tiba gleyer-gleyerlah (gass knalpot suara kenceng-red). Apel siaga akan diadakan ketika kasus ini melebar, kita gak tau. Melebar yang mana, tapi teman-teman simpul-simpul laskar, simpul-simpul umat Islam sudah siap.

Artinya Apel Siaga tetap akan digelar?

Ya, kalau penangannya tidak adil dan arif.

Bagikan

6 thoughts on “Jelaskan Kronologi Bentrokan, Takmir Masjid Jogokariyan: “Mereka Bawa Pedang dan Celurit”

  1. Yg berani mengusik masjid ya berarti g seneng dg Islam, & jogokariyan adalah simbol menguatnya umat Islam, mereka takut umat Islam bersatu & kuat. Ayo bersatu umat Islam

  2. Masjid tempat suci & beribadah ummat muslim, bila ada yg melecehkan. Berarti musuh semua umat Islam..!!!!!
    Allahu Akbar……!!!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.