Syiah Hizbullah Libanon Kuasai Pos Perbatasan Setelah Ditinggal Pasukan Oposisi

11 Agustus 2017
Syiah Hizbullah Libanon Kuasai Pos Perbatasan Setelah Ditinggal Pasukan Oposisi

SURIAH (Jurnalislam.com) – Pada hari Kamis (10/8/2017), tentara Suriah dan sekutu-sekutunya menguasai sedikitnya 30km wilayah perbatasan Suriah dengan Yordania dari oposisi yang telah meninggalkan pos-pos mereka, dua kelompok oposisi dan satu sumber militer rezim mengatakan, lansir Aljazeera.

Sumber militer rezim Syiah Suriah menggambarkan kemajuan tersebut sebagai “sukses besar”.

Sebuah unit media militer yang dijalankan oleh kelompok bersenjata Libanon, Syiah Hizbullah, sekutu dekat rezim Nushairiyah Suriah, mengatakan bahwa tentara dan sekutu-sekutunya telah menguasai semua pos pemeriksaan dan pos perbatasan di perbatasan di Sweida, satu dari empat provinsi di Suriah yang berbatasan dengan Yordania.

Namun kelompok oposisi, beberapa di antaranya didukung oleh negara-negara Barat dan Arab, masih menguasai banyak wilayah perbatasan barat daya Suriah dengan Yordania dan Israel.

Provinsi Sweida tidak termasuk dalam gencatan senjata perantara AS-Rusia yang mulai berlaku di daerah-daerah terdekat di barat daya pada bulan Juli.

Said Saef, juru bicara kelompok oposisi Brigade Martyr Ahmed Abdo yang didukung Barat, mengatakan bahwa serangan hari Kamis datang dari dua sisi di daerah pedesaan Sweida timur

“Sebagian besar pedesaan Sweida timur sekarang berada di tangan rezim,” tambahnya.

Tentara telah maju ke perbatasan dan merebut kembali pos-pos yang ditinggalkannya pada tahun-tahun awal konflik ketika oposisi mengambil alih sebagian besar wilayah selatan Suriah barat.

“Mereka sekarang berada di perbatasan Yordania dan kembali ke pos terdepan yang mereka tinggalkan sejak awal konflik,” kata Saef.

Seorang juru bicara oposisi lainnya mengatakan bahwa kemenangan tentara dibantu oleh aksi mundur tiba-tiba oleh kelompok oposisi Jaish al-Ashair, yang didukung oleh Yordania dan bertanggung jawab untuk berpatroli di bentangan perbatasan tersebut.

Lebih dari 450.000 orang telah terbunuh sejak konflik Suriah meletus pada Maret 2011 diawali dengan unjuk rasa menentang rezim Syiah Bashar al-Assad.

Konflik tersebut telah menarik kekuatan internasional, termasuk Rusia, yang telah melakukan serangan brutal untuk mendukung pasukan rezim Assad sejak September 2015.