Syariah Media Community Jember Gelar Temu Jurnalis dan Praktisi Dakwah

JEMBER (Jurnalislamcom) – Meski diguyur hujan, tak mengurangi antusias peserta untuk hadir dalam acara temu akrab jurnalis muslim dan praktisi media dakwah yang diadakan di masjid adh dhuha yayasan hidayatullah jember. Acara yang diadakan sabtu 18 april ini dikemas dalam diskusi interaktif yang menghadirkan 3 pembicara yang sudah banyak berkiprah dalam dakwah lokal hingga lintas negara. 

Mereka adalah Fajar Firmansyah ( aktifis muslim designer community jember ), Gilig Pradhana ( penulis antologi Nyali- Nyali Dakwah ke Penjuru Negeri dan aktifis Muhammadiyah) dan Bramantyo (Qoid Ilam Jamaah Ansharusy Syariah dan reporter jurnalislam.com)

Acara dimulai dari pemaparan Ustadz Gilig Pradhana yang baru saja pulang dari menyelesaikan studi ke Jepang. Beliau banyak menceritakan suka duka dakwah ke negeri atheis itu. Terlebih saat seringnya didatangi oleh para misionaris untuk diajak gabung menerima keyakinannya.

"Tipikal mereka (misionaris) beragam. Dan mereka selalu memiliki persiapan yang matang sebelum mendatangi sasarannya" paparnya.

Beliau juga mengingatkan agar para aktifis dakwah tidak meremehkan pentingya bekal ilmu dien serta kedekatan kepada Allah sebagai sebaik-baik bekal
    
"Kedekatan kepada Allah lah dapat membentengi seorang muslim dari beragam gempuran musuh Allah, tanpa ini sungguh kita sangat lemah dibandingkan kelihaian musuh-musuh islam dari kalangan sekuler, liberal dan juga pihak barat" imbuhnya.

Adapun pembicara kedua, merupakan aktifis dakwah dan kegiatan sosial sejak SMA. Fajar mengingatkan para audiens tentang peran pemuda dalam menunjang dakwah sebagaimana yg terjadi pada masa sahabat nabi.

"Pemuda harus berkontribusi dalam dakwah global sesuai potensi yang dimilikinya dan bisa memanfaatkan perkembangan teknologi informasi sebagai media dakwah" tegas fajar.

"dakwah poster yang kami lakukan mungkin terlihat sepele, namun menjadi bukti bahwa kami tidak berdiam diri untuk beramal sholih karena kami yakin bahwa dakwah tidak harus diatas mimbar" imbuhnya.

Dari pembicara ke tiga adalah Ust Bramantyo. Beliau memaparkan bahwa setiap aktifis dakwah di media apapun pasti ada resikonya karena itu adalah sunnatullah. Aktifis dan sekaligus reporter jurnalislam ini beberapa waktu lalu pernah menjadi populer mendadak karena poster dirinya beredar di beberapa ruas jalan utama di surabaya karena diteror oknum aparat sebagai teroris.
Menyikapi resiko teror ini Bramantyo mengingatkan audiens agar jeli memilah media informasi.

"Kita tahu siapa pemilik sebagian besar media adalah non muslim. Mereka banyak berperan membentuk opini dan penyesatan info bagi masyarakat. Karena hakikatnya peran media adalah seperti penyihir, bisa merubah yang haq menjadi bathil serta sebaliknya. Disinilah pentingnya kehadiran media islam sebg penyeimbang untuk mengokohkan dakwah ke masyarakat" tegasnya. 

Antusias audiens nampak dari banyaknya tanggapan untuk mengsinergikakn potensi media dakwah yang berkembang dalam sebuah forum ukhuwah media islam. Beberapa audiens yang hadir dalam acara ini termasuk dari kalangan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK), Majelis Literasi, pengurus Dewan Dakwah Islam, santri dari pesantren salafiyah Al Wafa Tempurejo asuhan KH Abdul Aziz.

Reporter: Budi | Editor: Zarqawi |Jurniscom

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.