JAKARTA (jurnalislam.com)— Puluhan imam besar dari berbagai negara berkumpul di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (25/9/2026). Mereka datang membawa latar belakang dan persoalan yang berbeda, tetapi hari pertama rangkaian International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 dimulai dari satu isu yang sulit dilepaskan dari dunia Islam hari ini: Palestina.
Seusai shalat Jumat, Imam Besar Masjid Al-Aqsa, Sheikh Muhammad Ahmad Muhammad Hussein, menyampaikan pesan tentang Palestina dan Masjid Al-Aqsa. Rangkaian dilanjutkan dengan doa bersama untuk persatuan umat Islam, perdamaian dunia, dan Palestina.
Masjid Istiqlal mencatat 38 imam besar dari berbagai negara mengikuti rangkaian tersebut. ANTARA, mengutip keterangan Kementerian Agama, menyebut lebih dari 40 imam besar hadir dalam doa bersama. Perbedaan angka itu menunjukkan jumlah kehadiran yang dilaporkan sumber berbeda, tetapi keduanya sama-sama menggambarkan forum internasional yang mulai mempertemukan para imam sejak hari pertama.
Belum ada deklarasi yang ditandatangani hari itu. Belum pula ada hasil konferensi yang bisa ditagih. Jumat di Istiqlal baru menjadi pembuka. Namun dari pembukaan itulah arah IGIC mulai terlihat.
Imam Tidak Hanya Berdiri di Depan Jamaah
Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar menjadi khatib dalam shalat Jumat tersebut.
Khutbahnya membawa satu gagasan yang akan banyak dibicarakan selama IGIC: imam tidak cukup hanya dipersiapkan untuk memimpin shalat, menyampaikan khutbah, dan mengajarkan agama. Imam juga berhadapan dengan perubahan masyarakat.
Nasaruddin berbicara mengenai diplomasi keagamaan dan ekoteologi. Ia menempatkan imam sebagai pihak yang dapat ikut membangun kepercayaan, meredakan permusuhan, mencari titik temu di tengah perbedaan, serta membangun kesadaran menjaga lingkungan.
Beberapa hari sebelum konferensi, Nasaruddin juga menjelaskan mengapa diplomasi agama menjadi salah satu gagasan utama IGIC.
Menurutnya, diplomasi formal antarpemerintah sering bergerak dalam kerangka politik dan hukum. Jalur agama diharapkan membuka ruang lain dengan menyentuh nilai kemanusiaan dan kesadaran spiritual masyarakat.
Gagasan semacam ini terdengar besar.
Tetapi imam memang berada di tempat yang sangat dekat dengan masyarakat. Mereka bertemu jamaah lima kali sehari. Khutbah mereka didengar setiap Jumat. Dalam banyak komunitas, imam dan pengurus masjid menjadi tempat masyarakat bertanya bukan hanya soal shalat dan ibadah, tetapi juga persoalan keluarga, ekonomi, pendidikan, hingga konflik sosial.
Masalahnya, tantangan yang mereka hadapi juga berubah. Informasi palsu/ hoax beredar jauh lebih cepat daripada khutbah Jumat. Potongan video tanpa konteks dapat menyulut kemarahan dalam hitungan jam. Persoalan lingkungan, kemiskinan, konflik sosial dan perubahan teknologi masuk sampai ke ruang kehidupan jamaah.
Di tengah keadaan semacam itu, gagasan memperluas kemampuan imam memang layak dibicarakan. Tetapi ada jarak yang cukup jauh antara meminta imam memahami masalah zaman dengan memastikan mereka memiliki kemampuan untuk menghadapinya.
Apakah akan ada pelatihan?
Apakah imam memperoleh akses pada bahan yang memadai ketika harus menghadapi disinformasi?
Bagaimana masjid kecil di berbagai pelosok daerah dapat mengikuti perkembangan yang dibicarakan dalam konferensi internasional di Jakarta?
Pertanyaan semacam itu belum perlu dijawab pada hari pertama. Tetapi kelak di situlah gagasan besar IGIC akan diuji.
Palestina Membawa Diplomasi Itu ke Persoalan Nyata
Pemilihan Palestina sebagai salah satu pesan kuat dalam pembukaan IGIC juga membuat pembicaraan mengenai diplomasi agama tidak berhenti pada teori.
Masjid Al-Aqsa memiliki kedudukan khusus bagi umat Islam. Sementara konflik Palestina telah berlangsung jauh melampaui ruang diskusi keagamaan dan melibatkan kepentingan politik serta diplomasi internasional yang rumit.
Dari Istiqlal, para imam mendoakan persatuan umat dan Palestina. Imam Besar Masjid Al-Aqsa juga menyerukan perhatian terhadap perjuangan rakyat Palestina serta kedudukan Al-Aqsa.
Di sinilah gagasan tentang imam sebagai bagian dari diplomasi agama mulai bertemu persoalan nyata. Jika jaringan imam lintas negara ingin dibangun, Palestina akan menjadi salah satu ujian paling jelas tentang seberapa jauh jaringan itu dapat berperan.
Apakah berhenti pada seruan moral dan doa bersama?
Apakah dapat membangun jaringan kemanusiaan yang lebih kuat?
Atau melahirkan sikap bersama yang terus disuarakan setelah para peserta kembali ke negaranya masing-masing?
Untuk saat ini, pertanyaan itu lebih penting disimpan daripada buru-buru dijawab.
IGIC baru memasuki hari pertama.
Dari Istiqlal, Konferensi Baru Dimulai
IGIC 2026 berlangsung pada 25–28 September di Jakarta dengan tema Mosque Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace.
Dua hari sebelum rangkaian dimulai, Kementerian Agama menyebut 39 negara telah menyatakan keikutsertaan dengan 45 delegasi. Panitia menargetkan sekitar 500 peserta, termasuk peserta dari Indonesia.
Angka itu berbeda dengan keterangan sebelumnya pada awal September yang menyebut sekitar 400 imam besar dunia akan hadir. Karena itu, angka 39 negara dan 45 delegasi lebih tepat dibaca sebagai data konfirmasi terbaru menjelang penyelenggaraan, bukan jumlah akhir peserta yang benar-benar hadir sepanjang konferensi.
Forum ini akan membicarakan peran masjid dalam membangun harmoni, perdamaian global, diplomasi keagamaan, serta potensi ekonomi kemasjidan.
Salah satu hasil yang sejak awal dijanjikan adalah Jakarta Understanding. Dalam penjelasan menjelang konferensi, dokumen tersebut disebut akan berisi deklarasi dan rekomendasi bagi para imam mengenai peran masjid dalam membangun kehidupan yang harmonis.
Tetapi dokumen itu belum lahir pada Jumat.
Karena itu terlalu cepat membicarakan apakah Jakarta Understanding akan menjadi dokumen penting atau hanya berakhir sebagai pernyataan konferensi.
Begitu pula dengan gagasan menjadikan Indonesia sebagai salah satu rujukan dalam diplomasi keagamaan. Indonesia memang memiliki pengalaman panjang mengelola kehidupan masyarakat dengan agama, mazhab dan latar belakang yang beragam.
Tetapi pengalaman itu juga memiliki persoalan dan catatan sendiri. Jika harmoni Indonesia nantinya dibawa sebagai pesan kepada dunia, konsistensinya dengan kenyataan di dalam negeri tentu layak ikut diperiksa.
Bukan sekarang. Konferensi bahkan baru dimulai.
Menunggu Isi di Balik Panggung Besar
Hari pertama IGIC belum cukup untuk menilai konferensi ini. Yang terlihat baru arah yang ingin dibangun. Imam hendak ditempatkan dalam peran yang lebih luas. Masjid ingin dibawa kembali sebagai ruang yang ikut menjawab persoalan masyarakat. Diplomasi agama ditawarkan sebagai jalur tambahan ketika konflik sulit diselesaikan melalui hubungan politik formal.
Palestina memberikan latar yang membuat gagasan tersebut terasa dekat sekaligus berat.
Semua itu masih berupa permulaan.
Mulai Sabtu (26/9/2026), forum memasuki pembahasan yang lebih substantif.
Di sanalah akan terlihat bagaimana para imam dari berbagai negara membaca persoalan perdamaian, masjid, ekonomi umat dan diplomasi agama yang sejak awal disebut sebagai agenda besar konferensi.
Dan pada akhirnya, ukuran IGIC tidak dapat berhenti pada berapa banyak negara yang hadir atau siapa yang berdiri di panggung Istiqlal.
Masjid-masjid yang jauh dari Jakarta akan menjadi ukuran yang lebih sulit. Apakah gagasan yang dibicarakan para imam besar itu nantinya sampai kepada imam di kampung, pengurus masjid di kecamatan, dan jamaah yang setiap hari menghadapi persoalan nyata?
Hari pertama belum memberikan jawabannya.
Memang belum waktunya. IGIC baru membuka pintunya.
Menteri Agama saat sambutan pada acara Gala Dinner IGIC 2026 di Jakarta