Setahun Kasus Siyono dan Tekad Suratmi Mencari Keadilan

10 Maret 2017
Setahun Kasus Siyono dan Tekad Suratmi Mencari Keadilan
Suratmi bersama keluarga di Klaten, Kamis (9/3/2017). Foto: Arie

KLATEN (Jurnalislam.com) – Suratmi, istri Siyono tak kuasa menahan air mata ketika mengingat peristiwa pahit yang menimpanya setahun lalu tepatnya tanggal 8 Maret 2016. Kala itu, sang suami yang keseharianya sebagai guru ngaji diambil paksa oleh Densus 88 Mabes Polri atas tuduhan terlibat kasus terorisme. Namun, saat dipulangkan Suratmi hanya dipertemukan dengan jasad Siyono.

“Saya sangat yakin bahwa suami saya ini tidak bersalah,” ucap Suratmi kepada Jurniscom di kediamannya, Desa Brengkungan, Pogung, Cawas, Klaten, Kamis (9/3/2017).

Sambil menahan air mata Suratmi bercerita, banyak pihak yang merayunya untuk menutup kasus tersebut dengan iming-iming akan diberi penghidupan dia dan keluarganya. Namun, tekadnya bulat untuk memperjuangkan kasus tersebut hingga ia menemukan keadilan untuk nyawa suaminya yang telah terampas tanpa alasan yang jelas.

“Banyak yang bujuk saya dengan ingin memberi dana dan butuhnya saya berapa akan di kasih mungkin mereka ingin agar kasus ini agar tidak dilanjutkan. Banyak juga yang mendatangi pihak keluarga saya agar dapat membujuk saya agar mau menerima uang yang diberikan, berarti kan memang ada yang disembuyikan oleh mereka, makanya saya tetap menolak,” ujar Ibu dari 5 orang anak ini.

Tekad untuk mencari keadilan dengan melanjutkan kasus tersebut telah menghujam dalam diri Suratmi dan keluarga. Meski ia sadari hukum seringkali tak berpihak pada rakyat kecil seperti dirinya.

Meski kepergian suaminya yang tidak wajar itu telah ia ikhlaskan, namun tekad Suratmi dan keluarga untuk terus memperjuangkan haknya hingga keadilan ditegakkan.

“Saya berdoa agar kasus ini dilanjutkan kami ingin menuntut keadilan dan buktikan kalau memang suami saya bersalah, kalau keadilan tidak ditegakkan dan kebenaran tidak diungkapkan maka umat Islam lain akan merasakan kedzoliman seperti yang dirasakan suami saya,” tutup Suratmi berderai air mata.

Kini Suratmi harus menggeser peran sang suami untuk menafkahi lima anaknya yang masih kecil-kecil. Suratmi juga harus melanjutkan cita-cita mulia sang suami, yaitu menjaga anak-anak didik di TPQ yang telah mereka rintis bersama.

Reporter: Arie Ristyan