Serangan Udara NATO Hantam Rumah Sakit di Kunduz

Serangan Udara NATO Hantam Rumah Sakit di Kunduz

KUNDUZ (Jurnalislam.com) – Dokter Lintas Perbatasan (Doctors Without Borders/MSF) mengatakan bahwa sedikitnya sembilan dari stafnya telah tewas dalam pemboman semalam di rumah sakit di kota Kunduz, Afghanistan, Aljazeera melaporkan, Kamis (03/10/2015).

37 orang lainnya terluka dalam serangan itu, termasuk 19 staf MSF, sebuah organisasi medis amal mengatakan kepada Al Jazeera.

NATO mengatakan pada hari Jumat malam bahwa serangan udara AS “kemungkinan” menghantam rumah sakit, yang dijalankan oleh badan medis amal, menambahkan bahwa serangan itu kemungkinan juga mengakibatkan kerusakan.

Seorang juru bicara MSF mengatakan kepada Al Jazeera bahwa jumlah korban tewas kemungkinan akan meningkat, karena situasi di rumah sakit yang rusak menghambat pengumpulan informasi.

“Pengeboman terjadi di asrama rumah sakit, yang menjelaskan mengapa sejauh ini hanya menemukan korban meninggal adalah staf kami bukan pasien,” kata juru bicara MSF, Dalila Mahdawi.

Rumah sakit MSF dipandang sebagai penyelamat medis utama di wilayah ini, dan sudah beroperasi “melebihi kapasitas” dalam beberapa hari terakhir saat pertempuran  di Kunduz meningkat selama beberapa hari.

“Pada pukul 02:10 (20:40 GMT) waktu setempat … pusat trauma MSF di Kunduz dihantam pengeboman beberapa kali dan menimbulkan kerusakan yang sangat buruk,” kata MSF dalam sebuah pernyataan, Jumat.

Pada saat pengeboman, 105 pasien dan perawat mereka dan lebih dari 80 staf internasional dan nasional MSF berada di rumah sakit, kata badan amal itu.

NATO mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pasukan AS melakukan serangan udara di Kunduz pada pukul 2:15 pagi waktu setempat “terhadap individu yang mengancam kekuatan”.

“Serangan mungkin telah mengakibatkan kerusakan pada fasilitas medis terdekat. Kejadian ini sedang diselidiki,” kata pernyataan itu.

MSF mengatakan bahwa mereka berulang kali memberi koordinat rumah sakit kepada pasukan Afghanistan dan AS untuk menghindari ditargetkan dalam baku tembak.

“Kami selalu mengkomunikasikan lokasi rumah sakit Kunduz yang tepat kepada semua pihak di beberapa kesempatan selama bulan terakhir,” seperti juga awal pekan ini, MSF mengatakan di Twitter.

Dalam sebuah pernyataan, Taliban mengatakan “pasukan barbar Amerika” sengaja melakukan serangan hari Sabtu, yang “membunuh dan melukai puluhan dokter, perawat dan pasien”.

Trauma center MSF di Kunduz adalah satu-satunya fasilitas medis di wilayah tersebut yang dapat menangani luka berat.

Reporter Al Jazeera Qais Azimy, melaporkan dari Puli Khumri, sekitar 130 km dari Kunduz, bahwa pemboman itu melukai sedikitnya 50 orang.

Setelah serangan itu, badan amal medis mendesak semua pihak yang terlibat dalam pertempuran untuk menghormati keselamatan fasilitas kesehatan, pasien dan staf.

Serangan itu terjadi sehari setelah pemerintah Afghanistan mengklaim telah berhasil merebut kembali sebagian wilayah Kunduz dari mujahidin  Taliban yang menguasai kota tersebut sejak Senin.

Namun Taliban tetap mengendalikan Kunduz, kata wartawan kami.

Kerugian dalam pertempuran itu tidak diketahui tepat, namun otoritas kesehatan mengatakan pada hari Jumat bahwa setidaknya 60 orang tewas dan 400 lainnya terluka.

Saat pertempuran menyebar di provinsi tetangga Badakhshan, Takhar dan Baghlan, bahwa dikuasainya Kunduz hanyalah langkah pembukaan pertama dalam strategi baru Taliban yang berani untuk membebaskan wilayah Afghanistan utara dari cengkraman NATO.

Serangan Taliban di Kunduz, merupakan keberhasilan taktis terbesar sejak tahun 2001, menandai pukulan besar bagi pasukan Afghanistan yang dilatih Barat, yang sebagian besar telah berperang tanpa bantuan pasukan NATO sejak Desember lalu.

Korban sipil dan militer yang disebabkan oleh pasukan NATO telah menjadi salah satu isu yang paling diperdebatkan dalam serangan selama 14  tahun terhadap Taliban, sehingga kritik publik dan pemerintah mulai keras terhadap NATO.

Pasukan NATO pimpinan AS mengakhiri misi tempur mereka di Afghanistan Desember lalu, meskipun menyisakan kekuatan 13.000 pasukan untuk pelatihan dan operasi melawan mujahidin Taliban.

Meskipun ada penarikan pasukannya, tapi telah terjadi eskalasi serangan udara oleh pasukan NATO dalam beberapa bulan terakhir di Afghanistan.

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

 

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X