YAMAN (Jurnalislam.com) – Pemberontak Syiah Houthi di Yaman menahan puluhan wartawan berhari-hari di sebuah stasiun televisi di ibukota tersebut dan sebuah badan pengawas media menuntut pembebasan mereka dengan segera.
Menurut Reporters Without Borders (RSF), pemberontak meluncurkan granat berpeluncur roket di markas saluran televisi Yaman, Al Youm, di Sanaa pada hari Sabtu sebelum menyerbu stasiun tersebut dan menyandera 41 karyawan di dalamnya.
Tiga petugas keamanan terluka dalam serangan tersebut, kelompok tersebut mengutip sumber diplomatik.
“Kami mengecam tindakan kekerasan terhadap wartawan oleh Houthi, yang merupakan pelanggaran serius terhadap Konvensi Jenewa,” kata Alexandra El Khazen, kepala RSF Timur Tengah, lansir Aljazeera, Selasa (5/12/2017).
“Penyanderaan ini khas iklim permusuhan di Yaman terhadap wartawan yang sering menjadi sasaran konflik. Kami meminta pemberontak Houthi untuk segera membebaskan wartawan saluran TV tersebut.”
Mantan Presiden Yaman Tewas Dibunuh oleh Syiah Houthi Sekutunya Sendiri
Serangan dan penyanderaan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan setelah pasukan yang setia kepada mantan presiden Ali Abdullah Saleh memutuskan hubungan dengan Houthi, memicu pertempuran senjata dan tembakan artileri di ibu kota.
Sedikitnya 234 orang telah terbunuh dan lebih dari 400 lainnya cedera dalam pertempuran di Sanaa sejak awal bulan ini, Komite Internasional Palang Merah (the International Committee of the Red Cross-ICRC) mengatakan pada hari Selasa.
Kendaraan Saleh mendapat serangan RPG pada hari Senin dan dia kemudian ditembak mati, menimbulkan pertanyaan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya dalam perang tiga tahun yang telah menewaskan sedikitnya 10.000 orang tersebut.
Al Youm TV Yaman berafiliasi dengan Kongres Rakyat Umum, partai Saleh.
Sumber RSF mengatakan bahwa para wartawan dipaksa untuk menyerahkan kode akses saluran TV, untuk memungkinkan Houthi menyiarkan berita mereka sendiri.
Yaman berada di peringkat 166 dari 180 negara dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia 2017 menurut RSF.
Konflik berdarah membuat Yaman menderita bencana kemanusiaan paling dahsyat di dunia dengan jutaan orang menghadapi kelaparan. Sebuah koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi yang memerangi Houthi terus memblokade sebagian besar negara tersebut.
Wabah penyakit juga lazim terjadi dengan sedikitnya 2.000 tewas akibat kolera dan ratusan ribu orang Yaman lainnya terserang.