Responsive image

Pemimpin Tertinggi Intelijen Suriah Tewas Dihantam Bom di Homs

Pemimpin Tertinggi Intelijen Suriah Tewas Dihantam Bom di Homs

SURIAH (Jurnalislam.com) – Kepala intelijen militer Suriah adalah salah satu dari 32 orang yang tewas dalam serangkaian serangan martir di instalasi militer di barat kota Homs yang dikuasai rezim Suriah.

Kematian Jenderal Hassan Daabul – tokoh kepercayaan yang dekat dengan Bashar al-Assad – dalam pemboman Sabtu kemarin (25/02/2017) dilaporkan oleh televisi negara Suriah.

Seorang saksi mengatakan bahwa seorang pembom masuk ke kantor Daabul dan meledakkan bahan peledak.

Brigadir Ibrahim Darwish, kepala Cabang Militer Negara, juga terluka kritis, Al Ikhbariya TV yang berafiliasi denganrezim melaporkan.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (The Syrian Observatory for Human Rights-SOHR) yang berbasis di Inggris mengatakan serangan udara oleh pasukan rezim Assad menewaskan 13 orang di seluruh negeri, termasuk sedikitnya tiga orang di al-Waer, kantong oposisi Homs.

Serangan itu terjadi saat negosiator melanjutkan pembicaraan untuk hari kedua di Jenewa, Swiss.

Berbicara kepada Al Jazeera di Jenewa, Issam al-Reis, juru bicara untuk cabang selatan dari Tentara Pembebasan Suriah (the Free Syrian Army-FSA), mengatakan rezim Nushairiyah Assad meluncurkan serangan untuk mempengaruhi pembicaraan Jenewa.

“Selama pembicaraan Jenewa terakhir ledakan terjadi di wilayah pemerintah Sayyda Zeinab, tapi sekarang kita sedang berbicara tentang cabang-cabang militer dan pertahanan, yang merupakan zona militer di dalam Green Zone [Homs]. Tidak ada yang diperbolehkan untuk memasuki bahkan mendekati wilayah tersebut,” katanya.

“Jadi jelas bahwa perintah membuat ledakan ini datang dari cabang yang sama karena semakin kuatnya tekanan terhadap rezim untuk mendukung gencatan senjata kemungkinan telah mendorong rezim mencari alasan untuk melancarkan serangan.”

Talal Barzani, gubernur provinsi Homs, mengatakan total ada tiga ledakan, menewaskan 32 orang dan melukai lebih dari 20 lainnya.

SOHR, yang menyebutkan korban di Homs berjumlah 42, mengatakan ledakan keras dan tembakan terdengar setelah serangan itu.

“Ada sedikitnya enam penyerang dan beberapa dari mereka meledakkan diri di dekat markas pertahanan negara dan intelijen militer,” Rami Abdel Rahman, direktur SOHR, mengatakan kepada kantor berita AFP.

Kelompok bersenjata terlibat dalam pertempuran senjata panjang dengan perwira intelijen sebelum meledakkan rompi peledak mereka.

Steffan de Mistura, utusan PBB untuk Suriah, mengatakan bahwa ia menduga “spoilers” mencoba untuk menggagalkan negosiasi.

“Sayangnya saya memperkirakan mereka itu spoiler untuk mengganggu pembicaraan ini,” katanya.

“Setiap kali kami melakukan pembicaraan atau negosiasi, selalu ada seseorang yang mencoba merusaknya. Kami telah menduganya.”

Homs telah berada di bawah kontrol penuh rezim Suriah sejak Mei 2014 ketika oposisi mundur dari pusat kota di bawah gencatan senjata yang ditengahi PBB.

Namun, terjadi pemboman berulang sejak saat itu: pemboman ganda menewaskan 64 orang awal tahun lalu.

 

Bagikan
Close X