Responsive image

PBB: Serangan Terbaru di Mosul Memungkinkan 250.000 Warga akan Mengungsi

PBB: Serangan Terbaru di Mosul Memungkinkan 250.000 Warga akan Mengungsi

MOSUL (Jurnalislam.com) – Sebuah serangan baru kepada kelompok Islamic State (IS) di kota Irak Mosul bisa memaksa 250.000 warga sipil melarikan diri, jika mereka dapat menemukan jalan keluar, badan pengungsi PBB UNHCR mengatakan, Jumat (03/02/2017), lansir Al Arabiya News Channel.

Eksodus tersebut kemungkinan kira-kira berjumlah melebihi 162.000 orang yang sudah mengungsi dengan adanya upaya pemerintah Irak untuk merebut kembali kota sejak Oktober. Jumlah tersebut, meskipun tinggi, tetap jauh di bawah rencana kontingensi awal UNHCR, yang mengantisipasi jutaan orang atau lebih melarikan diri dari kota.

“Sebanyak 250.000 warga Irak bisa mengungsi dari rumah mereka dengan perkiraan jumlah tersebut akan berlipat ganda akibat konflik di Mosul barat yang padat penduduk,” kata juru bicara UNHCR Matthew Saltmarsh.

Pertempuran yang diperkirakan akan semakin intensif di sekitar Hawija, 130 km sebelah tenggara dari Mosul, bisa mengakibatkan 114.000 warga lainnya mengungsi, menambah 82.000 yang telah melarikan diri sejak Agustus, beresiko mengalami penyergapan dan kematian.

Dalam operasi militer terbesar Irak sejak jatuhnya Saddam Hussein pada tahun 2003, pasukan Irak telah merebut kembali sebagian besar Mosul timur. Tapi mereka belum menyeberangi sungai Tigris, meninggalkan bagian barat berada di tangan IS.

Perwakilan Khusus PBB untuk Irak Jan Kubis mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB pada hari Kamis bahwa merebut kembali Mosul barat akan menjadi tantangan besar, karena operasi akan berlangsung di wiayah perkotaan yang kompleks.

“Tidak diragukan bahwa warga sipil yang akan mengalami resiko ekstrim saat pertempuran dimulai di bagian barat Mosul,” katanya.

“Mitra Kemanusiaan akan menguatkan untuk berbagai skenario yang mungkin terjadi di wilayah barat, termasuk kemungkinan eksodus massal, kondisi seperti pengepungan yang berkepanjangan, atau evakuasi bertahap yang dikelola oleh Pasukan Militer Irak,” lanjutnya.

“Namun saya mengungkapkan keprihatinan saya atas laporan mengganggu mengenai penjarahan dan perusakan harta benda penduduk sipil, dan penjarahan bantuan kemanusiaan oleh kelompok-kelompok bersenjata yang beroperasi dalam mendukung Pasukan Irak, khususnya oleh beberapa kelompok perlawanan lokal.”

Ratusan warga sipil diduga menghilang dalam pertempuran sebelumnya, pada saat merebut kota Fallujah, dan pemerintah Irak masih belum menerbitkan temuan mereka mengenai apa yang terjadi di sana, katanya.

Bagikan
Close X