PBB: Assad Menargetkan Sumber Air di Damaskus adalah Kejahatan Perang

PBB: Assad Menargetkan Sumber Air di Damaskus adalah Kejahatan Perang

JENEWA (Jurnalislam.com) – Lima setengah juta orang di Damaskus kini menderita kekurangan air, PBB, Kamis (05/01/2017), memperingatkan bahwa menargetkan sumber air merupakan “kejahatan perang”.

“Di Damaskus sendiri, persediaan air bagi 5,5 juta orang warganya dipotong atau diminimalkan,” kepala satuan tugas kemanusiaan yang didukung PBB untuk Suriah, Jan Egeland, mengatakan kepada wartawan di Jenewa, Aljazeera melaporkan, Kamis.

Air di daerah Wadi Barada yang dikuasai oposisi, yang terletak dekat Damaskus, telah dihentikan sejak 22 Desember, menyebabkan kekurangan parah.

PBB sebelumnya mengatakan krisis itu mempengaruhi empat juta orang di ibukota Suriah.

Rezim dan oposisi saling tuduh, dan Egeland mengatakan PBB sejauh ini tidak dapat mengakses sumber air yang rusak untuk menentukan pihak mana yang harus disalahkan.

Pasukan rezim Nushairiyah yang didukung oleh kelompok Syiah Hizbullah Lebanon berusaha untuk merebut kembali Wadi Barada bahkan saat gencatan senjata nasional telah membawa ketenangan di bagian lain Suriah dalam persiapan untuk perundingan perdamaian baru.

Egeland mengatakan sumber air telah “rusak karena dihancurkan atau karena sabotase atau karena keduanya.”

“Kami ingin pergi ke sana, kami ingin menyelidiki apa yang terjadi, tapi pertama dan terutama kami ingin mengembalikan air,” katanya, memperingatkan bahwa konsekuensi pemotongan air sangatlah “dramatis”.

Dia menekankan bahwa “sabotase dan memutus air tentu saja merupakan kejahatan perang,” kata Egeland, menunjukkan bahwa langkah tersebut terutama akan berdampak bagi warga sipil “yang meminumnya dan … yang akan terkena penyakit yang ditularkan melalui air … jika tidak dikembalikan.”

Egeland juga mencela bahwa gencatan senjata rapuh selama sepekan di Suriah belum memberi lebih banyak akses bagi pekerja kemanusiaan.

“Saya kecewa bahwa walaupun sudah ada penghentian perperangan … tidak meningkatkan akses kami untuk memberikan bantuan “, katanya.

Dia menyerukan kepada pendukung utama gencatan senjata, Rusia dan Turki, untuk membantu memfasilitasi akses kemanusiaan yang sangat dibutuhkan.

Sementara itu utusan perdamaian PBB untuk Suriah Staffan de Mistura menyuarakan optimisme bahwa gencatan senjata dan perundingan yang diselenggarakan oleh Rusia dan Turki dan direncanakan untuk dimulai di Astana pada tanggal 23 Januari bisa membantu menciptakan momentum bagi proses perdamaian yang didukung PBB.

“Kami percaya bahwa setiap usaha konsolidasi … penghentian pertempuran dan membantu dalam menyiapkan diskusi (didukung PBB) yang akan berlangsung di sini di Jenewa pada bulan Februari tentu diterima,” katanya kepada wartawan.

“Kami berencana untuk menghadiri … dan kami akan memberikan kontribusi,” kata de Mistura, yang mengatakan ia akan meluncurkan kembali pembicaraan damai Suriah yang didukung PBB pada tanggal 8 Februari.

Lebih dari 400.000 orang telah tewas di Suriah dan lebih dari setengah warga negara mengungsi sejak konflik dimulai pada Maret 2011.

Bagikan
Close X