Partai Sayap Kanan Jerman Meningkat, Kaum Muslim di Jerman Terancam

28 September 2017
Partai Sayap Kanan Jerman Meningkat, Kaum Muslim di Jerman Terancam

BERLIN (Jurnalislam.com) – Kaum Muslim Jerman menyuarakan keprihatinan atas meningkatnya partai sayap kanan Alternatif untuk Jerman (AfD) di pemilihan federal hari Ahad.

Aiman ​​Mazyek, yang memimpin Dewan Pusat Muslim di Jerman (ZMD), mengatakan bahwa mereka khawatir meningkatnya diskriminasi dan kekerasan setelah AfD menjadi partai terbesar ketiga.

“AfD telah mengubah iklim politik, dan sekarang meracuni,” katanya kepada Anadolu Agency, Rabu (27/9/2017).

“Tentu saja kita memiliki beberapa ketakutan. Kami khawatir dengan serangan yang menargetkan Muslim, yang telah meningkat ke tingkat yang mengkhawatirkan di Jerman,” katanya.

AfD mengadopsi retorika anti-Islam secara eksplisit selama kampanye pemilihan dan berpendapat bahwa negara tersebut berada di bawah ancaman “islamisasi” terutama setelah hampir satu juta pengungsi, kebanyakan berasal dari Suriah dan Irak, tiba sejak tahun 2015.

Mazyek mengatakan propaganda anti-Islam AfD dapat menyebabkan meningkatnya diskriminasi terhadap umat Islam dalam beberapa hari mendatang dan juga mendorong ekstrimis untuk melakukan serangan yang menargetkan masjid.

Jerman adalah rumah bagi hampir 4,7 juta Muslim, dan tiga juta berasal dari Turki. Banyak dari mereka adalah generasi kedua atau ketiga keluarga Turki yang bermigrasi ke Jerman pada tahun 1960an dan terintegrasi dengan baik.

Werner Klauner, Mantan Ekstremis Kanan Jerman, Kini Masuk Islam dengan Nama Ibrahim

AfD menyerang kebijakan pintu terbuka Kanselir Angela Merkel untuk para pengungsi selama kampanye pemilihannya dan para pemimpinnya berulang kali berargumen bahwa Islam tidak termasuk di Jerman.

Mazyek mengatakan bahwa diskusi publik tentang pengungsi, Muslim dan Islam dalam beberapa tahun terakhir berkontribusi pada bangkitnya AfD, yang berhasil melewati ambang batas pemilihan nasional yaitu 5 persen.

“Kaum sayap kanan dan ekstrimis telah mengeksploitasi debat tak berujung tentang pengungsi, Islam atau Turki,” katanya, mengacu pada liputan media yang sering negatif tentang pengungsi dan umat Islam.

Mazyek menggarisbawahi bahwa selama debat pra-pemilu, masalah nyata pada masalah keamanan sosial, pensiun atau pengangguran sering terbengkalai.

AfD telah menjadi partai terkuat ketiga di Bundestag setelah memenangkan 12,6 persen suara dalam pemilihan hari Ahad, memperoleh 94 dari 709 kursi.

Mazyek mendesak partai-partai arus utama untuk tidak beralih ke retorika populis AfD yang sama, namun bersikap tegas menentang partai tersebut.

“Tujuan akhir dari AfD adalah untuk menghapuskan sistem demokrasi liberal kita. Mereka ingin punya republik baru,” dia mengingatkan.