Mahfud Klaim Presiden Minta Program Deradikalisasi

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Mahfud MD mengatakan, akan menjalankan program deradikalisasi.

Hal tersebut merupakan pesan Presiden Joko Widodo dalam menghadapi paham radikalisme yang terjadi di Indonesia.

“Itu salah satu pesan presiden, kita diminta melakukan deradikalisasi,” kata Mahfud di Kompleks Kantor Gubernur DIY, Yogyakarta, Senin (28/10/2019).

Ia menegaskan, kelompok radikal bukan berarti orang Islam.

Ia pun mengajak agar pemikiran bahwa orang yang radikal merupakan orang Islam untuk diubah.

“Kelompok radikal itu bisa Islam bisa tidak. Dimana-mana banyak orang radikal. Oleh sebab itu jangan dibelok-belokkan. Karena radikalisme bukan orang Islam juga, jadi jangan dikacaukan,” katanya.

Ia menjelaskan, radikalisme berarti gerakan atau paham yang ingin menawarkan alternatif lain terhadap ideologi dengan cara kekerasan. Untuk itu perlu adanya upaya deradikalisasi.

“Radikal itu lawannya gradual. Gradual itu bertahap,” lanjut Mahfud.

Sumber: republika.co.id

Hari Sumpah Pemuda, Mendikbud Nadiem Soroti Pornografi hingga Pergaulan Bebas

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim memimpin upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda yang bertepatan dengan hari ini, Senin 28 Oktober 2019 di depan Gedung A Kemendikbud, Jakarta.

Dalam pidatonya, Nadiem menegaskan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para tokoh pemuda tahun 1928 yang telah mendeklarasikan Sumpah Pemuda.

Sehingga menjadi pelopor untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia, sekaligus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dia mengatakan, pesatnya perkembangan teknologi informasi seperti dua mata pisau.

Di satu sisi dia memberikan kecepatan informasi sehingga pemuda Indonesia dapat meningkatkan kapasitas kemampuan dalam pengembangan sumber daya dan daya saing.

Namun di sisi lain, katanya, perkembangan ini memiliki dampak negatif, yakni informasi destruktif mulai dari pornografi, narkoba, hingga pergaulan bebas.

“Pemuda yg memiliki karakter tangguh adalah yang karakter bermoral dan kinerja. Pemuda yang beriman dan bertakwa dan berintegritas tinggi jujur bertanggung jawab disiplin kerja ikhlas. Tuntas. Pemuda harus intelektual dan skill kepemimpinan. Kewirausahaan dan Kepeloporan yang mumpuni. Pemuda haru berperan aktif dalam kancah internasional,” kata Nadiem, Senin (28/10/2019).

Pendiri Gojek ini juga menegaskan saat ini di belahan dunia lahir generasi pemuda yang punya pola pikir yang cenderung cepat serba instan, cenderung individualistik dan dramatik.

sumber:cnbcindonesia.com

Nadiem Makarim: Pemuda Karakter Tangguh Itu Bermoral, Beriman, dan Bertakwa

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim memimpin upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda yang bertepatan dengan hari ini, Senin 28 Oktober 2019 di depan Gedung A Kemendikbud, Jakarta.

Dia mengatakan, pesatnya perkembangan teknologi informasi seperti dua mata pisau.

Di satu sisi dia memberikan kecepatan informasi sehingga pemuda Indonesia dapat meningkatkan kapasitas kemampuan dalam pengembangan sumber daya dan daya saing.Namun di sisi lain, katanya, perkembangan ini memiliki dampak negatif, yakni informasi destruktif mulai dari pornografi, narkoba, hingga pergaulan bebas.

“Pemuda yg memiliki karakter tangguh adalah yang karakter bermoral dan kinerja. Pemuda yang beriman dan bertakwa dan berintegritas tinggi jujur bertanggung jawab disiplin kerja ikhlas. Tuntas. Pemuda harus intelektual dan skill kepemimpinan. Kewirausahaan dan Kepeloporan yang mumpuni. Pemuda haru berperan aktif dalam kancah internasional,” kata Nadiem, Senin (28/10/2019).

Pendiri Gojek ini juga menegaskan saat ini di belahan dunia lahir generasi pemuda yang punya pola pikir yang cenderung cepat serba instan, cenderung individualistik dan dramatik.

“Ilmu pengetahuan dan teknologi serta mudahnya akses pada sosmed telah menjelma jadi tempat favorit berkumpulnya pemuda lintas agama. Interaksi mereka di medsos real time 24 jam dan di sini diharapkan peran pemuda dapat bersaing secara dalam hal positif,”katanya.

sumber:cnbcindonesia.com

Ricuh 22 Mei, Komnas HAM Sebut Polri Lemah dalam Keadilan dan Manajemen Penyelidikan

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Peristiwa kerusuhan 21-22 Mei 2019 lalu masih menyisakan banyak pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia ( Komnas HAM) mengungkap hasil investigasi tim pencari fakta terkait peristiwa kerusuhan pada bulan Mei yang terjadi di sejumlah titik di pusat Jakarta.

Adapun hasil temuan disimpulkan dalam beberapa poin, diantaranya pertama, dalam kerusuhan Mei lalu terdapat 10 warga sipil meninggal dunia. 9 orang korban berasal dari Jakarta, dan satu orang di kota Pontianak.

“Empat korban dari 10 orang yang meninggal adalah anak-anak,” ujar Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara dalam konferensi pers di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Senin (28/10).

Kedua, TPF Komnas HAM RI menerima laporan dari masyarakat, jika pasca peristiwa 21-23 Mei lalu, sebanyak 70 orang diduga hilang, kemudian menyusut menjadi 32 orang.

“Ke 32 korban tersebut ada yang ditangkap dan ditahan oleh Polri. TPF Komnas HAM berpendapat, bahwa munculnya laporan ini dikarenakan lemahnya keadilan dan manajemen penyidikan Polri. Sampai saat ini masih ada korban yang belum memberikan keterangan kepada kami. Salah satu kesulitan kami untuk melakukan pengecekan, karena mereka tidak memberikan data dan alamat yang jelas,” ujar Beka.

Ketiga, terkait peristiwa 21-23 Mei, ada seorang ‘master mind’ yang membuat aksi orasi menjadi jadi aksi rusuh.

”Kami menduga ada pihak yang ingin membuat instabilitas keamanan. Kita semua tahu jika aksi demo telah selesai jam 9 malam. Setelah itu, mulai terjadi kerusuhan,” papar Beka.

Terkait dugaan tersebut, TPF Komnas HAM akan mengirimkan secara resmi temuan fakta-fakta yang ada kepada Presiden dan Kapolri.

Dengan harapan peristiwa serupa tidak terulang kembali, serta untuk kedepannya aksi demonstrasi bisa dilakukan secara damai agar tidak ada yang menunggangi dan memanfaatkan dalam konteks politik.

Ricuh 22 Mei, Komnas HAM: 32 Korban Hilang, 10 Tewas, 4 Diantaranya Anak-anak

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Peristiwa kerusuhan 21-22 Mei 2019 lalu masih menyisakan banyak pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia ( Komnas HAM) mengungkap hasil investigasi tim pencari fakta terkait peristiwa kerusuhan pada bulan Mei yang terjadi di sejumlah titik di pusat Jakarta.

Adapun hasil temuan disimpulkan dalam beberapa poin, diantaranya pertama, dalam kerusuhan Mei lalu terdapat 10 warga sipil meninggal dunia. 9 orang korban berasal dari Jakarta, dan satu orang di kota Pontianak.

“Empat korban dari 10 orang yang meninggal adalah anak-anak,” ujar Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara dalam konferensi pers di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Senin (28/10).

Kedua, TPF Komnas HAM RI menerima laporan dari masyarakat.

Jika pasca peristiwa 21-23 Mei lalu, sebanyak 70 orang diduga hilang, kemudian menyusut menjadi 32 orang.

Kasus RIcuh 22 Mei, Komnas HAM Kirim Rekomendasi Kepada 6 Institusi

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Komnas HAM mengirimkan rekomendasi untuk enam institusi terkait fakta-fakta dari kericuhan pesta demokrasi 21-23 Mei 2019.

“Hari ini kami kirimkan secara resmi temuan rekomendasi fakta-fakta yang ada agar bisa ditindaklanjuti,” kata Wakil Ketua Komnas HAM Beka Ulung Hapsara, di Jakarta, Senin (28/10).

Rekomendasi pertama dikirimkan ke Presiden Joko Widodo, supaya mengupayakan dan mengambil Iangkah-langkah strategis untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa dengan Peristiwa 21-23 Mei 2019.
Presiden perlu memastikan institusi Polri menindaklanjuti proses hukum terhadap semua pelaku yang telah mendorong terjadinya kekerasan.

Dalam rekomendasi tersebut juga berisi agar pemerintah membenahi sistem Pemilu dan Pilpres agar menjadi lebih baik dan ramah HAM, terutama mendorong partai-partai Politik untuk Iebih mengutamakan program politik dan mencegah penyebaran kebencian (hate speech).

Rekomendasi kedua dikirimkan ke Kepolisian RI, agar polisi mengungkap pelaku utama yang merancang dan bertanggung jawab atas terjadinya kekerasan dalam peristiwa tersebut.

Kepolisian juga direkomendasikan supaya melanjutkan penyelidikan dan penyidikan atas jatuhnya 10 orang korban jiwa, sampai pelaku penembakan dan penyokong aksi penembakan tersebut terungkap.

“Hal ini untuk mencegah terus berkeliarannya pemegang senjata api gelap di tengah masyarakat. Polisi juga harus memberikan sanksi dan hukuman kepada anggota Polri yang melakukan tindakan dan kekerasan yang berlebihan di Iuar kepatutan,” kata dia.

Polri lanjut dia, juga perlu meningkatkan pengetahuan dan kapasitas anggotanya dalam menangani aksi demonstrasi dan kerusuhan massa sehingga mampu mencegah terjadinya pelanggaran hak asasi manusia.

Kementrian

Kemudian, Komnas HAM merekomendasikan agar Menteri Kesehatan RI untuk menyediakan pelayanan di tiap-tiap rumah sakit guna memastikan pelayanan di situasi politik krisis.

“Rekomendasi keempat, Menteri Komunikasi dan Informasi RI perlu meningkatkan peran sebagai lembaga pengelola dan penyedia informasi yang otoritatif dan kredibel sehingga bisa menjadi acuan oleh masyarakat di saat-saat kritikal serta bisa menangkal sebaran hoaks,” katanya.

Rekomendasi kelima, Komisi Pemilihan Umum sebagai penyelenggara menurut dia, perlu lebih cermat dan responsif dalam penyelenggaraan pemilihan umum supaya aspirasi dan keluhan masyarakat bisa tersalurkan melalui mekanisme demokrasi yang tersedia.

Kemudian rekomendasi terakhir dikirimkan ke Gubernur DKI Jakarta agar memastikan adanya standar operasional prosedur layanan kesehatan dalam situasi tertentu sehingga korban bisa tertangani secara prima.

Dari Ngopi Hingga Konvoi Saat Dinihari Bersama Bikers Subuhan Sukoharjo

SUKOHARJO (Jurnalislam.com)- Meminum kopi dipercaya dapat bisa meningkatkan fungsi otak dan memperbaiki mood, selain itu kandungan kafein dari kopi juga bisa membantu kita untuk tidak ngantuk saat menggerjakan tugas tugas yang kita akan kerjakan.

 

Segelas kopi rasanya sangat pas saat kita minum di sore hari ketika cuaca dingin mulai datang dengan pergantian menuju malam. Namun bagaimana rasanya ketika kita meminum kopi disaat dinihari atau lebih tepatnya ketika sebelum melaksanakan shalat subuh. Heemm, seperti apa rasanya ya…!!

 

Adalah komunitas hijrah Bikers Subuhan Sukoharjo yang selalu melalukan kegiatan sedekah kopi gratis pada saat bada subuh menjelang, secara rutin setiap ahad, puluhan anggotanya berkumpul dan melakukan konvoi menuju lokasi kajian kemudian memberikan sedekah kopi pada jamaah masjid tersebut.

 

Seperti pada ahad, (27/10/2019) puluhan anggota BS Sukoharjo berkumpul di Masjid Agung Baiturrahman Sukoharjo sejak pukul 03.00 Wib kemudian menuju Masjid Sarmad di jalan Kranon dusun III, Blimbing, Gatak, Sukoharjo untuk subuh berjamaah kemudian dilanjutkan dengan kajian bersama pembina Da’i Salimah Sukoharjo ustaz Surawijaya.

 

Dalam komunitas BS Sukoharjo, peserta yang ingin bergabung dalam kegiatan dakwah BS cukup hanya mempunyai motor dan tidak dibatasi oleh merk dan jenis motor tertentu.

 

Aang Demmy Prihadi ketua Bikers Subuhan Sukoharjo menyebut bila Kopi Subuhan (BS) merupakan bentuk dakwah kreatif dari komunitas BS Sukoharjo untuk kaum muslimin khususnya di wilayah Sukoharjo.

 

“Kenapa namanya Kopi Subuhan,? karena kami dari Komunitas Bikers Subuhan dan di kopi subuhan itu juga ada dakwahnya, jadi disitu dituliskan minumlah dan jangan ditiup bila panas, bacalah basmalah dan minum sambil duduk, itu salah satunya,” katanya kepada jurnalislam.com beberapa waktu yang lalu.

Sedekah Kopi Gratis

Dalam sedekah kopi gratis, Aang mengaku menyiapkan ratusan hingga ribuan cup dalam setiap event yang diikuti, tak hanya saat ahad pagi, BS Sukoharjo juga aktif membersamai kegiatan kegiatan dakwah yang ada di wilayah Sukoharjo dan sekitarnya.

 

Cara unik juga dilakukan oleh Aang dan kawan kawan dalam kegiatan sedekah kopi, yakni dengan konsep Foodtruck yang didesain sedemikian rupa hingga akhirnya bisa digunakan untuk mensuport kegiatan kegiatan sedekah Kopi di  Sukoharjo.

 

“Karena ini salah satu cara dakwah kami untuk merangkul generasi milenial untuk kejalan Allah, dan yang kami lakukan safar Subuh setiap ahad dan insyaallah lita siap safar suport kopi ini dan tidak hanya subuhan saja tapi juga kajian kajian yang ada di sukoharjo kami siap untuk suport dan meramaikan,” ungkap Aang.

 

Aang berharap dengan apa yang dilakukannya tersebut bisa menarik minat umat Islam khususnya generasi milenial untuk kembali pada jalan Islam yang diridhoi Allah.

 

“Selain kopi subuhan, ini juga ada foodtruck, untuk kopi ini dan dengan foodtruck ini diharapkan menarik generasi milenial untuk bergabung kedalam kegiatan kami dan insyaalah kegiatan ini lillah,” imbuhnya.

Punk Muslim Ajak Pemuda Lawan Pemikiran yang Bertentangan dengan Nilai Tauhid dan Pancasila

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Pembina Komunitas Punk Muslim Surabaya, Aditya Abdurrahman angkat bicara soal esensi dan makna peringatan 91 tahun Sumpah Pemuda yang diperingati tepat pada hari ini.

Menurutnya, sebagai pemuda khususnya pemuda muslim, hari ini adalah momentum yang tepat untuk bersatu.

“Mengingat bagaimana pemuda bisa berkumpul dan berkomitmen bersama dalam bersatu, berukhuwah, agar menjadi kekuatan yang bisa membentengi bangsa dan negara dari pemahaman dan ideologi yang bisa merusak pancasila,” katanya saat dihubungi Jurnalislam.com Senin (28/10/2019).

Pria bergelar Master Media Komunikasi dari Universitas Airlangga Surabaya menegaskan sudah saatnya pemuda muslim bersatu agar dapat memerangi dari ideologi yang bertentangan dengan pancasila.

Khususnya yang di dalamnya ada sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa yang merupakan ajaran Tauhid.

“Sudah saatnya pemuda Indonesia bersatu, memberantas pemikiran apapun yg bisa menjauhkan bangsa dari nilai-nilai Tauhid,” ujarnya.

Bicara Sumpah Pemuda, Haikal Hassan: Persatuan Adalah Kekuatan Bangsa

JAKARTA – Dai kondang Haikal Hassan angkat bicara soal esensi dan makna peringatan 91 tahun Sumpah Pemuda yang diperingati tepat pada hari ini. Menurutnya esensi Sumpah Pemuda adalah bagaimana menciptakan persatuan di tengah perbedaan seperti saat ini.

“Definisi bersatu harus berbeda. Artinya persatuan dan kesatuan terjadi apabila perbedaan dihargai,” katanya saat dihubungi Jurnalislam.com Senin (28/10/2019).

Dai yang akrab disapa babe tersebut menjelaskan, jadi disebut persatuan itu adalah dari berbagai perbedaan disatukan.

Itu namanya persatuan. Contohnya, saat Sumpah Pemuda dulu, dari berbagai macam bahasa mereka bisa bersatu dalam bahasa persatuan bahasa indonesia.

“Mereka dari berbagai macam suku, bisa bersatu disebut Bhinneka Tunggal Ika. Hari ini harusnya juga begitu. Saat ini ada berbagai agama tapi bisa bersayu itu namanya persatuan. Ada berbagai macam ras, golongan, partai dan organisasi kalau kita bisa bersatu ya namanya persatuan dan kesatuan,” ujarnya.

Dia menegaskan persatuan itu adalah kekuatan bangsa. Jadi persatuan dan kesatuan tercipta dari banyak perbedaan.

“Itu amanat dalam lambang burung garuda yang di bawahnya bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika,” katanya.

Warung Moerah Gelar Baksos untuk Kaum Marginal

SOLO (Jurnalislam.com)- Waroeng Murah (WM) menggelar kegiatan sosial bertajuk ‘Berbagi Kebahagiaan Wisata Gratis Pantai Depok dan Parangtritis Yogyakarta Untuk Pemulung, Gelandang dan Kaum Marjinal’ pada sabtu, (26/10/2019).

Warung Murah sendiri merupakan sebuah komunitas sosial yang sering melakukan aksi sosial kemanusiaan di wilayah Soloraya, sudah sejak tahun 2014 WM selalu membantu masyarakat ekonomi menengah kebawah dengan menyediakan makanan sehat yang dijual hanya 2000 rupiah.

Puluhan anggotanya dalam seminggu tak kurang 4 kali untuk berkeliling di wilayah pinggiran di kota solo seperti di Banjarsari, Bundaran Gladak, Pasar Gede dan wilayah pinggiran lainnya.

Setiap aksi kurang lebih WM menyediakan 200-300 porsi untuk diberikan kepada mereka yang kekurangan seperti tukang becak, pemulung, gelandangan dan kaum marjinal lainnya di kota Solo.

Owner WM Muhammad Nur Syawal menyebut salah satu dasar aksi sosial yang selalu mereka lakukan adalah 3 ayat pertama didalam surat Al Maa’un yang berbunyi.

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin,” (QS. 107 : 1-3).

Mas Nur sapaan karibnya menyebut kemiskinan yang melanda masyarakat selama ini memunculkan banyak dhuafa dan mustadhafin seperti kaum miskin, faqir, gelandangan, dan anak yatim.

Dan Islam, katanya, adalah agama yang memiliki konsep ideologi pembebasan yang berarti membela kaum-kaum tersebut.

“Ini terlihat dalam perintah dan ajaran yang diwahyukan kepada Rasulullaah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dalam Al-Quran maupun Al-Hadits, seperti yang ditulis sebelumnya. Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa hidupnya sangat dekat dengan kaum dhuafa dan mustadhafin. Beliau pun hidup sederhana,” katanya kepada jurnalislam.com ahad, (27/10/2019).

Berkembangnya komunitas seperti WM di kota Solo juga diapresiasi Mas Nur, ia bersyukur sudah banyak yang peduli kepada kaum miskin dhuafa dengan memberikan bantuan makanan dan santunan pada mereka.

Pria murah senyum yang selalu dekat dengan kaum tertinggal tersebut berinisiatif untuk mengajak berwisata kaum miskin dan dhuafa saat melakukan aksi berbagi nasi, niat tulus dan ikhlas itu pun disambut dengan antusias oleh mereka yang hidup serba dalam kekurangan tersebut.

“Lahirlah gagasan membawa dhuafa dalam 1 bus berwisata ke destinasi pantai Depok dan pantai Parangtritis Yogyakarta. Karena sebelumnya kita ngobrol dg mereka waktu kita berbagi nasi,” ungkapnya.

“Ternyata mereka juga butuh kebahagian batin bukan hanya materi saja, yaitu berwisata, setelah kita survey kebanyakan mereka minta ke Pantai Parangtritis,” imbuh Mas Nur.

Sejak pukul 05.30 wib sekitar 60 peserta yang terdiri dari pemulung, dhuafa, gelandangan dan kaum marjinal lainnya berkumpul di dekat pintu Rel Gilingan, Solo dan kemudian berangkat bersama dengan mengunakan 1 bus.

Tepat pukul 07.30 wib, rombongan sejenak berhenti di Masjid Al Aqsha Klaten untuk melaksanakan shalat dhuha dan kemudian melanjutkan perjalan menuju pantai Depok.

Dalam kegiatan berwisata gratis tersebut, panitia memberikan kaos gratis, bermain game hingga pembagian hadiah dan sembako untuk dibawa pulang. Hal itu pun membuat Mbah Pur salah satu peserta merasa sangat bahagia.

“Ya perasaan seneng, bahagia, nangis terharu karena mereka masih ada yg peduli, Karena hidup kita di dunia terasa dikucilkan. Ikut acara ini kami bersyukur dan berharap akan ada lagi kegiatan seperti ini membahagiakan secara batiniyah,” katanya.

Dengan kegiatan sosial tersebut Mas Nur mengaku belajar memahami makna bersyukur, bahwa dengan berbagi, katanya, kita bisa ikut merasakan kebahagiaan orang orang yang selama ini mungkin terpinggirkan.

“Pokoknya acara kemarin amat sangat bermakna bagi kami WM Solo khususnya, ana pribadi jadi bisa belajar apa artinya bersyukur, dengan mengenal kepribadian mereka selama satu hari bisa tau betapa bersukur nya kita semua dg hidup kecukupan,” ucapnya.

“Nikmat Tuhanmu mana yg kau dustakan? Dan ojo kesel dadi wong apik,” pungkas Mas Nur.