Warung Moerah Gelar Baksos untuk Kaum Marginal

Warung Moerah Gelar Baksos untuk Kaum Marginal

SOLO (Jurnalislam.com)- Waroeng Murah (WM) menggelar kegiatan sosial bertajuk ‘Berbagi Kebahagiaan Wisata Gratis Pantai Depok dan Parangtritis Yogyakarta Untuk Pemulung, Gelandang dan Kaum Marjinal’ pada sabtu, (26/10/2019).

Warung Murah sendiri merupakan sebuah komunitas sosial yang sering melakukan aksi sosial kemanusiaan di wilayah Soloraya, sudah sejak tahun 2014 WM selalu membantu masyarakat ekonomi menengah kebawah dengan menyediakan makanan sehat yang dijual hanya 2000 rupiah.

Puluhan anggotanya dalam seminggu tak kurang 4 kali untuk berkeliling di wilayah pinggiran di kota solo seperti di Banjarsari, Bundaran Gladak, Pasar Gede dan wilayah pinggiran lainnya.

Setiap aksi kurang lebih WM menyediakan 200-300 porsi untuk diberikan kepada mereka yang kekurangan seperti tukang becak, pemulung, gelandangan dan kaum marjinal lainnya di kota Solo.

Owner WM Muhammad Nur Syawal menyebut salah satu dasar aksi sosial yang selalu mereka lakukan adalah 3 ayat pertama didalam surat Al Maa’un yang berbunyi.

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin,” (QS. 107 : 1-3).

Mas Nur sapaan karibnya menyebut kemiskinan yang melanda masyarakat selama ini memunculkan banyak dhuafa dan mustadhafin seperti kaum miskin, faqir, gelandangan, dan anak yatim.

Dan Islam, katanya, adalah agama yang memiliki konsep ideologi pembebasan yang berarti membela kaum-kaum tersebut.

“Ini terlihat dalam perintah dan ajaran yang diwahyukan kepada Rasulullaah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dalam Al-Quran maupun Al-Hadits, seperti yang ditulis sebelumnya. Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa hidupnya sangat dekat dengan kaum dhuafa dan mustadhafin. Beliau pun hidup sederhana,” katanya kepada jurnalislam.com ahad, (27/10/2019).

Berkembangnya komunitas seperti WM di kota Solo juga diapresiasi Mas Nur, ia bersyukur sudah banyak yang peduli kepada kaum miskin dhuafa dengan memberikan bantuan makanan dan santunan pada mereka.

Pria murah senyum yang selalu dekat dengan kaum tertinggal tersebut berinisiatif untuk mengajak berwisata kaum miskin dan dhuafa saat melakukan aksi berbagi nasi, niat tulus dan ikhlas itu pun disambut dengan antusias oleh mereka yang hidup serba dalam kekurangan tersebut.

“Lahirlah gagasan membawa dhuafa dalam 1 bus berwisata ke destinasi pantai Depok dan pantai Parangtritis Yogyakarta. Karena sebelumnya kita ngobrol dg mereka waktu kita berbagi nasi,” ungkapnya.

“Ternyata mereka juga butuh kebahagian batin bukan hanya materi saja, yaitu berwisata, setelah kita survey kebanyakan mereka minta ke Pantai Parangtritis,” imbuh Mas Nur.

Sejak pukul 05.30 wib sekitar 60 peserta yang terdiri dari pemulung, dhuafa, gelandangan dan kaum marjinal lainnya berkumpul di dekat pintu Rel Gilingan, Solo dan kemudian berangkat bersama dengan mengunakan 1 bus.

Tepat pukul 07.30 wib, rombongan sejenak berhenti di Masjid Al Aqsha Klaten untuk melaksanakan shalat dhuha dan kemudian melanjutkan perjalan menuju pantai Depok.

Dalam kegiatan berwisata gratis tersebut, panitia memberikan kaos gratis, bermain game hingga pembagian hadiah dan sembako untuk dibawa pulang. Hal itu pun membuat Mbah Pur salah satu peserta merasa sangat bahagia.

“Ya perasaan seneng, bahagia, nangis terharu karena mereka masih ada yg peduli, Karena hidup kita di dunia terasa dikucilkan. Ikut acara ini kami bersyukur dan berharap akan ada lagi kegiatan seperti ini membahagiakan secara batiniyah,” katanya.

Dengan kegiatan sosial tersebut Mas Nur mengaku belajar memahami makna bersyukur, bahwa dengan berbagi, katanya, kita bisa ikut merasakan kebahagiaan orang orang yang selama ini mungkin terpinggirkan.

“Pokoknya acara kemarin amat sangat bermakna bagi kami WM Solo khususnya, ana pribadi jadi bisa belajar apa artinya bersyukur, dengan mengenal kepribadian mereka selama satu hari bisa tau betapa bersukur nya kita semua dg hidup kecukupan,” ucapnya.

“Nikmat Tuhanmu mana yg kau dustakan? Dan ojo kesel dadi wong apik,” pungkas Mas Nur.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X