Responsive image

Ricuh 22 Mei, Komnas HAM Sebut Polri Lemah dalam Keadilan dan Manajemen Penyelidikan

Ricuh 22 Mei, Komnas HAM Sebut Polri Lemah dalam Keadilan dan Manajemen Penyelidikan

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Peristiwa kerusuhan 21-22 Mei 2019 lalu masih menyisakan banyak pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia ( Komnas HAM) mengungkap hasil investigasi tim pencari fakta terkait peristiwa kerusuhan pada bulan Mei yang terjadi di sejumlah titik di pusat Jakarta.

Adapun hasil temuan disimpulkan dalam beberapa poin, diantaranya pertama, dalam kerusuhan Mei lalu terdapat 10 warga sipil meninggal dunia. 9 orang korban berasal dari Jakarta, dan satu orang di kota Pontianak.

“Empat korban dari 10 orang yang meninggal adalah anak-anak,” ujar Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara dalam konferensi pers di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Senin (28/10).

Kedua, TPF Komnas HAM RI menerima laporan dari masyarakat, jika pasca peristiwa 21-23 Mei lalu, sebanyak 70 orang diduga hilang, kemudian menyusut menjadi 32 orang.

“Ke 32 korban tersebut ada yang ditangkap dan ditahan oleh Polri. TPF Komnas HAM berpendapat, bahwa munculnya laporan ini dikarenakan lemahnya keadilan dan manajemen penyidikan Polri. Sampai saat ini masih ada korban yang belum memberikan keterangan kepada kami. Salah satu kesulitan kami untuk melakukan pengecekan, karena mereka tidak memberikan data dan alamat yang jelas,” ujar Beka.

Ketiga, terkait peristiwa 21-23 Mei, ada seorang ‘master mind’ yang membuat aksi orasi menjadi jadi aksi rusuh.

”Kami menduga ada pihak yang ingin membuat instabilitas keamanan. Kita semua tahu jika aksi demo telah selesai jam 9 malam. Setelah itu, mulai terjadi kerusuhan,” papar Beka.

Terkait dugaan tersebut, TPF Komnas HAM akan mengirimkan secara resmi temuan fakta-fakta yang ada kepada Presiden dan Kapolri.

Dengan harapan peristiwa serupa tidak terulang kembali, serta untuk kedepannya aksi demonstrasi bisa dilakukan secara damai agar tidak ada yang menunggangi dan memanfaatkan dalam konteks politik.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X