Hari Pahlawan, Ribuan Warga Solo Usung Semangat Jihad di Parade Perjuangan

SOLO (Jurnalislam.com)- Dalam rangka memperingati hari pahlawan nasional, seribuan masyarakat Soloraya menggelar Parade Perjuangan dengan melakukan longmarch dari Kota Barat menuju Bundaran Gladak, pada ahad, (10/11/2019).

 

Kegiatan Parade Perjuangan bertajuk “Aktualisasi Semangat Jihad Para Pahlawan Menuju Indonesia Berdikari” tersebut diinisiasi oleh Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS).

 

“Kita berharap umat Islam dan masyarakat, bisa meneladani jejak para pahlawan yang telah merebut kemerdekaan, mempertahankan ideologi Pancasila dari ancaman Komunis di Indonesia,” kata Humas DSKS Endro Sudarsono kepada wartawan di sela sela aksi.

 

Endro menyebut kegiatan Parade Perjuangan itu sebagai bentuk syukur atas jasa para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa dari tangan penjajah.

 

“Kita mensykuri, menteladani kemudian meneruskan perjuangan untuk mengisi kemerdekaan,” ungkapnya.

 

“Kita tidak ingin perjuangan yang masa lalu itu kemudian dikhianati berupa korupsi atau menjual aset kepada asing, ataupun kebijakan kebijakan yang tidak pro rakyat atau kebijakan yang memberatkan masyarakat,” imbuhnya.

 

Ia berharap pemerintah ikut bisa meneladani para pahlawan yang berjuang untuk kepentingan rakyat jelata, bukan untuk kepentingan kelompok tertentu atau pihak asing yang ingin menguasai Indonesia.

 

“Dan pemerintah juga harus mengerti bahwa pahlawan dulu berjuang untuk masyarakat, bukan untuk kepentingan asing,” tandasnya.

 

Dalam kegiatan Parade Perjuangan itu, sejumlah tokoh hadir dan memberikan orasi di Bundaran Gladak, Solo, seperti ketua DSKS Dr Muinudinillah Basri, ustaz Abdurahim Ba’asyir, ustaz Tengku Azhar, ustaz Izzul Mujahid, dan ustaz Surawijaya.

Anies: Masjid Apung Akan Jadi Ikon Baru Jakarta

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, pembangunan Masjid Apung Ancol ini merupakan salah satu bentuk perwujudan wisata kultural di Jakarta.

Melihat karakteristik masjid yang modern dan futuristik, Anies menganggap Masjid Apung dapat menghadirkan sensasi dan pengalaman baru bagi warga Jakarta saat beribadah.

“Kita bersyukur karena apa yang Jakarta inginkan untuk menjadikan  Ancol menjadi tempat wisata multi aspek, salah satunya aspek kultural, dapat terwujud dengan adanya Masjid Apung ini. Ada sensasi yang dapat dinikmati pengunjung saat mengunjungi Masjid Apung ini, misalnya sensasi seolah sholat di atas hamparan laut,”  kata Anies saat menyampaikan sambutan di Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (9/11).

Dia berharap, pembangunan masjid ini dapat sesuai target, sesuai anggaran dan berkualitas, sehingga Ramadhan 2020 mendatang, warga Jakarta dapat bisa menikmati masjid ini dengan segala sensasinya.

“Saya harap masjid ini on schedule, on budget dan on quality dan kalau itu semua terpenuhi, insya Allah tahun depan kita bisa menikmati masjid ini, kalau perlu bisa menjadi tujuan beritikaf pada ramadhan 2020 nanti. Masjid ini juga bisa merangsang wilayah lain untuk membangun masjid yang tidak kalah bagus dari masjid apung,” sambungnya.

Masjid Apung Ancol merupakan masjid terapung pertama di Jakarta akan segera dibangun di kawasan pantai Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara. PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk melakukan seremoni pemancangan tiang (ground breaking) pertama pada Sabtu (9/11).

Acara pemancangan tiang ini, disaksikan langsung oleh Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla.

Konsultan Arsitek Perencana Masjid Apung Ancol, Andra Matin mengatakan, proses pembangunan masjid yang akan menjadi ikon baru Ancol ini, kemungkinan akan memakan waktu satu tahun.

Sumber: republika.co.id

Dukungan Evaluasi Proses Pilkada Langsung Terus Berdatangan

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Anggota Komisi II DPR dari Fraksi Partai NasDem Lestari Moerdijat mendukung wacana pemerintah yang ingin mengevaluasi pelaksanaan Pilkada secara langsung.

Ia menilai evaluasi perlu dilakukan sehingga dapat disimpulkan sisi baik dan buruk dalam pelaksanaannya selama ini.

“Saya sependapat dengan apa yang disampaikan Mendagri, bahwa perlu ada telaah kembali, perlu ada evaluasi. Mari kita evaluasi dulu, baik dan buruknya, dari evaluasi tersebut kemudian nanti bisa kemudian kita kaji,” kata Lestari di sela-sela Kongres Partai NasDem di JI Expo, Jakarta, Sabtu (9/11).

Dia menjelaskan, Indonesia telah mengalami suatu proses demokrasi yang luar biasa, kelelahan yang luar biasa, dan proses Pilkada serta kita tentu tidak menafikan banyak terpilih tokoh-tokoh yang bagus.

Namun menurut Wakil Ketua MPR RI itu, dari semua daerah yang melaksanakan Pilkada langsung tidak semuanya menghasilkan kepala daerah yang memiliki kapasitas dan kapabilitas, sehingga hal itu yang harus dicermati.

“Bagaimana suatu proses yang sesungguhnya memang seharusnya bisa berjalan dengan baik, tapi ketika tataran masyarakatnya belum siap, berubah maka hasilnya tidak menjadi seperti apa yang kita inginkan,” ujarnya.

Dia mengakui Pilkada langsung menghasilkan politik biaya tinggi dan tidak semua menghasilkan kepala daerah yang memang memiliki kapasitas dan kapabilitas.

Namun menurut dia apakah kemudian tata cara Pilkada harus dievaluasi, dan apakah kemudian masyarakat kita sudah siap.

“Di beberapa tempat secara terbuka, kita harus akui malah ada industri baru yaitu industri jual suara. Itu bukan hal yang tidak ada, itu yang saya rasa kenapa apa yang disampaikan Mendagri perlu disambut dan kemudian bersama-sama kita melakukan telaah,” ujarnya.

Dia menilai evaluasi Pilkada langsung bukan suatu kemunduran dalam berdemokrasi di Indonesia karena proses demokrasi di beberapa titik agak terlalu kebablasan.

Sumber: republika.co.id

Pemprov DKI Bangun Masjid Apung Pertama di Ancol

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Masjid Apung pertama di Jakarta akan segera dibangun di kawasan pantai Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara.

Konsultan arsitek perencana Masjid Apung Ancol, Andra Matin mengatakan, proses pembangunan masjid yang akan menjadi ikon baru Ancol ini kemungkinan memakan waktu satu tahun.

Menurut Andra, masjid ini akan memiliki luas 2.000 meter persegi dan mampu menampung hingga 2.500 orang jamaah. Ia yakin, masjid yang lokasinya berada di sekitar pintu masuk timur Ancol ini akan menjadi tempat ibadah yang memiliki arsitektur unik dan satu-satunya di Jakarta.

Andra menjelaskan, masjid ini akan berbentuk segi lima yang merepresentasikan lima rukun Islam serta jumlah waktu shalat wajib. Tinggi masjid yang direncanakan akan mencapai 25 meter ini, disesuaikan dengan jumlah nabi yang juga berjumlah 25.

“Pada sisi luar masjid akan terdapat enam buat menara yang melambangkan rukun iman,” kata Andra saat menyampaikan sambutan di acara Ground Breaking di Jakarta, Sabtu (9/11).

“Desain masjid ini kalau dari atas seperti bulan dan bintang dilengkapi enam titik berlian, dan dari luar masjid ini menyerupai bentuk kapal phinisi, kapal khas Masyarakat Bugis.”

Andra mengatakan, Ancol saat ini juga sedang menyelenggarakan sayembara gagasan desain Masjid Apung.

Sayembara ini dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat dan arsitek muda guna berkontribusi dan mengembangkan idenya dalam pembangunan Masjid Apung.

Sumber: republika.co.id

Jambore Ukhuwah Mukhoyyam Pemuda Islam Akan Kembali Digelar

KARANGANYAR (Jurnalislam. com) – Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Akan kembali menggelar Acara JUMPA (Jambore Ukhuwah Mukhoyyam Pemuda Islam Surakarta) yang ke 3.

Acara yang akan digelar selama 3 hari penuh (27 – 29 Desember 2019) mengambil tempat di Tawangmangu Camping Resort Karanganyar Jawa Tengah. Dengan menargetkan 1000 peserta Acara ini diharapkan dihadiri dari berbagai Elemen Muslim Solo Raya dan Masyarakat Umum.

Menurut Ustaz Syamsudin Asroriy Panglima JUMPA mengatakan bahwa “Dalam gelaran JUMPA 3 kali ini kami berharap bisa menghadirkan bukan hanya dari Pondok Pesantren tapi kami menginginkan Sekolah-sekolah Umum untuk bisa gabung” Ujar Mang Arie sapaan karib Syamsudin Asroriy.

“Kami juga optimis bahwa JUMPA 3 ini akan semakin menarik dan lebih banyak Ilmu yang bisa kita gali daripada JUMPA sebelumnya” tambahnya kepada Jurnalislam.com disela-sela survei Lokasi.

“Di JUMPA 3 ini kami akan menghadirkan Instruktur dari berbagai disiplin Ilmu kebencaan, Rescue baik darat maupun air sehingga peserta lebih mendapatkan ilmu di Acara ini” pungkasnya.

Sementara itu menurut salah satu Panitia Ustaz Abu Nauval Al Muhajier mengungkapkan untuk Acara ini kami akan menyewa semua lahan Camping Resort Tawangmangu sehingga para peserta akan nyaman dan bisa maksimal dalam mengikuti acara.

“Kami akan menyewa lahan seluas  kuranglebih 1 hektar ini untuk gelaran JUMPA 3, agar bisa memuat peserta sekitar 1000 peserta” ungkap Abu Nauval Al Muhajier.

 

Maulid, Sang Nabi, dan Mencintai Syariat yang Dibawanya

Oleh Chusnatul Jannah

(Jurnalislam.com)–Cinta itu berkah dan rahmat. Berkah karena dengannya manusia memiliki rasa saling menyayangi, berempati, dan saling peduli.

Rahmat karena ia naluri yang Allah berikan pada setiap insan. Tatkala ia digunakan untuk ketaatan, maka mewujudkan maslahat dan selamat.

Namun, ketika ia digunakan untuk kemaksiatan, maka hanya akan mendatangkan mudharat dan laknat. Begitulah rasa cinta. Bisa berbuah pahala, namun juga berpotensi menabur dosa.

Cinta hakikatnya adalah Allah dan RasulNya. Sebab, kecintaaan kepada Allah dan RasulNya akan menghantarkan manusia pada jalan kebenaran.

Saat seorang hamba mengedepankan cintanya kepada Allah dan RasulNya, sejatinya ia telah berjalan menuju Surga. Sebab, kecintaaannya kepada Allah dan RasulNya mampu mencegahnya berbuat mungkar.

Tentu saja ini bukan sembarang cinta. Yang hanya terucap dari lisan, tapi nihil dalam perbuatan.

Cinta itu mencinta tanpa lelah. Cinta itu membutuhkan  komitmen ketaatan. Cinta Allah dan RasulNya wajib diutamakan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala yang berbunyi: “Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian“. (QS. Ali Imron: 31).

Ayat ini menjelaskan bahwa cinta kepada Allah harus menjadi derajat cinta paling tinggi di hati kaum mukminin. Ayat ini juga mengandung makna bahwa kita diwajibkan mengikuti Nabi Shallahu alaihi wa Sallam.

Mengikuti seluruh syariat yang dibawanya. Mulai dari lisannya, perbuatannya, bahkan diamnya Nabi wajib diteladani. Ayat ini juga menjelaskan bahwa Allah  akan mencintai kita manakala kita meneladani Nabi Shallahu alaihi wa Sallam.

Diantara bentuk cinta itu adalah memaknai Maulid Nabi Shallahu alahi wa Sallam dengan sebenar-benarnya.

Bukan sekadar bersalawat atau menyebut namanya dalam doa, tapi juga mengikuti seluruh petunjuk risalahnya.  Rasulullah mengajarkan bagaimana kesungguhan beribadah kepada Allah.

Meski beliau kekasih Allah, tak serta merta membuatnya lembek dalam beribadah. Bahkan kaki beliau sampai bengkak saat salat karena banyaknya taubat dan istighfar yang dilakukannya.

Rasulullah mengajarkan kepemimpinan luhur dengan mempersaudarakan kaum muhajirin dan anshar dalam satu ikatan akidah Islam yang kokoh.

Rasulullah menyemat pesan hijrahnya bahwa Islam akan tegak bersama orang-orang yang ikhlas dan rela berkorban. Rasulullah selalu berikhtiar dalam memenangkan agama Allah. Diantaranya beliau sering terlibat dalam peperangan dengan orang-orang kafir.

Rasulullah tak hanya memberi teladan sebagai individu, berkeluarga, dan bersosial semata. Namun, beliau juga mengajarkan berpolitik dan bernegara sesuai tuntunan Islam.

Rasulullah memberi keteladanan tentang keberagaman tanpa menyalahi syariat Islam. Hal itu tercermin dari isi piagam Madinah. Menyatu tanpa mencampuradukkan ajaran Islam dengan selainnya.

Sebagai kepala negara di Madinah, Rasulullah menerapkan syariat  Islam secara menyeluruh. Hal itu tertuang nyata di dalam Shahîfah atau Watsîqah al-Madînah (Piagam Madinah):

 “Bilamana kalian berselisih dalam suatu perkara, tempat kembali (keputusan)-nya adalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan kepada Muhammad saw…Apapun yang terjadi di antara pihak-pihak yang menyepakati piagam ini, berupa suatu kasus atau persengketaan yang dikhawatirkan akan menimbulkan kerusakan, tempat kembali (keputusan)-nya adalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan kepada Muhammad Rasulullah saw.” (Ibnu Hisyam, As-Sîrah an-Nabawiyyah, I/503-504).

Memperingati Maulid Nabi saw memang seharusnya dimaknai secara mendalam.

Agar peringatan Maulid tak sekadar seremonial tahunan yang kosong makna. Mencinta Nabi sudah seharusnya mencintai seluruh syariat yang dibawanya.

Tidak pilah pilih sekehendak hati. Tak ada dikotomi dalam meneladani Nabi saw. Saat salawat mengingatnya, saat menjalani kehidupan kita melalaikan sebagian syariatNya.

Meneladani Nabi bukan hanya kepribadiannya, namun juga bagaimana beliau membangun sistem negara berdasarkan Islam. Menerapkan Islam secara total dalam kehidupan. Mari renungkan sabda Nabi saw berikut ini:

“…Sungguh siapapun dari kalian yang berumur panjang sesudahku akan melihat perselisihan yang banyak.  Oleh karena itu kalian wajib berpegang pada Sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.  Berpegang teguhlah pada sunnah itu dan gigitlah itu erat-erat dengan gigi geraham….” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi).

*Pegiat  Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

 

Momen Hari Pahlawan Nasional, DSKS Adakan Parade Perjuangan di Kota Solo

SOLO (Jurnalislam.com)- Dalam memperingati momen hari Pahlawan Nasional, Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) akan menggelar Tabligh Akbar dan Longmarch Parade Perjuangan dengan start Kota Barat dan Finish di Bundaran Gladak, Solo, Ahad, (10/11/2019).

Aksi yang bertajuk ‘Aktualisasi Semangat Jihad Para Pahlawan Menuju Indonesia Berdikari’ tersebut rencananya akan dimulai pada pukul 06.00 Wib.

“Acara ini mengambil tema Aktualisasi Semangat Jhad para Pahlawan menuju Indonesia Berdikari diharapkan masyarakat dan pemerintah bisa lebih bersungguh-sungguh mewujudkan masyarakat yang adil, makmur dan berdaulat,” kata humas DSKS Endro Sudarsono pada jurnalislam.com sabtu, (9/11/2019) pagi.

Endro melanjutkan, kegiatan Parade Perjuangan tersebut juga akan dimeriahkan dengan atraksi, pasukan berkuda hingga orasi dari sejumlah tokoh lokal maupun nasional di Bundaran Gladak, Solo.

“Tokoh yang akan hadir selaku pembicara dalam acara ini Dr. Muinudinillah Basri MA, KH. Muhammad Halim, KH. Ali Naharussurur, ustaz Muzayin, MA, ustaz Tengku Azhar, Lc, ustaz. Arifin Badres, M.Pd, ustaz. Izzul Mujahid Lc, dan Dr. Muhammad Taufik, SH., MH,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Endro menyebut sudah melayangkan surat pemberitahuan kepada pihak aparat terkait kegiatan tersebut, untuk itu, ia mengajak semua masyarakat Soloraya untuk ikut dalam kegiatan Parade Perjuangan itu.

“Panitia berharap dukungan penuh dari warga Soloraya untuk bisa hadir dengan tertib, panitia juga sudah berkoordinasi dengan pihak Polresta Surakarta dengan memberikan surat pemberitahuan dan koordinasi teknis lainnya,” tandasnya.

Umat, Bertaubatlah!

Oleh:  Tony Rosyid*

(Jurnalislam.com)–Bicara umat, persepsi publik langsung tertuju pada umat Islam. Meski agama lain seperti Kristen, Budha dan Hindu juga menggunakan istilah umat. Namun, karena umat Islam adalah mayoritas, maka istilah umat seringkali dilekatkan dengan umat Islam. Dalam konteks politik kekinian, istilah “umat” ini telah diidentikkan dengan komunitas yang saat ini sedang berseberangan dengan Jokowi.

Beberapa tahun ini, kondisi umat secara politik memang kurang menguntungkan. Di Jakarta, umat Islam mayoritas, tapi sempat dipimpin oleh gubernur beda agama. Secara undang-undang itu sah. Tapi secara politik, jika pemimpin tersebut mau mengakomodasi kepentingan umat, masih banyak yang bisa terima. Lepas dari perdebatan teologis dan normatif-religius yang selalu dinamis.

Menjadi persoalan ketika kepentingan umat itu tak terakomodasi. Konsep demokrasi dimana mayoritas mesti memimpin terhadap minoritas akhirnya muncul. Ada persepsi bahwa hanya orang-orang dari kelompok mayoritas lah yang mengerti bagaimana merepresentasikan kepentingan kelompoknya. Tak berarti bahwa demokrasi tak melayani kepentingan kelompok minioritas. Keliru!

Sejak Ahok larang kawasan Monas untuk kegiatan keagamaan, maka Ahok dianggap tak mampu memenuhi kepentingan umat. Ketidakpuasan inilah kemudian melahirkan perlawanan. Puncaknya ketika Ahok kepeleset lidah dan dianggap menista agama. Ahok pun kelar. Kalah dan divonis dua tahun penjara. Uniknya, mantan napi ini kabarnya akan dipromosikan sebagai salah satu anggota Dewan Pengawas KPK.

Memunculkan Ahok sebagai pejabat publik dalam situasi dimana kemarahan umat terhadapnya masih belum sembuh, justru akan memperkuat perlawanan umat kepada pemerintah.

Jangan-jangan Ahok nanti malah akan mengawasi Ma’ruf Amin. Nah…, Muncul andai-andai. Atau jangan-jangan Ahok sengaja ditugaskan untuk ngawasi Anies yang di Pilgub 2017 telah menghancurkan karirnya. Jadi ajang balas dendam. Opini ini juga kemungkinan besar akan muncul di pikiran umat.

Di dalam persepsi umat, Jokowi terlanjur dianggap berada di belakang Ahok. Suka tidak suka, kedekatan Jokowi-Ahok, terutama ketika keduanya menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI tak bisa dipungkiri. Wajar jika berlarut-larutnya kasus Ahok, dugaan adanya back up Jokowi terhadap Ahok saat Pilgub 2017 dan ditersangkakanya HRS dan Bachtiar Nasir cs mendorong umat mengambil posisi sebagai “rival” Jokowi.

Yang pasti, suasana rivalitas itu semakin tinggi tensinya ketika pilpres 2019. Ada yang bilang: itu rivalitas antara pendukung Prabowo dengan pendukung Jokowi. Salah! Itu rivalitas “umat” dengan Jokowi. Efek berkepanjangan dari kasus Ahok di Pilgub DKI. Prabowo hanya menjadi alat perlawanan “umat” terhadap Jokowi.

Buktinya, Ketika Prabowo gabung ke istana dan menjadi menteri Jokowi, “umat” tetap konsisten untuk berada di seberang Jokowi. Tak ikut gerbong yang dibawa Prabowo. Kalau disebut rekonsiliasi, itu rekonsiliasi Prabowo-Jokowi saja. Tidak ada unsur umat. Ini PR bagi Jokowi bagaimana merangkul umat.

Sayangnya, Jokowi instruksikan ke sejumlah menteri untuk memberantas radikalisme. Khususnya Menkopolhukam dan Menag yang paling atraktif menyuarakan instruksi presiden itu. Siapa yang dimaksud radikalis itu? Umat sangat paham kemana narasi itu ditujukan.

Saat ini, penguasa terlalu kuat untuk ditandingi oleh kekuatan umat. Tidak hanya umat, tapi juga mahasiswa. Kelompok akademisi yang gerakannya di sepanjang sejarah Indonesia biasanya mampu menginspirasi terjadinya transformasi politik saat ini tak bisa berkutik ketika berhadapan dengan pemerintahan Jokowi. Apalagi umat yang jalur komandonya sudah mulai berantakan.

Akhir-akhir ini kita lihat gerakan umat melemah. Sepertinya cooling down. Mungkinkah sedang melakukan konsolidasi internal? Tak ada yang tahu, kecuali Tuhan dan inteligen.

Dari pengalaman yang selama ini dialami, umat mesti belajar. Apa yang dilakukan umat selama ini banyak yang tidak efektif. Ini terutama terukur di pilpres beberapa bulan lalu. Dukung Prabowo dan kalah. Tidak saja kalah, Prabowo pun meninggalkan umat dan lebih memilih untuk gabung dengan Jokowi. Sakitnya tuh disini…. Kata umat.

Jelas, kelemahan umat ada pada strateginya dalam perjuangan. Selama ini umat bergerak spontan, sporadis dan zig zag. Tak sistematis dan tak terstruktur dengan rapi. Makanya, ada bahasa populer di kalangan umat: “selalu mendorong mobil mogok”. Saatnya umat bertaubat. Bagaimana caranya?

Sebelum dijawab, saya ingin buat analogi. Pesawat yang “dianggap bagus”, tapi landingnya di sawah, ya akan meledak. Siapin dulu tempat untuk landing, maka pesawat apapun akan bisa mendarat dengan baik. Banyak pesawat lama, teknologi sudah ketinggalan, bodi gak enak dilihat mata, suara mesinnya merusak gendang telinga, tapi tempat landing sudah disiapkan, mereka mendarat dengan nyaman.

Nah, tempat landing itu tidak berada di alam mimpi, tidak cukup dengan teriakan takbir dan melakukan demo, tapi butuh infrastruktur yang dibangun tahap demi tahap sampai betul-betul siap dan aman untuk mendarat.

Apa maksud analogi ini? Ambil kekuasaan secara legal-konstitusional, dan ini akan jadi tempat landing yang aman dan nyaman bagi umat. Itulah kemenangan.

Untuk ambil kekuasaan itu butuh rencana yang matang, langkah-langkah strategis, kesabaran untuk kerja jangka panjang, tim yang solid dan SDM yang mumpuni. Oligarki melakukan ini. Bagaimana umat bisa melawan mereka kalau umat tidak melakukan hal yang lebih hebat dari yang oligarki lakukan? Inilah hukum sosial!

Musa nyatanya bisa kalahkan Fir’aun… Masalahnya, umat tak pernah melakukan seperti yang dilakukan Musa dengan semua jerih payah dan persiapannya yang panjang. Sementara oligarki mampu mengumpulkan kekuatan seperti yang pernah dikumpulkan Fir’aun. Ya, pasti merekalah yang menang….

Jika umat ingin menang, siapkan kader dari sekarang. Terutama untuk calon pemimpin. Betul, dari sekarang. Ini jangka pendek. Buat perencanaan yang matang, lakukan langkah-langkah strategis satu step ke step berikutnya. Siapkan tenaga dan kebutuhan logistik yang cukup. Tak kalah pentingnya adalah soliditas dan kemampuan berkolaborasi. Jangan hanya karena gak dikasih panggung dan gak dapat posisi di organisasi terus ngambek dan gak aktif. Ini bukan mental pemenang, tapi pecundang.

Untuk jangka panjang, sediakan SDM yang memiliki integritas dan kompetensi untuk dipersipakan mengurus bangsa ini kedepan. Tentu, sesuai selera umat. Setelah itu, mau takbir sekencang-kencangnya, atau mau teriak syariat Islam, gak akan ada masalah. Namanya juga penguasa…

*Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Qlue, Aplikasi Pelaporan Warga Kini  Hadir di Makassar

MAKASSAR(Jurnalislam.com)– Hari ini aplikasi pelaporan warga, Qlue, secara resmi dapat digunakan oleh warga kota Makassar untuk melaporkan berbagai masalah sosial dan lingkungan.

Peluncuran Qlue yang bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-412 kota Makassar akan meningkatkan layanan publik pemerintah Kota Makassar dan melengkapi berbagai layanan Makassar Smart City yang telah ada.

Aplikasi Qlue dapat digunakan oleh masyarakat untuk melaporkan berbagai masalah sosial dan lingkungan, antara lain sampah, lampu & rambu jalan rusak, kemacetan, pelanggaran lalu lintas, parkir liar, tunawisma/pengemis, fasilitas anak, hingga orang hilang.

Semua laporan masyarakat akan ditindaklanjuti oleh enam Organisasi Perangkat Daerah (OPD), yaitu Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan, Dinas Sosial, Satpol PP, dan Dinas Kesehatan.

“Pemerintah Kota Makassar terus berinovasi untuk meningkatkan layanan publik di era digital, dengan menggunakan aplikasi Qlue sebagai saluran pengaduan warga yang akan langsung ditindaklanjuti oleh OPD terkait,” kata Pj Wali Kota Maqassar, Iqbal Suhaeb dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com, Jumat (8/11/2019).

Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Makassar telah melakukan sosialisasi penggunaan Qlue kepada Ketua RW dan RW.

Saat ini, terdapat lebih dari 1.000 pengguna aktif Qlue di Kota Makassar, dan sejumlah aduan warga seperti sampah, kemacetan, fasilitas umum yang rusak, pencegahan banjir, dan parkir liar yang mencapai 60% dari total laporan.

Tentang Qlue

Didirikan pada 2016 lalu, saat ini Qlue telah menjadi startup teknologi yang menghadirkan solusi kota pintar paling komprehensif di Indonesia.

Dengan misi mempercepat perubahan positif di seluruh dunia, Qlue membangun platform solusi smart city berbasiskan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Internet of Things (IoT) dan Mobile Workforce.

Selama tiga tahun, Qlue menerima berbagai penghargaan, seperti pemenang Global Smart City oleh World Smart City Organization di London (2018), Best M-Government Service Award dari World Government Summit di Dubai (2019), dan Startup of the Year dari Jumpstart Magazine, Hong Kong (2019).

Qlue berkomitmen untuk menerapkan berbagai solusi teknologi kota pintar untuk sektor pemerintah dan swasta di Indonesia.

Menag: Saya Sampai Saat Ini Masih Terus Belajar Agama

JAKARTA(Jurnalislam.com)—DPR menyinggug  soal cadar dan celana cingkrang yang sempat menjadi polemik.

Menag Fachrul Razi  mengatakan bahwa hal itu ditujukan untuk para ASN. Konteksnya adalah rencana menerbitkan aturan terkait seragam ASN.

“Saya kira, kalau aturan kepegawaian, sudah semestinya dipatuhi oleh seluruh aparatur, termasuk soal seragam. Nah, ini yang diwacanakan akan diterbitkan,” terang Menag saat raker dengan DPR, di Jakarta, Kamis (07/11).

Terkait komentar agar belajar agama lagi, Menag tidak mau berpolemik. Menurutnya, belajar agama dalam Islam memang kewajiban yang tidak terputus.

Prosesnya mondial, dari sejak lahir sampai liang lahat.

“Jadi kalau belajar agama, saya kira sampai sekarang kita semua juga diminta untuk terus menggali ilmu. Saya sampai saat ini memang terus belajar,” tandasnya.

Menag berharap diskursus radikalisme tidak memanjang. Kementerian Agama akan melangkah ke depan untuk terus melakukan perbaikan, antara lain peningkatan kualitas pendidikan agama dan keagamaan, kualitas kehidupan dan kerukunan umat beragama, serta kualitas layanan haji dan sertifikasi halal.