HEBRON (Jurnalislam.com) – Seorang fotografer lepas Palestina, Mo’ath Amarnah menjadi sasaran tembak pasukan penjajah Israel. Mata kiri Moath ditembak tentara Israel saat sedang melakukan tugas peliputan di Kota Surif, Hebron, Jumat (15/11/2019).
Rumah Sakit Palestina mengatakan, Mo’ath dipastikan akan kehilangan mata kirinya akibat tembakan peluru tajam yang dilapisi karet tersebut.
Mo'ath Amarnah, seorang fotografer Palestina ditembak tentara Zionis Israel saat sedang meliput di Hebron, Jumat (15/11/2019). Akibatnya, ia harus kehilangan mata kirinya.#palestinepic.twitter.com/39f6YyhlTj
Moath adalah satu-satunya awak media yang mendokumentasikan pembunuhan keji tentara Israel terhadap warga Palestina bernama Omar Haitham Al-Badawi (22) di kamp pengungsian Al-Arroub, Tepi Barat pada Senin (11/11/2019).
Saat kejadian itu, Moath tepat berada di depan Omar. Omar dibunuh tentara Israel dengan ditembak di bagian perut di pintu masuk Al-Arroub usai menghadiri peringatan 15 tahun kematian presiden Palestina Yasser Arafat.
Kejadian ini menambah daftar panjang kasus penyerangan terhadap jurnalis oleh tentara Zionis Israel.
NEYWORK (Jurnalislam.com) – Seratus mahasiwa Fakultas Hukum Harvard University pada Rabu (14/11/2019) melakukan aksi walkout saat Konsul Jenderal Israel di New York, Dani Dayan menyampaikan kuliah umum di kelas mereka.
Dayan terkejut ketika dia akan memulai ceramahnya tentang “Strategi Hukum Permukiman Israel di Palestina yang Diduduki”, tiba-tiba para mahasiswa yang telah mengisi ruang kuliah berdiri dan mengangkat poster bertuliskan “Permukiman adalah kejahatan perang”, lalu mereka berjalan keluar kelas.
Dayan yang kecewa lalu bergumam dan menyindir aksi mahasiswa tersebut. “Aku ingat melakukan ini di TK,” katanya.
Salah seorang mahasiwa yang mengikuti aksi walkout, Samer Hjour, mengatakan, aksi dadakan itu dilakukan setelah para mahasiwa mendengar kabar adanya utusan Israel yang akan mengisi kelad mereka.
“Aksi 1oo orang walkout sekaligus ini sangat meninggalkan dampak serius. Kami merencanakan ini dan butuh banyak waktu, tapi kami memiliki tim di sekolah ini dan mencari orang untuk membantu kami mewujudkannya,” kata Samer kepada media, Rabu (14/11/2019).
Dayan adalah penasehat utama pendirian dan pemeliharaan permukiman ilegal Israel di Tepi Barat. Dia menjabat sebagai Ketua Dewan Yesha, sebuah aliansi permukiman ilegal Israel dari 20017 hingga 2013. Dia kemudian ditunjuk sebagai Kepala Utusan Asing, satu-satunya perwakilan resmi dari gerakan penyelesaian ilegal ke komunitas internasional.
Ini bukan pertama kalinya pejabat Israel atau tokoh pro-Israel dipermalukan mahasiswa dan aktivis di acara-acara di universitas. Beberapa dari tokoh itu justru menuduh para mahasiswa telah menindas kebebasan berbicara.
Pada bulan Mei tahun lalu, mantan Duta Besar AS untuk Israel yang sangat pro-Israel Nikki Haley berpidato di Universitas Houston, diinterupsi oleh para pemrotes yang berteriak, “Nikki Haley, darah ada di tangan Anda!”
Meskipun Israel membangun permukiman Yahudi di wilayah Palestina yang melanggar hukum internasional dan juga dianggap sebagai kejahatan perang, namun permukiman tersebut terus dibangun dan diperluas, dengan sekitar 650.000 warga Israel saat ini tinggal di Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur.
Permukiman itu dibangun dengan mengorbankan rumah-rumah, desa-desa dan seluruh lingkungan Palestina baik dievakuasi dan ditempati atau dihancurkan dan diganti, meninggalkan pemilik sah mereka miskin.
GAZA (Jurnalislam.com) – Media Palestina melaporkan, jumlah kerugian akibat pemboman Israel di Jalur Gaza tahun ini sekitar $ 3 juta.
Sekitar 500 unit rumah rusak dan hancur, termasuk delapan rumah dan 12 unit perumahan, dengan perkiraan nilai total $ 2 juta. Selain itu, lahan dan fasilitas pertanian juga mengalami kerusakan seperti kerusakan lahan, pertanian, irigasi sistem dan kapal penangkap ikan, bernilai lebih dari satu juta shekel ($ 0,29 juta).
Total kerugian dalam infrastruktur, termasuk air, air limbah, listrik, dan jalan, berjumlah lebih dari 1 juta shekel.
Kantor tersebut menunjukkan bahwa 12 perusahaan komersial rusak dengan biaya 300.000 shekel ($ 26.311). Sementara kerugian di sektor transportasi dan komunikasi berjumlah lebih dari 200.000 ($ 57.540) akibat kerusakan pada mobil dan kendaraan transportasi.
Agresi mengakibatkan kerusakan parsial pada bangunan dan institusi pemerintah, termasuk 15 sekolah, dua direktorat pendidikan dan markas keamanan, dengan nilai total 100.000 ($ 34.750).
Kantor media itu menganggap Israel bertanggung jawab atas semua kejahatan yang dilakukan terhadap rakyat Palestina selama agresi ini.
Lagi lagi omongan busuk keluar dari mulut Soekmawati anak Soekarno. Menghina Nabi Muhammad SAW. Ia mengaitkan hal yang jauh dari relevansi soal kemuliaan Nabi dengan Soekarno dan tokoh lain. Ia bertanya dengan pertanyaan bodoh dan konyol bahwa di abad 20 ini lebih berjasa Nabi Muhammad atau Soekarno? Lalu ia memuji Soekarno yang berjasa bagi kemerdekaan negara Indonesia.
Dahulu Soekmawati membuat puisi yang dinilai menghina Islam. Syariat Islam dibandingkan konde ibu ibu. “Sarikonde” katanya. Merendahkan pula cadar. Alunan kidung lebih merdu daripada suara adzan. Memang ia mengaku tak faham syariat tapi anehnya melecehkan syariat. Mulut penghina agama adalah busuk. Maka pelesetan nya bu suk. Ibu Soekmawati.
Kini direndahkannya Nabi Muhammad, Nabi mulia yang dihormati dan dicintai umat. Membandingkan dengan Soekarno tidak relevan dan mengada ada.
Membawa dan menganggap Nabi Muhammad tidak berjasa bagi kemerdekaan Indonesia adalah naif. Anak SD pun tahu Nabi Muhammad SAW tidak hidup di Indonesia. Apa kaitan dengan jasa kemerdekaan ? Sungguh jahil.
Dahulu Arswendo Atmowiloto seniman yang “iseng” menempatkan Nabi Muhammad SAW di bawah Soeharto dinilai menghina Nabi dan dihukum penjara 5 (lima) tahun. Kini keisengan mulut busuk mawati juga patut untuk dihukum pula. Sayang skeptisme menerpa umat di rezim ini. Telah banyak penista agama bebas bebas saja. Ahok dihukum dengan tekanan jutaan umat. Itupun dipenjara dengan penuh pemanjaan. Lapas yang tak jelas.
Para penista agama yang bebas berujar dan berulah semakin banyak di negeri ini. Mulut mulut busuk melecehkan akidah dan syari’ah. Sulit memprosesnya. Simbol simbol keagamaan disudutkan dan dilekatkan predikat negatif apakah radikal, intoleran, bahkan teroris. Radikalisme adalah kata yang disemburkan oleh mulut busuk “islamofobia” lalu diburu dan diintimidasi. Racun ketakutan ditebar kemana-mana.
Saatnya politik hukum keagamaan ditata ulang. Pengambil keputusan politik di negeri ini mesti lebih arif. Main tuduh dan memproteksi peleceh agama adalah langkah yang tidak sehat. Hanya menciptakan kekecewaan dan kejengkelan. Tak ada bangunan apik yang dapat didirikan di atas fondasi kejengkelan dan kekecewaan. Mulut mulut busuk baiknya disumpal oleh hukum. Agar jera para peleceh lain.
Agama mesti dimuliakan, bukan dihina dan direndahkan.
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Kuntjoro, mengungkapkan jumlah utang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan kepada rumah sakit (RS). Jumlahnya fantastis, yaitu mencapai Rp 17 triliun.
“Piutang (Rumah Sakit ke BPJS) yang saya tahu hingga 30 September 2019 itu Rp 17 triliun. Semua, se-Indonesia,” katanya di gedung DPR, Senin (12/11/2019).
Menurut Kuntjoro, angka tersebut bukanlah jumlah yang sedikit. Karenanya PERSI menekankan agar BPJS Kesehatan bisa segera menyelesaikan kewajibannya tersebut. Jika tidak, operasional RS yang berpotensi terganggu.
“Terpenting sekarang bayar dulu. Saya kan rumah sakit nih. Yang penting dibayar dulu saja. Supaya pasien yang non BPJS-nya itu meningkat,” lanjut Kuntjoro.
Dia mengatakan sudah menjadi rahasia umum jika jumlah pasien yang menggunakan BPJS menjadi mayoritas di banyak RS. Begitupun di RS besar, jumlah pasien non BPJS masih kalah dengan pasien BPJS.
“RS besar seperti Gatot Subroto bisa 30%-40% yang pasien non BPJS,” lanjutnya.
Oleh karenanya, ia menilai bahwa RS sebaiknya jeli dalam menentukan daftar penyakit mana saja yang bisa maupun tidak bisa digunakan dengan BPJS.
“Makanya RS inovasi. Apa aja penyakit yang tidak dibiayai non-BPJS. Kan ada penyakit yang tidak dibiayai BPJS. How to treat services itu ditentukan leader-nya,” kata Kuntjoro.
Bukan kali ini saja informasi utang BPJS naik ke permukaan. Sebelumnya, Anggota Komisi IX DPR RI Saleh Partaonan Daulay mengatakan bahwa utang BPJS kepada RS yang berada di bawah Muhammadiyah mencapai Rp 300 miliar.
“Pimpinan Pusat Muhammadiyah bilang ke saya tolong diingatkan Kementerian Kesehatan, BPJS, mereka punya utang Rp 300 miliar kepada Rumah Sakit Muhammadiyah di Indonesia tolong ini diperintahkan agar jangan sampai operasional rumah sakit yang membantu masyarakat terkendala,” sebut Daulay kala Rapat Dengar Pendapat antara Kemenkes dan Komisi IX beberapa waktu lalu.
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Organisasi kemanusiaan global Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengecam keras serangan Israel di Gaza yang telah menewaskan 32 warga Palestina dan sepertiga diantaranya adalah warga sipil.
“ACT mengecam apa yang dilakukan Israel terhadap Palestina,” kata Direktur ACT Nurman Priyatna dalam Konferensi Pers Palestine Under Attack di Menara 165 Jakarta, Kamis (14/11/2019).
ACT mengecam keras serangan Israel yang dilakukan terutama menjelang musim dingin di Palestina.
Dia melihat permasalahan itu bukan lagi masalah ringan karena sudah berlangsung setiap tahun dengan eskalasi yang semakin meningkat.
ACT berjanji akan lebih masif lagi menyalurkan bantuan bagi warga Palestina, terutama menyusul serangan dari Israel yang dimulai sejak 48 jam terakhir dan telah menewaskan 32 orang.
“Kami sudah berikan instruksi kepada relawan dan mitra-mitra kami di Gaza untuk memastikan pendistribusian bantuan medis, kesediaan pangan dan bantuan lainnya,” ujarnya.
Sebelumnya, serangan Israel ke wilayah Gaza, Palestina yang telah dimulai sejak Selasa menewaskan komandan lapangan Jihad Islam, memicu gempuran roket lintas perbatasan oleh kelompok tersebut dan serangan susulan Israel.
Direktur Eksekutif Global Humanity Response Bambang Triyono mengatakan bahwa berdasarkan laporan yang diterima ACT langsung dari Palestina, 32 warga Palestina yang sepertiga di antaranya merupakan warga sipil, tewas akibat 94 serangan udara dan 21 serangan artileri dari Israel.
Dari 32 korban tewas tersebut, beberapa di antaranya adalah anak-anak dan perempuan, dengan 85 korban lainnya mengalami luka-luka.
Selain menewaskan puluhan orang, serangan Israel di Gaza juga menghancurkan sekitar 48 rumah hingga rata dengan tanah dan beberapa lainnya hanya tersisa puing-puing.
Setelah berhasil di Xinjiang, PKC meningkatkan kebijakan penindasannya terhadap Islam di daerah “otonom” lainnya yang dihuni oleh etnis Muslim.
XINJIANG (Jurnalislam.com) – Daerah Otonomi Ningxia Hui dan daerah lain yang dihuni oleh etnis Muslim telah menjadi daerah sasaran baru untuk penindasan brutal PKC terhadap Islam. Zhang Yunsheng, seorang anggota komite tetap PKC dan sekretaris partai yang bertanggung jawab atas urusan politik dan hukum di Ningxia, dilaporkan berkomentar bahwa wilayah itu “harus mengambil pengalaman dari praktik-praktik baik dan langkah-langkah Xinjiang” untuk mengekang apa yang disebut ” ekstremisme agama dan terorisme. ”Untuk“ melucuti ekstremitas ”Muslim Hui, penindasan gaya Xinjiang telah diluncurkan di seluruh barat laut Cina: simbol-simbol dan tanda-tanda Islam sedang dihapus, kontrol terhadap para imam semakin meningkat, dalam upaya untuk mengikis iman Muslim dan menggantikan dengan ideologi PKC.
Pemerintah Cina mencopot kubah sebuah masjid di kota Ningxia Wuzhong untuk menghilangkan atribut keagamaan di daerah itu. Foto: BitterWinter.org
Para imam dipaksa untuk menjalani transformasi ideologis
Imam memainkan peran penting dalam mewariskan tradisi Islam di kalangan umat Islam. Oleh karena itu, PKC berusaha mengurangi pengaruh iman Islam dengan mengubah imam secara ideologis.
Seorang imam yang menolak mengungkapkan identitasnya menyampaikan kepada Bitter Winter bahwa Akademi Ilmu Sosial Ningxia di kota Yinchuan sekarang berfungsi sebagai pusat pelatihan untuk mengindoktrinasi para imam dan pemuka agama lainnya yang melayani di masjid-masjid yang disetujui PKC negara di wilayah itu dengan ideologi, kebijakan, dan peraturan.
“Setiap hari dalam setahun, para pemimpin agama Islam ‘dididik’ di sana, kelompok-kelompok baru datang dan pergi. Beberapa kelas berlangsung tiga hingga lima hari, dan beberapa lainnya tujuh sampai sepuluh hari,” kata imam itu.
Sementara itu, para imam di tempat-tempat lain di Ningxia juga diharuskan menghadiri “kelas-kelas” tentang kebijakan nasional dan ekonomi, teknologi, dan topik serupa, yang diselenggarakan oleh biro urusan agama setempat.
Menurut imam itu, “kelas” seperti itu tidak berbeda dengan indoktrinasi. “Pemerintah berupaya agar kami mempromosikan hal-hal ini di kalangan umat Islam setelah kami diindoktrinasi, dan dengan demikian mereka akan mencapai tujuan menipiskan kesadaran agama umat Islam,” jelas imam itu.
Para imam juga menghadapi batasan tentang apa yang dapat mereka khotbahkan. “Rezim tidak mengizinkan kami untuk berkhotbah sesuai dengan ajaran Al-Quran dan mengharuskan kami untuk berbicara tentang kebijakan negara sebelum menjelaskan kitab suci,” kata seorang imam dari Yinchuan kepada Bitter Winter.
Dia menambahkan bahwa setiap kali mereka diminta untuk membaca dokumen pemerintah kepada jemaat mereka, mereka harus difoto memegangnya di dada. Khotbah mereka juga harus direkam. Dia menjelaskan bahwa foto dan video itu harus diserahkan ke Biro Urusan Agama setempat, jika tidak mereka akan dihukum.
Imam itu menyesalkan semakin sulitnya mengikuti jalan hidup yang dipilihnya. Kata-katanya tampaknya mencerminkan kondisi sulit di mana umat Islam di Cina berjuang untuk bertahan hidup.
Negara menggelontorkan uang untuk membuat masjid-masjid yang disinisisasi
Prefektur Otonomi Linxia Hui di Gansu, provinsi tetangga Ningxia, sering disebut sebagai “Mekah kecil di Cina” karena populasi Muslim Hui yang signifikan. Mereka juga menjadi sasaran empuk rezim.
Banyak masjid di Linxia telah diperbaiki untuk terlihat “lebih Cina,” elemen gaya Islam tradisional dihapus dan diganti dengan yang mencerminkan arsitektur tradisional Cina. Prefektur yang dulu dipenuhi budaya dan kebiasaan Hui kehilangan karakteristik etnis dan agama.
Masjid tua di desa Tuanju sebelum disinisisai.
Renovasi masjid di desa Tuanju, Linxia, selesai pada tahun 2018. Tetapi tahun ini, pemerintah daerah membongkar kubahnya dengan biaya 980.000 RMB (sekitar $ 140.000). Umat Islam setempat tidak bisa berbuat apa-apa melihat proses tersebut, karena para pejabat telah mengancam untuk merubuhkan masjid ke tanah jika mereka menyuarakan ketidakpuasan.
Elemen arsitektur Islam di atas sebuah masjid di desa Tuanju dihancurkan.
Demikian pula, Masjid Agung Mochuan, yang terletak di kota Hanji, Kabupaten Linxia. Masji berkapasitas sekitar 6.000 orang ini juga telah direnovasi tahun lalu. Tetapi pada bulan Juni, masjid itu direnovasi paksa, pemerintah menghabiskan 3 juta RMB (sekitar $ 430.000) untuk itu. Kubahnya yang indah dan empat menara juga diperintahkan untuk dihancurkan. Masjid ini dibangun dari uang hasil swadaya umat Islam dengan total lebih dari 100 juta RMB (sekitar $ 14,3 juta).
Masjid Agung Mochuan di kota Hanji, kabupaten Linxia telah “dinasionalisasi.”
Pada bulan April, pemerintah menghabiskan sekitar 500.000 RMB (sekitar $ 71.400) untuk “membangunkan” masjid di Beibinhe West Road di kota Linxia.
TEPI BARAT (Jurnalislam.com) – Sejumlah tentara pendudukan Israel menggerebek kamp pengungsi Al-Arroub di utara kota Hebron Tepi Barat yang diduduki, Kamis (14/11/2019).
Menurut situs berita Palestina, Safa melaporkan, pasukan Israel menggerebek kamp pengungsi untuk mencari para mahasiswa yang ikut berunjuk rasa mengutuk agresi Israel di Gaza dan pembunuhan pengungsi Omar Al-Badawi di kamp pengungsi Al-Fawwar Hebron dua hari lalu.
Pasukan pendudukan Israel menembaki para pengungsi Palestina dan melemparkan granat suara dan gas pada mereka, menyebabkan beberapa kasus mati lemas.
Pada hari Senin, pasukan pendudukan Israel membunuh Al-Badawi, 23, setelah menargetkan dia dengan peluru tajam dan mencegah paramedis mencapai dia.
Al-Badawi, kata Bulan Sabit Merah, berdarah sekitar setengah jam sebelum sekelompok pemuda Palestina menghubunginya dan membawanya untuk dirawat.
GAZA (Jurnalislam.com) – Jihad Islam dan Israel telah menyepakati gencatan senjata di sebagian besar Jalur Gaza sejak Kamis (14/11/2019) pagi.
Perjanjian yang dilaporkan ditengahi oleh Mesir mulai berlaku setelah dua hari pertempuran lintas-perbatasan dan serangan udara Israel yang menewaskan sedikitnya 34 warga Palestina, termasuk delapan anggota keluarga yang sama.
Kementerian Kesehatan Gaza pada hari Kamis mengidentifikasi mereka sebagai anggota keluarga Abu Malhous dari daerah Deir al-Balah.
Setidaknya 63 warga Israel terluka akibat serangan roket yang diluncurkan para pejuang dari Gaza.
Meskipun ada pengumuman gencatan senjata, Menteri Luar Negeri Israel Israel Katz mengatakan Israel akan mengikutinya jika faksi-faksi Palestina di Gaza menghentikan serangan – menyangkal bahwa Israel telah mengubah kebijakan penembakan terbuka seperti yang diminta oleh kelompok Jihad Islam untuk gencatan senjata.
Jalur Gaza telah berada di bawah blokade bersama Israel-Mesir selama lebih dari satu dekade, yang telah sangat membatasi kebebasan bergerak untuk populasi dua juta. Aliran barang dan jasa, serta pasokan medis, juga sangat terhambat karena pengepungan yang melumpuhkan.
Warga Palestina telah berkumpul di dekat pagar pembatas untuk berpartisipasi dalam Great March of Return, serangkaian protes mingguan yang dimulai pada Maret 2018, menyerukan diakhirinya pengepungan darat dan udara yang berusia 12 tahun.
Sejak unjuk rasa Gaza dimulai, 313 pengunjuk rasa Palestina telah tewas oleh tembakan Israel dan ribuan lainnya terluka, menurut kementerian kesehatan.
Gejolak terbaru meningkatkan kekhawatiran konflik habis-habisan baru antara Israel dan faksi-faksi Palestina di Gaza, yang telah menyaksikan tiga operasi militer besar Israel dalam dekade terakhir.