Kecewa pada Netanyahu, Gedung Putih: Presiden Tidak Suka Pecundang

ALQUDS (Jurnalislam.com) – Pemerintahan Presiden AS Donald Trump merasa frustrasi dan kecewa dengan Israel, khususnya kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Pernyataan itu seorang pejabat senior Gedung Putih kepada rekan-rekan Israel-nya yang menolak identitasnya diungkap.

“Orang-orang Amerika berkecil hati dan frustrasi oleh politik Israel dan krisis politik saat ini, yang telah mencegah Gedung Putih dari mengungkap bagian politik dari kesepakatan abad ini,” katanya dilansir Ynet News, Senin (18/11/2019). Pernyataan orang Gedung Putih itu merujuk pada rencana perdamaian Timur Tengah yang lama ditunda oleh pemerintahan Trump

Sumber menambahkan bahwa Donald Trump merasa “sangat kecewa” dengan Netanyahu dan telah berbicara negatif tentang dia.

Menurut sumber itu, Trump telah memutuskan untuk menjauhkan diri dari Benjamin Netanyahu karena gagal memenangkan Pemilu 9 April dan membentuk pemerintahan, padahal Trump sudah banyak membantunya.

“Presiden tidak suka pecundang,” katanya.

Sumber tersebut mencatat bahwa Trump membantu Netanyahu dengan memindahkan kedutaan AS ke Yerusalem, mengakui aneksasi Dataran Tinggi Golan yang diduduki dan menunjuk Pengawal Revolusi Iran sebagai organisasi teroris asing.

Mantan Sekretaris Negara AS Rex Tillerson sebelumnya mengatakan bahwa Netanyahu telah memberikan informasi yang salah kepada Trump tentang berbagai kesempatan.

Dia mencatat bahwa Netanyahu “melakukan itu dengan presiden pada beberapa kesempatan, untuk membujuknya bahwa ‘Kami adalah orang baik, mereka adalah orang jahat.”

“Kami kemudian mengungkapkannya kepada presiden sehingga dia mengerti, ‘Anda telah dipermainkan’. Itu menggangguku bahwa sekutu yang dekat dan penting bagi kita akan melakukan itu pada kita,” kata Tillerson.

Minimalisir Penyalahgunaan Narkoba, LRPPN BI Banyuwangi Bentuk Relawan Anti Narkoba

BANYUWANGI (Jurnalislam.com) – Pencegahan penyalahgunaan narkoba di wilayah Kabupaten Banyuwangi terus diupayakan.

Kali ini, LRPPN BI Banyuwangi, bersinergi dengan Klinik dr. Didik Sulasmono dan Badan Penelitian Aset Negara (BPAN) Lembaga Aliansi Indonesia (LAI) DPC Banyuwangi membentuk Relawan Anti Narkoba.

Pembentukan itu berlangsung dalam acara Diklat Relawan Anti Narkoba bertempat di kantor LRPPN BI Banyuwangi, dan berlangsung selama tiga hari, terhitung mulai Senin (18/11/19) hingga Rabu (20/11/19).

Menurut Ketua LRPPN BI DPD Banyuwangi, Muhammad Hiksan, keberadaan Relawan Anti Narkoba nantinya akan menjadi garda terdepan dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba.

“Acara ini sangat penting, karena baru pertama kali kita gelar. Relawan Anti Narkoba ini akan menjadi garda terdepan dalam rangka pencegahan, pemberantasan, dan penyebaran informasi terhadap bahaya narkoba,” ungkapnya kepada awak media.

Dikatakan Iksan, panggilan akrab ketua LRPPN BI ini, pihaknya merasa miris dengan dampak narkoba yang tidak hanya merusak raga tetapi juga bisa merusak tatanan negara Indonesia.

“Narkoba itu tidak mengenal usia dan profesi. Dampaknya sudah merambah ke segala lini tanpa mengenal batasan usia. Ngeri sekali,” lontarnya.

Kontributor: Hakim

 

Menakar Substansi Sertifikasi Nikah

Oleh : Djumriah Lina Johan*

(Jurnalislam.com)–Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy mengatakan pasangan yang belum lulus mengikuti bimbingan pranikah atau sertifikasi siap kawin tak boleh menikah. Program bimbingan pranikah diharapkan mulai berlaku 2020.

“Ya sebelum lulus mengikuti pembekalan enggak boleh nikah,” kata Muhadjir di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (14/11).

Menurutnya, kementerian yang dilibatkan dalam menyiapkan program ini antara lain Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. (CNNIndonesia.com, Kamis, 14/11/2019)

Adanya sertifikat siap kawin sebelum menikah pada hakikatnya tidak termasuk rukun nikah maupun syarat sah menikah di dalam Islam. Dengan demikian, menjadikan sertifikat nikah sebagai salah satu syarat pernikahan tentulah tidak sesuai dengan syariat Islam.

Sejatinya banyaknya kasus stunting, rendahnya tingkat ekonomi rumah tangga, hingga tingginya angka perceraian bukan hanya karena kurangnya ilmu sebelum menikah tetapi lebih disebabkan karena sistem kehidupan negeri ini yang berkiblat kepada Barat.

Sistem kapitalis sekuler yang menjadi akar permasalahan problematika kehidupan berumah tangga, masyarakat, maupun bernegara. Pertama, rendahnya ekonomi di tingkat rumah tangga disebabkan karena sulitnya mencari pekerjaan di negara ini. Ketika suami memiliki pekerjaan pun tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok berupa sandang, pangan, dan papan. Karena semakin hari harga kebutuhan pokok semakin tinggi apalagi ditambah naiknya iuran BPJS menambah beban bagi keluarga menengah ke bawah.

Kedua, tingginya kasus stunting karena absennya Pemerintah dalam menjamin pemenuhan kebutuhan pokok yang halal, sehat, bergizi, seimbang, serta thayyib (baik). Kalaupun ada kebutuhan pokok yang halal dan thayyib harganya jauh lebih mahal. Sesuai dengan sebuah slogan yang berbunyi, “Harga sesuai dengan kualitas.”

Sehingga jika rakyat menengah ke bawah hanya memiliki uang sedikit maka hanya bisa membeli beras yang harganya murah dengan kualitas murahan. Tak ayal beras tersebut sudah berbau dan sudah berubah warna. Walhasil, wajar jika masih banyak kasus stunting di negeri ini.

Ketiga, pergaulan yang serba bebas dan boleh mengakibatkan banyaknya generasi yang terjerumus kepada pergaulan bebas. Belum lagi masih ada konten-konten yang berbau pornografi dan pornoaksi hingga masih beredarnya narkoba dan minuman keras di kalangan generasi. Kehamilan tidak direncanakan pun terjadi. Inilah yang kebanyakan menjadi sebab mengapa banyak terjadi pernikahan dini. Dengan demikian, bukan solusi penyuluhan kesehatan reproduksi yang dibutuhkan.

Keempat, rusaknya tatanan kehidupan keluarga karena perselingkuhan melalui media sosial menjadi salah satu pemicu. Tak sedikit pula yang bercerai karena istri yang turut membantu keuangan keluarga akhirnya selingkuh dengan rekan sejawatnya. Hal ini pun berlaku sebaliknya.

Dengan demikian, sertifikat nikah yang dimaksudkan menjadi solusi pun terkesan jauh panggang dari api.

Islam sebagai agama yang komprehensif memiliki solusi tuntas untuk permasalahan negeri ini. Pertama, Islam mengatur sistem pergaulan pria dan wanita dengan sudut pandang yang khas. Pria dan wanita tidak boleh berdua-dua (khalwat) maupun bercampur baur (ikhtilat). Dengan pemahaman yang khas ini disertai penanaman keimanan kepada Allah, akan menjadi rem bagi kaum Muslimin agar tidak terjerumus pergaulan bebas maupun perselingkuhan.

Selain itu, anak-anak sedari kecil dididik dengan pendidikan sesuai fitrahnya sebagai laki-laki dan perempuan. Laki-laki dididik menjadi seorang pemimpin yang siap untuk memimpin keluarga dan siap untuk bertanggung jawab mencari nafkah sejak usia baligh. Perempuan dididik agar siap menjadi istri dan pengatur rumah tangga. Sehingga ketika mereka baligh, mereka telah paham dengan tupoksi masing-masing dan siap untuk menikah.

Negara tidak serta merta melepaskan tangan melainkan negara wajib memberikan pendidikan tersebut sebagai bagian dari kurikulum. Negara pun mempermudah perizinan menikah dini bagi laki-laki dan perempuan yang sudah siap untuk menikah. Serta negara memfasilitasi dengan memberikan lapangan pekerjaan, pendidikan gratis, kesehatan gratis, keamanan gratis, hingga menjamin akan terpenuhinya kebutuhan pokok berupa sandang, pangan, dan papan.

Adapun terkait sanksi perzinaan sebagai bentuk pencegahan dan penebus dosa pelaku kemaksiatan berupa hukum jilid bagi yang belum menikah dan rajam bagi yang telah menikah.

Ketika hal tersebut di atas diterapkan maka bisa dijamin tatanan kehidupan negeri ini akan aman, sentosa, dan bahagia. Karena Islam merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin. Wallahu a’lam bish shawab.

*Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Sosial Ekonomi Islam

Datang ke Indonesia, Ulama Gaza Kisahkan Kekejian Israel Bunuh Wanita dan Anak

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ulama Gaza, Dr. Ahed Abul Atha, mengatakan serangan Zionis Israel pekan lalu bukan hal baru yang terjadi di Gaza, Palestina. Namun, serangan serupa sudah terjadi sejak 1948.

Dia menyebutkan tiga serangan terakhir Zionis Israel ke Gaza. Di antaranya terjadi pada 2008, 2012, dan 2018. Ketiga serangan itu telah menimbulkan ribuan korban jiwa.

“Kejahatan yang terjadi kemarin bukan hal baru. Karena serangan Israel ke Gaza sudah menewaskan hampir ribuan orang syahid, ribuan rumah hancur, dan ratusan sekolah hancur,” kata Ahed Abul Atha di Rumah Spirit of Aqsa, Tebet, Jakarta Selatan, Senin (18/11).

Ketua Ulama Palestina Asia Tenggara itu lalu menjelaskan asal mula terjadinya serangan Zionis Israel pekan lalu. Israel menjatuhkan roket tepat di rumah salah seorang pejuang Palestina, yang ketuaan sepupu dari Ahed Abul Atha, yakni Baha Al Atha.

“Jadi Baha Al Atha adalah putra asli Gaza, lahir dan tumbuh di Gaza, dididik di Gaza untuk berjuang memerdekakan Palestina,” ujarnya.

Kala itu, Baha Al Atha sedang tidur bersama keluarganya saat Israel menjatuhkan roket. Akibatnya, Baha beserta anak istrinya tak bisa diselamatkan dan syahid di tempat.

Ahed Abul Atha mengatakan, Israel sama sekali tidak punya sisi kemanusiaan. Di rumah Baha, terdapat lima anak kecil. Padahal, sudah menjadi kesepakatan internasional bahwa anak-anak dan wanita tidak boleh dibunuh saat perang.

“Dari sejak saat itu. Mulai dari serangan ke Baha Al Atha, serangan Israel terus berlanjut sampai 35 syahid sampai hari ini,” ucap dia. Selain menyerang rumah para pejuang, Israel juga mentarget rumah-rumah warga sipil, kebun, hingga sekolah.

Minta Jaga Ucapan, PBNU: Pernyataan Sukmawati Timbulkan Ketersinggungan Umat

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini menilai pernyataan Sukmawati yang membandingkan antara Nabi Muhammad SAW dengan Soekarno sangat tidak tepat dan keliru besar.

Menurut dia, pernyataan itu tidak kontekstual, dan tidak ada manfaatnya sama sekali.

“Justru hal itu hanya akan menimbulkan kesalahpahaman dan ketersinggungan di kalangan umat,” kata Helmy melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com Senin (18/11).

Terlebih, lanjut dia, Bung Karno adalah sosok yang sangat mengagumi kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW justeru menjadi inspirasi besar lahirnya kemerdekaan Indonesia.

“Karena Nabi mengajarkan Islam sebagai agama pembebasan, dari belenggu kelaparan dan kemiskinan,” katanya.

Nabi Muhammad, lanjutnya adalah sosok sebaik-baiknya contoh, manusia pilihan, sehingga tidak tepat untuk disepadankan atau dibanding-bandingkan dengan manusia lainnya.

“Atas hal ini kita perlu tabayyun untuk mendapatkan secara utuh apa yang dimaksud Ibu Sukmawati,” katanya.

“Sebaiknya sebagai tokoh nasional, Sukmawati dapat berhati-hati untuk mengeluarkan pernyataan agar tidak menimbulkan kegaduhan di masyarakat,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Di tengah perayaan maulid Nabi Muhammad SAW, muncul isu yang menyinggung umat Islam karena membandingkan antara Nabi dan Proklamator RI Soekarno. Isu ini seharusnya tidak terjadi, karena umat Islam tidak mungkin menafikan peran Soekarno sebagai pendiri bangsa.

Wamenag Persilakan Warga Laporkan Sukmawati

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid Sa’adi, menilai adanya laporan ke polisi terhadap Sukmawati Soekarnoputri, adalah hal wajar terjadi karena Indonesia merupakan negara yang menjunjung proses hukum.

“Saya kira sah-sah saja kalau masyarakat mengadukan hal tersebut ke mekanisme hukum. Tetap kita harus menahan diri, silakan proses hukum dilaksanakan,” katanya saat dihubungi Jurnalislam.com, Senin (18/11/2019).

Sukmawati Soekarnoputri diduga melakukan tindak pidana penistaan agama karena membanding-bandingkan Nabi Muhammad SAW dengan ayahnya, Presiden Soekarno, dalam sebuah diskusi bertajuk “Bangkitkan Nasionalisme dan Berantas Terorisme”.

Ia juga mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak terpancing dengan pernyataan kontroversial dari Sukmawati Soekarnoputri yang diduga menistakan agama Islam karena membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Presiden Soekarno.

“Kami mengimbau bahwa yang penting tidak perlu terjadi kegaduhan, tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” kata Zainut.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu mengatakan persoalan agama masih menjadi isu sensitif untuk dibahas di sebagian besar kelompok masyarakat Indonesia. Sehingga, pendapat-pendapat yang disampaikan dalam menanggapi pernyataan Sukmawati tidak perlu disampaikan secara berlebihan.

“Masyarakat Indonesia harus menempatkan masalah ini secara hati-hati, karena ini menyangkut masalah yang sensitif,” katanya.

Oleh karena itu, Zainut meminta seluruh tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk berhati-hati dalam menyampaikan pendapat terkait kontroversi Sukmawati. Dia meminta pernyataan para tokoh bangsa harus menghindari muatan negatif.

“Kami juga mengimbau kepada tokoh masyarakat, tokoh bangsa agar dalam menyampaikan statement itu menghindari hal yang justru nanti kontraproduktif, misalnya yang berkaitan dengan isu agama,” jelasnya.

Laporan tersebut masuk ke Polda Metro Jaya atas sangkaan pasal 156a KUHP tentang Penistaan Agama pada 15 November 2019. Pelapor mengklaim sebagai pihak umat Islam yang dirugikan atas pernyataan putri Sang Proklamator itu.

PBNU: Pernyataan Sukmawati Keliru Besar

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini menyesalkan pernyataan Sukmawati Soekarno Putri yang membandingkan antara Nabi Muhammad SAW dengan Soekarno. Menurutnya, pernyataan adalah kekeliruan yang besar karena tidak kontekstual, dan tidak ada manfaatnya sama sekali.

“Justru hal itu hanya akan menimbulkan kesalahpahaman dan ketersinggungan di kalangan umat,” kata Helmy melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com Senin (18/11/2019).

Terlebih, lanjut dia, Bung Karno adalah sosok yang sangat mengagumi kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW justeru menjadi inspirasi besar lahirnya kemerdekaan Indonesia.

“Karena Nabi mengajarkan Islam sebagai agama pembebasan, dari belenggu kelaparan dan kemiskinan,” katanya.

Nabi Muhammad SAW, lanjutnya, adalah sosok sebaik-baiknya contoh, manusia pilihan, sehingga tidak tepat untuk disepadankan atau dibanding-bandingkan dengan manusia lainnya.

“Atas hal ini kita perlu tabayyun untuk mendapatkan secara utuh apa yang dimaksud Ibu Sukmawati,” katanya.

“Sebaiknya sebagai tokoh nasional, Sukmawati dapat berhati-hati untuk mengeluarkan pernyataan agar tidak menimbulkan kegaduhan di masyarakat,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Sukmawati membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Proklamator RI Bung Karno. Pernyataan itu dia sampaikan ketika dirinya jadi pembicara diskusi bertajuk ‘Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme’, Senin (11/11/2019).

“Sekarang saya mau tanya semua, yang berjuang di abad 20 itu Yang Mulia Nabi Muhammad apa Ir Soekarno, untuk kemerdekaan? Saya minta jawaban, silakan siapa yang mau jawab berdiri, jawab pertanyaan Ibu ini,” tanya Sukmawati kepada peserta diskusi.

10 Dampak Buruk Layar Gawai Bagi Anak

JURNALISLAM.COM – Hidup tanpa gawai hari ini mungkin akan terasa aneh. Akan tetapi di beberapa negara, regulasi ini sudah masuk di meja pembahasan terutama bagi anak-anak khususnya di bawah umur 2 tahun.

American Academy of Pediatrics telah merekomendasikan para orang tua agar membatasi anak dalam mengkonsumsi media hiburan dan melarang anak di bawah umur 2 tahun untuk menggunakan dan menikmati layar gawai . Meskipun sebuah studi oleh Henry J. Kaiser Foundation memberikan rekomendasi bahwa anak-anak usia 8 – 18 tahun itu rata-rata hanya boleh menikmati media hiburan maksimal 7,5 jam sehari.

Lalu apa saja dampak buruk gawai bagi anak? Berikut diantaranya:

  1. Rentang perhatian yang dipersingkat

Layar pada gawai menyediakan gambar berkedip cepat atau flashing, yang berkorelasi dengan rentang perhatian yang lebih pendek. Paparan terus menerus terhadap gambar-gambar yang berkedip seperti itu akan mengikis rentang perhatian anak-anak, dan kemudian kita melihat meningkatnya tingkat diagnosis ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

ADHD adalah gangguan mental yang menyebabkan seorang anak sulit memusatkan perhatian, serta memiliki perilaku impulsive dan hiperaktif, sehingga dapat berdapak pada prestasi anak.

  1. Mengurangi minat baca

Gawai menjadi sumber utama hiburan, sehingga bentuk yang lebih tenang seperti membaca, menggambar, menulis, dll menjadi membosankan. TV menghadirkan pertunjukan cahaya dan suara yang luar biasa.

Buku mengharuskan anak untuk membayangkan dan mengumpulkan energi untuk menghadirkan gambar-gambar mental dari cerita yang sedang dibaca. Akan tetapi dengan layar, anak hanya bisa duduk dan menonton gambar yang dibuat untuknya. Membaca sekarang menjadi sulit, melelahkan. TV lebih mudah. Lebih mudah bersikap pasif daripada aktif.

  1. Terbuangnya waktu

Gawai menghabiskan banyak waktu. Ada begitu banyak cara yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi seorang anak untuk menghabiskan masa-masa emasnya daripada hanya duduk di depan layar, meskipun satu atau dua jam sehari. Waktu itu lebih baik dihabiskan untuk mengeksplorasi, mengumpulkan hal-hal bersama, berpetualang, berbicara dengan orang tua atau saudaranya, melihat gambar-gambar dalam buku, atau bermain di alam.

  1. Mengurangi waktu untuk bermain di luar

Gawai sebagian besar telah menggantikan waktu untuk bermain di luar. Pelan tapi pasti, selama beberapa dekade terakhir, kita telah menjadi negara yang lebih malas, orang yang lebih banyak duduk menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan daripada di luar ruangan.

Dulu, anak-anak biasa menghabiskan banyak waktu di luar ruangan dan di alam, dan itu terbukti meningkatkan mood dan kesehatan fisik serta mental secara keseluruhan (kadar vitamin D yang lebih tinggi, tingkat depresi yang lebih rendah, dll). Namun, sekarang, kita lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan, duduk di sofa, memandangi layar gawai.

Pergeseran dari luar ke dalam ruangan ini berdampak pada kesehatan kita bersama; kita sekarang lebih sering sakit, karena sistem kekebalan yang lebih lemah dan tubuh yang lebih rentan, daripada orang-orang sebelum kita. Untuk anak-anak khususnya, berada di luar sangat penting untuk perkembangan yang sehat.

  1. Obesitas

Data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Bangkok menunjukkan bahwa tingkat obesitas anak Indonesia termasuk tertinggi di kawasan Asia Pasifik bersama dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Di kawasan Asia Pasifik, sepanjang kurun waktu tahun 2000 hingga 2016, jumlah anak-anak berumur kurang dari lima tahun dengan kelebihan berat naik setinggi 38%.

Tentu saja, jenis makanan yang kita makan banyak hubungannya dengan fenomena ini, tetapi begitu juga dengan jumlah waktu yang kita habiskan untuk duduk. Semakin aktif seseorang, semakin baik. Gawai memaksa kita untuk duduk dan tidak bergerak, yang kemudian secara perlahan membentuk kebiasaan, dan preferensi untuk, duduk untuk waktu yang lama alih-alih bergerak.

  1. Kecanduan

Anak-anak (dan orang dewasa) sebenarnya bisa kecanduan perangkat elektronik, seperti iPad, smartphone, TV, dll. Mereka menjadi ketergantungan pada perangkat dan menggunakannya sebagai bentuk hiburan eksklusif mereka. Tanpanya, beberapa anak mengalami kehancuran dan satu-satunya cara untuk menenangkan mereka adalah dengan memberikan iPhone itu kepada mereka. Ini terjadi pada anak-anak semuda 2 tahun, dan itu sangat tragis.

  1. Kegagalan komunikasi

Di era digital, banyak orang mengganti komunikasi tatap muka dengan pesan teks dan media sosial. Alih-alih memiliki hubungan nyata secara langsung, dengan kontak mata dan sentuhan fisik (yang dibutuhkan manusia untuk perkembangan), anak-anak terbiasa berkomunikasi pada tingkat yang lebih dangkal hanya melalui teks dan pesan tertulis. Ini menghambat pertumbuhan emosional dan keterampilan interpersonal.

  1. Konten yang Tidak Tepat

Yang ini no-brainer. Semakin banyak paparan seorang anak untuk disaring, semakin ia mengkonsumsi pemrograman budaya masyarakat barat modern, yang hypersexualized dan penuh dengan konten seksual, kekerasan, dan bahasa kotor. Sebagai Muslim, ini adalah kebalikan dari apa yang ingin kita yakini, baik orang dewasa maupun anak-anak.

  1. Kurang taat kepada orang tua

Ada dua alasan untuk kerusakan ini. Salah satunya adalah bahwa dalam hiburan untuk anak-anak, termasuk kartun. Orang tua dibuat mati kutu yang kikuk dan terus-menerus dikalahkan dan diperdaya oleh anak-anak mereka sendiri. Dalam banyak film kartun dan pertunjukan anak-anak, mereka bersikap acuh tak acuh dan tidak sopan terhadap orang tua mereka.

Kedua, ketika seorang anak sedang menonton TV dan Anda mencoba memanggilnya, misalnya hanya untuk makan malam, atau untuk membantu Anda dengan sesuatu, atau untuk mengerjakan pekerjaan rumah, anak itu lebih lambat untuk menanggapi panggilan Anda. Mereka terlalu asyik dengan apa yang ada di layar dan lebih mengacuhkan panggilan Anda. Anda, sebagai orang tua, dipaksa untuk bersaing dengan TV untuk perhatian anak Anda.

  1. Konsumerisme

TV, dan bahkan YouTube sekarang, sangat bergantung pada iklan. Setiap beberapa menit, pertunjukan dijeda untuk jeda iklan, dan anak-anak Anda akan menonton iklan seperti mereka menonton pertunjukan yang sebenarnya. Perusahaan mengandalkan audiensi yang tertahan ini untuk menciptakan keinginan buatan untuk produk mereka dan menciptakan pendapatan untuk bisnis mereka. Menghindari gawai memungkinkan Anda menjauhkan anak-anak dari parade produk iklan dan menyelamatkan mereka sebelum terlalu jauh ke dalam mentalitas konsumeris.

Sukmawati dalam Pusaran Deislamisasi Perjuangan Bangsa

Oleh: Ainul Mizan*

(Jurnalislam.com)Dalam sebuah pidato dalam diskusi yang bertajuk “Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Perangi Terorisme”, Sukmawati membandingkan antara Nabi Muhammad Saw dan Sukarno (www.suara.com, Sabtu 16/11/2019).

Menurutnya Sukarno itu lebih berjasa terhadap berjasa dalam kemerdekaan Indonesia dibandingkan Nabi Muhammad Saw. Diskusi ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, 10 Nopember 2019.

 

Menilik dari pernyataan Sukmawati tersebut, secara eksplisit merupakan bagian dari upaya deislamisasi perjuangan bangsa. Alasannya, yang disasar merupakan bagian hal – hal yang fundamental dalam Islam. Sosok Nabi Muhammad Saw adalah sosok sentral sebagai pembawa ajaran Islam.

 

Deislamisasi perjuangan bangsa bermakna meniadakan peran Islam dalam kontribusinya terhadap kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian terdapat legalitas baru untuk terus memasarkan gorengan radikalisme yang sudah basi di tengah masyarakat.

 

Menurut hemat penulis, pernyataan Sukmawati tersebut harus dikritisi dengan detail. Alasannya di dalamnya terdapat racun yang membahayakan bagi kebangkitan umat Islam, yang sejatinya menjadi kebangkitan bangsa Indonesia.

Pertama, pembandingan dari aspek waktu yang berbeda, tentunya adalah pembandingan yang tidak adil. Justru hanya menunjukkan kedangkalan berpikir.

Kemerdekaan Indonesia yang diraih di awal – awal abad ke-20 dijadikan sebagai tolak ukur. Tentu saja Sukarno yang hidup di awal abad 20 itu yang ikut merasakan langsung dalam usaha – usaha persiapan kemerdekaan Indonesia. Sedangkan Nabi Muhammad SAW itu masa hidup beliau adalah sekitar abad ke-7 masehi. Tentu saja kiprahnya secara langsung juga berada di rentangan abad ke -7 M di masyarakat Arab waktu itu.

 

Untuk lebih mempertegas absurdnya perbandingan ala Sukmawati ini, mari ditanyakan padanya, Sekarang di abad 21 ini, siapa yang berjasa terhadap kemajuan teknologi Indonesia, Habibie atau Sukarno?

 

Terakhir yang patut ditanyakan, apa jasa anda sendiri di abad 21 ini bagi Indonesia? apakah jasanya berupa penistaan terhadap Islam dan Nabi Muhammad Saw? Tidak perlu bersembunyi di balik nama besar sang bapak.

Kedua, perbandingan yang adil adalah dari segi pengaruh tokoh tersebut. Di sinilah Michael Hart di dalam bukunya, menempatkan Nabi Muhammad Saw di urutan pertama dari 100 tokoh yang paling berpengaruh di dunia.

Michael Hart mengumpulkan 100 tokoh dunia dari kurun waktu yang berbeda – beda, lantas ia mengkajinya dari aspek pengaruh ajaran dan jejak rekam kehidupannya.

Pengaruh Nabi Muhammad Saw yang membawa risalah Islam terhadap manusia di seluruh penjuru dunia pada setiap waktu dan generasi manusia hingga datangnya hari kiamat.Bahkan pengaruh Nabi Saw dari dunia hingga ke akherat.

Pengaruh beliau saw di semua aspek kehidupan manusia baik di bidang politik, pemerintahan, ekonomi, sosial budaya, pendidikan, peradilan, dan pertahanan keamanan.

Tidak ada satu tokoh dunia pun yang pengaruhnya sedemikian besarnya bagi kehidupan manusia. Maka sudah seharusnya seorang muslim untuk menghormati, memuliakan dan meneladani Nabi Muhammad Saw.

 

Sekarang mari kita lihat jaminan Allah Swt akan diri Nabi Muhammad saw dan perjuangannya mengemban risalah Islam ini.

Allah swt berfirman:

 

وما ارسلناك الا رحمة للعالمين

Tidaklah Kami mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam (al anbiya ayat 107).

 

Jadi rahmat di sini dilihat dari 2 aspek, yakni diri Nabi Muhammad saw sendiri dan risalah yang dibawanya.

 

Dari aspek diri beliau sendiri adalah jaminan keselamatan bagi umatnya. Allah Swt menyatakan:

 

وما كان اللّه ليعذبهم وانت فيهم

Tidaklah Alloh sekali – kali menurunkan siksa sementara kau (Muhammad) berada di tengah – tengah mereka.

 

Adapun dari risalah Islam yang dibawanya. Allah swt menyatakan:

وما كان الله معذبهم وهم يستغفرون

Tidaklah sekali kali Alloh mengadzab mereka, sementara mereka beristighfar.

 

Istighfar itu bermakna meninggalkan maksiat dan melaksanakan ketaatan. Hal ini bisa kita pahami dari Ar Ruum 41.

 

Penjajahan jelas dilarang di dalam Islam. Maka umat Islam harus melawan guna terbebas dari penjajahan. Di sinilah jihad memegang peranan dalam perjuangan bangsa Indonesia. Sedangkan jihad sendiri notabenenya adalah ajaran Nabi Muhammad Saw.

Menolak Lupa

 

Kemerdekaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran Islam dan umat Islam. Sejak awal penjajah portugis datang di Selat Malaka tahun 1511 M, yang melawan mereka adalah Kesultanan Demak melalui Dipati Unus dengan para mujahidnya. Begitulah silih berganti umat Islam di bawah komando Kesultanan Islam melawan penjajah dari manapun datangnya.

 

Peran Islam dan umatnya inipun diabadikan di dalam teks pembukaan UUD 1945 alinea kedua dengan menyatakan bahwa kemerdekaan bangsa bisa diraih atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.

 

Bahkan peran Islam dan umatnya inipun diuji kembali pada perang 10 Nopember 1945. Dengan pekik takbir, Bung Tomo dan resolusi Jihad KH.Hasyim Asy’arie, para pemuda Surabaya dan sekitarnya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dan hari ini, umat Islam terus berjuang agar Indonesia ini bisa terbebas dari berbagai bentuk penjajahan gaya baru, demi mewujudkan negeri yang sejahtera dalam naungan ridho Allah Swt.

 

Demikianlah besar dan abadinya pengaruh perjuangan Nabi Muhammad Saw yang membawa risalah Islam ke seluruh manusia. Sukarno sendiri pun harus mengakui bahwa Nabi Muhammad Saw adalah pemimpin terbesar dunia.

 

Walhasil, tulisan ini merupakan bentuk kemarahan penulis atas penghinaan kepada Nabi Muhammad Saw dan pembelaan kepada beliau saw. Yang terakhir ada satu ungkapan Al Imam Asy – Syafi’iy rahimahullahu:

 

ومن استغضب ولم يغضب فهو حمار

Barangsiapa yang dibuat marah tapi ia tidak marah, maka ia adalah seekor keledai.

 

#Penulis tinggal di Malang

Elemen Umat Islam Didorong Susun Roadmap Dakwah dan Politik

YOGYAKARTA(Jurnalislam.com)–Pakar Ilmu Politik dari Universitas Indonesia, Sodik Mudjahid menilai umat Islam harus memiliki roadmap politik ke depan, karena kelompok yang sekuler pun memiliki roadmap tersendiri.

“Mereka lebih siap dengan sistem demokrasi langsung sementara umat Islam masih belum siap dan masih apriori dengan demokrasi,” kata Sodik dalam “Dialog Kebangsaan dan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI” pada Muktamar Ke-6 KB PII di Yogjakarta, Sabtu (16/11/2019).

Dia mencontohkan, di Jawa Barat, ketika dia datang ke dewan kemakmuran masjid (DKM dan tokoh Islam ketika ditanya siapa pemimpin mereka untuk calon gubernur dan walikota, mereka tidak memiliki jawaban yang sama.

“Sekali lagi, mereka lebih siap dengan sistem demokrasi. Akibatnya, bupati dan walikotanya bukan dari perwakilan umat Islam. Kalaupun masih Islam, mereka akan pilih yang masih sejalan dengan pemikiran mereka. Umat Islam tidak mempunyai roadmap di Jawa, Sumatera dan daerah lainnya. Jadi wajar, pengurus DKM masih bingung,” katanya.

“Sistem demokrasi padahal memberikan peluang produk-produk legislasi yang syar’i bisa dihasilkan asalkan tidak bertentangan dengan Pancasila dan prosesnya dihasilkan secara konstitusional,” imbuhnya.

Kepada para peserta Muktamar KB PII, Sodik menyarankan agar mulai saat ini perlu ada roadmap Dakwah untuk menyikapinya. Untuk mencapai ini, Sodik menganjurkan mengajarkan tiga hal.

Pertama, agar umat selalu meningkatkan iman dan takwa dimulai dari  keluarga. Kedua, ajarkan agar keluarga dan umat untuk memilih pemimpin yang muslim.

Ketiga, ajarkan bahwa  hukum terbaik itu bersumber dari Islam dan prosesnya harus dilakukan melalui sistem yang demokratis.