Seorang Muslimah yang Sedang Hamil Tua Diserang Pria di Sydney

SYDNEY (Jurnalislam.com) – Seorang perempuan yang sedang hamil 38 minggu diserang secara brutal oleh seorang pria di sebuah Cafe di Sydney, Australia pada Rabu (20/11/2019). Sebelum menyerang, pria itu juga melemparkan perkataan rasis kepada wanita tersebut.

Dilansir dari media Australia, wanita 31 tahun itu sedang makan di sebuah restoran di Church St Paramatta sekitar pukul 22.30 waktu setempat.

Kemudian pria itu menghampiri dan menghina mereka.

Rekaman CCTV menunjukkan, pria itu tiba-tiba membungkuk dan meninju korban beberapa kali di kepala dan tubuhnya hingga terkapar dan menginjak-injaknya.

Kepolisian setempat mengatakan, pelaku memukul kepala wanita itu sebanyak 14 kali hingga terkapar kemudian menginjaknya dua kali sebelum akhirnya pria itu diamankan oleh penjunjung lainnya.

“Sebagai akibat dari serangan itu, dia tampak agak trauma secara emosional dan fisik,” kata Inspektur Sywenkyj kepada wartawan di Sydney, Rabu (20/11/2019).

Atas penyerangan itu, Polisi menangkap pelaku yang merupakan seorang pria berumur 43 tahun.

Dalam persidangan yang digelar hari ini, Kamis (21/11/2019), pelaku didakwa dengan tuduhan melakukan penyerangan yang menyebabkan korban terluka. Jaminannya ditolak, dan pelaku akan dipenjara selama satu bulan.

Wanita itu dilepaskan dari RS Sydney Westmead pada hari Kamis untuk pemulihan di rumah.

Ciri Radikal Versi Menag: Intoleran dan Memaksakan Kehendak

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menteri Agama Jenderal (Purn) Fachrul Razi selain memaparkan penyebab orang menjadi radikal. Selain itu, dia juga mengurai ciri-ciri seseorang atau organisasi disebut sebagai kelompok radikal.

Pertama, mereka merasa paling benar dan intoleran, tidak bisa menerima orang lain yang berbeda identitas dan pendapat.

“Padahal Allah SWT menegaskan bahwa ciptaannya dibuat dalam kondisi beragam. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 13 Allah berfirman, Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal,” katanya dalam Sarasehan Pembinaan Mental Angkatan Darat (Bintalad) TA 2019 di Matraman, Rabu (20/11/2019).

Fachrul menyatakan bahwa keberagaman atau kebhinnekaan adalah keniscayaan. Keberagaman pandangan juga keniscayaan dan tidak ada satu pun manusia yang berhak mengklaim bahwa dialah yang paling benar.

“Kebenaran hakiki hanya milik Allah,” ucapnya.

Kedua, ciri kelompok radikal, lanjut Menag, mereka memaksakan kehendak dengan berbagai cara. Mereka menghalalkan cara apa pun bahkan memanipulasi agama untuk mencapai keinginan duniawi.

Mereka yang radikal dianggap tak segan-segan menjustifikasi perilaku kriminalnya, melukai, atau membunuh orang misalnya dengan penafsiran ayat sekehendaknya.

“Padahal agama mana pun, ayat suci mana pun tak ada yang menyuruh kezaliman atas kemanusiaan apa lagi membunuh. Agama justeru menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan menjaga kehidupan yang aman dan damai,” katanya.

Ketiga, mereka yang radikal juga menggunakan cara-cara kekerasan, baik verbal maupun tindakan dalam mewujudkan apa yang diinginkannya.  Mereka tak segan melakukan ujaran kebencian atau menyampaikan berita bohong.
Sebagian dari mereka juga melakukan tindakan kekerasan fisik, mempersekusi kelompok lain, atau meledakkan diri di kerumunan orang banyak.

“Mereka menjadi radikal negatif yang harus kita tangani dengan tegas, tidak selalu berarti keras. Pertama-tama kita lakukan nasehat dengan baik,” katanya.

Jika tidak bisa, dialog atau diskusi dengan baik guna meluruskan kesalahpahaman konsepnya. Jika juga tidak mengena, ada kerangka hukum yang bisa menindak tegas sesuai kadar pelanggaran hukumnya.

“Misalnya dengan menerapkan Undang-undang Pidana dan atau Undang-undang Terorisme,” kata mantan Wakil Panglima TNI ini.

Menag Kembali Bicara Tentang Radikal, Kali Ini Sebut Penyebabnya

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menteri Agama Jenderal (Purn) Fachrul Razi memaparkan ciri-ciri paham radikalisme dan penyebab seseorang menjadi radikal.

Secara umum, kata dia, ada dua hal yang mendorong seseorang menjadi radikal. Pertama, karena faktor ekonomi atau kemiskinan. Kedua, karena keterbatasan pendidikan atau minimnya ilmu agama dalam memaknai sebuah ajaran.

Menag menyebutkan, secara teoritik banyak unsur yang bisa membentuk seseorang menjadi radikal atau ekstrem. Ada perspektif ekonomi dimana kemiskinan mendorong seseorang nekat melakukan tindakan-tindakan di luar pakem.

“Bisa juga minimnya pendidikan, bacaan yang terbatas dan pemahaman yang salah, yang mendorong seseorang menjadi radikal,” katanya saat membuka acara Sarasehan Disbintalad di Matraman, Jakarta, Rabu (20/11/2019).

Adapun dari perspektif agama bisa karena salah paham atau paham yang salah. Salah paham bisa jadi karena saat belajar agama tanpa guru yang hanya menelusuri dunia maya.

“Menafsir ayat tanpa guru memadai dan guru yang otoritatif sehingga menafsirkan ayat-ayat tentang perang di masa damai atau di negara keberagaman seperti Indonesia misalnya dan sebagainya,” katanya.

Sementara itu, sebelumnya Ketua PP Muhammadiyah meminta pemerintah untuk menghentikan narasi radikalisme. Ia meminta definisi radikalisme itu sendiri harus diperjelas, khususnya hal ini kini menjadi narasi tunggal pemerintah.

“Apapun definisi radikal itu yang itu perlu dipertajam dan diperjelas, tapi problem bangsa ini bukanlah radikalisme sebagaimana yang menurut narasi tunggal dari pemerintah,” kata Busyro kepada Jurnalislam.com beberapa waktu lalu.

Buka MTQ DKI Jakarta, Anies Berharap Ada Calon Juara Baru

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membuka Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat provinsi DKI Jakarta ke-28 bertajuk “Membumikan Al Quran di Ibukota” yang dihelat di Kantor Walikota Jakarta Pusat, Rabu (20/11/2019).

Dalam sambutannya, Anies mengatakan, kegiatan tersebut adalah momentum yang tepat untuk melahirkan para pemenang yang nantinya dapat berkompetisi ke perlombaan yang lebih tinggi, yakni MTQ tingkat nasional maupun internasional.

“Bagi kita di Jakarta kegiatan MTQ ke 28 ini menjadi unik karena bukan sekedar kegiatan tahunan tapi ini bagian mempertahankan posisi DKI sebagai juara umum lomba MTQ Nasional, Insya Allah ke depan muncul calon pemenang-pemenang baru,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu Anies juga mengapresiasi para guru dan pembimbing yang telah melakukan pembinaan kepada para santri peserta MTQ.

“Tak terlihat, tapi Allah mencatat sebagai amal soleh Bapak/Ibu sekalian,” tuturnya.

Secara khusus,  Anies memberikan apresiasi kepada Muhammad Mifta Farid, santri Pesantren Al-Quran Al-Kautsar, Provinsi DKI Jakarta atas prestasinya mengharumkan nama Indonesia saat menjuarai lomba MTQ tingkat internasional di Maroko.

Sampaikan Ceramah di KPK, UAS Bahas Integritas

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Dai kondang Ustaz Abdul Somad (UAS) pada Selasa (19/11/2019) berkesempatan menyampaikan ceramah keagamaan di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan. UAS menyampaikan ceramah tentang bagaimana Islam membangun integritas.

“Temanya tentang integritas, bagaimana Islam mengajarkan sebesar biji sawi pun kecurangan akan dituntut di hadapan Allah SWT, untuk mendidik kita dalam menjaga kesucian, karena tidak ada gunanya banyak ibadah kalau kita aniaya pada orang, kalau kita makan barang haram doa tidak dikabulkan Allah,” kata UAS kepada wartawan.

UAS juga mendukung kebijakan apapun yang akan mendorong orang untuk berbuat baik dan mencegah yang munkar.

“Kamu akan tetap menjadi umat yang terbaik bukan karen tahajud malam sendirian berdoa kepada Allah. Umat terbaik adalah berbuat baik, support kebaikan, berikan dukungan terhadap kebijakan kebaikan, dan melarang perbuatan munkar, cegah orang dari perbuatan dosa, maka itu adalah inti ajaran Islam. Islam berani mengatakan tidak pada sogok, tidak pada rasuah, dan itu hanya dengan mendekatkan diri kita kepada Allah SWT,” paparnya.

Ditanya soal pengurus KPK yang baru, UAS mengatakan, dia mendukung siapapun yang mendapat amanah kepemimpinan di negeri ini selama mereka menjalankan amanah dengan baik dan takut kepada Allah.

“Amanah itu akan ditanya di hadapan Allah. mudah-mudahan siapapun, tetap yang takut kepada Allah SWT,” pungkasnya.

Global Wakaf Gelar Sekolah Pasar Modal Syariah

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Global Wakaf- Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengadakan Sekolah Pasar Modal Syariah di Menara 165, Jakarta Selatan.

Presiden Direktur Global Wakaf Syahru Aryansyah mengatakan Sekolah Pasar Modal Syariah ini hadir untuk memberikan edukasi cara memulai berbisnis di pasar modal.

Selain  itu program ini ditujukan agar para peserta mengenal lebih dalam mengenai wakaf.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara  Global Wakaf bersama BNI Sekuritas dan Bursa Efek Indonesia (BEI) selaku mitra dari Global Wakaf.

Melalui Sekolah Pasar Modal Syariah juga, Global Wakaf mengenalkan kembali Galeri Wakaf Saham yang telah diluncurkan pada pertengahan Agustus lalu.

Menurut Syahru kehadiran Galeri Wakaf Saham tidak terlepas dari peranan pasar modal syariah dalam sistem ekonomi, baik dalam sistem ekonomi regional maupun global.

“Kalau kami lihat secara makro,  di Indonesia dan global, banyak hal yang dapat kita ambil secara positif dari ekosistem syariah, tidak hanya pasar modal saja. Mulai dari masukannya, prosesnya, keluarannya secara syariah sangat baik sekali,” ujar Syahru dalam siaran persnya.

Global Wakaf juga berharap dengan kontribusi mereka di pasar modal, para investor nantinya tidak hanya fokus dengan bisnis saja. Investor juga dapat memberikan nilai lebih dalam pengelolaan bisnis sehingga bisa memberikan manfaat bagi orang banyak.

“Kami sebagai salah satu nazir yang berfokus di ekonomi produktif, fokus ke portofolio ekonomi yang bersifat dasar seperti pangan, pendidikan, dan kesehatan. Dananya ada yang dari orang yang berwakaf langsung ke Global Wakaf, atau ada yang dari saham. Kemudian dari dividennya berupa wakaf tunai, akan kami gunakan untuk portofolio yang sudah ada,” kata Syahru.

Sumber: republika.co.id

Wapres Dorong Penguatan Bank Muamalat

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Wakil Presiden Ma’ruf Amin mendorong berbagai upaya untuk menguatkan kembali Bank Muamalat. Dengan begitu, Bank Muamalat bisa terus berkembang dan bersaing dengan bank-bank lainnya.

“Bagaimana menguatkan, mengembangkan Bank Muamalat yang memang secara brand sudah sangat kuat, karena itu penting untuk dikuatkan, dan jangan dibiarkan menjadi mati,” ujar Ma’ruf di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Rabu (20/11).

Menurutnya, Bank Muamalat masih memiliki brand yang sangat kuat. Karena itu, ia pun tidak sepakat jika Bank Muamalat ditutup. “Saya kira kalau bisa dikuatkan, kenapa harus ditutup, karena itu solusi yang paling baik itu dikuatkan, dikembangkan jangan ditutup, karena kalau tutup kan gampang, tapi kan kita mencari penyelesaan bukan seperti itu,” ujar Ma’ruf.

Ma’ruf pun menyebut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai lembaga yang dapat menyelesaikan masalah Bank Muamalat tersebut. Ia berharap OJK dapat menggandeng investor untuk menyehatkan kembali Bank Muamalat.

“Kita serahkan pada OJK sebagai lembaga yang memiliki otoritas untuk menyelesaikan masalah Bank Muamalat dan menggandeng investor yang layak dan pantas,” ujar Ma’ruf.

Sebagai informasi, data terakhir, laba bersih Bank Muamalat tercatat sebesar Rp 6,57 miliar pada periode Januari sampai Agustus 2019. Angka itu menurun sebanyak 94,07 persen dibandingkan tahun lalu yang sebesar Rp 110,9 miliar.

Sumber: republika.co.id

 

Fintech Syariah Semakin Berkembang di Tanah Air

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pertumbuhan perusahaan financial technology (fintech) syariah dinilai cukup baik. Pasalnya, pada 2017, pemain fintech syariah Peer 2 Peer (P2P) lending hanya satu, namun kini sudah ada 14.

CEO sekaligus Co-Founder PT Ammana Fintek Syariah Lutfi Adhiansyah menuturkan, jumlah anggota di asosiasi mencapai 90 instansi. Tidak hanya P2P lending, ada pula yang berbentuk equity crowdfunding, aplikasi Muslim lifestyle, dan lainnya.

“Jadi saya semakin banyak temui di asosiasi inovator-inovator muslim muda. Mereka tidak hanya membuat fintech tapi juga digital syariah,” kata Lutfi yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Fintech Syariah saat ditemui usai menerima penghargaan di ajang Anugerah Syariah Republika di Jakarta, Selasa, (19/11).

Meski saat ini regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mendukung perkembangan fintech syariah, namun menurutnya, industri ini masih menghadapi tantangan. Salah satunya, jumlah inovator Muslim yang sedikit.

“Kalau pun ada inovator Muslim, rata-rata belum bisa ketemu pemodal. Jadi perusahaannya belum berkembang,” ujarnya.

Ke depannya, ia berharap semakin banyak pemain fintech syariah di lapangan. “Diharapkan pula lebih memanfaatkan regulasi yang OJK sudah buat,” tutur Lutfi.

Bagi dia, memanfaatkan regulasi OJK merupakan kesempatan bagi para inovator Muslim untuk terjun ke bidang teknologi secara legal. Dengan begitu semakin banyak inovator Muslim yang bertemu langsung masyarakat melalui fintech.

Sumber: republika.co.id

BI Dorong Masyarakat Kembangkan Ekonomi Syariah Secara Berjamaah

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Bank Indonesia (BI) mengklaim akan berkomitmen untuk memajukan ekonomi syariah.

BI pun bakal terus mengajak semua pihak untuk bersama-sama mendorong perkembangan ekonomi syariah di Tanah Air.

Kepala Departeman Ekonomi dan Keuangan Syariah BI Suhaedi mengatakan, Gubernur BI Perry Warjiyo memiliki tekad kuat untuk memajukan ekonomi syariah sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi nasional. Salah satu kebijakan utamanya adalah penciptaan rantai nilai halal.

Hal tersebut disampaikan Suhaedi seusai mewakili Perry menerima penghargaan Anugerah Syariah Republika (ASR) 2019 sebagai Tokoh Syariah, di Jakarta, Selasa (19/11) malam.

“Kita kembangkan pesantren, UMKM, pariwisata, hingga kawasan industri untuk masuk pada rantai nilai halal,” kata Suhaedi.

Sektor pariwisata halal juga menjadi perhatian BI. Pengembangan pariwisata halal secara berkelanjutan diharapkan dapat membantu meningkatkan devisa. Dia mengatakan, BI bersinergi dengan Kementerian Pariwisata yang juga memberi perhatian lebih pada pariwisata halal.

Pemerintah, kata dia, mendorong agar para pelaku industri bisa membuat wisatawan mancanegara merasa betah di dalam negeri. “Semakin mereka betah, semakin lama tinggal di sini, devisa yang masuk pun semakin besar,” katanya.

Suhaedi menambahkan, sinergi para pemangku kepentingan sangat penting untuk memajukan industri syariah.

“BI pun selalu mengajak agar dalam memajukan ekonomi syariah dilakukan secara berjamaah,” kata Suhaedi.

Salah satu upaya BI menyinergikan para pelaku ekonomi syariah diwujudkan dengan menggelar Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) dan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang rutin digelar setiap tahun. Acara tersebut khusus dibuat sebagai ajang berkumpul dan berinteraksi para pelaku ekonomi syariah.

sumber: republika.co.id

Kapolri: Ketua Baru KPK Firli Tak Perlu Mundur dari Kepolisian

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Kapolri Jenderal (Pol) Idham Azis menegaskan bahwa Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam), Komjen Firli Bahuri tidak perlu mengundurkan diri sebagai anggota Polri meski terpilih sebagai ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Hanya saja, kata Idham, Firli harus melepaskan jabatannya sebagai Kabaharkam.

“Anggota Polri yang diangkat sebagai pimpinan KPK dalam hal ini Kabaharkam itu tidak harus mengundurkan diri sebagai anggota Polri, tapi harus diberhentikan dari jabatannya,” jelas Idham saat rapat kerja dengan Komisi III DPR RI, Jakarta, Rabu (20/11).

Menurut Idham, alasan Firli tidak perlu mengundurkan diri sebagai anggota Polri meski menjabat ketua KPK itu berdasarkan Pasal 29 UU Nomor 30 tahun 2002 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 19 tahun 2019 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi.

Pasal tersebut menyebutkan bahwa anggota Polri tidak harus mundur dari kesatuan, tapi cukup melepaskan jabatan struktural di kepolisian.

Maka dengan demikian, kata Idham, pihaknya bakal melakukan pergantian Kabaharkam untuk menggantikan Firli yang hijrah ke KPK.

Pergantian itu akan dilakukan sebelum pelantikan Firli sebagai Ketua KPK.

Karena, sangat tidak mungkin Firli merangkap jabatan sebagai Kabaharkam dan juga bertugas sebagai ketua lembaga antirasuah.

“Insya Allah kami dengar tanggal 20 Desember dilantik (Ketua KPK). Tentu sebelum beliau dilantik nanti kami akan mencari gantinya karena tidak mungkin Pak Firli rangkap jabatan,” tutup Firli.

Sumber: republika.co.id