BPBD Pastikan Seluruh Genangan di DKI Telah Surut

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta memastikan seluruh genangan di sejumlah wilayah Jakarta, pada Sabtu ini telah surut sejak pukul 12.00 WIB.

Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Subejo menyampaikan genangan timbul akibat curah hujan yang tinggi hingga akhirnya menyebabkan genangan mulai dari sekitar 10-30 cm hingga 30-70 cm.

“Tapi kami pastikan seluruh wilayah telah surut. Bahkan, banyak yang sudah surut sejak pukul 07.00 pagi,” ujar Subejo dalam keterangan yang diterima di Jakarta. Adapun RW yang terdampak genangan tersebar di Jakarta Selatan (tiga RW), Jakarta Barat (tujuh RW) dan Jakarta Timur (dua RW).

Sedangkan, ruas jalan yang terdampak genangan tersebar di Jakarta Pusat (satu ruas jalan), Jakarta Timur (tiga ruas jalan), Jakarta Selatan (delapan ruas jalan), dan Jakarta Barat (lima ruas jalan). “Untuk genangan di ruas jalan dapat surut kurang dari dua jam,” tutur Subejo.

Pemprov DKI Jakarta, melalui Satgas Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, Satgas Dinas Bina Marga DKI Jakarta, BPBD DKI Jakarta dan PPSU mengerahkan pompa mobile hingga membersihkan lumpur untuk memastikan genangan dan banjir surut sehingga dapat kembali dilalui kendaraan.

Sumber: republika.co.id

 

MUI Ajak Masyarakat Waspadai Aliran Menyimpang seperti Keraton Sejagat

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Sekretaris Komisi Pengkajian dan Penelitian (PP) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rida Hesti Ratnasari mengajak masyarakat khususnya umat Islam bersama-sama meningkatkan sistem peringatan dini aliran keagamaan yang berpotensi membahayakan umat dan bangsa. Dia juga mengajak umat lebih mendekatkan diri kepada ulama yang bisa dijadikan rujukan.

Rida menjelaskan, Kerajaan Keraton Sejagat ada kemiripan dengan pola pembentukan, penyebaran dan kepatuhan anggotanya dengan kelompok seperti Lia Eden dan Ratu Ubur-Ubur.

Komisi PP MUI akan mendalami apabila kelompok tersebut menggunakan simbol-simbol Islam, dan menggunakan akidah serta syariah Islam dalam pengembangan ajarannya.

Maka, Komisi PP MUI mengajak masyarakat mendeteksi lebih dini kelompok-kelompok semacam itu. “Kalau ini (Kerajaan Keraton Sejagat) pengikutnya sudah 400 lebih, kasihan sudah banyak yang tertipu,” kata Rida kepada Republika, Sabtu (18/1/2020).

Ia menyampaikan, untuk mewaspadai kelompok yang membahayakan umat dan bangsa maka sistem deteksi dini harus ditingkatkan bersama-sama Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Kementerian Agama setempat dan kejaksaan. Intinya bersama-sama bahu membahu menegakkan sistem peringatan dini aliran yang berpotensi membahayakan umat dan bangsa.

Rida juga mengingatkan, umat Islam dalam praktik beragama harus merujuk kepada ulama. MUI sudah ada sampai tingkat kabupaten/ kota. MUI juga sudah mengeluarkan sertifikat dai supaya masyarakat dapat dengan mudah memilih dai yang bisa menjadi rujukan.

“Umat Islam harus jelas rujukannya, kalau umat tidak disediakan rujukan nanti merujuk ke mana-mana,” ujarnya.

sumber: republika.co.id

 

Jembatan Penghubung Putus Akibat Banjir Bandang, Warga Lebak Memutar hingga 50 Km

LEBAK (Jurnalislam.com) – Banjir bandang yang melanda Kabupaten Lebak, Banten, Rabu (1/1/2020) silam, menyebabkan jembatan utama yang menghubungkan tiga kecamatan ambruk.

Jembatan tersebut  menghubungkan antar desa dan akses ke kecamatan lain. Yakni jembatan penghubung Kecamatan Sajira Barat dan Sajira Timur.

Salah seorang warga yang menjadi relawan pengemudi perahu karet, Ahmad (30) mengatakan bahwa ini satu jembatan utama, warga dari Kecamatan Sajira, Muncang dan Sobang tidak bisa melintas.

“Jembatan ini putus lantaran banjir bandang terjadi lantaran sungai Ciberang yang berhulu di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) meluap,” katanya pada Sabtu (18/1/2020).

Menurutnya, akibat dari putusnya jembatan, warga di Muncang dan Sobang yang hendak ke Sajira dan Rangkasbitung, harus memutar sejauh 50 Kilometer melalui Kecamatan Leuwidamar.

“Jauh muternya. Kalau diwaktuin bisa satu jam lah buat nyebrang doang,” ujarnya.

Selain memutus jembatan, luapan sungai Ciberang juga menghanyutkan sejumlah rumah dan pondok pesantren di bantaran sungai.

ACT Bantu Logistik dan Dirikan Huntara untuk Korban Banjir Bandang Lebak

LEBAK (Jurnalislam.com) – Ketua RW 01, Desa Sajira Mekar, Kecamatan Sajira, Kab. Lebak, Banten, Zumaidi mengatakan bahwa hujan lebat yang turun pada malam tahun baru langsung mengakibatkan wilayahnya terendam pada pukul 08.00 WIB, sementara banjir bandang melanda pada pukul 11.00 WIB.

“Ada tiga RT: 01, 02, dan 04. Rata-rata warga mengungsi di rumah-rumah saudara mereka,” katanya, Sabtu (18/1/2020).

Dia menyatakan bencana ini adalah yang pertama terjadi selama hidupnya di Desa Sajira.

“Selama hidup saya, ini banjir pertama dan terbesar,” kata pria berumur 52 tahun.

Akibatnya 102 Kepala Keluarga dari 95 rumah di Desa Sajira Mekar, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Banten, terdampak. Usai banjir bandang melanda, dari pantauan Jurnalislam.com yang ada hanya sisa timbunan lumpur dan pasir tebal, serta puluhan reruntuhan rumah yang luluh lantak.

Sementara itu, Tim ACT telah mendirikan dapur umum di kawasan ini, dan dapat menghasilkan sekitar 300 bungkus nasi per hari untuk satu kali makan. Tim juga telah mendirikan hunian sementara yang terbuat dari papan untuk kebutuhan warga.

“Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kepada yang telah diberikan. Semoga bermanfaat barokah,” ujarnya.

Kemenag Sesalkan Hoaks Penelitian Rohis Yogyakarta Terpapar Radikalisme

SLEMAN(Jurnalislam.com)   Isu SMA-SMA di Kabupaten Sleman terpapar radikalisme dipastikan tidak benar.

Kemenag Sleman menegaskan, rohis-rohis di DIY tidak terpapar radikalisme.

Ketua Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Kabupaten Sleman, Unsul Jalis, yang namanya banyak disebut di berita-berita itu sendiri sudah pula memberi klarifikasi.

Ia menegaskan, tidak pernah memberi keterangan seperti itu.

Bahkan, ia menekankan, FKPAI tidak pernah melakukan penelitian-penelitian terkait itu. Selain itu, Unsul mengaku tidak pernah menyebarkan angket-angket kepada SMA-SMA di Kabupaten Sleman seperti yang berita-berita yang beredar.

“Bagaimana mau menyebarkan angket, dana mepet semua, perlu biaya, perlu operasional,” kata Unsul.

Unsul menambahkan, tidak pernah pula mengatakan OSIS di SMA-SMA banyak berubah penyebutannya menjadi Rohis.

Sedangkan, soal 60 persen siswa-siswa dan 30 persen guru-guru terpapar, disebut banyak beredar di media-media sosial.

Isu itu sendiri berawal dari agenda FKPAI yang mempertemukan penyuluh-penyuluh agama Islam di Kabupaten Sleman pada Sabtu (11/1) lalu. Acara mempertemukan penyuluh-penyuluh PNS maupun non-PNS.

Di sela-sela acara, sejumlah narasumber mengaku ditemui wartawan yang tidak diketahui dari mana lantaran tidak memakai tanda pengenal jurnalis. Hampir semua narasumber yang diwawancara diminta pendapat tentang acara tersebut.

Kemudian, pada Rabu (15/1) Kemenag Kabupaten Sleman mendapati berita-berita tentang SMA-SMA terpapar radikalisme. Selanjutnya, pada Kamis (16/1) mereka meminta keterangan FKPAI yang membantah berita-berita tersebut.

Sumber: republika.co.id

Muhammadiyah: Biar Masyarakat secara Alami yang Menyeleksi Khatib

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Dadang Kahmad menilai standard atau ukuran bagus-tidaknya seseorang menjadi khatib bersifat kualitatif dan subyektif.

Menurut dia, masyarakatlah yang menyeleksi maupun memilih seseorang untuk menjadi khatib.

“Khatib itu kan diserahkan kepada masyarakat yang menyeleksi dan yang memilihnya. Ulama itu bukan ditentukan oleh institusi tapi masyarakat. Orang yang berpengetahuan agama minim diperbolehkan oleh agama untuk menyampaikan kembali. Sampaikan walaupun satu ayat,” ujar dia, Kamis (16/1/2020).

Dadang pun mempertanyakan maksud pemberlakuan sertifikasi khatib itu. “Kenapa sampai ada sertifikasi seperti itu. Apakah ini punya konsekuensi. Kalau enggak ada konsekuensi ya buat apa. Misalnya apakah khatib mau digaji atau seperti apa. Khatib itu pekerjaan sukarela tanpa pamrih berbekal dengan kemampuan mereka dalam bidang keagamaan,” ungkapnya.

Jangan sampai, lanjut Dadang, sertifikasi khatib itu menghambat mekanisme khutbah di masjid-masjid di daerah, sehingga mereka tidak diperbolehkan untuk bicara. Sementara kebutuhan khatib itu sangat besar seiring dengan kian banyaknya jumlah masjid.

“Yang kita takutkan itu adalah tidak ada orang yang berani menjadi khatib karena tidak bersertifikat,” katanya.

Ikatan Khatib Dewan Masjid Indonesia (IK DMI) akan memberlakukan sistem dan mekanisme khatib bersertifikat. Ketua Umum IK DMI, Hamdan Rasyid, mengatakan sistem khatib bersertifikat ini tujuannya agar ada ukuran standar untuk para khatib.

Dengan begitu, Hamdan berharap kedepan semua khatib bersertifikat. “Insya Allah semua seperti itu, jadi ke depannya ada standar untuk memudahkan itu khatib bersertifikat,” ujar Hamdan, Selasa (14/1/2020).

Sumber: republika.co.id

Putra Kristolog Ahmad Deedat Wafat Ditembak Orang Tak Dikenal

DURBAN (Jurnalislam.com) – Cendekiawan Muslim terkemuka dan aktivis Yousuf Deedat (65 tahun)  meninggal di rumah sakit St Anne di Pietemaritzburg pada Jumat sore (17/1/2020).

Dilansir di iol.co.za, dia meninggal akibat luka tembak kepalanya oleh pria bersenjata tak dikenal di luar Pengadilan Magistrasi Verulam pada hari Rabu (15/1/2020).

Putra Yousuf Deedat, Raees Deedat mengatakan keluarga dan teman-temannya ada di samping tempat tidurnya ketika dia meninggal dengan damai pada pukul 14.40 waktu setempat.

“Keluarga menyampaikan rasa terima kasih yang tulus atas dukungan yang mereka terima dari keluarga, teman dan masyarakat. Semoga jiwanya beristirahat dalam damai,” kata Raees Deedat.

Tidak diketahui apa yang Deedat lakukan di pengadilan ketika dia ditembak. Direktur Perusahaan Keamanan Swasta Unit Reaksi Afrika Selatan, Prem Balram, mengatakan seorang pria berjalan ke Deedat, menembaknya, dan melarikan diri ke sebuah kendaraan yang diparkir di sepanjang Groom Street.

“Pada saat kedatangan, korban ditemukan tertelungkup di trotoar,” kata Balram.

Juru bicara kepolisian, Kolonel Thembeka Mbele, mengatakan Deedat sedang berjalan dengan istrinya ketika dia ditembak. Mbele mengatakan motif penembakan itu tidak diketahui. Dia mengkonfirmasi tersangka masih dalam pelarian

Ketua masjid Imam Hussein di Verulam, Azad Seedat, memberikan penghormatan kepada Deedat, yang dikenalnya selama 30 tahun, menggambarkannya sebagai orang yang luar biasa.

“Dia bergaul dengan semua orang. Dia mengunjungi masjid kami dan mendukung kami selama kami membutuhkan. Kami terkejut dengan apa yang terjadi,” kata Seedat.

Seorang mantan tetangga Deedat, Sharmaine Sewshanker, mengatakan dia adalah seorang aktivis komunitas terkenal yang selalu bersedia membantu.

“Dia tidak pernah menolak siapa pun yang datang ke rumahnya untuk meminta bantuan. Dia selalu berusaha keras, ”katanya.n Ratna Ajeng Tejomukti.

Sumber: republika.co.id

 

Kemenag Tegaskan Tak Ada Rohis Yogyakarta Terpapar Radikalisme

SLEMAN (Jurnalislam.com) – Isu SMA-SMA di Kabupaten Sleman terpapar radikalisme dipastikan tidak benar.

Kabid Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (Pakis) Kanwil Kemenag DI Yogyakarta, Masrudin menegaskan, rohis-rohis di DIY tidak terpapar radikalisme.

Ia mengatakan, Pakis Kanwil Kemenag DIY memang melakukan pembinaan untuk guru-guru agama dan rohis-rohis sekolah.

Pembinaan dilakukan baik kepada sekolah-sekolah umum maupun sekolah-sekolah Islam.

“Dari sekolah-sekolah yang kami kunjungi untuk melihat kegiatan-kegiatan Rohis tidak ada terpapar radikalisme, makanya sangat kaget ada pemberitaan ini,” kata Masrudin di Kantor Kemenag Kabupaten Sleman, Jumat (17/1/2020).

Untuk itu, Masrudin meminta media-media massa lebih bijak menyikapi kabar-kabar yang beredar seperti itu.

Sehingga, ketika dinaikkan, berita-berita tersebut tidak malah menimbulkan kontroversi dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Tidak ada itu masalah-masalah radikalisme,” ujar Masrudin.

Presiden Jokowi Direncanakan Akan Buka Kongres Umat Islam Indonesia

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Pengarah Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VII 2020 Anwar Abbas mengatakan KUII 2020 akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Kegiatan akbar umat Islam ini akan digelar di Pangkal Pinang, Bangka Belitung pada 26-29 Februari 2020 mendatang.

Sementara itu, pada penutupan acara kongres rencananya akan mengundang Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin yang juga merupakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) non aktif.

“Pembukaan oleh presiden. Penutupan oleh wapres,” ujar Anwar Kamis (16/1).

Sekjen MUI Pusat ini menjelaskan, kongres umat Islam tahun ini mengangkat tema “Strategi perjuangan umat Islam Indonesia untuk mewujudkan NKRI yang maju, adil dan beradab.”

Tema tersebut akan dibahas oleh ratusan peserta yang terdiri dari perwakilan dari organisasi Islam dan tokoh-tokoh Islam se-Indonesia.

“Jumlah peserta diperkirakan antara 700 sampai 900 orang,” ucapnya.

Menurut dia, topik-topik yang akan dibahas menyangkut masalah politik, ekonomi, hukum, pendidikan dan kebudayaan, kehidupan keagamaan, media, filantropi, dan isu-isu keislaman terkini.

“Pembicaranya nanti dari unsur pemerintah, dunia usaha, seluruh ketua umum partai-partai yang wakil-wakilnya ada di DPR RI, tokoh-tokoh ormas, cendekiawan, dan lain-lain,” kata pria yang akrab dipanggil Buya Anwar ini.

Gubernur Bangka Belitung, Erzaldi Rosman sebagai tuan rumah KUII sebelumnya telah berkomitmen untuk mempersiapkan acara kongres umat Islam tersebut dengan sebaik-baiknya.

Menurut dia, dalam kegiatan KUII tersebut nantinya juga akan dimeriahkan dengan acara seminar dan pemeran terkait dengan halal dan pendidikan keagamaan di Indonesia.

MUI: Waspadai Aliran seperti Sunda Empire atau Keraton Sejagat

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Barat mengingatkan umat Islam khususnya yang berada di Jawa Barat agar tidak terpengaruh aliran sempalan seperti Sunda Empire dan Kerajaan Keraton Sejagat.

“Itu (Sunda Empire) bagian sempalan-sempalan dari aliran-aliran kepercayaan, artinya sempalan itu kemudian ingin muncul eksistensinya, didukung budaya-budaya lokal yang terjadi sebelumnya,” kata Ketua MUI Provinsi Jawa Barat, KH Rachmat Syafei, Jumat (17/1/2020).

Menurut Rachmat, perlu ada penjelasan atau pencerahan untuk masyarakat. Supaya mereka mengetahui budaya lokal yang memunculkan sesuatu yang keliru.

Umat juga perlu mencermati fenomena munculnya aliran sempalan-sempalan agar tidak terpengaruh oleh mereka.

Dia menerangkan, budaya lokal melahirkan sesuatu yang seperti Sunda Empire karena jauh dari penerangan keagamaan.

Serta jauh dari penerangan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sehingga ada orang-orang yang membuat suatu sempalan seperti Sunda Empire.

“Mengimbau kepada masyarakat Muslim agar jangan terpengaruh sempalan seperti itu, sebab budaya yang tidak ada kaitannya dengan agama tapi mengakui bahwa itu bagian dari aliran keagamaan,” ujarnya.

Rachmat mengimbau kepada masyarakat lebih hati-hati terhadap sempalan semacam Sunda Empire dan Kerajaan Keraton Sejagat. Dia juga mengingatkan umat agar tidak terpengaruh oleh berita yang membesarkan sempalan seperti itu.

sumber: republika.co.id