Hamri Muin Resmi Jabat Ketua Umum PP LIDMI Periode 2020-2022

MAKASSAR(Jurnalislam.com) – Muktamar III Pimpinan Pusat Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (Muktamar III PP LIDMI) resmi ditutup dengan agenda pemilihan ketua umum yang bertempat di Gedung PPSDM Sulawesi Selatan, Jum’at-Ahad (21-23/02/2020).

Melalui pengusulan bakal calon ketua dari peserta Muktamar yang menghasilkan 10 nama, kemudian Tim Formatur mengadakan musyawarah terbatas dan memutuskan Hamri Muin, ST sebagai ketua umum PP LIDMI Periode 2020-2022 M. Ia menyampaikan bahwa kampus adalah aset melahirkan orang-orang besar.

“Kita melihat dakwah kampus adalah merupakan aset untuk melahirkan orang-orang besar di masa yang akan datang. Kapan pemikiran Islam tidak digalakkan di kampus-kampus Islam, maka pemikiran-pemikiran liberal, sekuler, syiah yang akan menguasai kampus,” ujarnya.

Ketua Tim Formatur Ustadz Abdul Qadir mengatakan bahwa dengan berbagai pertimbangan dan musyawarah begitulah cara kita memilih pemimpin.

“Sesungguhnya ketika kita memilih pemimpin, maka kita bertanggung jawab atas orang yg menjadi pilihan kita selama satu kepengurusan,” ungkapnya.

Dalam sambutannya, Hamri Muin mengungkapkan banyaknya tantangan yang dihadapi oleh kita hari ini.

“Tantangan bagi seorang aktivis dakwah adalah cinta dengan dunia, jangan sampai kita termasuk bagian dari itu. Mari terus berjuang dalam gerakan dakwah kampus kedepan. Serta memperkuat konsolidasi dan ukhuwah perjuangan kita kedepan,” tegasnya.

Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin ini pun menambahkan bahwa amanah itu sangat berat dan perjuangan kita kedepan masih sangat panjang.

“Amanah memang berat, mari kita bersama-sama, karena dakwah adalah jalan kita yang tiada hentinya. Perjuangan kita masih panjang, olehnya itu mari kita saling menguatkan ukhuwah dalam perjuangan ini. Jangan pernah menyia-nyiakan amanah yang Allah berikan kepada kita,” pungkasnya.M akbar

(Infokom PP LIDMI)

KUII VII Bahas Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Tepi Barat Palestina

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Dr. Nadjamuddin Ramli, anggota Panitia Pengarah Kongres Umat Islam Indonesia mengatakan, penyelenggaraan KUII yang ke-7 di Pangkalpinang, Bangka Belitung akan mengusung tema “Strategi Perjuangan Umat Islam Indonesia dalam Mewujudkan NKRI yang Maju, Adil, dan Beradab”.

Kongres ini merupakan kelanjutan KUII 2015 yang diselenggarakan di Kraton Yogyakarta, yang menghasilkan Risalah Yogyakarta.  Dalam KUII ke-7 ini akan dibahas beragam persoalan yang dihadapi umat Islam Indonesia, meliputi politik, keagamaan, media, ekonomi, dan pendidikan. Karena itu kongres akan dibagi menjadi 8 komisi, antara lain:

1) Komisi Strategi Perjuangan Umat Islam Di Bidang Politik
2) Komisi Strategi Perjuangan Umat Islam Di Bidang Ekonomi
3) Komisi Strategi Perjuangan Umat Islam Di Bidang Hukum
4) Komisi Strategi Perjuangan Umat Islam Di Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
5) Komisi Strategi Perjuangan Umat Islam Di Bidang Islam Wasathiyah / Moderasi
Kehidupan Beragama
6) Komisi Strategi Perjuangan Umat Islam Di Bidang Filantropi Islam
7) Komisi Strategi Perjuangan Umat Islam Di Bidang Media
8) Komisi Rekomendasi (Deklarasi Bangka Belitung)

Komisi politik mengedepankan peran politik umat Islam, pilkada, keputusan keputusan penting terkait dengan politik, apakah demokrasi sekarang sudah sejalan dengan semangat sila keempat Pancasila.

“Politik ini penting karena itu diharapkan hadir sembilan Parpol yang punya wakil di DPR,” kata Nadjamuddin dalam siaran pers di Kantor MUI, Jakarta, Jumat (21/2/2020).

Di bidang hukum membahas bagaimana membuat regulasi investasi lebih praktis. Komisi hukum akan mengelaborasi Omnibus law terkait dengan ketenagakerjaan, juga yang terkait dengan masalah jaminan produk halal yang menjadi ranah MUI.

Komisi pendidikan dan kebudayaan akan mengevaluasi sistem pendidikan nasional.

Komisi media dan informatika sangat penting agar terutama fatwa fatwa MUI bisa terdistribusi baik melalui media, juga bagaimana media sosial bisa menjadi media komunikasi yang sehat.

Komisi kelima filantropi islam. Umat islam banyak tertimpa bencana, ada ribuan dalam pengungsian. filantropi Islam, memperkuat lembaga lembaga Islam yang bergerak di bidang kemanusiaan dan kebencanaan di dalam maupun di luar negeri. Di luar negeri MUI membangun RS di Tepi Barat Palestina.

Komisi ekonomi, Ketua Umum nonaktif K.H. Ma’ruf Amin telah mencanangkan arus baru ekonomi Indonesia. Dalam arus baru ini, bagaimana kaum mustadzafin mampu memberdayakan diri.

“Kita tidak menggerogoti orang kaya, tapi mengangkat yang miskin,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal MUI Pusat itu.

Komisi moderasi beragama wasathiyah, mewujudkan agama yang rahmatan lil ‘alamin. Militansi dalam akidah, ibadah, tapi fleksibel dalam bermuamalah, menciptakan kerukunan adalah tekad MUI.

Rekomendasi membahas tentang pesan Bangka Belitung. Rekomendasi dirancang panitia pengarah secara matang melalui diskusi kelompok terpumpun, setelah itu diuji sahih oleh pakar-pakar di bidangnya. Sedangkan Pesan Pangka Belitung akan berisi intisari pembahasan.

KUII Siap Digelar, Sejumlah Politisi, Pengusaha, dan Tokoh Agama Dijadwalkan Hadir

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dr. Amirsyah Tambunan mengatakan, Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-7 yang akan diselenggarakan di Pangkalpinang, Bangka Belitung pada 26-29 Februari telah siap 90 persen.

“Terkait pelaksanaan KUII yang akan diselenggarakan di Pangkalpinang, Bangka Belitung, sebagai Wakil Ketua Pelaksana saya sampaikan telah siap 90 persen,” katanya kepada wartawan di kantor MUI, Jakarta, Jumat (21/2/2020).

Ia menambahkan, Bangka Belitung sebagai tuan rumah juga telah siap menerima tamu dan peserta kongres yang jumlahnya 800 peserta, di antaranya dari pengurus MUI pusat hingga daerah, ormas Islam, perguruan tinggi, pesantren dan pemangku kebijakan lainnya.

“Bangka Belitung sebagai tuan rumah sudah siap menerima tamu dari dalam dan luar negeri,” tambahnya.

Ia menjelaskan, ada tri sukses KUII, pertama sukses pada tahap pra kongres yaitu kegiatan Diskusi Kelompok Terpumpun materi kongres. Kedua, sukses dalam pelaksanaan, dan ketiga sukses hasil yang diperoleh yaitu program program kongres yang terdiri dari 8 bidang.

“Semua diproses sejak awal,” ujarnya.

Sementara itu, anggota Panitia Pengarah Dr. Nadjamuddin Ramli mengatakan, gelaran lima tahunan MUI ini selain dihadiri para politisi, juga akan hadir praktisi ekonomi, Jusuf Kalla, Abu Rizal Bakrie, Chaerul Tanjung, dan Sandiaga Uno.

Dua Ketua Umum Ormas Islam besar Prof. Dr. Hadir Haedar Nashir dan Prof. Dr. Said Aqil Siroj, secara bersama akan menjadi nara sumber penting, juga Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Prof Dr. Din Syamsuddin.

“Pak Haedar Nashir dan Pak Said Aqil Siroj akan hadir dalam satu sesi,” kata Nadjamuddin.

Rencana hadir Ketua DPR RI, Dr. Hj. Puan Maharani, Ketua DPD, dan jajaran Menteri Kabinet Indonesia Maju. Diagendakan kongres akan dibuka oleh Presiden RI, Joko Widodo, sementara Wakil Presiden RI, KH Ma’ruf Amin, akan menutup perhelatan KUII ke-7. Wakil Presiden sendiri selama Kongres akan “berkantor” di Bangka Belitung.

Kongres akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo pada 26 Februari dan ditutup oleh Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin pada 29 Februari 2020.

Pakar: Klarifikasi Tidak Cukup, Ketua BPIP Harus Diproses Hukum

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Guru Besar Filsafat Pancasila Universitas Diponegoro Prof. Suteki mengatakan bahwa Ketua BPIP Prof. Yudian dapat diproses hukum atas dugaan penodaan agama.

Menurutnya, klarifikasi yang dilakukan oleh Prof Yudian yang menyebutkan agama adalah musuh terbesar Pancasila, adalah tidak cukup.

“Saya katakan ini ada dugaan kuat telah terjadi  perbuatan yang memenuhi unsur-unsur pasal 156 atau pasal 156 a KHUP, itu tentang penodaan agama,” kata Prof. Dr. Suteki dalam ILC TV One baru-baru ini.

Walaupun Prof. Yudian sudah melakukan klarifikasi dengan menuduh sekelompok orang, namun nyatanya klarifikasi dinilai tidak cukup.

“Apakah setelah melakukan klarifikasi itu masalah selesai? Saya katakan tidak cukup! Karena ini adalah negara hukum bukan negara klarifikasi,” tambah dia.

Prof. Suteki memiliki pengalaman pribadi bahwa dirinya pernah mendapat tuduhan, walaupun sudah melakukan klarifikasi tapi nyatanya, jabatan dia tetap dicopot.

“Jadi tidak cukup klarifikasi, salah input, salah ketik, salah ucap, ini pejabatloh, bukan sembarangan. Kalau Suteki yang ngomong,” kata dia.

Ia mendesak agar polisi segera menindak hukum, atau masyarakat akan kembali bersuara.

“Nah jadi menurut saya ini harus diproses hukum untuk menunjukkan bahwa kita punya prinsip equality before the law,” pungkasnya.

Guru Besar Filsafat Pancasila: Ketua BPIP Seharusnya Sudah Bisa Diproses Hukum

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Guru Besar Filsafat Pancasila Universitas Diponegoro Prof. Suteki mengatakan bahwa Ketua BPIP Prof. Yudian dapat diproses hukum atas dugaan penodaan agama.

“Saya katakan ini ada dugaan kuat telah terjadi  perbuatan yang memenuhi unsur-unsur pasal 156 atau pasal 156 a KHUP, itu tentang penodaan agama,” kata Prof. Dr. Suteki dalam ILC TV One baru-baru ini.

Menurutnya, karena dalam pasal tersebut tidak perlu menunggu aduan, seharusnya polisi sudah bisa memeriksa Ketua BPIP.

“Dengan ada bukti yang cukup polisi itu sudah bisa langsung memeriksa tanpa menunggu laporan dari masyarakat. Belum lagi kalau kita kaitkan dengan UU No 11 tahun 2008 tentang ITE,” kata Prof. Suteki.

Menurutnya, hal tersebut sudah memenuhi unsur-unsur pasal 28 ayat 2 yaitu tentang menyatakan dan mengeluarkan perasaan permusuhan terhadap salah satu atau beberapa golongan yang dalam hal ini adalah agama-agama di Indonesia.

“Apakah setelah melakukan klarifikasi itu masalah selesai? Saya katakan tidak cukup! Karena ini adalah negara hukum bukan negara klarifikasi,” tambah dia.

Karenanya, Prof. Suteki meminta aparat segera menindak hukum karena Indonesia adalah negara hukum.

“Di medsos saya mengatakan, kalau ini gak diproses apa perlu kita itu demo berjilid-jilid lagi? Jadi permasalahan besarnya disitu,” pungkasnya.

LIDMI: Wujudkan Indonesia Beradab Melalui Dakwah Kampus

MAKASSAR(Jurnalislam.com) – Temu Aktivis Dakwah Kampus se-Indonesia menjadi salah satu rangkaian kegiatan Muktamar III PP LIDMI yang dihadiri oleh seluruh perwakilan dari berbagai daerah dan propinsi se-Indonesia yang bertempat di Gedung BPSDM Sulawesi Selatan, Jum’at (21/02/2020).

Ketua umum LIDMI, Hamri Muin mengatakan bahwa pertemuan ini adalah pertemuan yang sangat penting dalam mengusung dakwah kampus.

“Pertemuan ini adalah pertemuan yang sangat penting untuk mengusung dakwah untuk seluruh Indonesia. Dengan adanya pertemuan ini memberikan perubahan dan pengaruh secara luas,” ujarnya.

Salah satu tujuan kegiatan ini adalah untuk menyatukan konsolidasi seluruh kader dari berbagai daerah dan wilayah se-Indonesia.

“Pertemuan ini juga bertujuan untuk menyatukan konsolidasi dengan seluruh kader dari berbagai wilayah se Indonesia. Pertemuan ini harus kita memiliki peran besar untuk perkembangan dakwah kampus di seluruh Indonesia dan menghidupkan ghirah seluruh kader dalam memperjuangkan dakwah kampus,” harapnya.

Juga untuk kembali berkonstruksi untuk gerakan dakwah kampus untuk Indonesia beradab.

“Tujuan kita adalah untuk kembali berkonstruksi  gerakan dakwah kampus untuk Indonesia beradab. Sebagaimana hari ini untuk kita berkumpul untuk membangkitkan perjuangan dakwah dalam mewujudkan Indonesia yang beradab,” lanjutnya.

Pemikiran Islam harus di gaungkan ke seluruh kampus di Indonesia karena jika tidak, maka pemikiran sekuler, liberal yang akan menguasai kampus.

“Kita melihat dakwah kampus adalah merupakan aset untuk melahirkan orang-orang besar di masa yang akan datang. Kapan pemikiran Islam tidak digalakkan di kampus-kampus Islam, maka pemikiran-pemikiran liberal, sekuler, syiah yang akan menguasai kampus,” tegas Hamri Muin.

Kerisauan adalah salah satu cara untuk membuat kita bergerak dalam perjuangan dakwah.

“Olehnya itu, kita mesti risau dengan kondisi kita hari ini. Dan terus berjuang dalam gerakan dakwah kampus kedepan. Serta memperkuat konsolidasi dan ukhuwah perjuangan kita kedepan,” tutupnya./*Muhammad Akbar

Dua Bulan Lagi Ramadhan, Yuk Persiapkan Sambut 10 Keberkahan di Dalamnya

(Jurnalislam.com)–Bulan Ramadhan selayaknya tamu istimewa yang sangat dinanti-nanti kedatangannya, karena begitu besar manfaat dan kebaikan yang dibawa oleh bulan Ramadhan, saking besarnya manfaat dan kebaikan yang dibawa bulan Ramadhan, bulan ini pun disebut sebagai bulan penuh keberkahan, seperti disabdakan Rasulullah SAW yang artinya :”Sungguh telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah. Pada bulan ini diwajibkan puasa kepada kalian..” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi).

 

Keberkahan itu diantaranya adalah :

  1. Allah melipatgandakan pahala untuk setiap kebaikan yang dilakukan, pintu syurga dibuka dan pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan di belenggu,

Rasulullah SAW bersabda “Bulan Ramadhan telah tiba menemui kalian, bulan (penuh) barokah, Allah wajibkan kepada kalian berpuasa. Pada bulan itu pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu (neraka) jahim ditutup, setan-setan durhaka dibelenggu. Padanya Allah memiliki malam yang lebih baik dari seribu bulan, siapa yang terhalang mendapatkan kebaikannya, maka sungguh dia terhalang (mendapatkan kebaikan yang banyak).” (HR. Nasa’I dan Ahmad)

 

  1. Allah memberikan di bulan Ramadhan malam Lailatul Qadr yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan,

Firman Allah SWT “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan, Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?  Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar,” (QS. Al-Qadar : 1-5).

 

  1. Allah menjadikan puasa dan shalat di bulan Ramadhan yang dilakukan dengan keimanan dan mengharapkan pahala sebagai penggugur dosa-dosa.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang berpuasa (di Bulan) Ramadhan (dalam kondisi) keimanan dan mengharapkan (pahala), maka dia akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu,” (HR. Bukhari Muslim)

 

  1. Allah menganugerahkan setiap malam bulan Ramadan ada yang Allah bebaskan dari siksa neraka.

Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

“Pada setiap (waktu) berbuka, Allah ada orang-orang yang dibebaskan (dari siksa neraka)” (HR, Ahmad)

 

  1. Allah menjadikan puasa pada bulan Ramadan menjadi sebab terhapusnya dosa-dosa setahun yang lampau.

Sebagaimana terdapat riwayat dalam shahih Muslim, no. 233, sesungguhnya Nabi sallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Dari shalat (ke shalat) yang lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at, dari Ramadan ke Ramadhan, semua itu dapat menghapuskan (dosa-dosa) di antara waktu tersebut, jika menjauhi dosa-dosa besar.” (HR, Muslim)

 

  1. Allah menganugerahkan kepada orang yang menunaikan taraweh bersama imam hingga selesai, dicatat baginya seperti qiyamul lail semalam (penuh).

Keterangan ini sebagaimana terdapat dalam riwayat Abu Daud, no. 1370 dari Abu Dzar radhiallahu ’anhu, dia berkata: Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa menunaikan qiyamul lail bersama imam hingga selesai, dicatat baginya (pahala) qiyamul lail semalam (penuh),” (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam kitab ‘Shalat Taraweh’,  hal. 15)

 

  1. Allah menjadikan puasa di bulan Ramadan senilai puasa sepuluh bulan.

Diriwayatkan dari hadits Abu Ayub Al-Anshary, bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang berpuasa (pada bulan Ramadhan) kemudian diikuti (puasa) enam (hari) pada bulan Syawwal, maka hal itu seperti puasa setahun.” (HR. Muslim, no. 1164)

 

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, no. 21906, bahwa Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa yang berpuasa (pada bulan) Ramadhan, maka satu bulan sama seperti sepuluh bulan. Dan (siapa yang berpuasa setelah itu) berpuasa selama enam hari sesudah Id (Syawal), hal itu (sama nilainya dengan puasa) sempurna satu tahun,” (HR. Ahmad)

 

  1. Allah menjadikan ibadah umrah pada bulan Ramadhan, pahalanya sama seperti haji.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ’anhuma, dia berkata: Rasulullah sallallahu ’alaihi wasallam bersabda kepada wanita dari Anshar:

”Apa yang menghalangi anda melaksanakan haji bersama kami?” Dia berkata: ”Kami hanya mempunyai dua ekor onta untuk menyiram tanaman. Bapak dan anaknya menunaikan haji dengan membawa satu ekor onta dan kami ditinggalkan satu ekor onta untuk menyiram tanaman.” Beliau bersabda: “Jika datang bulan Ramadan tunaikanlah umrah, karena umrah (di bulan Ramadhan) seperti haji”. Dalam riwayat Muslim: “(seperti) haji bersamaku,” (HR. Bukhari, no. 1782, dan Muslim, no. 1256)

 

  1. Allah pun menjadikan peristiwa besar turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia adalah di bulan Ramadhan

Sebagaiamana firman Allah Ta’ala:

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil),” (QS. Al-Baqarah: 185)

 

  1. Allah pun menetapkan puasa di bulan Ramadhan sebagai rukun keempat dari rukun Islam. Sebagaimana firman-Nya:

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu,” (QS. Al-Baqarah: 185)

 

Dalam riwayat Ibnu Umar disebutkan bahwa Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

 

“Islam dibangun atas lima (rukun); Bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan haji ke Baitullah.” (HR. Bukhari Muslim)

 

Kebiasaan para sahabat dengan mengetahui begitu banyaknya manfaat dan keberkahan yang dibawa oleh bulan Ramadhan mereka bersiap-siap menyambutnya jauh sebelum Ramadhan itu datang, sebagian ulama salaf mengatakan :

 

”Mereka (para sahabat) biasa berdo’a kepada Allah selama 6 bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadhan.” (Lathaaiful Ma’arif hal. 232)

 

Diantara doa yang diucapkan para salaf :

“Ya Allah, sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan, sampaikanlah bulan Ramadhan kepada kami, dan terimalah amalan-amalan kami.” (Lathaif Al-Ma’arif, Hal: 158)

 

Maha Baik Allah yang Maha Penyayang, Ia menganugerahi kepada umat Islam bulan yang penuh kebaikan yaitu bulan Ramadhan sebagai tanda bahwa Ia Maha Penyayang dan Maha Pengampun. Orang-orang terbaik dari umat Islam ini pun mensyukuri anugerah Allah ini dengan siap menyambutnya dari 6 bulan sebelumnya. Sekarang, 2 bulan lagi Ramadhan tiba, sudahkah kita berbahagia dan siap menyambut kedatangannya.

 

Sumber :

Shahihfiqih.com

Islamqa.info

 

Gambar : suaramuslim.net

 

Laznas BMH Gelar Pelatihan Dai dan Guru Ngaji di Pesantren Dolly Surabaya

SURABAYA(Jurnalislam.com)–Kiprah dan dedikasi Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dalam program Dakwah tidak hanya menyasar daerah pedalaman, namun juga wilayah pinggiran perkotaan.

Belum lama ini Laznas BMH bersama Pesantren Dolly adakan pelatihan dan upgrading untuk Dai & Guru Ngaji al-Qur’an di Gang Dolly Surabaya selama dua hari di Pesanggrahan Jauharotul Hikmah Surabaya. (15-16/2).

Dakwah diperkotaan tentu berbeda pendekatannya dengan dakwah di pedalaman dan pelosok.

Butuh strategi dan pendekatan yang masif agar objek dakwah nyaman dan totalitas.

Siapa yang tak kenal dengan Gang Dolly Surabaya. Tempat eks- prostitusi terbesar di Asia Tenggara itu, kini sudah ditutup oleh Pemerintah Kota Surabaya pada 18 Juni 2014.

Ustadz Nasih, Dai tangguh sekaligus pendiri Pesantren Dolly mengatakan pentingnya dukungan untuk warga Dolly tersebut.

“Gerakan dakwah untuk Hijrahnya eks warga Gang Dolly harus dikuatkan melalui program berantas buta huruf al-Qur’an dan penguatan kajian-kajian ke-Islaman”, ungkapnya.

Alhamdulillah, para guru al-Qur’an mendapatkan pelatihan dan upgrading, sehingga lebih semangat lagi dalam menyampaikan dakwah al-Qur’an kepada warga (Anak-anak dan dewasa).

“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab BMH untuk memberikan perhatian & layanan kepada para Dai & daiyah serta guru ngaji di Gang Dolly. Karena mereka adalah garda terdepan dalam membina masyarakat disini,”ujar Imam Muslim, Manager Program & Pendayagunaan BMH Jawa Timur.

“Semoga kegiatan ini bisa rutin dilakukan di sini, agar para dai & guru ngaji bisa mendapatkan bekal terjun ke masyarakat,”ungkap Muhammad Izzin, salah satu peserta pelatihan.

MUI Berkomitmen Akan Kaji Omnibus Law

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI), Din Syamsuddin menyampaikan bahwa pihaknya akan mengkaji rancangan Omnibus Law atau RUU Cipta Kerja yang di dalamnya berkaitan dengan jaminan produk halal.

Sekarang naskah RUU Cipta Kerja belum diterima Wantim MUI dan belum dibaca sehingga belum bisa berkomentar.

“Sehingga terus terang saya belum bisa memberikan tanggapan, tadi ibu Ketua DPR RI Puan Maharani juga sudah menyebutkan bahwa draf (RUU Cipta Kerja) baru dikirim ke DPR pada pekan lalu, tebalnya luar biasa sehingga belum dikaji secara mendalam,” kata Din di kantor MUI Pusat, Rabu (19/2).

Din menyampaikan, Insya Allah pada waktunya nanti Wantim MUI akan mengkaji RUU Cipta Kerja. Kemudian Wantim MUI akan menyampaikan pikiran-pikiran ke DPR terutama terkait dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan umat Islam.

Ia juga mengatakan, naskah Omnibus Law sangat tebal dan baru mendengar di dalamnya ada pasal yang memberikan kewenangan kepada ormas Islam untuk mengeluarkan fatwa halal.

Sebenarnya mengeluarkan sertifikasi halal adalah kewenangan negara atau pemerintah karena itu harus menjadi hukum positif yang mengikat.

Tapi dulu pemerintah memberi kewenangan kepada MUI untuk mengeluarkan sertifikasi halal.

Tapi dengan adanya Undang-undang Jaminan Produk Halal (UU JPH) maka kewenangan mengeluarkan sertifikasi halal diambil alih pemerintah. “Kecuali fatwa halal, memang sebaiknya berada di lembaga fatwa di bawah naungan Komisi Fatwa MUI, itu yang ideal,” ujarnya.

Sumber: republika.co.id

Sambangi MUI, Ketua DPR Minta Umat Islam Beri Masukkan soal Omnibus Law

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ketua DPR Puan Maharani meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) bisa memberikan masukan dalam pembahasan Rancangan Undang Undang (RUU) Omnibus Law agar bermanfaat bagi masyarakat.

“Tentunya, DPR akan menerima masukan terkait hal-hal yang memang penting dan perlu disampaikan untuk kemaslahatan umat, rakyat Indonesia,” kata Puan dalam sambutannya di rapat pleno ke-50 Dewan Pertimbangan MUI di Kantor MUI, Menteng, Jakarta, Rabu (19/2).

Ia mengatakan, salah ketik Perumus Draf Omnibus Law RUU Cipta Kerja agar bertanggung Jawab. Dua draf Omnibus Law, yakni RUU Cipta Kerja dan RUU terkait perpajakan, belum lama diterima oleh DPR.

“Banyaknya pihak yang sebelumnya menyebarkan isu-isu terkait Omnibus Law tersebut. Padahal draf asli dari pemerintah baru saja selesai,” kata dia.

Ia juga menambahkan, baru dua pekan lalu saya menyampaikan draf terkait Omnibus Law RUU itu, kami terima. Jadi kalau kemudian ada yang menyampaikan keberatan-keberatannya dan ada yang menyampaikan banyak hal yang tidak dibicarakan dan tidak sesuai, tentu kita harus mengecek terlebih dahulu apakah kemudian orang-orang tersebut mendapatkan draf yang resmi.

“Sebabnya, kami baru mendapatkan draf itu pekan lalu atau mereka mendapatkan draf itu yang abal-abal atau tidak sesuai dengan apa yang diberikan pemerintah,” ungkapnya.

Katanya, Hal Ini sangat penting disampaikan. Karena jangan sampai hal yang tidak benar kemudian membuat salah persepsi. ketidakpastian dan ketidaknyamanan didasarkan fitnah atau sesuatu hal yang hoax