Update Corona 7 April: 2738 Positif, 221 Meninggal Dunia

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan, ada penambahan kasus positif Covid-19 di Indonesia sebanyak 247 orang per hari ini, Selasa (7/4). Dengan begitu total pasien yang terkonfirmasi positif terjangkit virus corona berjumlah 2.738 orang.

“Kita prihatin karena masih terjadi penularan, kasus positif masih bertambah, saya mengingatkan kembali untuk jaga jarak,” kata Achmad Yurianto dalam konferensi pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB di Jakarta, Selasa.

Selain itu, juga ada penambahan pasien yang sembuh sebanyak 12 orang sehingga total pasien yang sembuh berjumlah 204 orang. Namun, jumlah pasien yang meninggal dunia juga bertambah 12 kasus, sehingga total 221 orang. Data tersebut merupakan pembaruan yang dilakukan sejak Senin (6/4) pukul 12.00 WIB, hingga Selasa (7/4), pukul 12.00 WIB.

Gugus Tugas mencatat hingga saat ini kasus positif COVID-19 tercatat di 32 provinsi dengan rincian yaitu di Provinsi Aceh lima kasus, Bali 43 kasus, Banten 194 kasus, Bangka Belitung dan Bengkulu masing-masing dua kasus, Yogyakarta 41 kasus danDKI Jakarta 1.369 kasus.

Selanjutnya di Jambi dua kasus, Jawa Barat 343 kasus, Jawa Tengah 133 kasus, Jawa Timur 194 kasus, Kalimantan Barat 10 kasus, Kalimantan Timur 31 kasus, Kalimantan Tengah 20 kasus, Kalimantan Selatan 18 kasus dan Kalimantan Utara 15 kasus.

Kemudian di Kepulauan Riau sembilan kasus, NTB 10 kasus, Sumatera Selatan 16 kasus, Sumatera Barat 18 kasus, Sulawesi Utara delapan kasus, Sumatera Utara 26 kasus, Sulawesi Tenggara tujuh kasus.

Adapun di Sulawesi Selatan 127 kasus, Sulawesi Tengah lima kasus, Lampung dan Riau masing-masing 12 kasus, Maluku Utara dan Maluku masing-masing satu kasus, Papua Barat dua kasus, Papua 26 kasus, serta dua kasus positif di Sulawesi Barat

Sumber: republika.co.id

Jakarta PSBB, Bogor Depok Bekasi Menyusul

BANDUNG(Jurnalislam.com) – Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil yang akrab disapa Kang Emil mengatakan penetapan pembatasan sosial berkala besar (PSBB) akan difokuskan ke wilayah Bodebek atau Bogor, Depok dan Bekasi.

“PSBB fokus ke Bodebek (Bogor, Depok dan Bekasi) dulu. Jakarta sudah disetujui maka Jabar akan samakan polanya dulu untuk kabupaten/kota yang berdekatan dengan Jakarta yaitu Depok, Bekasi dan Bogor,” kata Kang Emil, Selasa (7/4).

Dia mengatakan dengan disetujuinya PSBB Jakarta maka pihaknya segera melakukan sinkronisasi dengan Provinsi DKI Jakarta karena penyebaran virus ini 70 persen ada di Jabodetabek.

“Tidak bisa kalau hanya DKI Jakarta yang melakukan PSBB, sementara yang lain tidak melakukan jadi itu disinkronkan hari ini kebetulan ada rapat sama pak wapres. Nanti disampaikan,” ujar dia.

Emil juga menyinggung tentang pembatasan jam malam dan sudah menginstruksikan hal tersebut ke kabupaten/kota.

“Diizinkan untuk memperketat jam malam, itu teknis beda karena level kota dan kabupaten beda. Kabupaten lebih luas dan jarang kegiatan, kota lebih padat. Jadi keputusannya ada di level wali kota atau bupati yang melaksanakannya,” ujar dia.

Sumber: republika.co.id

Berbuat Baik, Menyelamatkan Diri dari Musibah

(Jurnalislam.com) – Seseorang penderita bisul bernanah di lutut menahun yang tak kunjung sembuh meskipun berbagai macam pengobatan dilakukan mendatangi Imam Ibnu Mubarak rahimahullah.

 

Sang Imam menasihatinya, “Pergilah dan carilah wilayah yang penduduknya membutuhkan air. Lalu galilah sumur di sana. Semoga terdapat air mata memancar lalu nanahmu berhenti keluar.” Orang tersebut melakukannya dan ternyata sembuh!

 

Kisah lainnya di masa kita ini yang diceritakan oleh Syeikh Khalid Abu Syadi dalam Kitab Shafaqat Rabibah, ada orang bernama Ibnu Jad’an melihat untanya sangat bagus dan gemuk. Ia teringat firman Allah:

 

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

 

“Kamu sekali-kali tidak akan masuk surga sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (Ali Imran: 92)

 

Iapun mensedekahkan unta tersebut berserta anak-anaknya ke tetangganya. Hari berganti hari terjadilah musim kemarau panjang yang menyebabkan kegersangan.

 

Pergilah ia berserta anak-anaknya mencari air di padang pasir yang biasa ditemukan di dalam celah-celah gua dalam tanah.

 

Ketika turun mengambil air, ia tersesat tidak menemukan jalan ke luar hingga berhari-hari. Anak-anaknya yang menunggu di mulut celahpun telah putus asa dan menganggap ayahnya telah mati.

 

Pulanglah anak-anaknya lalu membagi-bagi harta warisan, bahkan unta yang telah disedekahkan pada tetangganya juga diminta kembali.

 

Tetangganya tidak mempercayai jika Ibnu Jad’an telah mati, segera mencarinya dalam celah sumur. Ibnu Jad’an ditemukan masih bernafas padahal tertimbun dalam tanah selama lebih sepekan.

 

Ketika Ibnu Jad’an telah sadar dan mulai kuat bercerita, “Setelah tiga hari aku tersesat dan tertimbun tanah, aku berserah diri pada Allah. Tiba-tiba muncul mangkok penuh susu hangat menetes di mulutku.

 

Sehingga kau bisa minum sampai puas. Mangkok itu mendatangiku tiga kali dalam sehari lalu menghilang dalam kegelapan. Akan tetapi sudah dua hari ini tidak muncul, aku tidak tahu mengapa?”

 

Tetangganya kemudian menjawab, “Andai engkau mengetahui penyebab ketidakmunculannya, pasti engkau terheran-heran. Anak-anakmu mengira kamu telah mati dan mengambil unta betina yang Allah memberimu minum darinya.”

 

Dari dua kisah shahih ini, seorang mukmin akan menghadapai wabah coronavirus (CORVID-19) dengan cara berbuat kebajikan.

 

Karena tidak ada seorangpun yang bisa menjamin selamat dari wabah yang telah menyebar cepat keseluruh dunia. Wabah yang tidak hanya menimpa orang-orang durhaka pada Allah saja, tetapi juga bisa menimpa kaum muslimin.

 

Sebab itu, seorang mukmin akan membentengi dirinya dari musibah dengan perbuatan baik, memperbanyak perbuatan baik dan terus berbuat baik. Seperti kata Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, “Orang yang berbuat baik tidak akan jatuh, andaipun jatuh maka tulangnya tidak patah.”

 

Artinya, orang yang rajin berbuat baik bisa saja terkena musibah wabah penyakit. Tetapi andaipun ia terinfeksi, ia tidak akan hancur. Allah menyembuhkannya atau Allah memanggilnya untuk segera bertemu di atas ridha-Nya.

 

Apabila hanya dengan berbuat baik saja dapat melindungi kita dari wabah dan musibah, apalagi jika kita bersinergi dengan melakukan perbaikan masyarakat. Bahu membahu saling mendukung dalam dakwah. [agus riyanto]

 

 

Menag Terbitkan Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Kementerian Agama menyampaikan surat edaran terkait Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1 Syawal 1441H di tengah Pandemi Wabah Covid-19.

Surat Edaran Nomor 6 Tahun 2020 itu dikeluarkan agar masyarakat tetap dapat melaksanakan ibadah selama Ramadhan meski sedang ada wabah penyakit.

“Iya, jadi Surat Edaran ini kami kirimkan untuk memberikan panduan beribadah yang sejalan dengan syariat Islam sekaligus mencegah, mengurangi penyebaran, dan melindungi pegawai serta masyarakat muslim di Indonesia dari risiko Covid-19,” kata Fachrul di Jakarta, Senin (6/4).

Fachrul menjelaskan, dalam surat edaran itu, terdapat juga panduan mengenai cara pengumpulan dan penyaluran zakat. Total ada 15 poin panduan dalam surat edaran tersebut.

“Selain terkait pelaksanaan ibadah Ramadhan dan hari raya Idul Fitri, edaran ini juga mengatur tentang panduan pengumpulan dan penyaluran zakat,” katanya.

Dalam panduan tersebut, Kemenag juga meminta sahur dan buka puasa dilakukan oleh individu dan keluarga inti.

“Tak perlu sahur on the road atau ifthar jama’i (buka puasa bersama),” katanya.

“Buka puasa bersama baik dilaksanakan di lembaga pemerintahan, lembaga swasta, masjid, maupun musala ditiadakan,” imbuhnya.

Selain itu, Kemenag meminta salat tarawih dilakukan secara individual atau berjemaah bersama keluarga inti di rumah.

“Dan tilawah atau tadarus Al-Qur’an dilakukan di rumah masing-masing berdasarkan perintah Rasulullah SAW untuk menyinari rumah dengan tilawah Al-Qur’an,” ujarnya.

Menakar Logika Pembebasan Koruptor Berdalih Corona

Oleh : Djumriah Lina Johan*

Wadah Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta Menkumham Yasonna H. Laoly tidak menjadikan wabah virus corona (Covid-19) sebagai jalan untuk membebaskan narapidana kasus korupsi. Hal ini merespons usulan revisi PP Nomor 99 Tahun 2012 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan.

Yudi berpendapat langkah Yasonna merevisi aturan tersebut sebagai bentuk keringanan hukuman terhadap narapidana korupsi. Bahkan, menghilangkan efek jera terhadap para pelaku korupsi lainnya. Di samping itu, menurut dia, usulan tersebut tidak selaras dengan cita-cita bangsa agar dapat hidup bebas dari korupsi.

(CNNIndonesia.com, Sabtu, 4/4/2020)

Melihat getolnya usaha yang dilakukan Menkumham untuk merevisi PP tersebut bahkan ditengarai ini bukan usaha pertamanya. Menghantarkan kita pada sebuah pertanyaan, benarkah usulan tersebut karena adanya wabah corona? Atau hanya akal-akalan demi memuluskan upaya pembebasan napi korupsi?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, perlu kiranya kita mendudukkan terlebih dahulu akar permasalahan polemik ini. Pertama, wabah virus corona. Corona sejatinya merupakan virus yang menyebar melalui perantara. Salah satunya ialah manusia. Sehingga jika benar upaya pembebasan napi korupsi demi menangkal corona, maka usaha tersebut jelas tidak tepat. Karena memutus mata rantai penyebaran corona seharusnya menggunakan metode lockdown, yakni menutup akses keluar masuk lapas. Dengan demikian, virus tak akan masuk dan tak akan menjangkiti para napi.

Kedua, pembebasan napi. Apabila benar upaya tersebut demi corona, kenapa tidak bebaskan saja semua napi semisal napi pencuri ayam, Abu Bakar Ba’asyir, dan yang lainnya? Kenapa hanya berkisar pada napi kasus narkotika, korupsi, serta WNA? Apalagi jika didetili akan mengerucut kepada orang-orang tertentu saja yang dibebaskan yang mana memiliki hubungan erat dengan penguasa saat ini. Sebab, logikanya tak mungkin napi narkotika kelas teri akan dibebaskan demi corona. Jelas, adanya upaya menggolkan kebijakan ini untuk kepentingan segelintir orang.

Ketiga, logika menyesatkan. Upaya membebaskan napi korupsi dengan dalih corona sejatinya merupakan logika yang menyesatkan. Sebab, ini jelas akal-akalan demi memuluskan revisi PP No. 99 tahun 2012 dan usaha lain melindungi para pelaku tindak pidana korupsi dikemudian hari. Maka, wajib bagi intelektual, pakar, pemerhati, pemikir, serta masyarakat pada umumnya untuk menolak kebijakan tersebut.

Keempat, adanya muslihat dibalik pembebasan napi ini sejatinya menunjukkan bagaimana hukum di mata penguasa. Hukum yang sekarang berlaku tajam ke bawah dan tumpul ke atas mempertontonkan kerusakan secara struktural. Di mana penguasa dapat mempermainkan hukum sesuai keinginan dan kepentingan mereka. Tentu hal tersebut tak terlepas dari adanya orang-orang tak terlihat di belakang penguasa.

Inilah wujud nyata penerapan sistem kapitalis sekuler. Sistem yang tak kenal definisi amanah, makna tanggung jawab, maupun takut kepada Allah SWT. Sistem yang mendoktrin bahwa kehidupan hanya sekali dan harus diupayakan untuk survive di manapun dan kapanpun dengan menghalalkan segala cara. Maka, sudah sepantasnya sebagai seorang muslim yang pemikir kita bergerak untuk berbenah dari kerusakan ini menuju perubahan Indonesia yang lebih baik.

Islam mampu membawa negeri ini mengarah kepada kejayaan hakiki yang tak sanggup ditawarkan sistem kapitalis sekuler. Yakni, dengan berpegang teguh kepada aturan yang berasal dari Al Qur’an dan Assunnah. Sebagaimana sabda Rasulullah saw dari Katsir bin Abdullah dari ayahnya dari kakeknya ra., ia berkata : Rasulullah saw pernah bersabda, “Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Ibnu Abdil Barr)

Oleh karena itu, sudah saatnya negeri yang diliputi nestapa kini untuk bersegera melepaskan diri dari jeratan gurita kapitalisme sekuler. Dan beralih mengambil Islam sebagai sistem yang mengatur urusan pemerintahan, hukum, politik, sosial, budaya, sanksi, pendidikan, kesehatan, dan yang lainnya. Karena hanya dengan penerapan Islam secara total yang akan menjamin keberkahan negeri ini. Wallahu a’lam bish shawab.

*(Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Sosial Ekonomi Islam)

Curhat Pasien Corona Perokok: Lebih Menderita dan Lama Sembuh

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Infeksi virus corona bisa menyerang siapa saja tanpa melihat umur dan kelompok. Namun, untuk para perokok risikonya lebih tinggi dan proses penyembuhannya bisa lebih lama.

Mengutip situs Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), perokok lebih rentan untuk terkena COVID-19 karena mereka sering memegang bagian wajahnya sendiri.

Para perokok juga tentunya menghisap batang rokok berulang kali dan mendekatkan tangannya ke mulut. Hal ini tentu meningkatkan risiko perpindahan virus dari tangan ke mulut.

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa merokok bisa memicu penyakit kronis, mulai dari kanker hingga penyakit jantung. Terkait dengan komplikasi virus corona, telah ada bukti bahwa pasien positif COVID-19 dengan penyakit kronis berisiko tinggi untuk menderita komplikasi lebih lanjut.

Bukan cuma rentan, dari sisi penyembuhan ternyata juga memakan waktu lebih lama.
Hal ini diungkap oleh pasien positif corona 01 di Indonesia yang kini sudah sembuh. Wanita bernama Sita mengaku adalah perokok dan sangat lama penyembuhannya dibanding orang tua dan kakaknya yang tidak merokok.

“Saya perokok saat itu dan sudah enggak berani nyentuh rokok. Sebab kemarin batuk saya selama itu ternyata memang karena saya ngerokok jadi itu sembuhnya makin lama,” ujar Sita.

Kendati bukan perokok berat, Sita mengungkapkan bahwa setelah kembali dari Rumah Sakit yakni 17 Maret lalu, batuknya pun tak kunjung sembuh. Hal tersebut berlangsung  hingga seminggu lebih.

Sadar akan hal ini, dia pun tidak berani untuk merokok kembali bahkan berdekatan dengan orang yang sedang merokok.

“Saya dari rumah sakit itu masih batuk. Jadi batuk saya baru sembuh seminggu lalu padahal itu terjadi sejak 17 Maret. Jadi saya juga enggak berani mendekat dengan orang ngerokok,” papar dia.

Iran Catat 60 Ribu Kasus Corona

TEHERAN(Jurnalislam.com) — Jumlah kasus infeksi virus corona jenis baru (Covid-19) di Iran dilaporkan mencapai 58.226 pada Ahad (5/4). Meski demikian, angka ini dinilai bergerak melambat.

Sejauh ini sebanyak 22.011 pasien Covid-19 di Iran dinyatakan telah pulih dari penyakit. Sementara, 4.057 orang dilaporkan tetap berada dalam kondisi kritis.

Presiden Iran Hassan Rouhani telah memerintahkan perpanjangan larangan seluruh kegiatan maupun acara olahraga hingga April mendatang dalam upaya untuk mengendalikan penyebaran virus. Selain itu, pembatasan lainnya juga diberlakukan untk terus menekan jumlah kasus Covid-19.

Rouhani membantah adanya perbedaan penanganan pandemi antara dua kementerian di Iran. Sejumlah laporan sebelumnya menyebutkan bahwa Kementerian Industri mendesak dimulainya kembali kegiatan-kegiatan ekonomi di negara itu, meski Kementerian Kesehatan menegaskan rencana menerapkan social distancing (pembatasan sosial) pada 27 Maret lalu.

Sementara itu, Ali Shamkhani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran mengecam langkah Amerika Serikat (AS) baru-baru ini untuk memblokir pinjaman Dana Moneter Internasional (IMF) ke negara Timur Tengah itu, yang ditujukan untuk melawan wabah Covid-19. Ia mengatakan bahwa langkah AS adalah contoh nyata kejahatan terhadap kemanusiaan.

Sebelumnya, kepala di bidang hak asasi PBB,  Michelle Bachelet menyerukan sanksi yang dijatuhkan kepada sejumlah negara, salah satunya Iran perlu dievalusi kembali dengan segera, menyusul pandemi virus corona jenis baru yang tengah terjadi. Ia mengatakan bahwa langkah ini diperlukan untuk menghindari masalah lebih luas.

“Pada saat yang genting ini, baik untuk alasan kesehatan masyarakat global, dan untuk mendukung hak dan kehidupan jutaan orang di negara-negara ini, sanksi sektoral harus dikurangi atau ditangguhkan,” ujar Bachelet dalam sebuah pernyataan pada Maret lalu.

Jumlah kasus Covid-19 secara global per Senin (6/4) pagi berdasarkan data Worldometers adalah sebanyak 1.276.732 dan kematian 69.529 orang. Sementara, total pasien yang dinyatakan pulih dari infeksi virus tersebut saat ini telah mencapai 265.956.

AS menempati urutan pertama kasus Covid-19 terbanyak, yaitu 336.851. Disusul oleh Spanyol dengan 131.646 kasus, Italia 128.948 kasus, dan Jerman 100.123 kasus.

sumber: republika.co.id

Update Corona 6 April: 2491 Positif, 209 Meninggal Dunia

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Penambahan pasien terkonfirmasi positif Covid-19 selama 24 jam terakhir mencapai rekornya sejak pengumuman kasus pertama pada awal Maret lalu.

Pemerintah merilis, ada penambahan 218 kasus baru sejak Ahad (5/4) hingga Senin (6/4). Total, sudah ada 2.491 kasus positif Covid-19 di Indonesia.

Selain itu, ada penambahan pasien sembuh sebanyak 28 orang dalam satu hari terakhir, sehingga total sudah ada 192 pasien sembuh dari Covid-19. Kasus kematian juga bertambah sebanyak 11 orang, dengan angka akumulatif sebanyak 209 pasien yang meninggal dunia. Rasio kematian akibat Covid-19 di Indonesia sebesar 8,39 persen dari jumlah kasus positif yang ada.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menjelaskan, sampai saat ini pemerintah telah memeriksa sebanyak 11.482 spesimen pasien. Seluruhnya kemudian dilakukan pemeriksaan dengan metode PCR, yakni pengecekan antigen pasien, dan menghasilkan 2.491 pasien positif Covid-19.

Pemerintah, ujar Yuri, juga terus mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan penjagaan jarak fisik dan sosial. Masyarakat tetap diminta tinggal dan produktif di rumah masing-masing, serta rajin mencuci tangan dengan sabun dan menghindari menyentuh wajah.

“Di rumah ada cara yang terbaik. Di rumah adalah tempat paling aman. Tidak usah bepergian. Ke manapun. tetap tinggal di rumah. Mari kita tempuh perayaan Paskah dan insya Allah Ramadhan dengan menjaga diri kita agar tetap sehat,” jelas Yurianto, Senin (6/4).

Larangan bepergian ini bukan tanpa alasan. Yuri menyampaikan, penambahan angka pasien positif yang terus terjadi menunjukkan masih ada penularan di tengah masyarakat. Bisa jadi ada orang tanpa gejala (OTG) yang membawa virus tanpa disadari. Kendati terlihat sehat, namun orang yang sudah terinfeksi virus corona ini tetap bisa menularkannya ke orang lain.

sumber: republika.co.id

Riza Patria Gerindra Terpilih Jadi Wagub DKI

JAKARTA(Jurnalislam.com)–DPRD DKI akhirnya menyelesaikan rangkaian pemilihan wagub DKI pendamping Gubenur DKI Jakarta Anies Baswedan pada Senin (6/4).

Dari voting yang dilakukan DPRD DKI, cawagub asal Gerindra Riza Patria pun terpilih sebagai Wagub DKI sisa masa jabatan tahun 2017-2022. Riza Patria menang dengan peroleh 81 suara.

Adapun anggota dewan yang memiliki hak pilih yakni 106 anggota. Namun, hanya 100 anggota yang hadir.
Sementara Nurmansjah Lubis dari PKS yang merupakan rival Riza hanya mendapatkan perolehan 17 suara. Sedangkan suara tidak sah sebanyak 2 suara.
Paripurna pemilihan wagub DKI Jakarta dilakukan dengan voting tertutup. Setiap anggota dewan menggunakan hak suara di bilik suara.

Dari voting yang dilakukan DPRD DKI, cawagub asal Gerindra Riza Patria pun terpilih sebagai Wagub DKI sisa masa jabatan tahun 2017-2022. Riza Patria menang dengan peroleh 81 suara.

Adapun anggota dewan yang memiliki hak pilih yakni 106 anggota. Namun, hanya 100 anggota yang hadir.
Sementara Nurmansjah Lubis dari PKS yang merupakan rival Riza hanya mendapatkan perolehan 17 suara. Sedangkan suara tidak sah sebanyak 2 suara.
Paripurna pemilihan wagub DKI Jakarta dilakukan dengan voting tertutup. Setiap anggota dewan menggunakan hak suara di bilik suara.
Rapat Paripurna DPRD Provinsi DKI Jakarta
Suasana Rapat Paripurna DPRD Provinsi DKI Jakarta, Kamis (3/10/2019) . Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Setelah penghitungan, penandatanganan berita acara dilakukan. Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi kemudian membacakan hasil voting.

“Saudara Riza Patria nomor urut 1 memperoleh suara 81 suara. Saudsra Nurmansyah Lubis nomor urut 2 memperoleh suara 17 suara. Kemudian suara tidak sah 2,” kata Prasetio di gedung DPRD DKI, Senin (6/4).

“Berdasarkan hasil penghitungan suara oemikihan Wakil Gubernur sisa masa jabatan 2017 2022, ditetapkan saudara Ahmad Riza Patria menjadi Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih di sisa masa jabatan 2017-2022,” tambah dia.

Prasetio kemudian meminta persetujuan anggota DPRD DKI yang hadir untuk menjadikan hasil voting ini sebagai keputusan DPRD DKI.
“Apakah saudara setuju,” ujar Prasetio.
“Setuju,” sahut para anggota DPRD DKI.

sumber: kumparan.com

Peneliti: Lockdown Terbukti Kurangi Jumlah Korban

INTERNASIONAL (Jurnalislam.com) – Jumlah kasus virus corona (COVID-19) secara global telah mencapai 1.273.810 kasus per Senin (6/4/2020) pukul 11:15 WIB. Dari total itu 69.459 orang telah meninggal dan 264.761 orang sembuh, menurut Worldometers.

Sebagian besar kasus itu terdapat di Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara Eropa, seperti Italia, Spanyol, Jerman dan Prancis.

Untuk mencegah peningkatan jumlah kasus akibat virus asal Wuhan, China itu, banyak negara telah menerapkan penguncian (lockdown). Upaya ini banyak diterapkan karena sebelumnya telah terbukti cukup membantu menekan penyebaran wabah di China.

Beberapa negara yang sudah melakukan lockdown di antaranya yaitu negara-negara Eropa seperti Perancis, Spanyol, Italia dan Inggris. Bahkan menurut para peneliti, akibat langkah penguncian ketat itu, setidaknya ada 120.000 nyawa di seluruh Eropa telah diselamatkan meskipun sejauh ini lebih dari 25.000 orang telah meninggal di Eropa akibat COVID-19.

Perhitungan itu dihasilkan oleh para ahli di Imperial College London setelah menjalankan simulasi kemungkinan interaksi sosial dari kehidupan normal, tanpa kehadiran virus corona, di 11 negara Eropa. Kesebelas negara itu yaitu Austria, Belgia, Denmark, Prancis, Jerman, Italia, Norwegia, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Inggris.

Menurut the Express, simulasi penelitian itu mempertimbangkan jumlah orang yang terinfeksi dari satu orang (rata-rata 2,5 orang) dan juga tingkat kematian (sekitar 1,4%). Hasilnya, simulasi tersebut menemukan bahwa hingga 120.000 nyawa bisa diselamatkan dari terinfeksi COVID-19.

Hasil simulasi juga menunjukkan bahwa tanpa langkah-langkah ketat yang telah ditetapkan, jutaan orang Eropa dapat terinfeksi.

“Hasil kami menunjukkan bahwa berbagai intervensi seperti jarak sosial (social distancing) atau lockdown telah menyelamatkan banyak nyawa dan akan terus menyelamatkan hidup.” Kata Profesor Axel Gandy, Ketua Statistik di Departemen Matematika.

“Dampak pandemi itu ekstrem – tetapi akan jauh lebih buruk tanpa intervensi. Memberlakukan intervensi tetap penting untuk mengendalikan wabah.”

Hal serupa juga disampaikan oleh Dr Samir Bhatt, penulis laporan dan Dosen Senior dari Sekolah Kesehatan Masyarakat. Bhatt mengatakan langkah-langkah ketat negara-negara Eropa telah mencegah sistem kesehatan menerima jumlah pasien yang membuldak dan mulai berhasil meratakan kurva kasus infeksi baru.

“Kami percaya sejumlah besar nyawa telah diselamatkan. Namun, terlalu dini untuk mengatakan jika kami telah berhasil mengendalikan epidemi secara penuh dan keputusan yang lebih sulit akan perlu diambil dalam beberapa minggu mendatang.”

Sayangnya, langkah lockdown tidak mudah untuk dilakukan. Ada beberapa negara yang melakukan lockdown justru malah memicu lahirnya kekacauan baru bagi pemerintahannya. Misalnya saja India.

Pasca mengumumkan lockdown nasional pada 24 Maret, Pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi malah didemo. Itu terjadi karena pemerintah melakukan lockdown tanpa persiapan dan rencana yang matang. Di mana hasilnya malah membuat banyak pekerja migran kelaparan dan memaksa mereka kembali ke desa dengan berjalan kaki selama berhari-hari.
sumber: cnbcindonesia