Larangan Mudik Berlaku, Polisi Mulai Berjaga di Perbatasan

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Kepolisian telah melakukan penyekatan di berbagai ruas jalan untuk mencegah masyarakat yang hendak mudik. Kendaraan yang ingin keluar Jabodetabek tak diizinkan melintas dan diminta putar balik.

Aturan larangan mudik resmi diberlakukan mulai Jumat (24/4), pukul 00.00 WIB. Sejak saat itu pula, petugas kepolisian berjaga di sejumlah titik dan mengecek setiap kendaraan.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yugo mengatakan, ada sebanyak 1.181 kendaraan yang dicegah keluar wilayah Jakarta pada lima jam pertama pemberlakuan larangan mudik.

Sambodo mengatakan, seribuan kendaraan yang diputar balik itu terjadi di dua pintu tol. Para pengendara hendak keluar Jakarta melalui Pintu Tol Bitung arah Merak dan Pintu Tol Cikarang Barat arah Jawa Barat.

“Sejak pukul 00.00 sampai 05.00 WIB, tercatat ada 1.181 kendaraan yang diputarbalikkan, yaitu 498 kendaraan di (pintu tol) Bitung dan 683 kendaraan di Cikarang,” kata Sambodo, Jumat (24/4).

Ia menambahkan, volume kendaraan keluar Jakarta meningkat pada beberapa hari sebelum penerapan larangan mudik.

Sambodo mengatakan, ada sebanyak 25.797 kendaraan yang keluar Jakarta pada Selasa (22/4). Sehari sebelumnya, jumlah kendaraan yang meninggalkan Ibu Kota sebanyak 18.753 kendaraan.

Larangan mudik akan berlaku hingga tujuh hari setelah (H+7) Lebaran. Polda Metro Jaya melarang kendaraan pribadi, baik motor maupun mobil, dan kendaraan umum berpenumpang keluar dari wilayah Jabodetabek.

Pada tahap awal, sanksi bagi pelanggar hanya diminta putar balik ke lokasi asal. Sementara, mulai 7 Mei, akan ada sanksi lebih berat bagi yang tetap nekat mudik. Sanksi bisa berupa denda hingga dipenjara.

Di Provinsi Banten, sebanyak 15 checkpoint atau pos pemeriksaan didirikan disiapkan untuk mengantisipasi gelombang mudik.

Salah satunya didirikan di Gerbang Tol Cikupa dengan sekat kendaraan dari arah Merak. Gubernur Banten Wahidin Halim mengatakan, pos pemeriksaan di Gerbang Tol Cikupa sangat penting karena Pelabuhan Merak selalu ramai setiap musim mudik.

Wahidin mengatakan, pelarangan atau pembatasan penggunaan sarana transportasi berlaku untuk moda transportasi umum darat, laut, dan udara yang membawa penumpang. “Memang tidak ada penutupan jalan tol, namun dilakukan penyekatan/pembatasan kendaraan di jalan,” kata dia.

Sumber: republika.co.id

 

Pengusaha Depok Pasok Kebutuhan Keluarga PDP Selama Isolasi

DEPOK(Jurnalislam.com) — Dalam rangka mendukung Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Hipmi Kota Depok mengajak masyarakat untuk Babarengan, Gotong Royong, melewati masa pandemi covid-19.

Hipmi Depok menginisiasi gerakan Pengusaha Depok Peduli untuk keluarga PDP (pasien dalam pemantauan) corona agar ketat melakukan isolasi mandiri.

Ketua HIPMI Kota Depok Imaduddin Indrissobir mengatakan Hipmi Depok menanggung kebutuhan dasar keluarga PDP selama 14 Hari. Ini mencakup kebutuhan sembako, toiletries, perlengkapan PHBS, dan nutrisi kesehatan.

Hipmi mengharapkan keluarga PDP tetap tercukupi kebutuhan dasarnya selama 14 hari. “Ini sekaligus mengajak masyarakat berkemampuan untuk gotong royong, babarengan meningkatkan solidaritas sosial,” kata Imaduddin dalam siaran pers, Jumat (24/4).

Hipmi berkeyakinan jika semua meningkatkan kewaspadaan dan solidaritas sosial maka itu bisa menekan penyebaran covid secara maksimal. Ini juga sekaligus menekan potensi gangguan keamanan karena kebutuhan pangan.

Pendistribusian bantuan logistik ini dibagikan melalui perangkat Kelurahan, RT, RW dan Karang Taruna, Tenaga Medis, Kamtibmas dan Babinsa.

Sumber: republika.co.id

 

Soal Stafsus Milenial, Presiden Jokowi Diminta Introspeksi Diri

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pengamat politik Karyono Wibowo menyoroti sejumlah nama staf khusus Presiden Joko Widodo yang jadi sorotan. Alasannya, mereka diduga melakukan tindakan abuse of power.

Pertama, masuknya perusahaan platform Ruangguru yang dipimpin Adamas Belva Syah Devara di daftar perusahaan mitra pemerintah dalam program Kartu Prakerja berbuntut panjang.

Meskipun Belva sudah berdalih perusahaannya sudah melalui mekanisme, prosedur dan persyaratan yang dibuat Menko Perekonomian, tapi faktanya publik masih sulit percaya.

Kedua, langkah blunder Andi Taufan Garuda Putra yang mengirim surat meminta agar camat se-Indonesia bekerjasama dalam rangka melawan corona dengan perusahaannya sendiri Amartha Mikro Fintek.

“Di balik sikap mundur Belva dan Andi Taufan ada pelajaran yang bisa dipetik. Bagi generasi milenial agar tidak hanya memiliki keahlian dan prestasi gemilang tapi juga harus memiliki moral dan integritas tinggi yang jauh dari mental korupsi,” kata Karyono dalam siaran pers, Jumat (24/4).

Kasus Belva dan Andi Taufan harus jadi pelajaran bagi anak muda dan setiap pejabat pemerintahan agar selalu menjaga integritas dan moralitas. Menurut Karyono, Belva dan Andi yang berani mundur dari jabatan patut dicontoh setiap pejabat pemerintahan.

“Peristiwa Belva Devara dan Andi Taufan menjadi pelajaran  Presiden agar hati-hati dalam menunjuk seseorang untuk menduduki jabatan tertentu, terlebih jabatan staf khusus cukup melekat dalam diri presiden,” ujar Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI) itu.

Karyono menilai sikap kehati-hatian diperlukan agar pejabat yang ditunjuk bisa menunjang kinerja Presiden. Lalu diharapkan tidak menyalahgunakan wewenang dan tidak menimbulkan polemik.

“Ini introspeksi Presiden agar tidak asal milenial dalam memberikan peran pada generasi muda. Untuk mengangkat seseorang diperlukan persyaratan rekam jejak dari berbagai aspek, tidak hanya mengedepankan prestasi dalam satu bidang tertentu,” pungkas Karyono.

Sumber: republika.co.id

Ribuan Kendaraan Dilarang Mudik, Putar Balik Kembali ke Jakarta

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya mencatat telah memutarbalikkan 1.689 kendaraan angkutan penumpang, pribadi maupun umum, pada Jumat (24/4). Langkah itu terkait dengan larangan mudik yang dikeluarkan pemerintah.

“Pada Jumat (24/4), sejak pukul 00.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB, sebanyak 1.689 kendaraan diputarbalikkan di dua pos penyekatan,” kata Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Sambodo Purnomo Yogo saat dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu (25/4).

Ia menjelaskan data tersebut diperoleh dari dua pos penyekatan yang berada di Bitung arah Merak dan Cikarang Barat arah Cikampek.

Jumlah kendaraan yang diarahkan untuk putar balik di Pos Pengamanan Bitung 375 unit kendaraan pribadi dan 306 unit kendaraan angkutan umum.

Pos Pengamanan Cikarang Barat mencatat memutarbalikkan 706 unit kendaraan pribadi dan 302 unit kendaraan angkutan umum.

Polda Metro Jaya secara resmi memulai Operasi Ketupat Jaya 2020 pada Jumat (24/4), pukul 00.00 WIB.

Fokus operasi tersebut menyekat akses keluar dan masuk Jabodetabek untuk menindaklanjuti kebijakan larangan mudik yang diumumkan Presiden Joko Widodo.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo melarang seluruh masyarakat Indonesia mudik ke kampung halaman untuk mencegah penyebaran corona. “Pada rapat hari ini saya ingin menyampaikan juga mudik semuanya akan kita larang,” kata Presiden Jokowi di Istana Merdeka Jakarta.

Larangan berdasarkan kajian Kementerian Perhubungan.

“Saya ingin langsung saja, dari hasil kajian-kajian yang ada di lapangan pendalaman di lapangan, dari hasil survei Kementerian Perhubungan disampaikan yang tidak mudik 68 persen yang tetap bersikeras mudik 24 persen, yang sudah mudik tujuh persen, artinya masih ada angka sangat besar 24 persen lagi,” ujarnya.

sumber: republika.co.id

Ramadhan di Tengah Pandemi, Potensi Mendulang Pahala Tak Terbatas

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Bulan Ramadhan adalah bulan suci dan istimewa yang membawa banyak berkah. Banyak hadits yang menyampaikan Nabi Muhammad SAW mengatakan Ramadhan bulan penuh berkah, pintu neraka ditutup, pintu surga dibuka dan ada suatu malam yang lebih baik dari seribu malam.

Pengurus Lembaga Dakwah Khusus (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ustadz Imron Baehaqi mengatakan, karena keagungan dan besarnya keutamaan bulan Ramadhan, maka umat Islam hendaknya termotivasi mendapatkan kemuliaan dan keistimewaan Ramadhan. Jangan karena adanya suatu musibah seperti pandemi Covid-19, lantas umat Islam menjadi lemah dan patah semangat. Apalagi menjadi malas dan enggan beribadah.

“Justru di saat musibah berlangsung ini, kekuatan iman dan spiritualitas kita diuji. Dulu kaum Muslimin pernah menghadapi suatu perang di bulan Ramadhan. Bisa kita bayangkan bagaimana sulit dan beratnya situasi tersebut. Walaupun Nabi SAW mengizinkan orang-orang yang pergi berperang untuk tidak berpuasa, karena harus menjaga kekuatan fisik,” kata Ustadz Imron pekan ini.

Dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Fikes UHAMKA Jakarta ini menerangkan, ibadah puasa merupakan bagian dari rukun Islam yang wajib dikerjakan oleh umat Islam.

Hal tersebut dikecualikan jika ada udzur syar’i yang membolehkan seseorang tidak berpuasa, seperti sakit dan dalam keadaan safar atau dalam situasi yang darurat.

Tetapi berlaku ketentuan meng-qadha, yaitu mengganti puasa di hari-hari lain.

Jika puasa dirasa masih berat, maka caranya dengan membayar fidyah yaitu memberi makan kepada fakir miskin. Meski demikian jika tetap mengerjakan puasa dengan iman dan kerelaan hati, maka hal itu lebih baik dan utama.

“Tentu kita harus yakin, beribadah di saat musibah atau petaka terjadi pahalanya lebih besar lagi,” ujarnya.

Ketua Umum Ikatan Alumni Libya Indonesia (IKALI) ini menjelaskan, dalam sebuah riwayat, baginda Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa ibadah pada saat terjadi al-harj atau ujian besar (fitnah), maka keutamaannya seperti orang yang hijrah kepada diri Nabi Muhammad SAW. Dan tidaklah ragu keistimewaan hijrah kepada Rasulullah SAW disandingkan dengan jihad di jalan Allah, di mana pahalanya merupakan derajat yang paling besar di sisi Allah SWT.

Jika dalam kondisi aman dan stabil saja setiap amal ibadah yang dikerjakan di bulan suci Ramadhan itu dilipat-gandakan pahalanya. “Maka apalagi jika ibadah itu dikerjakan di saat kondisi tidak menentu (al-harj), tentu ganjaran dan balasannya lebih besar lagi,” jelas Ustaz Imron.

Imam tetap Masjid al-Muhajrun Kompleks Telkom Griyasatwika ini menerangkan, dalam sebuah riwayat muttafaqun ‘alaih disebutkan setiap amal Bani Adam pahalanya dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipat hingga 700 kali. Kecuali ibadah puasa, maka pahalanya tidak terbatas dengan jumlah tersebut.

Maknanya Allah akan melipat gandakan pahala ibadah puasa dengan berlipat-lipat tanpa ada batasan tertentu.

Sebab pada puasa ada nilai kesabaran yang sangat luar biasa. Sedangkan Allah SWT berfirman dalam Alquran Surat Az-Zumar ayat 10, artinya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.

Sumber: republika.co.id

Mengintip Muslim Inggris Jalani Ramadhan di tengah Lockdown

LONDON(Jurnalislam.com) – Wabah virus corona membuat jutaan Muslim yang tinggal di Inggris akan menjalani Ramadhan yang berbeda tahun ini.

Biasanya, setiap waktu berbuka puasa (iftar), rekan dan keluarga berkumpul bersama. Umat Muslim juga biasanya berbondong-bondong ke masjid untuk beribadah, terutama sholat tarawih, selama bulan penuh berkah itu.

Akan tetapi, dengan pemberlakuan kebijakan lockdown (karantina), tradisi Muslim demikian tidak mungkin bisa dilakukan. Bagi Sohayb Peerbhai, kali ini akan menjadi Ramadhan yang sangat tidak biasa.

Peerbhai adalah imam di Craven Arms Islamic Centre di Shropshire. Ia tinggal di sebuah flat di atas masjid bersama istrinya, Asiya, dan dua putrinya, Rumaysa (13 tahun) dan Rayhana (9).

Selama masa lockdown ini, masjid ditutup. Akan tetapi, Peerbhai tetap melaksanakan sholat di dalam masjid sendirian.

“Ini jelas sangat aneh, saya belum pernah mengalami ini sebelumnya. Jika kita berbicara enam pekan yang lalu dan mengatakan kita akan berada dalam posisi ini, saya tidak akan pernah mempercayainya,” kata Sohayb, dilansir di BBC, Kamis (23/4).

Ia mengungkapkan, biasanya selama Ramadhan sekitar 100 orang akan berkumpul setiap malam di masjid untuk melaksanakan sholat dan berbuka puasa bersama. Akan tetapi, tahun ini dia akan berbuka puasa bersama keluarganya saja.

Namun, ia mengakui keluarganya sesekali mungkin akan menghubungi keluarganya yang lain atau teman melalui aplikasi Facetime atau Zoom. Ia mengatakan, kedua gadisnya mungkin akan menghubungi sepupunya saat berbuka puasa tiba.

“Untuk seseorang seperti saya, seorang imam, saya sangat sibuk setiap tahun. Ini akan sangat baik, melakukannya dengan keluarga saya. Hanya kami berempat, itu adalah sesuatu yang personal. Kami masih akan bersosialisasi, tetapi kami juga sangat aman dan sehat dan mematuhi aturan,” tambahnya.

Ramadhan yang akan berbeda tahun ini juga dirasakan oleh Talawat Rahman. Ia tinggal di Birmingham bersama temannya Shabir Ahmed, orang tua Shabir, Rosemin dan Shafiq, serta cucu mereka, Abdul-Rahman. Selama bulan Ramadhan kali ini, Rahman akan berada jauh dari orang tua dan saudara kandungnya. Begitupun saat perayaan Idul Fitri nanti, ia tetap di Birmingham.

Ia mengungkapkan, salah satu alasannya memutuskan tinggal di Birmingham dan tidak kembali ke London setelah masa kuliah adalah suasana komunitas di sana. Di bulan Ramadhan, kata dia, ribuan orang berkumpul bersama untuk berbuka puasa dan membangun keluarga yang tidak mereka miliki sebelumnya. Namun, tradisi demikian yang tidak bisa dilakukan saat ini menjadikan Ramadhan akan sangat berbeda.

“Saya sudah terbiasa pergi setiap Ramadhan antara Birmingham dan orang tua saya di Newcastle, ini akan jadi pertama kalinya saya tidak bisa bersama adik-adik saya, dengan orang tua saya, lebih dari sebelumnya saya akan mengandalkan sumber daya digital untuk tetap berkomunikasi dengan mereka,” kata Rahman.

Sumber: republika.co.id

Gandeng Santri Pesmadai, Medco Foundation Salurkan Paket Sembako

JAKARTA(Jurnalislam.com)-Aksi bagi-bagi sembako gratis terus dilakukan di berbagai daerah, hal tersebut sebagai upaya solidaritas antar warga untuk meringankan kebutuhan bahan makanan selama pandemi covid19.

 

Sejalan dengan gerakan positif tersebut, Medco Foundation bekerja sama dengan Pesantren Mahasiswa Dai (PESMADAI) juga menggelar aksi bagi-bagi sembako gratis ke pengemudi ojol (ojek online) dan sejumlah warga di Jakarta, Depok dan Ciputat Tangerang Selatan.

 

Aksi ini merupakan gerakan #MedcoPeduliIndonesia dan #PesmadaiPeduliIndonesiaJilid3 setelah sebelumnya pesmadai telah sukses dengan gerakan aksi bagi-bagi rempah dan masker gratis kepada masyarakat, dimana gerakan tersebut mengkampanyekan masyarakat agar menjaga kesehatan dan meningkatkan daya imun tubuh, serta memberikan spirit optimisme kepada warga untuk melawan covid-19

 

“Gerakan ini sebagai langkah ikhtiar kami untuk membantu meringankan kebutuhan pangan masyarakat selama menghadapi pandemi covid-19, semoga bermanfaat,” kata Andi, Development Program di Medco Foundation kepada media Jakarta, Rabu (22/04/2020).

 

Selain itu, gerakan bagi-bagi sembako gratis yang dilakukan pada tanggal 23 dan 24 April 2020, juga memberikan momen haru kepada warga sekitar.

 

Pasalnya sejumlah warga yang berpenghasilan rendah, mengalami kesulitan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan logistik dalam menghadapi wabah corona.

 

Seperti yang dikatakan Firdaus, seorang driver ojek online yang mendapatkan sembako gratis.

 

“Saya sangat berterima kasih kepada Medco Foundation dan Pesmadai yang telah menggelar aksi bagi-bagi sembako gratis. Karena jujur saja, selama ada wabah corona saya menjadi sepi orderan dan pendapat menurun, sehingga kebutuhan pangan keluarga tidak terpenuhi”, tuturnya.

Kunci Sukses Ramadhan di Tengah Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com) —  Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Saadi membeberkan beberapa kunci sukses terkait anjuran bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah di rumah, terutama saat menyambut bulan Ramadhan.

 

Hal tersebut ia sampaikan pada Talkshow Coffee Break Indoensia yang diinisiasi Direktorat Pendidikan Tinggi Kegamaan Islam, Ditjen Pendis, Kemenag RI, Rabu (22/4).

Wamenag menuturkan, perubahan proses kerja menjadi Work From Home (WFH) tentu perlu menerapkan manajemen perubahan secara terencana dengan mempertimbangkan potensi konsekuensi dan rencana penanganannya demi tetap tercapainya sasaran atau hasil kerja yang dituju (result oriented).

Menurutnya,  relaksasi atau proses kerja di tengah Covid-19 ini tetap harus memperhatikan ketersediaan sumberdaya (prasarana maupun sumber daya manusia), serta alokasi dan realokasi otoritas dan penanggungjawab proses.

“Kunci utama WFH adalah komunikasi yang efektif dan pembagian tugas dan kewenangan yang jelas dalam pelaksanaan, pengawasan, dan pelaporan,” uja Wamenag di hadapan ratusan peserta yang turut serta dalam Talkshow melalui aplikasi Zoom dan disiarkan langsung melalui channel YouTube DiktisTV tersebut.

Terkait Belajar dari Rumah, Wamenag meminta seluruh PTKI tetap mempertahankan proses pembelajaran sebagai transfer metode untuk memperoleh pengetahuan/ kebenaran secara akademik (epistemologi) antara pengajar dengan yang diajar.

Tolak ukurnya adalah meningkatnya kesadaran literasi dan kemampuan mahasiswa mengartikulasikan kekayaan literasi pada lingkup studi tersebut.

“Dalam hal belajar di rumah mesti mempertimbangkan kondisi peserta didik dan pengajar. Kondisi-kondisi tersebut termasuk sumber daya, kreativitas metode pembelajaran dan penilaiannya, dan kondusivitas lingkungan saat pembelajaran online,” tutur Wamenag dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

Terkait Beribadah di Rumah selama Bulan Suci Ramadhan, Wamenag menjelaskan bahwa Kemenag RI akan terus terus berkonsultasi dengan seluruh tokoh agama dan ormas keagamaan yang relevan misalnya MUI, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah. Konsultasi itu  bertujuan  untuk suksesnya beribadah di rumah di bulan ramadhan sebagai strategi yang sesuai dengan protokol Nasional Covid-19, dan memastikan kegiatan ibadah yang dilakukan oleh umat di Ramadhan plus Covid-19 ini tetap memiliki pijakan syar’i yang kuat.

“Civitas akademika seperti profesor dan dosen PTKI, dengan kapasitas keilmuannya, dapat memberikan bimbingan positif kepada umat dalam menghadapi Ramadhan dan Covid-19 ini,” pungkasnya.

Sumber: republika.co.id

 

Tetap di Rumah Selama Ramadhan, Wujud Kepedulian Sesama

SLEMAN(Jurnalislam.com) – Pandemi Covid-19 masih membuat banyak orang merasa khawatir.

Apalagi, selama Ramadhan, tentu saja banyak ibadah yang tidak bisa dijalankan seperti tahun-tahun sebelumya seperti sholat.

Tarawih maupun iktikaf di masjid. Hal ini jadi perhatian Lembaga Dakwah Kampus Universitas Islam Indonesia (UII), dengan mengadakan kajian Ramadhan 1441 Hijriyah yang digelar lewat Google Meet.

Kajian yang mengangkat tema Ramadhanku yang Dulu itu diisi Ustaz Ahmad Dahlan.

Ustaz Dahlan mengatakan, banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyiasati agar ibadah tetap maksimal. Dimulai melakukan persiapan reguler seperti yang biasa dilakukan tahun-tahun sebelumnya dengan mempelajari serba-serbi Ramadhan.

Lalu, persiapkan kondisi badan tetap fit untuk menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh dan harta untuk infak atau sedekah. Dahlan melihat, pandemi Covid-19 malah bisa jadi momentum mendekatkan diri dengan orang-orang terdekat.

“Lakukan tarawih berjamaah dengan keluarga maupun teman-teman satu kos, kondisi ini dapat menjadi momentum untuk belajar menjadi imam sholat, belajar perbaiki bacaan Alquran, maupun menambah hafalan-hafalan Alquran,” kata Dahlan.

Dia menekankan, keutamaan Ramadhan 2020 masih sama dengan Ramadhan tahun-tahun yang lalu. Walaupun, pandemi membuat masyarakat harus beribadah di rumah sesuai anjuran Kementerian Agama dan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Dahlan menyarankan, hendaknya kita memahami segala sesuatu yang terjadi tentu atas kehendak Allah SWT. Sehingga, apapun itu tidak mempengaruhi manusia dalam melakukan ibadah kepada-Nya, dan lebih dari itu niat utama hanya ke Allah SWT.

Selain itu, dia mengingatkan seorang Mukmin dilarang menzalimi orang lain. Beribadah di rumah merupakan salah satu ikhtiar atau usaha agar seorang Mukmin yang dikhawatirkan membawa Covid-19 tidak menulari saudaranya.

“Kita beribadah di rumah untuk tidak menzalimi orang lain merupakan bentuk dari ketaatan kepada Allah SWT,” ujar Dahlan.

Kemudian, dia mengajak masyarakat mengambil sisi positif dari perubahan ini. Sebab, semua orang menjadi waktu yang jauh lebih banyak di rumah, yang mana turut berarti semua orang bisa lebih fokus dalam beribadah selama Ramadhan.

Misalkan, ketika keadaan normal, mungkin kita hanya akan fokus selama 10 hari terakhir karena sebelumnya sibuk aktivitas di luar rumah seperti kuliah atau kerja. Contoh lain, tahun ini kita mendapat banyak waktu mengkhatamkan Alquran.

“Atau, menjadi lebih produktif dengan belajar ilmu-ilmu syar’i, menulis buku dan menyelesaikan skripsi,” kata Dahlan.

Sumber: republika.co.id

 

Masjid Desa Harus Bersinergi dengan Pemerintah Salurkan Bantuan

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengimbau para pengurus masjid untuk menggunakan masjid sebagai posko penanggulangan Covid-19.

Wakil Ketua DMI Syafruddin mengatakan, manakala penyebaran Covid-19 terus berkembang, orang yang sakit dan meninggal terus bertambah.

 

Masyarakat mematuhi peraturan pemerintah yang sudah disepakati bersama seluruh rakyat Indonesia. Yakni tinggal di rumah, menjaga jarak fisik dan sosial.

Tentu akan banyak lahan pekerjaan yang tertutup dan persediaan logistik akan terbatas atau bahkan kekurangan.

 

Karena itu DMI menyarankan agar masjid dijadikan tempat penampungan dan pendistribusian logistik. Karena ada sekitar 800 ribu sampai 900 ribu masjid yang tersebar di berbagai daerah dan pelosok Indonesia.

“Sekarang penyakit ini sudah sampai ke desa-desa, akibat pergerakan manusia dari kota ke desa-desa, walau mudik dilarang tapi sudah ada banyak yang mudik,” jelasnya.

Ia menjelaskan, sekarang buktinya sekitar 60 persen sampai 70 persen kabupaten/ kota sudah terpapar virus corona. Maka tidak menutup kemungkinan wabah ini akan terus menyebar ke desa-desa.

Untuk itu, masjid-masjid siap membantu pemerintah dan lembaga yang akan mendistribusikan bantuan berupa sembako atau makanan siap saji. Karena kalau disalurkan ke kelurahan hanya akan ada satu titik pendistribusian bantuan di satu desa yang luas.

 

Tapi bila disalurkan ke masjid-masjid karena di satu desa ada beberapa masjid di dusun-dusun, maka masyarakat tidak akan berkumpul di satu titik saja.

“Masjid tempat orang-orang bertakwa, berperilaku adil, ikhlas, kepercayaan masyarakat manakala masjid mengelola ini semua akan sangat perca, saya tidak membandingkan dengan yang lain, tapi kalau masjid pasti orang percaya karena di sana tempat berkumpulnya orang bisa dipercaya,” jelasnya.

Syafruddin juga menyampaikan, remaja masjid siap membantu pemerintah dan lembaga apapun untuk menyalurkan bantuan dari masjid-masjid. Daripada mencari dan membayar tenaga relawan, lebih baik menggunakan tenaga remaja masjid yang jumlahnya 1,8 juta jiwa tersebar di berbagai daerah.

“Tidak perlu direkrut lagi, tak perlu digaji dan dibiayai lagi karena mereka siap dengan tenaga dan pikiran,” kata Wakil Ketua Umum DMI ini.

Sumber: republika.co.id